Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

APA YANG STRATEGIS DARI BALANCED SCORECARD


klik di siniMakalah (Balanced Scorecard Konsep dan Imp) July 2009 f-1

Naskah ini diperuntukkan untuk peserta Manajemen Stratejik di Program Magister Manajemen Kelas  Sabtu dan Senin, diberi waktu 7 hari sejak  nakah ini di unnggah (upload).

Balance Scorecard (BSC) demikian poluler setelah dipublikasikan oleh Kaplan dan Norton (1992).  Dalam kaitan ini anda dapat mengklik makalah di atas dan menjawab pertanyaan berikut.

1) Jelaskan pendapat anda apakah masalah pengukurankinerja adalah permasalahan strategis.

2) Dengan memahami konsep BSC apa yang membedakannya dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja.

3) Dalam  pelayanan organisasi pemerintahan apa kendala dan kemungkinan menggunakan  pendekatan BSC.

4) Apa yang sulit dalam penggunaan BSC?

SUKSES SELALU.

About these ads

Juli 18, 2009 - Posted by | Uncategorized

15 Komentar »

  1. Fikri
    NIM C2B008031
    MM Angkatan X
    Kelas Khusus Sabtu

    Salam Sejahtera Pak Jo, berikut saya jawab pertanyaan Bpk di atas

    1.Masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis
    Dalam kajian manajemen strategik, pengukuran hasil (performance) memegang peran sangat penting karena hal ini tidak saja berkaitan dengan penentuan keberhasilan akan tetapi menjadi ukuran apakah strategi berhasil atau tidak. Artinya hasil akan dijadikan ukuran apakah strategi berjalan baik atau tidak. Dengan pandangan seperti ini diyakini bahwa hasil tidaklah sesuatu yang didapat begitu saja akan tetapi melalui satu rancangan strategi.
    Penentuan hasil yang dijadikan ukuran menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah strategi berjalan dengan baik atau tidak.

    2.Beda konsep BSC dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja

    Sebelum muncul Metode BSC Kaplan & Norton, pengukuran kinerja organisasi hanya berpatokan pada ukuran keuangan semata. bukannya kinerja keuangan atau finansial ini tidak penting, bahkan sangat penting, tetapi perlu ukuran “pendamping” agar selaras.

    Balanced Scorecard mengukur kinerja dari 4 dimensi yaitu finansial, pelanggan, proses internal dan pembelajaran & pertumbuhan. Ukuran kinerja Balanced Scorecard dapat digunakan untuk membumikan strategi perusahaan yang lebih banyak hanya dipahami oleh jajaran manajemen, sedangkan dengan BSC strategi dibuatkan “measurement” yang jelas sampai dengan tingkat individu/karyawan perusahaan, dengan kata lain “mau tidak mau” karyawan akan bekerja untuk mencapai kinerja tertinggi sesuai ukuran yang telah ditetapkan.

    Sebagai sebuah metode, BSC muncul pertama kali pada awal 1992, ditandai dengan publikasi Prof. Robert S Kaplan dan Dr. David P Norton berjudul The Balance Scorecard: Measures that Drive Performance di Majalah Harvard Business Review. Tulisan tersebut menarik perhatian publik, termasuk seorang eksekutif senior Mobil Oil yang secara antusias membagi ide itu kepada para koleganya. Ini menjad kisah awal dari implementasi BSC.

    3.Kendala penerapan BSC dan kemungkinan penggunaan BSC dalam organisasi pemerintahan

    Organisasi publik merupakan organisasi yang didirikan dengan tujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat bukan mendapatkan keuntungan(profit). tidak mempunyai shareholders, lebih berfokus pada kondisi regional dan nasional, lebih dipengaruhi oleh keadaan politik, dan mempunyai stakeholders yang lebih beragam dibandingkan dengan sektor swasta Organisasi ini bisa berupa organisasi pemerintah dan organisasi nonprofit lainnya. Meskipun organisasi publik bukan bertujuan mencari profit,
    organisasi ini dapat mengukur efektivitas dan efisiensinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu organisasi publik dapat menggunakan balanced scorecard dalam pengukuran kinerjanya.

    Untuk dapat memenuhi kebutuhan organisasi publik yang berbeda dengan organisasi bisnis, maka sebelum digunakan ada beberapa perubahan yang dilakukan dalam konsep balanced scorecard. Perubahan yang terjadi antara lain:
    1) perubahan framework dimana yang menjadi driver dalam balanced scorecard untuk organisasi publik adalah misi untuk melayani masyarakat 2) perubahan posisi antara perspektif finansial dan perspektif pelanggan 3) perspektif
    customers menjadi perspektif customers & stakeholders 4) perubahan perspektif learning dan growth menjadi perspektif employess and organization capacity.

    4. Kesulitan dalam penggunaan BSC

    Sebagai sebuah sistem manajemen perusahaan yang tergolong “baru ditemukan”, balance scorecard telah mendapat apresiasi yang cukup tinggi di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Dari perusahaan industri, non-industri hingga pemerintah banyak yang telah menerapkan sistem tersebut meskipun secara umum diakui, kendalanya masih cukup besar.

    Masing-masing perusahaan pada dasarnya sudah punya sistem manajemen sendiri-sendiri, dan dalam konteks Indonesia pengaruh-pengaruh hubungan keluarga, koneksi itu masih kental dan menjadi hambatan bagi usaha untuk menerapkan balance scorecard. Bahwa kendala itu muncul karena menerapkan balance scorecard sama artinya dengan mengubah paradigma bekerja secara tradisional menjadi best practice.

    Penyebab kegagalan ini selain karena “ukuran” baru juga disebabkan antara lain oleh karena mayoritas perusahaan Indonesia lebih bertumpu pada “sinten” (orang) daripada “sistem”, motivasi dan kompetensi SDM belum merata dan masih banyak yang belum memiliki standard operating procedures (SOP) yang lengkap.
    Balance Scorecard (BSC) pada dasarnya merupakan sebuah sistem manajemen strategi dan implementasi yang terdiri dari peta strategi organisasi, lengkap dengan ukuran, target dan inisiatif strategisnya. Menurut CEO Hewlett Packard Indonesia Elisa Lumbantoruan (2006) yang telah menerapkan BSC di perusahaan multinasional tersebut, BSC menghendaki adanya parameter yang terukur sebagai bukti “kita telah melakukan leadership framework secara benar”.

    BSC sebenarnya bukan satu-satunya ukuran kinerja yang tidak hanya bertumpu pada kinerja keuangan tetapi pada penekanan operasional diantaranya six sigma, malcolm balridge serta bussiness process reengineering atau lebih dikenal dengan singkatan BPR.

    Demikian penjelasan dari saya. Terima kasih.

    Komentar oleh Fikri | Juli 20, 2009 | Balas

  2. Salam sejahtera Pak Jo ,
    Emsuardi, Nim : C2B 008 0025 Angkatan X Kelas H
    1. Jadi masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis
    Salah satu aspek pentingnya alat ukur kinerja perusahaan adalah bahwa alat ukur kinerja perusahaan dipakai oleh pihak manajemen sebagai dasar untuk melakukan pengambilan keputusan dan mengevaluasi kinerja manajemen serta unit-unit terkait dilingkungan organisasi perusahaan.
    Banyak metode yang telah dikembangkan untuk melakukan pengukuran kinerja suatu perusahaan. Dalam manajemen tradisonal, ukuran kinerja yang biasa digunakan adalah ukuran keuangan, hal ini disebabkan karena ukuran keuangan ini yang paling mudah dideteksi, sehingga penhukuran kinerja personel juga diukur dengan dasar keuangan
    Penilaian kinerja merupakan hal yang esensial bagi perusahan. Untuk memenangkan persaingan global yang semakin ketat ini, kinerja sebuah organisasi haruslah mencerminkan peningkatan dari satu periode ke periode berikutnya. Dewasa ini pengukuran kinerja secara finansial tidaklah cukup mencerminkan kinerja organisasi sesungguhnya, sehingga dikembangkan suatu konsep Balanced Scorecard. Konsep Balanced Scorecard mengukur kinerja suatu organisasi dari empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif customer, perspektif proses bisnis internal, perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Konsep Balanced Scorecard ini pada dasarnya merupakan penerjemahan strategi dan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan dalam jangka panjang, yang kemudian diukur dan dimonitor secara berkelanjutan. Tulisan ini menitikberatkan pada bagaimana penerapan konsep Balanced Scorecard di beberapa perusahaan di Amerika. Berbagai kendala dan permasalahan yang timbul dari penerapan konsep Balanced Scorecard menjadi masukan bagi perusahaan atau organisasi bisnis yang ingin menerapkan konsep ini. Bagaimanapun juga konsep ini akan membantu perusahaan untuk melakukan pengukuran kinerja secara lebih komprehensif dan akurat.
    2. Dengan memahami konsep BSC, jadi yang membedakannya dengan konsep lain dalam pemgukuran kinerja sebagai berikut :
    Beberapa perusahaan mencoba mengimplementasikan konsep Balanced Scorecard dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja financial mereka, serta untuk mempengaruhi perubahan kultur yang ada dalam perusahaan. Terjadinya perubahan kultur dalam perusahaan ini disebabkan karena adanya perubahan dari system yang telah lama diterapkan oleh perusahaan kepada suatu sistem baru dimana sistem yang baru yang dirancang untuk melipatgandakan kinerja dengan empat perspektif yaitu perspektif financial, custumer, proses bisnis (internal) dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Menurut O’Reilly (matton, 1999:1), sebenarnya BSC memiliki focus yang sama dengan praktek manajemen tradisional yaitu sama-sama berorientasi pada customer dan efesiensi atas proses produksi, tetapi yang membuat bedanya adalah BSC ini memberikan suatu rerangka pengembangan organisasi bisnis untuk melakukan pengukuran dan monitoring semua factor yang berhubungan dengan hal tersebut secara terus menerus. Dengan adanya konsep BSC akan terus memelihara arah dan kemajuan perusahaan sesuai dengan apa yang menjadi visi dan misi organisasi.

    3. Kendala dan memungkinkan menggunakan pendekatan BSC
    Kendala yang timbul dalam penerapan Balanced Scorecard (BSC) dan banyak dihadapi oleh perusahaan yang ingin menerapkan Balanced Scorecard dalam system manajemennya antara laian adalah :
    a. Bagaimana mendesain sebuah scorecard
    Desain scorecard yang baik pada dasarnya adalah desain yang mencerminkan tujuan strategic oraganisasi. Beberapa perusahaan di Amerika telah mencoba mendesain sebuag scorecard penilaian kenirja berdasarkan katagori-katagori yang diungkapkan oleh Kaplan & Norton. Dalam prakteknya, masih banyak perusahaan yang tidak dapat merumuskan strateginya dan memiliki strategi yang tidak jelas sama sekali (Marrinac & Vitale, 1999:1). Hal ini tentu saja akan menyulitkan desain scorecard yang sesuai dengan tujuan strategic perusahaan yang ingin dicapai.
    b. Banyak alat ukur yang diperlukan
    Banyak alat uklur yang dikembangkan oleh perusahaan tidak menjadi masalah yang terpenting adalah bagaimana alat ukur-alat ukur yang ada tersebut bisa mencakup keseluruhan strategi perusahaan terutama dapat mengukur dimensi yang terpenting dari sebuah strategi. Tetapi hal yang harus diingat adalah bahwa alat ukur tersebut dapat menjangkau perspektif peningkatan kinerja secara luas dengan pengukuran menimal.
    c. Apakah Scorecard cukup lanyak untuk dujadikan penilaim kinerja
    Menurut Sarah Marvinack (Marvinack, 1999:1) layak atau tidaknya scorecard yang dibentuk oleh perusahaan akan tergantung pada nilai dan orientasi strategi perusahaan yang bersangkutan. Pada beberapa perusahaan di Amerika, mereka lebih memperhatikan nilai-nilai yang secara eksplisit dan kuantitatif dikaitkan dengan strategi bisnis mereka.
    d. Perlu Scorecard dikaitkan dengan gainsharing secara individu.
    Banyak perusahaan di Amerika yang menghubungkan antara kinerja dalam Balanced Scorecard dengan pembagian keuntungan (gainsharing) secara individual. Tetapi haruslah diingat bahwa dasar pembaian keuntungan (gainsharing) tersebut adalah beberapa besar dukungan inovasi atau perubahan kultur yang diberikan oleh individu kepada peningkatan kinerja perusahaan.
    e. Apakah scorecard yang ada dapat menggantikan keseluruhan system manajemen lama
    Dalam prakteknya, sangat sulit mengganti system manajemen yang lama dengan system manajemen yang sama sekali baru (Balanced Scorecard), tetapi perusahaan diharapkan dapat melakukan apabila dirasa system manajemen yang lama sudah tidak bisa mendukung tujuan organisasi.selama ini. Pada beberapa perusahaan di Amerika yang berusaha menerapkan konsep (Balanced Scorecard dalam perusahaannya (Mavrinac, 1994:4) mereka memilih menggabungkan antara system yang masih relevan dengan pencapaian tujuan organisasi dengan system Balanced Scorecard.
    4. Yang sulit dalam penggunaan BSC
    Dalam prakteknya, penerapan konsep Balnced Scorecard ini tidaklah semudah yang diperkirakan karena penerapan konsep ini membutuhkan suatu komitmen darai manajemen pusat (leadership) maupun karyawan yang terlibat dalam organisasi perusahaan. Melalui survey yang dilakukan oleh Sarah Mavrinac (Mavrinac, 1999:1) dan survey yang dilakukan oleh konsultan Manajemen di Amerika. Ian Alliosts (Mattson). 19994:4), menayatakan bahwa sebagian perusahaan menemui kesulitan dalam melakukan pendekatan terhadap keselarasan aktivitas dan strategi perusahaan dengan tujuan yang inginm dicapai oleh perusahaan jangka panjang. Sehingga banyak dijumpai kasus ketidakselarasan tujuan dan strategi perusahaan atau strategi yang dijalankan melenceng dari tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka panjang.
    Tingkat kesulitan lain yang kebanyakan ditemui oleh beberapa perusahaan di Amerika tersebut antara lain :
    - Kekhawatiran adanya perubahan atas system pengendalianmanajemen yang berdasarkan pada konsep Balanced Scorecard akan mengganti system lama dan membawa hasil perubahan yang aktif.
    - Adanya kesulitan dalam mempersatukan culture yang dimiliki oleh oraganisasi dangan strategi organisasi yang berdasarkan pada konsep Balanced Scorecard.

    Komentar dari Emsuardi, Nim : C2B0080025 Angkatan X Lokal H

    Saudara Emsuardi, Jawaban anda no 1 sangat tepat.

    Komentar oleh Emsuardi | Juli 20, 2009 | Balas

  3. Ander
    NIM C2B008008
    MM Angk.X Kls C
    Selamat malam Pak JO,
    1. Mengenai masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis.
    Pengukuran kinerja merupakan salah atu faktor yang amat penting bagi perusahaan.Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya menitik beratkan pada sisi keuangan, sehingga Manajer yang dianggap sudah berhasil apabila dapat mencapai tingkat keuntungan (Return on Investment)yang tinggi.Hal ini dapat menunjukkan mengukur kinerja dengan semata-mata dari aspek keuangan bisa menyesatkan , karena kinerja keuangan kemungkinan dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka panjang perusahaan. Di era reformasi sekarang ini lebih didominasi oleh intangible assets yang terukur,dengan mengukur kenerja perusahaan mempertimbangkan empat aspek atau perspektif, yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta proses belajar dan berkembang.Menurut Kaplan adanya hubungan yang sangat berkaitan erat antara keempat aspek tersebut.Bahwa Balanced scorecard apabila disusun dalam rangkaian yang logis maka maknanya adalah perusahaan bersangkutan dapat menerjemahkan strategi yang baik.
    2. Dengan memahami konsep BSC,maka yang membedakannya dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja.
    Didalam BSC setiap ukuran menyajikan suatu aspek dari strategi perusahaan, karena dengan sistim ini manajemen dapat menggunakannya untuk berbagai alternatif ukuran terhadap berbagai hal seperti:
    a. Faktor-faktor kritis yang memerlukan keberhasilan strategi perusahaan;
    b. Menunjukkan hubungan individu atau sub unit dengan keberhasilannya, sebagai akibat dari penetapan pengukuran yang telah dikomunikasikannya;
    c. Menunjukkan bagaimana pengkuran finansial mempengaruhi finansial jangka panjang.
    Anthony and Govin Daraja (1997) dalam bukunya Manajement Control System menyebutkan bahwa BSC Suatu alat sistim untuk memfokuskan perusahaan, meningkatkan komunikasi antar tingkatan manajemen,menentukan tujuan organisasi dan memberikan umpan balik yang terus-menerus guna keputusan yang strategis. Gagasan untuk menyeimbangkan pengukuran keuangan (finansial) dengan aspek non keaungan (non finansial)dapat melahirkan Balanced Scorecard.
    3. Dalam pelayanan organisasi pemerintahan, kendala dan kemungkinan menggunakan pendekatan BSC.
    Pada dasarnya organisasi di Pemerintahan bersifat pelayanan publik yang tidak mengedepankan keuntungan,dengan diikuti aturan yang jelas dan bersifat birokratis sesuai SOP baik tingkat Pusat maupun otonom. Namun demikian pada organisasi pemerintahan dapat saja diterapkan pendekatan BSC.Dengan merujuk dari visi dan misi organissasi pemerintahan baik tingkat pusat maupun daerah, walaupun akan mendapatkan berbagai kendala karena kontraproduktif dengan perusahaan yang bersifat mencari keuntungan (profit.
    4. Kesulitan dalam penggunaan Balanced Scorecard.
    Pada dasarnya Balanced Scorecard merupakan hal yang baru , walaupun sebagian perusahaan besar telah menerapkannya. Namun berbagai perubahan seperti mindset dari apa yang telah berjalan sebelumnya selama ini pada perusahaan yang menerapkannya bukanlah seperti “membalikkan telapak tangan”
    perlu keseriusan secara terus menerus untuk melakukannya. Kesulitan bagi perusahaan juga dapat ditinjau dari sisi antara lain;Kepemimpinan, visi dan strategi perusahaan, menerjemahkan papan nilai kepada tim, divisi, dan tingkatan fungsi,pengukuran efektif dan standar, penganggaran yang tepa, teknologi dan informas, komuniksi dan sistim imbal jasa,melihat BSC sebagai proses kontinius, membutuhklan perbaikan, penilaian ulang serta pemutahiran dan terakhir percaya bahwa BSC sebagai fasilitator perubahan kultur dan organisasi. Dengan demikian apabila berhasil akan mendatangkan manfaat yang besar bagi perusahaan. Terima kasih.

    Komentar oleh Ander | Juli 21, 2009 | Balas

  4. BALANCE SCORECARD (BSC)

    Nama : FAUZAN AZHARI
    NIM : C2B008029
    Angkatan : X Program Pasca Sarjana Magister Manajemen UNJA
    Mengulas tentang pertanyaan Balance Scorecard (BSC), yaitu :
    1) Menurut saya masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan yang sangat penting dan strategis, dengan alasan :
     Keberhasilan seseorang atau organisasi dalam melaksanakan tugas yang telah dilaksanakan secara terprogram belum tentu dapat dikatakan berhasil walaupun tugas tersebut telah diselesaikan dengan baik, namun keberhasilan tugas tersebut harus berdasarkan alat ukurnya. Alat ukur tersebut bukan hanya sebagai alat evaluasi tetapi juga sebagai bagian dari strategi, seperti yang dikatakan Kaplan dan norton (1992) “What you measure is you get”. Sehingga dalam menentukan standar alat ukur haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut (Manajemen Strategi, Johannes Simatupang, 2008) :
    a. mewakili visi misi organisasi
    b. menajawab kebutuhan pemangku kepentingan, oleh karena itu harus flesibel.
    c. dapat terukur dengan baik tanpa membutuhkan waktu yang lama
    d. menjawab kebutuhan perusahaan di tengah-tengah industri.

    2) Yang membedakan konsep BSC dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja, yaitu :
    a. Konsep BSC tergambar lebih praktis dan mudah dipahami oleh semua orang/perusahaan :
     Bahwa penggunaan konsep BSC menyatukan alat dalam laporan manajemen yang utuh, kelemahan pandangan terhadap berbagai bidang yang dinilai bersaing: menjadi perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan, memperpendek waktu menanggapi, memperbaiki kualitas terhadap team, mengurangi waktu meluncurkan produk, dan mengelola untuk jangka waktu panjang;
     Scorecard menjadi pedoman untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan.
     BSC merupakan turunan dari visi dan misi, yang merupakan kunci dalam menggerakkan perusahaan.
     Visi dan misi yang terformulasi ke dalam BSC oleh Kaplan dinyatakan dengan 4 perspektif yang didasarkan pada kriteria sebagai beriku: 1) sasaran, 2) ukuran, 3) sasaran, dan 4) inisiatif. Perspektif tersebut menggambarkan satu dengan lainnya saling berhubungan sehingga setiap keuntungan yang didapat tumbuh bilamana perusahaan mempunyai posisi di benak pelanggan (share value), sedangkan posisi di benak pelanggan hanya mungkin bila perusahaan mempunyai proses belajar.
     Pengalaman berbagai perusahaan yang menerapkan BSC menunjukkan bahwa BSC bukan saja ukuran akan kinerja akan tetapi adalah bagian dari strategi untuk mencapai tujuan.

    b. Konsep Lain (TQM, Six Sigma, dan lain-lain) :
     Dalam konsep tersebut diatas masih banyak kelemahan dalam pengukuran kinerja yang lebih menonjolkan pencapaian tujuan secara terpisah, bahkan cenderung kompetitif yang pada akhirnya mengakibatkan konflik korporasi, dan dalam pemahaman konsep tersebut masih sulit serta antara yang satu dengan yang lain hampir bukan merupakan satu kesatuan yang utuh.
    3) Kemungkinan organisasi pemerintahan menggunakan pendekatan BSC dalam memberikan pelayanan, yaitu :
     Pendekatan BSC sangat mudah dipahami dan mudah-mudah sulit untuk diterapkan, namun dalam penerapannya tergantung dari siapa yang menjadi Pimpinan di Dinas/Instansi apakah mau menggunakannya atau tidak, karena secara terstruktur masing-masing Dinas / Instansi memili SOP (Standar Operasional Pelayanan) dari lembaga yang lebih tinggi. Namun jika mengacu kepada Visi dan Misi masing-masing Dinas/Instansi maka saya rasa sudah selayaknya BSC dapat digunakan di Dinas/Instansi tersebut karena kemudahan BSC dalam menerjemahkan Visi dan Misi yang dimiliki karena tidak hanya sebagai alat ukur kinerja tetapi juga sebagai strategi untuk mencapai tujuan.

     Kendala yang dihadapi, yaitu :
    1. Tidak semua pimpinan mengenal dan mengetahui tentang Konsep BSC.
    2. Jika pimpinan mengenal dan mengetahui Konsep BSC belum tentu semua bawahannya turut mendukung konsep yang akan ditetapkan oleh pimpinan tersebut.
    3. Dalam mendukung konsep BSC, Pimpinan tidak dapat langsung mendapatkan hasil yang memuaskan karena pola pikir dan tingkat intelektual SDM bawahan yang berbeda-beda.
    4. Sangat dibutuhkannya kemampuan teknis dari bawahan untuk menyusun ataupun menterjemahkan konsep menjadi bagian yang operasional yang merupakan terjemahan dari Visi dan Misi organisasi.

    4) Kesulitan dalam penggunaan BSC, antara lain :
    a) Pemahaman Manajer dalam menerapkan BSC tidak didukung oleh bawahan dikarenakan SDM bawahan yang berbeda-beda sehingga apa yang diterima oleh bawahan belum tentu sejalan dengan apa yang diharapkan oleh atasan.
    b) Komunikasi dan koordinasi antar staf sangat berpengaruh besar, karena kurang atau tidak jalannya komunikasi dan koordinasi akan menghambat pelaksanaan BSC.
    c) Walaupun SDM sangat mendukung dalam penerapan BSC, namun dari sisi Manajemen tidak mendukung maka pendekatan BSC pun bisa gagal.
    d) Visi dan Misi tidak dapat diterjemahkan secara sederhana sehingga pendekatan BSC akan mengalami kesulitan dalam penerapannya.
    e) Visi dan Misi yang diterjemahkan secara sederhana melalui Pendekatan BSC, akan menemui kendala jika tidak didukung dengan perencanaan anggaran dan pembiayaan yang tidak sesui dengan rencana strategis BSC.
    TERIMA KASIH, PAK JO.
    Dari : FAUZAN AZHARI

    Komentar oleh fauzan azhari | Juli 23, 2009 | Balas

  5. Nama : RIJALUDIN
    NIM : C2B008067
    Angkatan : X Program Pasca Sarjana Magister Manajemen UNJA

    Pak Jo, mengenai Balance Scorecard (BSC), saya mencoba untuk menjawabnya :

    1) Guna melaksanakan program yang merupakan penjabaran dari Visi dan Misi dalam menentukan selesai atau tidaknya, berhasil atau tidaknya yang diawali dari perencanaan, pelaksanaan strategi, dan tujuan haruslah memiliki alat pengukuran kinerja, dengan alasan :
     Bahwa dalam Sistem manajemen strategis adalah proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi untuk mewujudkan visi secara terus menerus secara terstruktur. Untuk itu strategi merupakan pola tindakan terpilih untuk mencapai tujuan tertentu. Dimana pada awalnya sistem manajemen strategis bercirikan: mengandalkan anggaran tahunan, berjangka panjang dan berfokus pada kinerja keuangan. Penerapan sistem manajemen strategis yang demikian di banyak perusahaan swasta mengalami kegagalan.

    2) Yang membedakan konsep BSC dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja, yaitu :
     Konsep BSC :
     BSC menunjukkan indikator outcome dan output yang jelas, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan dan non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat serta dapat disusun pada saat-saat tertentu.
     BSC dapat diterapkan pada saat menyusun rencana alokasi anggaran, menyusun manajemen kinerja, melakukan sosialisasi terhadap kebijakan baru, memperoleh umpan balik, meningkatkan kapasitas staf.
     BSC dapat mengubah strategi menjadi tindakan, menjadikan strategi sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yang lebih baik antar karyawan dan manajemen, meningkatkan mutu pengambilan keputusan dan memberikan informasi peringatan dini, serta mengubah budaya kerja.
     Potensi untuk mengubah budaya kerja ada karena dengan balanced scorecard, perusahaan lebih transparan, informasi dapat diakses dengan mudah, pembelajaran organisasi dipercepat, umpan balik menjadi obyektif, terjadwal, dan tepat untuk organisasi dan individu; dan membentuk sikap mencari konsensus karena adanya perbedaan awal dalam menentukan sasaran, langkah-langkah strategis yang diambil, ukuran yang digunakan, dll.

     Konsep lain (Six Sigma, ROI, TQM, dan lain-lain), yaitu;
    - Dalam konsep lain tidak secara tegas menggambarkan indikator outcome dan output yang jelas, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan dan non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat.
    - Dalam audit manajemen yang tinjauan hanya bagian tertentu dari prosedur serta metode operasional organisasi yang bertujuan mengevaluasi efisiensi serta efektivitas prosedur serta metode tersebut.
    - Dalam penelitian Lawson et al (2003) menunjukkan bahwa penggunaan alat pengukuran kinerja manajerial sebagai salah satu alat pengendalian manajemen mengurangi biaya overhead sekitar 25% dan meningkatkan penjualan serta laba.
    - Penilaian perspektif keuangan, menyatakan baik-buruknya kinerja seorang manajer dilihat dari seberapa besar keuntungan yang dihasilkannya untuk perusahaan. Jika tingkat labanya tinggi maka manajer kerjanya dianggap baik. Tetapi jika profitabilitasnya rendah maka seorang manajer dianggap buruk kinerjanya.
    - Metode penilaian kinerja menggunakan laporan keuangan memang cara termudah dalam menilai kinerja manajemen. Tetapi pengukuran yang hanya mengandalkan pada ukuran-ukuran keuangan tidaklah cukup dan faktanya dapat menjadi disfungsional karena beberapa alasan. Pertama hal itu dapat mendorong tindakan jangka pendek yang tidak sesuai dengan kepentingan jangka panjang perusahaan. Kedua, manajer unit bisnis mungkin tidak mengambil tindakan yang berguna untuk jangka panjang, guna memperoleh laba jangka pendek. Ketiga, menggunakan laba jangka pendek sebagai satu-satunya tujuan dapat mendistorsi komunikasi antara manajer unit bisnis dengan manajer senior. Dan terakhir, pengendalian keuangan yang ketat dapat memotivasi manajer untuk memanipulasi data.

    3) Organisasi pemerintahan sangat memungkinkan menggunakan pendekatan BSC, karena :
     Pemerintah pada era sekarang ini, baik pemerintah pusat, daerah maupun lokal diharapkan untuk menjadi: akuntabel, kompetitif, ramah rakyat, dan berfokus pada kinerja. Organisasi pemerintah juga ditantang untuk memenuhi harapan berbagai kelompok stakeholders (yaitu penerima layanan, karyawan, lembaga pemberi pinjaman/hibah, masyarakat, dan pembayar pajak). Tuntutan ini mengharuskan organisasi pemerintah untuk bertindak profesional sebagaimana yang dilakukan oleh organisasi swasta. Organisasi pemerintah harus mempunyai sistem manajemen strategis. Karena dunia eksternal adalah sangat tidak stabil, maka sistem perencanaan harus mengendalikan ketidak-pastian yang ditemui. Organisasi pemerintah, dengan demikian, harus berfokus strategi. Strategi ini lebih bersifat hipotesis, suatu proses yang dinamis, dan merupakan pekerjaan setiap staf. Organisasi pemerintah harus juga merasakan, mengadakan percobaan, belajar, dan menyesuaikan dengan perkembangan.

     Kendala yang dihadapi, yaitu :
     Dalam penerapan pendekatan BSC tidak selalu diterapkan sebagai manajemen strategi, tetapi terkadang hanya sebagai alat pengukuran kinerja.

    4) Kesulitan dalam penggunaan BSC, yaitu ; bahwa dalam penyusunan balanced scorecard bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga banyak organisasi yang gagal membuat balanced scorecard karena berbagai sebab antara lain: tidak ada komitmen pimpinan, terlalu sedikit staf terlibat, scorecard disimpan saja, proses penyusunan yang lama dan sekali jadi, menganggap balanced scorecard sebagai sebuah proyek, kesalahan memilih konsultan, atau menggunakan balanced scorecard hanya untuk keperluan pemberian kompensasi.

    Terima Kasih, Pak Jo.
    Dari : Rijaludin

    Komentar oleh rijaluddin a.roni | Juli 23, 2009 | Balas

  6. Selamat pagi Pak jo..

    Soal No. 1.
    Masalah Pengukuran Kinerja adalah masalah strategis.
    Bagi sebuah perusahaan pengukuran kinerja merupakan masalah yang strategis hal ini dalam kajian manajemen strategik oleh Dr. Johannes, maka pengukuran hasil (performance) memegang peran sangat penting karena menjadi ukuran apakah strategi berhasil atau tidak, artinya apabila organisasi tidak dapat mencapai hasil maka berarti strategi tidak berjalan. Dalam manajemen pengukuran kinerja merupakan sesuatu yang vital sebagai alat ukur bagi perusahaan untuk menentukan kebijakan, kebutuhan terhadap alat ukur tidak hanya untuk mengukur kinerja akan tetapi juga untuk memastikan BSC organisasi menggunakan strategi yang tepat atau tidak (Dr. Johannes; juli 2009), sementara menurut Kaplan dalam makalah Dr. Johannes mengatakan bahwa kinerja akan menentukan strategi yang digunakan benar adanya. Dengan demikian berarti pengukuran kinerja merupakan aspek yang sangat penting dan strategis bagi sebuah perusahaan untuk menentukan sebuah kebijakan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien sesuai dengan format kinerja yang telah ditentukan.

    Soal No. 2.
    Beda Konsep BSC dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja.
    Meurut Kaplan dan Norton (1992) menjelaskan bahwa The balanced scorecard puts strategy-not control- at the center, artinya adalah bahwa esensi penerapan BSC bukanlah adanya pengendalian terhadap devisi akan tetapi setiap devisi atau korporasi sedemikian rupa akan beriinisiasi, menetukan ukuran kinerja dan mengaitkannya dengan visi, misi dan strategi korporasi, BSC dalam hal ini memiliki keunggulan yaitu teridentifikasinya struktur ataupun kerangka yang ada dikorporasi guna mencapai dan merealisaikan visi dan misi korporasi. Yang membedakan konsep BSC dengan konsep lain adalah BSC dikenal sebagai program pengukuran yang mengarah kepada perbaikan, integrasi antar fungsi, skala global, perbaikan terus-menerus, tanggungjawab team yang menggantikan peran individu, dan yang paling membedakan BSC dengan konsep lain bahwa pada BSC manajer memahami, setidaknya secara inplisit kaitan antar fungsi, BSC mengarahkan manajer kedepan dengan berpedoman kepada pespektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan yang oleh Kaplan digambarkan sebagai perspektif yang berkaitan satu dengan lainnya.

    Soal no. 3.
    Kendala penerapan BSC dan kemungkinan penggunaan BSC dalam organisasi pemerintah.
    Dalam kontek sebuah perusahaan atau korporasi kendala yang mungkin timbul dalam penerapan BSC menurut Kaplan dan Norton adlah pada level evaluasi dan harus dimulai dari penyusunan strategi. Namun kemungkinan penggunaan BSC dalam organisai penerintah sangat besar karena melihat pengalaman di beberpa perusahaan dan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti yang dikemukakan oleh Mustasowifin (2002), Purwnto, A.T (2003) masing-masing menggagas penerapan BSC pada koperasi dan pengelolaan sumberdaya alam dan berhasil, kemudian dalam bidang pendidikan sebagaimana yang dilaporkan oleh Beard (2009) yang mengidentifikasi penerapan BSC kepada 2 sekolah dan berhasil menerima penghargaan dari Malcolm Baldrige National Quality Award. Sehingga dalam kontek organisasi pemerintah penerapan BSC ini sangta mungkin diterapkan mengingat keberhasilan yang telahh dicapai dalam penelitian para ahli dan juga BSC memiliki alasan yang mendasar kenapa ditetapkan dalam sebuah organisasi (Pandey;2005) diantaranya:
    a. BSC adalah alat komprehensif untuk memahami pelanggan dan kebutuhannya, dan kesenjangan kinerja.
    b. BSC menyiapkan logika untuk menciptakan modal intagible dan intlektual dimana dengan pengukuran tradisional dalam sistem kinerja sulit dilakukan.
    c. BSC mampu mengartikulasi strategi pertumbuhan menjadi keandalan bisnis yang fokus kepada upaya-upaya non finansial
    d. BSC memampukan karyawan memahami strategi dan kaitan sasaran ke dalam operasi perusahaan hari-kehari, dan
    e. BSC mampu memfasilitasi umpan balik reviu kinerja dari waktu-kewktu.

    Soal No. 4.
    Kesulitan dalam penggunaan BSC
    dalam penggunana konsep BSC ini darii berbagai pengalaman bebrpa peneliti maka masalah yang timbul adalaha kesulitan dalam hal operasional, menterjemahkan konsep perspektif yang tentunya berbeda antara satu perusahaan terhadap perusahaan yang lain, kesulitan ini berkaitan dengan dibutuhkannya kemampuan teknis untuk menyusdun dan menterjemahkan konsep menjadi bagian yang operasional menjadi bagaimana mempertimbangkan kebutuhan terhadap organisasi dalam rangka menopang pencapaian tujuan, terlaksana dan dapat diukur. sehingga sebelum menerpakan konsep ini dibutuhkan suatu pelatihan yang memadai agar pemahaman pihak internal mampu dan mengerti guna menerpkan konsep menjadi sesuatu yang operasional.

    Demikian pak jo.. terimaksih.

    Komentar oleh Deden kurnia (kelas H, ak. x) | Juli 23, 2009 | Balas

  7. Ellen Nandia
    Kelas H/X/MM
    C2B008024

    1.masalah pengukuran kinerja adalah permasalah strategis
    Balanced Scorcard merupakan konsep manajemen yang diperkenalkan Robert Kaplan tahun 1992, sebagai perkembangan dari konsep pengukuran kinerja (performance measurement) yang mengukur perusahaan. Robert Kaplan mempertajam konsep pengukuran kinerja dengan menentukan suatu pendekatan efektif yang seimbang (balanced) dalam mengukur kinerja strategi perusahaan.
    untuk itu penentuan hasil yang dijadikan ukuran menjadi penting karena akan menentukan apakah strategi berjalan dengan baik atau tidak.
    dan penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan, pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.

    2.perbedaan konsep BSC dengan konsep lain
    Sejak kemunculannya Balanced Scorecard (BSC) telah banyak diadopsi oleh berbagai perusahaan di dunia.oleh karena itu
    kelebihan Balanced Scorecard adalah memelihara keseimbangan antara ukuran-ukuran strategis yang berbeda dalam suatu usaha mencapai keselarasan cita-cita, sehingga dengan demikian mendorong karyawan untuk bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik organisasi. Ini merupakan alat yang membantu fokus perusahaan, memperbaiki komunikasi, menetapkan tujuan organisasi, dan menyediakan umpan balik atas strategi. Dan pada perkembangannya BSC tidak hanya sekedar sebuah penilaian kinerja tapi juga alat manajemen strategi.

    3.kendala penerapan BSC dan kemungkinan penggunaan BSC dalam organisasi pemerintahan.
    dalam menerapkan BSC pasti ada kendala nya..karena BSC tergolong baru.dan Balance Scorecard (BSC) pada dasarnya merupakan sebuah sistem manajemen strategi dan implementasi yang terdiri dari peta strategi organisasi, lengkap dengan ukuran, target dan inisiatif strategisnya. untuk itu BSC menghendaki adanya parameter yang terukur sebagai bukti.jadi pada dasarnya bahwa penyusunan BSC tidaklah semudah yang dituliskan.

    4.kesulitan dalam penggunaan BSC antaralain:
    -dalam menyusun BSC harus melibatkan kepemimpinan senior dalam membahas visi dan strategi perusahaan.
    -terlebih dahulu mengidentifikasi kategori kinerja yang menghubungkan visi dan strategi.
    -menterjemahkan papan nilai kepada tim dan devisi.
    -dan harus menggunakan teknologi informasi, komunikasi, dan sistem imbal jasa yang harus sesuai dengan BSC.
    -serta harus terus membutuhkan perbaikan dan penilaian ulang karena BSC merupakan proses yang continius.

    Elen, jawaban anda telah saya periksa. Sabtu tetap ujian STR demikian juga dengan malam selasa untuk kelas mala.

    Komentar oleh Ellen Nandia | Juli 23, 2009 | Balas

  8. Pemasalahan pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis
    Pengukuran kinerja merupakan suatu masalah yang strategis karena kinerja itu sendiri merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang atau perusahaan yang ditunjukkan dengan hasil Kinerja peusahaan itu sendiri merupakan sesuatu yang dihasilkan perusahaan dalam periode tertentu sesuai dengan standar perusahaan yang ditetapkan. Dan penilaian kinerja perusahaan itu sendiri merupakan suatu proses atau system penialan mengenai pelaksanaan kemampuan kerja suatu perusahaan atau organisasi berdasarkan standar tertentu (Kaplan & Norton, 1996).
    Tujuan dari penialan kinerja adalah untuk memotivasi karyawan mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelunya, agar membuhkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh perusahaan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam rencana strategic, program, dan anggaran perusahaan (Anonim).
    Penilaian kinerja ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan perusahaan dalam bisnisnya dengan mengacu kepada standar yang telah ditetapkan guna mencapai target yang ingin di capai. Untuk itu perusahaan dapat melakukan evaluasi dan perbaikan yang perlu dilakukan serta menetapkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapai target tersebut.

    Perbedaan konsep BSC dengan konsep lain dalam penilaian kinerja
    Melalui Balance Scorecard, perusahaan didorong untuk tidak hanya memberikan perhatian pada proses yang ada tetapi juga berusaha mencari metode proses baru yang akan memberikan value lebih baik bagi pelanggan dan pemegang saham untuk strategi yang telah direncanakan.
    Konsep penilaian kinerja oleh Hanses & Mowen (1997) adalah dengan melakukan pengukuran keuangan dean non keuangan yang dirancang untuk menaksir bagaimana kinerja aktivitas dan hasil akhir yang dicapai. Sedangkan penilaian kinerja menurut Des & Lumpkin (2003) menyatakan dua pendekatan untuk menilaian kinerja perusahaan adalah melalui rasio keuangan (financial ratio) dan perspektif pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder perspective).
    Melalui Balance Scorecard, perusahaan didorong untuk tidak hanya memberikan perhatian pada proses yang ada tetapi juga berusaha mencari metode proses baru yang akan memberikan value lebih baik bagi pelanggan dan pemegang saham untuk strategi yang telah direncanakan.
    Dan menurut Balanced Scorecard meninjau penilaian kinerja melalui 4 perspektif yaitu keuangan, customers, proses bisnis/intern, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Berdasarkan pendekatan ini, kenerja keuangan yang dihasilkan oleh eksekutif harus merupakan akibat diwujudkannya kinerja dalam pemuasan kebtuhan customers, pelaksanaan proses bisnis/intern yang produktif dan cost effective, dan/atau pembangunan personel yang produktif dan komitmen.
    Perspektif keuangan diukur dengan menggunakan return of investment, bauran pendapatan, pemanfaatan aktiva dan berkurangnya biaya secara signifikan. Perspektif customer diukur melalui jumlah customers baru, jumlah cuatomers yang menjadi non customers, ketepatan waktu layanan customers. Perspektif proses bisnis/intern dilakukan dengan tiga ukuran cycle time, on time delivery, dan cycle effectiveness. Dan dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan diukur dengan dua pengukuran skill coverage dan quality worklife.

    Kendala dalam menggunakan pendekatan BSC
    Kendala yang mungkin ditemui dalam penerapan Balances Scorecard adalah ketidakmampuan mendefenisikan system matrik yang digunakan dalam membuat suatu keputusan, kurangnya efisiensi dalam pengumpulan data dan pelaporan, Kurangnya me-review struktur formal, tidak adanya metodologi proses perbaikan dan banyaknya hal yang menjadi focus internal.

    Salam,
    Fenny
    C2B008030

    Komentar oleh Fenny Yuhanty | Juli 24, 2009 | Balas

  9. Malem Pak Jo…
    Berikut jawaban Novi…
    JAWABAN NO.1 :
    Sangat Strategis. Kinerja adalah kemampuan kerja yang ditunjukkan dengan hasil kerja. Kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.Kinerja perusahaan hendaknya merupakan hasil yang dapat diukur dan menggambarkan kondisi empirik suatu perusahaan dari berbagai ukuran yang disepakati. Untuk mengetahui kinerja yang dicapai maka dilakukan penilaian kinerja.
    Kata penilaian sering diartikan dengan kata assessment. Sedangkan kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan. Dengan demikian penilaian kinerja perusahaan (Companies performance
    assessment) mengandung makna suatu proses atau sistem penilaian mengenai pelaksanaan kemampuan kerja suatu perusahaan (organisasi) berdasarkanstandar tertentu (Kaplan dan Norton, 1996; Lingle dan Schiemann, 1996;Brandon & Drtina, 1997). 86
    Tujuan penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personel mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam rencana strategik, program dan anggaran organisasi. Penilaian kinerja juga digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya dan untuk merangsang dan menegakan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
    Sistem penilaian kinerja yang efektif sebaiknya mengandung indikator kinerja, yaitu:
    (1) Memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif pelanggan
    (2) Menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan pelanggan
    (3) Memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang mempengaruhi pelanggan
    (4) Menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu anggota organisasi mengenali permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.
    Penilaian kinerja mengandung tugas-tugas untuk mengukur berbagai aktivitas tingkat organisasi sehingga menghasilkan informasi umpan balik untuk melakukan perbaikan organisasi. Perbaikan organisasi mengandung makna perbaikan manajemen organisasi yang meliputi: (a) perbaikan perencanaan, (b) perbaikan proses, dan (c) perbaikan evaluasi. Hasil evaluasi selanjutnya merupakan informasi untuk perbaikan “perencanaan-proses-evaluasi” selanjutnya. Proses “perencanaanproses-
    evaluasi” harus dilakukan secara terus-menerus (continuous process improvement) agar faktor strategik (keunggulan bersaing) dapat tercapai.
    Penilaian kinerja perusahaan dapat diukur dengan ukuran keuangan dan non keuangan. Ukuran keuangan untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan dimasa lalu dan ukuran keuangan tersebut dilengkapi dengan ukuran non keuangan tentang kepuasan customer, produktivitas dan cost
    effectiveness proses bisnis/intern serta produktivitas dan komitmen personel yang akan menentukan kinerja keuangan masa yang akan datang.
    Jadi, pada intinya, dibutuhkan suatu alat ukur yang komprehensif yang tidak mempertentangkan satu perspektif terhadap perspektif lainnya. Artinya alat ukur bukan hanya sebagai alat evaluasi tapi juga sebagai bagian dari strategi.

    JAWABAN NO.2 :

    Konsep balanced scorecard berkembang sejalan dengan perkembangan implementasinya. Balanced scorecard terdiri dari dua kata: (1) kartu skor (scorecard) dan (2) berimbang (balanced). Kartu score adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang. Kartu skor ini dapat juga digunakan untuk merencanakan skor yang hendak dicapai atau yang diwujudkan personel di masa depan. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja personel diukur secara berimbang dari dua aspek: keuangan dan nonkeuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern.
    Jadi yang membedakan BSC dengan konsep-konsep lainnya adalah Balanced scorecard digunakan untuk menyeimbangkan usaha dan perhatian eksekutif ke kinerja keuangan dan nonkeuangan, serta kinerja jangka pendek dan kinerja jangka panjang. Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa untuk mengukur kinerja eksekutif masa depan, diperlukan ukuran yang komprehensif yang mencakup Empat Perspektif : Keuangan, Customer, Proses bisnis/intern, dan Pembelajaran dan Pertumbuhan. Keempat perspektif ini saling berkaitan dan terangkum dalam satu hubungan “cause and effect relationship”.
    Esensi penerapan BSC adalah bahwa setiap devisi satu korporasi sedemikian rupa akan berinisiasi, menentukan ukuran kinerja dan mengkaitkannya dengan visi, misi dan strategi korporasi.Keunggulan BSC adalah teridentifikasikannya struktur ataupun kerangka yang ada di korporasi guna mencapai/merealisasikan visi dan misi korporasi. Sehingga para manajer memahami, setidaknya secara implisit bahwa ada kaitan erat diantaranya.
    Beberapa alasan yang membedakan BSC dengan konsep lainnya, adalah :
    a. BSC adalah alat komprehensif untuk memahami pelanggan dan kebutuhannya dan kesenjangan kinerja.
    b. BSC menyiapkan logika untuk menciptakan modal intangible dan intelektual.
    c. BSC mampu mengartikulasi strategi pertumbuhan menjadi keandalan bisnis yang fokus kepada upaya-upaya non finansial.
    d. BSC memampukan karyawan memahami strategi dan kaitan sasaran ke dalam operasi perusahaan dari hari ke hari.
    e. BSC memfasilitasi umpan balik review kerja dari waktu ke waktu.

    JAWABAN NO.3 :

    Mengapa institusi pemerintah perlu mengadopsi balanced scorecard ? Pemerintah pada era sekarang ini, baik pemerintah pusat, daerah maupun lokal diharapkan untuk menjadi: akuntabel, kompetitif, ramah rakyat, dan berfokus pada kinerja. Organisasi pemerintah juga ditantang untuk memenuhi harapan berbagai kelompok stakeholders (yaitu penerima layanan, karyawan, lembaga pemberi pinjaman/hibah, masyarakat, dan pembayar pajak). Tuntutan ini mengharuskan organisasi pemerintah untuk bertindak profesional sebagaimana yang dilakukan oleh organisasi swasta. Organisasi pemerintah harus mempunyai sistem manajemen strategis. Karena dunia eksternal adalah sangat tidak stabil, maka sistem perencanaan harus mengendalikan ketidak-pastian yang ditemui. Organisasi pemerintah, dengan demikian, harus berfokus strategi. Strategi ini lebih bersifat hipotesis, suatu proses yang dinamis, dan merupakan pekerjaan setiap staf. Organisasi pemerintah harus juga merasakan, mengadakan percobaan, belajar, dan menyesuaikan dengan perkembangan.
    Agar organisasi pemerintah dapat berfokus pada strategi yang sudah dirumuskan, maka organisasi pemerintah juga harus menterjemahkan strategi ke dalam terminologi operasional, menyelaraskan organisasi dengan strategi (dan bukan sebaliknya), memotivasi staf sehingga membuat strategi merupakan tugas setiap orang, menggerakkan perubahan melalui kepemimpinan eksekutif, dan membuat strategi sebagai suatu proses yang berkesinambungan.

    Adapun perbedaan karakteristik organisasi swasta dan pemerintah adalah sebagai mana ditunjukkan dalam tabel berikut.
    ______________________________________________________________________
    Perspektif Swasta Pemerintah____________________________
    Finansial Pemegang saham DPR, pembayar pajak, konstituen

    Pelanggan Pelanggan Orang yang menggunakan jasa/pelayanan
    publik

    Proses Proses Membuat produk Memberikan pelayanan secara kompetitif
    Internal yang diunggulkan

    Pertumbuhan & Karyawan, direksi Pejabat politik (menteri), pegawai pemerintah
    Pembelajaran
    ________________________________________________________________________

    Balanced scorecard sudah diterapkan di banyak lembaga pemerintah, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Di AS instansi Federal yang menggunakan balanced scorecard antara lain adalah Department of Agriculture, Natural Resource Conservation, Forrest Service, Department of Commerce, Fish & Wildlife Service, Bureau of Reclamation, Environmental Protection Agency, Council on Environmental Quality. Sedang negara bagian yang sudah menerapkan balanced scorecard diantaranya Alaska, Oregon, Washington, California, Idaho, Montana. Pada tingkat lokal, setingkat kecamatan di Indonesia, balanced scorecard sudah dipergunakan di 39 Counties, 277 Cities, 44 Sewer Districts, 125 Water Districts, 36 Irrigation Districts, 32 Public Utility Districts, 14 Port Districts, 48 Conservation Districts, dan 170 Municipal Water Suppliers.
    Balanced Scorecard adalah sebuah cara pandang baru bagaimana suatu organisasi akan dapat lebih baik lagi dikelola. Balanced scorecard merupakan bagian dari sistem manajemen strategis, yang perlu dirumuskan oleh setiap organisasi, agar dapat mencapai visi dan misinya secara efektif. Balanced scorecard memberikan prosedur bagaimana tujuan organisasi dirinci ke dalam sasaran-sasaran dalam berbagai perspektif secara lengkap, dengan ukuran-ukuran yang jelas. Balanced scorecard merupakan mekanisme untuk membuat organisasi, termasuk organisasi pemerintah, berfokus pada strategi, karena penerapan balanced scorecard memungkinkan semua unit dalam organisasi memberikan kontribusi secara terukur pada pelaksanan strategi organisasi.
    Balanced scorecard seyogyanya dikembangkan oleh setiap organisasi pemerintah untuk mempertajam perannya dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan, sehingga membedakannya dengan organisasi pemerintah lain. Tugas pengawasan oleh DPR terhadap pemerintah akan dipermudah jika instansi pemerintah memiliki strategi berbasis balanced scorecard. Perumusan balanced scorecard bukan suatu pekerjaan sekali jadi, melainkan tugas yang terus menerus, dengan setiap saat ada proses penyempurnaan dan yang terpenting adalah ia dimanfaatkan untuk mencapai visi dan misi organisasi▪

    JAWABAN NO.4 :

    Kesulitan yang ditemui dalam penggunaan BSC adalah dalam menterjemahkan konsep perspektif yang tentunya berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Kesulitan ini berkaitan dengan dibutuhkannya kemampuan tekhnis untuk menyusun ataupun menterjemahkan konsep menjadi bagian yang operasional. Yang berarti mempertimbangkan kebutuhannya terhadap organisasi dalam rangka menopang pencapaian tujuan, terlaksana dan dapat diukur. Jadi dibutuhkan satu pelatihan tertentu agar setiap pihak internal memiliki pemahaman yang memadai dalam menerapkan konsep menjadi sesuatu yang operasional.
    Tantangan yang dihadapi selanjutnya adalah masih banyak perusahaan yang menerapkan berbagai program seperti TQM, Six Sigma, dan lain2 dan perencanaan anggaran dan pembiayaan lepas dari strategi, maka apa yang diperoleh senantiasa tidak menjadi ukuran yang dapat diterima.
    Untuk itu dibutuhkan beberapa hal dalam mempermudah penggunaan BSC :
    a. Strategy Map
    Masing-masing perspektif harus saling terkait satu sama lain sehingga realisasinya merupakan satu rangkaian, yang nantinya kita akan memperoleh satu peta strategi yang secara jelas menunjukkan bagaimana visi dan misi diterjemahkan menjadi bagian2 yang operasional yaitu sasaran dan strategi untuk mencapainya.
    b. Penentuan Scorecard
    Tidak mudah untuk menyepakati suatu ukuran tertentu karena selalu ada unsur konflik antar bagian. Jadi harus ada pemahaman yang mendalam saat memulai perencanaan strategis. Diawali dengan identifikasi yang sesuai agar bisa ditentukan apa yang menjadi tujuan dan kegiatan serta ukuran yang akan diterapkan.
    Kunci penerapan BSC : (1) keterlibatan pemimpin senior, (2) mengartikulasi visi dan strategi perusahaan, (3) mengidentifikasi kategori kinerja yang menghubungkan visi dan strategi terhadap hasil, (4) terjemahkan papan nilai kepada tim, devisi dan tingkat fungsi, (5) kembangkan pengukuran yang efektif dan standar yang berarti, (6) kenakan penganggaran yang tepat, (7) melihat BSC sebagai proses yang kontinus dan (8) percaya bahwa BSC sebagai fasilitator perubahan kulltur dan organisasi.
    c. Implementasi Scorecard
    Pada awalnya merupakan papan nilai yang dinilai seimbang antar berbagai perspektif untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan. Hal ini menjadi krusial bukan hanya karna menyangkut banyak hal tapi juga karna adanya ukuran yang seimbang diharapkan bahwa capaian dan kinerja satu perusahaan dapat berkelanjutan. Dalam implementasinya, BSC memerlukan strategi yang merupakan koreksi terhadap kelemahan strategi pada umumnya.

    Komentar oleh Novita Sari | Juli 24, 2009 | Balas

  10. Wiwin Alawiyah
    C2B.008080
    MM/Angkatan X
    Kelas: C (Sabtu-Minggu)

    Salam Sejahtera Pak Jo, Selamat Malam

    1.Masalah pengukuran knerja adalah masalah
    Dalam kajian manajemen strategik, pengukuran hasi (performance) memegang peran sangat penting, karena ini tidak saja berkaitan dengan peentuan keberhasilan akan tetapi menjadi ukuran apakah strategi berjalan baik atau tidak.Dengan pandangan seperti ini diyakini bahwa hasil tidaklah sesuatu yang dapat begitu saja akan tetapi melalui rancangan strategi.Penentuan hasil yang dijadikan ukuran sangat penting karena akan menentukan apakah strategi berjalan dengan baik atau tidak.

    2.Dengan memahami konsep BSC apa yang membedakan dengan konsep lain dan pengukuran kinerja
    Kaplan dan Narton(1992) yang mempublikasikan pertama kali Balance Scorecard (BSC) yang kemudian berkembang pesat, dan sampai akhirnya Kaplan telah melembagakan BSC dan mempublikasikan.Banyak perusahasaan, akademisi,pemerhati, bahkan maju lebih pesat sampai membuat pelayanan BSC dimana organisasi ataupun perusahaan dapat menerima manfaat dengan menerapkan BSC.Maka dari itu setiap organisasi,akademisi menggunakan BSC sebagai salah satu alat untuk pengukuran kinerja.

    3.Dalam pelayanan organisasi pemerintah apa kendala dan kemungkinan menggunakan pendekatan BSC.
    Kendalannya
    -Visi tidak dapat dilaksanakan karena visi tidak dapat diterjemahkann secara operasional sehingga dapat dijadikan arahan dalam bertindak
    -Tujuan dan penghargaan tidak berkaitan dengan strategi. Tujuan dan insentif berkaitan dengan kinerja keuangan tahun dari pada strategi jangka panjang
    -Alokasi sumberdaya tidak berkaitan dengan strategi. Alokasi kapital dan program yang sengaja didanai didasarkan kepada anggaran dan kriteria keuangan jangka pendek bukan kepada strategi
    -Umpan balik adalah taktis, bukan strategi

    4.Kesulitan dalam penggunaan BSC
    -Dalam keberhasilan penyusunan BSC sesungguhnya harus melibatkan kepemimpinan senior
    -Mengartikulasi visi dan strategi perusahaan
    -Mengidentifikasi kategori kinerja yang menghubungkan visi dan strategi terhadap hasil
    -Menerjemahkan papan nilai kepada tim,devisi dan tingkatan fungsi
    -Harus menggunakan teknologi informasi, komunikasi, dan sistem imbal jasa
    -Dan harus terus membutuhkan perbaikan dan penilaia ulang
    Demikianlah jawaban dari saya.Terima kasih

    Komentar oleh wiwin alawiyah | Juli 24, 2009 | Balas

  11. @.SYAHRIL
    @ MM Angk X….C2B008077
    Salam Sejahtera Pak Jo, berikut saya urun pendapat atas pertanyaan Bapak:.
    1. Jelaskan pendapat anda apakah masalah pengukuran kinerja adalah permasalahan strategis.
    Pengukuran kinerja suatu perusahaan /organisasi adalah sangat penting bagi manajer, guna evaluasi kerja yang lalu dan perencanaan masa depan. Serta untuk menilai keberhasilan perusahaan. Secara tradisional pengukuran kinerja biasanya menggunakan perspektif financial/keuangan, yang dikelola oleh para Manajernya, dimana baik-buruknya kinerja seorang manajer dilihat dari seberapa besar keuntungan /laba yang dapat dihasilkannya untuk perusahaan. Jika tingkat laba perusahaan tinggi maka penilaian kinerja terhadap manajer tersebut dianggap baik. Tetapi jika profitabilitasnya rendah maka seorang manajer dianggap buruk kinerjanya.
    Metode penilaian kinerja yang menggunakan laporan keuangan memang merupakan cara termudah dalam menilai kinerja manajemen. Metode yang digunakan biasanya adalah dengan melihat tingkat profitabilitas, ROI, maupun EVA. Tetapi pengukuran yang hanya mengandalkan pada ukuran-ukuran keuangan tidaklah cukup dan faktanya dapat menjadi disfungsional karena beberapa alasan. Pertama hal itu dapat mendorong tindakan jangka pendek yang tidak sesuai dengan kepentingan jangka panjang perusahaan. Kedua, manajer unit bisnis mungkin tidak mengambil tindakan yang berguna untuk jangka panjang, guna memperoleh laba jangka pendek. Ketiga, menggunakan laba jangka pendek sebagai satu-satunya tujuan dapat mendistorsi komunikasi antara manajer unit bisnis dengan manajer senior. Dan terakhir, pengendalian keuangan yang ketat dapat memotivasi manajer untuk memanipulasi data (Anthony dan Govindarajan, 1997).
    Menurut pendapat saya: pengukuran kinerja perusahaan yang baik tidak hanya mengacu pada ukuran fiansial/keuangan saja karena hal ini merupakan masalah strategis dari suatu perusahaan/organisasi.. Karena itu dibutuhkan pengukuran kinerja. yang menggunakan perspektif keuangan dan perspektif non-keuangan. Dimana dalam kajian manajemen strategik, pengukuran hasil (performace) memegang peran sangat penting, karena ini tidak saja berkaitan dengan penentuan keberhasilan akan tetapi menjadi ukuran apakah strategi berhasil atau tidak. Artinya hasil akan dijadikan ukuran apakah strategi berjalan baik atau tidak; bila organisasi tidak dapat mencapai hasil maka diagnosa pertama menunjukkan bahwa strategi tidak berjalan.

    2. Dengan memahami konsep BSC apa yang membedakannya dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja.
    Balanced Scorecard (BSC) generasi pertama adalah tulisan Kaplan dan Norton tahun 1992 yang berjudul “The Balanced Scorecard : Measures that Drive Performance”. BSC generasi kedua adalah buku yang ditulis Kaplan dan Norton pada tahun 1996 berjudul “The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action”. Sedang buku ketiga oleh Kaplan dan Norton berjudul “Strategy Maps” adalah BSC generasi ketiga

    Yang membedakanya dengan konsep lain dalam pengukuran kinerja adalah bahwa :

    1). Balance scorecard, mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
    a. Merupakan suatu aspek dari strategi perusahaan.
    b. Menetapkan ukuran kinerja melalui mekanisme komunikasi antar tingkatan manajemen
    c. Mengevaluasi hasil kinerja secara terus menerus guna perbaikan pengukuran kinerja pada kesempatan selanjutnya.

    2). Setiap ukuran dalam balance scorecard menyajikan suatu aspek dari strategi perusahaan, karena dengan sistem ini manajemen dapat menggunakannya untuk berbagai alternatif pengukuran terhadap hal-hal berikut :
    a. Faktor-faktor kritis yang menentukan keberhasilan strategi perusahaan
    b. Menunjukan hubungan individu / sub bisnis unit dengan yang dihasilkannya, sebagai akibat dari penetapan pengukuran yang telah dikomunikasikannya.
    c. Menunjukan bagaimana pengukuran nonfinansial mempengaruhi finansial jangka panjang.
    d. Memberikan gambaran luas tentang perusahaan yang sedang berjalan.

    3). Balance scorecard menciptakan suatu gabungan pengukuran strategis, pengukuran finansial dan nonfinansial serta pengukuran ekstern dan intern. Pengukuran perusahaan dapat dipandang menjadi 4 kategori Perspektif yaitu : Perspektif finansial, Perspektif Langganan, Perspektif internal bisnis, serta Perspektif Pembelajaran dan pertumbuhan. Ke empat perspektif ini saling berhubungan dalam sebab akibat, sebagai cara untuk menterjemahkan strategi kedalam tindakan.

    3. Dalam pelayanan organisasi pemerintahan apa kendala dan kemungkinan menggunakan pendekatan BSC.
    Organisasi pemerintahan adalah salah satu bentuk organisasi nirlaba seperti halnya rumah sakit, pusat kesehatan (healthcare), , universitas, dan lain-lain.
    Pada awalnya BSC digunakan pada organisasi laba. Tetapi pada perkembangannya BSC juga mulai digunakan pada organisasi nirlaba. Disini terjadi perubahan-perubahan yang membutuhkan penyesuaian dari konsep asli BSC. Pada organisasi laba perspektif finansial merupakan tujuan akhir. Sedang pada organisasi nirlaba, keuntungan bukanlah tujuan utama. Pada organisasi nirlaba kepuasan pelanggan merupakan tujuan akhir. Maka BSC yang hendak diaplikasikan harus disesuaikan dengan karakteristik organisasi nirlaba tersebut.
    keempat perspektif balanced scorecard, dimulai dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif keuangan.dapat diterapakan dalam mengevaluasi kinerja suatu organisasi pemerintahan.
    4. Apa yang sulit dalam penggunaan BSC
    Walau telah terbukti memiliki begitu banyak keunggulan, masih banyak kritik terhadap BSC. Salah satunya mengenai matrik BSC dan hubungan kausalitasnya yang dianggap belum jelas. Dalam hal implementasinya pun BSC masih ditolak oleh beberapa perusahaan karena dianggap tidak memiliki dampak positif bagi perusahaan. Hal ini berdasarkan penelitian akademisi Austria yang melakukan survey terhadap 174 perusahaan Jerman yang hasilnya menunjukkan sebanyak 8% menyatakan menolak menggunakan BSC (Speckbacher et al, 2003). Selain itu hanya ada sedikit bukti bahwa BSC memberikan tambahan nilai ekonomis pada perusahaan yang mengimplementasikannya..
    Kesulitan lain Balanced Scorecard adalah mengenai verifikasi dari cause-effect relationship yang hingga buku Balanced Scorecard generasi ketiga tetap belum jelas. Selain itu dalam hasil penelitian Neely et al (2003) pada dua perusahaan di mana satu perusahaan menggunakan metode pengukuran kinerja manajerial konvensional yakni penilaian dan keuangan sedang yang lainnya menggunakan metode Balanced Scorecard dalam hal laba kotor dan total penjualan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

    Komentar oleh SYAHRIL | Juli 24, 2009 | Balas

  12. Nama : AHYAR
    Kelas : Eksekutif
    Semester : I
    Lokal/Ruang : D/E

    STRATEGI PEMASARAN PADA
    KANTOR PELAYANAN PERIZINAN TERPADU (KPPT)
    KABUPATEN BUNGO

    1. Visi dan Misi :

    Visi : “Bersama Mewujudkan Pelayanan Prima”.

    Misi :
    a. Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dan non perizinan kepada masyarakat;
    b. Meningkatkan profesionalitas SDM aparatur di dalam pelayanan yang cepat, mudah, transparan dan tepat waktu;
    c. Meningkatkan peran serta masyarakat di dalam mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya local.

    2. Program Pemasaran

    Pangsa pasar dari KKPT Kabupaten Bungo adalah pelaku usaha baik rumah tangga, perusahaan swasta maupun perusahaan pemerintah yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Kabupaten Bungo.

    Untuk saat ini KPPT Kabupaten Bungo belum sepenuhnya dapat memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat pengguna jasa perizinan, akan tetapi jika dibandingkan dengan sebelum dibentuk KPPT Kabupaten Bungo maka kualitas pelayanan, efisiensi dan biaya jauh lebih menguntungkan masyarakat. Sebagai contoh : Surat Izin Tempat Usaha (SITU), TDP dan SIUP dapat diselesaikan dalam waktu 3 hari dengan ketentuan jika pada saat permohonan disampaikan kepada KPPT Kabupaten Bungo berkas persyaratan sudah lengkap.

    Strategi yang telah dan sedang dilakukan dalam upaya mencapai tujuan dari KPPT Kabupaten Bungo antara lain :
    1. Menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Pelayanan Perizinan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan prima;
    2. Melaksanakan sosialisasi kepada aparatur pemerintahan desa dan kelurahan;
    3. Melaksanakan interaktif melalui RSPD dan kerjasama dengan media massa;
    4. Melaksanakan pembuatan brosur-brosur tentang jenis perizinan dan unit pengaduan masyarakat;
    5. Melaksanakan kegiatan peningkatan pengetahuan dan wawasan aparatur;
    6. Melaksanakan rekrut pegawai; dan
    7. Melengkapi sarana dan perlengakapan kantor sebagai penunjang pelayanan prizinan yang prima; dan
    8. Memberikan tunjangan beban kerja kepada para karyawan.

    3. Daya Saing

    Guna mewujudkan visi Kabupaten Bungo 2006 – 2011 “Maju dan Sejahtera Bersama”, dimana perubahan paradigma menuju otonomi daerah yang mandiri, Pemerintah Kabupaten Bungo melalui KPPT Kabupaten Bungo harus meraih daya saing daerah dalam rangka menarik minat investasi di Kabupaten Bungo. Untuk meraih daya saing daerah dimaksud, Pemerintah Kabupaten telah memberikan kewenangan keada Kepala KPPT Kabupaten Bungo untuk menandatangani perizinan dan non perizinan yang berjumlah 40 jenis berdasarkan Peraturan Bupati Bungo Nomor 36 Tahun 2009. Kebijakan ini diambil untuk memutus rantai birokrasi agar kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Hasil yang diperoleh dengan pendelegasian wewenang tersebut antara lain kualitas pelayanan kepada masyarakat meningkat; pelayanan lebih efisien dan hemat; seluruh proses berada dalam satu sistem; dan data pelayanan terstruktur dan proses terintegrasi.

    Komentar oleh AHYAR | Oktober 23, 2009 | Balas

  13. NAMA: SARI MULYATI
    NIM: C1B008093
    TUGAS: MJP
    MANAJEMEN B

    PRODUK DETERJEN WINGS
    MEREK DAIA

    I. TINGKATAN PRODUK
     Produk inti
    Merupakan sabun deterjent yang ampuh membersikan kotoran pada pakaian dan sekaligus mengharumkan pakaian. Dengan busa yang melimpah dan wangi yang harum menjadi pakaian bersih dan harum.

     Produk actual
    Deterjen DAIA dilihat dari :
    • Tingkat kualitas terbukti dengan mendapatkan penghargaan ICSA berturut-turut sebagai bukti deterjent daia paling di sukai dan di pilih sebagai produk andalan ibu rumah tangga.
    • Desain, merek dan kemasan dibuat secara menarik agar banyak masyarakat yang berminat membeli produk tersedia.
     Produk tambahan
    Produk DAIA sendiri memberikan tawaran dan bonus yang menarik jika pembelian diatas 1000 gm mendapatkan 1 buah piring cantik dan pewangi produk wings.

    II. KLASIFIKASI PRODUK
    A. produk konsumen
    Deterjen DAIA termasuk dalam produk konvenien yang biasa dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga di toko-toko dan warung tersebut.

    B. Produk industri
    DAIA merupakan produk industri deterjen .

    III. ORGANISASI, ORANG,TEMPAT DAN IDE
    • Organisasi
    Organisasi yang terlibat biasanya hanya kampanye iklan di warung-warung dan toko-toko.
    • Orang
    Melibatkan agen-agen yang datang kelingkungan masyarakat untuk mengenalkan produk mereka dan memberikan kejutan-kejutan berupa hadiah-hadiah menarik.
    • Tempat
    Biasanya disorder di supermarket, di toko dan warung terdekat.
    • Ide
    Terakhir dari deterjen yang ramah lingkungan lembut di tangan dan sebagainya.

    IV. KEPUTUSAN-KEPUTUSAN PRODUK
    A. penentuan akibat-akibat produk
    • kualitas produk
    terbukti sudah menjadi deterjen pilihan ibu rumah tangga dikarenakan berkualitas bagus, hemat dan irit.
    • Feature produk
    Berpenampilan menarik
    • Desain produk
    Keemasan dan pacage yang sempurna.

    B. Pemberian merek
    • Merek
    Deterjen ini bertuliskan DAIA dengan tulisan dan kemasan yang menarik.
    • Ekuitas merek
    Dilihat tingkat loyalitas, kesadaran nama, kualitas yang dilayani tinggi, asosiasi merek yang kuat dan abjet lainnya seperti paten trademark, serta hubungan dengan saluran distribusi mempunyai pengenalan yang cukup baik dan bagus.

    C. seleksi merek
    pemberian nama merek pada deterjen DAIA dikarenakan agar daya kekuatan mencucinya bersih dan ekstra.
    • Sponsor merek
    Merupan merek nasional yang peluncuran atas nama PT. WINGS.
    • Strategi merek
    DAIA menggunakan strategi merek BRAND ekstension yang mempunyai berbagai macam produk yang berasal dari PT. WINGS.

    SELESAI.

    Sari, ICSA itu apa. Kalau produknya sabun, harus ada penjelasan tentang produk aktual yg lebih luas. Misalnya, kalau DAIA deterjen digunakan untuk mencuci pakaian, maka disamping membersihkan juga diharapkan dapat merawat pakaian. Penjelasan seperti itu dibutuhkan untuk dapat memberikan gambaran yang lebih baik. Silahkan dicoba.

    Komentar oleh Sari Mulyati | November 16, 2009 | Balas

  14. Hey! I know this is kind of off topic but
    I was wondering if you knew where I could find a captcha plugin
    for my comment form? I’m using the same blog platform as yours and I’m having trouble finding one?
    Thanks a lot!

    Komentar oleh the blog | Maret 26, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 185 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: