Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Makalah (Balanced Scorecard Konsep dan Imp) July 2009 f-1

Makalah (Balanced Scorecard Konsep dan Imp) July 2009 f-1

About these ads

Juli 18, 2009 - Posted by |

6 Komentar »

  1. JAWABAN NO.1 :
    Sangat Strategis. Kinerja adalah kemampuan kerja yang ditunjukkan dengan hasil kerja. Kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.Kinerja perusahaan hendaknya merupakan hasil yang dapat diukur dan menggambarkan kondisi empirik suatu perusahaan dari berbagai ukuran yang disepakati. Untuk mengetahui kinerja yang dicapai maka dilakukan penilaian kinerja.
    Kata penilaian sering diartikan dengan kata assessment. Sedangkan kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan. Dengan demikian penilaian kinerja perusahaan (Companies performance
    assessment) mengandung makna suatu proses atau sistem penilaian mengenai pelaksanaan kemampuan kerja suatu perusahaan (organisasi) berdasarkanstandar tertentu (Kaplan dan Norton, 1996; Lingle dan Schiemann, 1996;Brandon & Drtina, 1997). 86
    Tujuan penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personel mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam rencana strategik, program dan anggaran organisasi. Penilaian kinerja juga digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya dan untuk merangsang dan menegakan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
    Sistem penilaian kinerja yang efektif sebaiknya mengandung indikator kinerja, yaitu:
    (1) Memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan
    (2) Menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan
    (3) Memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan
    (4) Menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenali permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.
    Penilaian kinerja mengandung tugas-tugas untuk mengukur berbagai aktivitas tingkat organisasi sehingga menghasilkan informasi umpan balik untuk melakukan perbaikan organisasi. Perbaikan organisasi mengandung makna perbaikan manajemen organisasi yang meliputi: (a) perbaikan perencanaan, (b) perbaikan proses, dan (c) perbaikan evaluasi. Hasil evaluasi selanjutnya merupakan informasi untuk perbaikan “perencanaan-proses-evaluasi” selanjutnya. Proses “perencanaanproses-
    evaluasi” harus dilakukan secara terus-menerus (continuous process improvement) agar faktor strategik (keunggulan bersaing) dapat tercapai.
    Penilaian kinerja perusahaan dapat diukur dengan ukuran keuangan dan non keuangan. Ukuran keuangan untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan dimasa lalu dan ukuran keuangan tersebut dilengkapi dengan ukuran non keuangan tentang kepuasan customer, produktivitas dan cost
    effectiveness proses bisnis/intern serta produktivitas dan komitmen personel yang akan menentukan kinerja keuangan masa yang akan datang.
    Jadi, pada intinya, dibutuhkan suatu alat ukur yang komprehensif yang tidak mempertentangkan satu perspektif terhadap perspektif lainnya. Artinya alat ukur bukan hanya sebagai alat evaluasi tapi juga sebagai bagian dari strategi.

    JAWABAN NO.2 :

    Konsep balanced scorecard berkembang sejalan dengan perkembangan implementasinya. Balanced scorecard terdiri dari dua kata: (1) kartu skor (scorecard) dan (2) berimbang (balanced). Kartu score adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang. Kartu skor ini dapat juga digunakan untuk merencanakan skor yang hendak dicapai atau yang diwujudkan personel di masa depan. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja personel diukur secara berimbang dari dua aspek: keuangan dan nonkeuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern.
    Jadi yang membedakan BSC dengan konsep-konsep lainnya adalah Balanced scorecard digunakan untuk menyeimbangkan usaha dan perhatian eksekutif ke kinerja keuangan dan nonkeuangan, serta kinerja jangka pendek dan kinerja jangka panjang. Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa untuk mengukur kinerja eksekutif masa depan, diperlukan ukuran yang komprehensif yang mencakup Empat Perspektif : Keuangan, Customer, Proses bisnis/intern, dan Pembelajaran dan Pertumbuhan. Keempat perspektif ini saling berkaitan dan terangkum dalam satu hubungan “cause and effect relationship”.
    Esensi penerapan BSC adalah bahwa setiap devisi satu korporasi sedemikian rupa akan berinisiasi, menentukan ukuran kinerja dan mengkaitkannya dengan visi, misi dan strategi korporasi.Keunggulan BSC adalah teridentifikasikannya struktur ataupun kerangka yang ada di korporasi guna mencapai/merealisasikan visi dan misi korporasi. Sehingga para manajer memahami, setidaknya secara implisit bahwa ada kaitan erat diantaranya.
    Beberapa alasan yang membedakan BSC dengan konsep lainnya, adalah :
    a. BSC adalah alat komprehensif untuk memahami pelanggan dan kebutuhannya dan kesenjangan kinerja.
    b. BSC menyiapkan logika untuk menciptakan modal intangible dan intelektual.
    c. BSC mampu mengartikulasi strategi pertumbuhan menjadi keandalan bisnis yang fokus kepada upaya-upaya non finansial.
    d. BSC memampukan karyawan memahami strategi dan kaitan sasaran ke dalam operasi perusahaan dari hari ke hari.
    e. BSC memfasilitasi umpan balik review kerja dari waktu ke waktu.

    JAWABAN NO.3 :

    Mengapa institusi pemerintah perlu mengadopsi balanced scorecard ? Pemerintah pada era sekarang ini, baik pemerintah pusat, daerah maupun lokal diharapkan untuk menjadi: akuntabel, kompetitif, ramah rakyat, dan berfokus pada kinerja. Organisasi pemerintah juga ditantang untuk memenuhi harapan berbagai kelompok stakeholders (yaitu penerima layanan, karyawan, lembaga pemberi pinjaman/hibah, masyarakat, dan pembayar pajak). Tuntutan ini mengharuskan organisasi pemerintah untuk bertindak profesional sebagaimana yang dilakukan oleh organisasi swasta. Organisasi pemerintah harus mempunyai sistem manajemen strategis. Karena dunia eksternal adalah sangat tidak stabil, maka sistem perencanaan harus mengendalikan ketidak-pastian yang ditemui. Organisasi pemerintah, dengan demikian, harus berfokus strategi. Strategi ini lebih bersifat hipotesis, suatu proses yang dinamis, dan merupakan pekerjaan setiap staf. Organisasi pemerintah harus juga merasakan, mengadakan percobaan, belajar, dan menyesuaikan dengan perkembangan.
    Agar organisasi pemerintah dapat berfokus pada strategi yang sudah dirumuskan, maka organisasi pemerintah juga harus menterjemahkan strategi ke dalam terminologi operasional, menyelaraskan organisasi dengan strategi (dan bukan sebaliknya), memotivasi staf sehingga membuat strategi merupakan tugas setiap orang, menggerakkan perubahan melalui kepemimpinan eksekutif, dan membuat strategi sebagai suatu proses yang berkesinambungan.

    Adapun perbedaan karakteristik organisasi swasta dan pemerintah adalah sebagai mana ditunjukkan dalam tabel berikut.
    ______________________________________________________________________
    Perspektif Swasta Pemerintah____________________________
    Finansial Pemegang saham DPR, pembayar pajak, konstituen

    Pelanggan Pelanggan Orang yang menggunakan jasa/pelayanan
    publik

    Proses Proses Membuat produk Memberikan pelayanan secara kompetitif
    Internal yang diunggulkan

    Pertumbuhan & Karyawan, direksi Pejabat politik (menteri), pegawai pemerintah
    Pembelajaran
    ________________________________________________________________________

    Balanced scorecard sudah diterapkan di banyak lembaga pemerintah, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Di AS instansi Federal yang menggunakan balanced scorecard antara lain adalah Department of Agriculture, Natural Resource Conservation, Forrest Service, Department of Commerce, Fish & Wildlife Service, Bureau of Reclamation, Environmental Protection Agency, Council on Environmental Quality. Sedang negara bagian yang sudah menerapkan balanced scorecard diantaranya Alaska, Oregon, Washington, California, Idaho, Montana. Pada tingkat lokal, setingkat kecamatan di Indonesia, balanced scorecard sudah dipergunakan di 39 Counties, 277 Cities, 44 Sewer Districts, 125 Water Districts, 36 Irrigation Districts, 32 Public Utility Districts, 14 Port Districts, 48 Conservation Districts, dan 170 Municipal Water Suppliers.
    Balanced Scorecard adalah sebuah cara pandang baru bagaimana suatu organisasi akan dapat lebih baik lagi dikelola. Balanced scorecard merupakan bagian dari sistem manajemen strategis, yang perlu dirumuskan oleh setiap organisasi, agar dapat mencapai visi dan misinya secara efektif. Balanced scorecard memberikan prosedur bagaimana tujuan organisasi dirinci ke dalam sasaran-sasaran dalam berbagai perspektif secara lengkap, dengan ukuran-ukuran yang jelas. Balanced scorecard merupakan mekanisme untuk membuat organisasi, termasuk organisasi pemerintah, berfokus pada strategi, karena penerapan balanced scorecard memungkinkan semua unit dalam organisasi memberikan kontribusi secara terukur pada pelaksanan strategi organisasi.
    Balanced scorecard seyogyanya dikembangkan oleh setiap organisasi pemerintah untuk mempertajam perannya dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan, sehingga membedakannya dengan organisasi pemerintah lain. Tugas pengawasan oleh DPR terhadap pemerintah akan dipermudah jika instansi pemerintah memiliki strategi berbasis balanced scorecard. Perumusan balanced scorecard bukan suatu pekerjaan sekali jadi, melainkan tugas yang terus menerus, dengan setiap saat ada proses penyempurnaan dan yang terpenting adalah ia dimanfaatkan untuk mencapai visi dan misi organisasi▪

    JAWABAN NO.4 :

    Kesulitan yang ditemui dalam penggunaan BSC adalah dalam menterjemahkan konsep perspektif yang tentunya berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Kesulitan ini berkaitan dengan dibutuhkannya kemampuan tekhnis untuk menyusun ataupun menterjemahkan konsep menjadi bagian yang operasional. Yang berarti mempertimbangkan kebutuhannya terhadap organisasi dalam rangka menopang pencapaian tujuan, terlaksana dan dapat diukur. Jadi dibutuhkan satu pelatihan tertentu agar setiap pihak internal memiliki pemahaman yang memadai dalam menerapkan konsep menjadi sesuatu yang operasional.
    Tantangan yang dihadapi selanjutnya adalah masih banyak perusahaan yang menerapkan berbagai program seperti TQM, Six Sigma, dan lain2 dan perencanaan anggaran dan pembiayaan lepas dari strategi, maka apa yang diperoleh senantiasa tidak menjadi ukuran yang dapat diterima.
    Untuk itu dibutuhkan beberapa hal dalam mempermudah penggunaan BSC :
    a. Strategy Map
    Masing-masing perspektif harus saling terkait satu sama lain sehingga realisasinya merupakan satu rangkaian, yang nantinya kita akan memperoleh satu peta strategi yang secara jelas menunjukkan bagaimana visi dan misi diterjemahkan menjadi bagian2 yang operasional yaitu sasaran dan strategi untuk mencapainya.
    b. Penentuan Scorecard
    Tidak mudah untuk menyepakati suatu ukuran tertentu karena selalu ada unsur konflik antar bagian. Jadi harus ada pemahaman yang mendalam saat memulai perencanaan strategis. Diawali dengan identifikasi yang sesuai agar bisa ditentukan apa yang menjadi tujuan dan kegiatan serta ukuran yang akan diterapkan.
    Kunci penerapan BSC : (1) keterlibatan pemimpin senior, (2) mengartikulasi visi dan strategi perusahaan, (3) mengidentifikasi kategori kinerja yang menghubungkan visi dan strategi terhadap hasil, (4) terjemahkan papan nilai kepada tim, devisi dan tingkat fungsi, (5) kembangkan pengukuran yang efektif dan standar yang berarti, (6) kenakan penganggaran yang tepat, (7) melihat BSC sebagai proses yang kontinus dan (8) percaya bahwa BSC sebagai fasilitator perubahan kulltur dan organisasi.
    c. Implementasi Scorecard
    Pada awalnya merupakan papan nilai yang dinilai seimbang antar berbagai perspektif untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan. Hal ini menjadi krusial bukan hanya karna menyangkut banyak hal tapi juga karna adanya ukuran yang seimbang diharapkan bahwa capaian dan kinerja satu perusahaan dapat berkelanjutan. Dalam implementasinya, BSC memerlukan strategi yang merupakan koreksi terhadap kelemahan strategi pada umumnya.

    Novi, anda yang pertama mengirimkan tugas. Sukses.

    Komentar oleh Novita Sari | Juli 20, 2009 | Balas

  2. Fikri
    NIM C2B008031
    MM Angkatan X
    Kelas Khusus Sabtu

    Salam Sejahtera Pak Jo, berikut saya jawab pertanyaan Bpk di atas

    1.Masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis
    Dalam kajian manajemen strategik, pengukuran hasil(performance) memegang peran sangat penting karena hal ini tidak saja berkaitan dengan penentuan keberhasilan akan tetapi menjadi ukuran apakah strategi berhasil atau tidak. Artinya hasil akan dijadikan ukuran apakah strategi berjalan baik atau tidak. Dengan pandangan seperti ini diyakini bahwa hasil tidaklah sesuatu yang didapat begitu saja akan tetapi melalui satu rancangan strategi.
    Penentuan hasil yang dijadikan ukuran menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah strategi berjalan dengan baik atau tidak.

    2.Beda konsep BSC dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja

    Sebelum muncul Metode BSC Kaplan & Norton, pengukuran kinerja organisasi hanya berpatokan pada ukuran keuangan semata. bukannya kinerja keuangan atau finansial ini tidak penting, bahkan sangat penting, tetapi perlu ukuran “pendamping” agar selaras.
    Balanced Scorecard mengukur kinerja dari 4 dimensi yaitu finansial, pelanggan, proses internal dan pembelajaran & pertumbuhan. Ukuran kinerja Balanced Scorecard dapat digunakan untuk membumikan strategi perusahaan yang lebih banyak hanya dipahami oleh jajaran manajemen, sedangkan dengan BSC strategi dibuatkan “measurement” yang jelas sampai dengan tingkat individu/karyawan perusahaan, dengan kata lain “mau tidak mau” karyawan akan bekerja untuk mencapai kinerja tertinggi sesuai ukuran yang telah ditetapkan.

    Sebagai sebuah metode, BSC muncul pertama kali pada awal 1992, ditandai dengan publikasi Prof. Robert S Kaplan dan Dr. David P Norton berjudul The Balance Scorecard: Measures that Drive Performance di Majalah Harvard Business Review. Tulisan tersebut menarik perhatian publik, termasuk seorang eksekutif senior Mobil Oil yang secara antusias membagi ide itu kepada para koleganya. Ini menjad kisah awal dari implementasi BSC.

    3.Kendala penerapan BSC dan kemungkinan penggunaan BSC dalam organisasi pemerintahan

    Organisasi publik merupakan organisasi yang didirikan dengan tujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat bukan mendapatkan keuntungan(profit). tidak mempunyai shareholders, lebih berfokus pada kondisi regional dan nasional, lebih dipengaruhi oleh keadaan politik, dan mempunyai stakeholders yang lebih beragam dibandingkan dengan sektor swasta Organisasi ini bisa berupa organisasi pemerintah dan organisasi nonprofit
    lainnya. Meskipun organisasi publik bukan bertujuan mencari profit,organisasi ini dapat mengukur efektivitas dan efisiensinya dalam memberikan
    pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu organisasi publik dapat menggunakan balanced scorecard dalam pengukuran kinerjanya.

    Untuk dapat memenuhi kebutuhan organisasi publik yang berbeda denganorganisasi bisnis, maka sebelum digunakan ada beberapa perubahan yang dilakukan dalam konsep balanced scorecard. Perubahan yang terjadi antara lain:
    1) perubahan framework dimana yang menjadi driver dalam balanced scorecard untuk organisasi publik adalah misi untuk melayani masyarakat 2) perubahan posisi antara perspektif finansial dan perspektif pelanggan 3) perspektif
    customers menjadi perspektif customers & stakeholders 4) perubahan perspektif learning dan growth menjadi perspektif employess and organization capacity

    Demikian penjelasan saya. Terima Kasih.

    4. Kesulitan dalam penggunaan BSC

    Sebagai sebuah sistem manajemen perusahaan yang tergolong “baru ditemukan”, balance scorecard telah mendapat apresiasi yang cukup tinggi di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Dari perusahaan industri, non-industri hingga pemerintah banyak yang telah menerapkan sistem tersebut meskipun secara umum diakui, kendalanya masih cukup besar.
    Masing-masing perusahaan pada dasarnya sudah punya sistem manajemen sendiri-sendiri, dan dalam konteks Indonesia pengaruh-pengaruh hubungan keluarga, koneksi itu masih kental dan menjadi hambatan bagi usaha untuk menerapkan balance scorecard. Bahwa kendala itu muncul karena menerapkan balance scorecard sama artinya dengan mengubah paradigma bekerja secara tradisional menjadi best practice.
    Penyebab kegagalan ini selain karena “ukuran” baru juga disebabkan antara lain oleh karena mayoritas perusahaan Indonesia lebih bertumpu pada “sinten” (orang) daripada “sistem”, motivasi dan kompetensi SDM belum merata dan masih banyak yang belum memiliki standard operating procedures (SOP) yang lengkap.
    Balance Scorecard (BSC) pada dasarnya merupakan sebuah sistem manajemen strategi dan implementasi yang terdiri dari peta strategi organisasi, lengkap dengan ukuran, target dan inisiatif strategisnya. Menurut CEO Hewlett Packard Indonesia Elisa Lumbantoruan (2006) yang telah menerapkan BSC di perusahaan multinasional tersebut, BSC menghendaki adanya parameter yang terukur sebagai bukti “kita telah melakukan leadership framework secara benar”.
    BSC sebenarnya bukan satu-satunya ukuran kinerja yang tidak hanya bertumpu pada kinerja keuangan tetapi pada penekanan operasional diantaranya six sigma, malcolm balridge serta bussiness process reengineering atau lebih dikenal dengan singkatan BPR.

    Fikri, jawaban no 3 anda baik. Sukses selalu.

    Komentar oleh Fikri | Juli 20, 2009 | Balas

  3. Wiwied Handayani
    C2B008079
    MM angkatan X

    Salam pak jo,,, berikut paparan saya tentang pertanyaan BSC.

    1.Masalah Pengukuran Kinerja adalah permasalahan strategis.

    Itu sangat jelas karena penilaian kinerja merupakan dasar pengambilan keputusan bagi manajemen untuk menentukan sebuah strategi yang akan dipakai oleh perusahaan guna memenangi persaingan dalam bidang bisnisnya. Untuk mengetahui kinerjanya baik secara internal maupun eksternal, dulunya sering menggunakan ukuran financial(keuangan). Pada umumnya keberhasilan perusahaan diukur melalui ukuran kinerja keuangan. Namun disadari kemudian keberhasilan yang dilihat dari kinerja keuangan tidaklah memberikan gambaran utuh mengenai kemampuan perusahaan dalam bersaing dan terus menghasilkan profit baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini disebabkan karena keberhasilan kinerja keuangan merupakan hasil dari kinerja berbagai elemen lain dalam perusahaan yang seringkali lebih sulit diukur atau intangible. Oleh karena itu seiirng dengan perkembangan ilmu manajemen strategik, akhirnya pada tahun 1992 Kaplan dan David Norton menemukan sebuah konsep yang dinamakan konsep Balanced Scorecard. Konsep ini memungkinkan perusahaan untuk mengevaluasi strategi berdasarkan empat perspektif : kinerja keuangan, pengetahuan konsumen, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan menggunakan konsep pengukuran kinerja ini(Balanced Scorecard), memungkinkan perusahaan dalam upaya untuk mencapai tujuannya. Maka dari itu pengukuran kinerja ini merupakan suatu permasalahan yang sangat strategis.

    2.Perbedaan konsep Balanced Scorecard dengan konsep pengukuran kinerja lainnya ialah dalam melakukan evaluasi strategi konsep Balanced Scorecard ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara perhatian jangka panjang dengan jangka pendek, menyeimbangkan perhatian terhadap keuangan maupun non keuangan, serta menyeimbangkan perhatian internal maupun ekternal. Oleh karena Balanced Scorecard merupakan alat yang sempurna bagi manajemen dalam mengevaluasi strategi perusahaan. Balanced Scorecard merupakan salah satu solusi yang baik untuk mengukur kinerja, karena Balanced Scorecard mempunyai keistimewaan dalam hal analisis pengukurannya yang komprehensif, yaitu mempertimbangan kinerja pada perspektif keuangan dan perspektif non keuangan yang mencakup; perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Pada konsepnya, “Balanced Scorecard dikembangkan sebagai sistem pengukuran kinerja yang memungkinkan para eksekutif memandang perusahaan dari berbagai perspektif secara stimultan” Balanced Scorecard sebagai Sistem Manajemen Strategis yang menterjemahkan visi, misi dan strategi ke dalam seperangkat tolak ukur yang menyeluruh yang memberi kerangka kerja bagi pengukuran dan sistem manajemen strategis. Jika hal ini dihubungkan dengan model manajemen strategi maka dapat dikatakan bahwa konsep Balanced Scorecard sebagai sistem manajemen strategis yang berada pada area evaluasi.
    Seperti yang sudah saya jelaskan pada jawaban no.1 diatas, Pendekatan Balanced Scorecard dengan empat perspektif yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, dan pertumbuhan dan pembelajaran nantinya dapat diketahui dengan melihat tujuan, ukuran, sasaran, dan inisiatif dari perusahaan. Maka dengan itu, hal-hal yang terdapat diatas itulah yang dapat membedakan konsep Balanced Scorecard dengan konsep pengukuran kinerja lainnya.

    3.Dalam pelayanan organisasi pemerintahan terdapat kendala dan kemungkinan menggunakan pendekatan BSC.
    Sistem manajemen strategik berbasis BSC yang mengakomodasi konsep-konsep di atas seperti value for money, NPM, dan best value meliputi sistem pengukuran kinerja. BSC sektor publik berbeda dengan BSC sektor swasta, karena sektor publik lebih berfokus pada pelayanan masyarakat bukan pada profit, tidak mempunyai shareholders, lebih berfokus pada kondisi regional dan nasional, lebih dipengaruhi oleh keadaan politik, dan mempunyai stakeholders yang lebih beragam dibandingkan dengan sektor swasta. BSC merefleksikan ukuran kinerja komprehensif yang mencerminkan lingkungan kompetitif dan strategi yang digunakan. BSC pada organisasi sektor publik berfokus pada strategi yang diterapkan bukan pada pengendalian penerapan BSC itu sendiri, meskipun pengawasan terhadap BSC perlu dilakukan mengingat fokus strategi terus berubah seiring dengan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pengukuran kinerja dilakukan dengan mempertimbangkan empat perspektif BSCyaitu perspektif financial, customer, internal business dan learning and growth (Kaplan and Norton, 1992 ) secara proporsional. Dengan demikian, pemerintah seharusnya tidak hanya diukur dengan kinerja keuangan, tetapi juga kinerjanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat secara ekonomis, efisien, dan tepat sasaran.

    4. Yang sulit dalam penggunaan BSC ialah sesuai dalam makalah yang bapak buat kesulitan terdapat dalam hal operasional, menterjemahkan konsep perspektif yang tentunya berbeda antara satu perusahaan terhadap perusahaan yang berbeda. Dalam hal opersional, perusahaan menggunakan seluruh sumber daya yang terdapat dalam perusahaan tersebut dalam proses operasionalnya. Oleh karena itu terdapat banyak permasalahan yang kompleks dan komprehensif dalam penggunaan konsep BSC. Baik dalam SDM maupun Sumber daya yang lain yang terlibat dalam proses operasional sebuah perusahaan.Sedangkan dalam menterjemahkan konsep perspektif yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Sangatlah berbeda penentuan konsep BSC pada perusahaan yang berbeda, baik dari segi bisnisnya atau industrinya, kepemilikannya, dan ukuran perusahaan tersebut. Oleh karena Manajemen perusahaan dituntut agar dapat mengelola perusahaan sebaik mungkin dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang terlibat dalam kegiatan atau aktivitas ekonomi untuk mencapai tujuan perusahaan. Setiap aktivitas harus dikelola secara efektif dan efisien dengan perencanaan yang matang, disiplin dalam pelaksanaannya, serta diperlukan evaluasi yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan suatu ukuran kinerja komprehensif yang tidak hanya mengukur keefektifan kinerja dari segi keuangan saja tapi dari segi non keuangan. Dengan demikian maka penerapan BSC tidak lagi mengalami kendali.

    Sekian paparan saya, terima kasih pak jo…

    Komentar oleh Wiwied Handayani | Juli 24, 2009 | Balas

  4. 1. Jelaskan pendapat anda apakah masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan satrategis

    Pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis karena kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan antara sisi keuangan dan non keuangan, antara jangka pendek dan jangka panjang serta melibatkan factor internal dan eksternal. Dari hasil studi dan riset yang dilakukan disimpulkan bahwa untuk mengukur kinerja masa depan, diperlukan pengukuran yang komprehensif yang mencakup 4 perspektif yaitu: keuangan, customer, proses bisnis/intern, dan pembelajaran-pertumbuhan. Berdasarkan konsep balanced scorecard ini kinerja keuangan sebenarnya merupakan akibat atau hasil dari kinerja non keuangan (costumer, proses bisnis, dan pembelajaran).

    2. Dengan memahami konsep BSC apa yang membedakannya dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja
    Konsep lain yang sering digunakan untuk mengukur kinerja adalah konsep keuangan , mengapa hanya bagian keuangan ? Jawabannya sederhana karena keuangan berbicara mengenai angka, sesuatu yang mudah dihitung dan dianalisa. Dengan perkembangan ilmu manajemen dan kemajuan teknologi informasi, sistem pengukuran kinerja perusahaan yang hanya mengandalkan perspektif keuangan dirasakan banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan.
    Sedangkan konsep balanced scored merupakan alat yang sempurna dalam manajemen untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu dengan mempertimbangkan kinerja dengan perspektif keuangan dan perspektif non keuangan yang meliputi perspektif pelanggan, proses bisnis internal, pertumbuhan dan pembelajaran.

    3. Dalam pelayanan organisasi pemerintahan apa kendala dan kemungkinan menggunakan pendekatan BSC?
    Kendala BSC pada organanisasi sektor publik / organisasi pemerintahan berfokus pada strategi yang diterapkan bukan pada pengendalian penerapan BSC itu sendiri meskipun pengawasan terhadap BSC perlu dilakukan mengingat fokus strategi terus berubah seiring dengan perubahan kondisi sosial ekonomi masyrakat.
    Pendekatan yang dilakukan pada Balanced Scorecard menghubungkan strategi yang ada dalam suatu organisasi/perusahaan, mulai dari visi, critical success factor(dalam hal ini saya analogikan pada rencana strategi), dan pengukuran performansi keberhasilan. Pengukuran dalam Balanced Scorecard dibagi kedalam empat perspektif : Customer, Internal Business, Innovation and Learning, dan Financial Perspective.
    Hal terpenting yang harus kita pahami adalah bagaimana suatu organisasi mendefinisikan apa yang ingin dicapai serta membuat ukurannya yang selanjutnya terus memonitor progres yang telah dicapai. Selanjutnya kita bisa melihat apakah tujuan kita akan tercapai atau tidak.
    Balanced Scorecard diukur dalam jangka pendek dan jangka panjang dan di evaluasi setiap bagian yang ada dalam suatu organisasi yang akan memberikan kontribusi untuk mewujudkan setiap tujuan. Balanced Scorecard dapat diterapkan oleh semua jenis organisasi dan semua jenis industri baik profit maupun non-profit.
    4. Apa yang sulit dalam penggunaan BSC?
    Walau telah terbukti memiliki begitu banyak keunggulan, masih banyak kritik terhadap BSC. Salah satunya mengenai matrik BSC dan hubungan kausalitasnya yang dianggap belum jelas. Dalam hal implementasinya pun BSC masih ditolak oleh beberapa perusahaan karena dianggap tidak memiliki dampak positif bagi perusahaan. Hal ini berdasarkan penelitian akademisi Austria yang melakukan survey terhadap 174 perusahaan Jerman yang hasilnya menunjukkan sebanyak 8% menyatakan menolak menggunakan BSC (Speckbacher et al, 2003). Selain itu hanya ada sedikit bukti bahwa BSC memberikan tambahan nilai ekonomis pada perusahaan yang mengimplementasikannya. Pendekatan yang dilakukan Kaplan (1999) menunjukkan fakta statistik kesuksesan perusahaan yang menggunakan BSC dan yang tidak.

    Komentar oleh Edi Erwan NIM C2B008020 MM Angkatan X | Juli 24, 2009 | Balas

  5. NAMA : AMIR MUSLIM
    NIM : C2B009002
    KELAS : A / REGULER/ KHUSUS/ PAGI
    TUGAS : MANAJEMEN STRATEJIK
    DOSEN : DR. JOHANES SIMATUPANG. SE. M.Si
    TUGAS : PENGAMATAN / PENDALAMAN INVLEMENTASI PROGRAM BSC

    Salam Pak Jo…

    ORGANISASI / SKPD yang Pilih adalah : KANTOR SEKRETARIAT DEWAN PENGURUS KORPRI PROVINSI JAMBI

    Keterangan SKPD yang saya Pilih adalah : Salah satu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di Pemerintah Provinsi Jambi yang saya amati untuk diinplemntasikan program BSC pada SKPD tersebut. terima kasih.

    Komentar oleh AMIR MUSLIM | Juni 12, 2010 | Balas

  6. mau tanya untuk bobot/indikator standar balanced scorecard diperbankan ? terimakasih. mohon dikirim via email : helzzzman@yahoo.com
    salam

    Komentar oleh bihelman | Februari 3, 2012 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 190 pengikut lainnya.