Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PEMANFAATAN ICT (INTERNET)


PEMANFAATAN  ICT (INTERNET) MENOPANG PEMBELAJARAN AKTIF DI PERGURUAN  TINGGI

Oleh : Dr. Johannes, S.E., M.Si. [1]

Abstrak

Kehadiran dan perkembangan ICT khususnya internet membuat perubahan demikian besar dalam semua sisi kehidupan, terlebih dalam dunia pendidikan. Perubahan ini terlihat dari kemampuannya mentransformasi sumberdaya ke arah penggunaan yang lebih bernilai tinggi. Dalam konteks pembelajaran aktif, peranan Internet dapat menopang bentuk pembelajaran aktif lebih kreatif. Praktik ini lebih daripada sekedar menyampaikan, berinteraksi dan bertransaksi antara dosen dan mahasiswa akan tetapi mentransformasi sumberdaya ke arah pemakaian yang bernilai tinggi sehingga menopang kompetensi lulusan tingkat tinggi. Hasil dan dampak yang diperoleh adalah meningkatkan kualitas pembelajaran, yang dilandasi prinsip pembelajaran aktif dalam berbagai bentuk yang memberi kebebasan kepada mahasiswa menemukan ragam kompetensi sebagai seorang pembelajar. Transformasi ini berdampak dahsyat, karena dapat memandirikan mahasiswa untuk kompetensi yang lebih komprehensif, bahkan membangun model pendidikan dan hasil yang berdaya saing yang sesuai dengan tuntutan global. Untuk itu, penggunaan Internet bagaimanapun harus dirancang sesuai dengan kesiapan dan keberadaan peserta yang diarahkan oleh dosen sebagai “moderator” untuk memenuhi tuntutan ke arah penggunaan yang bernilai tinggi. Nilai yang diperoleh tidak saja mengefektifkan pembelajaran di kelas, akan tetapi menjadi alat berbagi (share) pengetahuan oleh siapapun yang memungkinkan perkembangan satu cabang ilmu secara sinergis. Untuk memaksimalkan hasil, maka dosen sebagai “moderator” harus merencanakan sedemikian rupa; meliputi koneksi, kontent dan masyarakat yang terlibat didalamnya melalui tahapan-tahapan yang sesuai dengan  audiens pembelajaran.

 

Kata kunci: ICT, “moderator”, transformasi pembelajaran aktif, interaksi, transaksi,  tahapan pembelajaran  online  aktif,  konten, koneksi, dan komunitas.

 

  1. 1. Pendahuluan

 

Borderless world sudah terjadi dimana salah satu penyebabnya adalah  teknologi dengan segala produk turunannya. Satu sumber dimungkinkan  terhubung dengan jutaan pengguna dalam waktu yang sama. Semua orang menjadi pengguna produk teknologi untuk memuaskan kebutuhannya.

Dalam dunia pendidikan, dosen dan mahasiswa seketika sudah dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran yang dikenal dengan e-journal. Lebih dari itu, dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi satu dengan lainnya untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran secara massif dan efisien. Produk teknologi terus terdiversifikasi untuk berbagai kebutuhan tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Teknologi  dapat mentransformasi seluruh sumberdaya  pendidikan ke arah penggunaan yang lebih efisien. Dari perkembangan demikian, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengelola teknologi menjadi bagian daripada proses pembelajaran khususnya dalam konteks pembelajaran yang aktif.

Teknologi mempunyai dimensi yang sangat banyak. Untuk menyederhanakannya, teknologi dapat dibatasi kepada rekayasa berbagai metode, ketrampilan untuk dapat memberikan nilai tambah, dan manfaat kepada pengguna. Teknologi dalam konteks ini menjadi tidak terbatas dalam makalah ini Adapun batasan teknologi adalah Internet.  Perkembangan Internet bersamaan dan ditopang oleh perkembangan software dan berbagai penyedia koneksi Internet, sehingga didapat integrasi sinergis yang senantiasa dapat digunakan oleh lembaga maupun individu untuk berbagai kepentingan.  Dengan adanya Internet, semua orang dapat menjadi produsen dan sekaligus konsumen. Sebagai produsen, pengguna menghasilkan informasi baik yang diperuntukkan untuk umum maupun pangsa tertentu.

Makalah ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran aktif dimana fasilitas internet dapat digunakan menjadi salah satu alternatif potensil. Metode penulisan utamanya didasarkan kepada sumber data sekunder, disamping itu juga didasarkan kepada pengalaman penulis sebagai penggiat pembelajaran online.

 

  1. 2. Tujuan Penulisan

2.1. Menjelaskan rancangan penggunaan Internet sebagai dasar pembelajaran  aktif di Perguruan Tinggi.

2.2. Menjelaskan strategi pemberdayaan Internet ke arah penggunaan pembelajaran yang didasarkan pada pembelajaran aktif.

 

  1. 3. Diskusi dan Pembahasan

3.1. Pembelajaran Aktif dan Internet

a) Pembelajaran  aktif

Pembelajaran aktif pada dasarnya meliputi upaya, instruksi teknis untuk  melibatkan mahasiswa sedemikian rupa melalui satu rancangan sumberdaya pembelajaran ke arah pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih tinggi.   Beberapa penulis seperti Prince (2004), Austin dan Mescia (2001) dan Phillips (2005) dalam Paetzold dan Melby (2008) menjelaskan lingkup pembelajaran aktif sebagai berikut.

Active learning is typically defined as an instructional technique that requires that students be actively engaged in the learning process (Prince, 2004). Several strategies exist for creating an active learning classroom including: in class writing assignments, case studies, clickers, debates or discussions, individual or group projects, visual instruction and podcasting (Austin & Mescia, 2001). Cost, individual learning styles, instructor skill sets and technology support are critical to deciding which strategies to implement (Phillips, 2005).

 

Dalam kaitannya dengan pembelajaran aktif dosen adalah penyedia informasi tentang semua materi perkuliahan. Ciri pembelajaran online sebagai bagian daripada pembelajaran aktif adalah adanya interaksi yang tak terbatas antara mahasiswa dan dosen baik bersifat vertikal maupun horizontal.  Dalam penggunaan Internet sebagai media dikenal berbagai istilah yang sebenarnya sama yaitu: 1) Online learning, 2) Webbased  learning, 3) distance learning, dan 3) e-learning. Pada dasarnya semua  hal di atas memberikan batasan bahwa adanya Internet memungkinkan penyedia (dosen) berinteraksi dengan mahasiswa (pengguna) melalui Internet; dengan media (halaman=pages) yang dikenal sebagai web.

Web ini sendiri mengalami perkembangan dinamis, dimana dosen dapat menggunakan alamat yang mudah digunakan seperti wordpress ataupun blogsphot yang senantiasa menawarkan fitur yang cukup untuk pembelajaran aktif.  Alternatif ini jauh lebih menguntungkan dibanding kalau menggunakan web fakultas atau universitas, karena dapat dikelola sendiri sesuai dengan kebutuhan.

Pembelajaran  aktif sebagai satu model bagaimanapun harus terintegrasi dengan berbagai model yang telah diterapkan. Dalam ilmu manajemen misalnya dikenal model pembelajaran; 1) students centered learning, 2) cased based teaching, 3) experiental learning, 4) collaborative learning, dan 5) situational learning. Pembelajaran aktif harus komplemen terhadap berbagai model di atas, karena pada dasarnya fokusnya sama yaitu mahasiswa.

Untuk itu, harus dipertimbangkan tahapan pembelajaran yang sudah mapan sebagaimana dilaporkan oleh Robinson (2009) dalam Blooms Taxonomy yang menjelaskan enam tahapan yaitu: 1) knowledege, 2) comprehension, 3) application, 4) analysis, 5) synthesis, dan 6) evaluation. Sementara Fink’s Taxonomy menjelaskan enam tahapan yaitu: 1) foundational knowledge, 2) application, 3) integration, 4) human dimension, 5) caring, and 6) learning how to learn occures. Robinson juga menjelaskan model lain yang perlu diketahui yaitu; 1) linguistic, 2) logical-mathemeticals, 3) visual  spatial, 4) body-kinesthetic, 5) musical-rhytmic, 6) interpersonal, dan 7) intrapersonal.

Dari berbagai klasifikasi pengetahuan seperti di atas, pembelajaran  online tidak dapat menawarkan semua tahapan ataupun kompetensi  tersebut, khususnya yang berkaitan dengan perilaku peserta. Oleh karena itu, dalam penerapan online learning, Ayala (2009) menyatakan bahwa model pembelajaran yang sesuai adalah model gabungan (blended) antara pembelajaran  tatap muka dan  online.

b) Internet

Internet telah mengalami revolusi demikian pesat dimana ia dapat  menggabungkan data, suara dan gambar pada saat yang sama, sehingga dimungkinkan menggantikan peran guru. Revolusi ini bersamaan dengan perubahan perilaku orang yang senantiasa  ingin tersambungkan dengan yang lain, sehingga setiap pengguna sesungguhnya dapat sekaligus menjadi penyedia. Akibatnya, Internet dapat ditemui dimana saja dan kapan saja dari mulai yang gratis hingga yang dikenakan biaya.

Dalam perkembangan Internet, Indrajit (2006) menjelaskan tujuh alasan yang mendasari perkembangan TIK untuk dunia pendidikan yaitu: 1) Merupakan sumber ilmu pengetahuan, 2) Sebagai sarana penyelenggara kegiatan belajar mengajar, 3) Syarat kompetensi lulusan, 4) Mentransformasi organisasi dari ketergantungan fisik menjadi institusi virtual dengan sumberdaya elektronik, 5) Membantu penatalayanan menjadi comfortable, 6) Membantu pengambilan keputusan melalui ketersediaan perangkat keras, dan 7) Menjadi sarana infrastuktur sarana modern.

Dalam pendidikan, penggunaan Internet tidak serta merta berhasil. H.  Sulcic. V. (2009) yang menganalogikan praktik bisnis seperti dot.com yang diharapkan dapat menjamin perolehan keuntungan, kenyataannya tidak. Malah beberapa penyedia jasa bisnis yang menggunakan dot.com bangkrut. Sama dengan hal itu pemakaian internet tidak serta merta menjamin bahwa PBM dapat berjalan efektif bilamana tidak dirancang sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan tingkat kompetensi peserta.

Dari berbagai hasil studi dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Internet sebagai sarana infrastruktur tidak serta merta menjamin bahwa pembelajaran online dapat berjalan dengan baik, karena yang lebih penting adalah seberapa kuat daya serap mahasiswa dalam menggunakan internet. Dalam kaitan ini dikenal prinsip social accepted, dimana sosial ataupun masyarakat sudah dapat menerima pemanfaatan internet dapat digunakan dengan baik. Artinya keberhasilan pembelajaran online lebih ditentukan oleh orang yang mengelola – dosen yang merancang bagaimana pembelajaran online harus diselenggarakan.  Dalam kaitan ini Ibanez dan Scoot (200) menjelaskan yang penting bukan mengkuatirkan bagaimana mahasiswa sebagai peserta dapat menggunakan, akan tetapi bagaimana model pembelajaran untuk orang dewasa senantiasa dapat menjadi isi. Adapun  falsafahnya  adalah “student learning comes first and technology follows”.

Oleh karena itu, harus diwaspadai pembelajaran online tidak selalu berhasil. Dalam kaitan ini Overton (2003) menyampaikan bahwa 60% dari proyek yang termasuk tidak berhasil ini dilaksanakan di British. Sementara di Amerika (Mungania), 70% dari peserta pembelajaran yang menggunakan e-learning tidak menyiapkan paket kursus yang diikuti. Disamping itu ada promosi negatif dalam penggunaan e-learning termasuk juga pertimbangan ekonomi yang tak layak untuk menerapkannya.

Dalam penggunaan Internet,  Park Sung Y., (2009) mengidentifikasi berbagai hal yang mendorong perilaku mahasiswa dalam menggunakan e-learning yaitu keefektifan pembelajaran, pertimbangan subjektif, assesibilitas, persepsi kebermanfaatan, persepsi penggunaan, dan perilaku untuk menggunakan e-learning. Dalam studinya, ditunjukkan dua motivasi yakni; motivasi internal dimana mahasiswa ingin menunjukkan identitasnya, sementara  motivasi eksternal yaitu mahasiswa ingin menunjukkan tanggung jawab sosialnya, hubungannya satu dengan yang lain. Untuk alasan kedua, mahasiswa merasa tertinggal karena tidak dapat menggunakan e-learning.

Dari pro – kontra pembelajaran online, satu hal yang harus dicatat bahwa metode apapun tidak serta merta akan menjamin hasil secara efektif. Oleh karena itu, Ayala (2009) dalam pembelajaran sosial merekomendasikan pembelajaran secara gabungan (blended) yang bentuknya sangat luas dan kompleks. Dalam bentuk sederhana blended learning adalah pemikiran yang mengintegrasikan pembelajaran di kelas yang berhadap-hadapan dengan pengalaman menggunakan online. Dengan ini pembelajaran gabungan senantiasa siap memikirkan ulang dan merancang ulang hubungan antara guru dan audiens ke media yang lebih baru. Kelemahan dari satu metode akan tergantikan oleh kehadiran metode baru; misalnya kendala berhadap-hadapan dengan dosen dapat teratasi dengan adanya interaksi dan pertemuan kapan saja dengan mahasiswa.

 

3.2. Pembelajaran Online dan Strategi

a) Pembelajaran  Online

Zuhal (2010) menjelaskan bahwa dalam Sistem Perencanaan Inovasi Nasional ditargetkan pada Tahun 2015 terdapat 50% penduduk desa di Indonesia telah dapat menikmati fasilitas Internet. Optimisme kepada capaian ini semakin tinggi mengingat bahwa infrastruktur penopang telah dikembangkan oleh para penyedia jasa Internet. Telkom misalnya, dengan keberadaan jaringan dan tower yang sampai ke kecamatan di seluruh Indonesia telah menjadi modal dasar untuk memperoleh sambungan Internet. Lebih dari itu, keberadaan alat seperti Radio dan Rotator yang secara sederhana dapat digunakan untuk memancarkan Internet – menjadikan optimisme ini tidak berlebihan. Bila hal ini terjadi, maka seluruh siswa dan mahasiswa sudah akan memiliki akun.

Bila insan pendidikan melihat kondisi di atas sebagai satu kesempatan, maka saatnya hal itu sudah digunakan. Dosen dan prodi sudah harus mentransformasi sumberdaya (orang dan kompetensi) ke arah pemanfaatan yang berbasis internet. Dalam membangun Internet sebagai sarana pembelajaran dibutuhkan tiga syarat yaitu Koneksi, Isi, dan Masyarakat.

 

  • Koneksi (Connection)

Koneksi dalam hal ini adalah internet yang dapat diakses dengan berbagai bentuk melalui laptop, HP, dan Desktop. Koneksi sendiri tersedia dalam berbagai bentuk yang sifatnya mobile dan fixed. Koneksi semakin lama semakin murah, karena dengan cara yang sederhana, penyedia – Telkom misalnya – dapat seketika menyulap satu lokasi menjadi wilayah wireless dimana sejumlah orang dapat memperoleh akses internet yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Biaya ini semakin murah juga dikarenakan semakin banyaknya pemasok yang mengakibatkan harga menjadi lebih murah.

 

  • Isi  (Content)

Isi (content) adalah tampilan yang minimal harus ada  pada satu halaman di blog. Isi dapat dipilah menjadi utama dan pendukung, akan tetapi syarat utamanya adalah bahwa tampilan harus menarik dan mengundang  pengguna untuk setiap saat berkunjung. Adapun sarana yang digunakan untuk ini yang tersedia adalah wordpress, blogspot. Kedua sarana ini dapat digunakan dengan mudah dan aman. Tentang isi, tidak ada satu pedoman yang dapat membuat orang tertarik, akan tetapi pengalaman di China misalnya, faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembelajaran online adalah prinsip pedagogig, psikologi, sosial dan teknologi; agar kontekstual dan berpusat kepada audiens (Liu, M., 2009). Hinson (2005) dalam studinya terhadap akademisi menunjukkan adanya ragam pemanfaatan Internet yaitu: pengajaran, penelitian, konsultasi, administrasi, dan pembuatan keputusan.

 

Dalam merancang isi ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

  1. Publikasi. Ibarat koran, tampilan PBM yang paling dasar berisikan  bahan kuliah, dapat saja berbentuk menyiapkan GBPP, pedoman penilaian Powerpoint yang berkenaan, makalah yang ditulis sendiri, dan blogroll (alamat dari berbagai teman yang berkaitan). Prinsip publikasi ini hendaknya mengacu kepada disiplin ilmu yang diminati dan mata kuliah yang diasuh.

 

  1. Interaksi. Interaksi berbentuk dapat berupa memberi perintah, menjawab pertanyaan, mengkonfirmasi, dan memberikan pelayanan. Interaksi dapat terjadi antara dosen dan mahasiswa dan dapat juga antar mahasiswa. Semua sarana ini menjadi bagian rancangan diskusi dimana moderatornya adalah dosen. Semakin cepat mendapat pelayanan akan semakin tinggi tingkat kepuasan mahasiswa.

 

  1. Transaksi. Transaksi adalah bentuk interaksi yang berakibat kepada hal yang telah dirancang. Misalnya, bilamana disajikan soal dalam bentuk pilihan, maka setiap kali mahasiswa mengisi dan menyelesaikannya seketika diperoleh hasilnya. Nguyen et. al. (2006) yang menerapkan pembelajaran online menunjukkan bahwa cara ini sangat merangsang siswa untuk terlibat dalam pembelajaran online. Ada persepsi siswa bahwa dengan mampu mengerjakan pekerjaan online, mereka merasa bertambah pintar. Untuk dapat menampilkan transaksi seorang moderator dapat “meminjam” paket yang telah tersedia, misalnya google menyiapkan berbagai paket yang dapat digunakan untuk evaluasi satu proses belajar.

 

Ke dalam rancangan di atas tidak ada satu batasan yang harus diikuti, pada dasarnya adalah bagaimana membuat pengunjung terpikat. Untuk itu perlu dipertimbangkan 6 langkah yang ditawarkan; 1) perencanaan, 2) Isi 3) disain, 4) link, 5) promosi, 6) iklan (Joko, 2010) .

 

  • Community

Masyarakat – kelompok masyarakat adalah bagian yang paling menentukan keberhasilan e-learning. Hal ini sejalan dengan prinsip teknologi bahwa keberhasilannya ditentukan oleh penerimaan masyarakat (socially accepted). Menyiapkan saluran kepada siswa dimana dosen siap melayani mereka dalam banyak hal; tidaklah menjamin bahwa proses akan berjalan dengan baik, kecuali bila lingkungan kecil – setidaknya mahasiswa peserta kuliah – telah dapat menggunakan internet. Dari kelompok kecil kemudian akan melebar kepada kelompok yang lebih besar, karena pada akhirnya pesertanya bukan saja peserta kuliah, akan tetapi kelompok yang tertarik kepada content (bidang ilmu) yang sedang ditampilkan di sana.

 

Dalam kaitannya pembelajaran  online syarat di atas adalah bagian dari strategi. Strategi merupakan rangkaian tindakan yang terintegrasi, terkoordinasi untuk mencapai tujuan pembelajaran aktif. Dalam kaitan ini pembelajaran online bukanlah sesuatu yang mudah diterapkan karena membutuhkan persiapan dan strategi pemberdayaan agar tujuan dapat tercapai. Oleh karena itu sebelum menentukan tujuan haruslah dipastikan bahwa tujuan satu mata kuliah yang diasuh terintegrasi, bersinergi secara vertikal dengan tujuan program studi misalnya. Lantas kepaduannya dengan tujuan secara horizontal adalah dengan kecakapan ataupun kompetensi mahasiswa dan sarana yang digunakan.

b) Strategi Pengembangan

Strategi merupakan rangkaian tindakan terkoordinasi untuk mencapai posisi yang lebih baik dalam pembelajaran aktif. Dari sisi bidang pemasaran,  penggunaan pembelajaran aktif melalui Internet haruslah dalam rangka membangun posisi yang lebih baik dibanding dengan orang atau lembaga lain.  Untuk itu maka penyiapan ini haruslah dilakukan melalui tindakan berikut.

1)            Penyiapan Audience. Peserta setiap mata kuliah harus dinilai dari tingkat keterbiasaan mereka menggunakan Internet, setidaknya peserta telah memiliki e-mail.

 

2)            Merancang Content. Merancang tampilan (content) menjadi penting. Prinsip tampilan harus welcome terhadap semua pengguna. Jangan dibayangkan pengguna rancangan pribadi hanya melayani peserta kuliah, akan tetapi lebih dari itu akan melayani semua pencinta pelayanan online. Dalam kaitan ini maka konten harus dibagi menjadi utama dan penopang. Utama isinya adalah publikasi yang berkaitan dengan mata kuliah tertentu yang isinya dapat berupa powerpoint kuliah, makalah tambahan (komplemen), alamat penting, dll. Selain bagian utama dibutuhkan juga bagian pendukung (suplemen) yang sifatnya menambahkan fitur terhadap bagian utama. Sebagai afitur maka  penggunanya bukanlah hana peserta akan tetapi juga pengguna lain selain mahasiswa peserta.

 

3)            Model interaksi. Interaksi adalah bagian penting dalam satu halaman yang diperuntukkan untuk pembelajaran aktif. Interaksi meliputi dari mahasiswa ke dosen dan sesama mahasiswa. Interaksi terjadi dalam bentuk tulisan, akan tetapi haruslah diingat bahwa interaksi harus mendorong mahasiswa terlibat secara jujur dan kretif.

 

4)            Model penilaian. Halaman tertentu dalam satu alamat diperuntukkan untuk proses pembelajaran, oleh karena itu model penilaian harus disertakan dari awal. Adapun penilaian dapat berupa test dan non test. Penilaian melalui test dapat melihat kemampuan menganalisis dan mensintesiskan setiap kasus ataupun pertanyaan.

 

5)            Inovasi yang terus-menerus. Adapun halaman atau alamat merupakan bagian yang harus mendpaat perbaikan terus menerus, oleh karena itu  senantiasa harus mendapat perbaikan. Harus dibangun citra bahwa alamat yang diperuntukkan akan menawarkan sesuatu yang berbeda dibanding dengan yang lain.

 

Mengacu kepada  hasil penelitian Ibanes dan Scott, 2008, diidentifikasi saran untuk pembelajaran online yaitu: menyiapkan siswa, mempromosikan e-learning melalui diskusi di tingkat pengelolaan,  mengelola komunikasi, menggabungkan multimedia dan mengevaluasi kursus. Disarankan juga strategi pembelajaran yang akan menjamin keefektifan hasil dan outcome.

 

3.3. Tantangan

Dalam skala mikro, tantangan pembelajaran online dapat dilihat pada tiga hal berikut.

1)            Dosen. Dosen dalam hal ini adalah penyedia jasa senantiasa harus kreatif untuk menyuguhkan produk ke audiens yang bukan hanya mahasiswa peserta kuliahnya. Pekerjaan ini pada awalnya dapat membosankan karena banyak menghabiskan jam kerja dan dinilai mahal.

 

2)            Mahasiswa. Mahasiswa adalah bagian dari komunitas. Ibanez dan Scott (2008) menjelaskan adakalanya estimasi adalah berlebihan terhadap kecakapan mahasiswa padahal kenyataannya mahasiswa sibuk dengan penggunaan Internet untuk game dll.

 

3)            Prodi. Prodi seharusnya antisipatif terhadap kemajuan teknologi, khususnya Internet dalam pembelajaran Aktif. Dalam kaitan ini prodi harus mendorong dan memberi kesempatan kepada dosen. Adanya pelatihan rutin misalnya sekali setahun, dalam pembelajaran online menjadi kemajuan yang terus menerus terjadi.

 

4)            Perilaku. Pengenalan Internet dalam pembelajaran online menuntut adanya perubahan, oleh karena itu prinsip “man behind the machine” menjadi penting dipertimbangkan. Koneksi Internet dapat digunakan untuk hal yang positif dan negatif, akan tetapi sebagai masyarakat pembelajar, penggunaannya haruslah senenatiasa positif untuk pembelajaran aktif.

 

 

  1. 4. Kesimpulan dan Rekomendasi

4.1. Kesimpulan

(1)                     Keberadaan dan pemanfatan internet melalui pembelajaran online mampu mentransformasi sumberdaya di lingkungan PT ke arah pembelajaran aktif dengan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.

(2)                     Pembelajaran online tidak akan menjamin apa-apa tanpa adanya rancangan memadai yang terus terperbaharui oleh dosen penyedia sebagai bentuk rancangan yang sesuai dengan kebutuhan.

(3)                     Strategi pembelajaran  aktif dengan menggunakan Internet (online) harus dirancang dengan inovatif dimulai dari tampilan dan interaksi yang paling sedernaha sampai kepada tingkatan yang lebih tinggi misalnya sampai kepada “transaksi”.

 

4.2. Rekomendasi

(1)                     Dosen terlebih dulu mengidentifikasi kelas yang akan dijadikan  audiens,  disarankan telah memasuki semester III, karena setidaknya telah mengenal ranah keilmuan. Kegiatan ini termasuk ke dalam penilaian    kondisi secara umum, dimana mahasiswa dapat mengakses internet, sejauh mana melek huruf (literasi) terhadap Internet.

 

(2)                     Mengkomunikasikan dengan pemangku kepentingan internal, fakultas, Jurusan dan teman sejawat untuk mendapat dukungan dan sekaligus menjadi bagian dari sosialisasi.

 

(3)                     Memulainya  dari satu mata pelajaran, yang berangsur-angsur menciptakan keterlibatan peserta seperti    mengunduh materi; memberi respon; dan berinteraksi  baik dengan dosen maupun sesama peserta.

 

(4)                     Bagi dosen yang telah memulai pelayanan online hendaknya melakukan perubahan terus-menerus.

 
Daftar Bacaan

 

Ayala, J. S. 2009. Blended Learning As A New approach to Social Work Education, Jurnal of Social Work Education, Vol. 45, No. 2.  pp. 277 – 287.

 

Harmin, M. 2006. Inspiring active Learning,  A Complete Handbook for Today’s Teacher,  United States of America.

 

Hinson, R. 2006. The Internet for academic: toward a holistic adoption model, Departement of Marketing, Universiy organisasi Ghana Business Scholl, Legon, Ghana.  pp. 542-553

 

Ibanez, M.C., and Scott, L. 2008. Learning to teach Online, Teaching Sociology, Jan 2008; 36,  pp. 34.

 

Indrajit, R.E. 2006. Mengukur Tingkat Kematangan Pemanfaatan Teknologi Informasi Untuk Institusi Pendidikan (Suatu Pendekatan Kesiapan Stakeholder), Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung.

 

Joko, S. 6 Hal yang perlu diperhatikan sebelum anda melaunching bloghttp://www.jokosusilo.com/2009/03/16/, diunduh 20 Juni 2010.

 

Liu, M. (2009). The Design of Web-based course for self directed learning, Emerald Group Publishing limited. Emerald Group Publishing limited  pp. 122-131.

 

Park, S. Youl. 2009. An analysis of the Technologi Acceptance model inovasi  Understading Student Behavioral Intention, to Use e-Learning, Departement of Edcational Echnology, Konkuk University, Seoul, south Korea,  pp 150 -162.

 

Paetzold, S.P. and Melby, Nathaniel, J. 2008. Active Learning Strategis for Computer Informarmation  System Education in Online Course, Viterbo University, The Journal of Global Issue,  pp. 13 – 17.

 

Wang, T., Juang, 2010. Educational Benefits of Multimedia Skills Training, TecTrends, Vol. 54, No. 1.  pp. 47-57.

 

Zhao, J. 2009. Teachers’ conception of e-learning inovasi chinese Hegher Education, A Phenomenographic analysys, Emerald Group Publishing limited.  pp. 90 -97.

 

Zuhal, 2010. Knowlege & Innovation, Platform Kekuatan Daya Saing, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.


[1] Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi; penggiat pembelajaran online dalam menopang pembelajaran yang efektif, dengan alamat http://Johannessimatupang.wordpress.com Juga menjadi konsultan dalam pengembangan e-government di Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Provinsi Jambi.



 


 

Iklan

November 19, 2010 - Posted by | competitive advantage, Pendidikan Tinggi

4 Komentar »

  1. Selamat pagi pak Jo. dan salam sejahtera untuk kita semua….
    Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini sangat pesat sekali terutama di bidang Information technology (IT). Internet yang Menjadi sarana infrastuktur sarana modern sangat membantu sekali bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan Manajemen Perubahan kita dapat melakukan Innovasi-innovasi yang kreative di masa yang akan datang. Ada istilah” Apabila kamu tidak melangkah tetap pada suatu tempat tidak berubah, maka tunggulah kamu akan di lindas oleh roda-roda perubahan yang terus melaju”.
    Oke pak Jo…semoga sukses selalu…kami tunggu ide-ide kreative dari Bapak…salam

    Komentar oleh Raden Muhammad Adil | November 24, 2010 | Balas

  2. Perkembangan pesat pemakaian sarana serba komputer, apabila tidak dimanfaatkan secara maksimal di dalam pembelajaran aktif memang akan melemahkan industri pendidikan itu sendiri.
    Bravo Pa’ Jo

    Komentar oleh haryanto himawan | November 25, 2010 | Balas

  3. Luar biasa pak Jo! Saya sangat sepakat atas penyampaian bapak, bahwa pembelajaran dengan internet mampu memandirikan mahasiswa untuk kompetensi yang lebih komprehensif. Namun, sebelumnya saya mohon maaf pak,saya ingin bertanya pak…Atas penyampaian bapak ”
    pembelajaran online tidak dapat menawarkan semua tahapan ataupun kompetensi, khususnya yang berkaitan dengan perilaku peserta. Jadi,
    model pembelajaran yang sesuai adalah model gabungan (blended) antara pembelajaran tatap muka dan online”. Kira-kira bagaimana mengelola hal ini agar proporsional pak? Kemudian, apa harapan bapak terhadap kami (mahasiswa)..agar tujuan positif model pembelajaran ini dapat sama-sama kita capai secara optimal? Mohon maaf sekali lagi jika ada kesalahan pak…terima kasih atas kesempatan untuk berbagi ilmu dengan kami.
    Salam dahsyat selalu buat bapak…KEEP FIGHT! ^_^

    Komentar oleh muhammad nur | Januari 9, 2011 | Balas

  4. Salam hangat pak joe,
    Ini saya mahasiswa ekstensi semester 5, fakultas ekonomi manajemen kota jambi.
    Ingin mengajukan hasil proposal skripsi yang telah saya kerjakan.tolong beri komentarnya ya pak joe.
    NAMA : ERWIN HIDAYAT
    NIM : ERC1B008063

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Pada tahun 2003 dimulainya operasi pemusnahan helm yang bukan standar oleh jajaran kepolisian, ada beberapa warga Jambi yang mengeluh/segan dengan penggunaan helm standar. Berbagai alasan mulai dari kepala terasa berat,tidak nyaman,tidak mendengar kalo ada yang memanggil, dan sebagainya. Helm yang baik adalah helm yang aman dan nyaman. Biasanya helm semacam ini lulus persyaratan DOT (Departement of Transportation) atau standar transportasi Amerika Serikat.
    Ada juga standar-standar lain seperti untuk Eropa, Jepang, bahkan Indonesia sendiri. Apapun itu, helm yang aman adalah helm yang terbuat dari lapisan cangkang luar yang membungkus seluruh kepala dan menyisakan cukup ruang untuk melihat kedepan. Orang-orang sering menyebutnya helm full face. Juga cangkangnya harus lumanyan tebal dan anti benturan.
    Helm yang aman mestinya berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan meskipun hampir-hampir tidak ada helm yang benar-benar nyaman. Helm haruslah cukup ringan dan memungkinkan anda melihat dengan jelas, baik kala siang dan malam ataupun teruk hujan. Hindari penggunaan jenis kaca mika yang kurang bening yang mengurangi jarak pandang,terutama saat malam. Kaca yang sudah penuh dengan goresan, sebaiknya diganti. Pilihlah yng berkualitas oleh kebeningan dan tidak berefek cembung atau cekung.
    Sekarang ini banyak sekali terdapat merk-merk helm yang ditawarkan kepada konsumen seperti Arai, Shoe, Nolan, dan merk helm GV yang palsu yaitu GM dan sebagainya. Dimana masing-masing merk helm tersebut berusaha untuk membuat produknya lebih unggul dibandingkan dengan merk lain. Maka kegiatan pemasaran yang baik dan tepatlah yang memegang peranan yang penting dalam menunjang kelangsungan usaha dan perkembangan suatu perusahaan. Dengan kata lain, pihak produsen harus mampu merebut hati konsumen akan hasil produksi yang dijual dan berupaya untuk memuaskan kebutuhan konsumennya.
    Dalam memahami prilaku konsumen tentu tidak mudah karena konsumen mempunyai sifat yang berbeda-beda sebagaimana dari kebutuhan manusia yang tidak terbatas disamping dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan internal lainnya yang berakibat langsung terhadap prilaku konsumen. Faktor eksternal yang dimaksud meliputi kebudayaan, sub budaya,kelas social,kelompok social, kelompok referensi, dan keluarga. Sedangkan factor internal adalah factor yang ada pada diri konsumen itu sendiri (psikologis) yang meliputi: belajar, kepribadian, dan konsep diri,serta sikap (Stanton,1996:155).
    Oleh sebab itu konsumen harus dapat mengendalikan perubahan perilaku tersebut dengan berusaha mengimbanginya, yakni dengan mempengaruhi konsumen dalam membeli produk yang ditawarkan dan melalui evaluasi berkala demi kelangsungan hidup produsen itu sendiri. Tidak semua merk helm yang mampu diminati oleh sebagian besar konsumen yang ada, tetapi hanya beberapa saja.Salah satunya adalah merk GV yang menjadi pilihan konsumen khususnya mehasisiwa fakultas ekonomi Universitas Jambi.
    Helm merk GV ini memiliki kualitas yang berstandar internasional yang menggunakan teknologi dari Italia. Berat helm half face idealnya 1 sampai 1,3 kg, sedangkan untuk helm full face bobotnya berkisar 1,3-1,7 kg. Helm GV nampaknya sudah menjadi tuntutan para pengendara sepeda motor, khususnya mahasiswa. Sering dikatakan oleh para mahasiswa “Kalau naik motor helmnya harus GV kalo tidak mau di cap tidak gaul”. Melihat keadaan inilah penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perilaku konsumen yang merupakan salah satu dasar dalam menerapkan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan, yaitu memberikan kepuasan kepada konsumen, sehingga diharapkan dapat membawa kepada peningkatan penjualan yang berakibat langsung pada peningkatan pasar.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat diidentifikasi beberapa hal sebagai berikut : Banyaknya merk-merk helm sepada motor yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen.
    Helm merupakan salah satu penunjang keselamatan berkendaraan yang sangat penting.Pentingnya memahami prilaku konsumen untuk meningkatkan penjualan.
    Helm GV diminati oleh para mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jambi. Sehingga berdasarkan uraian di atas, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
    • Apakah faktor-faktor seperti harga, selera, kualitas, harga jual kembali, prestise dan promosi secara simultan mempengaruhi prilaku konsumen dalam membeli helm merk GV?
    • Dari factor-faktor tersebut, factor manakah yang paling dominan memberikan pengaruh terhadap prilaku konsumen terhadap pembelian helm merk GV?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah :
    • Untuk mengetahui prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV dilihat dari harga, selera, kualitas, harga jual kembali, prestise dan promosi.
    • Untuk mengetahui factor yang paling dominan mempengaruhi prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV.

    1.4 Manfaat Penelitian
    • Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
    Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan masukan bagi perusahaan dalam menetapkan kebijakan dan strategi di bidang pemasaran untuk mengembangkan usaha bisnis mereka.
    • Diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.

    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Landasan Teori
    2.1.1 Pengertian Pemasaran
    Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini maka diperlukan adanya teori-teori atau konsep-konsep yang memerlukan penjelasan. Dalam banyak perusahaan dewasa ini, pemasaran memegang peranan sebagai suatu faktor penting untuk tetap bertahan menjalankan usaha dan bergelut dalam dunia persaingan.
    Pemasaran merupakan factor vital sebagai strategi pesrusahaan dalam menjalankan usahanya, yang terutama berhubungan dengan konsumen. Kata pemasaran sendiri berasal dari kata pasar, atau bias juga diartikan dengan mekanisme yang mempertemukan permintaan dan penawaran.
    Menurut Kotler ( 2002 : 9 ) “Pemasaran adalah proses social yang didalamnyaa individu dan kelompok mendapatkan apa yang meraka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produks yang bernilai dengan pihak lain”.
    Menurut Stanton ( 1996 : 6 ) “Pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada meupun pembeli potensial”.
    Menurut Lamb, Hair, Me Daniel ( 2001 : 6 ) “Pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi”.
    Dari ketiga definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi kegiatan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan berusaha mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan produk secara lebih baik. Dengan mempelajari prilaku konsumen, manajer akan mengetahui kesempatan, mengidentifikasi, serta menentukan segmentasi pasar secara tepat dan akurat.

    2.2 Prilaku Konsumen
    Menurut Swasta ( 1992 : 9 ) “Prilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu-individu yang secara langsung terlibat dalam memdapatkan termasuk mempergunakan barang-barang dan jasa, keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut”.
    Menurut Peter J. Paul dan jerry C. Olson ( 2000 : 6 ) “Prilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara pengaruh dan kondisi prilaku dan kejadian di sekitar lingkungan di mana manusia melakukan aspek pertukaran dalam kehidupan mereka”.
    Dari dua jenis definisi di atas dilihat ada dua hal penting dari prilaku konsumen yaitu proses pengembalian keputusan dan kegiatan fisik yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa secara ekonomis. Dengan kata lain prilaku konsumen adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku konsumen dalam arti tindakan-tindakan yang dilakukan untuk membeli suatu barang atau jasa tertentu.

    2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prilaku Pembelian Konsumen
    Menurut Kotler ( 2002 : 183 ) Faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku pembelian konsumen yaitu :
    • Faktor Kebudayaan
    Kebudayaan mempunyai penaruh paling luas dan mendalam terhadap prilaku konsumen. Terdiri dari budaya, sub budaya, dan kelas social. Budaya yang merupakan karakter paling penting dari suatu social yang membedakannya dari kelompok budaya lain menjadi penentu dan keinginan dan prilaku yang paling mendasar. Masing-masing budaya terdiri dari sub budaya yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi. Sub budaya adalah suatu kelompok homogeny atas sejumlah orang yang terbagi menjadi beberapa bagian dari keseluruhan suatu budaya. Masyarakat dalam suatu budaya dan sub budaya sesungguhnya terbagi dalam strata atau kelas social. Kelas social merupakan sekelompok orang yang sama-sama mempertimbangkan secara dekat persamaan diantara mereka sendiri.
    • Faktor Sosial
    Pada umumnya konsumen sering meminta pendapat dari orang sekitas dan lingkungannya tentang produk apa yang harus dibeli. Karena itulah lingkungan sosial memberikan pengaruh terhadap prilaku konsumen. Faktor Sosial terdiri dari 3 bagian, yaitu : kelompok acuan, keluarga, dan peran. Kelompok acuan adalah semua kelompok yang memilki pengaruh langsung terhadap sikap / prilaku seseorang. Dengan pendapat yang diperoleh dari suatu kelompok maka konsumen dapat membuat keputusan konsumsi. Keluarga sebagai organisasi pembelian konsumen yang paling penting juga berpengaruh secara langsung terhadap keputusan seseorang dalam membeli barang sehari-hari. Sedangkan peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan seseorang. Suatu produk atau merk dapat menggambarkan peran dan status pemakainya.

    • Faktor Pribadi
    Mulai dari bayi hingga dewasa dan menjadi tua, manusia selalu membutuhkan barang dan jasa. Pilihan barang yang dibeli secara otomatis dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan gaya hidup yang bersangkutan. Gaya hidup adalah cara hidup seseorang yang terlihat melalui aktivitas sehari-hari, minat dan pendapat seseorang. Seseorang dengan pendapatan yang tinggi dan gaya hidup mewah tentunya akan menentukan pilihan pada barang dan jasa yang berkualitas. Selain itu kepribadian dan konsep diri juga mempengaruhi pilihan produk. Konsep diri adalah bagaimana konsumen mempresepsikan diri mereka sendiri, yang meliputi sikap, persepsi, keyakinan, dan evaluasi diri. Karena sangat berguna dalam menganalisis prilaku sonsumen sehingga banyak perusahaan menggunakan konsep yang berhubungan dengan kepribadian seseorang.
    • Faktor Psikologis
    Sikap pembelian psikologis dipengaruhi oleh empat facktor psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi, pembelajaran dan kepercayaan. Motivasi merupakan kebutuhan yang mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Melalui motivasi proses pengamatan dan belajar seseorang memperoleh kepercayaan terhadap suatu produk yang secara otomatis mempengaruhi prilaku pembelian konsumen. Para konsumen mengembangkan beberapa kenyakinan mengenai ciri-ciri dari suatu produk dan selanjutnya akan membentuk suatu sikap konsumen terhadap produk tersebut.

    2.4 Faktor Pribadi
    Menurut Kotler ( 2002 : 204 ) tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginan pelanggan yang menjadi sasaran. Pada bidang prilaku konsumen ini mempelajari bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, memakai, dan membuang barang , jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuasakan kebutuhan dan hasrat mereka. Para perusahaan yang cermat melakukan riset atau Quesioner atas riset atas proses keputusan pembelian yang ada dalam jenis produk mereka. Ketika membuat keputusan untuk membeli suatu produk, konsumen melewati tahap-tahap sebagai berikut :
    • Pengenalan Masalah
    Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan umum seseorang seperti lapar, haus, saat mencapai titik tertentu dapat menjadi sebuah dorongan. Kebutuhan juga dapat ditimbulkan oleh rangsangan eksternal seperti ketika seseorang melihat iklan mobil dan ingin membelinya. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat menidentifikasi rangsangan yang paling sering membengkitkan minat akan suatu jenis produk. Pemasar kemudian dapat membangkitkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
    • Pencarian Informasi
    Saat seseorang mulai menyadari kebutuhannya, maka pilihan produk dan merk harus diidentifikasi untuk memenuhi kebutuhanya. Dalam mencari berbagai alternative pilihan untuk memuaskan kebutuhan, seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti beberapa banyak biaya waktu, berapa banyak informasi dari masa alalu dan sumber-sumber lain yang sudah dimiliki oleh konsumen. Yang menjadi minat utama pemasar adalah sumber-sumber informasi utama yang menjadi acuan konsumen dan pengaruh relative dari tiap sumber tersebut terhadap kepuasan pembelian selanjutnya. Sewcara umum konsumen mendapatkan informasi tentang suatu produk dari sumber komersial yaitu sumber yang didominasi oleh pemasar.
    • Evaluasi Alternatif
    Jika semua alternative yang wajar telah diidentifikasikan, konsumen harus mengevaluasinya satu per satu sebagai persiapan untuk mengadakan pembelian. Kriteria evaluasi yang dipakai konsumen mencakup pengalaman masa lalu dan sikap terhadap aneka merk. Konsumen juga mendengarkan tanggapan-tanggapan keluarga dan kelompok lain. Beberapa konsep dasar akan dapat membantu pemasar dalam memahami proses evaluasi konsumen. Pertama, konsumen berusaha memenuhi suatu kebutuhan. Kedua, konsumen mencari manfaat tertentu dari suatu produk. Ketiga, konsumen memandang setiap produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang dicari untuk memuasakan kebutuhan.
    • Keputusan Pembelian
    Setelah mencari dan mengvaluasi berbagai alternative untuk memenuhi kebutuhan, konsumen pada titik tertentu harus memutuskan antara membeli atau tidak membeli, jika keputusan yang diambil adalah membeli, konsumen harus membuat rangkaian keputusan yang menyangkut merk, harga, tempat penjualan, warna, dan lain-lain.
    • Prilaku Pasca Pembelian
    Saat membeli suatu produk,bagi seorang konsumen akan mengalami tingkat kepuasan dan ketidakpuasan tertentu. Perasaan konsumen setelah malakukan pembelian dapat mempengaruhi pembelian ulang dan juga ditambah dengan apa yang dikatakan oleh konsumen kepada teman atau kerabat tentang produk tersebut. Biasanya konsumen akan mengalami kecemasan purnabeli, kecemasan ini disebut disonasi kognitif purnabeli yang terjadi karena setiap alternative yang dihadapi konsumen memiliki kelebihan dan kekurangan penelitian sebelumnya.

    2.5 Hipotesis Penelitian
    Hipotesis I
    Ho : Diduga factor-faktor seperti harga, selera, kualitas, harga jual kembali, prestise dan promosi, secara simultan tidak berpengaruh terhadap prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV.
    Ha : Duduga factor-faktor seperti harga, selera, kualitas, harga jual kembali, prestise dan promosi, secara simultan berpengaruh terhadap prilaku konsumen dalam pembelian hel merk GV.
    Hipotesis II
    Ho : Diduga factor kualitas tidak mempunyai pengaruh dominan terhadap prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jambi.
    Ha : Diduga factor kualitas mempunyai pengaruh dominan terhadap prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jambi.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Lokasi Penelitian
    Penelitian ini mengambil lokasi pada Fakultas Ekonomi Ekstensi Kampus Universitas Jambi Telanaipura.

    3.2 Populasi dan Sampel
    3.1.1 Populasi Penelitian
    Populasi dalam penlitian ini adalah seluruh mahasiswa fakultas Ekonomi Universitas Jambi yang membeli serta menggunakan helm merek GV.
    3.1.2 Sampel Penelitian
    Karena jumlah populasi yang terlalu besar yaitu lebih dari 100 dan keterbatasan dan, waktu, serta tenaga yang dimiliki, maka jumlah sampel yang akan diambil sebanyak 50 responden yang terdapat dalam populasi tersebut. Dimana menurut Arikunto ( 2002 : 112 ) jika populasi lebih dari 100 orang maka diambil sampai 5%-10% atau 20%-30% dari jumlah populasi. Sedangkan menurut Guildford ( 1987 : 125 ) jumlah sampel yang diambil adalah lebih besar dari persyaratan minimal sebanyak 30 responden dimana semakin besar sampel akan memberikan hasil yang lebih akurat.

    3.3 Jenis dan Sumber Data
    • Jenis Data
    Jenis data dalam penelitian ini berupa :
    (1) Data Kualitatif, yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar, seperti literature-literatur serta teori-teori yang berkaitan dengan penelitian penulis.
    (2) Data Kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan ( scoring ).
    • Sumber Data
    Sumber data dalam penelitian ini berupa :
    (1) Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden penelitian melalui wawancara dan kuesioner di lapangan.
    (2) Data Sekunder, yaitu data yng diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain. Biasanya sudah dalam bentuk publikasi saperti data yang diperoleh dari situasi-situasi internet dan data lainnya yang berhubungan langsung dengan objek yang diteliti.

    3.4 Teknik Pengumpulan Data
    Metode pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah :
    • Interview, yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan responden dengan bantuan daftar pertanyaan untuk mengumpulkan data primer.
    • Kuesioner, yaitu suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis pada responden untuk menjawab.

    3.5 Variabel penelitian
    Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :
    • Variabel terikat (Y) : Prilaku konsumen dalam pembelian helm merk GV di Fakultas Ekonomi Ekstensi Universitas Jambi.
    • Variabel bebas (X) : Harga,selera, kualitas, harga jual kembali, prestise dan promosi.
    Untuk mengetahui hasil tanggapan responden terhadap variabel-veriabel penelitian maka digunakan data interval dengan skala 0-10. Sedangkan untuk mengetahui pengukuran dan interpretasi data, maka data interval dibagi menjadi 5 (lima) skor interval sebagai berikut :
    0 ≤ 2 Skor 1
    2,1 ≤ 4 Skor 2
    4,1 ≤ 6 Skor 3
    6,1 ≤ 8 Skor 4
    8,1 ≤ 10 Skor 5

    3.6 Definisi Operasional Variabel
    • Harga (X1)
    Melihat tanggapan konsumen mengenai variabel harga harga helm merk GV yang ditetapkan dibandingkan dengan harga produk pesaingnya yang sejenis.
    X1.1 Perbandingan dengan harga pesaing
    Tanggapan konsumen terhadap perbandingan harga helm merk GV dengan helm merk lain yang sejenis seperti Arai, Shoe, Nolan, dan lain-lain. Diukur dalam rupiah.
    X1.2 Harga yang ditetapkan
    Tanggapan konsumen terhadap harga yang ditetapkan dari produk yang dbeli konsumen. Diukur dalam rupiah.
    • Selera (X2)
    Gambaran produk helm GV yang diinginkan konsumen dalam memberikan kesenangan dan kepuasan. Indikatornya adalah :
    X2.1 Jenis Model
    Penilaian konsumen terhadap berbagai tipe pilihan helm merk GV yang ditawarkan oleh produsen.
    X2.2 Warna
    Penilaian konsumen terhadap ragam pilihan warna yang ada pada helm merk GV.

    X2.3 Penampilan Luar (Body)
    Penilaian konsumen terhadap penampilan luar helm merk GV dibandingkan dengan produksi pesaingnya.
    Ketiga indicator di atas diukur berdasarkan tingkat kesenangan dan kepuasan konsumen.

    • Kualitas (X3)
    Melihat tanggapan konsumen mengenai kualitas helm merk GV.
    X3.1 Kenyamanan
    Penilaian konsumen pada saat menggunakan helm.
    X3.2 Daya Tahan
    Penilaian konsumen terhadap usia operasional helm merk GV yang diharapkan dalam berbagai kondisi cuaca.

    • Harga Jual Kembali (X4)
    Mengetahui tanggapan konsumenterhadap harg jual kembali serta kemudahan dalam memasarkan produk yang sudah dipakai.
    X4.1 Harga jual kembali
    Penilaian konsumen terhadap harga dari helm merk GV. Diukur dalam rupiah

    X4.2Pemasaran produk purna pakai
    Penilaian konsumen terhadap tingkat kemudahan pemasaran dan penerimaan dari konsumen lainnya terhadap jal merk GV purna pakai. Di ukur berdasarkan perlakuan.

    • Prestise (X5)
    Nilai kebanggaan yang dirasakan seseorang akibat penggunaan suatu produk. Diukur berdasarkan tingkat kesenangan konsumen.

    • Promosi (X6)
    Suatu bentuk komunikasi pemasaran seperti akivitas untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk konsumennya untuk membeli helm merk GV.
    X6.1 Tanggapan konsumen terhadap iklan helm merk GV yang disampaikan oleh pemasar. Dapat diukur dri frekuensi, luas jangkauan, serta ukuran.
    X6.2 Hadiah
    Respon konsumen terhadap sikap simpatik pamasaran pada saat membeli helm GV. Diukur berdasarkan tingkat kesenangan konsumen.

    3.7 Uji Validasi dan Rehabilitasi Instrumen Penelitian
    Uji validasi dan rehabilitasi yang dilakukan dalam penelitian ini dimaksudkan agar data yang diperoleh dengan cara penyetaraan quisioner valid dan reliable.
    Instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan mampu mengungkapkan data yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya instrument menunjukkan sejauh mana data yang dikumpulkan tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud ( Suharsimi Arikunto, 145 : 2002 ).
    Uji validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validasi item, yaitu menguji terhadap kualitas item-itemnya. Yaitu dengan menghitung korelasi antara setiap item dengan skor total sebagai kriteria validilitasnya.
    Uji reabilitas bertujuan untuk menguji sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Pengukur reliabilitas dilakukan dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbach (a). Dimana, biasanya reliabilitas minimal 0,5.

    3.8 Teknik Analisis Data
    Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistic dengan menggunakan program SPSS,dimana rumus statistic yang digunakan adalah Linier Multiple Regression (regresi linier berganda), dimana fungsinya adalah :
    Y = a + b1 . X1 + b2 .X2 + b3 . X3 + b4 . X4 + b5 . X5 + b6 . X6 + e

    Fungsi tersebut menerangkan hubungan antara dua variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), dimana :
    Y : Prilaku konsumen
    A : Konstanta
    b1 s/d b7 : Koefesien Regresi
    X1 : Harga
    X2 : Selera
    X3 : Kualitas
    X4 : Harga Jual Kembali
    X5 : Prestise
    X6 : Promosi
    E : Faktor ganguan

    3.9 Uji Asumsi Klasik
    • Uji Multikolinieritas
    Uji multikolinieritas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kolerasi antara variabel independent, jika terjadi kolerasi maka terdapat problem multikolonieritas. Untuk mengetahui ada tidaknya multi kolonieritas antar variabel, dapat dilihat dari Variabel Inflation (VIF) dari masing-masing variabel bebas terdapat variabel terikat. Jika nilai VIF kurang dari sepuluh dapat dinyatakan tidak terjadi multikolonieritas ( Gujarati, 1995).

    • Uji Heteroskedastisitas
    Uji heteroskedastitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian dari residual dari suatu pengamatan kepengamatan yang kain tetap, maka disebut omoskedastisitas. Dan jika varian berbeda disebut heteroskedasitas ( Santoso, Singgih, 2002 :208 ). Untuk mengetahui ada tidaknya gejala heterosskedatisitas dalam penelitian ini menggunakan metode Sperman Rank Correlation. Apabila hasil pengujian menunjukkan lebih dari α = 5% maka tidak ada heteroskedasitas.

    • Uji Autokorelasi
    Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakan dalam persamaan regrasi mengandung korelasi serial atau tidak diantara variabel penggangu. Menurut Singgih Santoso ( 2002 : 219 ) untuk mengetahui adanya autokorelasi digunakan uji Durbin – Watson mendekati angka 2 berarti tidak ada autokorelasi.

    • Uji Normalitas
    Uji normalitas dilakukan untuk mgnetahui apakah sebuah model regresi, variabel independen, variabel dependen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Untuk mengetahuinya digunakan uji Kolmongorov-Smirnov, menurut Singgih Santoso ( 2001 : 142 ) pedoman pengambilam keputusan dalam uji normalitas yaitu, bila nilai Sig atau signifikan lebih besar daripada 0,05 maka distribusi adalah normalitas (simetris).

    DAFTAR PUSTAKA

    Stanton, William J.1996. Prinsip Pemasaran (terjemahan). Edisi 7,jilid 1.Erlangga. Jakarta.
    Lamb,Hair,Mc Daniel.2001. Pemasaran (terjemahan).Edisi Bahasa Indonesia,Jilid Pertama.Salemba empat.Jakarta.
    Kotler, Philip.2002.Manajemen Pemasaran (terjemahan).Edisi Millenium, jilid 1.PT. Prenhallindo. Jakarta.
    Enggel,Blackwell,Miniard.1994. Prilaku Konsumen (terjemahan).Edisi Enam.Jilid Pertama.Binarupa Aksara.Jakarta.
    Fitriadi,Agus.2003. Analisis beberapa factor yang mempengaruhi keputusan dalam pembelian pada UD Microcom di Banjarmasin,Sripksi.Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
    Arikunto,Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian.Edisi Revisi V.PT.Rineka Cipta.Jakarta.

    Komentar oleh erwin hidayat | Januari 13, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: