Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Memeriksa Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


klik di sini

Bacaan Untuk Peserta Kuliah Progam Magister (S2) Unja.

PERAN STRATEGIS TANGGUNGJAWAB SOSIAL  PERUSAHAAN

1. Tanggung jawab  sosial

Dalam hubungan bisnis dan pemangku kepentingan  (stakeholder) pada tahap awal diakui bahwa tanggung jawab  sosial  adalah fungsi pemerintah, bukan tanggung jawab  bisnis ataupun perusahaan.  Pendapat  ini tentunya terjadi pada  awal dekade dimana   hasil alam  masih berlimpah, persaingan  industri tidak  ketat, dan tuntutan pemangku kepentingan   terhadap perusahaan  belum tinggi. Dapat dicatat a pendapat Friedman dalam Robin, F (2008)  hal 232. menuliskan   bahwa The business of business  is to maximise profits, to earn a good return on capital invested and to be good corporate citizen obeying the law- no more and no less. Sejalan evolusi pada  seluruh bidang,  termasuk adanya globalisasi,  hal demikian berubah drastis.

Dalam perkembangan bisnis baru, diakui bahwa tanggung jawab  sosial perusahaan   yang dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR)  adalah fungsi   perusahaan.  Adapun “desakan” untuk itu  bersumber dari banyak hal baik karena tekanan global maupun regional.  Bilamana dikaitkan fungsi maka ini dilakukan secara sukarela (voluntary) bukan karena adanya paksaan dari luar,  utamanya dari pemerintah.  Lebih dari itu, pembeda  terminologi CSR dengan  penerapan sebelumnya  terletak kepada  fungsi “tanggung jawab ” yang bermakna bahwa CSR sifatnya datang dari perusahaan.

Banyak konsep CSR yang dipubllikasikan,  Wibisono (2007) melaporkan  CSR  bahwa CSR didefinisikan  sebagai komitmen dunia usaha  untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontibusi untuk peningkatan ekonomi,  bersamaan dengan  peningkatan kualitas hidup  komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.  Dalam  versi World Bank   CSR didefinisikan sebagai  “the comitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives the local community and society at large to  improve  quality of life, in   ways that are both and good fo business development

Dalam batasan demikian, maka  CSR sesungguhnya merupakan  konsep dan program  yang menucnul secara sukarela, karena perusahaan  menganggap penting sehingga  harus diformulasikan sedemikian  rupa. Selanjutnya,  di dalam konsep CSR  terdapat berbagai   aspek seperti nilai, kultur, kompetensi, sejarah perusahaan bahkan etika yang dijadikan dasar bertindak oleh seluruh pihak internal manajemen perusahaan .

Isu terkait dengan  CSR senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan  dinamika dan kesadaran tetang kebutuhan bersama. Isu yang terkait   utamnya adalah   Good Corporate Governance, Sustainable Development, sampai ke Daya Saing. Bilamana isu ini disimak lebih dalam, maka ditemukan bahwa  penerapan CSR  saling menopang dengan  dimensi-dimensi tersebut. Bila dikatikan dengan  corporate governance maka penakanan  CSR adalah pelibatan  stakeholder dalam  tatakelola perusahaan. Semantara  itu bila dikaitkan dengan  isu keberlanjutan, penekanannya adalah bahwa bisnis yang dapat berkelanjutan apabila didukung oleh pemangku kepentingan.  Selanjutnya bila dikaitkan dengan    konsep daya saing, maka sisi   pelaksanaan CSR adalah dalam rangka membangun daya saing bisnis baik di tingkat regional maupun global  (Zadek, 2006)

Dalam hubungannya dengan tanggung jawab  sosial, prinsip  sederhana yang mendasari perkembangannya adanya satu pengakuan prinsip mutualisme, dimana  antara perusahaan dan masyarakat harus hidup berdampingan dan saling memberikan manfaat bersama. Hal ini kemudian diakui oleh bisnis bahwa hanya dengan masyarakat – yang dikenal juga dengan sebutan stakeholder yang kuat – maka bisnis dapat berkembang dengan baik.

Dalam perkembangan  yang lebih lanjut, perkembangan  teknologi  menjadi isu yang paling dominan  sebagai bagian daripada  tanggung jawab  sosial. Teknologi cloning misalnya  telah  berkembang demikian pesat, akan tetapi tetap dilaksanakan  untuk mengapresiasi keberdaan daripada  manusia dan masyarakat. Demikian juga dengan  teknologi  transgenik  di bidang  budidaya  secara teknologi telah lolos akan tetapi secara sosial dan kemasyarakatan masih terus dipertanyakan.  Sesuai dengan  penjelasan di atas, fokus diskusi pada studi ini adalah bagaimanakah model pengembangan tanggung jawab  sosial perusahaan  dalam presfektif penggunaan hasil  penelitian dan teknologi.

2. Tanggung jawab  sosial Perusahaan

Tanggung jawab  sosial  dewasa ini sudah menjadi bagian daripada  orientasi bisnis. Prinsip  ketergantngan dan manfaat bersama ternyata  menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan  atau implementasi  program tanggung jawab  sosial.  Terminologi Tanggung jawab  Sosial (social responsibility) sendiri   terkait dengan  banyak istilah. Waddock dalam Meehan  (2006)  menjelaskan 9 istilah yang berkaitan dengan  tanggung jawab  sosial: 1) corporate social responsibility (CSR), 2) corporate social perfomance (CSP), 3) alternative CSR3c, 4) Corporate responsibility, 5) Stakeholder approcah, 6) Business ethics and values, inclding nature-based values, 7) Boundary-spanning functions including, 8) Corporate Community Involvement (CCI), dan 9)  Corporate Citizenship (CC).

Substansi  daripada  istilah ini dari masa ke masa mengalami  perubahan. Pada  tahun 60an, tanggung jawab  sosial lebih berintikan “charity” perusahaan  kepada lingkungan  yang mengambil berbagai bentuk, berbeda antara satu perusahaan  terhadap perusahaan   lain. Sudah tentu, model charity seperti itu susah untuk dievaluasi manfaat dan dampaknya. Model pyramida yang dikembangkan Carrol sangat dominan dalam penjelasan tanggung jawab  sosial, Caroll menjelaskan kaitan antara satu bidang tanggung jawab  sosial korporasi dengan  bidang lain.  Dari semua model di atas, salah satu yang dominan    dikembangkan sekarang ini ada model pendekatan yang dikembangkan yaitu model pendekatan stakeholder (5). Model ini menjelaskan  rinci  peran pemangku kepentingan  dan fungsinya kepada perusahaan. Dengan  identifikasi peran dan kepentingan, maka perusahaan  dapat mengintegrasikannya ke dalam satu pencapaian tujuan. Sementara Meehan sendiri lebih  menggunakan model 3C-SR, dimana inti dari 3C adalah  Commitment, Consistency dan Connection, dan patut dicatat tidak  kedua model ini sesungguhnya berbeda pandangna, pada model 3C lebih menekankan  konsep yang kemudian diurut menjadi  operasional.

Di Indonesia, masalah tanggung jawab  sosial bisnis menjadi  isu yang belum terslesaikan dengan  baik. Menurut UU No 40 Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas  telah dinyatakan bahwa   tanggung jawab  Sosial adalah bagian daripada  tugas perseroan, oleh karena itu perseroan harus menyediakan dana.  Artinya komponen biaya  tanggung jawab  sosial bukan lagi didasarkan kepada skema  kalau perusahaan  punya dana, akan tetapi di awal perusahaan  telah diharuskan mencantumkan dana tanggung jawab  sosial.  Konsep ini  menjustifikasi anggaran di tingkat manajemen puncak yang belum tentu mendapat pengesahan. Lebih dari itu, perseroan diharuskan menyampaikan laporan.

Selain aturan ini masih ada program lain bersifat insentif dan fasilitatif, yaitu  PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) yang dimaksudkan untuk mendorong perusahaan peserta meningkatkan prestasi mereka dalam program lingkungan hidup secara luas. Sesuai dengan prinsip dasar PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif dan diseinsentif reputasi dengan pelibatan masyarakat dan sekaligus sebagai wujud dari pelaksanaan UU Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23/1997 pasal 5 ayat 2 tentang hak masyarakat atas infomasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Perusahaan  yang terlibat dalam program  mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, karena hasil peringkat dimumkan  terbuka, yang baik diberi hadiah,  pihak manajemen merasa  manfaat langsung. Walau program ini tidak bisa disamakan dengan  program tanggung jawab  sosial, karena kecenderungan pada program ini adalah  masalah lingkungan.

Bersamaan dengan  pandangan ini dikenal istilah stakeholder  dalam terminologi Indonesia dikenal sebagai pemangku kepentingan . Jadi kalau tuga perusahaan  pada awalnya adalah untuk menciptakan keuntungan kepada pemilik saham (shareholder), maka tugas ini telah berobah menjadi  memberikan manfaat kepada stakeholder. Dari hasil penelusuran studi literatur diketahui bahwa  banyak penulis mengacu kepada  pendapat Carol (1979) yang mengidentifikasi bahwa tanggung jawab  sosial perusahaan  adalah: 1) ekonomi, 2) legal, 3) ethical, 4) diskresionary.  Masing-masing tanggung jawab  sosial ini dijelaskan sebagai  berikut (Jamali, D. 208)

1)       Ekonomi  mislanya berkaitan dengan   menyediakan ROI kepada pemegang  saham,  menciptakan pekerjaan dan pengupahan yang adil,  menemukan sumberdaya baru,  mempromosikan  penggunaan teknologi lanjutan, inovasi, dan menciptakan barang dan jasa yang baru.

2)       Legal berkaitan dengan   peran perusahaan  memainkan peran sesuai  dengan  peraturan dan prosedur.  Dalam kaitan ini  masyarakat mengharapkan  agar perusahaan   dapat memenuhi visi dan misi yang diusungnya.

3)       Etika diharapkan agar pelaku bisnis mempunyai moral, etika kerja dimana perusahaan  berada.  Etika tidak harus sesuai dengan  apa yang diatur dalam  aturan formal, akan tetapi  dapat memenuhi harapan masyarakat terhadap perusahaan , misalnya menghargai masyarakat, menghidnari pencideraan masyarakat,  dan mencegah adanya bencana bagi masyarakat.

4)       Berkaitan dengan   penilaian, pilihan perusahaan  dalam hal  kegiatan  yang diharapkan kembali kepada masyarakat.

Tentang dampak hubungan baik antara perusahaan  dengan  pemangku kepentingan , Kotter J dan James (1992) dalam Svendensen et.al. (2000)  laporannya tentang  Corporate Culture  yang dilaporkan Harvard, menunjukkan  bahwa  selama 11 tahun pemantauannya menunjukkan bahwa dari sisi:  pertumbuhan penjualan dan pertumbuhan karyawan,  perusahaan  yang berorienatasi keapada stakeholder  berikenerja lebih baik dbanding dengan  perusahaan  yang berorientasi  pada pemegang saham. Dicatat juga bahwa  manajemen yang  menerapkan visi lebih memberikan fokus kepada  stakeholder  daripada  pemegang saham.  Laporan ini senada dengan  hasil penelitian  tentang  Living Company (1997) dimana  ditemukan bahwa  perusahaan  yang berorientasi kepada  pemangku kepentingan   tetap berada pada hubungan yang harmonis dengan  lingkungan nya dengan  tetap menjada hubungan  kuat dengan   lingkungan.  Hal demikian dimungkinkan karena manfaat yang diterima perusahaan  yang berorientasi kepada pelanggan akan memberikan manfaat yang berkelanjutan terhadap perusahaan .

3. Model Tanggung jawab  Sosial  Dalam Pemanfaatan Hasil Riste dan Teknologi

Tanggung jawab  Sosial semakin menemukan posisinya pada  perusahaan  dewasa ini. Bentuknya dalam era otonomi daerah juga disebut  Community Development. Dalam konteks ini  model dapat dilihat sebagai satu  urutan yang dapat diterapkan  oleh perusahaan  guna mencapai tujuan.

Adapun urutan dimaksud adalah sebagai berikut.

a) Menginternalisasi  masalah tanggungjawab sosial ke dalam strategy perusahaan.

b) Mengimplementasikan  program tanggungjawab sosial ke dalam kegiatan  perusahaan.

c) Memantau dan mengevaluasi program tanggungjawab sosial.

a. Internalisasi ke dalam strategi

Langkah pertama sebagaimana terlihat pada Gambar 1. adalah keharusan menginternaliasi tanggung jawab  sosial kepada  ke dalam praktek bisnis. Internalisasi maksudnya adalah menjadikan permasalahan tanggung jawab  sosial sebagai bagian daripada  strategi perusahaan.  Hal ini perlu diingatkan karena dalam paradigma bisnis modern  bahwa hubungan pelanggan dan perusahaan  adalah aset  yang harus dikelola  manajer.  Elm, H. (2006)  dalam laporannya tentang  pelaksanaan CSR di Eropa Timur  masih sering dilihat sebagai  program Charity, bukan sebagai sesuatu yang eksplisit, tertuang  sebagai bagian daripada  strategi. Apa yang dikemukakan oleh  Mehaan dengan  model 3C-SR harus menjadi awal internalisasi yaitu  membangun komitmen. Sementara  itu membangun komitmen  haruslah dimulai dengan  adanya  pemahaman yang mendalam oleh pihak manajemen terhadap CSR. Untuk itu harus diakui bahwa manfaat CSR sebagai bagian daripada  intangible aset  tidaklah instan, akan tetapi perlahan-lahan pada jangka panjang.  Wibisono (2007) menjelaskan manfaat CSR: 1)  mempertahankan dan mendongkrak  brand image perusahaan, 2)  mem-peroleh license to operate, 3) mereduksi  risiko bisnis perusahaan, 4) melebarkan akses sumberdaya, 5) membentangkan akses menuju market, 6) mereduksi biaya, 7)  memperbaiki hubungan dengan  pemangku kepentingan, 8) memperbaiki hubungan dengan  regulator, 9)  meningkatkan semangat produktivitas, dan 10) peluang mendapatkan penghargaan.

Peran pemerintah dalam di atas adalah  penting. Pemerintah sebagai pemegang wewenang harus  melakukan pemeriksaan terhadap strategi perusahaan  dalam menginternalisasikan  permasalahan tanggung jawab  sosial  ke dalam permasalahan internal perusahaan . Sebagai catatan dapat disampaikan temuan Albareda, L. et.al. (2006) tentang peran pemerintah dalam implementasi  CSR: di Inggris   lebih sifatnya sistemik terhadap orientasi peran pemerintah dan swasta. Sementara di Itali sifatnya lebih ekstensif,  dan melakukan pendekatan  multi stakeholder dan multi level.

Pentingnya internalisasi CSR dalam strategi akan menentukan keberhasilan program CSR itu sendiri. Galbreath (2009), dalam studinya  menjelaskan bahwa  upaya perusahaan  mengintergrasikan ataupun merealisasikan CSR dalam strategi perusahaan  secara integratif  tidak menunjukkan  perubahan yang mendasar. Permasalahan dalam implementasi  CSR baru sebatas popularitas belum menyentuh permasalahan yang mendasar. Oleh karena itu,  pekerjaan utama secara bisnis dalam mengimplementasikan  CSR adalah  “mengadopsi” nya menjadi bagian strategi perusahaan .

b. Implementasi

Marten J.H.K, dkk. (2007) dalam studi kasus  tentang CSR  mengidentifikasi konflik yang pernah terjadi antara perusahaan  Multinasional dengan  masyarakat sekitar.  Identifikasi  mereka menunjukkan berbagai  hal:  1)  berkurangnya sumber ait, rendahnya kepedulian terhadap perekonomian masyarakat dan pengawasan perusahaan  yang berlebihan, 3) hilangnya jalan setapak dan terancamnya fungsi pembangunan kerekatan sosial. Oleh karena itu adapun implementasi  CSR didasarkan kepada permasalahan yang dihadapi perusahaan  terhadap pemangku kepentingan. Dalam hal ini  harus dibedakan mana pemangku kepentingan  primer dan sekunder.  Stakeholder primer mempunyai kepentingan yang langsung berhubungan dengan masa depan perusahaan. Yang termasuk stakeholder primer yaitu pemegang saham dan investor, karyawan, pelanggan, pemasok dan penduduk dimana perusahaan beroperasi. Beberapa ahli menambahkan stakeholder primer meliputi individu atau kelompok yang berkepentingan terhadap sumber daya alam, spesies bukan manusia, dan generasi yang akan datang (Wheeler dan Sillanpää, 1997). Sedangkan stakeholder sekunder adalah mereka yang tidak menerima dampak langsung; diantaranya media, kelompok pemerhati (pressure groups), atau kelompok sosial lain dimana perusahaan berada.

Fungsi pemerintah dalam hal ini sangat penting  untuk memeriksa cakupan dan   implementasinya di lapangan. Jamali (2008)  mendasarkan pelaksanaan CSR atas pendekatan pemangku kepentingan  (stakeholder). Dari hasil identifikasi yang dilakukan, dapat dilihat  kategori pemangku kepentingan  dan harapannya terhadap perusahaan .

Tabel.  1. Jenis Pemangku kepentingan  dan Harapan kepada perusahaan .

. Pemangku kepentingan Harapan  dipilah menjadi nilai
1 Karyawan
  • Kesehatan  dan keamanan bekerja
  • Pengembangan keahlian bekerja
  • Kesejahteraan dan kepuasan pekerja
  • Kualitas pekerjaan
  • Keadilan sosial
2 Pemasok
  • Kemitran antara perusahaan  yang memberikan order dan pemasok.
  • Pemilihan dan analisis sistem pasokan
3 Pelanggan
  • Kualitas produk
  • Keamanan pelanggan selama menggunakan produk
  • Perlindungan Konsumen
  • Transparansi informasi produk
4 Masyarakat
  • Menicptakan dan menambah nilai kepada masyarakat
  • Keamanan lingkungan dan produksi

Sumber. Longo et.a., dalam Jamali, D. (2008).  Hal. 217.

Masing-masing pemangku kepentingan  ini mempunyai  harapan yang berbeda terhadap perusahaan. Oleh karena itu,  program dan kegiatan  harus didasarkan kepada identifikasi pemangku kepentingan  secara seksama.

Implementasi  bagaimanapun tidak berjalan mulus. Untuk kasus  Indonesia misalnya telah didapat   didapat dua Undang-undang  yang mengharuskan  korporasi menerapkan  yaitu Undang-undang tentang penanaman modal dan Undang-undang Perseroan  Terbatas. Akan tetapi kenyataan ini masih dihadapkan kepada kendala  yaitu:

1)       Isu tentang CSR   masih lebih sebatas  khabar  baik, akan tetapi  pelaksanaannya  masih langka. Robin (2008) melaporkan ada tiga kondisi yang dihadapi dalam penerapan CSR i)  biaya yang ditimbulkan  oleh CSR bisa saja tidak dikenal, ii)  keputusan yang berkaitan dengan  kompetensi yang tidak dipunyai  oleh perusahaan , dan iii)  CSR mungkin akan berkaitan dengan  lingkup sosial  yang lebih luas, pemerintah dan masyarakat,  hal ini membuat perusahaan  akan berfikir ulang.

2)       Untuk kasus Indonesia, sebagaimana dilaporkan oleh Pradjoto (2007) dalam  Kompas: perusahaan  melihat CSR sebagai biaya yang kemudian menjadikan biaya operasional perusahaan  meningkat. Pandangan demikian tentunya berbeda  dengan   makna daripada  CSR yang  lebih menekankan kepada tanggung jawab  perusahaan  ketimbang sekedar perbuatan baik.

Adapun tantangan demikian mengisyaratkan bahwa  keterlibatan  pemangku kepentingan  mutlak dalam mengimplementasikan  program  CSR. Pendekatan partisipatif dengan  berbagai bentuk akan menopang  keberhasilan perusahaan  dalam mengimplementasikan  program CSR.

c.  Monitoring dan Evaluasi

Adapun pertimbangan utama dalam menerapkan CSR  adalah manfaat, baik yang berwujud nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible).  Oleh karena itu manfaat yang diharapkan senantiasa  harus mendapat dipantau  dan dievaluasi.  Penerapan CSR di Indonesia  dapat dikatkaan terlambat, hal ini bila dilihat  praktek yang dilaksanakan oleh perusahaan  besar di Indonesia CSR  masih cenderung bersifa niat baik (charity).  Keluarnya UU No. 40 tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas secara eksplisit mencantumkan  Tanggung jawab  Sosial  sebagai bagian  daripada   kegiatan  perusahaan . Secara singkat dapat disimpulkan bahwa  setiap perseroan wajim mencantumkan dana  untuk tanggung jawab  sosial, melaksanakan, dan melaporkannya  ke pemerintah setiap tahunnya. Bahakan bagi perseroan yang tidak melaksanakan wajib  dikenakan sangsi. Pelaporan demikian  tentunya menjadi bagian daripada  kesempatan  yang memungkinkan  pemerintah, salah satu dari pemangku kepentingan  untuk terlibat dalam  pelaksanaan tanggung jawab  sosial. Walau  harus diakui bahwa  upaya menerbitkan PP yang beriaktan dengan  tanggung jawab  sosial lini masih mengalami hambatan.

4. Tanggung jawab  sosial dan teknologi  Riset Iptek

Ilmu pengetahuan dan  teknologi telah berkembang demikian pesat. Dari  sisi ilmu ekonomi bahkan telah berkembang aliran New Economy yang meyakini  bahwa ekonomi yang berkembang pesat adalah yang digerakkan oleh  ilmu pengetahuan  dan teknologi. Karena ini akan memberikan nilai tambah lebih besar kepada negara daripada menghasilkan bahan mentah yang menopang perekonomian.  Sehingga  kemajuan bangsa dan negara ditentukan anggaran yang tersedia untuk Riset dan Pengembangan (R&D).  Perkembangan  teknologi senantaisa tidak  terbatas, karena selalu terbuka ruang untuk  mengimpelementasikannya. Dari hasil penelusuran pada  situs http://id.wikipedia.org/wiki/ Kategori:Teknologi, ditemukan  33  kategori teknologi. Adapun kategori ini adalah sebagai berikut: alat, bahan peledak, digital, elektorinika, fotographi, informasi, lingkungan, luar angkasa, mesin, militer, optik, otomasi, percetakan, penghargaan sains,  pertanian, pendidikan, program luar angkasa, proses industri, robot, sejarah teknologi, sistem, suara, teknik, dan  teknologi televisi.

Berkaitan dengan  kategori teknologi di atas, pada dasarnya ada dua sumber teknologi bagi perusahaan  yaitu internal dan eksternal, yang lebih dikenal sebagai outsourcing. Dalam hal outsourcing,  keterlibatan  mitra  menyediakan teknologi bagi satu perusahaan  sangat dimungkinkan.  Teknologi bagi perusahaan  telah menjadi bagian daripada  kpts yang harus disiapkan untuk menopang daya saingnya. Akan tetapi pedoman untuk menerapkan teknologi dan ilmu pengetahuan diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menjunjung Nilai luhur. Nilai luhur bagaimanapun harus diutamakan, karena nilai  kemanusiaan  melekat kepada ciptaan yang lebih tinggi. Untuk kasus cloning bagaimanapun hal ini tidak akan pernah  mendapat tempat karena  melecehkan  manusia sebagai  ciptaan yang maha kuasa.
  2. Perusahaan  menyusun  praktik penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam bentuk etika ataupun konduk, sehingga prinsip akuntabilitas tetap  terpelihara  sehingga memungkinkan  temuan dan inovasi berjalan dengan  baik.
  3. Menopang keberlanjutan lingkungan. Teknologi bagaimanapun harus mepertimbangkan  keberlanjutan lingkungan secara utuh untuk generasi sekarang dan yang akan datang.
  4. Perusahaan  harus menggunakan teknologi secara bertanggungjawab sehingga dapat memperbaiki kualitas  perusahaan  secara khusus dan kualitas masyarakat beserta lingkungan secara  umum.
  5. Peran pemerintah harus bersifat fasilitatif, sehingga dapat mendorong  lahirnya berbagai temuan  yang dapat menopang  pembangunan bangsa secara keseluruhan.

5. Kesimpulan

Adapun praktik penerapan CSR yang  menjadi  populer saat ini haruslah juga mengakomodasi  isu-isu yang berkembang. Isu tentang  pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagaimanapun harus menjadi bagian daripada  strategi perusahaan  sehingga setiap perusahaan  dapat menyiapakan  pedoman (konduk)  yang menopang praktik dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian daripada  tanggung jawab  sosial perusahaan . Dukungan terhadap praktik Tanggung jawab  Sosial perusahaan  baik berisfat Undang-undang dan  peraturan yang bersifat lolak senantiasa harus dipahami bukan sebagai beban perusahaan , akan tetapi sebagai tanggung jawab  perusahaan   untuk turut menopang pembangunan yang lebih luas.

Daftar Pustaka

Albarade. L.2008.  Corporate responsibility, governance and accountability: from self-regulation to co-regulation, Corporate Governance, Vol. 8.4 2008, pp 430-439.

Albarade, L. et.al. The government’s role in promoting corporate responsibility: a comparative, Corporate Governance, Vol. 8.4 2008, pp 386-400

Hoffman. R.C., 2007. Corporate social responsibility inovasi  the 1920s: an institutional Perspective,  Journal of Management History pp. 55-73, Perdue School of Business, Salisbury University, Salisbury, Maryland, USA .

Galbreath, J. 2009. Building corporate social responsibility into strategy, Garaduate School of Business, Curtin University of Technology, Perth, Australia, European Business Review, Vol. pp. 109-127

Jamali, D. 2008. A Stakeholder Approach to Corporate Social Responsibility: A Fresh Perspective into Theory and Practice, Journal of Business Ethics, 82: pp. 213–231

Kementrian Negara Ristek., 2009. Enam Fokus   Program  Kementrian Negara Riset dan Teknologi, http://www.ristek.go.id/index.php,  4 juni 2009.

Meehan. J.et.al. 2006. Corporate social responsibility: the 3C-SR model, International Journal of Social Economics, Vol. 33 No. 5/6. pp. 386-398.

Pradjoto (2007). Tanggung jawab  Sosial Korporasi, Kompas 23 Juli 2007,  http://www. kompas. com/kompas-cetak/0707/23/utama/3711215.

Republik Indonesia, 2007. Undang-undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas, Mentri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indoensia, Jakarta.

Robin, F. 2008. Why community cocial responsibility should be popularised but not imposed, Corporate Governance, Vol. 8, No. 3. pp. 330 – 341.

Svendensen, et.al. 2000. Measuring The Business Value Of stakeholder Relationships, Part One.  The Center for Innovation Management, Simon Fraser University.

McManus, T.2007. The business strategy corporate social responsibility “mash-up” Department of Management and General Business, Frank G. Zarb School of Business New York

Marten.J.H., dkk., 2007. Corporate Social Responsibilitu Perusahaan  Multinasional Kepada Masyarakat Sekitar: sudi Kasus, Usahawan No. 03. Tahun.  XXXVI, hal.  9-18.

Wibisono, Y. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility), Fascho Publlishing, Gresik, Indonesia.

Zadek, S. 2006.  Corporate responsibility and competitiveness`at the macro level Responsible competitiveness: reshaping global markets through responsible business practices, Corporate Governance, Vol. 6. no 4. pp 334-348. Emerald Group Publishing Limited.

Bacaan  yang dapat diklik di sini diperuntukkan untuk peserta Manajemen Stratejik S2.

Pertanyaan dan diskusi.

1 Beri contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah  CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.

2. Apa tantangan  satu perusahaan dalam menerapkan CSR.

3. Jelaskan CSR  yg diterapkan menjadi bagian  strategi perusahaan.

About these ads

Juni 8, 2009 - Posted by | competitive advantage, kompetensi, krisis enerji, strategy, Tanggung jawab sosial

68 Komentar »

  1. 1.Masalah CSR (Community Social Responsibility) adalah masalah strategik yang harus dipikirkan oleh setiap perusahaan. masalah CSR adalah bersifat komprehensif baik anatara karyawan dgn perusahaan, perusahaan dan supplier dan perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungannya.
    Pemahaman konsep CSR dengan benar dapat memberikan pengaruh yang besar bagi setiap individu – individu yang berada disekitar nya bahkan untuk masyarakat luas.
    CSR adalah cerminan perusahaan yang peduli terhadap keadaan lingkungan. perusahaan perlu untuk mengembangkan potensi yang ada dimana perusahaan itu berada agar program pengembangan masyarakat menuju masyarakat yang mandiri dapat tercapai

    2. Implementasi CSR di Propinsi Jambi dapat diambil contoh PetroChina yang dalam hal ini telah berperanan aktif dalam mengembangkan infrastruktur masyarakat sekitar, dengan melalui program – program kredit untuk UKM, pembuatan Jalan, serta pemberian Beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

    3. Program CSR harus dapat menjadi satu point penting bagi setiap perusahaan karena melalui CSR ini masyarakat dapat diberikan suatu rasa kenyamanan dan menimbulkan rasa bangga masyarakat terhadap perusahaan yang berdiri di lingkungan mereka, sehingga bagi perusahaan pun dapat mengambil nilai positif yaitu kelancaran bisnis dan usaha mereka.

    Terima Kasih,

    Dedy, singkat tapi padat. Namun, ada baiknya juga menyertakan tulisan sebagai referensi. Sukses selalu.

    Deddy K

    Komentar oleh Deddy Kurniawan | Juni 23, 2009 | Balas

  2. Pameran Tanaman Hias : Apa Trend Tanaman Hias 2009 &
    Bagaimana Strategi Pasarnya terhadap Urban Farming?

    “ ANTARA PORTER DAN KOTLER ”

    Dalam kaitan ini, Porter menjelaskan makna terpenting dari pemahaman strategy adalah mengambil tindakan yang berbeda dari perusahaan pesaing dalam satu industri guna mencapai posisi yang lebih baik. Artinya, adapun strategi antar perusahaan dalam satu industri berbeda satu dengan lainnya, karena masing-masing perusahaan mengalami kondisi internal dan tujuan yang berbeda, walau kondisi eksternal pada umumnya bisa saja sama.

    Selanjutnya diingatkannya bahwa kegiatan operasional bukanlah strategi, namun yang lebih penting adalah bagaimana mengambil tindakan sehingga perusahaan dapat memperoleh posisi yang lebih baik. Salah satu yang terpenting menurutnya adalah memposisikan produk perusahaan lebih baik dimata konsumen. Untuk berhasil mengambil tindakan yang berbeda dari perusahaan saingan, maka perusahaan harus FOKUS. Tanpa fokus, perusahaan akan bergerak ke kiri dan ke kanan karena untuk sementara hal itu dianggap penting.

    Michael Eugene Porter adalah warga Negara amerika seorang akademisi yang berfokus pada manajemen dan ekonomi. Dia memberikan konribusi yang berarti pada manajemen strategi dan teori-teori strategi. Sebagian besar masyarakat bisnis masih meyakini bahwa teori manajemen strategi populer dari begawan Michael Porter sebagai salah satu teori yang masih relevan saat ini.

    Porter yakin untuk mampu memenangi persaingan, perusahaan harus memiliki minimal satu dari tiga strategi generik: menjadi pemimpin harga, membuat perbedaan, dan fokus mengincar pasar ceruk (niche market) tertentu.
    Lebih dari 20 tahun yang lalu (sekitar tahun 1980), Michael Porter, seorang guru besar manajemen di Harvard Business School mengeluarkan teori rantai nilai dalam bukunya yang berjudul “Strategi Persaingan”.

    Teori ini menjelaskan bagaimana proses penciptaan nilai terjadi di dalam perusahaan melalui suatu aktivitas utama disertai aktivitas pendukung. Menurut Porter, secara umum aktivitas utama itu terdiri dari logistik ke dalam (inbound logistics), operasi dan produksi, logistik ke luar (outbound logistics) atau distribusi, pemasaran dan penjualan, serta layanan kepada pelanggan. Sedangkan aktivitas pendukung semua aktivitas utama di atas secara umum terdiri dari pengadaan (procurement), manajemen sumber daya manusia, pengembangan teknologi (termasuk teknologi informasi), serta infrastruktur kantor yang terdiri dari keuangan, akuntansi, dan administrasi.

    Michael Porter juga mengembangkan five forces analysis adalah kerangka untuk menganalisa industri dan pengembangan pada tahun 1979 , lima kekuatan itu adalah :

    1. Persaingan/Rivalry. Organisasi Bisnis Tanaman Hias. Anda berada di dalam industri pelayanan yang penuh pemain. Tidak semua pemain adalah pesaing Anda, oleh karena itu Anda harus berhati hati menentukan siapa pesaing terdekat Anda, yang agak jauh, dan yang bukan pesaing Anda. Hal ini penting dilakukan karena Anda perlu memfokuskan strategi persaingan pada hal hal tertentu.

    2. Pendatang Baru. Banyak pembuat keputusan yang terlena karena keberhasilannya (complacency) sehingga tidak memperhitungkan organisasi kecil yang sewaktu waktu dapat menjadi pesaing dan mencaplok pangsa pasar Anda. Anda harus mengenali siapa yang berpotensi menjadi pesaing Anda.

    3. Kekuatan Pemasok. Kadang kala Anda “terjebak” menggunakan peralatan tertentu dimana pemasoknya memiliki kekuatan untuk mendikte Anda sehingga Anda tergantung kepada pemasok tersebut. Biasanya keadaan ini berlaku untuk barang barang yang hanya sedikit sekali mempunyai pesaing. Tetapi ada kalanya sebagai pelanggan anda memiliki kekuatan besar untuk mendikte pemasok. Keadaan ini terjadi karena Anda merupakan pemakai terbesar produk tersebut dan atau produk tersebut memiliki banyak pesaing. Sebagai pelanggan tentu Anda tidak perlu menekan pemasok Anda, sebaliknya Anda perlu melakukan kerja sama dengan pemasok sehingga mereka akan dapat mendukung pemasaran Anda.

    4. Kekuatan Konsumen. Di dalam situasi persiangan yang hebat, dimana hampir di setiap area pemukiman terdapat fasilitas tanaman hias, maka kekuatan konsumen untuk memilih sangat besar. Mereka boleh datang ke kios Anda atau kios pesaing Anda. Masing masing kios tanaman hias memang cenderung memiliki pasar sasarannya, tetapi banyak konsumen tidak tergantung kepada kios tanaman hias.

    5. Substitusi. Anda adalah pebisnis tanaman hias, yang bermain industri ini bukan hanya anda, seperti pebisnis individu yang memiliki tanaman hais dan yang lainya yang berhubungan dengan tanaman hias. Artinya pesaing yang Anda harus perhitungkan sebenarnya bukan hanya kios tanaman hias, seperti pebisnis individu dan yang lainya yang berhubungan dengan tanaman hias.

    Menurut Kotler Studi manajemen pemasaran mengiktisarkan lima filosofi tentang bagaimana menjalankan praktek pemasaran. Ke lima filosofi tersebut, meliputi pemasaran yang berorientasi (1) produsen (2) produksi (3) penjual (4) pasar (5) pemasaran sosial. Pemasaran berorientasi pasar sebagai artikulasi dari konsep pemasaran yang kini banyak dianut perusahaan. Namun demikian, redefinisi konsep pemasaran masih terus berlangsung, sebagai upaya untuk mencari konsep yang sesuai dengan tuntutan lingkungan.

    Selanjutnya Kotler menegaskan, perusahaan perlu melakukan penyesuaian praktek pemasaran dari transaksi marketing menuju relationship marketing. Pemasaran bukan suatu fungsi manajemen yang berdiri sendiri tetapi menjadi kegiatan dalam proses organisasi keseluruhan. 4-P yang merupakan taktik pemasaran bergeser menjadi 3-K ; Kreasi, Komunikasi, dan penghantar nilai ke Konsumen (creating, communicating and delivering nilai to customer).

    3-K merupakan kelompok variabel yang dapat dikendalikan organisasi yang dimaksudkan untuk meliput sasaran sehingga dapat memuaskan sebaik mungkin para pelanggan di pasar itu. Kualitas pelayanan adalah senjata ampuh dalam keunggulan perusahaan, terutama perusahaan jasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pangsa pasar adalah peningkatan kualitas pelayanan.

    Kualitas pelayanan menjadi pemicu keberhasilan perusahaan pada segala lini. Kualitas pelayanan merupakan kewajiban bagi perusahaan, baik perusahaan manufaktur maupun (terutama) perusahaan jasa. Pakar pemasaran, menyatakan, apapun bisnis anda, pelayanan dapat memberikan sesuatu pembelajaran (Whatever your business, service have something to teach). Pelayanan merupakan kunci sukses, sehingga kualitas pelayanan harus menjadi fokus perhatian manajemen perusahaan ketika menjalankan bisnisnya.

    Menurut Kotler, pelayanan yang berkualitas dan memuaskan pelanggan perlu dilakukan terus – menerus, meskipun pengaduan yang diterima relatif rendah. Sekitar 95% konsumen yang tidak puas memilih untuk tidak melakukan pengaduan, tetapi sebagian besar cukup menghentikan pembeliannya. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan melihat tingkat kesenjangan antara harapan atau keinginan konsumen dengan persepsi mereka terhadap kinerja produk atau perusahaan yang diterima oleh konsumen yang dapat dijelaskan dalam skala service quality (SERVQUAL scale).

    Penelitian menunjukkan bahwa SERVQUAL dapat menjadi alat yang efektif dan stabil untuk mengukur service quality melalui pemasaran. Ada lima dimensi yang digunakan oleh pelanggan untuk menilai kualitas pelayanan pada suatu industri yaitu :

    1). Kehandalan (reliability) merupakan suatu kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan akurat dan terpercaya, dimana kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yaitu ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa ada kesalahan.

    2). Ketanggapan (responsiveness) merupakan suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat kepada pelanggan.

    3). Jaminan / kepastian (assurance), yaitu pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan tugas secara spontan, yang dapat menjamin kinerja yang baik sehingga menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan.

    4). Empati (emphaty), yaitu memberikan perhatian yang bersifat individual atau pribadi kepada pelanggan dan berupaya untuk memahami keinginan konsumen.

    5). Berwujud (tangibles), yaitu penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik yang dapat diandalkan, serta keadaan lingkungan sekitar sebagai bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.

    Ada beberapa definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh para pakar, perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsikan dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.

    Namun pakar lain lebih menekankan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal.

    Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan, yaitu: 1), Perilaku konsumen menyoroti perilaku individu dan rumah tangga ; 2), Perilaku konsumen menyangkut suatu proses keputusan sebelum pembelian serta tindakan dalam memperoleh, memakai, mengkonsumsi dan menghabiskan produk yang bermacam-macam.

    Untuk dapat memahami perilaku belanja dari konsumen, Kotler mengemukakan bahwa terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu; 1), Aktivitas promosi dan dan stimulus lain ; 2), Karakteristik pembeli : 3), Respon dari pembeli.
    Perilaku konsumen merupakan suatu tindakan nyata konsumen yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kejiwaan dan faktor luar lainnya yang mengarahkan mereka untuk memilih dan mempergunakan barang/jasa yang diinginkannya.
    Perilaku konsumen suatu produk dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keyakinan konsumen terhadap produk yang bersangkutan, keyakinan terhadap referen serta pengalaman masa lalu konsumen.
    Berkaitan dengan keinginan konsumen untuk membeli dikenal istilah minat beli. Minat beli merupakan bagian dari proses menuju ke arah tindakan pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen. Hal ini merupakan bagian dari kajian perilaku konsumen.
    Keaneka ragaman hayati tanaman hias memiliki dimensi yang berbeda-beda, baik dari sisi bentuk, jenis warna dan keunikannya. Hal ini yang membuat para penggemar tanaman hias dan peminat pertanian rajin mengkoleksi tanaman untuk dijadikan sarana kepuasan dan kegemaran, namun dilain sisi harga tanaman hias ini menampilkan harga yang sangat tinggi yang tergantung dari keunikan tanaman itu.

    Tanaman hias adalah kebutuhan jasmani, yang pemenuhannya setelah orang bisa memenuhi kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan. Kebutuhan diluar kebutuhan pokok, adalah barang-barang yang memiliki sensitifitas yang tinggi. Suatu saat akan digemari dan harganya akan melambung karena permintaan menjadi banyak, disaat lain akan menurun tajam begitu permintaannya mandek.

    Adanya trend tanaman yang berpola keindahan tertentu, akan memicu trend tanaman lain yang memiliki pola yang sama. Trend aglaonema, tanaman hias daun dengan pola daun beraneka ragam, kemudian memicu trend tanaman lain yang memiliki pola daun beraneka ragam seperti puring, kaladium, sampai anthurium.

    Sangatlah sulit memprediksi, tanaman hias jenis apa yang akan menjadi trend atau mode di saat yang akan datang. Itulah mengapa, tiba-tiba ketika anthurium menjadi mode, harganya sangat melambung tinggi, karena saat itu tidak banyak petani yang memilikinya.
    Sebelum 3 tahun yang lalu, anthurium Jemanii setinggi setengah meter mungkin harganya hanya ratusan ribu rupiah. Anthurium jenis ini adalah yang memiliki pertumbuhan cukup lambat, sehingga petani enggan memperbanyak karena tidak bisa secara instant memproduksi dalam jumlah banyak, sedang harganya rendah.
    Sampai saat ini, apa yang akan menjadi trend di tahun 2009. Kita hanya bisa mengenali dari ciri-ciri utama tanaman yang suatu saat bisa menjadi trend. Walaupun tidak bisa memastikan kapan waktunya, cirinya yaitu ; tanaman yang dapat dirawat dengan mudah. Sebagian besar konsumen tanaman hias adalah kalangan yang awam terhadap pemeliharaan tanaman.
    Lama direnungkan, tahun pun berlalu, harga tanaman tampaknya makin terdesak turun. Ada yang susah karena dulu membeli dengan harga mahal. Tapi ada juga yang girang karena berpendapat ini saat pas untuk membeli tanaman hias, terutama bagi yang selama ini “nyidam”.

    Apa yang harus dilakukan. Belakangan ini, setelah melalui fase cooling down, tampaknya harga juga sudah terdesak jauh, melampaui harga normalnya. Sekaranglah saat yang tepat bagi pecinta tanaman menambah koleksinya. Kenapa?

    Berkembangnya kegiatan usaha tanaman hias di Kota Jambi, berkaitan dengan nuansa kehidupan perkotaan yang semakin menyadari kebutuhan akan keasrian lingkungan di tengah padatnya penduduk dan keterbatasanan yang ada.

    Tanaman hias secara psikologis dapat memberikan keindahan dan kesegaran, sedangkan dari sisi ekologis tanaman mampu menekan tingginya polusi udara menjadi paru-paru kota yang menghasilkan oksigen dan menyerap gas beracun. Pameran ini untuk mencari tolak ukur sejauh mana masyarakat Kota Jambi mempunyai rasa ketertarikan dan peduli terhadap tanaman hias.

    Tanaman hias adalah salah satu pilihan penyaluran hobi yang digandrungi sebagian masyarakat akhir-akhir ini. Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan tanaman hias sudah tidak asing lagi untuk halaman depan maupun belakang rumah yang dilengkapi lagi dengan berbagai asesoris lainnya.

    Kegandrungan akan tanaman hias ini telah menyebar hingga di pelosok pedesaan, saat ini animo masyarakat terlihat memelihara dan menghiasi halaman rumah mereka dengan aneka ragam jenis tanaman hias, dari bernilai harga murah meriah hingga relatif mahal.

    Data menunjukkan bahwa dari berbagai macam pameran yang diikuti peserta, gairah konsumen makin meningkat. Contohnya pameran Flona yang setahun sekali diadakan di Lapangan banteng, selalu menjadi agenda tahunan karena di pameran tersebut, hasilnya selalu signifikan bertambah. Bahkan beberapa pameran di luar kota, juga menunjukkan gairah yang sama.

    Pameran juga digunakan sebagai ajang edukasi pasar. Pada saat pameran, konsumen bisa bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan produsen.

    Komunikasi tidak hanya sebatas produk apa yang diperjual belikan, tetapi juga banyak pertanyaan menganai perawatan tanaman, serta tanya jawab tentang kesulitan-kesulitan yang dialami konsumen, sehingga menjadi ajang konsultasi konsumen kepada produsen.
    Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hias, 2008, kegiatan pameran diharapkan dapat memberi manfaat :
    1. Peningkatan kompetensi institusi dan apresiasi pengguna terhadap lembaga penelitian.
    2. Penyebarluasan dan distribusi varietas baru tanaman hias
    3. Peningkatan peluang investasi
    4. Penyempurnaan program penelitian dan pengembangan tanaman hias dari hasil umpan balik dan evaluasi pencapaian hasil dan kinerja lembaga penelitian secara keseluruhan.
    Pameran dapat menjadi ciri eksistensi sebuah perusahaan beserta produk-produknya. Perusahaan yang rutin mengikuti pameran, akan memiliki citra positif di kalangan konsumen.

    Pameran bukan hanya mengejar transaksi setinggi-tingginya. Tetapi, juga sangat mementingkan edukasi kepada masyarakat terhadap kecintaan pada tanaman hias. Sehingga dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat yang bertanya, mulai dari jenis dan nama tanaman hingga ke bagaimana cara pengembangbiakan, menanam, ataupun merawat tanaman.
    Masyarakat diberikan penjelasan tentang tanaman hias dan keindahannya. Pameran perlu dilakukan karena peranan pameran sangat besar untuk membangkitkan antusiasme masyarakat. Sebagian besar orang menganggap belanja tanaman hias bukanlah kebutuhan mendesak.
    Jika membeli tanaman, kemudian dengan pengetahuan yang sangat terbatas, mencoba untuk merawat di rumah, dan berikutnya tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik, maka tentu konsumen tersebut akan merasa suka, bahkan mungkin pada masa berikutnya akan mencari jenis tersebut yang berharga lebih mahal.
    Pameran juga menjadi ajang komunikasi langsung antara produsen dengan konsumen.

    Makin tinggi pengetahuan konsumen mengenai tanaman hias, tentu akan menambah kualitas pemeliharaan tanaman hias di tingkat konsumen, sehingga konsumen puas dengan tanaman hias, dan muara akhirnya tentu menambah jumlah kolektor yang selalu membeli tanaman hias.

    Perusahaan akan mendapat data secara langsung produk-produk apa yang disukai konsumen, sebaliknya konsumen juga bisa secara langsung menanyakan berbagai hal tentang produk.

    Dalam kegiatan pameran ini ada dua pelaku yang penting yang mendominasi kegiatan, yaitu; supply urban farming dan buyer urban farming.

    Namun sesungguhnya urban farming mengandung arti yaitu suatu aktivitas pertanian yang dapat berupa kegiatan bertani, beternak, perikanan, kehutanan, yang berlokasi di dalam kota atau di pinggiran suatu kota.

    Peran pertanian (urban farming) terhadap pertumbuhan dan perkembangan kota,
    diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru, 2) Meningkatkan efisiensi biaya transportasi, 3), Penyediaan kebutuhan pangan bagi penduduk kota dan sekitarnya sehingga ketahanan pangan dapat berkelanjutan. 4) Peningkatan taraf hidup masyarakat, 5), Peningkatan pendapatan daerah kota dengan adanya diversifikasi dari kegiatan pertanian, diantaranya kegiatan wisata pertanian, kegiatan pengolahan hasil pertanian dan lain sebagainya.

    Melalui pendekatan pemikiran para para pakar diatas, pertanyaan tentang bagai mana strategi pemasaran tanaman hias saat ini, apa jenis tanaman hias yang lagi trend, bagaimana bentuk dan sistem strategi para pesain saat ini dan bagaimana prilaku konsumen yang ada akan dapat diketahui, pada saat penyelnggaraanya tanggal 18-26 July 2009.

    Loy Stratejik,
    Ika – Himagron Unja Group Online.
    Jl. Patimura, Lrg. H. Ibrahim, No. 109 Rt22/06, Kel. Rawasari, Kec. Kotabaru.
    No. Penghubung-081366031050

    Komentar oleh LoyStratejik | Juni 24, 2009 | Balas

  3. Mengapa CSR?

    download pdf at:

    http://www.ziddu.com/download/5369644/MengapaCSR.pdf.html

    Suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya umumnya menghasilkan dampak eksternalitas, baik yang bersifat negatif maupun positif. Perusahaan tidak mempunyai insentif untuk mengurangi dampak eksternalitas yang negatif, karena perusahaan yang menanggung biaya untuk mengurangi dampak tersebut (misalnya, dengan memasang alat penyaring udara kotor untuk mengurangi polusi) sedangkan manfaatnya (udara yang lebih bersih di linkungan pabrik) dirasakan oleh pihak lain (masyarakat sekitar pabrik) dan bukan perusahan tersebut.

    Pemerintah berperan untuk membuat aturan yang mendorong atau mewajibkan perusahaan untuk mengurangi dampak eksternalitas yang negatif tersebut (misalnya, dengan membuat aturan baku standar kualitas udara di sekitar pabrik) atau dengan membebankan pajak ke perusahaan sebesar pengaruh negatif eksternalitas, dan dari penerimaan pajak tersebut pemerintah menggunakannya untuk mengurangi polusi di daerah tersebut (Sidharta Utama ,2008).

    Selanjutnya menurut Sidharta Utama (2008), eksternalitas yang bersifat positif misalnya adalah pembangunan jalan oleh perusahaan di sekitar pabrik, yang juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lingkunan pabrik. Eksternalitas yang bersifat negatif misalnya adalah polusi berupa pencemaran udara atau sungai dari proses produksi disekitar lingkungan pabrik.

    Dalam kondisi diatas, sepanjang pemerintah menjalankan perannya dan sepanjang perusahaan taat pada aturan yang dibuat pemerintah maka dampak eksternalitas negatif dapat dikurangi. Atas dasar argumen inilah Friedman (1970) menyatakan bahwa perusahaan cukup fokus pada menghasilkan laba dan mentaati aturan yang ada sedangkan tanggung jawab pemerintah adalah untuk menghasilkan jasa/barang publik, termasuk membuat aturan untuk mengurangi/menghilangkan eksternalitas negatif.

    Dengan demikian, pada dasarnya Friedman berpendapat bahwa perusahaan tidak perlu melaksanakan CSR.

    Asumsi dasar dari keadaan di atas adalah bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugasnya benar-benar semata-mata untuk kepentingan publik (sesuai dengan publicinterest theory). Namun, berbagai studi empiris menemukan bahwa aparat pemerintah dalam mengambil tindakan tidak selalu untuk kepentingan publik, tetapi juga ada kepentingan pribadi atau kelompoknya (menurut interest group theory). Akibat adanya kepentingan pribadi/golongan inilah yang dapat menyebabkan terjadinya kegagalan peran pemerintah untuk memberikan layanan publik, termasuk mengurangi dampak eksternalitas negatif dari kegiatan perusahaan (Sidharta Utama ,2008).

    Disinilah CSR dapat berperan untuk mensubstitusi kegagalan pemerintah dalam menjalankan tugasnya (Besley dan Ghatak, 2007). Tanpa diwajibkan oleh pemerintah, perusahaan yang menjalankan CSR akan berusaha mengurangi eksternalitas negatif dan meningkatkan eksternalitas positif. Bahkan, dengan CSR perusahaan yang tidak menghasilkan eksternalitas negatif dapat memberikan layanan publik ke masyarakat (misalnya, perusahaan mengalokasikan dana untuk renovasi sekolah). Istilah CSR adalah relatif baru dan terdapat berbagai definisi atas CSR (Robins, 2005).

    Seperti dikemukakan oleh Robins, definisi CSR yang mencerminkan maksud CSR dan digunakan oleh Uni Eropa adalah sebagai berikut: CSR is a concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operations and stakeholder relations on a voluntary basis; it is about managing companies in a socially responsible manner (Holand, 2003).

    Definisi lain dari CSR adalah sebagai berikut: The obligation of the firm to use its resources in ways to benefit society, through commited participation as a member of society, taking into account the society at large, and improving welfare of society at large independently of direct gains of the company (Kok et al, 2001, p. 287).

    Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CSR dijalankan terintegrasi dengan bisnis perusahaan, memperhatikan kepentingan stakeholders dengan harapan memberikan manfaat/kesejahteraan bagi masyarakat. Motif apa yang mendorong perusahaan untuk melakukan CSR? Berbagai kegiatan CSR perusahaan umumnya berdampak pada pengeluaran, yang akhirnya akan mengurangi laba perusahaan. Karena tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham, yang dioperasionalkan dengan memaksimumkan laba, maka kegiatan CSR sepertinya tidak konsisten dengan tujuan tersebut. Dengan demikian, perusahaan tidak akan termotivasi melaksanakan CSR (Sidharta Utama ,2008).

    Ada dua penjelasan yang merasionalkan mengapa perusahaan mempunyai insentif melaksanakan CSR. Yang pertama adalah yang diajukan oleh teori Stakeholder. Teori ini berpandangan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya untuk memaksimumkan kekayaan pemilik perusahaan/pemegang saham, namun juga untuk melayani kepentingan stakeholders perusahaan tersebut, seperti para karyawan, pemasok, pemerintah, dan masyarakat. Manajer dalam mengambil keputusan akan melihat dampaknya ke stakeholders dan berusaha memaksimumkan manfaat dan meminimumkan kerugian dari masing-masing stakeholder sehingga tercapai keseimbangan antara kepentingan berbagai pihak (Marcoux, 2000; Freeman dan Phillips, 2002).

    Berdasarkan pandangan ini, perusahaan tidak akan melakukan pencemaran udara demi keuntungan semata karena perusahaan juga harus memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar. Implikasi dari teori Stakeholder adalah bahwa perusahaan secara sukarela akan melaksanakan CSR, karena pelaksanaan CSR adalah merupakan bagian dari peran perusahaan ke stakeholders (Sidharta Utama ,2008).

    Teori ini jika diterapkan memang akan mendorong perusahaan melaksanakan CSR, namun, dalam prakteknya tidak mudah untuk melaksanakannya karena sering kali perusahaan dihadapkan pada keputusan yang harus menguntungkan satu pihak tapi merugikan pihak lain (Misalnya, untuk mencapai efisiensi perusahaan harus mengurangi jumlah karyawan)(Marcoux, 2003; Roberts dan Mahoney, 2004).

    Lebih jauh lagi, jika suatu perusahaan telah melaksanakan CSR konsisten dengan teori Stakeholder, tapi sebagian besar perusahaan lain tidak melaksanakannya, maka dengan berbagai pengeluaran CSR, profitabilitas perusahaan tersebut akan lebih rendah dari perusahaan lain yang pada akhirnya membuat perusahaan tidak mempunyai daya saing. Dengan demikian, implementasi teori ini akan efektif jika sebagian besar perusahaan dijalankan atas pendekatan stakeholder (Sidharta Utama ,2008).

    Penjelasan kedua adalah didasarkan pada teori ekonomi. Literatur di bidang ekonomi pada umumnya mendiskusikan CSR dengan mengkaitkan perusahaan juga sebagai penghasil barang/jasa publik (public goods/services). Pada awalnya, sebagian literatur (misalnya Friedman, 1970; Baumol, 1991) berpendapat bahwa perusahaan harus tetap fokus menghasilkan laba sedangkan pemerintah yang bertanggungjawab menghasilkan barang publik dan mengatasi masalah eksternalitas. Namun, seiring dengan semakin banyaknya praktek CSR yang dilaksanakan berbagai perusahaan, berbagai studi ekonomi menunjukkan bahwa tindakan perusahaan menghasilkan laba dan pada saat yang sama melaksanakan CSR bukanlah tindakan yang bertentangan (Lihat Tsukamoto, 2007; Besley dan Ghatak, 2007; Bagnoli dan Watts, 2003; Kotchen, 2006; Baron, 2001).

    Robins (2005) mengemukakan bahwa teori ini terkait dengan pandangan Freeman (1984) mengenai tanggung jawab perusahaan.Tsukamoto (2007) merevisi teori Friedman dengan menunjukkan bahwa keberadaan modal etikal (ethical capital) memungkinkan perilaku moral (a.l melalui kegiatan CSR) tercermin di pasar, yang pada akhirnya mendorong perusahaan melaksanakan CSR. Konsisten dengan Tsukamoto, Besley dan Ghatak (2007) mengembangkan suatu model yang membuktikan bahwa perusahaan melaksanakan CSR sebagai tanggapan terhadap preferensi (sebagian) konsumen yang menginginkan perusahaan untuk juga menghasilkan barang/jasa publik (Sidharta Utama ,2008).

    Dengan demikian, keputusan melaksanakan CSR adalah sejalan dengan strategi maksimisasi laba, khususnya untuk perusahaan yang bisnisnya berdampak eksternal. Apa yang dikemukakan oleh Tsukamoto dan Besley dan Ghatak adalah sejalan pandangan sejumlah praktisi bisnis, seperti Pricewaterhouse Coopers (2001) yang melalui bukunya Value Reporting menyatakan bahwa perusahaan juga harus menciptakan nilai sosial dan lingkungan untuk menciptakan nilai ekonomis yang optimal dalam jangka panjang.

    Sejalan dengan Besley dan Ghatak (2007), Baron (2007) menunjukkan bahwa manajer akan menjalankan CSR jika kontrak kompensasinya mencakup kinerja di bidang sosial. Preferensi melaksanakan kegiatan sosial ini tidak hanya berasal dari konsumen, tetapi juga dari investor, yang antara lain tercermin dari harga saham yang lebih tinggi untuk perusahaan-perusahaan yang melaksanakan CSR. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perusahaan akan termotivasi melaksanakan CSR jika lingkungan perusahaan tersebut (konsumen, investor, dan stakeholders lainnya) memberikan reward (misal, dalam bentuk harga jual produk dan/atau harga saham yang lebih tinggi) atas pelaksanaan CSR tersebut (Sidharta Utama ,2008).

    Dengan demikian pelaksanaan CSR tidak bertentangan dengan tujuan memaksimumkan laba. Robins (2005) juga menekankan bahwa perolehan laba adalah tetap merupakan tujuan utama perusahaan karena tanpa laba, tidak akan ada sumber daya untuk kegiatan CSR. Robins dan juga Hess (2001) lebih lanjut menyatakan bahwa untuk mendorong CSR lebih baik dilakukan melalui moral suasion dan tekanan pasar, bukannya dipaksakan melalui regulasi: To raise business-relevant environmental standards for all through legislation is one thing and is acceptable, but any attempt to impose burdens which are not businessrelevant, through regulation, is very risky indeed. Such action would be far more than just contentious; it would invite wholly negative social outcomes, including corruption and economic inefficiency (Robins, 2005, p. 112).

    Beberapa tahun terakhir, pembangunan berkelanjutan merupakan topik yang semakin banyak dibahas. Pengertian pembangunan berkelanjutan adalah bahwa pembangunan perlu memenuhi kebutuhan generasi saat ini sedemikian rupa tanpa harus mengurangi kemungkinan generasi masa datang memenuhi kebutuhannya (Jost, 1996 dalam Malovics et al, 2007). Pembangunan berkelanjutan perlu diterapkan karena kegiatan ekonomi saat ini kemungkinan besar mengurangi pemenuhan kebutuhan di masa datang dengan merusak ekosistem global.

    Misalnya, suatu survey yang dilaksanakan oleh MORI (http://www.mori.com/polls/2003/mori-csr.shtml) menemukan bahwa 70% dari konsumen mau membayar dengan harga lebih mahal untuk produk yang menurut mereka secara etis lebih superior. Contoh produk yang secara etis lebih superior adalah produk parfum yang tidak menggunakan animal testing dalam proses produksinya (Sidharta Utama ,2008).

    Implikasi pembangunan berkelanjutan terhadap CSR adalah bahwa kegiatan CSR sebaiknya diarahkan untuk mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan. Malovics et al (2007) menyatakan bahwa kontribusi perusahaan melalui kegiatan CSR dapat berupa sistem dan metode produksi yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya alam (enerji maupun bahan baku) serta mempengaruhi pola konsumsi sehingga tercipta konsumsi yang tidak berlebihan melainkan berkelanjutan (sustainable consumption).

    Ditulis Oleh:
    Oldy. A.A – C2B008061 (Kelas Reguler)
    Magister Manajemen – UNJA

    Sumber Pustaka:

    -Bagnoli, M., dan S. Watts, 2003, Selling to socially responsible consumers: Competition and the private provision of public goods, Journal of Economic Management and Strategy, Vol. 10 No. 1.

    -Baron, D. P., 2007, Managerial contracting and corporate social responsibility, Journal of Public Economics, forthcoming.

    -Besley, T., dan M. Ghatak, 2007, Retailing public goods: the economics of corporatesocial responsibility, Journal of Public Economics, forthcoming.

    -Freeman, R. E., 1984, Strategic Management: A Stakeholder Approach, Boston: Pitman Publishing.

    -Freeman, R. E., dan R. A., Phillips, 2002, Stakeholder theory: a libertarian defense, Business Ethics Quarterly, Vol 12. No. 3, 333.

    -Friedman, M., 1970, The social responsibility of business is to increase its profits, The New York Times Magazine, September 13, available at http://www.colorado.edu/studentgroups/libertarians/issues/friedman-soc-respbusiness.html

    -Holland, J., 2003, Maximising value from CSR, Marketing, November: 15, Singapore:Lighthouse Independent Media.
    – Jost, F., 1996, Sustainable development: the roles of science and ethics, in: Faber, M., R.Manstetten, J. Proops (Eds), Ecological Economics-Concepts and Methods,Edwar Elgar, Celtenham.

    -Kok, P., T. Wiele, R. McKenna dan A. Brown, 2001, A corporate social responsibility audit within a quality management framework, Journal of Business Ethics, Vol.31 No. 4, 285-297.

    -Kotchen, M., 2006, Green markets and private provision of public goods, Journal of Political Economy, Vol. 114 No. 4, 816-834.

    -Malovics, G., N. N. Csigene, S. Kraus, 2007, The role of corporate social responsibility in strong sustainability, Journal of Socio-Economics, forthcoming.

    -Marcoux, A., 2000, Business ethics gone wrong, Cato Policy Report Vol. 22 No. 3, http://www.cato.org/pubs/policy_report, June 26.

    -Marcoux, A., 2003, A fiduciary argument against stakeholder theory, Business Ethics Quarterly, Vol. 13 No. 1, 5.

    -PricewaterhouseCoopers, 2001, The ValueReporting Revolution: Moving Beyond the Earnings Game, John-Wiley & Sons, New York.

    -Roberts, R., dan L. Mahoney, 2004, Stakeholder conceptions of the corporation: their meaning and influence in accounting research, Business Ethics Quarterly, Vol. 14 No. 3, 399.

    -Robins, F., 2005, The fututre of corporate social responsibility, Asian Business & Management, No. 4, 95-115.

    -Sidharta Utama ,2008. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia. Pidato Pewngukuhan Guru Besar Universitas Indonesia.

    -Tsukamoto, S. W., 2007, Moral agency, profits and the firm: Economic revisions to the Friedman theorem, Journal of Business Ethics, No. 70, 209-220.

    Komentar oleh Oldy. A.A (C2B008061) | Juni 27, 2009 | Balas

  4. MODEL KERJA KOLABORASI: Agenda Tergagas Pemberdayaan
    Masyarakat Miskin Melalui Implementasi CSR yang Memanfaatkan Potensi Modal Sosial.

    Data pdf dapat diambil pada :
    http://www.ziddu.com/download/5372606/PemberdayaanMasyarakatMiskindgnCSR.pdf.html

    ”Model Kerja Kolaborasi” ini didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada satu pihakpun yang sanggup secara sendirian
    menjalankan fungsi yang sangat kompleks dalam upaya pemberdayaan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, khususnya masyarakat miskin.

    Model ini juga sangat relevan dengan tuntutan global bagi perusahaan (korporasi) untuk menjalankan Good Corporate Governance (GCG), dengan melibatkan berbagai stakeholder.

    Gagasan ”Model Kerja Kolaborasi” ini didasarkan pada fakta bahwa sudah cukup banyak, program/proyek yang dikucurkan oleh pemerintah, seperti Kredit Investasi Kecil (KIK), Kredit Candak Kulak (KCK), Supra Insus, Kredit
    Usaha Kecil (KIK), Kredit Candak Kulak (KCK), Pembangunan Kawasan Terpadu (PKT), Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaring Pengaman Sosial (JPSPDMDKE), termasuk dana CSR oleh korporat belum menunjukkan hasil optimal kalau tidak disebut gagal.

    Kajian terhadap program-program tersebut menunjukkan bahwa penghantaran sumberdaya finansial (modal) semata tidaklah cukup tanpa dibarengi oleh persiapan sosial yang memadai sebelum bergulirnya sumberdaya modal.

    Cara pandang berbagai pihak termasuk pemerintah yang sangat ”mendewakan” sumber daya modal (modal finansial) sebagai solusi untuk memecahkan persoalan kemiskinan masyarakat sudah saatnya untuk dirubah, karena realitas yang kita lihat selama ini, cara pandang yang seperti tidak berhasil dengan baik memecahkan persoalan kemiskinan.

    Cara pandang yang seperti itu harus ditransformasi ke cara pandang yang melihat bahwa sumberdaya modal (finansial) sama pentingnya dengan persiapan sosial.

    Artinya, siapa pun pelaku yang ingin memberdayakan masyarakat miskin, harus terlebih dahulu mempersiapkan masyarakat tersebut untuk menerima hantaran sumberdaya lainnya (finansial).

    Seperti yang dikatakan Chambers (1988), bahwa inti dari masalah kemiskinan adalah apa yang disebutnya dengan ”perangkap kemiskinan” (the deprivation trap of poverty), yang terdiri dari lima unsur :

    (1) kekuranganmateri;
    (2) kelemahan fisik;
    (3) keterasingan;
    (4) kerentanan; dan
    (5) ketidakberdayaan.

    Kelima unsur ini seringkali saling terkait satu dengan yang lainnya, sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar-benar berbahaya dan mematikan peluang hidup masyarakat atau keluarga miskin.Dalam kondisi masyarakat miskin yang seperti itu, mempersiapkan masyarakat sebelum penghantaran sumber daya modal (finansial) adalah bagian dari proses pemberdayaan (empowering).

    Dalam konteks seperti ini, ”Model Kerja Kolaborasi” menjadi satu alternatif solusi bagi pemberdayaan masyarakat miskin di Indonesia.

    Korporat memiliki kelebihan dalam hal penghantaran sumberdaya finansial melalui program CSR. Bila korporat sungguh-sungguh bersedia menyisihkan sebagian keuntungannya (1-5%) saja dari labanya, maka sangat mungkin untuk menghimpun dana triliunan rupiah yang dapat digunakan sebagai dana program CSR.

    Pemerintah juga memiliki kelebihan dalam penghantaran finansial dan membuat regulasi yang terkait dengan implementasi CSR. Sementara itu, Perguruan Tinggi/Civil Society/LSM memiliki kelebihan dalam hal melakukan persiapan sosial.

    Agar kolaborasi tersebut dapat berjalan efektif dan efisien, dalam setiap relasi antar stakeholders dengan masyarakat dan sebaliknya, harus didasari dengan elemen-elemen social capital. Seperti yang dikatakan oleh Fukuyama (1995), saling percaya (trust) merupakan elemen inti dari social capital, karena itu dalam kerja kolaborasi, yang paling utama ditumbuhkembangkan adalah nilai saling percaya (trust).

    Diyakini bahwa dengan menumbuh kembangkan elemen-elemen modal sosial, termasuk di dalamnya trust, akan membuat kerjasama akan menjadi efisien dan efektif.

    Menumbuh kembangkan elemen-elemen modal sosial, khususnya trust, memang bukan persoalan yang mudah, apalagi masyarakat Indonesia saat ini sedang dilanda krisis kepercayaan (trust), seperti yang dikemukakan
    Prasodjo (2001), saat ini masyarakat kita (Indonesia) sedang mengalami pelemahan bahkan penghancuran modal sosial (trust), sehingga yang menjadi persoalan adalah bagaimana metode menumbuhkan dan mengembangkan potensi modal sosial yang ada dalam komunitas.

    Implementasi CSR dengan ”model kerja kolaborasi” merupakan suatu momentum untuk merajut kembali rasa saling percaya (trust) dan elemenelemen modal sosial lainnya dalam masyarakat kita.

    Gagasan ”model kerja kolaborasi” dengan memanfaatkan potensi modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat miskin ini didasari oleh beberapa hasil penelitian yang menggunakan konsep modal sosial.

    Studi yang dilakukan Badaruddin (2006) tentang kerjasama kolektif penjualan karet di Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat menemukan bahwa penjualan karet secara kolektif dengan sistem “lelang” telah memberi kontribusi bagi peningkatan penghasilan keluarga dan peningkatan kesejahteraan komunitas desa karena karet dapat terjual dengan harga yang lebih tinggi.

    Peningkatan kesejahteraan komunitas desa melalui pembangunan sarana dan prasarana desa seperti perbaikan jalan, pembangunan mesjid, pembangunan madrasah, penggajian guru dan lain-lain diperoleh melalui sumbangan yang diberikan para petani karet yang besarnya telah disepakati bersama.

    Penelitian Badaruddin (2003) terhadap komunitas nelayan menemukan bahwa salah satu faktor penyebab sulitnya
    komunitas nelayan tradisional dan nelayan buruh keluar dari perangkap kemiskinan adalah rendahnya atau tidak berkembangnya modal sosial dalam komunitas tersebut.

    Sementara itu Ali Wafa (2003) dalam studinya yang berjudul Urgensi Keberadaan Social Capital dalam Kelompok-Kelompok Sosial di Jawa Tengah sampai pada kesimpulan bahwa, social capital di Kelompok Tani ”Mardi Utomo” dapat berjalan, karena didukung dengan trust yang kuat, mekanisme kontrol sosial, pekerjaan yang sama sebagai petani, dan tujuan yang dimiliki kelompok sosial di mana faktor-faktor pendukung tersebut berada di dalam struktur sosial yang ada.

    Hasil penelitian Salman (1999) juga menemukan bahwa hasil kerja kolektif (kolaborasi) dengan memanfaatkan potensi modal sosial dalam upaya meningkatkan penghasilan dalam komunitas nelayan telah menunjukkan hasil yang memuaskan.

    Salman (1999) mengemukakan bahwa hasil kerja kolektif (kolaborasi) yang dilakukan nelayan di Pulau Barrang Candi (Makassar) tidak hanya berhasil meningkatkan pendapatan secara temporer, tetapi juga pada terputusnya ikatan bergantung nelayan kecil (klien) pada sejumlah punggawa besar (patron), berubahnya struktur bagi hasil dalam komunitas ke arah yang lebih demokratis, serta tertanamnya
    kesadaran kritis tentang pentingnya kerja kolektif diantara mereka dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi.

    Ohama (2001) juga mengajukan satu kasus kerja kolektif (kolaboratif) yang sukses di Luzon Tengah (Filipina), di mana kerja kolektif tidak hanya mengeluarkan komunitas petani dari perangkap kemiskinan, melainkan berhasil mengkreasi sebuah modal sosial (social capital) dalam bentuk lahir dan berkembangnya organisasi rakyat “Ugnayang Magsasakang San Siomon (UMSS)”.

    Beberapa kasus lain adalah pengalaman sejumlah program/proyek reduksi kemiskinan pada berbagai negara Amerika Latin dan Karibia, seperti El Salvador, Jamaica, Venezuela, Columbia, Argentina,
    dan Bolivia. Pada beberapa negara tersebut telah berlangsung upaya reduksi kemiskinan dengan pemanfaatan potensi modal sosial yang dinamai sebagai “Government, Business, and Civic Partnerships for Poverty
    Reduction”.

    Meskipun beberapa hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi modal sosial dalam suatu komunitas memberikan manfaat positif, tetapi modal sosial tersebut bukanlah sesuatu yang tumbuh dan berkembang sendiri, melainkan harus dikreasi dan ditransmisikan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya.

    Seperti apa yang dikemukakan Fukuyama (1995:26), bahwa modal sosial juga adalah sesuatu yang dikreasikan dan ditransmisikan melalui mekanisme-mekanisme kultural seperti religi, tradisi, dan kebiasaankebiasaan historis.

    Hasil penelitian yang dilakukan Lubis (2002) tentang modal sosial dalam pengelolaan sumberdaya milik bersama (lubuk larangan) di Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara sampai pada kesimpulan bahwa dalam setiap komunitas pengelola lubuk larangan terdapat mekanisme-mekanisme sosial yang dikreasikan untuk menautkan seluruh elemen pokok modal sosial tersebut. Ada variasi antar komunitas tentang bagaimana mekanisme itu dijalankan, tetapi secara umum memiliki benang merah yang sama.

    Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Sumber daya alam yang melimpah ruah saja ternyata belum mampu menghantar kita pada kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana menjadi tujuan Proklamasi 17 Agustus 1945.

    Justru yang terjadi saat ini adalah semakin melemahnya sediaan elemen-elemen modal sosial, seperti trust, solidaritas, dan social networks dalam masyarakat kita, serta jumlah penduduk miskin yang tetap besar jumlahnya.

    Dalam suasana yang seperti itu, sudah saatnya kita secara bersama-sama untuk membuat aksi-aksi yang memiliki muara pada tumbuh kembangnya kembali elemenelemen modal sosial dalam masyarakat.

    Corporate social responsibility (CSR) merupakan suatu sarana yang dapat dijadikan sebagai media untuk menumbuh
    kembangkan kembali modal sosial tersebut melalui implementasi CSR yang menggunakan ”model kerja kolaborasi” antar berbagai stakeholders dan menjadikan modal sosial sebagai basis dari relasi-relasi antar stakeholders yang melakukan kerja pemberdayaan masyarakat miskin di Indonesia.

    Untuk itu, perlu dimplementasikan program CSR yang berbasis pada modal sosial melalui ”model kerja kolaborasi” sebagai suatu pilot project.

    ”Model Kerja Kolaborasi” yang berbasis pada modal sosial ini hendaknya dapat dijadikan sebagai model alternatif bagi upaya-upaya pemberdayaan (empowering) masyarakat yang dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga masyarakat benar-benar menjadi berdaya dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mereka mampu mengatasi segala persoalan yang mereka hadapi tanpa ada intervensi dari pihak luar.

    Daftar Pustaka:

    Badaruddin. 2003. Modal Sosial dan Reduksi Kemiskinan Nelayan di Propinsi Sumatera Utara. Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Dikti. Tidak diterbitkan.

    _________. 2006. Modal Sosial dan Pengembangan Model Transmisi Modal Sosial Dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Keluarga (Studi Pada Tiga Komunitas Petani Karet di Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman Sumatera Barat). Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Dikti. Tidak diterbitkan.

    Chambers, Robert. 1988. Pembangunan Desa: Mulai Dari Belakang. Jakarta: LP3ES.

    Fukuyama, Francis. 1995. Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity. New York: The Free Press.

    Lubis, Zulkifli. 2002. Resistensi, Persistensi, dan Model Transmisi Modal Sosial Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Milik Bersama: Kajian Antropologis Terhadap Pengelolaan Lubuk Larangan di Sumatera Utara. Proyek RUKK-I. Menristek. Laporan Penelitian.

    Ohama, Yutaka. 2001. “Conseptual Framework of Participatory Local Social Development (PLSD). Modul dalam training on PSLD. Theories and Practices. Nagoya: JICA.

    Prasodjo, Imam B. 2001. Menciptakan Harapan di Negeri Azab. Makalah. Tidak dipublikasikan. Jakarta: CERIC FISIP – UI.

    Salman, Darmawan; Laude Sufri; Amin Daud Aidir; dan Mappinawang. 1999. Kreasi Modal Sosial Melalui Aksi Kolaborasi Dalam Reduksi Kemiskinan. Makalah Seminar dan Lokakkarya. Makassar: Kerjasama LP3M, FE Unhas dan Oxfarm Jakarta.

    Komentar oleh Oldy. A.A (C2B008061) | Juni 27, 2009 | Balas

  5. ALASAN PENTING KENAPA PERUSAHAAN HARUS MELAKUKAN CSR!

    Data pdf dapat di ambil pada:
    http://www.ziddu.com/download/5372607/AlasanPentingPerusahaanMelakukanCSR.pdf.html

    Isu tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility-CSR) sudah cukup lama muncul di negara-negara maju,namun di Indonesia, isu tersebut baru akhir-akhir ini mengalami perhatian yang cukup intens dari berbagai kalangan (perusahaan, pemerintah, akademisi, dan NGOs).

    Respons pemerintah terhadap pentingnya CSR ini misalnya terlihat dari dikeluarkannya Kebijakan Pemerintah melalui Kepmen. BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003, yang mengharuskan seluruh BUMN untuk menyisihkan sebagian labanya untuk pemberdayaan masyarakat yang dikenal dengan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan (PKBL), yang implementasinya ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Menteri BUMN, SE No. 433/MBU/2003 yang merupakan petunjuk pelaksanaan dari Keputusan Menteri BUMN tersebut di atas.

    Lebih lanjut respons pemerintah tersebut terlihat dari dikeluarkannya UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang di dalamnya memuat kewajiban perusahaan khususnya perusahaan yang mengeksplorasi sumber daya alam untuk melakukan CSR (Badaruddin, 2008).

    Selanjutnnya menurut Badaruddin, (2008), masih relatif barunya konsep CSR tersebut diperbincangkan oleh berbagai kalangan, membuat pemahaman terhadap konsep CSR tersebut juga masih berbeda-beda, dan dipraktikkan secara berbeda-beda pula. Seringkali dalam praktik, CSR ini disamakan dangan derma (charity), sehingga ketika ada perusahaan yang membagi-bagikan hadiah kepada masyarakat di sekitar perusahaan sudah dianggap melaksanakan tanggung jawab sosialnya pada masyarakat.

    Sesungguhnya, konsep CSR tidaklah sama dengan karikatif (charity) atau philanthropy (kedermawanan) yang lebih spontan pemberiannya dan kurang memiliki efek jangka panjang bagi masyarakat dalam arti pemberdayaan mereka baik secara ekonomi, sosial, dan budaya.

    Menurut Widiyanarti (2005), pendekatan CSR hendaknya dilakukan secara holistic, artinya, pendekatan yang dilakukan oleh perusahaan tidak dalam kegiatan bisnis semata, melainkan juga bergerak dari yang sifatnya derma (charity) menuju ke arah CSR yang lebih menekankan pada keberlanjutan pengembangan masyarakat (communitydevelopment).

    Intinya, bagaimana dengan CSR tersebut masyarakat menjadi berdaya baik secara ekonomi, sosial, dan budaya secara berkelanjutan (sustainability) sehingga perusahaan juga dapat terus berkembang secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, CSR lebih dimaknai sebagai investasi jangka panjang bagi perusahaan yang melakukannya (Badaruddin, 2008).

    Meskipun belum seluruhnya, perusahaan-perusahaan yang ada, baik negara maupun swasta (nasional dan asing), beberapa diantaranya sudah melakukan apa yang disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), meskipun belum sepenuhnya dilakukan dengan pendekatan yang holistic, bahkan sebagian besar hanya dilakukan dalam bentuk karitas (charity).

    Seringkali yang menjadi tujuan utama para korporat melakukan CSR dalam bentuk charity tersebut adalah untuk membentuk ”citra” perusahaan yang baik di tengah-tengah masyarakat, sehingga pelaksanaannya diupayakan sedemikian rupa untuk dapat diliput oleh berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

    Banyak kalangan melihat bahwa praktik CSR yang dilakukan oleh korporat masih sebatas ”kosmetik”. Nuansa ”kosmetik” tersebut menurut Wibowo (2006) tercermin dari berbagai aspek sejak perumusan kebijakan dan penentuan orientasi program, pengorganisasian, pendanaan, eksekusi program, hingga evaluasi dan pelaporan.

    Dalam tataran praktik, CSR hanya sekedar berfungsi sebagai public relation, citra korporasi, atau reputasi dan kepentingan perusahaan untuk mendongkrak nilai saham di bursa saham.

    Akibatnya, makna sesungguhnya dari CSR yang menjadi alasan penting mengapa kalangan bisnis mau merespons dan mengembangkan isu CSR belum tercapai sepenuhnya. Steiner (1994) menyebutkan bahwa ada tiga alasan penting mengapa pebisnis mau merespons dan mengembangkan isu CSR dengan usahanya,

    1.Perusahaan adalah makhluk masyarakat dan oleh karenanya harus merespons permintaan masyarakat. Ketika harapan masyarakat terhadap fungsi perusahaan berubah, maka perusahaan juga harus melakukan aksi yang sama.

    2.Kepentingan bisnis dalam jangka panjang ditopang oleh semangat tanggung jawab sosial itu sendiri. Hal ini disebabkan karena arena bisnis dan masyarakat memiliki hubungan yang saling menguntungkan (simbiotik). Dalam jangka panjang kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada upaya untuk bertanggung jawab terhadap masyarakat sebagai bagian dari aktivitas bisnisnya. Sebaliknya, kesejahteraan masyarakat tergantung pula terhadap keuntungan yang dihasilkan dan tanggung jawab bisnis perusahaan.

    3.Kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan salah satu cara untuk mengurangi atau menghindari kritik masyarakat, dan pada akhirnya akan sampai pada upaya mempengaruhi peraturan pemerintah. Jika sebuah perusahaan menghindari peraturan pemerintah dengan cara merespons suatu tuntutan sosial, sama halnya mengurangi biaya perusahaan, karena diyakini bahwa adanya peraturan-peraturan pemerintah secara umum akan membuat biaya lebih mahal dan menekan fleksibilitas perusahaan dalam beroperasi.

    Bila tiga alasan penting keberadaan CSR telah tercapai, maka konflik yang sering muncul antara: ”pemerintah – masyarakat – perusahaan” akan dapat dieliminir, di mana konflik tersebut seringkali merugikan tidak hanya masyarakat, tetapi merugikan semua pihak (pemerintah, masyarakat, dan perusahaan), bahkan untuk kasus-kasus tertentu, perusahaan “terpaksa” harus menghentikan operasional perusahaannya(Badaruddin, 2008).

    Praktik CSR yang selama ini dilakukan oleh beberapa perusahaan di Indonesia belum menunjukkan hasil yang signifikan, khususnya bila dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    Hal ini paling tidak dapat dilihat dari indikator makro, di mana jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami peningkatan dari 16,66% pada tahun 2004 meningkat menjadi 17,75% pada tahun 2006; Sedangkan untuk Sumatera Utara meningkat dari 14,93% tahun 2004 menjadi 15,66% tahun 2006, BPS, 2006.

    Padahal bila pemanfaatan dana CSR dapat dioptimalkan dan dilakukan dengan model (pola) yang baik, niscaya akan berkontribusi sangat besar bagi pemberdayaan ekonomi (pengurangan angka kemiskinan) dalam masyarakat Badaruddin, 2008).

    Contoh lain yang cukup ironi adalah masyarakat Papua, di mana eksplorasi sumberdaya alam yang dilakukan oleh PT. FREEPORT selama bertahuntahun dan telah memberi keuntungan triliunan rupiah, namun masyarakat di sekitar pertambangan masih hidup dalam kemiskinan bahkan di daerah-daerah tertentu di wilayah tersebut masih ditemui kasus penduduk yang meninggal karena kelaparan.

    PT. FREEPORT sesungguhnya sudah melakukan CSR, namun patut dipertanyakan sejauhmana CSR tersebut telah dipraktikkan secara holistic, sehingga benar-benar dapat membuat masyarakat menjadi berdaya secara ekonomi, sosial, dan budaya (Badaruddin, 2008).

    Namun demikian, tidak dapat pula dipungkiri bahwa perkembangan pelaksanaan CSR akhir-akhir ini juga mengalami kecenderungan positif dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Kottler dan Lee (2005), bahwa telah terjadi pergeseran dalam pendekatan korporasi dalam melaksanakan CSR.

    Semula CSR dilaksanakan dalam kerangka pendekatan tradisional, di mana implementasi CSR dianggap sebagai beban belaka, kini telah timbul kesadaran pelaksanaan CSR merupakan bagian yang menyatu dalam strategi bisnis suatu korporasi, di mana implementasi CSR justru mendukung tujuan-tujuan bisnis inti.

    Pola Community Development (CD) merupakan bentuk CSR yang saat ini banyak dipraktikkan oleh perusahaan (korporasi) besar. Masalahnya, apakah makna yang terkandung dalam CD sudah diimplementasikan secara baik dan benar. Dalam implemenetasi CD inilah potensi modal sosial (socialcapital) dapat dimanfaatkan dan didayagunakan agar makna yang terkandung dalam CD benar-benar dapat terlaksana (Badaruddin, 2008).

    Menurut Badaruddin, (2008), hasil penelitian tentang implementasi CSR belum banyak dilakukan di Indonesia, khususnya yang terkait dengan pemanfaatan potensi modal sosial komunitas lokal. Riset yang dilakukan masih berkisar pada praktik CSR yang sedang berlangsung saat ini, seperti yang dilakukan oleh; Widiyanarti (2004); Nursahid (2006); Jahya (2006); dan Suprapto (2006).

    Dari beberapa hasil riset tersebut secara umum dapat disimpulkan antara lain:

    1.Pebisnis umumnya melihat praktik CSR sabagai kegiatan yang memiliki makna sosial dan bisnis sekaligus. Artinya, praktik CSR masih dikaitkan dengan peningkatan citra korporat di mata masyarakat;

    2.Praktik CSR yang dilakukan belum mencapai hasil seperti yang diharapkan dalam arti pemberdayaan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Hal ini terjadi antara lain disebabkan oleh kebijakan program yang terlalu kaku, implementasi yang salah, dan belum siapnya masyarakat calon penerima bantuan.

    Temuan-temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam implementasi CSR.

    Acuan Pustaka:

    Badaruddin, 2008. Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Masyarakat Melalui Pemanfaatan Potensi Modal Sosial: Alternatif Pemberdayaan Masyarakat Miskin Di Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Bidang Ilmu Sosiologi Perkotaan Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Diucapkan Di Hadapan Rapat Terbuka Universitas Sumatera Utara Gelanggang Mahasiswa, Kampus Usu, 12 April 2008.

    Jahja, Rusfadia Saktiyanti. 2006. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Corporate Social Responsibility Perusahaan Ekstraktif (Sebuah Studi Komparasi Pelaksanaan CSR di Perusahaan Pulp dan Kertas di Propinsi Riau dan Perusahaan Tambang Batubara di Propinsi Kalimantan Timur). Dalam Jurnal Filantropi dan Masyarakat Madani GALANG. Vol. 1. No. 2.

    Kotler, Philip dan Nancy Lee. 2005. Corporate Social Responsibility: Doing the Most Good for Your Company and Your Cause. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

    Nursahid, Fajar. 2006. Praktik Kedermawanan Sosial BUMN: Analisis Terhadap Model Kedermawanan PT Krakatau Steel, PT Pertamina, dan PT Telekomunikasi Indonesia. Dalam Jurnal Filantropi dan Masyarakat Madani GALANG. Vol. 1. No. 2.

    Suprapto, Siti Adiprigandari Adiwoso. 2006. Pola Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Lokal di Jakarta. Dalam Jurnal Filantropi dan Masyarakat Madani GALANG. Vol. 1. No. 2.

    Widiyanarti, Tantry. 2004. Persepsi Pelaku Bisnis Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi pada Beberapa Perusahaan Swasta di Jl. Jendral Sudirman Jakarta). Jakarta: Pusat Pengembangan Etika Unika Atmajaya. Tidak Diterbitkan.

    _______________. 2005. Corporate Social Responsibility: Model Community Development Oleh Korporat. Dalam Etnovisi Jurnal Antropologi Sosial Budaya. LPM ANTROP- FISIP-USU. Vol 1. No.2.

    Wibowo, Pamadi. 2006. Rentang Program CSR di Mata Para Ahli Pemasaran. Dalam Jurna l Filantropi dan Masyarakat Madani GALANG. Vol. 1. No. 2.

    Oldy, good effort, penjelasan diatas bagus. Cuma kalau ada referensi online itu bagus, agar dapat dilacak kawan-kawan. Tugas berikut akan saya tampilkan di blog ini tidak lama lagi. sukses.

    Komentar oleh Oldy. A.A (C2B008061) | Juni 27, 2009 | Balas

  6. Pentingnya Menerapkan CSR.
    http://www.ziddu.com/download/5443937/PentingnyaMenerapkanCSR.pdf.html

    Perubahan tingkat kesadaran masyarakat mengenai perkembangan dunia bisnis di Indonesia, menimbulkan kesadaran baru tentang pentingnya melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR mengandung makna bahwa, seperti halnya individu, perusahaan memiliki tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi hukum, menjunjung integritas, dan tidak korup. CSR menekankan bahwa perusahaan harus mengembangkan praktik bisnis yang etis dan berkesinambungan (sustainable) secara ekonomi, sosial dan lingkungan (Harmoni,A., dan Andriyani, A., 2008).

    Pengungkapan CSR perusahaan melalui berbagai macam media dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan dan juga untukmenjaga reputasi. Sebagian perusahaan bahkan menganggap bahwa mengomunikasikan kegiatan atau program CSR sama pentingnya dengan kegiatan CSR itu sendiri.

    Dengan mengomunikasikan CSR-nya, makin banyak masyarakat yang mengetahui investasi sosial perusahaan sehingga tingkat risiko perusahaan menghadapi gejolak sosial akan menurun. Jadi, melaporkan CSR kepada khalayak akan meningkatkan nilai social hedging perusahaan.

    Menurut Boone dan Kurtz (2007), pengertian tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.

    B.Tamam Achda (2007), mengartikan CSR sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terus menerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya.

    Meskipun laba dan kesempatan kerja tetap memiliki arti penting, tetapi dewasa ini terdapat banyak faktor yang memberikan kontribusi pada penilaian kinerja sosial sebuah perusahaan, termasuk di antaranya memberikan kesempatan kerja yang sama; menghargai perbedaan budaya para karyawan; merespons masalah-masalah linghkungan hidup; menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat; dan memproduksi
    produk-produk bermutu tinggi yang aman untuk digunakan.

    Menurut Harmoni,A., dan Andriyani, A., 2008 substansi keberadaan CSR adalah memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Ada enam kecenderungan utama yang semakin menegaskan arti penting CSR, yaitu
    1.Meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin;
    2.Posisi negara yang semakin berjarak kepada rakyatnya;
    3.Semakin mengemukanya arti kesinambungan;
    4.Semakin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan bersifat anti-perusahaan;
    5.Tren ke arah transparansi;
    6.Harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi.

    Pearce (2003) melaporkan dari workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Perdagangan dan Industri UK dan diorganisir oleh Forum for the Future pada bulan Mei 2003, temuan yang menyatakan CSR bukanlah biaya bagi suatu bisnis terangkat dari adanya tumpang tindih antara perhatian manajemen lingkungan dan stakeholder dan apa yang dilihat oleh strategi bisnis modern yang berbasis sumber daya (resource-based business strategy) sebagai sumber sukses kompetitif bisnis.

    Workshop tersebut juga menemukan bahwa penelitian paralel pada modal intangible dan intelektual dari bisnis, termasuk kontribusi manajemen stakholder dapat membuat perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. Lantos (2002) menggunakan Klasifikasi Carroll (Carroll’s classification) sebagai dasar untuk melihat pelaksanaan CSR pada perusahaan, yaitu:
    1)Tanggung jawab ekonomi: menguntungkan bagi pemegang saham, menyediakanpekerjaan yang bagus bagi pekerjanya, menghasilkan produk yang berkualitas bagi pelanggan;

    2)Tanggung jawab hukum: mengikuti hukum dan berlaku sesuai aturan permainan;

    3)Tanggung jawab etik: menjalankan bisnis dengan moral, mengerjakan apa yang benar, apa yang harus dan fair, dan tidak menimbulkan kerusakan;

    4)Tanggung jawab filantropis: memberikan kontribusi secara sukarela kepada masyarakat, memberikan waktu dan uang untuk pekerjaan yang baik.

    Dari Klasifikasi Caroll tersebut Lantos membuat klasifikasi yang berkaitan dengannya (Lantos, 2002):

    1)Ethical CSR: secara moral memilih untuk memenuhi tanggung jawab perusahaan dari segi ekonomi, hukum, dan etika:

    2)Altruistic CSR: Memenuhi tanggung jawab filantropik perusahaan, melakukan pencegahan timbulnya kerusakan (ethical CSR) untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa memperhitungkan apakah hal itu menguntungkan perusahaan;
    3)Strategic CSR: memenuhi tanggung jawab filantropik yang menguntungkan perusahaan melalui publikasi positif dan goodwill.

    Tinjauan Pustaka:

    Achda, B. Tamam. 2008. Konteks Sosiologis Perkembangan Corporate Social responsibility (CSR) dan Implementasinya di Indonesia. http://www.menlh.go.id/serbaserbi/csr/sosiologi.pdf.

    Boone dan Kurtz. 2007. Contemporary Business; Pengantar Bisnis Kontemporer; Buku 1, Salemba Empat, Jakarta

    Harmoni, A., dan Andriyani, A., 2008. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Official Website Perusahaan Studi Pada Pt. Unilever Indonesia Tbk. Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2008) Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 20-21 Agustus 2008. Email: ati@staff.gunadarma.ac.id ; : dejan5_adriana@yahoo.co.id

    Lantos, G. P. 2002. “The ethicality of altruistic corporate social responsibility”, Journal of Consumer Marketing, Vol. 19 No. 3, pp. 205- 230.

    Pearce, Brian. 2008. Sustainability and Competitiveness. Measuring The Benefit for Business Competitive Advantage from Social Responsibility and Sustainability. http://www.forumforthefuture.org.uk

    Komentar oleh Oktrizal A.Z. NIM : C2B008060 | Juli 2, 2009 | Balas

  7. Fikri
    NIM C2B008031
    MM Angkatan X

    Salam Sejahtera Pak Jo, Saya coba jawab pertanyaan Bpk di atas

    1. Contoh CSR yang saya berikan adalah kegiatan Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Jambi pada tanggal 11 Juli 2009 akan mengadakan acara CSR berupa sunatan massal, pemberian beasiswa kepada siswa SD, SMP, SMA yang tidak mampu, pemberian modal kerja kepada pedagang-pedagang kecil dan renovasi mushalla Suku Anak Dalam di desa Bungku Bajubang Kabupaten Batanghari. Acara ini dihadiri oleh Direktur Utama BSM, Bpk. Yuslam Fauzi, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Bpk. Ramzi, Komisaris Utama BSM, Bpk. Achmad Marzuki dan Direktur LAZ (Lembaga Amil Zakat) BSM, Bpk. Alam Sani. (mohon ijinnya pak untuk tidak dapat mengikuti kuliah manajemen strategik tanggal 11 Juli 2009 )

    Kebijakan CSR selaras dengan Shared Values BSM, yaitu ETHIC dimana kepanjangannya adalah:

    – Excellece : berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang terpadu dan berkesinambungan
    – Teamwork : mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi
    – Humanity : menjujung tinggi nilai-nilai kemanusian dan religius. CSR ada dalam komponen ini dimana BSM memiliki keperdulian terhadap lingkungan dan sosial tanpa mengabaikan tujuan perusahaan.
    – Integrity : menaati kode etik profesi dan berpikir serta berperilaku terpuji
    – Customer Focus : memahami dan memenuhi kebutuhan pelangan

    CSR mendukung keberhasilan perusahaan karena masyarakat sekitar tempat lokasi perusahaan berada merasa diperhatikan dan dibantu sehingga memberi image sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu akan tumbuh rasa percaya dari masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan akan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.

    2. Tantangan Perusahaan dalam memberikan CSR adalah Perusahaan yang bertanggung jawab harus memberikan kontribusi yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakat, perekonomian nasional, serta dasar-dasar pendidikan sosial dan lingkungan.

    Perusahaan harus menyisihkan labanya untuk digunakan dalam membantu kesejehteraan masyarakat sekitar dimana perusahaan tersebut berada.

    Tanggung jawab sosial merupakan bagian dari kegiatan usaha, dan meliputi keinginan untuk selalu belajar dari tindakan perusahaan serta pengalaman pihak lain.

    3. CSR menjadi bagian strategi perusahaan karena:
    – Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarkat
    – Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbosis mutualisme
    – Kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara meredam atau bahkan menghindari konflik sosial

    Demikian penjelasan singkat dari saya Pak Jo. Terima kasih

    Komentar oleh Fikri | Juli 4, 2009 | Balas

  8. 1. Perusahaan yang menerapkan CSR contohnya adalah PERTAMINA, melalui program PKBL, program ini dinamai PKBL berasal dari singkatan Program Kepedulian dan Bina Lingkungan. Melalui program ini perusahaan menyalurkan kredit lunak tanpa agunan kepada mitra (anak angkat) dan melaksanakan pembinaan kewirausahaan dan pengawasan penggunaan modal kerja. Upaya ini sangat mermbantu para pengusaha mikro, kecil dan menengah.

    2. Ada beberapa tantangan yang dihadapi perusahaan dalam pelaksanaan CSR:
    a. belum finalnya peraturan perundangan yang mengatur bagaimana CSR seharusnya dilaksanakan dan berapa besaran pasti yang harus dialokasikan perusahaan. Saat ini baru UU No. 40 mengenai Perseroan Terbatas pada tahun 2007 yang mengatur tentang ini.

    Komentar oleh Angga Rahmat Triana/ angkatan X/ R. H | Juli 4, 2009 | Balas

  9. b. mitra kerja perusahaan terkadang uncontrolable dikarenakan rentang jarak yang sangat luas.
    c. perusahaan kebanyakan masing mengelola sendiri CSR, sehingga menambah beban bagi perusahaan, namun bebebrapa perusahaan kini telah mempercayai pihak lain untuk mengelulanya, melaui yayasan atau LSM, contohnya: Eka Tjipta Foundation (Eka Tjipta Foundation (ETF) merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh keluarga Eka Tjipta Widjaja sebagai wadah pelaksanaaan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan bagi seluruh unit usaha dibawah bendera Sinar Mas dalam rangka memberikan tanggapan terhadap persoalan pembangunan sosial kemasyarakatan).

    3. Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP), adalah komitmen perusahaan untuk membanguan kualitas kehidupan yang lebih baik bersama dengan para pihak yang terkait, utamanya masyarakat disekelilingnya dan lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadu dengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan. CSR dianggap sebagai strategi perusahaan ialah segala upaya pelaksanaan CSR yang mempu mendorong kepercayaan masyarakat, pemerintah, konsumen dan shareholder sehingga perusahaa dapat melanjutkan kebertahanannya atau yang sering disebut sustainable competitive advantage.

    sumber:
    pdfdatabase.com/index.php?q=undang+undang+csr
    apindo.or.id/index/berita/aW5mbywyNzk
    http://www.legalitas.org/?q=Paradoks+Regulasi...(CSR)
    uslit.petra.ac.id/journals/pdf.php?PublishedID=DKV06080206
    webdev.ui.ac.id/…/evaluasi-infrastruktur-pendukung-pelaporan-tanggung-jawab-sosial-dan-lingkungan-di-indonesia-id.html?
    pertamina.co.id

    Komentar oleh Angga Rahmat Triana/ angkatan X/ R. H | Juli 4, 2009 | Balas

  10. Salam bahagia pak jo,saya mencoba menangapi pertanyaan bapak diatas.

    1. salah satu contoh CSR yang diterapkan oleh perusahaan adalah Indosat.
    Corporate Social Responsibility yang dilakukan oleh Indosat tidak terbatas hanya pada pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat pada umumnya, namun juga menyangkut tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Kepedulian terhadap pelanggan, pengembangan Sumber Daya Manusia, mengembangkan Green Environment serta memberikan dukungan dalam pengembangan komunitas dan lingkungan sosial. Setiap fungsi yang ada, saling melengkapi demi tercapainya CSR yang mampu memenuhi tujuan Indosat dalam menerapkan ISO 26000 di perusahaan.

    Penerapan CSR Indosat mencakup 5 inisiatif, yang dilakukan secara berkesinambungan yaitu:

    a. Organizational Governance
    Penerapan tata kelola Perusahaan terbaik termasuk mematuhi regulasi dan ketentuan yang berlaku, berlandaskan 5 prinsip: transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, interpendensi dan kesetaraan.

    b. Consumer Issues
    Menyediakan dan mengembangkan produk dan jasa telekomunikasi yang memberikan manfaat luas bagi pemakainya, layanan yang transparan dan terpercaya.

    c.Labor Practices
    Mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan antara Perusahaan dan karyawan serta pengembangan sistem, organisasi dan fasilitas pendukung sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Perusahaan.

    d. Environment
    Mengembangkan budaya Peduli lingkungan termasuk upaya-upaya nyata untuk mengurangi penggunaan emisi karbon dalam kegiatan perusahaan.

    e. Community Involvement
    Ikut mengembangkan kualitas hidup komunitas dalam hal kualitas pendidikan sekolah dan olahraga, kualitas kesehatan, serta ikut serta dalam mendukung kegiatan sosial komunitas termasuk bantuan saat bencana/musibah.

    CSR Goal Indosat
    Bertumbuh, mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta Peduli kepada masyarakat.

    Progam CSR di tahun 2008 hingga saat ini memiliki tema khusus, yaitu “Indosat Cinta Indonesia”
    Dan merefleksikan komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai Perusahaan di Indonesia dan Peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Hal ini juga mendemonstrasikan upaya kami untuk mengajak setiap insan Indonesia membangun kembali jiwa nasionalisme, kebangkitan Indonesia.

    Program Indosat Cinta Indonesia diterapkan melalui berbagai aktivitas antara lain adalah:
    1. Indosat belajar. Program ini bertujuan bahwa indosat turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan penyediaan multimedia, beasiswa dan pelatihan bagi guru-guru yang berprestasi.
    2. Indosat sehat. Program ini diwujudkan dalam bentuk Mobil klinik keliling.
    3. Indosat hijau. Program ini mengembang program Base Tranceiver Station dengan menggunakan energi alternatif seperti matahari, angin, tenaga biodiesel dari pohon jarak serta melakukan penanaman pohon.
    Dengan adanya peogram CSr ini tentunya akan berpengaruh positif terhadap perusahaan. Masyarakat akan merasa bahwa perusahaan peduli terhadap lingkungan sekitar.

    2. Dalam proses perjalanan CSR banyak masalah yang dihadapinya, di antaranya adalah :
    1. Program CSR belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat
    2. Masih terjadi perbedaan pandangan antara departemen hukum dan HAM dengan departemen perindustrian mengenai CSRdikalangan perusahaan dan Industri
    3. Belum adanya aturan yang jelas dalam pelaksanaan CSR dikalangan perusahaan.

    3. CSR yg diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan:
    program yang telah dilakukan akan terus berjalan dan ditingkatkan kualitasnya. Seluruh program CSR yang dilaksanakan oleh Indosat akan terus dievaluasi secara berkala agar betul-betul dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan Bangsa Indonesia sesuai CSR Goal Indosat.

    Betapapun besarnya masalah yang dihadapi dunia pendidikan, kesehatan, lingkungan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, maka setiap langkah nyata yang dilakukan oleh Indosat merupakan tahapan yang berarti untuk menuju masa depan yang lebih baik.

    FITRIE KARLINA
    NIM: C2B 008 032
    KELAS REGULAR A

    Komentar oleh fitrie karlina | Juli 4, 2009 | Balas

  11. Standar Pelaporan dan Pengungkapan CSR.

    Oleh : H. A. Baidhawi – C2B008035
    Magister Manajemen – UNJA Angkatan X

    Upaya untuk mengembangkan akuntansi untuk CSR atau disebut juga sebagai akuntansi sosial (social accounting) sudah dilaksanakan lebih dari 30 tahun lalu, namun selama ini pembahasan lebih banyak pada tataran teoritis, kurang melihat pengalaman/praktek perusahaan dalam melaksanakannya, dan belum menghasilkan akuntansi sosial beserta pelaporannya yang dapat digunakan dalam praktek Gray, 2002).

    Lebih lanjut Gray menyampaikan bahwa riset akuntansi hingga kini masih memperlakukan akuntansi sosial bukan sebagai paradigm utama di bidang akuntansi, tapi hanya sebagai alternatif pemikiran. Tiga jurnal utama di bidang akuntansi (Accounting Review, Journal of Accounting and Economics, Journal of Accounting Research) tidak pernah/jarang membahas akuntansi sosial; pembahasannya terutama dilakukan di jurnal alternatif seperti Accounting, Organization and Society dan Critical Perspectives in Accounting.

    Perkembangan pelaporan dan pengungkapan CSR juga terkait dengan meningkatnya tuntutan publik agar diperluasnya pengungkapan perusahaan ke bidang yang di luar pengungkapan keuangan (Wallman 1999). Belkaoui (2004) mengemukakan sejumlah pelaporan yang terkait dengan kegiatan sosial perusahaan, yaitu pelaporan nilai tambah (value added reporting), pelaporan pegawai, dan akuntansi sumber daya. Pelaporan nilai tambah menunjukkan kenaikan kekayaan yang dihasilkan dari penggunaan produktif sumber daya perusahaan sebelum dialokasikan ke pemegang saham, kreditur, pegawai dan pemerintah (Belkaoui 2004).

    Dengan demikian fokus pelaporan ini tidak hanya ke pemegang saham (yang berhak atas laba bersih), tapi juga stakeholders lainnya (kreditur,pegawai, dan pemerintah). Belkaoui menyebutkan sejumlah studi (Belkaoui dan Fekrat, 1994; Belakoui, 1993) yang menemukan bahwa informasi nilai tambah terbukti merupakan prediktor yang baik atas kejadian ekonomis dan reaksi pasar di masa datang. Tetapi, kenyataan menunjukkan hingga kini laporan nilai tambah belum banyak digunakan dalam praktek. Pelaporan pegawai menurut Belkaoui (2004) adalah laporan khusus yang ditujukan terutama untuk para pegawai dan serikat pekerja.

    Laporan mengungkapkan berbagai data statistik mengenai karakteristik serta demografi pegawai perusahaan, termasuk berbagai fasilitas yang diberikan perusahaan terhadap pegawainya. Berikutnya, akuntansi sumber daya manusia yang juga berkembang pada tahun 1970an mencoba mengakui dan mengukur nilai sumber daya manusia di perusahaan. Upaya ini didasarkan pada pandangan bahwa aset utama perusahaan yaitu sumber daya manusia di laporan keuangan justru tidak diakui sebagai aset perusahaan. Sejumlah studi mengusulkan berbagai alternatif pengakuan dan pengukuran sumber daya manusia sebagai aset (e.g., Glautier dan Underdown, 1973, Hekimian dan Jones, 1967, Lev dan Schwartz, 1971 dalam Belkaoui, 2004), namun karena permasalahan dalam mendefinisikan dan mengukur nilai aset tersebut maka upaya mengkapitalisasi aset sumber daya manusia tidak berkembang.

    Terdapat sejumlah upaya untuk menghasilkan laporan yang tidak hanya memfokuskan pada aspek keuangan perusahaan, namun, laporan tersebut sifatnya parsial dan hanya fokus pada bidang tertentu serta tidak menggambarkan bagaimana dampak kegiatan perusahaan terhadap sosial dan lingkungan. Laporan nilai tambah misalnya memang dibanding Laporan Rugi Laba cakupannya lebih luas karena juga mencakup nilai tambah yang dihasilkan terhadap stakeholders lainnya (e.g., pegawai, pemerintah), namun laporan tersebut, sama halnya dengan perhitungan Pendapatan Domestik Bruto, tidak menunjukkan dampak eksternalitas positif atau negatif dari kegiatan perusahaan (Sidharta Utama, 2008)

    Permasalahan lain dalam akuntansi sosial yang bisa jadi menjelaskan mengapa pelaporan sosial dan lingkungan kurang berkembang selama 30 tahun terakhir adalah kesulitan dalam mengukur atau menilai dalam uang dampak sosial dari kegiatan perusahaan. Bidang akuntansi pada dasarnya di bagi menjadi dua bidang, yaitu akuntansi manajemen: penyampaian informasi untuk kebutuhan internal suatu entitas, dan akuntansi keuangan: penyampaian informasi untuk kebutuhan eksternal. Perhatikan bahwa pembagian ini secara implisit mengasumsikan bahwa penyampaian informasi untuk kebutuhan eksternal hanyalah informasi yang bersifat keuangan. Asumsi ini menyebabkan informasi yang disajikan ke pihak eksternal menjadi terbatas pada informasi yang dinyatakan dalam nilai uang, sedangkan banyak informasi relevan yang sulit atau tidak dapat dinyatakan dalam uang pada akhirnya tidak disampaikan, sebagaimana ilustrasi berikut.

    Dalam akuntansi keuangan suatu pengeluaran dapat diakui sebagai suatu aset jika pengeluaran tersebut memenuhi definisi aset dan dapat diukur nilainya secara handal (reliable). Dengan demikian, suatu pengeluaran bisa memenuhi definisi aset dan relevan untuk diungkapkan, namun, karena sulit untuk mengukur nilainya secara handal, maka pengeluaran tersebut tidak diakui sebagai aset. Contoh dari aset yang karena sulit diukur secara handal pada akhirnya tidak diakui sebagai aset adalah merk (brand). Demikian pula, menilai dampak sosial dari kegiatan perusahaan memerlukan estimasi yang umumnya bersifat subyektif, hasil yang diperolehpun dapat berupa suatu rentang nilai, sehingga jika menggunakan (Szekely dan Knirsch, 2005) kriteria pengakuan seperti yang dijelaskan di muka, jelas tidak memenuhi.

    Sebagai akibatnya, laporan keuangan tidak akan melaporkan item-item yang mungkin relevan namun tidak memenuhi kriteria pengakuan. Dengan kriteria pengakuan laporan keuangan yang demikian ketat, Wallman (1995) mengkawatirkan bahwa relevansi laporan keuangan akan semakin berkurang. Di sisi lain meningkatnya kebutuhan informasi yang sifatnya non-keuangan (termasuk CSR) yang tidak dapat dipenuhi oleh laporan keuangan dengan formatnya yang sekarang menyebabkan munculnya berbagai laporan non-keuangan, termasuk laporan yang terkait dengan CSR.

    Akibatnya, perusahaan harus membuat berbagai jenis laporan, yaitu laporan keuangan dan laporan-laporan lainnya. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan perusahaan atas pentingnya pelaksanaan CSR, maka kebutuhan akan standar pelaporan CSR yang dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat laporan juga meningkat. Menanggapi peningkatan kebutuhan tersebut maka selama 10 tahun terakhir telah bermunculan sejumlah standar pelaporan dan pengungkapan CSR; namun, hingga kini belum ada kesepakatan standar mana yang dapat diberlakukan secara global.

    Belum adanya kesepakatan ini berimplikasi pada terdapatnya variasi dalam pelaporan CSR yang berakibat berkurangnya daya banding laporan CSR antar perusahaan. Berikut adalah penjelasan singkat dari beberapa standar yang telah dikembangkan (Robins, 2005).:
    1. The United Nations Global Compact.
    2. Social Accountability 8000.
    3. The Global Reporting Iniative (GRI).

    Robins (2005) menyatakan bahwa Global Compact diluncurkan oleh PBB pada tahun 1999, mempromosikan 10 prinsip bisnis, dengan penekanan pada praktek ketenagakerjaan. Cakupannya luas dan tidak dimaksudkan untuk mengukur kinerja. Sebaliknya, Social Accountability 8000 yang dikembangkan oleh Council on Economic Priorities Accreditation Agency adalah standar bagi perusahaan yang bermaksud mengaudit dan mensertifikasi praktek ketenagakerjaan dan pemasok, dan mencoba mengukur kinerja di bidang-bidang tersebut.

    Berikutnya, GRI memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomis, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, rigor, dan pemanfaatan sustainability reporting. Standar pengungkapan dibagi menjadi 3 bagian: Strategi dan profil, pendekatan manajemen, dan indikator kinerja. Perusahaan dapat menggunakan panduan GRI pada tiga tingkat (GRI, 2006). Tingkat paling rendah, yang diberi peringkat C, melaporkan hanya sebagian dari keseluruhan standar pengungkapan GRI sedangkan peringkat paling tinggi, A, melaporkan semua standar pengungkapan GRI. GRI mendorong agar laporan diaudit oleh pihak eksternal yang independen. Peringkat B adalah yang berada di antara A dan C, dengan tingkat pengungkapan lebih tinggi dibanding C, namun lebih rendah dibanding A. Jika laporan tersebut diaudit, maka rating tersebut ditambah simbol ‘+’ sehingga menjadi A+, B+, atau C+.

    Szekely dan Knirsch, 2005 yang melakukan tinjauan komprehensif terhadap berbagai alternatif pengukuran kinerja berkelanjutan (sustainable performance). Keadaan ini berbeda dengan standar pelaporan keuangan, dengan adanya kesepakatan sebagian besar negara di dunia untuk mengadopsi International Financial Reporting Standard (IFRS) yang dikembangkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) sebagai standar yang diacu dalam membuat laporan keuangan. Sejak tahun 2000, semakin banyak perusahaan di dunia yang menggunakan GRI dan per Oktober 2006 jumlahnya mencapai hampir 1000 perusahaan di lebih dari 60 negara (Ballou et al, 2006).

    Indikator kinerja di bagi menjadi 3 komponen, yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial yang mencakup hak asazi manusia, praktek ketenagakerjaan dan lingkungan kerja, tanggung jawab produk, dan masyarakat. Dari segi kepentingan pengungkapan, indikator tersebut terdiri dari indikator inti (core) dan tambahan (add). Sebagai contoh, indikator kinerja ekonomi terdiri dari 9 indikator, 7 adalah indikator inti dan 2 adalah indikator tambahan. Total indikator kinerja mencapai 79 indikator, terdiri dari 9 indikator ekonomi, 30 indikator lingkungan hidup, dan 40 indikator sosial.

    Struktur laporan sustainability versi GRI berbeda dengan laporan keuangan. Laporan keuangan terdiri dari beberapa laporan (Neraca, Laporan Rugi Laba, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas) yang didukung oleh catatan atas laporan keuangan. Pembaca laporan keuangan dapat memfokuskan evaluasi kinerja pada laporan-laporan tersebut dengan mengacu pada catatan atas laporan keuangan untuk informasi lebih rinci dan tambahan. Bagi pemilik modal informasi dari Laporan Rugi Laba, khususnya laba bersih dapat dijadikan indikator utama dalam menilai kinerja perusahaan, sedangkan neraca memberikan informasi mengenai aset dan kewajiban perusahaan.

    Pada laporan sustainability tidak ada laporan seperti pada laporan keuangan, yang ada adalah sejumlah indikator seperti yang dijelaskan dimuka. Banyaknya indikator tersebut menunjukkan bahwa cakupan laporan CSR komprehensif dan akan membantu pembaca dalam mengevaluasi kinerja perusahaan terkait dengan ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial; namun, tidak adanya laporan seperti yang terdapat di laporan keuangan yang mengikhtisarkan kinerja keuangan akan menyulitkan pembaca laporan CSR untuk memperoleh gambaran umum atas kinerja perseroan di bidang lingkungan dan sosial. Perlunya suatu laporan sosial dan lingkungan yang dapat mengikhtisarkan kinerja perusahaan di bidang tersebut adalah sesuai dengan usulan Ramanathan (1976).

    Kembali ke pembahasan mengenai laporan keuangan, Wallman (1996) mengkritisi kriteria pengakuan yang menurutnya terlalu memfokuskan pada kriteria keandalan pengukuran sehingga banyak informasi relevan yang tidak tercermin di laporan keuangan karena tidak memenuhi kriteria tersebut. Untuk memastikan bahwa pembaca laporan tetap memperoleh informasi relevan namun kurang andal, Wallman mengusulkan suatu model pelaporan dengan banyak tingkatan (multilayered reporting), dengan tiap tingkat menggunakan kriteria pengakuan dan pengukuran yang berbeda, yaitu:

    1. Tingkat pertama adalah item-item yang memenuhi kriteria pengakuan dan menyerupai laporan keuangan dengan format sekarang.
    2. Tingkat kedua adalah item-item yang memenuhi kriteria pengakuan, kecuali bahwa terdapat masalah keandalan pengukuran item tersebut. Contohnya nilai dari merk dan aktiva tidak berwujud.
    3. Tingkat ketiga adalah item-item yang mempunyai masalah definisi maupun keandalan, seperti pengukuran kepuasan konsumen.
    4. Tingkat keempat adalah item-item yang memenuhi kriteria pengukuran, keandalan dan relevansi, namun tidak memenuhi definisi elemen dari laporan keuangan, seperti metrik sensitivitas risiko.

    Usulan Wallman (1996) pada dasarnya memperluas cakupan akuntansi untuk pihak eksternal, yaitu tidak harus selalu mencakup item-item yang bersifat keuangan, namun dapat juga mencakup item-item yang bersifat non-keuangan atau yang sulit dinilai dalam uang. Dengan usulan Wallman maka informasi yang terkait dengan CSR dapat dilaporkan pada tingkat selain tingkat pertama, tergantung pada pemenuhan kriteria pada masing-masing tingkat. Selain itu, tidak perlu ada berbagai laporan yang disiapkan untuk pihak eksternal, cukup ada satu laporan yang disiapkan untuk pihak eksternal.

    Daftar Pustaka.

    Balou, B., D. L. Heitger, C. E. Landes, 2006, The future of corporate sustainability reporting, Journal of Accountancy, Vol. 202 No. 6, 65-74.

    Belkaoui, A. R., 1993, The information content ov value-added, earnings and cash flows: US evidence, The International Journal of Accounting, Vol. 28 No. 1, 140-146.

    Glautier, N. W. E., dan B. Underdown, 1973, Problems and prospects of accounting for human assets, Management Accounting, March, 99.

    Gray, R., 2002, The social accounting project and Accounting Organizations and Society: Privileging engagement, imaginings, new accontings and pragmatism over critique?, Accounting, Organizations and Society, 27, 687-708.

    Haigh, M. Dan M. T. Jones, 2006, The drivers of corporate social responsibility: A critical review, The Business Review, Cambridge, Vol. 5 No. 2, 245 – 251.

    Hekimian, J. S., dan J. G. Jones, 1967, Put people on your balance sheet, Harvard Business Review, January, 108.

    Ramanathan, K.V., 1976, Toward a theory of corporate social accounting, Accounting Review, Vol. LL No. 3, 518-528.

    Robins, F., 2005, The fututre of corporate social responsibility, Asian Business & Management, No. 4, 95-115.

    Sidharta Utama ,2008. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia. Pidato Pewngukuhan Guru Besar Universitas Indonesia.

    Szekely F., dan M. Knirsch, 2005, Responsible leadership and corporate social responsibilty: Metrics for sustainable performance, European Manajement Journal, Vol. 23 No. 6, 628-647.

    Wallman, S., 1996, The future of Accounting and Financial Reporting Part II: The Colorized Approach, Accounting Horizons, June, 138-148.

    Wallman, S., 1995, The future of accounting and disclosure in an evolving world: Theneed for dramatic change, Accounting Horizons, September, 81-91.

    Saudara Baidhawi, laporan anda telah menjelaskan bahwa CSR bentuknya banyak, dan salah satunya adalah keharusan untuk menyusun laporan AKuntansi Sosial. Selamat.

    Komentar oleh H.A. Baidhawi - C2B008035 | Juli 5, 2009 | Balas

  12. salam sejahtera pak jo,

    Tanggungjawab Sosial Perusahaan – CSR
    Penggunaan istilah Tanggungjawab Sosial Perusahaan atau atau Corporate Social Responsibility (CSR) akhir-akhir ini semakin populer dengan semakin meningkatnya praktek tanggung jawab sosial perusaan, dan diskusi-diskusi global, regional dan nasional tentang CSR.
    Istilah CSR yang mulai dikenal sejak tahun 1970-an, saat ini menjadi salah satu bentuk inovasi bagi hubungan perusahaan dengan masyarakat dan konsumen. CSR kini banyak diterapkan baik oleh perusahaan multi-nasional maupun perusahaan nasional atau lokal. CSR adalah tentang nilai dan standar yang berkaitan dengan beroperasinya sebuah perusahaan dalam suatu masyarakat. CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk beroperasi secara legal dan etis yang berkonstribusi pada peningkatan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas dalam kerangka mmewujudkan pembangunan berkelanjutan.
    CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakata. Prisnsip-prinsip atau azas yang berlaku di masyarakat juga termasuk berbagai peraturan dan regulasi pemerintah sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan.
    Menurut Jones (2001) seseorang atau lembaga dapat dinilai membuat keputusan atau bertindak etis bila: 1) Keputusan atau tindakan dilakukan berdasarkan nilai atau standar yang diterima dan berlaku pada lingkungan organisasi yang bersangkutan. 2) Bersedia mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada seluruh pihak yang terkait. 3) Yakin orang lain akan setuju dengan keputusan tersebut atau keputusan tersebut mungkin diterima dengan alasan etis.
    Suatu perusahaan seharusnya tidak hanya mengeruk keuntungan sebanyak mungkin, tetapi juga mempunyai etika dalam bertindak menggunakan sumberdaya manusia dan lingkungan guna turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pengukuran kinerja yang semata dicermati dari komponen keuangan dan keuntungan (finance) tidak akan mampu membesarkan dan melestarikan , karena seringkali berhadapan dengan konflik pekerja, konflik dengan masyarakat sekitar dan semakin jauh dari prinsip pengelolaan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
    CSR dan TBL
    Sebagai sebuah inovasi sosial baru dalam kehidupan bersama antara perusahaan dengan masyarakat, pemahaman tentang CSR oleh masyarakat perlu ditingkatkan, termasuk masyarakat kampus. Bagaimana masyarakat kampus akan memberikan inovasi dan berkontribusi bagi implementasi CSR untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM bila masyarakat kampus belum memiliki pemahaman yang memadai tentang CSR dan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam implementasi CSR. Pada hal CSR memiliki potensi besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan secara akademik akan berkembang menjadi sebuah trans-disiplin yang menggabungkan antara aspek-aspek ilmiah dengan aspek-aspek praktis di masyarakat.
    John Elkington (1997) sebagai seorang akademisi, merumuskan Triple Bottom Line (TBL) atau tiga faktor utama operasi perusahaan dalam kaitannya dengan lingkungan dan manusia, yaitu faktor manusia dan masyarakat (people), faktor ekonomi dan keuntungan (profit), serta faktor lingkungan (Planet). Ketika faktor ini juga terkenal dengan sebutan triple-P (3P) yaitu people, profit and planet. Ketiga faktor ini berkaitan satu sama lain. Masyarakat tergantung pada ekonomi; ekonomi dan keuntungan perusahaan tergantung pada masyarakat dan lingkungan, bahkan ekosistem global. Ketiga komponen TBL ini bersifat dinamis tergantung kondisi dan tekanan sosial, politik, ekonomi dan lingkungan, serta kemungkinan konflik kepentingan.
    TBL digunakan sebagai kerangka atau formula untuk mengukur dan menlaporkan kinerja perusahaan mencakup parameter-parameter ekonomi, sosial dan lingkungan dengan memperhatikan kebutuhan stakeholdes (konsumen, pekerja, mitra bisnis, pemerintah, masyarakat lokal dan masyarakata luas) dan shareholders, guna meminimalkan gangguan atau kerusakan pada manusia dan lingkungan dari berbagai aktifitas perusahaan.
    TBL bukan skedar laporan kinerja tetapi juga sebagai suatu pendekatan untuk memperbaiki pengambilan keputusan tentang kebijakan dan program ke arah yang lebih baik dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan masyarakat sekaligus. Penerapan konsep TBL ini berkembang pesat oleh – di Amerika, Kanada, Eropa dan Australia. Berbagai di Indonesia juga mulai menerapkannnya.
    Prinsip TBL secara legal sudah lama dianut pemerintah Indonesia, sejak negara Indonesia berdiri, seperti tercantum dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya merupakan komponen planet atau lingkungan dari konsep TBL. Kemakmuran merupakan komponen profit atau ekonomi dari konsep TBL. Rakyat merupakan komponen people atau masyarakat dari konsel TBL. Hal ini berarti pengelolaan sumberdaya alam Indonesia seharusnya ditujukan untuk peningkatan kualitas manusia dan lingkungannnya (kemakmuran rakyat)
    Berdasarkan konsep TBL tersebut seharusnya konsep dan implementasi CSR mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial dalam peningkatan kualitas hidup pekerja beserta keluarganya serta masyarakat, termasuk konsumen. Dalam perjalanannya, implementasi CSR kadangkala mengalami pembiasan dari nilai-nilai CSR yang “asli”. Pembiasan itu tampak manakala perusahaan hanya melakaukan kegiatan bantuan atau charity atau “pemadam konflik sementara“ kepada masyarakat yang kemudian dianggap sebagai program CSR. Pada hal CSR ideal tidak sekedar sebagai program bantuan untuk menghindari tekanan dari pihak lain, misalnya tekanan masyarakat ataupun sebagai alat kehumasan untuk membentuk citra baik, melainkan merupakan kegiatan pemberdayaan yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik.
    CSR yang dilakukan oleh – di Indonesia akan berbeda satu sama lain tergantung pada konteks masalah yang dihadapi masyarakat. Perbedaan konteks ini juga akan berimplikasi kepada perbedaan strategi pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing. Keberadaan CSR di suatu daerah juga tidak pernah terlepas dari sistem kemitraan kelembagaan yang ada di sekitarnya. Pemerintah, lembaga adat, LSM, dan lembaga sosial masyarakat lainnya juga turut memberikan warna terhadap kegiatan CSR. Keberadaan stakeholder ini bisa hadir sebagai penunjang keberhasilan CSR ataupun sebaliknya, jika proses sinergi di antara para pelaku tersebut tidak dilakukan

    1>Salah satu contoh perusahaan yang mengikuti CSR adalah PT Telkom,bagai bentuk tanggung jawab sosial, PT Telkom Indonesia melakukan Corporate Social Responsibility (CSR). Bentuknya, antara lain dana bergulir untuk usaha kecil menengah (UKM), beasiswa, dan bantuan korban bencana alam.

    2>Tantangan perusahaan dalam menghadapi csr adalah:

    1. Komitmen pimpinan perusahaan
    Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan, kecil kemungkinan akan mempedulikan aktivitas sosial.
    2. Ukuran dan kematangan perusahaan
    Perusahaan besar dan mapan lebih mempunyai potensi memberikan kontribusi ketimbang perusahaan kecil dan belum mapan. Namun, bukan berarti perusahaan menengah, kecil, dan belum mapan tersebut tidak dapat menerapkan CSR.
    3. Regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah

    3>Mengapa CSR Indonesia perlu diselenggarakan?
    • Berbagai pihak telah melaksanakan program CSR, namun kegiatan yang telah dilaksanakan, selama ini belum diketahui secara luas oleh masyarakat Indonesia.
    • Konsep CSR selama ini yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak belum mencapai keseragaman yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
    • Selama ini belum ada ajang pertukaran informasi yang membahas prestasi dan kinerja program CSR yang telah dilaksanakan.
    • Belum adanya sarana penyebarluasan informasi mengenai program-program CSR.

    sumber: http://noanggie.wordpress.com/2008/04/07/penerapan-prinsip-tanggung-jawab-sosial-dan-lingkungan-perusahaan/
    : http://fema.ipb.ac.id/index.php/lingkungan-masyarakat-dan-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-csr

    AHMAD BAIQUNI
    NIM C2B 008 007
    KELAS REGULER A

    Komentar oleh ahmad baiquni | Juli 6, 2009 | Balas

  13. Wiwied Handayani
    MM Ankt 10, kelas H
    C2B008079

    salam pak jo…
    Tanggung Jawab Sosial Perusahaan merupakan investasi bukan biaya.
    Perusahaan selama ini dianggap sebagai biang rusaknya lingkungan, pengeksploitasi sumber daya alam, hanya mementingkan keuntungan semata. Kebanyakan perusahaan selama ini melibatkan dan memberdayakan masyarakat hanya untuk mendapat simpati. Program yang mereka lakukan hanya sebatas pemberian sumbangan, santunan dan pemberian sembako. Dengan konsep seperti ini, kondisi masyarakat tidak akan berubah dari kondisi semula, tetap miskin dan termarginalkan.
    Tanggung jawab perusahaan memberikan konsep yang berbeda dimana perusahaan tersebut secara sukarela menyumbangkan sesuatu demi masyarakat yang lebih baik dan lingkungan hidup yang lebih bersih. Tanggung jawab sosial dari perusahaan (corporate social responsibility) didasarkan pada semua hubungan, tidak hanya dengan masyarakat tetapi juga dengan pelanggan, pegawai, komunitas, pemilik, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor.
    Menurut Bank Dunia, tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.
    Citra perusahaan di mata masyarakat sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Teknologi informasi sekarang ini memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia. Jika satu perusahaan tidak menunjukkan komitmen sosial yang baik di suatu daerah, informasi ini akan cepat tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Akibatnya akan terbentuk citra yang negatif. Sebaliknya, jika perusahaan menunjukkan komitmen sosial yang tinggi terhadap kegiatan kemanusiaan, pelestarian lingkungan, kesehatan masyarakat, pendidikan, penanggulangan bencana alam, maka akan terbentuk citra positif yang positif.
    Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan adalah community development. Perusahaan yang mengedepankan konsep community development lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh trust (rasa percaya) dari masyarakat. Sense of belonging (rasa memiliki) perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat.
    Dengan adanya citra positif ini, maka perusahaan akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari tiap-tiap komponen masyarakat. Perlu dilakukan beberapa langkah strategis guna mendapatkan citra yang positif ini, diantaranya komitmen antara pimpinan dan bawahan untuk mewujudkan setiap tanggung jawab sosial perusahaan dalam setiap kegiatan bisnisnya. PT Newmont sebagai contohnya, untuk mengembalikan citra positif mereka akibat dugaan pencemaran di Teluk Buyat, PT Newmont berkomitmen melanjutkan kegiatan reklamasi, pemantauan dan pengelolaan lingkungan terutama pengujian toksisitas terhadap larutan talling agar tidak melewati ambang batas dan tidak mencemari biota laut. Selain itu, PT Newmont telah menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha masyarakat, pembangunan sarana jalan dan memberikan program pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
    Strategi lainnya adalah pihak perusahaan secara terbuka membangun kemitraan dengan berbagai kalangan dan organisasi termasuk LSM yang profesional secara terbuka. Pimpinan perusahaan juga harus mampu menyampaikan informasi secara terbuka dan transparan sesuai dengan kapasitas mitranya.
    Selain itu, perlu dibentuk departemen tersendiri yang menjalankan tanggung jawab sosial mereka seperti sebuah perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau yang membentuk departemen tersendiri yang disebut Program Pemberdayaan Masyarakat Riau (PPMR) yang dipimpin oleh pejabat setingkat direktur.
    Menurut hasil riset PIRAC (2003), bidang yang paling banyak diprioritaskan oleh kalangan dunia usaha adalah pelayanan kesehatan (82%), keagamaan (61%) dan pendidikan (57%). Derajat kesehatan sangat menentukan tingkat produktivitas karyawan perusahaan maupun kemampuan masyarakat untuk meningkatkan pendidikan maupun pendapatan keluarga. Perusahaan di Indonesia harus mulai mengusung aktivitas tanggung jawab sosial mereka terutama bidang kesehatan, seperti revitalisasi posyandu, pendidikan keluarga sehat, pencegahan penyakit, program sanitasi dan program lainnya secara berkala dan berkesinambungan.
    Bukan itu saja, prioritas di bidang kesehatan juga mencakup kesehatan dan keselamatan kerja. Hendaknya perusahaan memiliki komitmen untuk mencapai standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja terutama pada pekerjaan yang berpotensi menimbulkan bahaya, penyakit dan kecelakaan kerja. Kemudian menciptakan suatu kondisi yang mendekati “Zero Harm” bagi karyawan, mitra kerja, masyarakat di lingkungan kegiatannya, serta menjadi pemimpin dalam praktik pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Pemeriksaan kesehatan dan pemantauan lingkungan harus dilakukan secara berkala terhadap paparan dalam jangka panjang.
    Dr. Tan Malaka, seorang spesialis di bidang okupasi kerja menyatakan bahwa dengan adanya pemeriksaan kesehatan dan pemantauan lingkungan, maka biaya yang dikeluarkan sebenarnya jauh lebih kecil daripada membayar biaya pengobatan seluruh karyawan dan ganti rugi perbaikan lingkungan. Dengan begitu, berarti perusahaan tidak membuang-buang uang. Selain produktivitas karyawan tetap terjaga, citra positif dimata masyarakat akan mulai dirasakan oleh perusahaan.
    Inilah yang dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tenggara yang pada tahun 2004 menerima Sertifikat Emas dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai wujud pengakuan terhadap prakarsa pencegahan kecelakaan dan kinerja keselamatan yang dicapainya pada tahun 2003.
    Kita berharap, semoga tanggung jawab sosial perusahaan ini bukan hanya ingin mendapatkan kesan baik semata, tetapi lebih kepada suatu niat baik perusahaan sebagai salah satu bagian dari masyarakat.

    Komentar oleh Wiwied Handayani | Juli 6, 2009 | Balas

  14. nama : suci haristiko
    nim : C2B008075
    KELAS REGULER A

    PENGERTIAN CSR

    “Corporate Social Responsibility (CSR) ialah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial di dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholder berdasarkan prinsip kemitraan dan kesukarelaan (Nuryana, 2005)

    HUBUNGAN CSR DAN GCG

    Good Corporate Governance (GCG) ialah suatu sistem, dan perangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan (stakeholders).
    Terdapat lima prinsi GCG yaitu:
    Transparency (Keterbukaan Informasi)
    Accountability (Akuntabilitas)

    Responsibility (Tanggung Jawab)
    Independency (Kemandirian)
    Fairness (Kesetaraan dan kewajaran)
    Prinsip Responsibility mempunyai hubungan yang paling dekat dengan CSR. Prinsip ini memberikan penekanan yang lebih terhadap stakeholders perusahaan (stakeholders-driven concept).
    Prinsip yang lain lebih fokus ke shareholders-driven concept.

    RUANG LINGKUP CSR

    Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan – kegiatan sosial yang berguna bagi masyarakat luas.
    Mematuhi aturan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat baik yang berkaitan dengan kegiatan bisnis maupun kegiatan sosial pada umumnya.
    Hormat pada hak dan kepentingan stakeholders yang mempunyai kepentingan langsung ataupun tidak langsung terhadap kepentingan bisnis.

    ARGUMEN YANG MENENTANG CSR

    Tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan sebesar – besarnya.
    Perhatian perusahaan menjadi terbagi – bagi dan tidak fokus.
    Biaya keterlibatan sosial

    ARGUMEN YANG MENDUKUNG CSR

    Kurangnya tenaga terampil dalam bidang kegiatan sosial.
    Kebutuhan dan harapan masyarakat yang berubah.
    Terbatasnya sumber daya alam.
    Lingkungan sosial yang lebih baik.
    Perimbangan tanggung jawab dan kekuasaan.
    Bisnis mempunyai sumber – sumber daya yang berguna.
    Keuntungan jangka panjang.

    CONTOH :
    PT Bussan Auto Finance (BAF) memahami pentingnya 3P (Profit-People-Planet) dalam menjalankan usahanya. Profit (laba) merupakan hal yang harus diperjuangkan oleh perusahaan, akan tetapi People (orang/masyarakat) dan Planet (bumi/lingkungan) tidaklah boleh diabaikan.

    Corporate Social Responsibility (CSR) sangat berkaitan erat dengan 3P. Laba yang dihasilkan oleh perusahaan harus dapat dinikmati pula oleh masyarakat dan lingkungan hidupnya.

    Bagi BAF, CSR bukanlah sekedar melakukan kegiatan sosial. CSR haruslah dimulai dari “dalam”, baru kemudian “keluar”. Pohon yang baik, pastilah menghasilkan buah yang baik.

    BAF memiliki tiga kebijakan utama dalam melakukan CSRnya, yakni:

    1. Membangun tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
    BAF senantiasa memberikan perhatian kepada kualitas sumber daya manusianya. Mempertahankan integritas karyawan dan manajemen menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, pengembangan sistem pengendalian intern yang berkesinambungan dan pengawasan yang melekat terhadap pelaksanaannya, merupakan prioritas bagi BAF.
    2. Melakukan komunikasi yang interaktif dengan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).
    BAF membangun komunikasi yang interaktif melalui jalur hotline SMS, website, bulletin VIP News, HR News, serta tatap muka manajemen & karyawan berupa “Temu Wicara CeRiA”.
    3. Memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat luas.
    BAF secara bertahap telah mencoba mengembangkan bakti sosialnya kepada masyarakat, bekerjasama dengan beberapa institusi. Beragam bidang dan strata sosial telah dijangkau oleh kegiatan sosial BAF, seperti bidang kesehatan (donor darah bersama PMI dan pengobatan gigi bersama FKG-UI), bidang pendidikan (session bagi mahasiswa S-2 dan anak jalanan bersama PPM), bidang keamanan (session “Safety Riding” bagi siswa SMU bersama dealer Yamaha), bidang kesejahteraan (bantuan bagi korban bencana alam di Yogya), dan lain-lain.

    Komentar oleh suci haristioko, nim : C2B008075 | Juli 6, 2009 | Balas

  15. Istilah CSR yang mulai dikenal sejak tahun 1970-an, saat ini menjadi salah satu bentuk inovasi bagi hubungan perusahaan dengan masyarakat dan konsumen. CSR kini banyak diterapkan baik oleh perusahaan multi-nasional maupun perusahaan nasional atau lokal. CSR adalah tentang nilai dan standar yang berkaitan dengan beroperasinya sebuah perusahaan dalam suatu masyarakat. CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk beroperasi secara legal dan etis yang berkonstribusi pada peningkatan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas dalam kerangka mmewujudkan pembangunan berkelanjutan.
    CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakata. Prisnsip-prinsip atau azas yang berlaku di masyarakat juga termasuk berbagai peraturan dan regulasi pemerintah sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan.
    Melalui website ini diharapkan akan terjadi tukar menukar informasi yang bermanfaat diantara para pelaku di Unit Unit PLN sehingga akan terjadi peningkatan kwalitas.

    Dalam aspek pelaporan keuangan diharapkan akan semakin akurat dan cepat khususnya dalam penyusunan laporan konsolidasi, sedangkan untuk para mitra binaan PLN, media ini akan menjadi sarana promosi baik untuk pasar domestic maupun Internasional yang diharapkan tidak hanya akan meningkatkan kwalitas dari produk para mitra binaan tersebut, tetapi sekaligus akan meningkatkan kegiatan usaha mereka secara signifikan, artinya akan terjadi peningkatan kegiatan ekonomi rakyat seperti yang diharapkan oleh Pemerintah.

    Didalam menjalankan seluruh kegiatan CSR ini perlu dijaga prinsip prinsip GCG, yaitu Transparant, Fair dan Akuntabel untuk menghindari hal hal yang tidak kita inginkan bersama,karena perlu diingat bahwa program CSR ini adalah sebuah program yang menunjukan kepedulian sosial PLN kepada lingkungan artinya kegiatan CSR akan disorot oleh banyak pihak, sehingga untuk menjamin terlaksananya prinsip prinsip GCG diatas, maka dalam setiap kegiatan perlu dibuat MOU (kesepakatan bersama) antara pihak pihak yang terlibat dan Berita Acara penyerahan Bantuan secara baik. Akhir kata, saya ingin mengajak teman teman untuk lebih meningkatkan kompetensi kita sehingga program CSR ini dapat berjalan dengan baik dan manfaatnya oleh masyarakat luas dan PLN yang kita cintai…

    nama : try satria azhari
    nim : C2B0080078
    KELAS REGULER MALAM

    Komentar oleh try satria azhari, nim : C2B008078 | Juli 6, 2009 | Balas

  16. Emsuardi
    NIM : C2B008025
    MM Angkatan X

    Salam Sejahtera Pak Jo.
    Saya mencoba menjawab pertanyaan Bapak Sebagai berikut :
    1. Memberikan contoh satu Perusahaan yang menerapkan CSR, dan CSR ini mendukung keberhasilan Perusahaan.
    Salah satu contoh perusahaan yang menerapkan CSR adalah Apotek K-24, Apotek K 24 adalah contoh bisnis franchise yang sudah menerapkan CSR sebagai bagian dari budaya perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis. Apotek K-24 mulai berdiri sejak 24 Oktober 2002 di Jokjakarta, Apotek K-24 telah menjadi CSR sebagai bagian dari filosofi bisnis Apoteknya, menurut Gideon Hartono (Direktur Utama) Apotek K-24, CSR menjadi bagian dari filosofi bisnisnya sudah tergambar jelas dalam logonya. Logo Apotek k-24 menggambarkan yang harmoni ditengah kemajemukan bangsa, ada dominasi warna hijau yang menggambarkan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Ada warna merah yang menggambarkan ada umat kristianinya. Kuning yang berarti ada WNI keturunan dan warna putih yang berarti kelompk masyarakat lain.
    Selain aspek bisnis, Apotek K-24 juga mengejar misi social salah satunya adalah lewat kegiatan CSR yang dilakukan sebagai contoh, waktu kejadian gempa Jokjakarta pada tanggal 27 Mei lalu, secara serentak tanpa di komando seluruh jaringan Apotek K-24 ikut mengumpulkan sumbangan bagi saudara yang tertimpa bencana.
    CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan karena terus konsisten dalam misi social, salah satunya memiliki divisi atau team khusus CSR yang selalu siap kapan saja dan dimana saja bila diperlukan K-24 sebagai bisnis harus bisa memahami lngkungan sekitarnya dalam arti harus bisa di terima dan didukung oleh masyarakat sekitarnya, sebab itu kegiatan – kegiatan CSR-nya pun menimal bisa menyentuh masyarakat sekitar cabang k- 24. Salah satunya setiap pendirian dari cabang Apotek K-24 selalu melibatkan tokoh-tokoh masyakat setempat, setiap pendirian dari cabang Apotek K-24 ada saatbya melakukan pengobatan kepada masyarakat sekitarnya.

    2. Tantangan perusahaan dalam menerapkan CSR.
    Diduga bahwa telah terjadi kasus-kasus konflik social pada banyak perusahaan di Indonesia, utamanya terkait dengan perilaku perusahaan, disebabkan oleh tidak di implementasikannya CSR secara baik oleh pewrusahaan, terutama tindakan kurang peduli terhadap stakeholder sekunder, yakni pada masyarakat sekitar.
    Kondisi demikian juga akan membawa dampak terpuruknya dunia usaha dan iklim investasi, serta menurunnya daya saing perusahaan
    Hal ini pernah dialami cabang Apotek K-24 di Rawamangun, awalnya ditolak masyarakat sekitarnya, namun setelah melakukan kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat lewat pemberian pengobatan Cuma-Cuma, akhirnya banyak yang semakin sadar bahwa Apotek K-24 adalah Apotek yang ramah, sekali gus usaha yang ramah pula, alhasilnya masyarakat sekitarnya percaya dan berbondong-bondong membeli obat di Apotek K-24, setelah grand opening omsetnya pun lantas meningkat tajam. CSR yang dilakukan berdampak positif terhadap penjualan.
    Realita kasus dari banyak kasus yang lain, memberikan gambaran betapa rentan dunia usaha kita dengan komflik sosial, apa bila CSR-nya rendah. Kondisi demikian juga akan membawa dampak terpuruknya dunia usaha dan iklim investasi, serta menurunnya daya saing perusahaan, baik tingkat nasional maupun global, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi Nasional, namun demikian disisi lain ada pula perusahaan besar yang menunjukkan konflik sosialnya rendah karena mampu mewujudkan CSR yang baik, karena CSR yang baik pula, maka keberadaan perusahaan beroperasi menjadi diterima oleh masyarakat, sehingga bisa mewujudkan kinerja ekonomi secara baik dan aman.

    3. CSR Yang Diterapkan Menjadi Kegiatan
    CSR saat ini menjadi fenomena terutama bagi perusahaan-perusahaan besar, pasalnya, CSR di nilai sangat penting untuk membangun corporate image dan kepercayaan masyarakat, sehingga rasanya sudah tidak aneh lagi mendengar perusahaan – perusahaan besar berskala nasional dan multinasional memberikan sumbangan sebagai tanda tanggung jawab perusahaan (CSR). Apalagi ditengah musibah bencana alam yang terus menerus-menerus menimpa tanah air, mereka seakan berlomba-lomba bak Robin Hood yang membagi-bagikan sumbangan untuk para korban bencana. Yang patut diacung jempol adalah kegiatan CSR ini dilakukan oleh bisnis franchise.. Ternyata bisnis franchise saat ini juga sudah melek dengan CSR, dalam arti sudah mengenal arti penting dari corporate image dan kepercayaan masyarakat bagi kelangsungan bisnis. Apotek K-24 contoh bisnis franchise yang sudah menerapkan CSR dalam budaya perusahaan.

    Demikian penjelasan dari saya Pak Jo, terima kasih.

    Daftar Pustaka :
    http://info-csr.blogspot.com/2008/08/hambatan-dalam penerapan-csr.html

    Komentar oleh Emsuardi | Juli 6, 2009 | Balas

  17. Selamat Pagi Pak Jo.
    1. Menurut saya perusahaan yang telah melakukan CSR adalah Astra, berikut kutipan dari http://www.prakarsa-rakyat.org :PT Astra juga menerapkan sistem prioritas dalam penyusunan program CSR-nya dengan pendidikan sebagai prioritas utama. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa rendahnya pendidikan merupakan akar dari kemiskinanan yang bisa menimbulkan berbagai dampak merugikan.

    Selain itu, melalui program Honda masuk desa, PT Astra juga membatu menciptakan lapangan kerja dengan memberi bantuan modal bagi pemuda-pemuda desa untuk membuka bengkel.

    2. Tantanga yang diahadapi perusahaan dalam pelaksanaan CSR:
    Eksternal: dari berbagai stakeholder perusahaan: Pemerintah, masyarakat, konsumen dan pesaing, perusahaan harus dapat menunjukan upaya yang serius untuk dapat dipercaya pihak-pihak tersebut dalam pelaksanaan CSR, dan hal ini tidaklah mudah
    Internal: Perusahaan harus tahu benar barbagai sumber daya ang ada yang dapat digunakan untuk pelaksanaan CSR, dan perusahaan haru sdapat mengsinkronasikan berbagai elemen didalam org untuk dapat melaksanakan CSR denga efektif.

    3. Sebenarnya CSR merupakan Upaya perusahaan untuk membangun kepercayaan bagi seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dan kepentingan pada perusahaan secara langsung maupun tidak, jadi CSR yang efektif adalah CSR yang mampu mendorong perusahaan untuk terus memperoleh kepercayaan dan dukungan dari berbagai pihak, sehingga denga kepercayaan tersebut oerusahaan dapat terus menjaga keberlangsungan hidup perusahaan dan tetap menjaga keunggulan kompetitifnya…

    Komentar oleh Wiwin Alawiyah/ Kelas H/ Angaktan X/ C2B008080 | Juli 7, 2009 | Balas

  18. Salam Sejahtera Pak Jo…..

    1. C(S)R – Corporate (Social) Responsibility
    Definisi CSR adalah : Secara sukarela mengintegrasikan kepedulian sosial dan melindungi lingkungan kedalam operasi bisnis keseharian dari suatu perusahaan.
    Definisi tersebut merefklesikan 3 konsep dasar :
    • Profit : Setiap perusahaan harus menguntungkan dan kompetitif.
    • People : dalam kegiatan bisnis faktor manusia adalah faktor yang sangat penting.
    • Planet : bahwa kegiatan bisnis perusahaan harus berorientasi untuk menjaga kelestarian lingkungan, yang pada gilirannya akan menjaga kelestarian bumi kita.
    CSR berkaitan dengan hal-hal:
    • Hak asazi manusia.
    • Masalah Lingkungan.
    • Kondisi dan Syarat-syarat Kerja, K3, Hubungan Industrial, Pekerja Anak, HIV/AIDS dll.
    • Pengurangan Kemiskinan, pengembangan kemitraan sektor swasta.
    • Etika bisnis.
    • Sektor bisnis di daerah konflik.
    • Lembaga-lembaga International : ILO, Global Compact,

    Contoh Program tanggung jawab sosial atau CSR adalah dari PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) mendapat pengakuan dari masyarakat. Melalui Program Indonesia Berprestasi, XL meraih Selular Award 2009 kategori Best Corporate Social Responsibily (CSR).

    Melalui penghargaan ini,XL berharap bisa ikut serta mendorong tumbuhnya motivasi masyarakat untuk mencari solusi-solusi alternatif secara mandiri dalam menghadapi persoalan sosial yang ada.

    Sementara itu, XL KuS yang diluncurkan sejak November 2008 merupakan upaya XL untuk membantu mengurangi kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi digital (digital divide) antara sekolah di perkotaan dan di pedesaan. Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun XL akan menyalurkan donasi KuS kepada 300 sekolah dalam program yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk sekolah dan guru, yang terdiri dari donasi komputer, pelatihan komputer, pengenalan dan penyediaan akses Internet, serta kursus bahasa Inggris. Selain itu XL juga memberikan akses internet serta pembelajaran mengenai penggunaan internet secara sehat.
    ( sumber:twitter.com

    2. Tantangan CSR ada dimana saja, baik pada tingkat nasional maupun internasional (global), meliputi :
    – Masalah Sosial : Human Resource, hak-hak pekerja, pekerja anak, pengembangan masyarakat setempat, pengangguran dsb.
    – Masalah Lingkungan : Polusi, Manajemen Pengolahan Limbah, penggunaan energi dsb.
    – Masalah Corporate Governance, korupsi, informasi keuangan dsb.
    – Masalah Etika : Paket Pengupahan dsb.

    3. Penerapan CSR ; Standard and Code, EU Initiative.
    • Pengembangan Masyarakat Setempat : meliputi Infrastruktur, Sekolah, Kesehatan dll.
    • Dialog dengan Stakeholder : Investor, Pemerintah, Serikat Pekerja dan LSM.
    • Pada 20 – 15 tahun yang lalu para pengusaha masih mengatakan, bahwa urusan kita adalah bisnis semata dan bukan urusan politik, namun saat ini karena tuntutan dari globalisasi pasar hal tersebut tidak memungkinkan lagi.
    • Menghadapi gambaran yang kompleks tersebut di atas, perusahaan berkewajiban membuat CSR sebagai bagian dari strategi bisnis utamanya: perusahaan harus memperhatikan etika bisnis, reputasi dan resiko manajemen, kekuatan konsumen dan tekanan pasar, kepuasan para investor, manajemen mata rantai supplier, sehingga akhirnya perusahaan mau tidak mau harus mengadopsi dan menerapkan kebijakan CSR.
    Sumber : H. Hasanuddin Rachman ; Ketua DPN APINDO, Ketua Komite Tetap Hubungan Industrial.

    Musfarita Affiani C2B 008054
    Regular A, Angkatan X

    Komentar oleh musfaritaaffiani | Juli 8, 2009 | Balas

  19. Selamat Siang Pak JO
    Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan program yang dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai wujud tanggungjawab dan kepedulian sosial. Namun demikian, perlu disadari bahwa CSR bukan semata program sosial yang menjadikan perusahaan sebagai sebuah “lembaga amal” ataupun “bagian dari departemen sosial milik pemerintah”.
    1. Menurut saya salah satu contoh perusahaan yang menerapakan CSR adalah PT. Djarum,dimana PT. Djarum telah melakukan program ini sejak perusahaan terbentuk, bidang kegiatan yang dilakukan dalam CSR dapat berupa pemberdayaan pembangunan kota, bantuan pendidikan utamanya pemberian beasiswa, bidang olahraga, seni dan budaya dll. sebagai contoh dalam bidang pendidikan (www.beswandjarum.com) Pt. Djarum memberikan beasiswa bagi siswa,mahasiswa berprestasi sampai dengan Srata 2 dan tidak menutup kemungkinan Strata 3 diharapkan mahasiswa yang menerima program Beasiswa Djarum akan mendapat tantangan menciptakan manusia yang cakap intelektual, emosional maupun spiritual, guna mewujudkan manusia Indonesia mendatang yang tangguh dalam menghadapi setiap problematik yang dihadapi di kemudian hari. Baik di tingkat nasional maupun internasional. Ini merupakan hal yang dapat menumbuhkan semangat untuk selalu meningkatkan prestasi. serta kita dapat melihat contoh yang sangat dekat dengan kita dimana djarum juga melakukan pencegahan global warming dengan melakukan penghijauan atau penenaman hutan kembali.ini merupakan suatu tindakan yang sangat positif yang dilakukan djrum dibidang tanggung jawab sosial.
    2.Tantangan yang harus dijawab terkait hal tersebut adalah bagaimana membangun konsep CSR yang benar-benar efektif dalam menjalankan fungsi sosial, namun tidak melupakan tujuan perusahaan untuk mencari keuntungan. Selain itu, bagaimana membangun konsep CSR yang memiliki dampak positif terhadap peningkatan keuntungan perusahaan, namun bukan berarti semata mencari keuntungan melalui tanggungjawab dan kepedulian sosial.
    3.PT. Djarum memiliki, 5 nilai-nilai inti dalam pengembangan perusahan. Nilai-nilai itu adalah 1).Fokus pada pelanggan, 2).Profesionlisme, 3).Organisasi yang terus belajar,4). Satu Keluarga,5). Tanggung Jawab Sosial.
    salah satu nya tanggung jawab sosial ini merupakan startegi djarum yang mampu memberikan profit dan keuntungan bagi perusahaan secara jangka panjang. Program CSR bermanfaat jangka panjang yang dimaksud yaitu program-program yang memiliki dampak positif untuk kemajuan masyarakat dan relasi antara masyarakat dengan perusahaan dalam jangka waktu yang panjang, bahkan kalau memungkinkan dapat menciptaan sebuah hubungan psikologis seumur hidup. dapat dicontohkan secara real bahwa djarum memberikan beasisi ke mahasiswa yang berpretasi dengan harapan dapat tercipta hubungan psikolgis, yang dimana apabila mahasiswa yang berprstasi tersebut telah menyelesaikan pendidikannya maka mahasiswa itu dapat memberikan kontribusi kepada djarum untuk lebih mengembangkan perusahaan djaraum tersebut.

    daftar pustaka:
    -http://www.beswandjarum.com
    -http://kafkapizechust.blogjurnalistikonlain.com

    sekian pak jo menurut pendapat saya. terima kasih
    Nama : Adhie Octo Rian
    Nim : C2B008003
    Magister Manajemen Unja
    Kelas Reguler Malam

    Komentar oleh ADHIE OCTO RIAN | Juli 8, 2009 | Balas

  20. Ellen Nandia
    angkatan X
    C2B008024

    Tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih singkatnya CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu komitmen yang berkelanjutan dari suatu perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi secara positif kepada karyawannya, komunitas dan lingkungan sekitarnya, serta masyarakat luas.
    Jadi selain mempunyai kewajiban ekonomis dan legal kepada shareholder, perusahaan juga diharapkan memiliki perhatian kepada stakeholders.

    1.contoh perusahaan yg menerapkan CSR salah satu nya adalah:
    PT.indofood.

    Corporate social responsibility yang dilakukan perusahaan, salah satunya ialah Indofood donation for Aceh, seperti dicantumkan dalam artikel dalam websitenya:
    On 26th December 2004, an 8.9 magnitude earthquake off the coast of North Sumatera generated a tsunami which hit coastal areas of North Sumatera, and several other countries in the region.

    PT Indofood Sukses Makmur Tbk and Subsidiaries took immediate steps to provide aid to the affected region by donating instant noodles from its nearest factory in Medan which was not affected by the earthquake. However, due to the inaccessibility of the affected region, the first shipment of aid consisting of instant noodles, baby biscuits, snack noodles and milk arrived on 29 December through the port of Belawan.

    To date, Indofood Group has pledged to donate a total of Rp 3 billion in cash and in kind (instant noodles, biscuit, baby food, cooking oil, flour etc), was channeled through “Indosiar Peduli”.

    On 30 December 2004, Indofood group has dispatched the first team of 13 volunteers to Banda Aceh to set up a command post to coordinate the distribution of aid and will followed by the other team of volunteers on a rotational basis. Indofood will also work with the World Health Organization and the Department of Health to set up a Trauma Centre in Banda Aceh to aid the victims of the disaster.

    Indofood employees throughout Indonesia were touched by the tragedy unfolding on their television screens and donated a total of Rp 407.473.050,- million to date, and more than 300 bales of clothes and blankets.

    Perusahaan juga mempunyai “Uang Muka Untuk/Dari Proyek KKPA”;
    CI, KGP, RAP dan VKS, Anak Perusahaan mengembangkan proyek perkebunan dengan skema Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Pengembangan perkebunan tersebut didanai dengan kredit investasi dari bank kepada Koperasi Unit Desa (KUD) sebagi perwakilan dari para petani.

    2.tantangan dalam menerapkan CSR adalah
    -pendidikan:bagaimana idofood membantu masyarakat dalam mendapatkan pendidikan yg layak..
    -kesehatan:meningkatkan layanan kesehatan dan membantu agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam kesehatan..
    -lingkungan hidup:pengelolahan limbah

    3.CSR yang diterapkan adalah strategi krn pt indofood menyadari pentingnya CSR bagi perushaan untuk kepedulian sosial untuk jangka panjang.
    dan itu dapat membantu masyarakat untuk menyadari bahwa penting nya tanggung jawab sosial..

    Komentar oleh Ellen Nandia | Juli 9, 2009 | Balas

  21. Selamat siang pak…

    CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.CSR sering disebut dengan Pemberi/ amal prusahaan, kedermawanan perusahaan.

    1. Proyek pembangunan (PLMTH) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro merupakan  bagian dari  sumbangsih PT Coca-Cola Indonesia dalam membantu upaya pemulihan Aceh paska bencana tsunami. Selain pembangunan PLMTH ini, Coca-Cola juga membantu pembangunan sekolah modular, sekolah permanen, dan beberapa kegiatan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat“, kata Titie Sadarini, Corporate Affairs Director, PT Coca-Cola Indonesia.

    2. Untuk mencapai fungsi dari proyak pengembangan PLMTH ini, maka penglibatan masyarakat lokal (termasuk di dalamnya tokoh-tokoh agama) telah dimulai sejak awal. Mulai dari survei lokasi, perencanaan sampai pembangunan PLTMH ini. Penglibatan masyarakat tersebut mempunyai hambatan dalam koordinasi dan pengarahan tentang pemahaman dan pengoperasian PLTMH (khusus operator lokal), juga pemberian pemahaman menumbuhkan dan menguatkan kesadaran masyarakat, yaitu kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan yang terkait dengan ketersediaan air Sungai Krueng Kala, yang merupakan sumber tenaga untuk pembangkit.

    3. Kelompok yang mendukung berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat dipisahkan dari para individu yang terlibat didalmnya, yakni pemilik dan karyawan, karena mereka tidak boleh hanya memikirkan keuntungan financial bagi perusahaannya saja. melainkan pula harus memliki kepekaan dan kepedulian terhadap publik, khusunya masyarakt yang tingal disekitar perusahaan. alasan adalah :

    – Masyarakat adalah sumber dari segala sumber daya yang dimiliki dan diproduksi oleh prusahaan, tanpa masyarakat perusahaan bukan saja tidak akan berarti, melainkan pula tidak akan berfungsi tanpa dukungan masyarakat, perusahaan mustahil memiliki pelanggan, pegawai dan sumber-sumber produksi lainnya yang bermanfaat bagi perusahaan.

    sekian pak jo pendapat saya..terima kasih.

    Rinoldy Z
    NIM : C2B008068
    Magister manajemen
    Kelasa Reguler Malam

    Komentar oleh Rinoldy Z | Juli 9, 2009 | Balas

  22. Selamat malam pak jo…….
    CSR (Corporate Social Responsibility adalah sebuah program yang mengimplementasikan tanggungjawab sosial sebuah perusahaan kepada masyarakat luas.
    1. Contoh Perusahaan yang menerapkan CSR adalah PT. Djarum, yang mengimplementasikan CSR-nya dalam bentuk pemberian beasiswa.CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan, sebab dengaan adanya respon perusahaan terhadap tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas akan berdampak terhadap imej positif perusahaan itu sendiri, disamping orientasi profit kepedulian terhadap masyarakat juga sangat penting sehingga secara tidak langsung akan mengingatkan masyarakat terhadap perusahaan dan produk yang dipasarkannya akibat dari penerapan CSR itu sendiri.

    2. Tantangan perusahaan dalam menerapkan CSR menurut saya ada dua sisi, internal dan ekternal. Dari dalam perusahan sendiri akan terbentur dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, misalnya target jangka pendek adalah menginvestasikan modal pada kegiatan pengembangan produk dan memperluas pasar yang berorintasi profit maximum dengan pertimbangan kemampuan finansial perusahaan yang tersedia, sementara ada kebijakan CSR yang tetap harus dijalankan demi nama baik perusahaan dan kepedulian sosial. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap kebijakan direksi mana yang lebih diperioritaskan, atau dilaksankan bersamaan dan ini membutuhkan analisis dan kajian yang matang agar tidak lepas dari rencana awal perusahaan.
    Dari sisi external, adanya persaingan bisnis antara perusahaan sejenis maupun yang berbeda jenis produknya, dimana selalu ada persaingan yang terjadi antara sesama perusahaan dalam mengusai passar. dengan demikian masing-masing perusahaan tentu berusaha sebaik mungkin untuk melakukan expansi pasar agar mendapat respon positif dari masyrakat luas, yang bermuiara kepada strategi dan kebijakan yang diterapkan untuk saling mengalahkan.

    3. CSR yang diterpkan oleh PT. Jarum yang menjadi bagian strategi perusahaan adalah dengan memberikan beasiswa kepada masayarakagt yang mampu berkompetisi melalui seleksi, program ini tentu merupakan sebuah strategi yang brilian karena dengan memberikan beasiswa kepada masyarakat akan menjadikan sebuah investasi bagi perusahaan itu kedepan. Sebagai ilustrasi dalam 1 tahun diberikan beasiswa untuk program S1 sebayak 50 orang, maka dalam 4 tahun kedepan akan tercipta 50 orang sarjana yang akan tetap setia pada perusahaan yang telah memberikan beasiswa kepada mereka tentunya dengan konsekwensi, asumsi dan syarat-syarat yang telah disepakati.Dari 50 orang sarjana tersebut minimal 20 % dapat dipekerjakan pada perusahaan dengan disiplin ilmu masing-masing, ke depan tentu akan menjadikan perusahaan lebih maju dan berkembang.

    Saudara Deden, dibawah makalah yang saya sajikan ada pertanyaan. Fokus ada menjawab pertanyaan. Sukses selalu.

    Komentar oleh Deden kurnia (kelas H, ak. x) | Juli 9, 2009 | Balas

  23. Corporate Social Resposibility (CSR)

    Praktek tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) oleh korporasi besar, saat ini sedang disorot tajam. Beberapa contoh kasus, seperti: lumpur Lapindo di Porong, lalu konflik masyarakat Papua dengan PT. Freeport Indonesia, konflik masyarakat Aceh dengan Exxon Mobile yang mengelola gas bumi di Arun, pencemaran oleh Newmont di Teluk Buyat dan sebagainya. Merupakan beberapa contoh namun bukan yang terakhir tentang bagaimana realisasi tanggung jawab sosial itu. menelaah praktek CSR berkaitan dengan peran aktif masyarakat sipil dalam memaknai dan turut membentuk konsep kemitraan yang merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan dalam mewujudkan CSR.
    Dalam artikel “How Should Civil Society (and The Government) Respond to ‘Corporate Social Responsibility’?”, Hamann dan Acutt,2003 (dalam Pamadi Wibowo) menelaah motivasi yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Ada dua motivasi utama. Pertama, akomodasi, yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superficial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial. Singkatnya, realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya.
    Kedua, legitimasi, yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Pertanyaan-pertanyaan absah apakah yang dapat diajukan terhadap perilaku korporasi, serta jawaban-jawaban apa yang mungkin diberikan dan terbuka untuk diskusi? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi ini berargumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalis dan, lebih khusus, kiprah para korporasi raksasa.
    Telaah Hamann dan Acutt sangat relevan dengan situasi implementasi CSR di Indonesia dewasa ini. Khususnya dalam kondisi keragaman pengertian konsep dan penjabarannya dalam program-program berkenaan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Keragaman pengertian konsep CSR adalah akibat logis dari sifat pelaksanaannya yang berdasarkan prinsip kesukarelaan. Tidak ada konsep baku yang dapat dianggap sebagai acuan pokok, baik di tingkat global maupun lokal.
    Secara umum Perusahaan sebagai sebuah sistem, dalam keberlanjutan dan keseimbangannya tidak bisa berdiri sendiri. Perusahaan memerlukan kemitraan yang saling timbal balik dengan institusi lain. Perusahaan selain mengejar keuntungan ekonomi untuk kesejahteraan dirinya, juga memerlukan alam untuk sumber daya olahannya dan stakeholders lain untuk mencapai tujuannya. Dengan menggunakan pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan, perusahaan tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga keuntungan secara sosial. Dengan demikian keberlangsungan usaha tersebut dapat berlangsung dengan baik dan secara tidak langsung akan mencegah konflik yang merugikan.
    Sebagai contoh studi kasus penerapan tanggung jawab sosial perusahaan pada perusahaan besar pengekspor bubur kertas PT Toba Pulp Lestari, di Porsea, Sumatera Utara (Hanungbayu:2008). Perusahaan besar tersebut dari segi potensi produksi, luas pasar, posisi geografis dan luas lahan, selain memberi pengaruh besar perekonomian masyarakat sekitar, juga berpotensi menimbulkan masalah sosial dan lingkungan.
    Pada tahun 1998, perusahaan ditutup akibat pertentangan dari masyarakat akibat tidak adanya tanggung jawab sosial perusahaan. Setelah dilakukan audit menyeluruh, pada tahun 2003, perusahaan beroperasi kembali dengan etika dan budaya perusahaan yang baru. Dengan paradigma baru, perusahaan menerapkan etika bisnisnya dengan baik. Dengan begitu perusahaan telah mendapatkan makna kinerja yang lebih baik, dan memberi makna positif bagi lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
    Dalam penelitian ini, penulis (Hanungbayu) mendapatkan deskripsi tentang wujud implementasi tanggung jawab sosial perusahaan pada PT Toba Pulp Lestari, yang pernah mengalami konflik sosial sehingga tidak saja menimbulkan kerugian materi, namun sampai dengan masalah keberlangsungan usaha. Tanggung jawab sosial perusahaan dapat tumbuh dan berkembang dalam suatu perusahaan ketika perusahaan tersebut memiliki budaya perusahaan (corporate culture) yang mengutamakan masalah sosial dan humanity. Budaya perusahaan seperti inilah yang melandasi seluruh proses bisnis perusahaan yang akan tampak pada value chain management-nya. PT Toba Pulp Lestari saat ini mempunyai visi dan misi yang menunjang budaya perusahaannya tersebut dengan mengacu pada etika ‘empati’ terhadap hubungan antar manusia, sehingga bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang dipakai merupakan keinginan tulus untuk melakukan kegiatan yang baik yang benar-benar berasal dari visi dan misi perusahaan itu.
    Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, PT Toba Pulp Lestari saat ini telah memberi makna implementasi tanggung jawab sosial perusahaan sebagai suatu bentuk tanggung jawab perusahaan untuk mempertemukan berbagai kepentingan yang terkait dengan aktivitas perusahaan. Tidak saja bagi kepentingan internal, tetapi juga kepentingan eksternal (sesuai dengan pendekatan stakeholders).
    Secara langsung atau tidak, bahwa implementasi tanggung jawab sosial perusahaan yang baik, telah memberi makna ekonomi bagi kinerja perusahaan PT Toba Pulp Lestari. Kinerja baik ekonominya ditandai oleh kemampuannya kembali berproduksi dengan tanpa gangguan dari masyarakat, untuk kemudian dapat memperluas dan mempertahankan pasar internasionalnya. Karena dukungan tanggung jawab sosial perusahaan yang baik pulalah, kemudian PT Toba Pulp Lestari mendapat image baik sebagai perusahaan internasional. Pengakuan internasional PT Toba Pulp Lestari, yang paling penting adalah diperolehnya penghargaan sertifikasi standar mutu ISO 9000, dan sertifikasi manajemen lingkungan melalui ISO 14000.
    Tanggung jawab sosial PT Toba Pulp Lestari bagi masyarakat sekitar dalam bentuk kemitraan, pengembangan komunitas, dan pelayanan publik, memiliki makna ekonomi berupa besarnya dana yang mengalir secara langsung dari perusahaan, atau tidak langsung sebagai efek multiplier dari perputaran roda ekonomi masyarakat sekitar itu sendiri. Terbukanya berbagai jenis lapangan kerja baru, berbagai bentuk program mitra kerja perusahan, dan juga berkembangnya sektor informal, adalah sebagai bukti menggeliatnya perekonomian masyarakat sekitar. Pembangunan sarana fisik bagi lingkugan masyarakat, sumbangan di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat, secara tidak langsung juga telah memberi pengaruh peningkatan kualitas SDM dan potensi ekonomi masyarakat.
    Namun sekarang telah banyak perusahaan yang sangat menganggap penting masalah CSR ini. Perusahaaan-perusahaan tersebut tidak berpendapat bahwa sebuah perusahaan didirikan tidak hanya sekedar untuk memberikan keuntungan kepada pemegang saham dan menyediakan lapangan kerja. Ataupun membayar pajak kepada pemerintah namun juga harus dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat. Setiap perusahaan yang ingin disegani dan didukung oleh masyarakat sekitarnya harus bertindak dengan prinsip keadilan, peduli pada sesama dan pada lingkungan alam, jika ingin mendapatkan dan memelihara reputasi yang bersih dan baik. Perangkat yang diperlukan sebagai panduan dalam kegiatan operasional perusahaan dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan yang menjalankan CSR dapat menikmati hal-hal positif.
    Menyadari pentingnya CSR dan citra perusahaan yang baik, BNI memberikan paket remunerasi yang wajar dan cukup kompetitif kepada pegawainya. Sedangkan bagi lingkungan secara umum, perusahaan harus berkomitmen menjalankan program CSR sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan bisnisnya. Sebagai perusahaan harusnya memahami adanya misi tanggung jawab sosial untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
    Salah satu contoh perusahaan yang telah melakukan praktik CSR adalah BNI. Di tahun 2007, BNI menetapkan 6 (enam) bidang yang menjadi fokus kegiatan CSR, yaitu pendidikan, kesehatan, pengembangan Sarana dan Prasarana Umum, kegiatan keagamaan, bantuan bencana dan pelestarian alam. Di samping itu, BNI juga menyisihkan sebagian dana CSR untuk mengikuti program BUMN Peduli, bersama dengan perusahaan milik negara lainnya, dengan dikoordinasikan oleh Kementerian Negara BUMN.
    Penyaluran dana untuk kegiatan CSR dilakukan secara proporsional, menyeimbangkan antara program yang direncanakan dengan permohonan diterima, sesuai dengan kondisi masyarakat di lingkungan operasional perusahaan. BNI mendanai sejumlah kegiatan CSR yang ditujukan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Jumlah dana yang telah dialokasikan sepanjang tahun 2007 untuk seluruh bidang tersebut mencapai Rp 34,77 miliar.
    Penyaluran dana dapat diberikan dalam bentuk tunai, natura dan pembiayaan kepada masyarakat di lingkungan operasional perusahaan di seluruh Indonesia, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah, LSM, yayasan sosial dan institusi lainnya serta 12 Kantor Wilayah BNI di seluruh Indonesia.
    Selain itu juga BNI mewujudkan tanggung jawabnya di Bidang Pendidikan dan Pelatihan melalui beberapa program beasiswa SD, SMP dan SMU, Renovasi Sekolahku di seluruh provinsi, program pengecatan sekolah, hingga penyediaan berbagai sarana pendukung pendidikan, seperti perpustakaan, buku, dan mobil perpustakaan kelilling. Di Bidang peningkatan Kesehatan BNI berperan aktif dalam menjalin kerjasama dengan lembaga yang bergerak di bidang kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat serta menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.
    Di Bidang Perbaikan Sarana dan Prasarana Umum BNI mendukung pembangunan fasilitas umum dengan turut merencanakan, melaksanakan dan membantu mengembangkan prasarana dan sarana umum di daerah yang memerlukan bantuan. Di bidang Sarana Ibadah / Keagamaan BNI mendukung kegiatan keagamaan yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang peningkatan kualitas hidup. Dalam melaksanakan tanggung jawab sosial di bidang ini secara berkelanjutan, agama dipandang sebagai salah satu faktor yang menentukan masa depan.
    Selain itu juga BNI memprioritaskan bantuan kepada masyarakat yang mengalami musibah bencana alam di seluruh Indonesia. Bantuan yang diberikan bersifat pertolongan pertama pada saat bencana terjadi, dalam bentuk bantuan kesehatan, logistik, makanan, dan alat-alat kebersihan. BNI juga telah memberikan bantuan di Bidang Pelestarian Alam perhatian BNI di bidang ini telah diwujudkan melalui bantuan program penghijauan dan rehabilitasi taman.
    Sebagai kesimpulan akhir dapat dijelaskan bahwa Tanggung jawab sosial adalah bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan dimana perusahaan itu berada. Bentuk-bentuk tanggung jawab sosial ini misalnya perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan. Ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroaan Terbatas, pada Pasal 74 mengatur mengenai kewajiban perusahaan melaksanakan tanggung jawab sosialnya terhadap lingkungan.

    Daftar Pustaka
    Hanungbayu, Setiyabisma. 2008. Optimalisasi Penerapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dengan Menggunakan Metode Value Chain Management. http://www.hanungbayu.com
    Wibowo, Pamadi. 2004. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan masyarakat. Pusat Data dan Analisa Tempo. http://www.PDAT.co.id
    http://www.bni.co.id
    Yenni Mangoting. Biaya Tanggung Jawab Sosial Sebagai Tax Benefit. JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 9, NO. 1, MEI 2007: 35-42 Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting 42

    NURMANSYAH
    C2B008059
    KELAS REGULER

    Nurmansyah, penjelasannmu konflit, terutama daftar pustaka. Tapi ada baiknya kalau jawabannya sesuai dg pertanyaan.

    Komentar oleh NURMANSYAH/NIM. C2B008059 | Juli 10, 2009 | Balas

  24. CONTOH PERUSAHAAN
    Pertamina sebagai perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi Negara terbesar memiliki tanggung jawab yang tinggi baik kepada pemegang saham (Negara) dan juga para stake holdernya. Pertamina didrikan pada 10 Desember 1957, dan diubah menjadi perseroan pada tanggal 16 September 2003. Pertamina didirikan dengan visi menjadi perusahaan yang unggul, maju dan terpandang, dan salah satu misinya adalah memberikan nilai tambah lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja dan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
    Dilihat dari salah satu misinya, maka Pertamina menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dianggap sebagai tanggung jawab total perusahaan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasi perusahaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Watson (1990) bahwa CSR merupakan inti bisnis yang berkontribusi kepada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, bekerja sama dengan keluarga, komunitas local, masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Ada 5 alasan yang mendasar mengapa Pertamina mejalankan program CSR diataranya: 1) Internal, kesadaran perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; 2) Keamanan, lingkungan yang kondusif dari masyarakat agar kegiatan operasional perusahaan berjalan lancer; 3) Tuntutan, adanya kebutuhan masyarakat; 4) Bisnis, peningkatan product value perusahaan agar dapat diterima di pasar; 5) Legal, diatur oleh Negara (PERMEN BUMN No. 05/MBU/2007 tentang Program Pembinaan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan).
    Program CSR Pertamina memiliki misi untuk mewujudkan kepedulian social PT Pertamina (Persero) dan kontribusi perusahaan terhadap pengembangan masyarakat yang berjkelanjutan, dan mengimplementasikan komitmen perusahaan terhadap CSR untuk memberikan nilai tambah bagi stakeholder dalam upaya mendukung kemajuan perusahaan. Program CSR ini dirancang dengan criteria diantaranya sesuai kebutuhan masyarakat, sesuai dengan isu social yang spesifik dan dilakukan dengan pendekatan yang inovatif, dalam jangka panjang akan berpotensi mengatasi isu-isu social, ditujukan untuk menantisipasi masalah social dan akan mempertegas pencapaian tujuan, serta criteria kemitraan dengan pemerintah, LSM dan perguruan tinggi.
    Dari Misi dan criteria inilah maka PT Pertamina memprioritaskan program pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Program CSR Pertamina dalam bidang pendidikan contohnya beasiswa, rehabilitasi dan bantuan belajar, Prtamina Youth Program dll. Bidang Kesehatan contohnya donor darah, bakti social kesehatan, Pertamina SEHATI (Pertamina Sehat untuk ibu dan Anak), dan Peramina untuk anak Indonesia. Bidang Lingkungan contohnya Penghijauan, konservasi mangrove, coastal clean up, dan Pertamina untuk anak Indonesia (WC ku bersih). Bidang Pemberdayaan Mayarakat contohnya bantuan permodalan, pelatihan keterampilan, penyuluhan pertanian dan perikanan.

    TANTANGAN DALAM PENERAPAN CSR
    Standar operasional mengenai bagaimana mengevaluasi kegiatan CSR juga masih diperdebatkan akibatnya, CSR menjadi sulit diaudit. Banyak perusahaan yang menjalankan CSR dengan meniru atau sekedar menghabiskan anggaran, diantaranya hanya dengan membagikan sembako atau menyelengarakan suanatan massal sekali setahun. Hal ini terjadi karena aspirasi dan kebutuhan masyarakat kurang diperhatikan, sehingga program CSR di satu wilayah menjadi seragam dan seringkali tumpang tindih. Dari hal tersebutlah maka program CSR tidak dapat befungsi sebagaimana mestinya akan tetapi hanya akan menimbulkan ketergantungan/candu bagi masyarakat, atau menjadi alat bagi masyarakat untuk memeras perusahaan atau bias juga akan merusak perusahaan dan masyarakat.

    CSR SEBAGAI STRATEGI PERUSAHAAN
    CSR memberi manfaat positif terhadap perusahaan, terutama dalam jangka panjang. Dan juga selain menegaskan brand differentiation perusahaan, CSR juga berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh license to operate, baik dari pemerintah maupun masyarakat serta berfungsi sebagai strategi risk management perusahaan (Suharto, 2008).
    Pakar pemasaran Craig Semit (dalam Aryani, 2006) berpendapat bahwa kegiatan CSR harus disikapi secara strategis dengan melakukan alighment (penyelarasan) inisiatif CSR yang relevan dengan produk inti (core product) dan pasar inti (core market), membangun indentitas merek (brand indentity), bahkan lebih tegas lagi untuk menggaet pangsa pasar, melakukan penetrasi pasar, atau menghancurkan pesaing.
    Kegiatan CSR yang diarahkan memperbaiki penyelarasan antara manfaat sosial dan bisnis dari kegiatan CSR yang bertujuan untuk meraih keuntungan materi dan keuntungan sosial dalam jangka panjang. CSR tidak haram dipraktikkan, bahkan dengan target mencari untung. Yang terpenting adalah kemampuan menerapkan strategi. Jangan sampai karena CSR biaya operasional justru menggerogoti keuangan. Jangan pula karena praktik CSR masyarakat justru antipati.

    Komentar oleh Fenny Yuhanty (C2B008030) | Juli 10, 2009 | Balas

  25. CONTOH PERUSAHAAN
    Pertamina sebagai perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi Negara terbesar memiliki tanggung jawab yang tinggi baik kepada pemegang saham (Negara) dan juga para stake holdernya. Pertamina didrikan pada 10 Desember 1957, dan diubah menjadi perseroan pada tanggal 16 September 2003. Pertamina didirikan dengan visi menjadi perusahaan yang unggul, maju dan terpandang, dan salah satu misinya adalah memberikan nilai tambah lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja dan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
    Dilihat dari salah satu misinya, maka Pertamina menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dianggap sebagai tanggung jawab total perusahaan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasi perusahaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Watson (1990) bahwa CSR merupakan inti bisnis yang berkontribusi kepada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, bekerja sama dengan keluarga, komunitas local, masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Ada 5 alasan yang mendasar mengapa Pertamina mejalankan program CSR diataranya: 1) Internal, kesadaran perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup; 2) Keamanan, lingkungan yang kondusif dari masyarakat agar kegiatan operasional perusahaan berjalan lancer; 3) Tuntutan, adanya kebutuhan masyarakat; 4) Bisnis, peningkatan product value perusahaan agar dapat diterima di pasar; 5) Legal, diatur oleh Negara (PERMEN BUMN No. 05/MBU/2007 tentang Program Pembinaan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan).
    Program CSR Pertamina memiliki misi untuk mewujudkan kepedulian social PT Pertamina (Persero) dan kontribusi perusahaan terhadap pengembangan masyarakat yang berjkelanjutan, dan mengimplementasikan komitmen perusahaan terhadap CSR untuk memberikan nilai tambah bagi stakeholder dalam upaya mendukung kemajuan perusahaan. Program CSR ini dirancang dengan criteria diantaranya sesuai kebutuhan masyarakat, sesuai dengan isu social yang spesifik dan dilakukan dengan pendekatan yang inovatif, dalam jangka panjang akan berpotensi mengatasi isu-isu social, ditujukan untuk menantisipasi masalah social dan akan mempertegas pencapaian tujuan, serta criteria kemitraan dengan pemerintah, LSM dan perguruan tinggi.
    Dari Misi dan criteria inilah maka PT Pertamina memprioritaskan program pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Program CSR Pertamina dalam bidang pendidikan contohnya beasiswa, rehabilitasi dan bantuan belajar, Prtamina Youth Program dll. Bidang Kesehatan contohnya donor darah, bakti social kesehatan, Pertamina SEHATI (Pertamina Sehat untuk ibu dan Anak), dan Peramina untuk anak Indonesia. Bidang Lingkungan contohnya Penghijauan, konservasi mangrove, coastal clean up, dan Pertamina untuk anak Indonesia (WC ku bersih). Bidang Pemberdayaan Mayarakat contohnya bantuan permodalan, pelatihan keterampilan, penyuluhan pertanian dan perikanan.

    TANTANGAN DALAM PENERAPAN CSR
    Standar operasional mengenai bagaimana mengevaluasi kegiatan CSR juga masih diperdebatkan akibatnya, CSR menjadi sulit diaudit. Banyak perusahaan yang menjalankan CSR dengan meniru atau sekedar menghabiskan anggaran, diantaranya hanya dengan membagikan sembako atau menyelengarakan suanatan massal sekali setahun. Hal ini terjadi karena aspirasi dan kebutuhan masyarakat kurang diperhatikan, sehingga program CSR di satu wilayah menjadi seragam dan seringkali tumpang tindih. Dari hal tersebutlah maka program CSR tidak dapat befungsi sebagaimana mestinya akan tetapi hanya akan menimbulkan ketergantungan/candu bagi masyarakat, atau menjadi alat bagi masyarakat untuk memeras perusahaan atau bias juga akan merusak perusahaan dan masyarakat.

    CSR SEBAGAI STRATEGI PERUSAHAAN
    CSR memberi manfaat positif terhadap perusahaan, terutama dalam jangka panjang. Dan juga selain menegaskan brand differentiation perusahaan, CSR juga berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh license to operate, baik dari pemerintah maupun masyarakat serta berfungsi sebagai strategi risk management perusahaan (Suharto, 2008).
    Pakar pemasaran Craig Semit (dalam Aryani, 2006) berpendapat bahwa kegiatan CSR harus disikapi secara strategis dengan melakukan alighment (penyelarasan) inisiatif CSR yang relevan dengan produk inti (core product) dan pasar inti (core market), membangun indentitas merek (brand indentity), bahkan lebih tegas lagi untuk menggaet pangsa pasar, melakukan penetrasi pasar, atau menghancurkan pesaing.
    Kegiatan CSR yang diarahkan memperbaiki penyelarasan antara manfaat sosial dan bisnis dari kegiatan CSR yang bertujuan untuk meraih keuntungan materi dan keuntungan sosial dalam jangka panjang. CSR tidak haram dipraktikkan, bahkan dengan target mencari untung. Yang terpenting adalah kemampuan menerapkan strategi. Jangan sampai karena CSR biaya operasional justru menggerogoti keuangan. Jangan pula karena praktik CSR masyarakat justru antipati.

    Fenny Yuhanty (C2B008030/Angkatan X/Ruang H)

    Komentar oleh Fenny Yuhanty (C2B008030) | Juli 10, 2009 | Balas

  26. Tanggapan dari Hasil Seminar dengan Judul:

    -Model Tanggung Jawab Sosial Industri Dalam Pemanfaatan Hasil-hasil Iptek.

    Ditampilkan Oleh:Encah Wiharsah
    Program Magister Manajemen Universitas Jambi Kelas X Malam

    1.Sebagai contoh perusahaan yang menerapkan CSR adalah :
    -Bank BNI
    -PLN
    -Telkom
    -Astra
    -PT Djraum Kudus
    -WKS
    -Petro Cina
    -Freeport
    -Dll.

    Permasalahan permasalahan tersebut telah melakukan CSR(Corporate Social Responsibility) kebijakan Departemen Sosial RI sebagai lembaga konsial,lembaga.Pembina lembaga yang memberikan pengarahan agar kiranya program-program tersebut dapat lebih berhasil guna dan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

    Pada implementasinya sampai saat ini di Indonesia CSR masih cenderung bersifat charity/amal namun demikian melalui kegiatan monitoring,evaluasi,pembinaan oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Sosial melalui program KKDU(Kegiatan Keluarga Dunia Usaha) sudah mengarah kepada program yang sifatnya konstan dan berkelanjutan (sustainable).

    Di beberapa daerah yang mana di wilayahnya terdapat perusahaan internasional seperti Freeport sudah melakukan program-program permberdayaan masyarakat melaui kegiatan kelompok usaha bersama melibatkan tenaga-tenaga lokal yang profesional pada perusahaan tersebut,pemberian beasiswa untuk masyarakat sekitar dan lain lain.

    Sesungguhnya program CSR ini sangat mendukung keberhasilan daripada perusahaan karena upayanya dalam menjangkau pemangku kepentingan baik dari segi karyawan,pemasok,pelanggan maupun masyarakat walaupun memang program yang menjangkau pihak pemangku kepentingan masih ada proses sosialisasi secara tertutup.Tentunya apabila program idealnya seperti ini sudah dipastikan akan sangat berpengaruh positif karena semua yang terlibat dalam perusahaan terjangkau maka tentunya akan lebih terehabilitasi kearah pemberian umpan balik terhadap perkembangan perusahaan karena maju mundurnya perusahaan akan sangat tergantung kepada dukungan pihak-pihak terkait.

    2.Tantangan perusahaan dalam menerapkan CSR adalah:
    a.)Bahwa idealnya CSR yang diluncurkan,melalui koordinasi lintas sektor yang terkait adalah dilakukan secara professional agar berhasil guna bagi pemberdayaan masyarakat,akan tetapi tidak demikian halnya bahwa program CSR masih bersifat seremonial semata,hanya berdasarkan keikhlasan perusahaan semata/sesaat misalnya pemberian bantuan/santunan dengan tidak dilanjutkan dengan pembinaan,masih bersifat konsumtif,dengan demikian menjadi tidak berdampak pada perkembangan sosial ekonomi masyarakat

    b.)Penyaluran dana CSR tidak berdasarkan kajian sosial budaya masyarakat sehingga kemiskinan tidak berdampak positif terhadap perbaikan masyarakat sekitar

    c.)Perlu biaya ekstra untuk mendapakan hasil yang maksimal seperti contoh:
    -Dana penelitian/kegiatan
    -Dana konsultasi pengembangan

    Dan dana –dana lain yang berhubungan pemberian bantuan stimulant dan monitoring evaluasi tersebut.

    d.)Apabila hal ini terjadi/tidak profesional tentunya berakibat tidak berbekas kepada masyarakat dalam arti tidak berimbas sehingga seakan-akan perusahaan ini “mengalami kerugian” disatu sisi biaya sudah keluar banyak tetapi disisi lain masyarakat masih belum menerima dampak sentuhan positif.Dengan demikian terjadi kesenjangan sosial yang berakibat dengan semakin berkembangnya masalah sosial seperti:
    Konflik,bencana sosial,kemiskinan,kriminal,dan lain-lain.

    3.CSR yang diterapkan sebagai strategi perusahaan.
    Dimaksudkan bahwa CSR merupakan suatu usaha melambangkan komitmen.
    Haruslah dimiliki dengan adanya pemahaman yang memudahkan oleh pihak manajemen terhadap CSR menurut Wibisono(2007)menjelaskan manfaat CSR dalam konteks sebagai suatu strategi adalah :

    1.)Mempertahankan dan mendongkrak brand image perusahaan.
    Selama ini image masyarakat pada umumnya terutama perusahaan-perusahaan besar yang mengelola sumber daya alam adalah perusahaan sebagai perusak lingkungan,mempersempit lahan pertanian sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar,memperkaya orang asing,pembawa nilai-nilai budaya barat dan sebagainya.

    Dengan CSR iklim komunikasi dengan masyarakat menjadi kondusif(saling mendukung).

    2.)Mereduksi resiko bisnis
    Memberi keamanan/jaminan keamanan pada perusahaan untuk menjadi lebuh bebas bergerak tanpa adanya gangguan keamanan dan kecemburuan social masyarakat.

    3.)Melebarkan akses sumber daya
    Penekanannya lebih kepada hubungan/kemudahan atau aksesibilitas bagi lancarnya perusahaan dalam melakukan operasi di tengah masyarakat.Mampu koordinasi dengan lintas sektor terkait
    Contoh:Dengan Pemerintah Daerah setempat.

    4.)Memperoleh License to operate
    Mendapat kemudahan dan timbul rasa memiliki/kebanggan dari masyarakat sekitar.

    5.)Memperbaiki hubungan dengan pemangku kepentingan
    Terjadi hubungan yang baik(mutualisme) dengan masyarakat,karyawan,pemasok,dan pelanggan dengan harapan dapat berdampak positif terhadap pengembangan perusahaan.

    6.)Memperbaiki hubungan dengan regulator
    Regulator:Yang memiliki peraturan

    Artinya dengan diluncurkannya program CSR maka pemerintah secara langsung ataupun tidak terlibat dalam program pembinaan,bimbingan,dan sebagainya.

    7.)Meningkatkan semangat produktivitas.
    Dengan dukungan yang cukup tinggi dari pemangku kepentingan secara langsung maupun tidak langsung dapat memberi semangat berproduksi karena pihak tersebut merasakan dari keuntungan perusahaan yang sebagian keuntungannya untuk CSR.

    8.)Dengan perhatian semakin tinggi terhadap semua pemangku kepentingan,tanggung jawab sosial/kepedulian kepada semua…terutama masyarakat sekitar yang perlu pemberdayaan dipastikan penghargaan dari pemerintah/masyarakat akan semakin meningkat.

    Komentar oleh Encah Wiharsah | Juli 10, 2009 | Balas

  27. Tanggapan dari Hasil Seminar dengan Judul:

    -Model Tanggung Jawab Sosial Industri Dalam Pemanfaatan Hasil-hasil Iptek.

    Ditampilkan Oleh:Encah Wiharsah
    Program Magister Manajemen Universitas Jambi Kelas X Malam

    1.Sebagai contoh perusahaan yang menerapkan CSR adalah :
    -Bank BNI
    -PLN
    -Telkom
    -Astra
    -PT Djarum Kudus
    -WKS
    -Petro Cina
    -Freeport
    -Dll.

    Permasalahan permasalahan tersebut telah melakukan CSR(Corporate Social Responsibility) kebijakan Departemen Sosial RI sebagai lembaga konsial,lembaga.Pembina lembaga yang memberikan pengarahan agar kiranya program-program tersebut dapat lebih berhasil guna dan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

    Pada implementasinya sampai saat ini di Indonesia CSR masih cenderung bersifat charity/amal namun demikian melalui kegiatan monitoring,evaluasi,pembinaan oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Sosial melalui program KKDU(Kegiatan Keluarga Dunia Usaha) sudah mengarah kepada program yang sifatnya konstan dan berkelanjutan (sustainable).

    Di beberapa daerah yang mana di wilayahnya terdapat perusahaan internasional seperti Freeport sudah melakukan program-program permberdayaan masyarakat melaui kegiatan kelompok usaha bersama melibatkan tenaga-tenaga lokal yang profesional pada perusahaan tersebut,pemberian beasiswa untuk masyarakat sekitar dan lain lain.

    Sesungguhnya program CSR ini sangat mendukung keberhasilan daripada perusahaan karena upayanya dalam menjangkau pemangku kepentingan baik dari segi karyawan,pemasok,pelanggan maupun masyarakat walaupun memang program yang menjangkau pihak pemangku kepentingan masih ada proses sosialisasi secara tertutup.Tentunya apabila program idealnya seperti ini sudah dipastikan akan sangat berpengaruh positif karena semua yang terlibat dalam perusahaan terjangkau maka tentunya akan lebih terehabilitasi kearah pemberian umpan balik terhadap perkembangan perusahaan karena maju mundurnya perusahaan akan sangat tergantung kepada dukungan pihak-pihak terkait.

    2.Tantangan perusahaan dalam menerapkan CSR adalah:
    a.)Bahwa idealnya CSR yang diluncurkan,melalui koordinasi lintas sektor yang terkait adalah dilakukan secara professional agar berhasil guna bagi pemberdayaan masyarakat,akan tetapi tidak demikian halnya bahwa program CSR masih bersifat seremonial semata,hanya berdasarkan keikhlasan perusahaan semata/sesaat misalnya pemberian bantuan/santunan dengan tidak dilanjutkan dengan pembinaan,masih bersifat konsumtif,dengan demikian menjadi tidak berdampak pada perkembangan sosial ekonomi masyarakat

    b.)Penyaluran dana CSR tidak berdasarkan kajian sosial budaya masyarakat sehingga kemiskinan tidak berdampak positif terhadap perbaikan masyarakat sekitar

    c.)Perlu biaya ekstra untuk mendapakan hasil yang maksimal seperti contoh:
    -Dana penelitian/kegiatan
    -Dana konsultasi pengembangan

    Dan dana –dana lain yang berhubungan pemberian bantuan stimulant dan monitoring evaluasi tersebut.

    d.)Apabila hal ini terjadi/tidak profesional tentunya berakibat tidak berbekas kepada masyarakat dalam arti tidak berimbas sehingga seakan-akan perusahaan ini “mengalami kerugian” disatu sisi biaya sudah keluar banyak tetapi disisi lain masyarakat masih belum menerima dampak sentuhan positif.Dengan demikian terjadi kesenjangan sosial yang berakibat dengan semakin berkembangnya masalah sosial seperti:
    Konflik,bencana sosial,kemiskinan,kriminal,dan lain-lain.

    3.CSR yang diterapkan sebagai strategi perusahaan.
    Dimaksudkan bahwa CSR merupakan suatu usaha melambangkan komitmen.
    Haruslah dimiliki dengan adanya pemahaman yang memudahkan oleh pihak manajemen terhadap CSR menurut Wibisono(2007)menjelaskan manfaat CSR dalam konteks sebagai suatu strategi adalah :

    1.)Mempertahankan dan mendongkrak brand image perusahaan.
    Selama ini image masyarakat pada umumnya terutama perusahaan-perusahaan besar yang mengelola sumber daya alam adalah perusahaan sebagai perusak lingkungan,mempersempit lahan pertanian sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar,memperkaya orang asing,pembawa nilai-nilai budaya barat dan sebagainya.

    Dengan CSR iklim komunikasi dengan masyarakat menjadi kondusif(saling mendukung).

    2.)Mereduksi resiko bisnis
    Memberi keamanan/jaminan keamanan pada perusahaan untuk menjadi lebuh bebas bergerak tanpa adanya gangguan keamanan dan kecemburuan social masyarakat.

    3.)Melebarkan akses sumber daya
    Penekanannya lebih kepada hubungan/kemudahan atau aksesibilitas bagi lancarnya perusahaan dalam melakukan operasi di tengah masyarakat.Mampu koordinasi dengan lintas sektor terkait
    Contoh:Dengan Pemerintah Daerah setempat.

    4.)Memperoleh License to operate
    Mendapat kemudahan dan timbul rasa memiliki/kebanggan dari masyarakat sekitar.

    5.)Memperbaiki hubungan dengan pemangku kepentingan
    Terjadi hubungan yang baik(mutualisme) dengan masyarakat,karyawan,pemasok,dan pelanggan dengan harapan dapat berdampak positif terhadap pengembangan perusahaan.

    6.)Memperbaiki hubungan dengan regulator
    Regulator:Yang memiliki peraturan

    Artinya dengan diluncurkannya program CSR maka pemerintah secara langsung ataupun tidak terlibat dalam program pembinaan,bimbingan,dan sebagainya.

    7.)Meningkatkan semangat produktivitas.
    Dengan dukungan yang cukup tinggi dari pemangku kepentingan secara langsung maupun tidak langsung dapat memberi semangat berproduksi karena pihak tersebut merasakan dari keuntungan perusahaan yang sebagian keuntungannya untuk CSR.

    8.)Dengan perhatian semakin tinggi terhadap semua pemangku kepentingan,tanggung jawab sosial/kepedulian kepada semua…terutama masyarakat sekitar yang perlu pemberdayaan dipastikan penghargaan dari pemerintah/masyarakat akan semakin meningkat.

    Komentar oleh Encah Wiharsah | Juli 10, 2009 | Balas

  28. TANGGUNG JAWAB SOSIAL (Corporate Social Responsibility)

    Oleh : Sri Indah Handayani – C2B008073
    Magister Manajemen UNJA Angkatan 10 (Reguler Class)

    Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

    Lebih lanjut disebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan”, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam
    melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

    Menurut Baker (2007), tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal (pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain).

    Esensi tanggung jawab sosial. Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial perushaan dapat beraneka ragam. Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development). Menurut Andi Firman (2007) tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi.

    Tanggung jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.

    Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis. Menurut Bank Dunia dalam Martanti (2007), tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.

    Dengan adanya tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan. Baker (2007) menyebutkan bahwa ada dua model penerapan tanggung jawab sosial. Model tersebut adalah:

    1)Model Amerika – Tradisional. Model ini lebih bersifat filantropis/karitas. Pada model ini perusahaan mendapatkan laba sebesarbesarnya, melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan dan menyumbangkan keuntungannya kepada masyarakat.

    2)Model Eropa-Modern. Model ini lebih integrative, memfokuskan diri pada bidang usaha utama perusahaan yang dijalankan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.

    Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain. Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial di baliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan di mata publik ataupun pemerintah. Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main.

    Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan. CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya.

    PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) kembali meraih penghargaan dibidang Corporate Social Responsibility (tanggung jawab sosial). Dalam Selular Forum yang diselenggarakan atas kerjasama Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) dan Majalah Seluler, Telkom dinobatkan
    sebagai operator yang melakukan program tanggungjawab sosial dengan cakupan dan sasaran paling luas diantara operator-operator telekomunikasi di Indonesia (the Most Coverage and Target in Corporate Social Responsibility).

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom cukup beragam dengan jangkauan seluruh Indonesia. Salah satu kegiatan tanggung jawab sosial Telkom dikelola oleh unit Telkom Community Development Center (Telkom CDC) yang berdiri secara resmi sejak 2001. melalui CDC, Telkom mengelola program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang tersebar di seluruh Nusantara.

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom yang cukup menonjol adalah di bidang pendidikan. Pada posisi s/d Triwulan III 2006, dana yang dikeluarkan untuk bantuan pendidikan dan pelatihan (BPP) mencapai 49% dari seluruh anggaran Bina Lingkungan Telkom. Bank Mandiri, sebagai salah bank pemerintah telah merealisasikan Program Bina Lingkungan 2007 di bidang kesehatan dengan melaksanakan khitanan massal bagi 5.000 anak yang tersebar di 15 lokasi kota besar Indonesia.

    Kegiatan ini juga sebagai bentuk kepedulian Bank Mandiri terhadap anak-anak tidak mampu. Selain bank pemerintah, Bank Danamon sebagai salah satu bank swasta nasional juga melaksanakan tanggung jawab sosial dengan program ”Danamon Peduli”. Program Danamon Peduli dimulai tahun 2001, dan terus berkembang, sehingga pada tanggal 17 Februari 2007 didirikanlah Yayasan Danamon Peduli oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT. Adira Dinamika Multifinance Tbk untuk memberikan akses yang lebih luas kepada para pihak yang mempunyai misi yang sama dalam menciptakan kesejahteraan.

    Daftar Pustaka

    Aris, M. 2007. Membangun Corporate Social Responsibility (CSR) di Tengah Resistensi Publik. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1902
    Firman Andi. 2008 http://www.kutaikartanegara.com/forum/viewtopic.php?p=5161

    Mallenbaker, “Corporate Social Responsibility: What does it mean” http://72.24.235.104/search?q=cache:wavghaagKeQJ:www.mallenbaker.net/csr/CSRfiles,11/12/2007.

    Martanti, Dwifebri, A., 2007, “Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut sertaperbaiki perekonomian bangsa” http://72.14.235.104/search?q=cache:HN9RRTtGGungJ:www.isei.or.id/page.php%3Fid%,11/29/20

    Yenni Mangoting, 2008. Biaya Tanggung Jawab Sosial Sebagai Tax Benefit. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya Email: yenni@peter.petra.ac.id

    Komentar oleh Sri Indah Handayani – C2B008073 | Juli 10, 2009 | Balas

  29. Evaluasi Pengungkapan Informasi Pertanggung jawaban
    Sosial Pada Laporan Tahunan Perusahaan yang Go Publik di BEJ

    Disusun oleh : Suci Rachmawati C2B008076
    Magister Manajemen UNJA – Ak. X

    Perusahaan dalam pandangan ini adalah alat dari para pemegang saham (pemilik perusahaan), maka apabila perusahaan akan memberikan sumbangan sosial, hal itu akan dilakukan oleh individu pemilik atau individu para pekerjanya, bukan oleh perusahaan itu sendiri. Hal ini senada dengan pendapat Model Klasik yang menyatakan bahwa usahayang dilakukan perusahaan semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan pasar dan mencari untung yang akan dipersembahkan kepada pemilik modal (Harahap, Sofyan Syafri, 1993).

    Seorang fundamentalis dibidang ini, Milton Friedman, menyatakan : “Ada satu dan hanya satu tanggung jawab perusahaan, yaitu menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meningkatkan laba sepanjang sesuai dengan aturan main yang berlaku dalam suatu sistem persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan”.

    Sedangkan dalam pengertian luas, pertanggungjawaban sosial merupakan konsep yang
    lebih “manusiawi”, dimana suatu organisasi dipandang sebagai agen moral. Oleh karena itu, dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah organisasi – termasuk di dalamnya organisasi bisnis, wajib menjunjung tinggi moralitas. Dengan demikian, kendati tidak ada aturan hukum atau etika masyarakat yang mengatur, tanggung jawab sosial bisa di laksanakan dalam berbagai situasi dengan mempertimbangkan hasil terbaik atau yang paling sedikit merugikan stakeholder-nya. Tindakan tepat yang dilakukan oleh perusahaan akan memberikan manfaat bagi masyarakat (Edwin Mirfazli dan Nurdiono, 2007).

    Akuntansi Sosial Ekonomi (Socio Economic Accounting) atau sering disebut dengan akuntansi sosial merupakan fenomena baru dalam ilmu akuntansi. Akuntansi sosial memiliki perbedaan dengan akuntansi konvensional. Dalam akuntansi konvensional yang menjadi fokus perhatian adalah pencatatan dan pengukuran terhadap kegiatan ataudampak yang timbul akibat hubungan perusahaan dengan pelanggan, sedangkan akuntansi sosial merupakan sub disiplin dari ilmu akuntansi yang melakukan proses pengukuran dan pelaporan dampak-dampak sosial perusahaan.

    Jadi, dalam akuntansi konvensional tidak sepenuhnya mengakomodasi unsur tanggung jawab sosial perusahaan. Seluruh pelaksanaan tanggung jawab sosial yang telah dilaksanakan oleh perusahaan akan disosialisasikan kepada publik, salah satunya melalui pengungkapan sosial dalam laporan tahunan perusahaan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) secara implisit menjelaskan bahwa laporan tahunan harus mengakomodasi kepentingan para pengambil keputusan. Penjelasan tersebut ditulis dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 tahun 2004, paragraf kesembilan :

    “Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.

    Dalam proses pelaporan keuangan tahunan perusahaan, pengungkapan/disclosure merupakan aspek pelaporan yang kualitatif, yang sangat diperlukan pemakai informasi laporan keuangan. Karena sifatnya yang kualitatif sehingga formatnya tidak terstruktur, yang dapat terjadi secara langsung dalam laporan keuangan tahunan perusahaan melalui penjudulan yang tepat, catatan atas laporan keuangan ataupun berbagai sisipan seperti catatan kaki.

    Pengungkapan didefinisikan sebagai penyediaan sejumlah informasi yang di butuhkan untuk pengoperasian secara optimal pasar modal efisien (Hendriksen, 1996, dalam Zuhroh dan I Putu Pande, 2003). Pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory), yaitu pengungkapan informasi yang wajib dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela (voluntary), yang merupakan pengungkapan informasi melebihi persyaratan minimum dari peraturan yang berlaku. Tujuan pengungkapan menurut Securities Exchange Comission (SEC) dikategorikan menjadi dua, yaitu :

    1) protective disclosure yang dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap investor, dan
    2) informative disclosure yang bertujuan memberikan informasi yang layak kepada pengguna laporan (Wolk, Francis, dan Tearney, dalam Utomo, 2000, dalam Zuhroh dan I Putu Pande, 2003).

    Informasi mengenai pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang di uraikan dalam laporan tahunan akan dapat dipahami dan tidak menimbulkan salah interpretasi apabila laporan tahunan tersebut dilengkapi dengan pengungkapan sosial yang memadai.

    Memberikan informasi yang memadai diharapkan akan dapat berguna bagi pengambilan
    keputusan oleh pihak-pihak pengguna laporan keuangan.

    Daftar Pustaka:

    Edwin Mirfazli dan Nurdiono, 2007. Evaluasi Pengungkapan Informasi Pertanggungjawaban Sosial Pada Laporan Tahunan Perusahaan Dalam Kelompok Aneka Industri Yang Go Publik di BEJ. Dosen Jurusan – Akuntansi, FE Unila

    Husnan, Suad (2003) “Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, Edisi Pertama UPP-AMP YKPN, Yogyakarta

    Ikatan Akuntan Indonesia (2002): Standar Akuntansi Keuangan: Salemba Empat, Jakarta.

    Zuhroh, Diana dan I Putu Pande Heri S. 2003. Analisis Pengaruh Pengungkapan Sosial dalam Laporan Tahunan Perusahaan terhadap Reaksi Investor. Makalah dipresentasikan dalam Simposium nasional Akuntansi VI

    Komentar oleh Suci Rachmawati C2B008076 | Juli 10, 2009 | Balas

  30. Perkembangan CSR Di Indonesia.

    Oleh:
    Yoppy Ariansyah (C2B008081)
    Magister Manajemen Universitas Jambi
    Angkatan 10 – Kelas Malam

    Empat tahun belakangan ini corporate social responsibility atau CSR memang sedang menjadi trend di Indonesia. Banyak orang berbicara tentang CSR dan semuanya bagus serta perusahaan yang melakukan corporate social responsibility (CSR) semakin banyak. Namun upaya sosialisasi harus terus dilakukan agar lebih banyak perusahaan menyadari dan memahami pentingnya CSR Memang diakui, di satu sisi sektor industri atau korporasi skala besar telah mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi di sisi lain ekploitasi sumber-sumber daya alam oleh sektor industri seringkali menyebabkan terjadi-nya degradasi lingkungan yang parah (Bedjo, 2006).

    Karakteristik umum korporasi skala-besar biasanya beroperasi secara enclave atau terpisah, dan melahirkan apa yang disebut perspektif dual society, yaitu tumbuhnya dua
    karakter ekonomi yang paradoks di dalam satu area. Ekonomi tumbuh secara modern dan pesat, tetapi masyarakat ekonomi justru berjalan sangat lambat. Kehidupan ekonomi masyarakat semakin invo-lutif, disertai dengan marginalisasi tenaga kerja lokal.

    Kecenderungan akhir-akhir ini di Indonesia banyak korporasi industri telah menjalankan prinsip-prinsip CSR dalam tataran praktis, yaitu sebagai pengkaitan antara pengambilan keputusan dengan nilai etika, kaidah hukum serta menghargai manusia, masyarakat dan lingkungan. Wineberg dan Rudolph memberi definisi CSR sebagai:

    “The contribution that a company makes in society through its core business activities, its social investment and philanthropy programs,and its engagement in public policy”( Wineberg, 2004:72).

    Selanjutnya dikatakan oleh Mardjono Reksodiputro bahwa konsep CSR itu memang agak tumpang tindih, (overlap) dengan konsep (good) corporate governance dan konsep etika bisnis (Reksodiputro, 2004). Sedangkan Schermerhorn (1993) memberi definisi CSR sebagai suatu kepedulian organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani kepentingan organisasi dan kepentingan publik eksternal (Schermerhorn, 1993).

    CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan (Nuryana, 2005). Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan atau bahkan sering diidentikkan dengan CSR ini antara lain Pemberian/Amal Perusahaan (Corporate Giving/Charity),

    Kedermawanan Perusahaan (Corporate philanthropy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community/Public Relations), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development) Keempat nama itu bisa pula dilihat sebagai dimensi atau pendekatan CSR dalam konteks Investasi Sosial Perusahaan (Corporate Social Investment/Investing) yang didorong oleh spektrum motif yang terentang dari motif “amal” hingga “pemberdayaan” (Brilliant, 1988: 299-313).

    Di sinilah letak pentingnya pengaturan CSR di Indonesia, agar memiliki daya atur, daya ikat dan daya dorong. CSR yang semula bersifat voluntary perlu ditingkatkan menjadi CSR yang lebih bersifat mandatory. Dengan demikian dapat diharapkan kontribusi dunia usaha yang terukur dan sistematis dalam ikut meningkatan kesejahteraan masyarakat.
    Kebijakan yang pro-masyarakat dan lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan ditengah arus neo-liberalisme seperti sekarang ini. Sebaliknya disisi lain, masyarakat juga tidak bisa seenaknya melakukan tuntutan kepada perusahaan, apabila harapannya itu berada diluar batas aturan yang berlaku (Bedjo, 2006).

    Isu CSR dapat dikatakankan sebagai parameter kedekatan era kebangkitan masyarakat (civil society). Maka dari itu, sudah seharusnya CSR tidak hanya bergerak dalam aspek philantropy (yakni dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial) maupun level strategi, melainkan harus merambat naik naik ke tingkat kebijakan (policy) yang lebih makro dan riil.

    Dunia usaha harus dapat mencontoh perusahaan-perusahaan yang telah terlebih dahulu melaksanakn program CSRsebagai salah satu policy dari manjemen perusahaan. PT. Bogasari, misalnya memiliki program CSR yang terintegrasi dengan strategi perusahaan, melalui pendampingan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis terigu. Seperti yang telah kita ketahui, jika mereka adalah konsumen utama dari produk perusahaan ini. Demikian juga dengan PT. Unilever yang memiliki program CSR berupa pendampingan terhadap petani kedelai. Bagi kepentingan petani, adanya program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi, sekaligus menjamin kelancaran distribusi.

    Sedangkan bagi Unilever sendiri, hal ini akan menjamin pasokan bahan baku untuk setiap produksi mereka yang berbasis kedelai, seperti kecap Bango, yang telah menjadi salah satu andalan produknya. Ada kalanya program CSR perusahaan tidak mesti harus
    berada pada tingkat produsen dan pengembangan produk, tetapi dapat mencakup aspek-aspek lain, semisal pendidikan dan pelatihan, serta konservasi.

    Point yang pertama, akhir-akhir ini seakan-akan sedang menjadi tren di dunia usaha. Banyak perusahaan yang memilih program CSR di bidang edukasi. Program seperti ini kebanyakan memfokuskan pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. PT. Astra International Tbk, misalnya, telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra, yang menelan dana puluhan milyar. Selain itu, ada juga program dari HM Sampoerna untuk mengembangkan pendidikan melalui Sampoerna Foundation, untuk program ini, Sampoerna sendiri telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 milliar. Jelas sudah jika CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Bedjo Tanudjaya. B, 2006. Perkembangan Corporate Social Responsibility Di Indonesia. http://puslit.petra.ac.id/journals/pdf.php?PublishedID=DKV06080206.

    Brilliant, Eleanor L. dan Kimberlee A. Rice. (1988), “Influencing Corporate Philantropy” dalam Gary M. Gould dan Michael L. Smith (eds), Social Work in the Workplace, New York: Springer Publishing Co.

    Nuryana, Mu’man. (2005). Corporate Social responsibility dan Kontribusi bagi Pembangunan Berkelanjutan, makalah yang disampaikan pada Diklat Pekerjaan Sosial Industri, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung, Lembang 5 Desember.

    Reksodiputro, Mardjono. (20/12/04) Makalah Lokakarya Nasional Departemen Luar Negeri RI, dengan tema “Peran sektor usaha dalam pemenuhan, pemajuan, dan perlindungan HAM di Indonesia”., Jakarta: Hotel Borobudur.

    Schermerhorn, John R. (1993). Management for Productivity. New York: John Wiley & Sons.

    Wineberg, Danette and Phillip H. Rudolph. (May 2004). “Corporate Social Responsibility What Every In House Counsel Should Know”, dalam ACC Docket.

    Komentar oleh Yoppy Ariansyah (C2B008081) | Juli 10, 2009 | Balas

  31. KENAPA PERUSAHAAN HARUS TANGGUNG JAWAB SOSIAL?

    Oleh : Sri Indah Handayani – C2B008073
    Magister Manajemen UNJA

    Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

    Lebih lanjut disebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan”, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam
    melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

    Menurut Baker (2007), tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal (pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain).

    Esensi tanggung jawab sosial. Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial perushaan dapat beraneka ragam. Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development). Menurut Andi Firman (2007) tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi.

    Tanggung jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.

    Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis. Menurut Bank Dunia dalam Martanti (2007), tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.

    Dengan adanya tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan. Baker (2007) menyebutkan bahwa ada dua model penerapan tanggung jawab sosial. Model tersebut adalah:

    1) Model Amerika – Tradisional. Model ini lebih bersifat filantropis/karitas. Pada model ini perusahaan mendapatkan laba sebesarbesarnya, melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan dan menyumbangkan keuntungannya kepada masyarakat.

    2) Model Eropa-Modern. Model ini lebih integrative, memfokuskan diri pada bidang usaha utama perusahaan yang dijalankan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.

    Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain. Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial di baliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan di mata publik ataupun pemerintah. Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main.
    Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan. CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya.
    PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) kembali meraih penghargaan dibidang Corporate Social Responsibility (tanggung jawab sosial). Dalam Selular Forum yang diselenggarakan atas kerjasama Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) dan Majalah Seluler, Telkom dinobatkan
    sebagai operator yang melakukan program tanggungjawab sosial dengan cakupan dan sasaran paling luas diantara operator-operator telekomunikasi di Indonesia (the Most Coverage and Target in Corporate Social Responsibility).

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom cukup beragam dengan jangkauan seluruh Indonesia. Salah satu kegiatan tanggung jawab sosial Telkom dikelola oleh unit Telkom Community Development Center (Telkom CDC) yang berdiri secara resmi sejak 2001. melalui CDC, Telkom mengelola program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang tersebar di seluruh Nusantara.

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom yang cukup menonjol adalah di bidang pendidikan. Pada posisi s/d Triwulan III 2006, dana yang dikeluarkan untuk bantuan pendidikan dan pelatihan (BPP) mencapai 49% dari seluruh anggaran Bina Lingkungan Telkom. Bank Mandiri, sebagai salah bank pemerintah telah merealisasikan Program Bina Lingkungan 2007 di bidang kesehatan dengan melaksanakan khitanan massal bagi 5.000 anak yang tersebar di 15 lokasi kota besar Indonesia.

    Kegiatan ini juga sebagai bentuk kepedulian Bank Mandiri terhadap anak-anak tidak mampu. Selain bank pemerintah, Bank Danamon sebagai salah satu bank swasta nasional juga melaksanakan tanggung jawab sosial dengan program ”Danamon Peduli”. Program Danamon Peduli dimulai tahun 2001, dan terus berkembang, sehingga pada tanggal 17 Februari 2007 didirikanlah Yayasan Danamon Peduli oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT. Adira Dinamika Multifinance Tbk untuk memberikan akses yang lebih luas kepada para pihak yang mempunyai misi yang sama dalam menciptakan kesejahteraan.

    Daftar Pustaka

    Aris, M. 2007. Membangun Corporate Social Responsibility (CSR) di Tengah Resistensi Publik. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1902
    Firman Andi. 2008 http://www.kutaikartanegara.com/forum/viewtopic.php?p=5161

    Mallenbaker, “Corporate Social Responsibility: What does it mean” http://72.24.235.104/search?q=cache:wavghaagKeQJ:www.mallenbaker.net/csr/CSRfiles,11/12/2007.

    Martanti, Dwifebri, A., 2007, “Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut sertaperbaiki perekonomian bangsa” http://72.14.235.104/search?q=cache:HN9RRTtGGungJ:www.isei.or.id/page.php%3Fid%,11/29/20

    Yenni Mangoting, 2008. Biaya Tanggung Jawab Sosial Sebagai Tax Benefit. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya Email: yenni@peter.petra.ac.id

    Yeni, tugas anda telah saya baca.

    Komentar oleh Sri Indah Handayani – C2B008073 | Juli 10, 2009 | Balas

  32. Tantangan CSR Di Indonesia.

    Oleh:
    Yoppy Ariansya (C2B008081)
    Magister Manajemen Universitas Jambi
    Angkatan 10 – Kelas Malam

    Empat tahun belakangan ini corporate social responsibility atau CSR memang sedang menjadi trend di Indonesia. Banyak orang berbicara tentang CSR dan semuanya bagus serta perusahaan yang melakukan corporate social responsibility (CSR) semakin banyak. Namun upaya sosialisasi harus terus dilakukan agar lebih banyak perusahaan menyadari dan memahami pentingnya CSR Memang diakui, di satu sisi sektor industri atau korporasi skala besar telah mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi di sisi lain ekploitasi sumber-sumber daya alam oleh sektor industri seringkali menyebabkan terjadi-nya degradasi lingkungan yang parah (Bedjo, 2006).

    Karakteristik umum korporasi skala-besar biasanya beroperasi secara enclave atau terpisah, dan melahirkan apa yang disebut perspektif dual society, yaitu tumbuhnya dua
    karakter ekonomi yang paradoks di dalam satu area. Ekonomi tumbuh secara modern dan pesat, tetapi masyarakat ekonomi justru berjalan sangat lambat. Kehidupan ekonomi masyarakat semakin invo-lutif, disertai dengan marginalisasi tenaga kerja lokal.

    Kecenderungan akhir-akhir ini di Indonesia banyak korporasi industri telah menjalankan prinsip-prinsip CSR dalam tataran praktis, yaitu sebagai pengkaitan antara pengambilan keputusan dengan nilai etika, kaidah hukum serta menghargai manusia, masyarakat dan lingkungan. Wineberg dan Rudolph memberi definisi CSR sebagai:

    “The contribution that a company makes in society through its core business activities, its social investment and philanthropy programs,and its engagement in public policy”( Wineberg, 2004:72).

    Selanjutnya dikatakan oleh Mardjono Reksodiputro bahwa konsep CSR itu memang agak tumpang tindih, (overlap) dengan konsep (good) corporate governance dan konsep etika bisnis (Reksodiputro, 2004). Sedangkan Schermerhorn (1993) memberi definisi CSR sebagai suatu kepedulian organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani kepentingan organisasi dan kepentingan publik eksternal (Schermerhorn, 1993).

    CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan (Nuryana, 2005). Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan atau bahkan sering diidentikkan dengan CSR ini antara lain Pemberian/Amal Perusahaan (Corporate Giving/Charity),

    Kedermawanan Perusahaan (Corporate philanthropy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community/Public Relations), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development) Keempat nama itu bisa pula dilihat sebagai dimensi atau pendekatan CSR dalam konteks Investasi Sosial Perusahaan (Corporate Social Investment/Investing) yang didorong oleh spektrum motif yang terentang dari motif “amal” hingga “pemberdayaan” (Brilliant, 1988: 299-313).

    Di sinilah letak pentingnya pengaturan CSR di Indonesia, agar memiliki daya atur, daya ikat dan daya dorong. CSR yang semula bersifat voluntary perlu ditingkatkan menjadi CSR yang lebih bersifat mandatory. Dengan demikian dapat diharapkan kontribusi dunia usaha yang terukur dan sistematis dalam ikut meningkatan kesejahteraan masyarakat.
    Kebijakan yang pro-masyarakat dan lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan ditengah arus neo-liberalisme seperti sekarang ini. Sebaliknya disisi lain, masyarakat juga tidak bisa seenaknya melakukan tuntutan kepada perusahaan, apabila harapannya itu berada diluar batas aturan yang berlaku (Bedjo, 2006).

    Isu CSR dapat dikatakankan sebagai parameter kedekatan era kebangkitan masyarakat (civil society). Maka dari itu, sudah seharusnya CSR tidak hanya bergerak dalam aspek philantropy (yakni dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial) maupun level strategi, melainkan harus merambat naik naik ke tingkat kebijakan (policy) yang lebih makro dan riil.

    Dunia usaha harus dapat mencontoh perusahaan-perusahaan yang telah terlebih dahulu melaksanakn program CSRsebagai salah satu policy dari manjemen perusahaan. PT. Bogasari, misalnya memiliki program CSR yang terintegrasi dengan strategi perusahaan, melalui pendampingan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis terigu. Seperti yang telah kita ketahui, jika mereka adalah konsumen utama dari produk perusahaan ini. Demikian juga dengan PT. Unilever yang memiliki program CSR berupa pendampingan terhadap petani kedelai. Bagi kepentingan petani, adanya program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi, sekaligus menjamin kelancaran distribusi.

    Sedangkan bagi Unilever sendiri, hal ini akan menjamin pasokan bahan baku untuk setiap produksi mereka yang berbasis kedelai, seperti kecap Bango, yang telah menjadi salah satu andalan produknya. Ada kalanya program CSR perusahaan tidak mesti harus
    berada pada tingkat produsen dan pengembangan produk, tetapi dapat mencakup aspek-aspek lain, semisal pendidikan dan pelatihan, serta konservasi.

    Point yang pertama, akhir-akhir ini seakan-akan sedang menjadi tren di dunia usaha. Banyak perusahaan yang memilih program CSR di bidang edukasi. Program seperti ini kebanyakan memfokuskan pada edukasi bagi generasi mendatang, pengembangan kewirausahaan, pendidikan finansial, maupun pelatihan-pelatihan. PT. Astra International Tbk, misalnya, telah membentuk Politeknik Manufaktur Astra, yang menelan dana puluhan milyar. Selain itu, ada juga program dari HM Sampoerna untuk mengembangkan pendidikan melalui Sampoerna Foundation, untuk program ini, Sampoerna sendiri telah mengucurkan dana tak kurang dari 47 milliar. Jelas sudah jika CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Bedjo Tanudjaya. B, 2006. Perkembangan Corporate Social Responsibility Di Indonesia. http://puslit.petra.ac.id/journals/pdf.php?PublishedID=DKV06080206.

    Brilliant, Eleanor L. dan Kimberlee A. Rice. (1988), “Influencing Corporate Philantropy” dalam Gary M. Gould dan Michael L. Smith (eds), Social Work in the Workplace, New York: Springer Publishing Co.

    Nuryana, Mu’man. (2005). Corporate Social responsibility dan Kontribusi bagi Pembangunan Berkelanjutan, makalah yang disampaikan pada Diklat Pekerjaan Sosial Industri, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung, Lembang 5 Desember.

    Reksodiputro, Mardjono. (20/12/04) Makalah Lokakarya Nasional Departemen Luar Negeri RI, dengan tema “Peran sektor usaha dalam pemenuhan, pemajuan, dan perlindungan HAM di Indonesia”., Jakarta: Hotel Borobudur.

    Schermerhorn, John R. (1993). Management for Productivity. New York: John Wiley & Sons.

    Wineberg, Danette and Phillip H. Rudolph. (May 2004). “Corporate Social Responsibility What Every In House Counsel Should Know”, dalam ACC Docket.

    Yopi. Tugas anda telah saya baca, perhatikan juga urutan penjelasan sesuai dg pertanyaan.

    Komentar oleh Yoppy Ariansya (C2B008081) | Juli 10, 2009 | Balas

  33. KENAPA PERUSAHAAN HARUS TANGGUNG JAWAB SOSIAL?

    Oleh : Sri Indah Handayani – C2B00873
    Magister Manajemen UNJA

    Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah merupakan suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

    Lebih lanjut disebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan”, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam
    melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata hanya berdasarkan faktor keuangan belaka seperti halnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekwensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

    Menurut Baker (2007), tanggung jawab sosial adalah bagaimana cara perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan segala hal yang positif yang berpengaruh terhadap lingkungannya. Tanggung jawab sosial dapat dikatakan sebagai cara perusahaan mengatur proses produksi yang berdampak positif pada komunitas. Dapat pula dikatakan, sebagai proses penting dalam pengaturan biaya yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, baik internal (pekerja, shareholder), maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain).

    Esensi tanggung jawab sosial. Pada dasarnya, bentuk tanggung jawab sosial perushaan dapat beraneka ragam. Dari yang bersifat charity sampai pada kegiatan yang bersifat pengembangan komunitas (Community Development). Menurut Andi Firman (2007) tanggung jawab sosial adalah suatu konsep yang bermaterikan tanggung jawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah perusahaan tersebut beroperasi.

    Tanggung jawab sosial dapat berupa program yang memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa terutama yang tidak mampu dan berprestasi, perbaikan infrastruktur jalan, gedung-gedung sekolah, sarana keagamaan dan olah raga, pendidikan dan pelatihan keperempuanan dan pemuda, serta pemberdayaan masyarakat adat.

    Termasuk pula memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang sehat dan seimbang. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis. Menurut Bank Dunia dalam Martanti (2007), tanggung jawab sosial perusahaan terdiri dari beberapa komponen utama: perlindungan lingkungan, jaminan kerja, hak azasi manusia, interaksi dan keteribatan perusahaan dengan masyarakat, standar usaha, pasar, pengembangan ekonomi dan badan usaha, perlindungan kesehatan, kepemimpinan dan pendidikan, bantuan bencana kemanusiaan.

    Dengan adanya tanggung jawab sosial sebenarnya perusahaan diuntungkan karena dapat menciptakan lingkungan sosial yang baik serta dapat menumbuhkan citra positif perusahaan, tentu hal ini dapat meningkatkan iklim bisnis bagi perusahaan. Baker (2007) menyebutkan bahwa ada dua model penerapan tanggung jawab sosial. Model tersebut adalah:

    1)Model Amerika – Tradisional. Model ini lebih bersifat filantropis/karitas. Pada model ini perusahaan mendapatkan laba sebesarbesarnya, melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan dan menyumbangkan keuntungannya kepada masyarakat.

    2)Model Eropa-Modern. Model ini lebih integrative, memfokuskan diri pada bidang usaha utama perusahaan yang dijalankan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.
    Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain. Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial di baliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan di mata publik ataupun pemerintah. Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main.
    Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan. CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya.
    PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) kembali meraih penghargaan dibidang Corporate Social Responsibility (tanggung jawab sosial). Dalam Selular Forum yang diselenggarakan atas kerjasama Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) dan Majalah Seluler, Telkom dinobatkan
    sebagai operator yang melakukan program tanggungjawab sosial dengan cakupan dan sasaran paling luas diantara operator-operator telekomunikasi di Indonesia (the Most Coverage and Target in Corporate Social Responsibility).

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom cukup beragam dengan jangkauan seluruh Indonesia. Salah satu kegiatan tanggung jawab sosial Telkom dikelola oleh unit Telkom Community Development Center (Telkom CDC) yang berdiri secara resmi sejak 2001. melalui CDC, Telkom mengelola program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) yang tersebar di seluruh Nusantara.

    Kegiatan tanggung jawab sosial Telkom yang cukup menonjol adalah di bidang pendidikan. Pada posisi s/d Triwulan III 2006, dana yang dikeluarkan untuk bantuan pendidikan dan pelatihan (BPP) mencapai 49% dari seluruh anggaran Bina Lingkungan Telkom. Bank Mandiri, sebagai salah bank pemerintah telah merealisasikan Program Bina Lingkungan 2007 di bidang kesehatan dengan melaksanakan khitanan massal bagi 5.000 anak yang tersebar di 15 lokasi kota besar Indonesia.

    Kegiatan ini juga sebagai bentuk kepedulian Bank Mandiri terhadap anak-anak tidak mampu. Selain bank pemerintah, Bank Danamon sebagai salah satu bank swasta nasional juga melaksanakan tanggung jawab sosial dengan program ”Danamon Peduli”. Program Danamon Peduli dimulai tahun 2001, dan terus berkembang, sehingga pada tanggal 17 Februari 2007 didirikanlah Yayasan Danamon Peduli oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT. Adira Dinamika Multifinance Tbk untuk memberikan akses yang lebih luas kepada para pihak yang mempunyai misi yang sama dalam menciptakan kesejahteraan.

    Daftar Pustaka

    Aris, M. 2007. Membangun Corporate Social Responsibility (CSR) di Tengah Resistensi Publik. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1902
    Firman Andi. 2008 http://www.kutaikartanegara.com/forum/viewtopic.php?p=5161

    Mallenbaker, “Corporate Social Responsibility: What does it mean” http://72.24.235.104/search?q=cache:wavghaagKeQJ:www.mallenbaker.net/csr/CSRfiles,11/12/2007.

    Martanti, Dwifebri, A., 2007, “Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya ikut sertaperbaiki perekonomian bangsa” http://72.14.235.104/search?q=cache:HN9RRTtGGungJ:www.isei.or.id/page.php%3Fid%,11/29/20

    Yenni Mangoting, 2008. Biaya Tanggung Jawab Sosial Sebagai Tax Benefit. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya Email: yenni@peter.petra.ac.id

    Sri, konsep dan kasus anda cukup baik. Hanya saja, saya ingatkan bahwa pada naskah yg ditampilkan ada pertanyaan.
    Sukses.

    Komentar oleh Sri Indah Handayani – C2B008073 | Juli 10, 2009 | Balas

  34. MODEL DAN TANTANGAN CSR DI INDONESIA.

    Disusun oleh :
    Nora Efria – C2B008057
    Magister Manajemen Universitas Jambi

    Sedikitnya ada empat model atau pola CSR yang umumnya diterapkan oleh perusahaan di Indonesia,yaitu:

    1.Keterlibatan langsung. Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari tugas pejabat public relation.

    2.Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan. Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau groupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan di negara maju. Biasanya, perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan. Beberapa yayasan yang didirikan perusahaan diantaranya adalah Yayasan Coca Cola Company, Yayasan Rio Tinto (perusahaan pertambangan), Yayasan Dharma Bhakti Astra, Yayasan Sahabat Aqua, GE Fund.

    3.Bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga sosial/organisasi non-pemerintah (NGO/ LSM), instansi pemerintah, universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya. Beberapa lembaga sosial/Ornop yang bekerjasama dengan perusahaan dalam menjalankan CSR antara lain adalah Palang Merah Indonesia (PMI), Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Dompet Dhuafa; instansi pemerintah (Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia/LIPI, Depdiknas, Depkes, Depsos); universitas (UI, ITB, IPB); media massa (DKK Kompas, Kita Peduli Indosiar).

    4.Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium. Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.

    Dibandingkan dengan model lainnya, pola ini lebih berorientasi pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat “hibah pembangunan”. Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara pro aktif mencari mitra kerjasama dari kalangan lembaga operasional dan kemudian mengembangkan program yang disepakati bersama(Saidi, 2004:64-65).

    Proses pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa tahapan mulai dari menentukan populasi atau kelompok sasaran; mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kelompok sasaran; merancang program kegiatan dan cara-cara pelaksanaanya; menentukan sumber pendanaan; menentukan dan mengajak pihak-pihak yang akan dilibatkan; melaksanakan kegiatan atau mengimplementasikan program; hingga memonitor dan mengevaluasi kegiatan.

    Kegiatan-kegiatan pemberdayaan biasanya dilakukan secara berkelompok dan terorganisir dengan melibatkan beberapa strategi seperti pendidikan dan pelatihan keterampilan hidup (life skills), ekonomi produktif, perawatan sosial; penyadaran dan pengubahan sikap dan perilaku; advokasi: pendampingan dan pembelaan hak-hak klien; aksi sosial: sosialisasi, kampanye, demonstrasi, kolaborasi, kontes; atau pengubahan kebijakan publik agar lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok sasaran.

    Berbeda dengan kegiatan bantuan sosial karitatif yang dicirikan oleh adanya hubungan patron-klien” yang tidak seimbang, maka pemberdayaan masyarakat dalam program Community Development didasari oleh pendekatan yang partisipatoris, humanis dan emansipatoris yang berpijak pada beberapa prinsip sebagai berikut:

    -Bekerja bersama berperan setara.
    -Membantu rakyat agar mereka bisa membantu dirinyasendiri dan orang lain.
    -Pemberdayaan bukan kegiatan satu malam.
    -Kegiatan diarahkan bukan saja untuk mencapai hasil, melainkan juga agar menguasai prosesnya.

    Agar berkelanjutan, pemberdayaan jangan hanyaberpusat pada komunitas lokal, melainkan pula pada sistem sosial yang lebih luas termasuk kebijakan sosial. Salah satu lambannya pelaksanaan CSR di Indonesia adalah tidak adanya instrumen hukum yang komprehensif yang mengatur CSR. Instrumen hukum sangat diperlukan sekali untuk mendorong pelaksanaan CSR di Indonesia. Pada saat ini, memang sudah tedapat peraturan yang terkait dengan CSR seperti Undang-Undang (UU) Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun UU tersebut belum mampu mendorong pelaksanaan CSR di lapangan.

    Apalagi dalam UU tersebut hal yang diatur masih terbatas. Hanya berkaitan dengan hal tertentu saja. Padahal CSR tidak saja berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan tehadap lingkungan dalam arti sempit, namun juga dalam arti luas seperti tanggung jawab perusahaan terhadap pendidikan, perekonomian, dan kesejahteraan rakyat sekitar. Hal ini di atas tentunya menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk segera dicari jalan keluarnya. Oleh karena itu membuat regulasi mengenai CSR merupakan jalan terbaik. Regulasi yang dimaksud adalah dengan membuat produk hukum (UU) yang akan mengatur secara tegas, jelas, dan komprehensif mengenai CSR.

    UU ini dibutuhkan agar CSR dilaksanakan oleh semua perusahaan dan memberikan manfaat nyatabagi semuastake holderyang ada.Pelaksanaan CSR selama ini hanya didasarkan kepada kesadaran dan komitmen perusahaan. Padahal komitmen dan kesadaran setiap perusahaan tidak sama dan sangat tergantung sekali kepada kebijakan perusahaan masing-masing.

    Menggantungkan pelaksanaan CSR kepada kesadaran dan komiteman perusahaan mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan paling mendasar adalah tidak adanya sanksi yang tegas bagi perusahaan yang tidak melaksanakan CSR. Kondisi ini tidak akan mendorong pelaksanaan CSR di Indonesia. Selama ini juga, bagi perusahaan yang melaksanakan CSR tidak memilki arah yang jelas. Padahal ada banyak sekali manfaat yang diperoleh apabila CSR dilaksanakan dengan aturan dan arahan yang jelas.

    Contohnya apabila CSR diarahkan pada sektor tertentu seperti pendidikan, maka betapa banyaknya manfaat yang diperoleh. Masyarakat yang kurang mampu akan ditolong dengan CSR ini dalam hal peningkatan kualitas pendidikan mereka.

    Pemerintah juga akan sangat ditolong dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Tentunya, itu semua dapat dilaksanakan bilamana adaregulasi yang jelas tentang CSR. Kelemahan dengan tidak adanya regulasi yang jelas tentang CSR adalah semakin dirugikannya masyarakat dan juga negara.

    Berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia seperti banjir lumpur, banjir karena pembalakan hutan dan pencemaran lingkungan di berbagai tempat menunjukan bahwa pelaksanaan CSRmerupakan suatu kemutlakan. Apabila kondisi seperti sekarang terus berlanjut, maka yang menanggung kerugian terbesar adalah masyarakat dan negara.

    Regulasi CSR juga sebenarnya bukan hal baru dalam dunia korporasi. di berbagai negara maju, setiap perusahaan sudah diwajibkan untuk pelaksanaan CSR dan melaporkannya secara periodik. Hal ini dilakukan untuk memantau dan mengontrol pelaksanaan CSRsetiap perusahaan. Regulasi yang ada juga memberikan sanksi yang tegas bagi pelanggaran terhadap pelaksanaan CSR.

    Sanksi yang diberikan mulai dari yang ringan seperti peringatan tertulis hingga dikeluarkan dari lantai bursa bagi perusahaan go public. Tentunya, UU yang akan dibuat harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. UU yang ada harus mampu menjembatani kepentingan semua pihak. Pelaku usaha dengan motif laba, tentunya tidak akan setuju apabila regulasi yang ada mengganggu kepentingan mereka. Masyarakat juga selaku pihak yang menerima dampak dari kehadiran perusahaan menuntut adanya kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu UU yang dibuat harus mampu mengakomodasi semuastake holder.

    TANTANGAN TERHADAP CSR.

    Upaya penerapan CSR sendiri bukannya tanpa hambatan. Dari kalangan ekonom sendiri juga muncul reaksi sinis misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankanhal-hal lain.

    Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyekproyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial dibaliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan dimata publik ataupun pemerintah.

    Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main. Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan.

    CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya

    Untuk melaksanakan CSR maka perusahaan harus mengakui bahwa permasalahan masyarakat adalah milik mereka juga. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus bersedia menganganinya. Itu dasarnya untuk melaksanakan CSR. Jadi hanya dengan mengakui masalah apa yang ada di masyarakat dan itu menjadi bagian mereka, maka CSR lebih mudah dilakukan.

    Sebab suatu rencana strategis di belakang program-program CSR bisa jadi akan memberi kontribusi bagi pengurangan kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Republik ini.
    Dua masalah utama yang harus segera dihapus bersama agar martabat orang Indonesiategak berdiri. Dapat disimpulkan jika CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat meningkatkan image perusahaan. Jadi, seharusnya dunia usaha tidak memandang CSR sebgai suatu tuntutan represif dari masyarakat, melainkan sebagai kebutuhan dunia usaha.

    DAFTAR PUSTAKA

    NIRMANA, VOL.8, NO. 2, Juli 2006: 92-98. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra http://www.petra.ac.id/puslit/journals/dir.php?DepartmentID=DKV

    Saidi, Zaim dan Hamid Abidin. (2004). Menjadi Bangsa Pemurah: Wacana dan Praktek Kedermawanan Sosial di Indonesia. Jakarta: Piramedia

    Tanudjaja, Perkembangan Corporate Social Responsibility di Indonesia. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra. http://www.petra.ac.id/puslit/journals/dir.php?DepartmentID=DKV.

    Nora, tugas anda telah saya baca. Sukses.

    Komentar oleh Nora Efria – C2B008057 | Juli 10, 2009 | Balas

  35. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dewasa ini merupakan hal penting karena kelangsungan perusahaan bukan hanya tergantung pada pemilik tetapi sangat tergantung juga pada penerimaan sosial masyarakat. Perusahaan mempunyai empat tanggung jawab yaitu :
    – Tanggung jawab ekonomi yang berarti menghasilkan barang dan jasa.
    – Tanggung jawab Hukum yaitu mengikuti Undang-Undang yang berlaku.
    – Tanggung jawab sosial yaitu menjaga perilaku dalam masyarakat.
    – Tanggung jawab diskresionari yang berarti melaksanakan harapan masyarakat luas.

    Perusahaan akan dapat berkembang apabila lingkungan masyarakat sekitarnya berkembang, artinya keberadaan perusahaan diterima oleh masyarakat. Sebagai contoh Corporate Social Responsibility(CSR) yang ada di Provinsi Jambi adalah yang dilaksanakan oleh PT. Wira Karya Sakti dengan Program Community Development nya yang dilaksanakan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Dalam program CD yang dilaksanakan diarahkan untuk memenuhi 4 indikator sosial yaitu :
    – Ketersediaan mekanisme penyelesaian konflik sosial
    – Ketersediaan mekanisme implementasi pendistribusian manfaat
    – Ketersediaan mekanisme peran serta masyarakat dalam pemanfaatan hutan tanaman
    – Ketrsediaan mekanisme peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

    Dengan ketersediaan mekanisme tersebut konflik antara perusahaan dan masyarakat dapat diselesaikan dengan baik (win-win solusition). Kegiatan yang dilaksanakan oleh PT> Wira Karya Sakti dalam program CD nya adalah :
    1. Dukungan perusahaan untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan sosial masyarakat.
    2. Pembangunan fisik
    3. Pengembangan usaha produktif masyarakat.

    Kendala-kendalah dalam pelaksanaan program Pengembangan Masyarakat (CD) ada kalahnya terjadi kurang sinkronisasi antara program CD Perusahaan dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah setempat sehingga terjadi tumpang tindih kegiatan. Untuk itu dalam kegiatan CD perusahaan perlu di kordinasikan dulu dengan pemerintah setempat sebelum melaksanakan kegioatannya sehingga sasaran dan capaian tunjuan dapat seoptimal mungkin yang pada akhirnya dampak positip bagi masyarakat cukup besar.
    Apabila hal ini terjadi maka keberadaan perusahaan dirasakan penting bagi masyarakat sehinggah masyaraakan akan berkembang dan perusahaan berkembang juga.

    H. Tarudin (C2B008034/Angkatan X)/ Juli 11, 2009 / balas

    Saudara Tarudin, penjelasan anda telah saya baca. Namun anda belum menjelaskan bagaimana penerapannya terhadap satu perusahaan. Sukses selalu.

    Komentar oleh H. Tarudin | Juli 11, 2009 | Balas

  36. Repair Old Confirm :

    TANGGUNG JAWAB SOSIAL (Corporate Social Responsibility)

    Oleh :
    Sri Indah Handayani – C2B00873
    Magister Manajemen UNJA

    1. Contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.

    Salah satu perusahaan besar yang telah menerapkan corporate social responsibility selama bertahun-tahun adalah Unilever. Unilever telah membuat program CSR dengan baik dan sistematis. Bahkan mereka memasukkan unsur-unsur tanggung jawab sosial dalam visi dan misi perusahaan mereka. Misi Unilever adalah untuk menambahkan vitalitas dalam kehidupan. Unilever memenuhi kebutuhan masyarakat akan nutrisi, kebersihan, dan perawatan pribadi dengan menyediakan produk-produk yang akan membantu masyarakat untuk merasa, melihat dan menjadi lebih baik dalam kehidupan. (www.unilever.com).

    Unilever telah mengakar kuat dalam kultur dan pasar di seluruh dunia dan membuat Unilever memiliki hubungan yang kuat dengan pelanggan yang akan menjadi landasan untuk pertumbuhan di masa mendatang. Unilever akan membawa pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk melayani seluruh masyarakat dunia.

    Produk-produk dari Unilever yang terdiri dari consumer goods telah tersebar di seluruh dunia dengan total penjualan lebih dari 27 juta Euro, 29% disumbang dari penjualan produk mereka di Asia dan Afrika (www.unilever.com). Di Indonesia, salah satu produk Unilever yang menjadi pemimpin pasar adalah Lifebuoy.

    Menurut hasil survei yang dilakukan Swa bersama MarkPlus dan MARS, Lifebuoy adalah salah satu produk yang memiliki brand value tertinggi pada tahun 2003, 2004, 2005 untuk kategori sabun mandi padat.

    Perlindungan dan kebersihan adalah komitmen Lifebuoy untuk masyarakat. Oleh karena itu, sejak bertahun-tahun yang lalu Lifebuoy telah membuat program-program pertanggungjawaban sosial untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat tentang arti penting menjaga kebersihan.

    Program-program yang telah dilakukan oleh Lifebuoy antara lain, kampanye membudayakan mencuci tangan dengan sabun, kampanye kebersihan lingkungan, menyumbang sarana MCK untuk masyarakat miskin, menyumbang sarana kebersihan untuk sekolah-sekolah dalam program “berbagi sehat” yang pada intinya mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan.

    Program “berbagi sehat” merupakan sebuah program pemasaran yang lebih difokuskan untuk memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Lifebuoy menjalankan program “berbagi sehat” dengan menekankan kampanye mencuci tangan dengan sabun dan membangun sarana kebersihan di lingkungan masyarakat dan sekolah karena hingga saat ini di negara-negara berkembang, diare adalah salah satu penyebab kematian terbesar pada anak-anak. Penelitian dari World Bank menyebutkan bahwa penerapan praktek kebersihan secara sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan dapat mengurangi tingkat kematian pada anak-anak yang disebabkan penyakit diare hingga 2 juta kematian per tahun. (www.unilever.com).

    Sumber Bacaan :

    http://www.jurnalskripsi.com/pengaruh-sikap-konsumen-dalam-penerapan-program-corporate-social-responsibility-csr-terhadap-brand-loyalty-sabun-mandi-lifebuoy-studi-pada-mahasiswa-fakultas-ekonomi-universitas-brawijaya-malang-pdf.htm

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR.

    Dewasa ini, para pemimpin perusahaan menghadapi tugas yang menantang dalam menerapkan standar-standar etis terhadap praktik bisnis yang bertanggungjawab. Survey Pricewaterhouse Coopers (PwC) terhadap 750 Chief Executive Officers menunjukkan bahwa peningkatan tekanan untuk menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) menempati ranking kedua dari tantangan-tantangan bisnis paling penting di tahun 2000 (Morimoto, Ash dan Hope, 2004).

    Meskipun sedang meroket, CSR tampaknya masih diselimuti kabut misteri. Belum ada definisi CSR yang mudah diukur secara operasional. Beberapa UU CSR di Indonesia belum diikuti oleh peraturan di bawahnya yang lebih terperinci dan implementatif. Standar operasional mengenai bagaimana mengevaluasi kegiatan CSR juga masih diperdebatkan.

    Akibatnya, bukan saja CSR menjadi sulit diaudit, melainkan pula menjadi program sosial yang berwayuh wajah.
    Banyak perusahaan yang hanya membagikan sembako atau melakukan sunatan massal setahun sekali telah merasa melakukan CSR. Tidak sedikit perusahaan yang menjalankan CSR berdasarkan ”copy-paste design” atau sekadar ”menghabiskan” anggaran. Karena aspirasi dan kebutuhan masyarakat kurang diperhatikan, beberapa program CSR di satu wilayah menjadi seragam dan seringkali tumpang tindih.

    Walhasil, alih-alih memberdayakan masyarakat, CSR malah berubah menjadi Candu (menimbulkan ketergantungan pada masyarakat), Sandera (menjadi alat masyarakat memeras perusahaan) dan Racun (merusak perusahaan dan masyarakat) (Suharto, 2008).

    Sumber Bacaan :

    Blog Asosiasi Auditor Internal, 2009. Tantangan Profesi Auditor Internal Dalam Penerapan GCG http://blog.auditor-internal.com/?p=20

    3. CSR yg diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan.

    Untuk mendapatkan mendapatkan impact optimal dari program CSR, baik untuk stakeholder perioritas, maupun perusahaaan, Pada tanggal 21-22 Juli 2008 PT Perusahaan Gas Negara bekerja sama dengan InterDev melakukan Workshop CSR bagi unit CSR dan non CSR di Wisma PGN Megamendung Bogor.

    Workshop ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman unit kerja terkait stakeholder tentang KONSEP, TEKNIK DAN TAHAPAN PENYUSUNAN STRATEGI CSR untuk mendukung VISI dan MISI PERUSAHAAN. Dengan pemahaman tersebut diharapkan setiap unit kerja yang bersentuhan dengan stakeholder mempunyai kesempatan memberikan kontribusi dan mendapatkan impact dari keberhasilan CSR.

    Workshop dilakukan dengan simulasi dan share pengalaman yang didahului oleh paparan konsep, dengan tahapan:

    •Simulasi analisis kondisi faktor CSR dan perumusan masalah

    •Simulasi analisis stakehoder perioritas (untuk study kasus dipakai tool pada perusahaan ekstraksi dengan analisis kondisi faktor perubahan sosial ekonomi)

    •Simulasi perumusan isu-isu perioritas dan penyusunan strategi

    •Simulasi penterjemahan strategi menjadi program kerja

    Pada Workshop tersebut dikupas dan disimulasikan materi yang meliputi, konsep CSR (corporate Social Responsibility) dalam perspektif tangung jawab dan kepentingan perusahaan, Analisis kondisi faktor CSR, yakni analisis faktor penentu keberhasilan program CSR yang dikembangkan oleh Interdev dalam berbagai program CSR yang telah mereka lakukan. Analisis Kondisi Faktor CSR dilakukan secara kontektual yang meliputi:

    •Analisis kondisi hubungan dengan stakeholder, pada bagian ini dipaparkan pengertian stalehoder, unit-unit kerja yang bersentuhan dengan stekholders, teknik analisis, teknik perumusan isu-isu.

    •Analisis stakeholder perioritas, yakni memilih stakeholder yang perlu menjadi perhatian, penentuan perioritas ditetapkan berdasarkan keterkaitan dengan stakehoder lainnya dan juga penting bagi perusahaan untuk membangun “stakeholders engagements”

    •Analisis kondisi stakeholder perioritas, pada bagian ini dibahas teknik perumusan isu-isu dan penentuan isu-isu aksi perioritas untuk membangun “stakeholders engagements”. Pada kesempatan ini di simulasikan analisis sosial ekonomi masyarakat di daerah operasi perusahaan dengan menggunakan double diamond yang dikembangkan Interdev

    •Analisis operasional perusahaan dan rantai nilai, pada bagian ini dibahas beberapa aspek operasional perusahaan yang terkait dengan stakeholder, terutama yang terkait dengan pembangunan dan operasional transmisi gas.

    •Analisis kondisi program CSR, terkait dengan aspek SDM, manajemen dan lain-lainnya.

    Setelah dilakukan analisis kondisi faktor dan perumusan isu-isu perioritas maka dilakukan simulasi dan penyusunan strategi CSR dan penyusunan program. Workshop ini diikuti oleh 14 peserta dari berbagai unit kerja yang terkait atau berhubungan secara langsung ataupun tidak langsung dengan stakeholder.

    Dari Workshop tersebut, pada hari pertama peserta masih sulit memahami kaitan antara konsep yang disampaikan dengan implementasi sehingga suasana workshop yang bersemangat belum terbentuk tetapi memasuki hari kedua, melalui simulasi peserta mulai melihat kaitan teknik perumusan isu dan perioritas dengan konsep CSR maka mulai muncul semangat belajar dan puncaknya saat mereka merumuskan strategi CSR secara bersama-sama.

    Sumber Bacaan :

    PT Interdev. 2008. Workshop CSR untuk perumusan strategi dan program. http://interdev.co.id/detail/news/45/Corporate_Social_Responsibility_strategy_implementation_program

    Komentar oleh Sri Indah Handayani – C2B00873 | Juli 11, 2009 | Balas

  37. Dr. Johannes:
    Mohon Izin Perbaikan Tanggapan CSR sebelumnya.

    Contoh Perusahaan yang menerapkan CSR dan Tantangan yang dihadapi serta Strategi yang digunakan.

    Oleh:Yoppy Ariansya (C2B008081)
    Magister Manajemen Universitas Jambi
    Angkatan 10 – Kelas Malam

    Riset dan penelitian menunjukkan, bahwa praktik CSR yang dilakukan perusahaan, kini tidak hanya sekedar mencegah risiko reputasi saja, melainkan berpeluang dalam membangun pertumbuhan (growth). Sebuah studi yang dilakukan IBM baru-baru ini kepada 250 orang pemimpin bisnis di seluruh dunia juga menegaskan adanya tren ini. Berikut ini adalah beberapa temuan penting dari studi tersebut:

    ◦ 68 persen dari bisnis yang disurvei sudah berfokus pada aktivitas CSR, dan 54 persen diantaranya percaya bahwa CSR akan memberikan keunggulan bagi mereka.

    ◦ Meskipun konsumen yang mendorong adanya CSR, namun nyatanya 76 persen dari responden mengaku bahwa mereka tidak memahami apa yang menjadi perhatian CSR konsumen. Bahkan hanya 17 persen yang benar-benar bertanya.

    ◦ 3/4 responden mengaku bahwa jumlah informasi tentang mereka yang dikumpulkan oleh kelompok advokasi meningkat dalam tiga tahun terakhir.

    Menurut George Pohle dan Jeff Hittner dari IBM, terdapat tiga dinamika yang harus dipahami oleh perusahaan dalam keterlibatannya dengan CSR:

    Information – From Visibility to Transparency

    Supaya terjalin hubungan yang lebih baik dengan konsumen maupun stakeholder, maka perusahaan harus mengadopsi teknologi maupun praktek bisnis yang memungkinkan para stakeholder untuk memperoleh informasi kapanpun dan dimanapun mereka berada, Misalnya, perusahaan perusahaan infrastruktur memungkinkan pelanggan untuk berpindah sumber energi berdasarkan ketersediaan sumber yang paling ramah lingkungan secara real time. Atau telepon seluler yang dapat men-scan bar code produk supaya memunculkan informasi yang diinginkan pengguna, mulai dari bahan-bahan hingga energi yang digunakan untuk membuatnya.

    Jika sebelumnya transparansi dan akuntabilitas memang jarang diimplementasikan di masa lalu, namun kini menjadi sebuah tantangan bagi perusahaan yang terlibat dengan banyak pihak. Ini bukan hanya masalah menyediakan informasi lebih banyak, melainkan informasi yang bernar. Perusahaan yang memberikan informasi relevan akan memenangkan kepercayaan dari konsumen, sehingga tercipta platform pertumbuhan yang kuat.

    Impact on Business – From Cost t Growth

    Perusahaan memandang CSR sebagai biaya izin untuk berbisnis di pasaran. Karena jika mereka gagal memenuhi regulasi lokal maupun global, maka reputasi merek ataupun perusahaan jadi taruhannya. Namun, kini perusahaan mulai memandang CSR sebagai sarana dalam menemukan ide produk baru, diferensiasi, menekan biaya, mempercepat entry pasar, dan menempatkan mereka dalam posisi yang lebih baik dalam talent wars.

    CEMEX misalnya, menyediakan diskon bagi pelanggan dengan pendapatan rendah dan membolehkan mereka untuk membayar material secara mingguan. Ini memungkinkan pelanggan untuk mengakses material berkualitas tinggi dengan harga sekitar 2/3nya saja. Nyatanya, in i justru memperluas pasar dan mendorong penjualan CEMEX. Segmen ini tumbuh 250% per tahunnya.

    Perusahaan juga memandang bahwa inisiatif CSR dapat mengurangi struktur biaya secara keseluruhan ataupun meningkatkan produktivitas. Canadian pulp and paper, misalnya, berhasil mengurangi emisinya sebanyak 70% dan energi sebanyak 21% sejak 1990. Pada 2005 dan 2006, perusahaan berhasil menghemat sebanyak $4.4 juta untuk pengurangan konsumsi bahan bakar sebesar 2%.

    Relationships – From Containment To Engagement

    Salah satu cara untuk memenuhi ekspektasi stakeholder adalah dengan menjalin hubungan secara kontinu. Misalnya, sebuah bisnis global yang berusaha untuk memonitor kondisi kerja dan standar lingkungan melalui supply chain di Asia Tenggara. Kemudian pada saat yang sama, NGO juga berfokus pada meningkatkan HAM dan memastikan bahwa bisnis mematuhi standar lingkungan masyarakat.

    Meskipun perusahaan dan NGO kadang menjadi oposisi, namun sesungguhnya melalui kolaborasi mereka sama-sama bisa mencapai tujuannya. Bisnis dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki NGO untuk memonitor, mengedukasi, serta meningkatkan operasi dari supplier. Sehingga perusahaan dapat menekan biaya yang seharusnya terjadi. Sementara itu, NGO juga mengambil manfaat karena mereka memperoleh akses serta memperoleh hasil lebih mudah.

    Misalnya, Marks & Spencer, setelah serangkaian skandal makanan di Inggris yang membuat konsumen skeptis, mereka meluncurkan kampanye “Behind The Label” yang memberikan edukasi kepada 16 juta pelanggan mengenai semua yang dilakukan perusahaan berkaitan dengan isu lingkungan dan sosial. M&S juga bekerjasama dengan NGO Oxfam untuk mengembangkan program dimana pelanggan bisa mendonasikan pakaiannya ke toko amal Oxfam serta memperoleh diskon untuk membeli pakaian baru di M&S. Mereka juga bekerjasama dengan para supplier untuk meningkatkan transparansi, dimana daging yang digunakan bisa dilacak langsung kepada sapi mana yang digunakan. Begitu pula dengan pakaian. Hasilnya, M&S berhasil memperbarui mereknya lagi, dengan pendapatan menguat 10% dan laba naik 22% pada 2006 hingga 2007.

    Sumber Bacaan :

    Rinella Putri, 2008. Strategi CSR Juga Mendorong Growth.
    http://vibiznews.com/journal.php?id=104&page=str_mgt

    Komentar oleh Yoppy Ariansya (C2B008081) | Juli 11, 2009 | Balas

  38. Salam sejahtera Pak Jo’, saya friska ingin memberikan tanggapan atas makalah yang telah Bapak sajikan dalam Blog ini :
    Community Social Responsibility ( CSR ) atau yang dapat diartikan sebagai Tanggung Jawab Sosial ini memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan suatu perusahaan. Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang “pembangunan berkelanjutan” menyatakan bahwa:
    ” CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya”.

    Perusahaan-perusahaan berkembang dominant menerapkan CSR ini dalam praktek bisnisnya, karena bagaimanapun antara lingkungan kerja memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan eksternal sehingga kita sebagai pihak internal harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan (stakeholders) tentunya baik itu stakeholder Primer meliputi; pemegang saham dan investor, karyawan, pelanggan, pemasok dan penduduk dimana perusahaan beroperasi. Maupun stakeholder sekunder yakni pihak yang tidak menerima pengaruh langsung terhadap bisnis perusahaan seperti; kelompok sosial. Dengan kepedulian yang dimiliki oleh perusahaan terhadap lingkungan sekitar serta pihak-pihak didalamnya, tentunya akan memberikan citra yang baik bagi perusahaan.

    Menanggapi beberapa pertanyaan yang Bapak uraikan di akhir makalah :

    1. Beri contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR ! Apakah CSR ini mendukung keberhasilan suatu perusahaan ?

    Ada beberapa perusahaan yang menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya, antara lain :
    • PT Bank Danamon Indonesia, Tbk
    • PT Unilever
    • PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
    • PT WKS
    • dan lain-lain

    Tentunya CSR mendukung keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan-perusahaan yang telah saya sebutkan diatas merupakan contoh perusahaan yang tergolong ke dalam perusahaan besar dan masih tetap eksis di tengah krisis yang menimpa negara ini yakni krisis global, salah satu rahasia keberhasilan yang mungkin dari perusahaan tersebut diatas adalah karena adanya tanggung jawab sosial yang secara nyata perusahaan tersebut implementasikan dalam lingkungan bisnisnya bukan hanya sekedar ucapan semata akan tetapi diwujudkan dalam suatu rangkaian kegiatan yang mungkin perlu bagi perusahaan tersebut untuk mengeluarkan biaya, namun biaya tersebut tidak sebanding dengan dampak positif yang bisa diterima secara berkesinambungan.

    Salah satu perusahaan yang mengimplementasikan CSR yakni PT Unilever, dimana Perusahaan ini berhasil memperoleh penghargaan diantaranya adalah “The Best in Corporate Governance 2004 Award” dari Asset Magazine, sebuah majalah bisnis terkemuka di kawasan Asia. Berdasarkan indeks Commitment to Corporate Governance, Shareholders’ Rights, Board of Commissioner’s Management, Functional Committees, Board of Directors, Stakeholder Relations dan Transparency and Accountability, menerima “Corporate Governance Perception Index 2004 Award” untuk tingkat nasional. Penghargaan ini diberikan oleh majalah SWA Sembada, majalah bisnis terkemuka Indonesia, serta IICG (Indonesia Institute for Corporate Governance). Tahun 2004, menerima penghargaan Tax Award dari Departemen Keuangan sebagai pembayar pajak yang taat. Dalam hal mewujudkan nilai yang positif bagi para pemegang saham, sebagai perusahaan yang memiliki investasi yang bernilai tinggi. Harian bisnis terkemuka Investor Indonesia memberi penghargaan “Top Performing Listed Company 2004” dan “Top Listed Company 2004” dalam sektor Household Goods. Penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dengan diperolehnya Zero Accident Award 2005 yakni atas kepedulian perusahaan tersebut terhadap keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja, serta sekitarnya.

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan Community Social Responsibility (CSR) ?

    Tantangan dalam menerapkan CSR ini dapat dari internal perusahaan itu sendiri maupun tantangan dari ekternal. Tantangan dari dalam perusahaan antara lain dapat berupa :
    – Dari perusahaan itu sendiri yang mana belum menerapkan CSR secara nyata dalam praktek bisnis perusahaannya dikarenakan persepsi negatif bahwa implementasi CSR merupakan beban bagi perusahaan dimana perusahaan akan mengeluarkan sejumlah biaya yang relatif besar terutama dalam pelaksanaan aktivitas CSR oleh perusahaan bersangkutan.
    – Pihak dari dalam perusahaan itu sendiri yang ada diantaranya tidak mendukung penuh program-program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan, dimana seluruh staf perusahaan seyogyanya turut memberikan partisipasi sehingga bukan hanya pimpinan saja yang menjadi penggerak.

    Tantangan yang mungkin dari eksternal sehubungan dengan penerapan CSR, antara lain :

    – Permasalahan dalam lingkungan, yang mana isu pemanasan global kian menjadi perhatian bagi penerapan CSR misalnya Danamon Peduli melalui Program Danamon Go Green.
    – Permasalahan pendidikan, yakni bagaimana perusahaan turut andil dalam upaya meningkatkan pendidikan negara ini yakni melalui pemberian beasiswa terutama kepada masyarakat yang kurang mampu agar dapat terus melanjutkan sekolahnya.
    – Permasalahan dalam kesehatan masyarakat, dimana masih banyaknya masyarakat kurang mampu yang tidak dapat berobat karena terhambat biaya, dimana perusahaan dalam hal ini dapat memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan tentunya.
    – Masalah Sosial Masyarakat, seperti; masalah pengangguran, anak-anak jalanan, anak-anak yatim piatu, dan sebagainya.
    Tantangan dalam mengimplementasikan CSR adalah adanya persepsi daripada perusahaan yang menganggap bahwa CSR dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan, sementara disisi lain apabila perusahaan bersangkutan berpandangan positif terhadap mamfaat yang mungkin diberikan dengan menginternalisasikan CSR dalam strategi perusahaan, dengan lebih peduli terhadap stakeholder (pemangku kepentingan) maka akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perusahaan itu sendiri disamping akan menciptakan image yang baik oleh masyarakat bagi perusahaan juga akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap upaya perusahaan untuk mengefisienkan biaya terutama biaya yang terkait dengan operasional maupun promosi terhadap produk ataupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan, karena citra yang baik telah tercipta dengan penerapan CSR dalam praktek bisnisnya. CSR yang diterapkan dengan baik akan memberikan mamfaat bagi perusahaan melalui kepeduliannya terhadap masyarakat, perusahaan melalui yayasan yang didirikan khusus untuk menangani masalah CSR dilakukan secara professional yang bukan hanya sekedaar untuk memberikan sumbangan semata kepada masyarakat tetapi juga memasukkan unsur pendidikan/ pembinaan di dalamnya sehingga ke depan masyarakat tersebut berpandangan maju ke depan untuk menngkatkan kesejahteraan hidupnya.

    3. Jelaskan CSR yang diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan !

    CSR menjadi bagian dari strategi perusahaan, salah satu perusahaan yang secara nyata menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya adalah PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. Dimana perusahaan ini memiliki sebuah yayasan yakni Yayasan Danamon Peduli yang membuat program-program berarti dan bernilai sosial bagi lingkungannya. Pemimpin yang menjadi penggerak bagi suatu perusahaan harus dapat memberikan motivasi serta arahan positif bagi seluruh karyawannya, sebagaimana hal yang dikemukakan oleh CEO Danamon Sebastian Paredes pada Acara Town Hall yang pernah digelar tahun 2008 bahwa ”Kita bergelut dalam bisnis yang DINGIN, tapi bukan alasan bagi kita untuk tidak PEDULI”
    Bagi pekerja tentunya banyak menghabiskan waktu dikantor setiap hari, namun secara tidak sadar apa yang kita kerjakan memberikan dampak terhadap lingkungan. Dalam Aktivitas kerja tentunya kita banyak menggunakan energi, kertas, air, dan sumber daya lainnya dalam masyarakat yang menyumbang secara nyata terhadap produksi emisi gas karbon penyebab efek rumah kaca dan pemanasan global. Melihat kondisi yang ada akan baik bagi kita serta semua pihak agar kita ramah terhadap lingkungan sehingga akan menjadikan pertumbuhan yang berkesinambungan bagi perusahaan kita tentunya. Adapun kegiatan yang rutin setiap tahun dilaksanakan oleh Bank Danamon adalah Kegiatan Pasarku Bersih dimana karyawan-karyawan Danamon turun secara langsung melakukan aktivitas bersama dengan masyarakat setempat tentunya. Ataupun roadshow keliling Indonesia yang dilakukan oleh para karyawan Bank untuk mempresentasikan program ”Danamon Go Green” (konversi sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik) yakni lebih dari 30 kota seluruh Indonesia, dimana program ini tidak hanya memecahkan masalah sampah di pasar tradisional tetapi juga mampu memberdayakan berbagai pihak yakni antara lain pemerintah daerah, komunitas pasar tradisional, universitas, serta karyawan danamon itu sendiri.
    Kegiatan-kegiatan Danamon sebagai wujud daripada tanggung jawab sosial Danamon terhadap masyarakat misalnya; diwujudkan pada saat Rhamadan tahun 2008 yang lalu dimana kegiatan yang dilakukan tidak terbatas dalam bentuk kegiatan membagikan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan, juga mencakup skala yang lebih luas lagi yakni pembangunan dan pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan. Selain lingkungan sekitar, kita juga harus PEDULI terhadap semua lapisan masyarakat dimana bukan hanya bagi masyarakat yang merupakan pelanggan/ nasabah yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan semata, salah satu wujud kepedulian Bank tersebut mungkin dapat kita saksikan sendiri melalui program program acara yang disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi yang mana memberikan penghargaan bagi orang-orang yang dianggap luar biasa serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat yakni Program Danamon Award yang digelar tahun 2008 yang lalu. Ada beberapa kegiatan yang digelar oleh Danamon sehubungan dengan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat.
    Perusahaan yang juga menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya yakni PT Unilever Indonesia, Tbk, dalam paper perusahaan tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang berjudul ”Berpadu Dalam Cita Bersama Masyarakat & Lingkungan” disana tertulis bahwa ”Unilever Indonesia menyadari pentingnya memberi dan berbagi, bukan semata untuk meningkatkan reputasi, tetapi membantu kami terus tumbuh dan berkembang. Bagi kami, tanggung jawab sosial preusan tidak terpisahkan dari bisnis ”. CSR (Tanggung Jawab sosial Perusahaan) merupakan dampak keseluruhan kegiatan perusahaan terhadap masyarakat. Adapun hal-hal yang diterapkan sehubungan dengan penerapan CSR oleh perusahaan ini antara lain ;

    1. Membangun Sinergi Kesuksesan bagi Masyarakat (Dampak Rantai Nilai)
    Dampak yang lebih luas diciptakan melalui rantai nilai, mulai dari pemasok, pelanggan, hingga konsumen. Unilever memperkenalkan standar perilaku usaha bagi pemasok, yang disebut Business Partner Code, dan menerapkan “Supplier Quality Management Programme” (SQMP) untuk mendorong pemasok dalam meningkatkan kemampuan dan kinerja mereka. Unilever bermitra dengan berbagai jenis distributor independen untuk meningkatkan semangat kewirausahaan, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan keuntungan bagi usaha-usaha lokal.

    2. Memenuhi Panggilan Masyarakat (Kontribusi Sukarela)
    Kontribusi sukarela terhadap masyarakat secara luas, yang dilakukan melalui kemitraan dengan LSM, badan pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat, terlihat seperti “puncak gunung es” yang merupakan dampak yang lebih besar dari kegiatan perusahaan yang sesungguhnya. Kontribusi tersebut mencakup program-program berkesinambungan, yang dilaksanakan secara profesional di bawah Yayasan Unilever Indonesia Peduli. Salah satunya adalah pengembangan para petani kedelai hitam sebagai mitra usaha Unilever. Dimana Unilever dalam hal ini mendorong para karyawan untuk ikut berbagi hati, pikiran dan pengalaman melalui kegiatan bakti sosial sukarela bagi yang membutuhkan, seperti yatim piatu, anak jalanan, penduduk miskin, dan lainnya.

    Sebagaimana Bank Danamon melalui yayasan pedulinya, PT Unilever Indonesia, Tbk juga memiliki yayasan yang diberi nama ”Yayasan Unilever Indonesia Peduli” yang juga menangani masalah CSR ini, membuat program-program penting yang dilakukan sejalan dengan bisnis perusahaan. Dampak positif yang diberikan bagi perusahaan menjadikan banyaknya perusahaan yang dewasa ini menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya menjadi bagian dalam strategi perusahaan, yang mendukung tercapainya tujuan perusahaan yang tidak semata-mata untuk mencapai keuntungan semata tetapi lebih bersifat jangka panjang dan berkesinambungan, sehingga seluruh staf karyawan yang terkait dilingkungan kerja sebaiknya ramah terhadap lingkungan, memiliki kepedulian sosial yang tinggi kepada seluruh lapisan masyarakat; baik itu stakeholder primer maupun sekunder, sebab bagaimanapun juga perusahaan memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan serta masyarakat. Disamping stakeholder primer perusahaan juga harus memperhatikan tanggung jawab sosialnya kepada stakeholder primer misalkan para pemegang saham dimana perusahaan wajib memberikan hak nya pemegang saham, juga kepada para karyawannya terutama masalah kesehatan yang harus diperhatikan misalnya dengan memberikan fasilitas kesehatan yakni assuransi kesehatan.

    TINJAUAN PUSTAKA :

    Iben Yuhenzo. 2008. Being Green @ The Office. http://www.danamon.co.id

    Laporan Tahunan 2008 PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. http://www.yahoo.co.id

    __________ , Tanggung Jawab Sosial Perusahaan PT Unilever Indonesia, Tbk. Berpadu dalam Cita Bersama Masyarakat dan Lingkungan. http://www.google.co.id

    Lintang Mas Melati. 2008. Setahun Bersama Danamon Peduli. Danamon Monthly Bulletin

    Mas Achmad Daniri. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. http://www.google.co.id
    Sukarmi. 2008. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) dan Iklim Penanaman Modal di Indonesia. http://www.yahoo.co.id
    WBCSD (2000). Corporate Social Responsibility: Making good business sense. World Business Council for Sustainable Development. http://www.google.co.id

    Friska, rupanya dua kali kirim, yg pertama salah nomor msw. Ok, Selamat dan sukses.

    Komentar oleh Friska Artaria, S nim C2B008033 Magister Manajemen | Juli 12, 2009 | Balas

  39. Selamat Sore Pak Jo, Salam sejahtera untuk kita semua.. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Bapak mengenai:
    1.a. contoh perusahaan yang menerapkan CSR, dapat dijelaskan sebagai berikut :
    Perusahaan-perusahaan di Indonesia memiliki beberapa peran penting untuk turut mensukseskan program Pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Salah satu peran tersebut adalah dengan menjalankan program-program corporate social responsibility (CSR). Pelaksanaan program-program CSR tersebut juga akan mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan bisnisnya sehingga terwujud sebuah pembangunan berkelanjutan yang merupakan konsep inti dari CSR. Lebih lanjut, program-program CSR yang dijalankan juga akan menciptakan reputasi positif dan keunggulan kompetitif yang dibutuhkan perusahaan dalam menghadapi persaingan bisnis. Penelitian yang menggunakan metode studi kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola program-program CSR yang dijalankan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk; PT. Sari Husada; PT. Astra International, Tbk; dan PT. Aneka Tambang, Tbk. Keempat perusahaan tersebut dipilih menjadi obyek penelitian dalam studi kasus ini karena sebagai perusahaan go public, keempat perusahaan tersebut memiliki transparansi dan akuntabilitas yang tinggi sehingga memudahkan penulis dalam mendapatkan data dan informasi mengenai program-program CSR yang dilaksanakan. Data primer dan sekunder yang berupa informasi mengenai program-program CSR dari keempat perusahaan tersebut diperoleh dari sustainable report yang didownload melalui website masing-masing perusahaan, pemberitaan pada media massa yang didownload melalui internet serta kajian literatur lainnya. Identifikasi yang dilakukan difokuskan pada tiga hal, yaitu keterkaitan program CSR dengan bisnis inti perusahaan; cakupan program CSR terhadap triple bottom line (ekonomi, sosial, dan lingkungan); serta pelaksanaan program CSR yang merupakan pembangunan berkelanjutan dan keunggulan kompetitif perusahaan.
    1.b. Apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan. Jawaban menurut saya adalah sangat mendukung keberhasilan perusahaan. Hasil studi menunjukkan komitmen yang tinggi dari keempat perusahaan tersebut terhadap pelaksanaan program CSR dan etika bisnis. Keempat perusahaan tersebut juga mengupayakan untuk melaksanakan program CSR yang mencakup triple bottom line. Selain itu, juga dapat diketahui bahwa perusahaan consumer goods (Unilever Indoneisa dan Sari Husada) dan manufaktur (Astra International) melaksanakan program CSR yang terkait maupun tidak terkait dengan bisnis inti perusahaan, sedangkan perusahaan tambang (Aneka Tambang) cenderung melaksanakan program CSR yang tidak terkait dengan bisnis inti perusahaan. Temuan lain yang diperoleh dalam studi kasus ini adalah pelaksanaan program CSR, baik itu yang terkait dengan bisnis inti maupun tidak, merupakan wujud pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memahami praktik-praktik CSR yang dilaksanakan beberapa perusahaan di Indonesia. Kata kunci: Aneka Tambang, Astra International, corporate social responsibility, etika bisnis, keunggulan kompetitif, pembangunan berkelanjutan, reputasi, Sari Husada, studi kasus, triple bottom line, Unilever Indonesia.
    Deskripsi Alternatif :
    Companies in Indonesia have important roles to contribute in the government’s programs for social welfare and to increase the people’s life quality. One of the roles is by running corporate social responsibility (CSR) programs. The execution of CSR programs will also push business world to be more ethical in their operation so that the programs lead to sustainable development as the core of CSR. Further, carried out CSR programs will also create positive reputation and competitive advantage required by the company in business competition. This case study research is aimed at identifying the pattern of CSR programs run by PT. Unilever Indonesia, Tbk; PT. Sari Husada; PT. Astra International, Tbk; and PT. Aneka Tambang, Tbk. These four companies are chosen as objects of this case study because as go public companies, they have high transparency and accountability to facilitate the researcher in obtaining data and information about their CSR programs. Primary and secondary data are in forms of information about CSR programs conducted by the four companies from sustainable reports downloaded from each respective company’s website, mass media news downloaded from the internet and other literature studies. The identification was focused on three main areas, namely: relation of CSR programs with the companies’ core businesses, coverage of the programs on triple bottom line (economic, social, and environmental); and the execution of CSR programs as sustainable development and the companies’ competitive advantage. The result of this case study shows high commitment from the four companies on the execution of CSR programs and business ethics. They also attempt to carry out the programs involving triple bottom line. Besides, this case study found that consumer goods companies (Unilever Indonesia and Sari Husada) and manufacture company (Astra International) conduct both related and unrelated CSR programs to their core businesses while (Aneka Tambang) a mining company tend to conduct unrelated CSR programs to their core business. Another finding from this case study is that both related and unrelated programs are forms of the companies’ sustainable development. The result is expected to contribute to the understanding of CSR practices carried out by companies in Indonesia. Keywords: Aneka Tambang, Astra International, business ethics, case study, competitive advantage, corporate social responsibility, reputation, Sari Husada, sustainable development, triple bottom line, Unilever Indonesia.

    Pertanyaan kedua, Apakah tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR, yaitu :
    Saat ini wacana tentang Corporate Social Responsibility (CSR) bukan merupakan wacana baru lagi. Berbagai pihak sudah mengkampanyekan pentingnya tanggungjawab sosial ini bagi perusahaan baik untuk menjaga kelangsungan produksi sampai untuk tujuan membangun legitimasi sosial. Masih terdapat Pertentangan pendapat mengenai hakekat tanggungjawab sosial perusahaan jika ditelusuri secara ontologis berkaitan erat dengan konsepsi mengenai fungsi dasar kegiatan bisnis dan hubungannya dengan institusi lain dalam masyarakat, termasuk pemerintah. Bila ditilik lebih dalam lagi pertentangan muncul sangat erat dengan landasan filsafat serta pandangan etika moral mengenai bisnis. Bahkan juga dipertanyakan apakah bisnis dapat dituntut memiliki suara hati (consience) sebagaimana halnya individu.
    Lepas dari perdebatan tentang pentingnya CSR yang kemudian melahirkan Undang-undang No. 40 Tentang Perseroan Terbatas, bahwa setiap perusahaan yang melakukan aktivitas usaha di Indonesia harus mampu memberikan dampak positif terhadap masyarakat. Upaya tersebut diatas harus terlihat dari penerapan prinsip demokrasi ekonomi, efisiensi, keberlanjutan (sustainebility), dan berwawasan lingkungan. Bila konsep ini dikaitkan dengan pengertian CSR, sebenarnya tidak ada alasan bagi pengusaha Indonesia atau perusahaan untuk tidak menerapkan CSR dalam aktivitas usahanya, karena CSR ini telah menjadi amanat konstitusi.
    Tantangan dan perubahan lingkungan menciptakan peluang baru dan memaksa bagi setiap perusahaan untuk melaksanakan apa yang disebut dengan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility). Nampaknya perusahaan tidak bisa lagi hanya menerapkan prinsip “the business of bussines is bussines” tetapi, perusahaan hendaknya bertanggungjawab terhadap masalah-masalah sosial disekitarnya termasuk soal pengangguran, kemiskinan, perempuan termarginalkan, gelandangan, pengemis, anak jalanan, gizi buruk, kelaparan, pendidikan untuk semua, kerusakan lingkungan, bencana alam dll.
    Sejalan dengan prinsip, pengaturan dan implementasi, maka CSR hendaknya dapat dijadikan sebagai ajang strategi bisnis bagi perusahaan melalui program dan kegiatan CSR untuk menggaet simpati masyarakat sekitar demi keberlangsungan usaha. Sudah semestinya CSR dilaksanakan atas dasar kesukarelaan (voluntary), bukan didasarkan atas kewajiban yang bersifat mandatary dalam makna liability.
    Implementasi CSR yang sesungguhnya berkaitan erat dengan United Millennium Declaration yang berupa Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB. Bagaimana caranya CSR yang menjadi kewajiban bagi perusahaan didorong untuk mengupayakan terhadap penghapusan tingkat kemiskinan dan kelaparan, pencapaian pendidikan dasar secara universal, dapat mengembangkan kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu melakukan perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya yang akhirnya mampu menjamin berlanjutnya pembangunan lingkungan serta dapat mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
    Buku yang sederhana ini terdiri atas 9 (Sembilan) bagian yang akan mencoba menjelaskan bagaimana substansi dari prinsip-prinsip dari CSR dan pengaturannya dalam konteks Indonesia. Melalui uraian dari masing-masing bagian pada buku ini, akan dapat menjawab bagaimana seharusnya sikap dari pelaku usaha terhadap regulasi tentang CSR itu sendiri. Apakah menolak, menerima dan/atau menerima dengan berbagai alasan sehingga keberadaan lembaga CSR ini betul-betul berdampak positif, baik bagi shareholders mau pun stakeholders dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang berlandaskan pada aspek triple bottom line.
    Sebagai gambaran para pembaca yang budiman, secara ringkas pada bagian pertama, buku ini membahas tentang konsep tanggung jawab sosial perusahaan/CSR dalam makna responsibility dan liability. Sehingga, secara teoritis tanggung jawab sosial perusahaan/CSR dapat dipahami melalui pengertian dan definisi yang utuh –masih bersifat sementara– tentang CSR yang dapat dijadikan sebagai acuan atau rujukan tentang pengembangan konsep dan teori CSR itu sendiri. Meskipun demikian, diakui sebagian pihak menganggap bahwa konsep ini masih ambigu dan dapat diperdebatkan.
    Pada Bagian kedua, buku ini memberikan batasan tentang ruang lingkup dan prinsip-prinsip serta bentuk-bentuk CSR ketika akan diimplementasikan dilapangan bagi perusahan. Sementara pada bagian ketiga, buku ini mengupas tentang pandangan CSR dalam perspektif shareholders theory dan stakeholders theory. Untuk bagian empat, buku ini mengupas tentang CSR dan isu-isu mutakhir dimulai dari kilas balik konsep pembangunan berkelanjutan yang diawali dari Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm, KTT Bumi di Rio de Janeiro, KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Isu selanjutnya tentang bagaimana Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia diteruskan dengan Protokol Kyoto, dan KTT Millennium di New
    Selanjutnya, pada bagian kelima menggagas tentang urgensi CSR yang memperdebatkan apakah CSR itu “sukarela” atau “wajib” bagi perusahaan seiring dengan tuntutan masyarakat dan pengaturan tentang tanggungjawab sosial perusahaan dalam UUPT dan UUPM. Pada bagian ini juga menyampaikan pesan kepada perusahaan tentang manfaat CSR bagi perusahaan jika diimplementasikan secara serius dan sungguh-sungguh sehingga CSR dapat dijadikan sebagai strategi bisnis untuk meraih keuntungan sebaik-baiknya.
    Pada bagian enam penulis mencoba membedah anatomi Triple Bottom Line (3BL) yang mempunyai hubungan sinergis antara profit (keuntungan) people (masyarakat) dan planet (lingkungan). Buku ini juga menganalisis ISO 26000 (Guidance Standard on Social Responsibility) yang berasal dari dokumen asli tentang Putusan kelompok kerja ISO 26000. Untuk bagian ketujuh, buku ini mengaitkan hubungan antara good corporate governance (GCG) dengan CSR sehingga ada pemahaman terhadap pengertian dan prinsip-prinsip GCG dan bagaimana implementasi dari prinsip CSR dalam GCG. Bagian kedelapan, buku ini mengupas tentang bagaimana pengaturan CSR dalam UUPT mulai dari landasan filosofis, latar belakang amandemen dan kewajiban CSR dalam UUPT beserta pengaturan CSR dalam UUPT dan UUPM.
    Terakhir, bagian sembilan ini membahas tentang CSR dari gagasan pengembangan dan implementasi CSR yang sekarang ini sebagain pihak menganggap CSR sebagai “konsep yang masih ambigu”. Yang tidak kalah menarik dan mencengangkan pada bagian ini dilengkapi dengan temuan-temuan dan fakta-fakta lapangan yang ada kaitannya dengan praktik-praktik CSR yang dibidik melalui riset-riset oleh para ahli serta ditunjukkan tuntutan implementasi CSR bagi perusahaan yang berasal dari berbagai pihak seperti masyarakat, media massa, LSM bahkan pemerintah sendiri. Sebagai pengimbang, buku ini juga menyajikan penerapan CSR yang telah dilakukan oleh beberapa pihak perusahaan di Indonesia.
    Atas dasar substansinya, maka buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh kalangan teoritis, pelaku dunia usaha, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dan lingkungan. Selain pihak tersebut, buku ini juga direkomendasikan bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana pada program studi ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu-ilmu sosial dan ilmu psikologi.

    Pertanyaan ketiga CSR yang diterapkan perusahaan menjadi bagian strategi perusahaan? Ya, karena :
    Strategi CSR yang meningkatkan keuntungan perusahaan
    Ada kisah menarik di India, yang berupaya melakukan revolusi ‘putih’, dimana pemerintah ingin meningkatkan konsumsi susu per kapita secara signifikan. Di daerah miskin Moga, tahun 1962, para peternak lokal susu menghadapi masalah akses terhadap saluran – saluran irigasi, tanah yang subur, hambatan cuaca yang panas, penyakit ternak serta kekurangan pasar. Ketika Nestle masuk wilayah tersebut, mereka menyadari bahwa untuk mendapatkan pasokan susu murni yang cukup bagi pabrik susu dan makanan olahan susu, mereka harus membantu peternak lokal dalam menyediakan susu berkualitas.
    Maka diluncurkanlah program bantuan kepada peternak lokal susu. Nestle membangun organisasi pembelian susu untuk memudahkan akses pasar susu lokal. Selanjutnya mendirikan infrastruktur pusat-pusat penyimpanan susu di beberapa tempat, yang dilengkapi dengan dokter hewan, ahli gizi ternak, ahli pertanian untuk membantu peternak lokal, termasuk pemberian obat dan suplemen gizi untuk kesehatan ternak. Sumur-sumur digali dan saluran irigasi diperbaiki dengan bantuan finansial dan teknik dari Nestle. Hasilnya? Sungguh mengagumkan. Ketika pertama kali meluncurkan program ini, hanya diikuti oleh 180 peternak lokal. Sekarang, sudah diikuti lebih dari 75 ribu peternak. Dengan infrastruktur cluster susu yang dibangun, Nestle membeli susu dari 650 lokasi pemerahan dan penyimpanan susu di wilayah Moga. Kini wilayah Moga dan sekitarnya sudah meningkat kondisi sosialnya dibandingkan wilayah tetangga.

    Bagi Nestle sendiri, sudah tentu mendapatkan jaminan pasokan susu berkualitas yang berkesinambungan. Secara strategis, program yang dijalankan di India ini menjadi proyek pengembangan keunggulan kompetitif Nestle jangka panjang yang juga dijalankan di beberapa negara berkembang. Bagi India, sudah tentu mendapatkan keuntungan yakni tercapainya program revolusi putih dengan meningkatknya konsumsi susu per kapita, juga memperoleh peninngkatan kesejahteraan masyarakat khususnya wilayah Moga. Itulah salah satu contoh program CSR yang sudah menjadi bagian strategis jangka panjang perusahaan.
    Memang bukan hal mudah untuk menjadikan CSR sebagai bagian strategi perusahaan. Apalagi sebagai bagian strategi bisnis, yang mampu memberikan profit dan keuntungan bagi perusahaan secara jangka panjang. Kebanyakan perusahaan masih menjadikan CSR hanya sebagai biaya, atau reactive action untuk mengantisipasi penolakan masyarakat, lingkungan atau pemerintah. Beberapa perusahaan sudah mampu menjadikan CSR sebagai brand atau corporate image. Seperti yang dilakukan perusahaan seperti Telkom yang memberikan komputer ke sekolah-sekolah dan hotspot gratis untuk akses internet, atau Djarum yang memberikan beasiswa kepad pelajar/mahasiswa berprestasi. Namun masih sedikit yang menjadi bagian strategi bisnis perusahaan.

    Contoh lainnya adalah seperti yang dilakukan Debeers, perusahaan tambang dan perdagangan intan terbesar di dunia. Ketika geologist Debeers menemukan gulungan sabuk intan di Orapa, botswana pada tahun 1960 an, mereka menyanding pemerintah Botswana sebagai pemegang saham dalam mengeksplorasi intan. Untuk meningkatkan peran serta dan dukungan pemerintah serta masyarakat terhadap aktifitas Debeers, secara bertahap pemerintah Botswana meningkatkan kepemilikan saham di Debeers sampai 50% dan perusahaan berubah menjadi Debeers Botswana Diamond, LLC atau disingkat Debswana. Program kesehatan, dan penyuluhan bagi masyarakat miskin Botswana juga diluncurkan untuk masyarakat Botswana. Selain itu, proses sertifikasi dan kegiatan sorting intan yang dulunya dilakukan di London, dipindahkan ke Botswana untuk meningkatkan nilai tambah.
    Hasilnya, Botswana yang dulunya dikenal sebagai negara miskin di Afrika, sekarang masuk ke dalam kategori menengah dengan pendapatan per kapita USD 9200 pada tahun 2004, jauh lebih tinggi dari Indonesia yang sekitar USD 2000. Tambang intan di Botswana, menyumbang sepertiga GDP Botswana, dan merupakan 90% ekspor luar negeri Botswana. Bagi Debeers sendiri, tambangnya di botswana adalah 2/3 dari seluruh hasil tambang intan Debeers di seluruh dunia. Dengan hasil seperti ini, sampai-sampai bentuk hubungan kemitraan dengan Debeers disebutkan oleh Presiden Botswana, MF Mogae pada tahun 1997 sebagai berikut “ The partnership between De Beers and Botswana has been likened to a marriage. I sometimes wonder whether a better analogy might not be that of siamese twins.” Sungguh benar-benar hubungan yang harmonis, sinergis dan strategis antara perusahaan komersial dengan pemerintahan.
    Dengan contoh diatas, perusahaan tersebut telah berhasil menyelaraskan program CSR mereka dengan strategi bisnis perusahaan. Tidak hanya berhasil membantu masyarakat, lingkungan maupun pemerintah atau dengan kata lain stakeholder, tetapi yang terpenting adalah membantu perusahaan itu sendiri. Mereka memperoleh peningkatan produktifitas yang memberikan keuntungan pada akhirnya memberikan keunggulan kompetitif berkesinambungan. Melalui program CSR yang lebih strategis dan sinergis, diharapkan permasalahan sosial, lingkungan, kesejahteraan sosial maupun kebutuhan strategis bisnis dapat terjawab, sehingga tidak ada kata lagi bahwa program CSR dan tujuan bisnis perusahaan saling bertolak belakang.
    Demikian Pak dari saya, Terima Kasih, Selamat Sore Pak Jo.

    Dari : Yudhi Resmana
    NIRM : C2B008082
    Angkatan : X
    Kelas Reguler Malam
    Magister Manajemen
    Universitas Jambi

    Yudi, penjelasanmu tuntas dan terstruktur, tapi referensinya belum terlihat. Sukses.

    Komentar oleh Yudhi Resmana | Juli 12, 2009 | Balas

  40. Repair Old Confirm :

    TANGGUNG JAWAB SOSIAL
    (Corporate Social Responsibility)

    Oleh : Sri Indah Handayani – C2B00873
    Magister Manajemen UNJA

    1. Contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.

    Salah satu perusahaan besar yang telah menerapkan corporate social responsibility selama bertahun-tahun adalah Unilever. Unilever telah membuat program CSR dengan baik dan sistematis. Bahkan mereka memasukkan unsur-unsur tanggung jawab sosial dalam visi dan misi perusahaan mereka. Misi Unilever adalah untuk menambahkan vitalitas dalam kehidupan. Unilever memenuhi kebutuhan masyarakat akan nutrisi, kebersihan, dan perawatan pribadi dengan menyediakan produk-produk yang akan membantu masyarakat untuk merasa, melihat dan menjadi lebih baik dalam kehidupan. (www.unilever.com).

    Unilever telah mengakar kuat dalam kultur dan pasar di seluruh dunia dan membuat Unilever memiliki hubungan yang kuat dengan pelanggan yang akan menjadi landasan untuk pertumbuhan di masa mendatang. Unilever akan membawa pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk melayani seluruh masyarakat dunia.

    Produk-produk dari Unilever yang terdiri dari consumer goods telah tersebar di seluruh dunia dengan total penjualan lebih dari 27 juta Euro, 29% disumbang dari penjualan produk mereka di Asia dan Afrika (www.unilever.com). Di Indonesia, salah satu produk Unilever yang menjadi pemimpin pasar adalah Lifebuoy. Menurut hasil survei yang dilakukan Swa bersama MarkPlus dan MARS, Lifebuoy adalah salah satu produk yang memiliki brand value tertinggi pada tahun 2003, 2004, 2005 untuk kategori sabun mandi padat.

    Perlindungan dan kebersihan adalah komitmen Lifebuoy untuk masyarakat. Oleh karena itu, sejak bertahun-tahun yang lalu Lifebuoy telah membuat program-program pertanggungjawaban sosial untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat tentang arti penting menjaga kebersihan. Program-program yang telah dilakukan oleh Lifebuoy antara lain, kampanye membudayakan mencuci tangan dengan sabun, kampanye kebersihan lingkungan, menyumbang sarana MCK untuk masyarakat miskin, menyumbang sarana kebersihan untuk sekolah-sekolah dalam program “berbagi sehat” yang pada intinya mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan.

    Program “berbagi sehat” merupakan sebuah program pemasaran yang lebih difokuskan untuk memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Lifebuoy menjalankan program “berbagi sehat” dengan menekankan kampanye mencuci tangan dengan sabun dan membangun sarana kebersihan di lingkungan masyarakat dan sekolah karena hingga saat ini di negara-negara berkembang, diare adalah salah satu penyebab kematian terbesar pada anak-anak.

    Penelitian dari World Bank menyebutkan bahwa penerapan praktek kebersihan secara sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan dapat mengurangi tingkat kematian pada anak-anak yang disebabkan penyakit diare hingga 2 juta kematian per tahun. (www.unilever.com).

    Sumber Bacaan :

    http://www.jurnalskripsi.com/pengaruh-sikap-konsumen-dalam-penerapan-program-corporate-social-responsibility-csr-terhadap-brand-loyalty-sabun-mandi-lifebuoy-studi-pada-mahasiswa-fakultas-ekonomi-universitas-brawijaya-malang-pdf.htm

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR.

    Dewasa ini, para pemimpin perusahaan menghadapi tugas yang menantang dalam menerapkan standar-standar etis terhadap praktik bisnis yang bertanggungjawab. Survey Pricewaterhouse Coopers (PwC) terhadap 750 Chief Executive Officers menunjukkan bahwa peningkatan tekanan untuk menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) menempati ranking kedua dari tantangan-tantangan bisnis paling penting di tahun 2000 (Morimoto, Ash dan Hope, 2004).

    Meskipun sedang meroket, CSR tampaknya masih diselimuti kabut misteri. Belum ada definisi CSR yang mudah diukur secara operasional. Beberapa UU CSR di Indonesia belum diikuti oleh peraturan di bawahnya yang lebih terperinci dan implementatif. Standar operasional mengenai bagaimana mengevaluasi kegiatan CSR juga masih diperdebatkan. Akibatnya, bukan saja CSR menjadi sulit diaudit, melainkan pula menjadi program sosial yang berwayuh wajah.

    Banyak perusahaan yang hanya membagikan sembako atau melakukan sunatan massal setahun sekali telah merasa melakukan CSR. Tidak sedikit perusahaan yang menjalankan CSR berdasarkan ”copy-paste design” atau sekadar ”menghabiskan” anggaran. Karena aspirasi dan kebutuhan masyarakat kurang diperhatikan, beberapa program CSR di satu wilayah menjadi seragam dan seringkali tumpang tindih.
    Walhasil, alih-alih memberdayakan masyarakat, CSR malah berubah menjadi Candu (menimbulkan ketergantungan pada masyarakat), Sandera (menjadi alat masyarakat memeras perusahaan) dan Racun (merusak perusahaan dan masyarakat) (Suharto, 2008).

    Sumber Bacaan :

    Blog Asosiasi Auditor Internal, 2009. Tantangan Profesi Auditor Internal Dalam Penerapan GCG http://blog.auditor-internal.com/?p=20

    3. CSR yg diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan.

    Untuk mendapatkan mendapatkan impact optimal dari program CSR, baik untuk stakeholder perioritas, maupun perusahaaan, Pada tanggal 21-22 Juli 2008 PT Perusahaan Gas Negara bekerja sama dengan InterDev melakukan Workshop CSR bagi unit CSR dan non CSR di Wisma PGN Megamendung Bogor.

    Workshop ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman unit kerja terkait stakeholder tentang KONSEP, TEKNIK DAN TAHAPAN PENYUSUNAN STRATEGI CSR untuk mendukung VISI dan MISI PERUSAHAAN. Dengan pemahaman tersebut diharapkan setiap unit kerja yang bersentuhan dengan stakeholder mempunyai kesempatan memberikan kontribusi dan mendapatkan impact dari keberhasilan CSR.

    Workshop dilakukan dengan simulasi dan share pengalaman yang didahului oleh paparan konsep, dengan tahapan:

    •Simulasi analisis kondisi faktor CSR dan perumusan masalah
    •Simulasi analisis stakehoder perioritas (untuk study kasus dipakai tool pada perusahaan ekstraksi dengan analisis kondisi faktor perubahan sosial ekonomi)
    •Simulasi perumusan isu-isu perioritas dan penyusunan strategi
    •Simulasi penterjemahan strategi menjadi program kerja

    Pada Workshop tersebut dikupas dan disimulasikan materi yang meliputi, konsep CSR (corporate Social Responsibility) dalam perspektif tangung jawab dan kepentingan perusahaan, Analisis kondisi faktor CSR, yakni analisis faktor penentu keberhasilan program CSR yang dikembangkan oleh Interdev dalam berbagai program CSR yang telah mereka lakukan. Analisis Kondisi Faktor CSR dilakukan secara kontektual yang meliputi:

    •Analisis kondisi hubungan dengan stakeholder, pada bagian ini dipaparkan pengertian stalehoder, unit-unit kerja yang bersentuhan dengan stekholders, teknik analisis, teknik perumusan isu-isu.

    •Analisis stakeholder perioritas, yakni memilih stakeholder yang perlu menjadi perhatian, penentuan perioritas ditetapkan berdasarkan keterkaitan dengan stakehoder lainnya dan juga penting bagi perusahaan untuk membangun “stakeholders engagements”

    •Analisis kondisi stakeholder perioritas, pada bagian ini dibahas teknik perumusan isu-isu dan penentuan isu-isu aksi perioritas untuk membangun “stakeholders engagements”. Pada kesempatan ini di simulasikan analisis sosial ekonomi masyarakat di daerah operasi perusahaan dengan menggunakan double diamond yang dikembangkan Interdev

    •Analisis operasional perusahaan dan rantai nilai, pada bagian ini dibahas beberapa aspek operasional perusahaan yang terkait dengan stakeholder, terutama yang terkait dengan pembangunan dan operasional transmisi gas.

    •Analisis kondisi program CSR, terkait dengan aspek SDM, manajemen dan lain-lainnya.

    Setelah dilakukan analisis kondisi faktor dan perumusan isu-isu perioritas maka dilakukan simulasi dan penyusunan strategi CSR dan penyusunan program. Workshop ini diikuti oleh 14 peserta dari berbagai unit kerja yang terkait atau berhubungan secara langsung ataupun tidak langsung dengan stakeholder.

    Dari Workshop tersebut, pada hari pertama peserta masih sulit memahami kaitan antara konsep yang disampaikan dengan implementasi sehingga suasana workshop yang bersemangat belum terbentuk tetapi memasuki hari kedua, melalui simulasi peserta mulai melihat kaitan teknik perumusan isu dan perioritas dengan konsep CSR maka mulai muncul semangat belajar dan puncaknya saat mereka merumuskan strategi CSR secara bersama-sama.

    Sumber Bacaan :

    PT Interdev. 2008. Workshop CSR untuk perumusan strategi dan program. http://interdev.co.id/detail/news/45/Corporate_Social_Responsibility_strategy_implementation_program

    Sri Indah, assignmu telah saya baca. Jawabannya terstruktur dan dilengkapi dg referensi. Good Luck.

    Komentar oleh Sri Indah Handayani – C2B00873 | Juli 12, 2009 | Balas

  41. Salam sejahtera Pak Jo’, saya friska mencoba untuk menanggapi makalah yang telah Bapak sajikan dalam Blog ini :

    Community Social Responsibility ( CSR ) atau yang dapat diartikan sebagai Tanggung Jawab Sosial ini memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan suatu perusahaan. Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang “pembangunan berkelanjutan” menyatakan bahwa:
    ” CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya”.

    Perusahaan-perusahaan berkembang dominant menerapkan CSR ini dalam praktek bisnisnya, karena bagaimanapun antara lingkungan kerja memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan eksternal sehingga kita sebagai pihak internal harus mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan (stakeholders) tentunya baik itu stakeholder Primer meliputi; pemegang saham dan investor, karyawan, pelanggan, pemasok dan penduduk dimana perusahaan beroperasi. Maupun stakeholder sekunder yakni pihak yang tidak menerima pengaruh langsung terhadap bisnis perusahaan seperti; kelompok sosial. Dengan kepedulian yang dimiliki oleh perusahaan terhadap lingkungan sekitar serta pihak-pihak didalamnya, tentunya akan memberikan citra yang baik bagi perusahaan.

    Menanggapi beberapa pertanyaan yang Bapak uraikan di akhir makalah :

    1. Beri contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR ! Apakah CSR ini mendukung keberhasilan suatu perusahaan ?

    Ada beberapa perusahaan yang menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya, antara lain :
    • PT Bank Danamon Indonesia, Tbk
    • PT Unilever
    • PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
    • PT WKS
    • dan lain-lain

    Tentunya CSR mendukung keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan-perusahaan yang telah saya sebutkan diatas merupakan contoh perusahaan yang tergolong ke dalam perusahaan besar dan masih tetap eksis di tengah krisis yang menimpa negara ini yakni krisis global, salah satu rahasia keberhasilan yang mungkin dari perusahaan tersebut diatas adalah karena adanya tanggung jawab sosial yang secara nyata perusahaan tersebut implementasikan dalam lingkungan bisnisnya bukan hanya sekedar ucapan semata akan tetapi diwujudkan dalam suatu rangkaian kegiatan yang mungkin perlu bagi perusahaan tersebut untuk mengeluarkan biaya, namun biaya tersebut tidak sebanding dengan dampak positif yang bisa diterima secara berkesinambungan.

    Salah satu perusahaan yang mengimplementasikan CSR yakni PT Unilever, dimana Perusahaan ini berhasil memperoleh penghargaan diantaranya adalah “The Best in Corporate Governance 2004 Award” dari Asset Magazine, sebuah majalah bisnis terkemuka di kawasan Asia. Berdasarkan indeks Commitment to Corporate Governance, Shareholders’ Rights, Board of Commissioner’s Management, Functional Committees, Board of Directors, Stakeholder Relations dan Transparency and Accountability, menerima “Corporate Governance Perception Index 2004 Award” untuk tingkat nasional. Penghargaan ini diberikan oleh majalah SWA Sembada, majalah bisnis terkemuka Indonesia, serta IICG (Indonesia Institute for Corporate Governance). Tahun 2004, menerima penghargaan Tax Award dari Departemen Keuangan sebagai pembayar pajak yang taat. Dalam hal mewujudkan nilai yang positif bagi para pemegang saham, sebagai perusahaan yang memiliki investasi yang bernilai tinggi. Harian bisnis terkemuka Investor Indonesia memberi penghargaan “Top Performing Listed Company 2004” dan “Top Listed Company 2004” dalam sektor Household Goods. Penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dengan diperolehnya Zero Accident Award 2005 yakni atas kepedulian perusahaan tersebut terhadap keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja, serta sekitarnya.

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan Community Social Responsibility (CSR) ?

    Tantangan dalam menerapkan CSR ini dapat dari internal perusahaan itu sendiri maupun tantangan dari ekternal. Tantangan dari dalam perusahaan antara lain dapat berupa :
    – Dari perusahaan itu sendiri yang mana belum menerapkan CSR secara nyata dalam praktek bisnis perusahaannya dikarenakan persepsi negatif bahwa implementasi CSR merupakan beban bagi perusahaan dimana perusahaan akan mengeluarkan sejumlah biaya yang relatif besar terutama dalam pelaksanaan aktivitas CSR oleh perusahaan bersangkutan.
    – Pihak dari dalam perusahaan itu sendiri yang ada diantaranya tidak mendukung penuh program-program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan, dimana seluruh staf perusahaan seyogyanya turut memberikan partisipasi sehingga bukan hanya pimpinan saja yang menjadi penggerak.

    Tantangan yang mungkin dari eksternal sehubungan dengan penerapan CSR, antara lain :

    – Permasalahan dalam lingkungan, yang mana isu pemanasan global kian menjadi perhatian bagi penerapan CSR misalnya Danamon Peduli melalui Program Danamon Go Green.
    – Permasalahan pendidikan, yakni bagaimana perusahaan turut andil dalam upaya meningkatkan pendidikan negara ini yakni melalui pemberian beasiswa terutama kepada masyarakat yang kurang mampu agar dapat terus melanjutkan sekolahnya.
    – Permasalahan dalam kesehatan masyarakat, dimana masih banyaknya masyarakat kurang mampu yang tidak dapat berobat karena terhambat biaya, dimana perusahaan dalam hal ini dapat memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan tentunya.
    – Masalah Sosial Masyarakat, seperti; masalah pengangguran, anak-anak jalanan, anak-anak yatim piatu, dan sebagainya.
    Tantangan dalam mengimplementasikan CSR adalah adanya persepsi daripada perusahaan yang menganggap bahwa CSR dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan, sementara disisi lain apabila perusahaan bersangkutan berpandangan positif terhadap mamfaat yang mungkin diberikan dengan menginternalisasikan CSR dalam strategi perusahaan, dengan lebih peduli terhadap stakeholder (pemangku kepentingan) maka akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perusahaan itu sendiri disamping akan menciptakan image yang baik oleh masyarakat bagi perusahaan juga akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap upaya perusahaan untuk mengefisienkan biaya terutama biaya yang terkait dengan operasional maupun promosi terhadap produk ataupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan, karena citra yang baik telah tercipta dengan penerapan CSR dalam praktek bisnisnya. CSR yang diterapkan dengan baik akan memberikan mamfaat bagi perusahaan melalui kepeduliannya terhadap masyarakat, perusahaan melalui yayasan yang didirikan khusus untuk menangani masalah CSR dilakukan secara professional yang bukan hanya sekedaar untuk memberikan sumbangan semata kepada masyarakat tetapi juga memasukkan unsur pendidikan/ pembinaan di dalamnya sehingga ke depan masyarakat tersebut berpandangan maju ke depan untuk menngkatkan kesejahteraan hidupnya.

    3. Jelaskan CSR yang diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan !

    CSR menjadi bagian dari strategi perusahaan, salah satu perusahaan yang secara nyata menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya adalah PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. Dimana perusahaan ini memiliki sebuah yayasan yakni Yayasan Danamon Peduli yang membuat program-program berarti dan bernilai sosial bagi lingkungannya. Pemimpin yang menjadi penggerak bagi suatu perusahaan harus dapat memberikan motivasi serta arahan positif bagi seluruh karyawannya, sebagaimana hal yang dikemukakan oleh CEO Danamon Sebastian Paredes pada Acara Town Hall yang pernah digelar tahun 2008 bahwa ”Kita bergelut dalam bisnis yang DINGIN, tapi bukan alasan bagi kita untuk tidak PEDULI”
    Bagi pekerja tentunya banyak menghabiskan waktu dikantor setiap hari, namun secara tidak sadar apa yang kita kerjakan memberikan dampak terhadap lingkungan. Dalam Aktivitas kerja tentunya kita banyak menggunakan energi, kertas, air, dan sumber daya lainnya dalam masyarakat yang menyumbang secara nyata terhadap produksi emisi gas karbon penyebab efek rumah kaca dan pemanasan global. Melihat kondisi yang ada akan baik bagi kita serta semua pihak agar kita ramah terhadap lingkungan sehingga akan menjadikan pertumbuhan yang berkesinambungan bagi perusahaan kita tentunya. Adapun kegiatan yang rutin setiap tahun dilaksanakan oleh Bank Danamon adalah Kegiatan Pasarku Bersih dimana karyawan-karyawan Danamon turun secara langsung melakukan aktivitas bersama dengan masyarakat setempat tentunya. Ataupun roadshow keliling Indonesia yang dilakukan oleh para karyawan Bank untuk mempresentasikan program ”Danamon Go Green” (konversi sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik) yakni lebih dari 30 kota seluruh Indonesia, dimana program ini tidak hanya memecahkan masalah sampah di pasar tradisional tetapi juga mampu memberdayakan berbagai pihak yakni antara lain pemerintah daerah, komunitas pasar tradisional, universitas, serta karyawan danamon itu sendiri.
    Kegiatan-kegiatan Danamon sebagai wujud daripada tanggung jawab sosial Danamon terhadap masyarakat misalnya; diwujudkan pada saat Rhamadan tahun 2008 yang lalu dimana kegiatan yang dilakukan tidak terbatas dalam bentuk kegiatan membagikan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan, juga mencakup skala yang lebih luas lagi yakni pembangunan dan pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan. Selain lingkungan sekitar, kita juga harus PEDULI terhadap semua lapisan masyarakat dimana bukan hanya bagi masyarakat yang merupakan pelanggan/ nasabah yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan semata, salah satu wujud kepedulian Bank tersebut mungkin dapat kita saksikan sendiri melalui program program acara yang disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi yang mana memberikan penghargaan bagi orang-orang yang dianggap luar biasa serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat yakni Program Danamon Award yang digelar tahun 2008 yang lalu. Ada beberapa kegiatan yang digelar oleh Danamon sehubungan dengan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat.
    Perusahaan yang juga menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya yakni PT Unilever Indonesia, Tbk, dalam paper perusahaan tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang berjudul ”Berpadu Dalam Cita Bersama Masyarakat & Lingkungan” disana tertulis bahwa ”Unilever Indonesia menyadari pentingnya memberi dan berbagi, bukan semata untuk meningkatkan reputasi, tetapi membantu kami terus tumbuh dan berkembang. Bagi kami, tanggung jawab sosial preusan tidak terpisahkan dari bisnis ”. CSR (Tanggung Jawab sosial Perusahaan) merupakan dampak keseluruhan kegiatan perusahaan terhadap masyarakat. Adapun hal-hal yang diterapkan sehubungan dengan penerapan CSR oleh perusahaan ini antara lain ;

    1. Membangun Sinergi Kesuksesan bagi Masyarakat (Dampak Rantai Nilai)
    Dampak yang lebih luas diciptakan melalui rantai nilai, mulai dari pemasok, pelanggan, hingga konsumen. Unilever memperkenalkan standar perilaku usaha bagi pemasok, yang disebut Business Partner Code, dan menerapkan “Supplier Quality Management Programme” (SQMP) untuk mendorong pemasok dalam meningkatkan kemampuan dan kinerja mereka. Unilever bermitra dengan berbagai jenis distributor independen untuk meningkatkan semangat kewirausahaan, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan keuntungan bagi usaha-usaha lokal.

    2. Memenuhi Panggilan Masyarakat (Kontribusi Sukarela)
    Kontribusi sukarela terhadap masyarakat secara luas, yang dilakukan melalui kemitraan dengan LSM, badan pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat, terlihat seperti “puncak gunung es” yang merupakan dampak yang lebih besar dari kegiatan perusahaan yang sesungguhnya. Kontribusi tersebut mencakup program-program berkesinambungan, yang dilaksanakan secara profesional di bawah Yayasan Unilever Indonesia Peduli. Salah satunya adalah pengembangan para petani kedelai hitam sebagai mitra usaha Unilever. Dimana Unilever dalam hal ini mendorong para karyawan untuk ikut berbagi hati, pikiran dan pengalaman melalui kegiatan bakti sosial sukarela bagi yang membutuhkan, seperti yatim piatu, anak jalanan, penduduk miskin, dan lainnya.

    Sebagaimana Bank Danamon melalui yayasan pedulinya, PT Unilever Indonesia, Tbk juga memiliki yayasan yang diberi nama ”Yayasan Unilever Indonesia Peduli” yang juga menangani masalah CSR ini, membuat program-program penting yang dilakukan sejalan dengan bisnis perusahaan. Dampak positif yang diberikan bagi perusahaan menjadikan banyaknya perusahaan yang dewasa ini menerapkan CSR dalam praktek bisnisnya menjadi bagian dalam strategi perusahaan, yang mendukung tercapainya tujuan perusahaan yang tidak semata-mata untuk mencapai keuntungan semata tetapi lebih bersifat jangka panjang dan berkesinambungan, sehingga seluruh staf karyawan yang terkait dilingkungan kerja sebaiknya ramah terhadap lingkungan, memiliki kepedulian sosial yang tinggi kepada seluruh lapisan masyarakat; baik itu stakeholder primer maupun sekunder, sebab bagaimanapun juga perusahaan memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungan serta masyarakat. Disamping stakeholder primer perusahaan juga harus memperhatikan tanggung jawab sosialnya kepada stakeholder primer misalkan para pemegang saham dimana perusahaan wajib memberikan hak nya pemegang saham, juga kepada para karyawannya terutama masalah kesehatan yang harus diperhatikan misalnya dengan memberikan fasilitas kesehatan yakni assuransi kesehatan.

    TINJAUAN PUSTAKA :

    Iben Yuhenzo. 2008. Being Green @ The Office. http://www.danamon.co.id

    Laporan Tahunan 2008 PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. http://www.yahoo.co.id

    __________ , Tanggung Jawab Sosial Perusahaan PT Unilever Indonesia, Tbk. Berpadu dalam Cita Bersama Masyarakat dan Lingkungan. http://www.google.co.id

    Lintang Mas Melati. 2008. Setahun Bersama Danamon Peduli. Danamon Monthly Bulletin

    Mas Achmad Daniri. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. http://www.google.co.id
    Sukarmi. 2008. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) dan Iklim Penanaman Modal di Indonesia. http://www.yahoo.co.id
    WBCSD (2000). Corporate Social Responsibility: Making good business sense. World Business Council for Sustainable Development. http://www.google.co.id

    Friska, bacaan tanggungjawab sosial adalah untuk mahasiswa S2, untuk keperluan evaluasi utamakan dulu menjawab pertanyaan sesuai dengan kelasnya. Sukses selalu.

    Komentar oleh Friska Artaria. S (C1B008033 MM) | Juli 12, 2009 | Balas

  42. terimakasih banyak Pak…

    Komentar oleh Friska Artaria. S (C1B008033 MM) | Juli 12, 2009 | Balas

  43. Tantangan terhadap CSR

    Upaya penerapan CSR sendiri bukannya tanpa hambatan. Dari kalangan ekonom sendiri juga muncul reaksi sinis. Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal lain.

    Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan komersial di baliknya. Yaitu, mengangkat reputasi perusahaan di mata publik ataupun pemerintah. Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan dengan bukti nyata bahwa komitmen mereka untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main.

    Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit diukur secara kuantitatif. Meskipun demikian, ada sejumlah besar literatur yang menunjukkan adanya korelasi antara kinerja sosial/lingkungan dengan kinerja finansial dari perusahaan.

    CSR pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Tetapi, tentu saja, perusahaan tidak diharapkan akan memperoleh imbalan finansial jangka pendek, ketika mereka menerapkan strategi CSR. Karena, memang bukan itu yang menjadi tujuannya.

    Kita tidak dapat membangun suatu masyarakat yang makmur, tanpa bisnis yang menguntungkan. Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa menumbuhkan suatu ekonomi yang kompetitif di lahan sosial yang gersang.” Hmm, kedengarannya puitis, bukan? Namun, pernyataan di atas bukanlah sekadar retorika atau ucapan pemanis mulut.

    Ungkapan itu sebenarnya ingin menggarisbawahi perlunya tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (corporate social responsibility), di tengah lingkungan sosial dan publik, yang kini semakin kritis menyoroti berbagai praktik bisnis yang dilakukan perusahaan.

    Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di Indonesia, perusahaan pertambangan Freeport di Papua kerap dikecam dengan tuduhan perusakan lingkungan. Sedangkan, perusahaan sepatu Nike sering dituduh menggunakan buruh anak-anak, di pabrik-pabriknya yang berlokasi di negara berkembang. Masih ada segudang contoh lagi, yang tak perlu kita sebut satu-persatu.

    Citra perusahaan yang buruk, yang sering dimunculkan di media massa, jelas tidak mendukung kelancaran operasional perusahaan dan bersifat kontra-produktif terhadap upaya peningkatan produktivitas dan keuntungan. Kini semakin diakui bahwa perusahaan, sebagai pelaku bisnis, tidak akan bisa terus berkembang, jika menutup mata atau tak mau tahu dengan situasi dan kondisi lingkungan sosial tempat ia hidup.

    Dalam kaitan itulah, penerapan CSR dipandang sebagai sebuah keharusan. CSR bukan saja sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebuah kewajiban. CSR adalah suatu peran bisnis dan harus menjadi bagian dari kebijakan bisnis. Maka, bisnis tidak hanya mengurus permasalahan laba, tapi juga sebagai sebuah institusi pembelajaran. Bisnis harus mengandung kesadaran sosial terhadap lingkungan sekitar.

    Enam Kecenderungan Utama

    Tetapi “makhluk” apakah sebenarnya CSR itu? Sebetulnya tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang CSR. Namun, rumusan yang diberikan oleh Holme dan Watts dari The World Business Council for Sustainable Development tampak cukup membantu kita dalam memahami CSR.

    Mereka menyatakan, CSR adalah komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk berperilaku secara etis dan memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya (CSR: Meeting Changing Expectations, 1999).

    Ada enam kecenderungan utama, yang semakin menegaskan arti penting CSR. Yaitu: meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin; posisi negara yang semakin berjarak pada rakyatnya; makin mengemukanya arti kesinambungan; makin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan yang bersifat anti-perusahaan; tren ke arah transparansi; dan harapan-harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi pada era milenium baru.

    Tak heran, CSR telah menjadi isu bisnis yang terus menguat. Isu ini sering diperdebatkan dengan pendekatan nilai-nilai etika, dan memberi tekanan yang semakin besar pada kalangan bisnis untuk berperan dalam masalah-masalah sosial, yang akan terus tumbuh. Isu CSR sendiri juga sering diangkat oleh kalangan bisnis, manakala pemerintahan nasional di berbagai negara telah gagal menawarkan solusi terhadap berbagai masalah kemasyarakatan.

    Sumber Bacaan:

    Satrio Arismunandar, 2007. Membangun Corporate Social Responsibility (CSR) di Tengah Resistensi Publik. http://brilliantchallenge.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1902

    Komentar oleh Admon C2B008005 | Juli 14, 2009 | Balas

  44. Selamat Siang Salam Sejahtera Pak JO
    Saya akan mencoba menanggapi atas tulisan bapak tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dalam blog ini :

    CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
    Definisi CSR menurut The World Business Council of Sustainanble Development (WBCSD) dalam publikasinya Making Good Business adalah komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas. Setidaknya ada 3 (tiga) alasan kenapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan mengembangkan isu tentang CSR, yaitu 1) perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar jika perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat, 2) kalangan dunia usaha dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosa mutualisme, dan 3) kegiatan CSR merupakan salah satu cara atau bahkan menghindari konflik sosial (Wibisono, 2007).
    1. Contoh perusahaan yang menerapkan CSR, apakah mendukung keberhasilan.

    Sebagai bentuk tanggungjawab sosial terhadap lingkungannya, PTPN IV Sumatera Utara telah menyalurkan dana CSR (Corporate Social Responbility) tahun 2008 Rp 1,27 milyar lebih. Bentuk bantuan yang diberikan kepada masyarakat di sekitar kebun adalah dalam bentuk pembangunan sarana fisik sesuai kebutuhan dan permohonan masyarakat., penyaluran dana CSR kepada masyarakat merupakan implementasi kebijakan perusahaan. Besaran bantuan dana CSR yang diberikan tentunya seiring dengan keuntungan perusahaan atas pencapaian target produksi sawit yang telah ditetapkan. Melalui program bina lingkungan ini perusahaan telah melaksanakan kewajibannya untuk ikut serta membangun daerah dengan menyisihkan keuntungannya untuk masyarakat di sekitar kebun. Diharapkan dengan adanya, bantuan ini keberadaan kebun dapat dirasakan manfaatnya dan masyarakat juga akan berpartisipasi untuk turut menjaga aset. Adapun sarana yang dibangun adalah Parit beton di Totap Majawa senilai Rp 106 juta, Jalan Petrun sepanjang 4 Km di Nagori Silau Manik berbiaya Rp 745 juta lebih. Jalan Petrun di Bukit Bayu Rp 74 juta lebih, Pembatuan di Nagori Siabarta sepanjang 997 meter Rp 67 juta, jembatan beton sebanyak 3 unit Rp 123 juta lebih, rehabilitasi jalan sepanjag 500 meter Rp 81 juta dan parit pasangan di Baja Dolok Tanah Jawa Rp 71 juta. CSR adalah suatu bantuan hibah yang diberikan PTPN IV Sumatera Utara kepada masyarakat yang berada di sekitar kebun khusus membangun fasilitas umum berupa sarana fisik. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat memberi nilai tambah dan memperbaiki taraf hidup serta sarana transportasi yang ada. PTPN IV mengajak agar masyarakat terus menjalin kemitraan agar kedepan bantuan yang diberikan bisa lebih baik lagi.
    Sumber : http://hariansib.com/?p=55544
    2. Tantangan Perusahaan dalam penerapan CSR
    Berdasarkan penelitian Chamber dan kawan-kawan pada 50 perusahaan di 7 (tujuh) negara Asia, menunjukkan bahwa Indonesia tercatat sebagai negara yang paling rendah penetrasi pelaksanaan CSR dan derajat komunitasnya dibanding negara lain (India, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia dan Filippina). Rendahnya implementasi CSR di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor antara lain masih rendahnya kepekaan sosial pimpinan perusahaan dan belum adanya suatu model aplikatif CSR yang mampu menjamin manfaat pihak-pihak terlibat. Program CSR masih banyak yang bersifat jangka pendek dan bahkan tidak produktif sehingga manfaat CSR menjadi tidak optimal dan berkelanjutan. Pengembangan program dalam CSR membutuhkan pelembagaan dalam desain kemitraan strategis antar pihak agar dalam implementasinya dapat lebih efektif dan mampu memberikan nilai tambah bagi semua pihak. Konsep CSR yang berkembang selama ini lebih dominan pada proses pemberdayaan lingkungan sosial yang bersifat jangka pendek dibanding jangka panjang. Bantuan sosial perusahaan yang diberikan seperti untuk pelaksanaan hari-hari besar dan pembangunan sarana dan prasarana lebih banyak “memanjakan” masyarakat dan hanya akan dirasakan pada jangka pendek. Kreatifitas pemanfaatan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitarnya kurang terasa, sedangkan pembinaan SDM lebih berorientasi pada kelompok tertentu sehingga jangkauan manfaat menjadi kurang luas dan tidak berkelanjutan. Untuk itu program CSR pada masa akan datang lebih berorientasi pada peningkatan kemandirian masyarakat untuk secara kreatif menggali potensi sumberdaya yang ada pada lingkungan sekitarnya.
    3. CSR sebagai bagian strategi dari perusahaan
    Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability. Oleh karena itulah, makanya Implementasi dari CSR di perusahaan –perusahan banyak yang menganut konsep corporate philanthropy sebagaimana pendapat pakar marketing Craig Schmit (1994). Schmit berpendapat bahwa CSR harus disikapi secara strategis dengan melakukan penyelarasan inisiatif CSR yang relevan dengan produk inti (core product) dan pasar inti (core market). Beberapa penganut konsep ini adalah PT. Bogasari, yang memiliki program CSR terintegrasi dengan strategi perusahaan, melalui pendampingan para pelaku usah mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis terigu sebagai konsumen utama dari produk perusahaan ini. Demikian juga dengan PT. Unilever yg memiliki program CSR berupa pendampingan terhadap petani kedelai. Bagi kepentingan petani, adanya program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi, sekaligus menjamin kelancaran distribusi. Sedangkan bagi Unilever sendiri, hal ini akan menjamin pasokan bahan baku utk setiap produksi mereka yg berbasis kedelai, seperti kecap Bango, yang menjadi salah satu andalan produknya.
    Selain konsep philanthropy, maka beberapa perusahaan menggunakan CSR sebagai saran untuk meningkatkan image perusahaan, sehingga mereka memilih program CSR dibidang edukasi, pendidikan finansial, hingga pelatihan. PT. Astra International Tbk, misalnya membentuk Politeknik Manufaktur Astra, yg menelan dana puluhan milyar. Selain itu, ada juga program dari HM Sampoerna utk mengembangkan pendidikan melalui Sampoerna Foundation, dengan mengucurkan dana lebih dari 47 milliar.
    Sumber : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=4819

    REZA HENDRIYADI
    C2B008066
    Kelas Reguler

    Saudara Reza, tugas anda telah saya baca. Sukses selalu.

    Komentar oleh REZA HENDRIYADI/C2B008066 | Juli 16, 2009 | Balas

  45. Selamat Pagi Pak Jo !

    Dengan hormat, Izinkan Saya mencoba untuk menanggapi 3 (tiga) pertanyaan tentang CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR), sbb :

    1.Contoh CSR adalah PT. ConocoPhillips(PT.COPI)

    2.Tantangan Perusahaan PT.ConocoPhilips (South Jambi) dalam menerapkan CSR di Kabupaten Batang Hari, adalah :
    a.Sering terjadinya kasus-kasus komplik sosial, terutama yang terkait dengan perilaku perusahaan yang belum mampu mengimplementasikan CSR secara baik oleh perusahaan.
    b.Dalam membuat program kerja berkenanan dengan CSR masih terlalu banyak intervensi dari BPMIGAS. Tidak semua program penting yang dibuat mendapat persetujuan dari BPMIGAS, akibatnya realiasi dari program CSR sering lambat, sebagai contoh RENOVASI GEDUNG yang dilaksanakan pada tahun 2007, merupakan usulan tahun 2004 yang lalu, sehingga terjadi ketidak cocokan tentang standar harga barang, biaya dan waktu.
    c.Dalam penelolaan dana yang berupa bantuan kepada pihak lain, lebih dari Rp. 1 juta, harus mendapat izin dari kantor pusat.
    d.Program CSR sering tidak tepat sasaran, sebagai akibat kurangnyanya koordinasi pihak Perusahaan terhadap Pemerintah Daerah, sehingga terkesan program CSR kurang mendapat respon dari Pemerintah Daerah.

    3.JENIS CSR YANG DITERAPKAN OLEH PT.ConocoPhillips.
    Berdasarkan laporan tertulis ConocoPhillips dengan surat No.Sj-COJR-BPMJ-L-0007, yang ditujukan kepada BPMIGAS dan tindasan disampaikan kepada Bupati Batang Hari, tentang program/kegiatan CSR untuk Kabupaten Batang Hari sbb :
    a.Bantuan dana pendidikan bagi 25 Mhs.reguler dan 10 Mhs tugas akhir UNBARI, 65 mhs.reguler dan 25 mhas tugas belajar UNJA, serta 35 mhs reguler IAIN Sulthan Thaha saifuddin. Dana bantuan ditransfer oleh COPI melalui Bank ke Rek.UNBARI, rek UNJA dan Rek IAIN Sulthan Thaha Saifuddin.Komitmen bantuan ditungkan dlam MoU antara COPI dengan masing-maaing rektor ; untuk mhs regular, dana bantuan dibayarkan dalam 2 (dua) semester yakni pertengahan tahun 2006 dan awal tahun 2007 yang disesuaikan dengan min nilai IPK 2,75/mahasiswa. Khusus untuk bantuan tugas akhir dana bantuan diberikan 1 kali saja yakni pada pertengahan tahun 2006 dengan min nilai IPK 2,75.
    b.Pemberdayaan Ekonomi Petani Karet Unggul bagi masyarakat Ring-1 45 petani (Sei.rengas, Tebing Tinggi, Kembang Seri, Kampung baru, Peninjauan, Rengas sembilan dan Buluh Kasab Kec. Maro Sebo Ulu). COPI memberikan bantuan SAPRODI, Pendidikan dan bibit karet unggul jenis PB 260.Petani menyiapkan 1 Ha lahan sendiri, COPI bekerjasama dengan Balit Sembawa sebagai konsultan pendamping program, hingga 2006, COPI telah memiliki 3 angkatan petani binaan diwilayah kerja jambi.
    c.Bantuan Renovasi 1 unit Gedung SDN 33 Sungai Rengas,
    d.Bantuan Renovasi 1 unit Gedung SDN 23 Peninjauan,
    e.Bantuan Renovasi 1 unit Gedung Madrasah Ibtidaiyah Kampung Baru lengkap dengan mobeler Tahun 2006-2007..
    Bantuan Renovasi sebagaimana tersebut diatas, dilaksanakan dengan konsep swakelola dimana seluruh proses fisik pembangunan dan administrasi selama pembangunan berlangsung menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Panitia Pembangunan setempat.
    COPI bekerjasama dengan panitia pembangunan yang terdiri dari tokoh masyarakat Sungai Rengas, Desa peninjauan, Desa Kampung Baru dan penguurus sekolah terkait. Dalam pelaksanaan pekerjaan, Panitia bekerjasama dengan Tim teknis UNSRI sebagai konsultan pendamping dilapangan.Bentuk komitmen bantuan tersebut dituangkan dalam MoU antara COPI UNSRI-Panitia Pembangunan.
    f.Sosialisasi secara berkala tentang keberadaan ConocoPhillip dan program CSR ditingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi, terhadap Para Kades beserta perangkat Desa, BPD, LPM, Tokoh-tokoh masyarakat, Para kelompok Tani, Camat dan pihak Pemerintah Daerah (Ring I, II dan III).
    ————- Terima kasih —————
    Pengirim : RIJALUDIN (Angk. X MM Unja)

    Rizaludin, tugas anda telah saya periksa, Sukses selalu.

    Komentar oleh Rijaluddin A. Roni | Juli 17, 2009 | Balas

  46. Novita Sari, C2B008058
    Jawaban soal no. 1 :
    PT. TIMAH (PERSERO) TBK

    A. PROGRAM LINGKUNGAN
    Peraturan Pemerintah No. 29/1986, Peraturan AMDAL No 51/1993 mengharuskan perusahaan pertambangan memasukkan aspek pelestarian lingkungan di dalam rencana penambangannya. Hukum Pertambangan (Pasal 11/1967) mengharuskan perusahaan pertambangan menerapkan ambang batas rehabilitasi lingkungan di wilayah penambangannya. PT Timah (Persero) Tbk setuju untuk mengikuti Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
    Aktivitas pemantauan berdasarkan RPL meliputi bidang:
    1. Penanganan “lapisan tanah atas”
    2. Pengawasan penanaman tumbuhan, pertumbuhan dan tingkat kelangsungan tumbuhnya
    3. Pemantauan kualitas air
    4. Pemantauan kualitas udara di tempat kerja
    Sementara aktivitas pemantauan berdasarkan RKL meliputi:
    1. Keseluruhan kegiatan penambangan dan teknik penambangan
    2. Seleksi spesies dan teknik penanaman
    3. Kebijakan rehabilitasi dan tekniknya
    4. Pengontrolan polusi lepas pantai
    KEBIJAKAN PELESTARIAN LINGKUNGAN PT TIMAH (PERSERO) TBK
    Perhatian utama PT Timah (Persero) Tbk adalah menyatukan teknik penambangan yang efisien dengan kebijakan pelestarian lingkungan. Dengan demikian yang menjadi perhatian PT Timah (Persero) Tbk bukan hanya sekadar keuntungan ekonomi saja tetapi juga meminimalisasi dampak penambangan terhadap lingkungan.
    Setiap tahap aktivitas penambangan karenanya dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang cermat untuk menjaga kelestarian lingkungan di wilayah penambangan. Eksploitasi penambangan di lingkungan yang masih alami harus diakhiri dengan mengembalikan lahan menjadi sealami mungkin.

    B. PROGRAM SOSIAL
    Program Bina Lingkungan mengacu kepada asas manfaat dan transparansi. Berapapun dana yang dialokasikan diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Asas lain yang mendasari pelaksanaan program Bina Lingkungan adalah transparansi yang menuntut semua pihak – baik perusahaan maupun masyarakat penerima – mengelola dana secara terbuka.
    Program ini semata-mata merupakan wujud perhatian perusahaan untuk turut serta mensejahterakan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Implementasi program ini dapat dilihat dari peran aktif PT Timah (Persero) Tbk dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti pembangunan sarana dan fasilitas umum, rumah ibadah, sarana pendidikan, rumah sakit dan sarana kesehatan, pembangunan rumah tidak layak huni, bantuan bea siswa, bantuan bencana alam, dan sebagainya. Program Bina Lingkungan PT Timah (Persero) Tbk tidak hanya bergulir sebatas wilayah Pulau Bangka-Belitung (Babel), Pulau Singkep, Riau Kepulauan saja, namun dalam praktiknya program ini juga merambah beberapa wilayah lain termasuk Aceh, bahkan DKI Jakarta hingga Bandung dan Jogjakarta, sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kepentingannya.
    Upaya pengembangan masyarakat melalui program Bina Lingkungan selalu diupayakan dengan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan para pihak lainnya, seperti Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, serta instansi atau tenaga professional lainnya. Seluruh program semaksimal mungkin dilaksanakan secara terpadu dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama berusaha meningkatkan taraf hidup dengan memanfaatkan segenap potensi yang ada.

    C. PROGRAM EKONOMI
    Dalam bidang ekonomi, PT Timah (Persero) Tbk memiliki kepedulian bagi peningkatan taraf hidup dan perekonomian masyarakat melalui Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK). Program yang dilaksanakan secara rutin dan terjadwal ini telah menyalurkan dana pinjaman modal dalam jumlah milyaran rupiah kepada mereka yang membutuhkan untuk mengembangkan usaha.
    Tidak sedikit masyarakat Propinsi Bangka-Belitung (Babel) yang telah menikmati manfaat digulirkannya program PUKK, belakangan masyarakat Pulau Singkep, dan Propinsi Riau Kepulauan juga telah turut menjadi mitra binaan PT Timah (Persero) Tbk melalui program ini. Tujuan utama dari program ini adalah membantu usaha kecil dan mikro (UKM) termasuk koperasi yang sudah berjalan agar dapat semakin berkembang dan mandiri.
    Termasuk juga yang menjadi tujuan program ini adalah, terdorongnya kegiatan usaha dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam rangka pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.
    Konsep yang selalu menjadi tolok ukur dalam pemberian bantuan adalah membantu, bukan melahirkan ketergantungan kepada perusahaan. Karenanya bantuan yang disalurkan perusahaan tidak dalam bentuk charity (derma), tetapi sebagai pinjaman yang pada saatnya akan dikembalikan oleh penggunanya. Dengan demikian konsep tersebut juga mengandung pengertian bahwa perusahaan dan mitra binaannya sama-sama memikul tanggung jawab bagi kesinambungan program ini

    Jawaban soal no. 2 :

    CSR berhubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan”, di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang
    CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan(stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.
    “dunia bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi paling berkuasa diatas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama….setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka tanggung jawab tersebut”
    Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang “pembangunan berkelanjutan” ( sustainable development) yang menyatakan bahwa:
    ” CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya

    Jawaban soal no.3 :

    Aturan tata kelola penambangan (good mining practice) merupakan pedoman bagi perusahaan dalam melaksanakan proses produksi dan penambangan timah karena sebagai perusahaan publik harus mematuhi berbagai peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah serta institusi yang berkaitan dengan kegiatan penambangan yang bertanggung jawab dan berwawasan lingkungan.
    Sebagai perusahaan pertambangan hal-hal yang harus dilakukan untuk menjadi operator penambangan yang baik dan benar adalah:
    A. Harus memiliki Kuasa Pertambangan (KP) atau Kontrak Karya (KK) dan bagi yang tidak memiliki, maka bisa bekerja sama dengan pemegang KP atau KK.
    B. Harus memiliki perencanaan penambangan yang baik mulai dari awal sampai dengan rencana jangka panjangnya secara komprehensif dan didukung data cadangan yang akurat
    C. Harus mematuhi ketentuan dan regulasi khususnya kewajiban kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah seperti pembayaran Iuran KP, Iuran Tegakan Hutan, Iuran Reklamasi, royalti dan pajak-pajak.
    D. Harus memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam memenuhi kebijakan penambangan yang berwawasan lingkungan dengan melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebelum melakukan kegiatan penambangan dan melaksanakan Pemantauan Lingkungan dan Pengelolaan Lingkungan secara terus menerus. Melaksanakan kegiatan reklamasi terhadap lahan-lahan pasca penambangan dengan tumbuhan yang produktif dan melaksanakan norma-norma Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi Karyawan.
    E. Bisa diterima oleh masyarakat atau “stakeholder” disekitar operasi penambangan secara utuh dan melakukan kegiatan bina lingkungan dengan melaksanakan program “corporate social responsibility” dan menyelesaikan segala permasalahan dengan musyawarah dan mufakat.
    F. Memiliki rencana “mining closure” yang tentunya telah dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah setempat, bagaimana penanganan lahan dan masyarakat setelah kegiatan penambangan berakhir, agar tetap bermanfaat bagi masyarakat.

    Dan tindakan yang diambil Untuk menjaga supaya kebijakan ini benar-benar terlaksana, PT Timah (Persero) Tbk mengambil beberapa tindakan:
    A. Mengikuti batasan-batasan yang telah ditentukan oleh RKL dan RPL Perusahaan.
    B. Teknik dan operasionalisasi penambangan juga harus sesuai dengan peraturan dan dilaksanakan secara cermat untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan serta nantinya tidak menghambat kegiatan reklamasi.
    C. Menerapkan program rehabilitasi dan reklamasi yang bisa memenuhi tuntutan peraturan. Menjaga limbah kegiatan penambangan tetap memenuhi ambang batas tuntutan masyarakat dan masa depan lingkungan lokal tetap terjaga.
    D. Melakukan pemantauan lingkungan secara terus menerus. Termasuk pemantauan:
    1. kualitas udara
    2. kualitas air
    3. dampak dan komitmen sosial ekonomi
    4. kegiatan reklamasi
    E. Melaksanakan secara benar “house keeping”, mengefektifkan penggunaan bahan bakar maupun sisa pembuangannya, menggiatkan konservasi dan pemantauan kualitas air dan teknik-teknik penambangan lain untuk meminimalisasi dampak lingkungan kegiatan operasional PT Timah (Persero) Tbk.
    F. Melaporkan hasil kegiatan pelestarian lingkungan setiap bulannya pada Dewan Direksi.
    G. Menjaga supaya semua karyawan sadar dan patuh pada kebijakan perusahaan mengenai pelestarian lingkungan, dan supaya seluruh jajaran perusahaan menerima tanggung jawab atas penerapan kebijakan pelestarian lingkungan ini.
    H. Secara terus menerus melakukan penelitian untuk menemukan cara baru yang lebih baik dalam melakukan penambangan supaya bisa memenuhi tuntutan pelestarian lingkungan pada era 1990-an.
    I. Memastikan investasi teknologi, metodologi operasional, dan personil dilakukan sesuai dengan antisipasi dan tanggung jawab kebijakan pelestarian lingkungan perusahaan di masa depan. Supaya pengeluaran dana dan usaha tidak menjadi sia-sia.
    J. Menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan terhadap masyarakat (lingkungan) yang belum terpenuhi di masa lalu.
    K. Menggunakan pengawas lingkungan dari luar untuk bisa secara obyektif memenuhi ambang batas yang dituntut pemerintah maupun perusahaan sendiri. Demi perlindungan kelestarian lingkungan, karyawan, maupun masyarakat yang lebih luas

    Novi, tugas anda telah dibaca. Sukses Selalu.

    Komentar oleh Novita Sari | Juli 17, 2009 | Balas

  47. Selamat pagi Pak Jo…
    Jawaban NO.1.
    Contoh Perusahaan adalah PT.Bank BNI.
    BNI dan masyarakat adalah pasangan hidup yang saling memberi dan membutuhkan. Kontribusi dan harmonisasi kedu pihak akan menentukan keberhasilan pembangunan bangsa.
    CSR adalah komitmen berkelanjutan yang dibangun oleh BNI untuk berperilaku etis dan memberikan kontribusi pada pembangunan nasional.Dari CSR ini diharapkan:
    1.Mendorong kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan,
    2.Pelaksanaan bisnis yang bersih dan bertangung jawab
    3.Membangun simpati masayarakat kepada perusahaan yang pada gilirannya dapat menunjangterbentuknya citra positif perusahaan di mata publik
    4.Meningkatkan nilai perusahaan melalui pembentukan reputasi yang baik
    5. Meningkatkan pemahaman pubkik terhadap perusahaan (BNI) melalui informasi yang disalurkan dalam kegiatan sosial masyarakat.
    jawaban no.2
    Tantangan perusahaan, bahwa perusahaan atau pelaku bisnis melihat praktik CSR menganggap timbulnya peningkatan biaya operasional perusahaan, yang seharusnya dipandang secara paripurna kegiatan tersebut memiliki makna sosial dan tanggung jawab sosial.
    jawaban no.3
    CSR memang merupakan bagian dari Strategi perusahaan, karena banyak perusahaan besar telah menerapkan CSR,seperti pola Community Development (CD), pola ini apabila dilakukan dengan baik dan berkelanjutan dapat berdampak yang sangat positif terhadap perusahaan.Disisi lain CSR ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan yang didukung dengan regulasi yang jelas sehingga kewajiban dunia usaha memajukan ekonomi masyarakat secara Luas, yang pada akhirnya meningkatkan taraf hidup masyarakat.–Terima kasih–
    Pengirim : Ander (Angk.X MM Kls C)

    Komentar oleh Ander | Juli 19, 2009 | Balas

  48. y dong program2 pro wong cilik harus di jadikan prioritas dong,kan jadi wong cilik merasa ada yang memperhatikan!!!

    Komentar oleh globalwarming | Juli 19, 2009 | Balas

  49. 1 Beri contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.

    Corporate Social Responsibility (CSR) akhir-akhir ini semakin populer dengan semakin meningkatnya praktek tanggung jawab sosial perusahan, dan diskusi-diskusi global, regional dan nasional tentang CSR. CSR kini banyak diterapkan baik oleh perusahaan multi-nasional maupun perusahaan nasional ataupun lokal. CSR adalah tentang nilai dan standar yang berkaitan dengan beroperasinya sebuah perusahaan dalam suatu masyarakat. CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk beroperasi secara legal dan etis yang berkonstribusi pada peningkatan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas dalam kerangka mmewujudkan pembangunan berkelanjutan.
    Salah satu contoh perusahaan yang ada di Provinsi jambi dalam mengimplementasikan CSR iaitu : PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk unit Jambi (PT Agrowiyana/AGW). Dalam hal ini PT Agrowiyana/AGW menerapkan program pengembangan masyarakat dengan cara penguatan kapasitas masyarat dan pemerintah dengan mengembangkan pola kemitraan plasma sejak awal berdirinya di Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi. Luas lahan plasma sebesar 65 %, yaitu 7.701 ha, sedangkan luas lahan inti sebesar 35 % yaitu 4.418 ha. Ada dua bentuk pola kemitraan plasma yang dikembangkan oleh perusahaan ini yaitu pola plasma-PIR Trans (masyarakat transmigrasi) dan pola plasma-KKPA (masyarakat lokal). pola kemitraan ini bisa dikatakan telah menjadi barometer pengembangan plasma di daerah ini, bahkan pada tingkat nasional.
    Dari program ini, banyak sekali hal yang dapat dicapai oleh masyarakat. baik itu perbaikan ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan sosial lainnya. Sehingga hal ini memberikan dampak yang positif kepada perusahaan dengan mengubah asumsi-asumsi masyarakat yang masih berpikiran tradisional terhadap peranan perusahaan selama ini pada lingkungan di sekitarnya.

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR.

    CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakat. Prisnsip-prinsip atau azas yang berlaku di masyarakat juga termasuk berbagai peraturan dan regulasi pemerintah sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan.
    Oleh karena itu, maka dalam menerapkan CSR mesti mempunyai etika dalam bertindak menggunakan sumberdaya manusia dan lingkungan guna turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pengukuran kinerja yang semata dicermati dari komponen keuangan dan keuntungan (finance) tidak akan mampu membesarkan dan melestarikan , karena seringkali berhadapan dengan konflik pekerja, konflik dengan masyarakat sekitar dan semakin jauh dari prinsip pengelolaan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

    3. Jelaskan CSR yg diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan.

    CSR yang dilakukan oleh perusahaan di Indonesia akan berbeda satu sama lain tergantung pada konteks masalah yang dihadapi masyarakat. Perbedaan konteks ini juga akan berimplikasi kepada perbedaan strategi yang dilakukan oleh masing-masing. Keberadaan CSR di suatu daerah juga tidak pernah terlepas dari sistem kemitraan kelembagaan yang ada di sekitarnya. Pemerintah, lembaga adat, LSM, dan lembaga sosial masyarakat lainnya juga turut memberikan warna terhadap kegiatan CSR. Keberadaan stakeholder ini bisa hadir sebagai penunjang keberhasilan CSR ataupun sebaliknya, jika proses sinergi di antara para pelaku tersebut tidak dilakukan.

    Pak Gani yang ini tugas ke dua, tugas pertama tentang BSC. Ditunggu jangan sampai habis ujian midsemester.

    Komentar oleh Drs.H. A.Gani T (MM/Angkatan.X/Kelas H) | Juli 20, 2009 | Balas

  50. 1. Beri contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.
    Jawabannya
    Partisipasi perusahaan dalam menumbuhkembangkan pembangunan di tengah masyarakat mutlak diperlukan. Di sini, perusahaan dituntut untuk tidak hanya “mengeruk” keuntungan dari masyarakat, tapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakt. Sehingga percepatan pembangunan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dapat segera diwujudkan dengan baik dengan adanya hal itu maka program Corporate Social Responsibility adalah program yang sangat baik dan tepat diterapkan oleh setiap perusahaan.
    Untuk Pertanyaan soal yang pertama ini, saya mengambil sebuah Contoh Satu perusahaan yang menerapkan CSR di Provinsi Jambi yaitu PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk unit Jambi (PT Agrowiyana/AGW) dengan mengembangkan pola kemitraan plasma sejak awal berdirinya di Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi. Luas lahan plasma sebesar 65 %, yaitu 7.701 ha, sedangkan luas lahan inti sebesar 35 % yaitu 4.418 ha. Ada dua bentuk pola kemitraan plasma dikembangkan perusahaan yaitu pola plasma-PIR Trans (masyarakat transmigrasi) dan pola plasma-KKPA (masyarakat lokal), dengan adanya pola kemitraan ini, berpengaruh nyata terhadap perubahan kehidupan masyarakat didaerah tersebut baik itu untuk perbaikan ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan sosial lainnya.
    Sehingga dengan adanya pengaruh yang nyata dari program CSR ini terhadap lingkungan didaerah tersebut maka program CSR ini boleh dikatakan mendukung keberhasilan perusahaan dengan memberikan perlindungan sosial bagi perusahaan bersangkutan khususnya (PT Agrowiyana/AGW) untuk dapat diterima di lingkungan masyarakat tersebut, hingga mampu berproduksi secara maksimal sesuai dengan apa yang ditargetkan oleh perusahaan tersebut.

    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR.
    CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakata.
    Untuk Itu, etika tersebut mesti dipahami oleh perusahaan dalam bertindak menggunakan sumberdaya manusia dan lingkungan guna turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pengukuran kinerja yang semata dicermati dari komponen keuangan dan keuntungan (finance) tidak akan mampu membesarkan dan melestarikan , karena seringkali berhadapan dengan konflik pekerja, konflik dengan masyarakat sekitar dan semakin jauh dari prinsip pengelolaan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
    Dalam perjalanannya, implementasi CSR kadangkala mengalami pembiasan dari etika dan prinsip CSR. Pembiasan itu tampak manakala perusahaan hanya melakaukan kegiatan bantuan atau charity atau “pemadam konflik sementara“ kepada masyarakat yang kemudian dianggap sebagai program CSR. Pada hal CSR ideal tidak sekedar sebagai program bantuan untuk menghindari tekanan dari pihak lain, misalnya tekanan masyarakat ataupun sebagai alat kehumasan untuk membentuk citra baik, melainkan merupakan kegiatan pemberdayaan yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik.

    3. Jelaskan CSR yg diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan.
    CSR yang diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan yaitu :
    Pertama, perencanaan yaitu membangun kesadaran pentingnya CSR dan komitmen manajemen sangat diperlukan. Setelah itu memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasikan aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian dan langkah yang tepat dalam membangun struktur perusahaan sehingga program CSR nantinya akan berjalan dengan baik.
    Kedua, tata cara implementasi pedoman penerapan CSR dilakukan dengan suatu tim khusus yang dibentuk langsung berada dibawah pengawasan. Dengan demikian program CSR yang akan diimplementasikan mendapat dulungan penuh dari seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam perjalanan tidak ada kendala serius yang dapat dialamai oleh unit penyelenggara.
    Ketiga, evaluasi pelaksanaan dengan mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR. Evaluasi dilaksanakan baik saat kegiatan itu berhasil atau gagal, baik secara internal maupun mengundang pihak independen. Evaluasi dalam bentuk assessement audit atau scoring juga dapat dilakukan secara mandatory. Evaluasi tersebut dapat membantu perusahaan untuk memetakan kembali kondisi dan situasi serta capaian perusahaan dalam implementasi CSR sehingga dapat mengupayakan perbaikan-perbaikan yang perlu berdasarkan rekomendasi yang diberikan.
    Keempat, pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.
    Jadi CSR bukanlah kegiatan sporadis, bagi-bagi uang atau keterpaksaan tetapi lebih merupakan strategi perusahaan yang akan membawa manfaat jangka panjang baik bagi perusahaan, pemegang saham dan pemangku kepentingan.

    Komentar oleh A. Gani .T. (MM/Angktn X/Kelas H) | Juli 21, 2009 | Balas

  51. Selamat pagi DR.Johannes…

    Pak jo.. izinkan saya mencoba memperbaiki komentar tentang CSR.

    Soal No.1.
    Contoh lain perusahaan yg menerapkan CSR.
    CSR menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) in Fox, et al (2002) adalah ” corporate social responsibility is the continuing commitment by business to be have ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large”, yaitu komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga perusahaan tersebut berikut komuniti-komuniti setempat (laokal) dan masyarakat secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan. Peningkatan kwalitas kehidupan mempunyai arti adanya kemampuan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat untuk dapat menanggapi keadaan sosila dan lingkungan yang ada dan dapat menikmati serta memanfaatkan lingkungan hidup termasuk perubahan-perubahan dan juga memeliharanya.

    Berhubungan dengan hal ini salah satu perusahaan yang menerapkan CSR dalam bidang bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yaitu PT. Bogasari. Perusahaan ini menerapkan CSR yang terintegrasi dengan strategi perusahaan melalui pnedampingan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang berbasis terigu yang merupakan konsumen utama dari produk ini.

    Disamping itu ada PT. UNILEVER yang memiliki program CSR berupa pendampingan terhadap petani kedelai. Bagi Petani adanya program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi sekaligus menjamin kelancaran distribusi, sedangkan bagi Unilever sendiri hal ini akan menjamin pasokan bahan baku untuk setiap produksi yang berbasis kedelai, seperti kecap Bango.

    Soal No. 2.
    Tantangan sebuah perusahaan dalam menerapkan CSR.
    adalah kecendrungan selama ini orientasi dari sebuah usaha adalah mencari keuntungan semata (profit-oriented, dan prinsip dasar yang diterima secara luas dalam dunia usaha adalah ” business is bisiness “. Dengan perpegangan pada prinsip ini sebuah perusahaan bisa menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Sehingga seringkali terjadi gesekan-gesekan kepentingan baik di internal perusahaan maupun antara perusahaan dengan pihak luar.
    Dewasa ini bersama dengan munculnya etika bisnis maka orang mulai menyadari adanya keterkaitan antara nilai-nilai spritualitas dengan keberlanjutan dan perkembangan sebuah usaha. dalam kontek Spritual, bisnis bukan semata-mata persoalan memaksimalkan keuntungan bagi pemiliknya tetapi bagaimana bisnis yang dijalankan bisa memberikan keuntungan dan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. Sehingga sebuah usaha dapat melakukan langkah-langkah yang harmonis dengan seluruh partisipan dan lingkungan tempat perusahaan berada, artinya pelaku bisnis harus menyadari akan nilai-nilai pragmatik nilai-nilai (the pragmatic value of values). yang pada masa lalu nilai-nilai (values) ini dianggap sebasgai sesuatu yang dikotomis dengan pengelolaan perusahaan.

    Soal No. 3

    CSR yang diterapkan menjadi bagian strategi perusahaan dimana CSR merupakan sebuah potensi yang besar diluar pemerintah yang harus didukung sebagai embrio transformasi menuju kemandirian masyarakat, dan hal ini seharusnya diotimalkan baik dari sisi pengalokasian dana maupun dalam proses pendayagunaannya yang bisa menjadi salah satu solusi alternatif bagi penyelesaian permasalahan kemiskinan yang ada di masyarakat. CSR juga bisa menjadi jembatan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat, sehingga hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan bisa berjalan dengan lebih baik, harmonis dan saling menguntungkan.

    Demikian pak Joo… terimaksih..

    Komentar oleh Deden kurnia (kelas H, ak. x) | Juli 22, 2009 | Balas

  52. NAMA : FAUZAN AZHARI
    NIM : C2B008029 ANGKATAN X PPS MM UNJA

    Selamat Pagi Pak Jo. Mengenai CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR), Saya mencoba untuk menanggapi 3 (tiga) pertanyaan, yaitu:
    1. Contoh CSR adalah PT. SEMEN PADANG..
    Bahwa berdasarkan Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 yang disahkan oleh DPR, pada pasal 74 ayat 1 menyebutkan bahwa Perseroan Terbatas yang menjalankan usaha dibidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab social dan lingkungan. Kemudian pada ayat 2, 3 dan 4 hanya disebutkan bahwa CSR dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakkan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
    Namun bagi PT. Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappi (NV NIPCM) dan menjadi PT. Semen Padang Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 5-326/MK.016/1995, telah lama melakukan kegiatan yang mengimplementasikan tanggungjawab sosial atau membangun hubungan timbal balik sebuah perusahaan kepada masyarakat luas.
    Sebagai perusahaan yang terus tumbuh dan memiliki sejarah panjang, dalam menjalankan usaha, PT. Semen Padang memiliki Visi : Menjadi Industri semen yang andal, unggul dan berwawasan lingkungan serta memiliki Misi : (1) Meningkatkan nilai perusahaan bagi stakeholder, bertumbuh dan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, (2) Mengembangkan industri berwawasan lingkungan, dan (3) Mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten dan professional. Maka bagi manajemen PT. Semen Padang CSR bukan menjadi beban, namun adalah kebutuhan perusahaan untuk terus tumbuh dan berkembang.

    2. Tantang Perusahaan dalam menerapkan CSR.
    Tantangan PT. Semen Padang dalam menerapkan CSR secara umum tidak mengalami hambatan yang besar namun kendala dalam pelaksanaanya selalu ada antara lain :
    a. Tantangan Intern Perusahaan :
    Manajemen perusahaan belum melaksanakan CSR secara maksimal yang disebabkan :
    1) CSR yang diprogramkan oleh Perusahaan sudah merupakan kewajiban dan sudah teranggarkan oleh perusahaan.
    2) CSR yang merupakan usulan dari masyarakat tidak dapat sepenuhnya dan seluruhnya terjangkau oleh perusahaan dikarenakan anggaran yang ada tidak sebanding dengan banyaknya proposal yang masuk ke PT. Semen Padang, maka perusahaan berusaha membagi secara proporsional berdasarkan kajian kebutuhan.

    b. Tantangan Ekstern Perusahaan :
     Peranan LSM dan adanya pihak yang tidak berkepentingan (Preman) yang ikut campur dalam pengelolaan dana dan ingin terlibat langsung dalam pelaksanaan CSR.
     SDM Aparatur Pemerintahan Desa yang terbatas dan banyak yang belum mampu untuk diajak kerjasama secara langsung dalam pengelolaan CSR di Desa, sehingga banyak program CSR yang hasilnya belum memuaskan.
     Kurangnya konsultan dalam daerah yang mampu bekerjasama dalam mengelola dan melaksanakan CSR, sehingga perusahaan banyak bekerjasama dengan konsultan dari luar daerah.
     Banyaknya masyarakat yang berlomba-lomba mengharapkan CSR dapat dilaksanakan di Desa mereka, sehingga banyak yang berkompetisi untuk mendapatkan CSR dan mengakibatkan adanya persaingan antar Desa tersebut.

    3. CSR yang diterapkan oleh PT. Semen Padang, yaitu :
    a. Bidang Sosial Kemasyarakatan :
     Menggelar Sunatan Massal bagi 220 anak pada masa liburan panjang sekolah tahun ini. Sunatan massal yang diutamakan bagi anak-anak kurang mampu di sekitar lingkungan pabrik yang merupakan rangkaian kegiatan bhakti sosial dalam rangka HUT Pengambil alihan Semen Padang ke-51, tepatnya 5 Juli 2009.
     Program Semen Padang peduli membantu meringankan penderitan warga korban galodo di Tanah Datar dan Kabupaten Agam. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan memberikan bantuan dana dengan total Rp 75 juta kepada dua pemerintah setempat.

    b. Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia :
     Memberikan pencerahan kecerdasan emosional dan spiritual kepada 183 orang unsur pimpinan pemerintahan kecamatan, kelurahan, pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan tokoh masyarakat yang berada di lingkungan Bukit Karang Putih serta sejumlah wartawan mengikuti Training ESQ (Emotional Spiritual Quotient).
     Mendirikan Yayasan IGASAR yang bergerak dibidang Pendidikan. Yayasan ini mengelola sekolah mulai dari TK sampai dengan SMA dan SMK dengan siswa lebih dari 2000 orang, dengan mayoritas orang tua siswa berdomisili di sekitar pabrik.
     Memberikan pelatihan kepada mitra binaan dan Loka Latih Keterampilan bagi masyarakat disekitar pabrik.
     Perusahaan mendukung program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang bekerjasama dengan Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang telah lama merintis pendidikan pra sekolah berbasis karakter yang diadopsi oleh masyarakat luas terutama yang kurang mampu.
     Pelatihan Guru PAUD dengan melibatkan Forum Komunikasi Isteri Karyawan Semen Padang (FKIKSP) serta Gerakan PKK Propinsi Sumatera Barat dan Indonesia Heritage Foundation (IHF). Ini telah dilaksanakan pelatihan bagi 12 sekolah PAUD yang tersebar di propinsi Sumatera Barat. Masing-masing PAUD diwakili oleh 2 orang guru terpilih bulan Oktober 2008.
     Memberikan berbagai beasiswa untuk pelajar tak mampu dan berprestasi

    c. Bidang Ekonomi :
     Mengangkat ekonomi masyarakat kecil melalui pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dengan menetapkan anggaran pembinaan UKM sebesar Rp. 3,25 miliar tahun 2009 dan pada periode II tahun 2009 sebanyak 77 usaha kecil dan menengah (UKM) di Sumatera Barat kembali menerima kucuran penguatan modal usaha kerakyatan dengan anggaran sebesar Rp 1,031 miliar.

    d. Bidang Pertanian :
     PT Semen Padang menggandeng tiga Pemerintah Kabupaten untuk melaksanakan program ketahanan pangan dan telah dilakukannya Panen Raya oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, ketiga Pemkab tersebut yaitu :
     Program ketahanan pangan di Kabupaten Dharmasraya, dilaksanakan penanaman 64 hektare padi unggul lokal nasional, 50 hektare jagung hibrida, dan 50 hektare kedelai oleh 158 kelompok tani. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Jorong Bukit Mandawa, Nagari Tabiang Tinggi, Kecamatan Pulau Punjung.
     Untuk Kabupaten Tanah Datar, juga selama 180 hari, dilaksanakan di Jorong Balai Baru dan Jorong Lingkung Kawat, Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, serta di Jorong Guguk Tinggi, Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, melibatkan 151 kelompok tani dengan lahan garapan 100 hektare untuk percontohan jagung hibrida dan 100 hektare untuk percontohan padi sawah.
     Di Kabupaten Pasaman Barat, pemkab setempat menyediakan lahan seluas 150 hektare di Kenagarian Aua Kuning, Kecamatan Pasaman, ditanami jagung 100 hektare dan 50 hektare kedelai dengan melibatkan 137 kelompok tani.

    e. Bidang Pembangunan Fisik :
     Banyaknya jembatan gantung yang ditemukan rusak di Kota Padang kembali mendapat perhatian dari PT Semen Padang. Setelah memperbaiki jembatan gantung Batu Busuk, kemudian membantu dua jembatan gantung yakni di Kelurahan Koto Lalang dan Kelurahan Baringin, Kecamatan Lubuk Kilangan serta dan perbaikan fasilitas jembatan gantung Batubusuak Kel. Lambuangbukik, Kecamatan Pauh terdiri dari pembuatan pagar dan perbaikan lantai jembatan, guna mengantisipasi putusnya kembali tali kawat jembatan yang sudah berusia 100 tahun.
     Memberikan bantuan untuk korban puting beliung di Limau Manih, Kecamatan Pauh, dimana musibah tersebut mengakibatkan sekitar 37 rumah masyarakat, serta masjid dan mushala rusak diterjang angin kencang tersebut. bantuan berupa 30 kodi seng diserahkan kepada korban.
     Membangun tempat berwudhu’ permanen bagi jemaah Masjid Ikhlas Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh.
    f. Bidang olahraga
     Memberikan dukungan berupa fasilitas dan dana bagi klub olah raga seperti PSP Padang dan Klub Semen Padang, dan bantuan bagi klub olah raga lainnya.

    g. CSR jangka panjang :
     PT Semen Padang memulai pembangunan Rumah Sakit Semen Padang di Jalan By Pass, Kelurahan Pisang, Kecamatan Pauh, Padang. Direncanakan rumah sakit ini selesai di bangun pada tahun 2010 dan akan menjadi Rumah Sakit yang terbaik di Sumatera Barat serta bertaraf internasional.
     PT Semen Padang berencana membangun Museum Semen Indonesia di areal Pabrik Indarung I. Lauching terhadap Pembangunan museum ini telah dilakukan dan saat ini manajemen PT Semen Padang sedang melaksanakan persiapan menjadikan Pabrik Indarung I sebagai Museum Semen pertama di Indonesia, begitu juga di Asia Tenggara, karena pabrik Indarung I merupakan pabrik tertua bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Tenggara.

    TERIMA KASIH, PAK JO.
    Pengirim : Fauzan Azhari

    Komentar oleh fauzan azhari | Juli 23, 2009 | Balas

  53. NAMA : ATANG PRIYATNA
    NIM : C2B008011 ANGKATAN X PPS MM UNJA
    Selamat Pagi Pak Jo. Dalam hal ini Saya mencoba untuk menanggapi 3 (tiga) pertanyaan tentang CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR), sebagai berikut:
    1. Contoh CSR adalah PT. ASIAN AGRI yang bergerak dibidang Perkebunan Kelapa Sawit.
    Berlandaskan Undang-undang No 12/1992 bahwa perusahaan perkebunan diharuskan mengembangkan kemitraan di bidang pertanian. Pada pasal 47 ayat 3 menjelaskan, “Badan usaha diarahkan untuk kerjasama secara terpadu dengan masyarakat petani dalam melakukan usaha budi daya tanaman.” Ini artinya, pihak korporasi tidak hanya ‘maju’ dan ‘berkembang’ sendiri, meninggalkan kemiskinan di sekitar perusahaannya tetapi berusaha bersama-sama ‘maju’ dan berkembang’ dalam pola kebersamaan dan saling menguntungkan.
    Berbagai perusahaan sudah melakukan kebijakan UU tersebut apalagi dengan munculnya konsep Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebuah program yang mencoba mengimplementasikan tanggungjawab sosial sebuah perusahaan kepada masyarakat luas.
    Menyikapi hal tersebut PT Asian Agri, melalui anak usaha Asian Agri, PT Inti Indosawit Subur (IIS) di Provinsi Jambi mengelola lahan milik petani plasma seluas 24.520 hektar, dikarenakan peran perusahaan untuk memberikan manajemen ‘hidup’ juga harus dilakukan maka tidak salah jika Asian Agri tidak hanya membantu lewat program CSR dalam bentuk hasil tanam saja, tetapi juga dalam bentuk-bentuk lainnya
    Di satu sisi lewat program CSR Asian Agri, masyarakat sangat terbantu, namun di sisi yang lain jika pendapatan masyarakat meningkat dan tingkat ekonomi masyarakat juga naik serta pendidikan masyarakat di sekitar juga terjamin maka ini juga menguntungkan Asian Agri.
    Saling menguntungkan inilah yang harusnya menjadi ikatan perusahaan dengan masyarakat sekitar, sehingga penerimaan masyarakat terhadap perusahaan sangat terbuka, dan akhirnya keamanan perusahaan tidak lagi perlu dijaga karena masyarakat sendirilah yang akan menjaga perusahaan tersebut dari ‘tangan-tangan usil’ orang lain. Inilah beberapa hal yang telah dilakukan Asian Agri untuk duduk bersama dengan masyarakat yang ada disekitarnya. Maka perusahaan yang baik adalah selalu ‘merangkul masyarakat dengan program saling menguntungkan’.

    2. Tantang Perusahaan dalam menerapkan CSR.
    Tantangan perusahaan dalam menerapkan CSR secara umum dapat digambarkan sebagai berikut :
    a. Tantangan Intern Perusahaan :
     Masih adanya intervensi dari perusahaan, yang menganggap CSR dilaksanakan untuk formalitas.
     Dalam penerapan CSR, pengelola dan pelaksana CSR harus berhadapan dengan pihak Manajemen karena diharuskan melakukan penekanan (pengurangan) biaya dalam pelakanaan CSR,
    b. Tantangan Ekstern Perusahaan :
     Banyaknya pihak lain yang tidak berkepentingan (Preman) dan campur tangan LSM guna mengambil kesempatan dan ingin terlibat langsung dalam pelaksanaan CSR.
     Terbatas atau belum ditunjangnya SDM Aparatur Pemerintahan Desa yang memadai, karena dalam pelaksanaan CSR perusahaan sering bekerjasama langsung dengan Pemerintah Desa, sehingga banyak program CSR yang hasilnya belum memuaskan.
     Kurangnya konsultan dalam daerah yang mampu bekerjasama dalam mengelola dan melaksanakan CSR, sehingga perusahaan banyak bekerjasama dengan konsultan dari luar daerah.
     Banyaknya masyarakat yang berlomba-lomba mengharapkan CSR dapat dilaksanakan di Desa mereka, sehingga banyak yang berkompetisi untuk mendapatkan CSR dan mengakibatkan adanya persaingan antar Desa tersebut.
    3. CSR yang diterapkan oleh PT Asian Agri :
    a. Memberikan beasiswanya kepada para anak-anak yang ada di sekitar perusahaan.
    b. Program sapi bergulir bagi masyarakat dan sejak Mei 2008 telah menggulirkan 210 ekor sapi yang dibagikan kepada masyarakat / kelompok masyarakat binaan disekitar wilayah Asian Agri. Yakni untuk wilayah Sumatera Utara diberikan kepada Kelompok Masyarakat Kusuma Andini di Aek Nabara sebanyak 40 ekor, Kel. Masyarakat Gunung Melayu 10 ekor, Kel. Masyarakat di Dusun Batu Anam & Gtg. Malaha sebanyak 30 ekor. Untuk wilayah Riau diberikan kepada Kel. Tani SP IX dan X sebanyak 30 ekor di Buatan, serta untuk wilayah Jambi diberikan kepada KUD Makmur Rejeki & KUD Budi Sari sebanyak 48 ekor & Kel Masyarakat SP II, III, IV sebanyak 12 ekor di Muara Bulian dan Kel. Masyarakat Plasma di T. Ulu sebanyak 40 ekor.
    c. Bekerjasama dengan Fakultas Pertanian USU menggelar pelatihan pembuatan kompos dan biogas dari kotoran sapi sebagai energi alternatif bagi petani sawit di Desa Bukit Harapan, Kec. Kerinci Kanan, Kab. Siak, Riau.
    d. Memberikan 1 buah digester kepada Kepala Dusun Batu Anam. Dengan adanya digester ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana mengolah kotoran sapi menjadi biogas guna menyalakan kompor biogas dalam memasak dan membangkitkan genset untuk penerangan.
    e. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi para sarjana dilakukan dengan cara merekrut sarjana-sarjana, baik dari universitas yang ada di Sumatera maupun di Jawa. Dalam rekrutmen dilaksanakan melalui kampus (campus recruitment) dan rekrutmen umum.
    f. Bantuan rehab rumah antara lain, untuk Masjid Nurul Imam di Dusun IV Desa Gonting Malaha Kec. Bandar Pulau senilai Rp 5 juta. Di bulan Ramadhan rumah ibadah yang dapat bantuan material Rp.71 juta ialah Mesjid Nurul Hidayah, Nurul Iman III, Nurul Iman I, Gereja Katholik St Fransiskus, Gereja Bethel Injil, Gereja Pentakosta Indonesia, Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja HKBP dan Gereja Pentakosta di Indonesia.
    g. Program minyak goreng murah dengan harga di bawah harga pasar yang disalurkan sebanyak 6.000 liter minyak goreng (migor) kemasan di Kel. Belawan I dan Kelurahan Bahagia, Kecamatan Belawan, Medan, dan dalam waktu dekat program ini juga akan dilaksanakan di Kota Pematangsiantar, dan kota-kota lainnya di Sumut dan juga di daerah lain di Indonesia. Khusus untuk Sumut, direncanakan penyaluran migor kemasan murah sebanyak 48 ton per bulan. Sementara secara nasional diharapkan mencapai 150 ton, yang tersebar di beberapa kota seperti Sumut, Jakarta, Riau, dan Jambi.
    h. Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran USU melaksanakan pengobatan massal secara gratis di Desa Gonting Malaha Kecamatan Bandar Pulau
    i. Untuk melengkapi semangat bulan Ramadhan tahun ini masyarakat mendapat bantuan berupa bingkisan paket lebaran Idulfitri kepada 5645 kaum duafa di sekitar perkebunan AA Group yang tersebar di Indonesia seperti Sumut, Riau dan Jambi. Tahap awal telah diberikan kepada warga 202 paket bingkisan di 4 desa yang ada di Kec. Bandar Pulau yaitu, Bandar Pulau, Bandar Pulau Pekan, Batu Anam, Sidomulyo.
    TERIMA KASIH, PAK JO.
    PENGIRIM : ATANG PRIYATNA

    Komentar oleh atang priyatna | Juli 23, 2009 | Balas

  54. TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (Corporate Social Responsibility)
    Oleh :
    Edi Erwan – C2B008020
    Magister Manajemen UNJA
    1. Contoh satu perusahaan yang menerapkan CSR, apakah CSR ini mendukung keberhasilan perusahaan.
    PT BWP Meruap yang memiliki ladang minyak yang cukup besar di Kabupaten Sarolangun, Sabtu (11/4) lalu muncrat hingga menggenangi kolam air yang dikelilingi semak belukar. PT. BWP Meruap yang berlokasi di Kelurahan Sarkam Sarolangun, genangan minyak mentah tersebut disedot kembali dengan menggunakan kendaraan tangki. Tujuannya agar minyak tidak mengalir ke sungai-sungai yang bisa berdampak pada habitat hewan.
    Menurut sumber dari salah salah seorang petugas di lapangan kemarin, minyak mentah tersebut berasal dari sumur 11 berstatus sumur mati yang telah lama tidak produksi.
    ‘’Minyak mentah itu berasal dari sumur 11 yaitu sumur mati yang telah lama tidak berproduksi. Dari sumur mati tersebut, pipanya yang berada di dalam tanah telah dipotong dan ditutup, mungkin tutupnya telah berkarat sehingga sumur mati tadi mengeluarkan minyak sehingga muncrat kepermukaan,’’ungkap sumber di lapangan.
    Selain itu, sumber lain mengatakan, asal minyak bumi tersebut diragukan keluar dari sumur mati. ‘’Tidak mungkin keluar dari sumur mati, bagaimana bisa mengangkat minyak dari bawah bumi ke permukaan,’’ungkap sumber yang tidak mau dicantumkan namanya.
    Sejak kemarin, katanya lagi, petugas siang malam melakukan penyedotan minyak tersebut dengan menggunakan mobil tangki. ‘’Petugas siang malam melakukan penyedotan minyak yang meluber ke permukaan tersebut. Kita takut akan mengalir ke sungai dan akan mempengaruhi habitat hewan yang ada di lingkungan PT BWP Meruap,’’sebutnya.
    Sebagai tanggung jawab perusahaan PT. BWP Meruap telah melakukan CDR dimana genangan minyak mentah tersebut disedot kembali dengan menggunakan kendaraan tangki. Tujuannya agar minyak tidak mengalir ke sungai-sungai yang bisa berdampak pada habitat hewan.
    2. Apa tantangan satu perusahaan dalam menerapkan CSR.
    Dewasa ini, para pemimpin perusahaan menghadapi tugas yang menantang dalam menerapkan standar-standar etis terhadap praktik bisnis yang bertanggungjawab. Survey Pricewaterhouse Coopers (PwC) terhadap 750 Chief Executive Officers menunjukkan bahwa peningkatan tekanan untuk menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) menempati ranking kedua dari tantangan-tantangan bisnis paling penting di tahun 2000 (Morimoto, Ash dan Hope, 2004).

    Komentar oleh Edi Erwan NIM C2B008020 MM Angkatan X | Juli 24, 2009 | Balas

  55. Maaf merepotkan sebelumnya,..
    saya punya keingin tahuan apakah CSR ini bisa dihitung secara kuantitaif untuk mitra binaan yg dibantu oleh perusahaan yg bersangkutan??
    jika bisa jika diukur dari tingkat efektifitas nya apa yang menjadi kriteria dalam pengukurannya serta indikator yang dipertimbangkan,….
    mohon dibalas,..trima kasih

    CSR dapat dihitung secara kuantitatif dalam batasan yg telah ditentukan sebelumnya oleh perusahaan. Pembatasan perllu dilakukan, agar hitungan yg dibuat dapat berlaku efektif. Misalnya bila peneliti ingin memeriksa bagaimana efektifitas binaan CSR terhadap perusahaan dapat dilihat dg dua cara: 1) keefektifan program terhadap perusahaan binaan dan 2) keefektifak program terhadap pencapain tujuan perusahan pelaksana. Ringkasnya keefektifannya dapat dihitung.

    Komentar oleh Ricky Kurniawan | Agustus 20, 2009 | Balas

  56. asw. pak / ibu, saya mahasiswi poltek.
    saya mengangkt judul tentang akuntansi sosial.
    judulnya “PENERAPAN AKUNTANSI SOSIAL TERHADAPA PENGELOLAAN LINGKUNGAN PADA PT ARUN”
    Yg ingin saya tanyakan,, apa ya bedanya akuntansi sosial terhadap pengelolaan lingkungan dengan CSR??
    sebenarnya saya masih bingung,, gimana bedainnya.
    karena saya tidak mengangkat mengenai CSR itu.
    mohon bantuannya. terimakasih…
    tolong d balas ke alamat email saya ya pak/ibu

    CSR itu konsep, dimana UUnya di Indonesia sudah didapat. CSR pada mulanya dijalankan di negara Eropa termasuk AS. Akuntansi Sosial suadah teknis operasional. Secara bisnis, bila sudah dianggarkan dana untuk CSR, maka harus terimplementasikan dalam Anggaran. Artinya lagi harus ditunjukkan dalam Laporan Keuangan. Jadi, CSR adalah konsep yg berisikan ide dan justifikasi di tingkat manajemen, sementara Akuntansi Sosial dapat dilacak dari laporan keuangan ataupun anggaran mereka. Semoga membantu.

    Komentar oleh yani | Januari 17, 2010 | Balas

  57. Hello, Bang Jo, apa kabar? wah anda sdh jadi dosen or peneliti CSR di Unja – Universitas Jambi ya. OK deh, sukses selalu buat anda.

    Salam,

    Sugiarto Soemario Gie
    – mantan Conoco
    – mantan COPI

    Komentar oleh Sugiarto Soemario Gie | Mei 5, 2010 | Balas

  58. salam
    kalau CSR itu merupakan sebuah konsep, kenapa harus diatur oleh undang-undang?
    setau saya tidak ada negara lain yang mewajibkan CSR dalam undang-undangnya seperti indonesia.
    terimakasih

    Di negar amaju CSR datang dari perusahaan yg sudah menerapkan Good Governance, sehingga praktiknya dapat terpercaya, tak perlu diatur oleh UU. Sementara di kita, semua diatur, tapi hasilnya belum dapat dipertanggungjawabkan. Saya kita itu penyebabnya.

    Komentar oleh Jabbar Saputra | Juni 20, 2010 | Balas

  59. salam.
    sedikit ingin berkomentar.
    saat ini banyak perusahaan menjalankan tanggung jawab perusahaannya dalam bentuk CSR. Namun esensi dari CSR tersebut masih kurang jelas. banyak perusahaan hanya sekedar menjalankan kewajibannya. Sejauh mana CSR dapat memberi pengaruh terhadap masyarakat?

    Prinsipnya CSR itu adalah hubungan simbiosis antara Perusahaan dan Masyarakat. DI Indonesia, CSR belum ditata dalam satu aturan yg baik secara internal oleh perusahaan yg bersangkutan. Kalaupun CSR dilakukan lebih mengrah kepada upaya promosi, belum sepenuhnya menjawab masalah di tingkat masyarakat. Walau sudah ada indikasi semakin lama ada saja perusahaan yg menunjukkan keseriusan dalam menerapkan CSR. Kita tunggu saja bagaimana perusahaan menyikapi hal ini.

    Komentar oleh ramadhina | Juni 21, 2010 | Balas

  60. bisa bantu sy mengenai kegiatan apa saja dalam csr yang mendekati emansipatoris…. plesss,, ini ttg skripsi sy.

    Komentar oleh fi3 | Maret 27, 2011 | Balas

  61. salam sejahtera,,,pak mau tanya ada nggak jurnal yang hanya menbahas pengaruh program kemitraan terhadap citra perusahaan

    Komentar oleh herwin saputra | Mei 23, 2012 | Balas

    • Artikel seperti ini pasti ada, silahkan minat bantuan ke google. Tapi, bapak punya alamat ebschohost hanya saja artikelnya dalam bahasa Inggris. Silahkan mencari, jangan pernah berhenti.

      Komentar oleh johannessimatupang | Mei 29, 2012 | Balas

  62. I am really impressed with your writing talents as neatly
    as with the layout for your weblog. Is that this a paid theme or did you modify it
    your self? Either way stay up the excellent high quality writing, it is rare to look a great weblog like
    this one these days.

    Komentar oleh Marla | Januari 23, 2013 | Balas

  63. Apakah ada data bnyaknya jumlah item CSR yang sudah di ungkapkan setiap perusahaan?? Karena selama ini penelitian hanya meneliti dgn analisis masing2 peneliti. Dan saya pnh mmbaca penelitian di tahun yang sama tp berbeda jumlah indikator yg harus di ungkapkan.. Ada yg menggunakan 78 item namun ada yg 79 item..

    Komentar oleh elda tri suryani | April 27, 2013 | Balas

  64. I’m gone to inform my little brother, that he should also visit this website on regular basis to obtain updated from most recent information.

    Komentar oleh how to lose 10 pounds in a month naturally | Agustus 4, 2013 | Balas

  65. I’m extremely impressed with your writing skills as well as with the layout on your weblog.
    Is this a paid theme or did you modify it yourself?
    Either way keep up the nice quality writing, it’s rare to see
    a nice blog like this one today.

    Komentar oleh business supply cash and carry | November 6, 2013 | Balas

  66. My spouse and I stumbled over here coming from a different page and thought I may as well check
    things out. I like what I see so now i’m following you. Look forward to finding out about your web page
    yet again.

    Komentar oleh railings for decks and steps | Desember 17, 2013 | Balas

  67. It perpetuates the illusion guns n roses that previous success protects against future risk.
    He realized that such craziness, unpredictability,
    and still feel compassion for yourself.

    Komentar oleh Shawnee | Juni 22, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 186 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: