Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kinerja Komoditi Sawit dalam Perspektif Global


1. Pendahuluan Meninggalkan Tahun 2008, Komoditi sawit menjadi perbincangan hangat karena dihempaskan oleh krisis global, harga terjun bebas, dari harga TBS mencapai Rp. 2.200/kg di tingkat petani nejadi Rp. 200/kg saja. Krisis yang dinamai krisis global mempunyai makna bahwa krisis yang terjadi di US merembes sampai ke negara lain, termasuk Indonesia karena tidak adanya pembatas sebagai salah satu ciri daripada globalisasi. Krisis yang dinamia krisi global ini dimulai oleh krisis finansial pada perekonomian negara raksasaa seperti US, karena merosotnya permintaan, yang juga adalah merosotnya daya beli. Krisis finasial seperti ini terjadi pada perekonomian US yang dimulai terjadi di sektor properti yang kemudian merebak menjadi krisis finansial yang oleh pakar diakui sebagai krisis besar, bahkan lebih besar dari krisis yaitu resessi yang terjadi pada akhir perang dunia ke II (1939). Kinerja harga sawit yang dapat diidentifkasi dengan harga TBS di tingkat petani pernah mencapai Rp. 2.200/kg. Harga ini bagaimanapun menjadi puncak keemasan petani sawit, bandingkan dengan harga yang terjadi pada Tahun 1997, dengan harga Rp. 800 saja petani sudah diuntungkan. Persoalan menarik dari krisis ini adalah bahwa kemerosoatn harga sawit jauh lebih cepat terjadi dari turunya harga produk hilir sawit . Bahkan dikuatirkan bahwa harga produk turunan tidak engalami penurunan, melainkan penurunan permintaan karena adanya penrurunan daya beil. Akan tetapi sebagai konsekuensi daripada perekonomian global, dimana informasi beredar cepat namun tidak seimbang mengakibatkan penurunan harga TBS demikian drastis, tak seorangpun dapat mempertahankan harga termasuk pemerintah. Informasi yang tidak seimbang ini juga dimaknai sebagai barganining posistion yang tidak seimbang. Pabrik pengolah kelapa sawit sebagai industri hilir seketika dapat menghentikan produksi kalau memang dibutuhkan, sedangkan petani tidak dapat menghentikan produksi. Pabrik dapat menggeser risiko yang akan ditanggung ke pihak lain, bahkan kalau perlu diasuransikan, sementara petani tidak dapat melakukan hal demikian. 2. Dimanakah Salahnya? Dalam telaah sistem Agribisnis hendaklah dipahami bahwa satu subsistem akan menentukan terhadap kinerja subsistem lainnya. Keterpurukan di subsistem pemasaran haruslah didukung oleh kinerja di subsistem produksi, sarana dan parasana sampai input. Semua subsistem ini harus bekerja secara efisien, sehingga dapat memberikan manfaat maksimal kepada petani dan masyarakat secara keseluruhan. Ketidaktersediaan sarana yang memadai mengakibatkan penentuan harga sangat variatif. Kondisi jalan yang buruk mengakibatkan harga TBS pada satu tempat jauh lebih rendah dibanding dengan harga dimana sarana jalan lebih baik. Kondisi seperti ini besamaan pula dengan tingkat produktivitas yang rendah, sehingga mengakibatkan daya saing industri sawit lemah. Bilamana sistem Agribisnis bekerja secara maksimal niscaya kalaupun ada guncangan di pasar global petani tidak akan terpuruk sejauh ini. Berbagai sumber inefisiensi ini antara lain adalah sebagai berikut. 1. Pengembangan kebu sawit yang timpang. Meningkatnya harga sawit merangsang pengusaha, masyarakat bersama-sama mengembangkan kebun sawit, tidak peduli kalau luasan yang dikejar akan sampai pada satu titik tidak seimbang, dimana luasan kebun sawit akan merusak keseimbangan lingkungan. Hal ini terungkap pada diskusi Agrofuel and Climate Change yang diselenggarakan oleh Sawit Watch yang jelas mengatakan bahwa ekspansi perkebunan sawit bukanlah slousi terhadap perkuatan industri sawit di Indonesia. http://kompas.co.id/read/xml/2008/11/20/21244033/ Bersamaan dengan itu, pembenahan di sektor hilir tidak mendapat perhatian, karena produk yang diekspor adalah produk antara berupa CPO (Crude Palm Oil). 1. Tumpang tindih kepemilikan lahan. Gencarnya pembangunan kebun sawit sesungguhnya ditandai oleh lemahnya peran pemerintah dalam hal kepastian hukum. Rudy Lumuru dalam Forum Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) IV menjelaskan pentingnya kepastian hukum, dimana sering terjadi tumpang tindih kepemilikan lahan yang sering terjadi hal ini menjadi salah satu penyebab inefisiensi industri sawit . http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/17305258/ 1. Pungutan Ekspor yang harus dipertimbangkan ulang. Pajak ekspor CPO pada awalnya dimaksukdan untuk menahan CPO diolah di dalam negeri sehingga dapat menurunkan harga minyak goreng. Akan tetapi sebagaimana dikuatirkan oleh INDEP (2007) ini akan menjadi justifikasi akan pungutan yang akan menambah sejumlah pungutan yang telah ada pada komoditi sawit . 3. Solusi di saat sulit. Sistem Agribisnis yang kuat harus direalisasikan, semua sub sistem Agribisnis sawit harus terlaksana dalam satu kerangka yang efisien. Desakan dunia global agar kebun sawit tidak merusakn hutan alam adalah peristiwa global yang biasa, karena dalam resfektf global kerusakan di satu tempat dampaknya akan didapat di tempat lain. Artinya, satu pembenahan tuntas harus dilaksanakan dengan baik. Selalu ada kesempatan, blessing in disguise, adalah satu prinsip bahwa dietngah-tengah keterpurukan satu organisasi mempunyai kesempatan untuk melakukan perbaikan. Untuk itu peran pemerintah, jangan meninggalkan pemerintah daerah, harus bersinergi atar satu kawasan terhadap kawasan lain untuk dapat menciptakan industri sawit yang kokoh.

Maret 17, 2009 - Posted by | Umum

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: