Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MANAJEMEN STRATEJIK MM ANGKATAN 15


Halaman ini idperuntukkan untuk kelas Manajemen Stratejik Angkatan 15. Seluru   penugasan diunggah pada halaman ini saja.

Tugas 1.  Menguji Kompetensi Garuda Vs Lion

Blog Garuda dan Menguji Kompetensi MM Juni 2012

blog- Soal MM Angkatan 15 July 2012

Iklan

Juni 30, 2012 - Posted by | Bahan Ajar, competitive advantage, Manajemen Pemasaran Lanjutan

22 Komentar »

  1. MANAJEMEN STRATEGIK
    EVALUATOR SIHITE
    C2B011005
    Keunggulan Internal Maskapai penerbangan GARUDA
    TANGIBLE
    – Pesawat bagus
    – Harga tiket mahal sesuai layanan
    – Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    – Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    – Maskapai internasional kelas dunia yang memperkenalkan system hiburan AVOD terbaru (Audio Video On Demand) dengan TV di setiap kursi, terutama dalam armada jarak jauh
    – Kursi kelas bisnis yang dapat diubah menjadi tempat tidur pada penerbangan jarak jauh
    – Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    – Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)
    – Interflight connecting bagus
    – Cabin attendant ramah
    – Website informative
    – Dapat makan setiap penerbangan
    – Maintenance bagus

    INTANGIBLE
    – Layanan mantap,jauh lebih baik dibanding yang lain
    – Harga sebanding dengan layanan
    – Jarang delay
    – memberikan jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan

    Saudara Sihite, ada 4 pertanyaan, hendaknya dijawab satu persatu, kemudian dari jawaban tersebut tergambar bagaimana salah satu maskalapai penerbangan membangun komptensinya. Hal ini belum tergambarkand ari jawaban di atas. Anda diberi waktu untuk memperbaiki jawban sesuai dg pertanyaan. Kerja keras lagi.

    Komentar oleh evaluator sihite | Juli 2, 2012 | Balas

  2. MANAJEMEN STRATEGIK
    ATMARDONA
    C2B011025
    Keunggulan Internal Maskapai penerbangan LION AIR
    TANGIBLE
    – Pesawat baru
    – Harga tiket relative murah
    – Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    – Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    – Kenyamanan fasilitas pendukung
    – Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    – Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)

    INTANGIBLE
    – Layanan mantap
    – Harga sebanding dengan layanan
    – sering delay
    – membeikanr jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan

    Saudara Atmardona, silahkan pelajari koreksi bapak sama dengan koreksi terhadap Sihite di atas. Kerja keras lagi.

    Komentar oleh atmardona | Juli 2, 2012 | Balas

  3. Nama Mahasiswa : Tan Sau Eng (C2B011022)
    GARUDA INDONESIA
    Garuda Indonesia adalah salah satu perusahaan penerbangan nasional berbentuk badan usaha milik negara (BUMN) yang dianggap merupakan flag carrier Indonesia. Berawal sejak 26 Januari 1949 dengan nama Indonesian Airways, Garuda Indonesia telah mengalami berbagai terpaan pasang surut dan jatuh bangun dalam sejarah panjang perjalanannya. Maskapai penerbangan tersebut tercatat pernah mengalami 8 kali insiden penerbangan, salah satu pesawatnya pernah dibajak ke Thailand pada 28 Maret 1981, dilarang menerbangi rute Eropa bersama dengan maskapai Indonesia lainnya karena alasan keselamatan sejak Juni 2007 hingga 2009, bahkan pernah hampir bangkrut sehingga BUMN tsb hanya dinilai seharga USD.1 pada saat krisis ekonomi moneter 1998 (berdasarkan informasi mantan menteri BUMN Bapak Tanri Abeng saat memberi kuliah umum di Universitas Jambi).
    Berbagai terpaan tersebut tidak membuat Garuda Indonesia ambruk, bahkan sebaliknya, setelah dilakukan pembenahan oleh Dirut barunya (Robby Johan) pada waktu itu, dalam kurun waktu 8 bulan Garuda Indonesia bisa bangkit dari keterpurukannya dan mulai mencatat laba. Saat ini Garuda Indonesia telah tumbuh menjadi maskapai penerbangan berkelas dunia yang disegani. Berbagai prestasi telah berhasil diraih. Selain berhasil memperoleh pengakuan dari Skytrax sebagai 4-star airline (yang membuat Garuda kini sejajar dengan 32 perusahaan penerbangan dunia, seperti Air France Perancis, JAL Jepang, Dragon air Hongkong, Qantas Australia, dan Korean Air Korea), Garuda Indonesia juga terpilih sebagai The Best BUMN Marketers 2012 dalam ajang BUMN Marketing Day 2012. BUMN tersebut adalah satu-satunya pemenang yang meraih tingkatan Gold untuk kategori Strategic (Brand, Product, dan Customer Management), lalu diikuti Silver untuk Tactical (Communication, Sales, dan Service) dan Special Award (Marketing 3.0 dan New Wave Marketing).
    Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Emirsyah Satar tersebut, mengusung visi dan misi sbb :
    Corporate Vision :
    To be a strong distinguished airline that provides quality services to serve people and goods around the world with Indonesian hospitality.
    Corporate Mission :
    To be the flag carrier of Indonesia to the world to support national economic development by delivering professional and profitable air travel services.
    Dengan visi dan misi tersebut, sejak 2009 Garuda Indonesia mengembangkan rencana strategis yang diberi nama Quantum Leap serta mengembangkan diri dengan menawarkan berbagai keunggulan seperti :

    ARMADA PESAWAT
    Salah satu rencana strategis dalam Quantum Leap adalah dalam waktu 5 tahun, Garuda Indonesia akan menggandakan armadanya dari 62 menjadi 116 pesawat serta menaikkan jumlah penumpang per tahun menjadi 27.6 juta dalam periode yang sama.
    Per April 2012 Garuda Indonesia telah berhasil mengembangkan armada penerbangan yang cukup besar dengan rincian sbb :
    • 8 unit Airbus A330-200 (3 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 212 orang dan dilengkapi AVOD
    • 6 unit Airbus A330-300 (18 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 257 orang dan dilengkapi AVOD
    • 5 unit Boeing 737-300 dengan kapasitas penumpang 215 orang
    • 1 unit Boeing 737-400
    • 5 unit Boeing 737-500
    • 54 unit Boeing 737-800 (30 unit tambahan dlm pesanan)
    • 2 unit Boeing 747-400
    • 10 unit dalam pesanan Boeing 777-300ER
    • 18 unit dalam pesanan Bombardier CRJ1000

    RUTE PENERBANGAN
    Garuda Indonesia melayani baik penerangan domestik maupun international. Saat ini Garuda memiliki 31 rute penerbangan domestik dan 19 rute penerbangan internasional.
    Untuk rute dalam negeri, Garuda Indonesia melayani kota-kota seperti Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Batam, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Jambi, Jakarta, Jogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Ampenan, Makassar, Manado, Palangkaraya, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Kupang, Kendari, Biak, Jayapura, Timika, Ambon, Ternate, Palu.
    Sedangkan untuk rute international Garuda Indonesia melayani :
    Asia : Bangkok, Hongkong, Kuala Lumpur, Singapore
    Japan, Korea and China : Tokyo, Nagoya, Osaka, Seoul, Guangzhou (Canton), Beijing, Shanghai
    South West Pacific : Melbourne, Perth, Sydney
    Middle East : Jeddah, Riyadh, Dammam, Dubai
    Europe : Amsterdam

    KERJASAMA PENERBANGAN INTERNATIONAL
    Garuda Indonesia menawarkan penerbangan ke 16 tujuan internasional melalui codeshare agreement dengan maskapai-maskapai berikut ini, tanda * merupakan anggota SkyTeam:
     AeroMexico*
     China Airlines*
     China Southern Airlines*
     Delta Air Lines*
     Gulf Air
     Hainan Airlines
     KLM*
     Korean Air*
     Malaysia Airlines
     Philippine Airlines
     Qatar Airways
     Saudi Arabian Airlines* – anggota masa depan
     Silk Air
     Singapore Airlines (Star Alliance)
     Turkish Airlines (Star Alliance)
     Vietnam Airlines*
     Virgin Australia
     Qantas (Oneworld)

    SERVICES

    Pada 2009 yang lalu, Garuda mulai berusaha mensejajarkan diri dengan maskapai-maskapai internasional kelas dunia seperti KLM, Air France danSingapore Airlines, dengan memperkenalkan sistem hiburan AVOD terbaru (Audio Video on Demand) dengan televisi di setiap kursi, terutama dalam armada jarak jauh. Garuda juga memperkenalkan kursi kelas bisnis yang dapat diubah menjadi tempat tidur pada penerbangan jarak jauh.

    Kelas Eksekutif
    Pesawat A330 (seri -200 dan -300) memiliki produk kelas eksekutif baru dengan Flat-Bed seats yang memiliki ruang kaki 74″ dan dapat disandarkan hingga 180 derajat. Kursi ini memiliki sandaran tangan 11 inci,layar sentuh LCD dengan AVOD di setiap kursi, colokan laptop pribadi, dan lampu baca pribadi.
    Pesawat Boeing 747-400 dan Boeing 737 masih menggunakan kursi eksekutif lama. Boeing 747–400 memiliki ruang kaki 46″-48″ dengan panjang kursi 16″. Sementara di Boeing 737 , termasuk seri -300, -400, -500, dan seri -800 yang lebih tua memiliki ruang kaki 41″ to 44″ dengan panjang 19″. Di beberapa pesawat, tersedia TV di setiap kursi.

    Kelas Ekonomi
    Tersedia di semua pesawat. Ruang kaki terdiri dari 30″ hingga 35″ tergantung jenis pesawat, dengan panjang kursi 17″. Pesawat Airbus A330-200, Airbus A330-300 aircraft dan Boeing 737-800 yang lebih baru memiliki kursi kelas ekonomi yang lebih baru yang menawarkan layar sentuh LCD 9-inci dengan AVOD.
    Makanan dan minuman ditawarkan tergantung lamanya penerbangan. Anggur dan bir juga ditawarkan dalam penerbangan internasional.

    Dengan sederet keunggulan yang dipaparkan di atas, tidaklah mengherankan apabila pada 2012, Garuda Indonesia mendapat penghargaan Best International Airline di antara maskapai-maskapai kelas dunia lainnya dengan 91 persen penumpang menyatakan sangat puas dengan pelayanan maskapai ini.

    Sumber data :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia
    http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/06/garuda-named-best-airline-world.html
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/06/28/12143550/Garuda.Yakin.Kalahkan.Singapore.Airlines

    Komentar oleh Tan Sau Eng | Juli 3, 2012 | Balas

  4. Nama Mahasiswa : Tan Sau Eng (C2B011022)

    Jawaban atas pertanyaan dalam artikel :
    “MENGUJI KOMPETENSI MASKAPAI PENERBANGAN ANTARA GARUDA DAN LION”
    1. Bagaimanakah masing-masing Penerbangan mambangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya Penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?

    Dalam kasus Garuda vs Lion, masing masing maskapai memiliki sumber daya tersendiri yang berbeda satu dengan lain.
    Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan yang telah mapan yang berperan sebagai flag carrier Indonesia, di samping itu, Garuda juga dianggap sebagai maskapai penerbangan papan atas dan juga market leader di Indonesia. Dengan posisi seperti itu, Garuda sangat berkepentingan menjaga reputasi dan kualitas, sehingga kompetensi yang dibangun Garuda seharusnya difokuskan ke pelayanan, kenyamanan, keamanan, ketepatan waktu serta kebutuhan prestige (gengsi) penumpangnya. Garuda akan melakukan kekeliruan besar apabila latah ikut bersaing dengan konsep penerbangan murah.
    Di lain pihak, Lion Air adalah pemain baru yang belum mapan dan sedang berupaya merebut pasar. Dalam posisi demikian, strategi maupun pembangunan kompetensi yang lebih sesuai adalah berusaha merebut pangsa pasar dengan menawarkan harga ticket yang murah. Bersaing dalam bidang reputasi dan prestige hanya dapat dilakukan pada tahap selanjutnya setelah Lion Air cukup mapan.
    Tentu saja kompetensi merupakan sesuatu yang potensial dan sangat penting dalam menentukan daya saing. Dengan membangun kompetensi yang tepat, baik Garuda maupun Lion Air akan dapat menonjolkan keunggulannya yang spesifik sehingga dapat melakukan positioning dengan tepat.

    2. Berkatian dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?

    Jenis kompetensi yang dapat dibangun tentunya tergantung pada sumber daya yang dimiliki perusahaan dan harus sesuai dengan visi, misi dan rencana strategis jangka panjang perusahaan tersebut. Mengingat banyaknya maskapai penerbangan domestik yang ada, di samping juga adanya Open Sky Policy yang akan diberlakukan pada 2015 sehingga maskapai penerbangan asing juga dapat ikut bermain di Indonesia, boleh dikatakan saat ini hampir tidak ada satupun kompetensi yang tidak dapat ditiru.
    Kompetensi yang dibangun oleh maskapai papan atas yang biasanya berfokus pada reputasi, prestige, kualitas dan kenyamanan/kemewahan tentunya relatif sulit untuk di-ikuti oleh maskapai penerbangan yang belum mapan, namun tidak berarti dengan kompetensi tersebut maskapai penerbangan papan atas bisa melaju tanpa hambatan di target marketnya. Untuk jalur international, maskapai penerbangan papan atas harus berhadapan dengan banyak maskapai penerbangan asing yang tidak kalah mapan, bahkan setelah Open Sky Policy diberlakukan, persaingan dengan maskapai asing juga akan terjadi di pasar domestik.
    Demikian juga halnya dengan kompetensi yang dibangun oleh maskapai penerbangan kelas menengah dan bawah. Strategy merebut pangsa pasar dengan menawarkan ticket berharga rendah (seperti yang dilakukan Lion Air) memang tidak mudah untuk di-ikuti oleh maskapai penerbangan papan atas, namun masalahnya yang bermain di pasar penerbangan kelas menengah bawah bukan hanya Lion Air. Banyak maskapai penerbangan domestik (seperti Sriwijaya Air, Batavia Air dll) bahkan maskapai penerbangan asing (seperti Air Asia) yang juga menerapkan strategy yang sama.
    Untuk bisa membangun kompetensi yang susah ditiru, beberapa literatur (misalnya Blue Ocean Strategy yang ditulis oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne ataupun New Thinking For The New Millenium yang ditulis oleh Edward De Bono) menawarkan mindset alternatif berupa value innovation. Namun konsep tersebut tentunya bukan sesuatu yang mudah untuk diterapkan.

    3. Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri Penerbangan .

    Bisnis penerbangan tentunya membutuhkan banyak sumber daya agar bisa beroperasi secara optimal. Beberapa sumber daya utama yang berperan penting dalam persaingan antara lain :
    • Keuangan :
    Memulai usaha di bisnis penerbangan membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan untuk dapat bersaing serta berkembang secara efektif dibutuhkan banyak tambahan dana untuk pengadaan, perawatan dan peremajaan pesawat, di samping itu investasi juga dibutuhkan untuk memberikan berbagai kenyamanan dan prestige pada penumpang
    • Sumber Daya Manusia
    Sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak kalah penting dalam industri penerbangan, baik SDM yang bertugas di udara (pilot, co-pilot & pramugari) maupun yang bertugas di darat (teknisi, staff ticketing, staff bagage handling dll). Sebagai industri jasa, bisnis penerbangan tidak akan dapat ber-operasi dengan baik tanpa SDM yang handal.
    • Sistim informasi
    Agar dapat memberikan service yang baik terutama dalam pengaturan jadwal penerbangan, ticketing, check in, baggage handling, ketepatan waktu penerbangan dll, dibutuhkan sistim informasi yang dapat di-andalkan. Berbagai service dan kemudahan seperti e-ticketing, city check-in, mobile check-in dll tidak akan dapat diterapkan tanpa adanya sistim informasi yang memadai

    4. Indonesia pada Tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud?
    ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
    Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
    Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.
    Penerapan Open Sky Policy akan menimbulkan berbagai peluang maupun ancaman serius terhadap maskapai penerbangan maupun negara-negara anggota Asean. Peluang dan ancaman timbul karena situasi dan kondisi tiap-tiap negara berbeda. Ada negara yang sudah sangat maju dan sebaliknya beberapa negara masih dalam tahap membangun bahkan ada yang belum siap sama sekali. Kerjasama bisa menjadi timpang dan akan berakibat kelak satu pihak yang kuat akan memangsa pihak yang lemah.
    Dari sisi maskapai, siapa yang tidak tahu tentang Singapore Airlines (SIA). Dengan keunggulan kualitas dan kuantitas armadanya SIA dapat mewujudkan konsep reciprocal dengan baik. Lebih dari itu SIA dan juga anak perusahaannya Silk Air merupakan flag carrier dan didukung langsung oleh pemerintah Singapura sendiri yang telah menjelma menjadi macan Asia.
    Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengan dukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak adil bagi maskapai swasta. Negara seperti Indonesia dengan Garuda Indonesia, Malaysia dengan Malaysia Airlines (MAS) atau Thailand dengan Thai Air diharapkan berlaku transparan dalam hal kebijakan subsidi kepada maskapai nasionalnya. Ini untuk menciptakan persaingan yang sempurna dan menguntungkan.
    Ditinjau dari segi Open Sky Policy, Garuda Indonesia jelas berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan Lion Air. Sebagai perusahaan penerbangan yang telah mapan dengan sejarah yang panjang serta sumber daya yang mendukung, Garuda jauh lebih siap untuk bersaing dengan maskapai penerbangan asing di banding Lion. Apalagi Garuda adalah flag carrier Indonesia yang tentunya akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah di berbagai bidang.
    Agar tidak ketinggalan dalam persaingan menghadapi Open Sky Policy 2015, mungkin Lion bisa mencoba menerapkan strategy bisnis penerbangan dari Air Asia. Maskapai swasta asal Malaysia ini yang memiliki bisnis jasa penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) telah melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga bahkan sebelum rencana tahap-tahapan ASEAN Open Sky dimulai.
    Dengan kuantitas armada yang signifikan, Air Asia melakukan ekspansi lebih jauh ke wilayah regional Asia Tenggara. Konsep penerbangan bertiket murah dengan cepat mengambil hati konsumen bahkan untuk yang terbiasa menggunakan full service flight sekalipun. Asas cabotage yang diberlakukan di negara-negara ASEAN ternyata bisa dilangkahi dengan menerapkan semacam kecabangan perusahaan di tiap-tiap negara. Ekspansi fenomenal Air Asia bahkan membuat ketar-ketir maskapai Asia Tenggara yang lebih dahulu beroperasi terutama Silk Air yang dianggap sulit dikalahkan karena didukung oleh SIA.
    Dari contoh kasus di atas dapat di simpulkan bahwa dengan membangun kompetensi yang tepat, baik maskapai penerbangan yang sudah mapan maupun maskapai penerbangan kelas menengah bawah tetap akan dapat survive dan berkembang dengan cara melakukan positioning sesuai dengan bidang keunggulannya, sehingga penerapan Open Sky Policy 2015 tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
    Sumber data : http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/

    Tan, upayanya patut ditiru, dua kali mengunguh/ Tapi menjawab sesuai dengan pertanyaan akan lebih mudah dinilai. Rumusan kompetensi memang menjadi sangat pentin. Kita lihat FEDEX misalnya sampai sekarang semua orang tahu mereka bisa mengirim barang kemanapun di seluruh dunia ini sehingga banyak korporasi menggunakan jada FEDEX. Sama dengan itu, kalau Garuda komptetensinya adalah memberikan pelayanan premium, dg cara apa. Selanjutnya apakah hal ini mudah ditiru atau tidak, kalau mudah bagaimana caranya dan kalau tidak alasannya apa? Silahkan diperbaiki lagi jawabannya.

    Komentar oleh Tan Sau Eng | Juli 6, 2012 | Balas

    • Selamat malam, Pak Johannes,
      Sesuai dengan arahan Bapak, saya telah melakukan revisi atas jawaban yang saya kirim sebelumnya.
      Terlampir di bawah saya kirimkan kembali jawaban yang telah di-revisi

      Nama Mahasiswa : Tan Sau Eng (C2B011022)
      Jawaban atas pertanyaan dalam artikel :
      “MENGUJI KOMPETENSI MASKAPAI PENERBANGAN ANTARA GARUDA DAN LION”

      1. Bagaimanakah masing-masing Penerbangan mambangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya Penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?

      Kompetensi tentu saja merupakan sesuatu yang potensial dalam menentukan daya saing karena dengan membangun kompetensi yang tepat, perusahaan akan dapat menonjolkan keunggulan spesifik-nya, sehingga dapat melakukan market positioning dengan tepat

      Garuda membangun kompetensinya melalui beberapa langkah antara lain :
       Memberikan rasa aman yang lebih kepada penumpang melalui :
      • Mempermuda armada pesawat
      Dalam hal mempermuda armada, Garuda tercatat sebagai maskapai paling agresif. Untuk penerbangan domestik, Garuda sudah menggunakan Boeing 737-800, yang benar-benar baru didatangkan langsung dari pabriknya di Everett, Seattle, Washington, Amerika Serikat.
      • Meningkatkan kualitas pilot serta memberi perhatian pada keselamatan penerbangan
      Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, PT. Garuda Indonesia membentuk sebuah lembaga yang disebut “Garuda Indonesia Training Center”. Lembaga pelatihan ini ditujukan untuk semua karyawan PT.Garuda Indonesia. Khusus utk pilot, GITC ini melakukan serangkain pelatihan mulai dari pelatihan bahasa Inggris, kelayakan penerbangan, keselamatan penerbangan, dan lain sebagainya. Untuk pelatihan bahasa Inggris saja, para pilot harus melewati beberapa tingkatan level ujian, mulai dari level 1 hingga level 6. Hal tersebut untuk memenuhi tuntutan standar bahasa Internasional yang besertifikasi ICAO. Dan dalam hal penanganan keselamatan Garuda Indonesia Training Center mengadakan symposium “kelayakan keselamatan penerbangan (Flight Operation Safety)”. Acara tersebut diadakan bersama-sama dengan Boeing, ICAO dan Direktorat Sertifikasi & Kelayakan Udara (DSKU). Simposium yang diikuti sebanyak 43 “captain pilot” yang berasal dari 20 perusahaan penerbangan nasional tersebut, membahas materi mengenai Safety Management System(SMS), Approach and Landing Accident Reduction (ALAR) dan Threat and Error Management (TEM). Simposium ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan Nasional. Adapun dukungan PT.Garuda Indonesia pada symposium tersebut adalah dengan menyediakan fasilitas simulator pesawat B-737-300/400 yang berada di Garuda Indonesia Training Center (GiTC), untuk digunakan peserta mempraktekan materi yang dibahas dalam symposium tersebut. Inisiatif Garuda Indonesia dalam mendukung acara tersebut adalah karena alasan agar konsep SMS dapat diaplikasikan. Implementasi konsep SMS di perusahaan penerbangan antara lain mencakup bagaimana policy/kebijakan perusahaan (Chief Executive Officer/CEO) terhadap safety, struktur organisasi perusahaan, perencanaan dan target pengelolaan safety, metode dan perangkat safety, budaya keselamatan dalam korporat, emergency respon plan (perencanaan respon terhadap situasi darurat) dan lain-lain
       Memberikan kenyamanan dan layanan privilege melalui :
      • Kemudahan pembelian ticket
      Pelayanan prima telah diterapkan sejak tahap ticketing, di mana selain membuka outlet ticketing di lokasi strategis, Garuda Indonesia juga telah menerapkan electronic ticketing sehingga memudahkan penumpang membeli ticket via internet.
      • Check-in service,
      Sejak beberapa tahun yang lalu Garuda telah menerapkan city check-in dan belakangan ini bahkan telah dikembangkan sistem mobile check-in sehingga penumpang bisa melakukan check-in cukup dengan menggunakan handphone.
      • Layanan Priviledge di airport
      Garuda merupakan satu-satunya penerbangan domestik yang di-izinkan beroperasi di Terminal 2 Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta (penerbangan domestik lainnya beroperasi di Terminal 1 yang kondisinya tidak senyaman Terminal 2). Saat menunggu boarding di bandara, Garuda juga menyediakan eksekutif lounge untuk para penumpangnya.
      • Kabin dan tempat duduk yang nyaman
      Saat masuk ke pesawat, penumpang akan mendapatkan cabin yang nyaman serta dilayani oleh cabin attendant yang ramah dan terlatih. Tempat duduk pesawat Garuda mempunyai ruang kaki yang relatif lebih lapang dibanding pesawat domestik lainnya. Utk kelas eksekutif bahkan dilengkapi dengan Flat-Bed seats yang memiliki ruang kaki 74″ dan dapat disandarkan hingga 180 derajat. Kursi ini juga memiliki sandaran tangan 11 inci.
      • Inflight food and entertainment
      Selama penerbangan, penumpang akan disuguhi makanan dan minuman gratis. Untuk penumpang yang butuh hiburan, di setiap tempat duduk tersedia sistem hiburan AVOD (Audio Video on Demand) dengan layar sentuh LCD yang menawarkan beragam hiburan film, musik dan game.

       Menjaga ketepatan waktu
      Garuda dengan dukungan sistem teknologi informasi yang modern telah menerapkan prinsip zero tolerance untuk keterlambatan/penundaan (kecuali karena alasan keamanan) sehingga untuk pasar penerbangan domestik, Garuda mendapatkan peringkat tertinggi untuk tingkat ketepatan waktu penerbangan (87%). Faktor ini sangat penting bagi kalangan bisnis dan profesional yang umumnya mempunyai jadwal yang padat.

       Melayani berbagai rute perjalanan dengan pengaturan interconnecting flight yang baik
      Garuda Indonesia melayani baik penerangan domestik maupun international. Saat ini Garuda memiliki 31 rute penerbangan domestik dan 19 rute penerbangan internasional.
      Untuk rute dalam negeri, Garuda Indonesia melayani kota-kota seperti Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Batam, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Jambi, Jakarta, Jogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Ampenan, Makassar, Manado, Palangkaraya, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Kupang, Kendari, Biak, Jayapura, Timika, Ambon, Ternate, Palu.
      Sedangkan untuk rute international Garuda Indonesia melayani :
      Asia : Bangkok, Hongkong, Kuala Lumpur, Singapore
      Japan, Korea and China : Tokyo, Nagoya, Osaka, Seoul, Guangzhou (Canton), Beijing, Shanghai
      South West Pacific : Melbourne, Perth, Sydney
      Middle East : Jeddah, Riyadh, Dammam, Dubai
      Europe : Amsterdam

      2. Berkatian dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
      Dalam pasar penerbangan domestik, Garuda menghadapi persaingan dengan berbagai maskapai penerbangan lokal yang lain. Masing masing maskapai berusaha mengembangkan kompetensi-nya sendiri baik melalui pengembangan inovasi, membuat terobosan baru, maupun dengan meniru kompetensi perusahaan pesaing.
      Sebagai market leader, kompetensi Garuda cenderung dijadikan benchmark oleh maskapai penerbangan lain. Banyak perusahaan pesaing yang berusaha meniru kompetensi Garuda dengan harapan bisa merebut pangsa pasar yang lebih besar. Namun untuk bisa meniru Kompetensi Garuda seperti yang telah dijabarkan di atas bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan berbagai sumber daya, investasi dana serta butuh waktu yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan kompetensi tersebut.
      Urutan kompetensi Garuda yang paling sulit ditiru adalah sebagai berikut :
       Reputasi sebagai maskapai penerbangan lokal yang paling aman
      Reputasi tidak bisa ditiru, melainkan hanya bisa dibangun melalui kerja keras dan usaha panjang yang berkelanjutan hingga memperoleh pengakuan dari pasar.
      Dengan bermodal pengalaman yang panjang dan dukungan armada pesawat yang relatif baru, Garuda telah berhasil membangun reputasi sebagai maskapai penerbangan nasional yang paling aman. Reputasi tersebut mempunyai nilai jual yang tinggi, sehingga walaupun harga ticketnya lebih mahal, Garuda tetap menjadi pilihan utama bagi konsumen kelas atas maupun konsumen kalangan bisnis. Konsumen cenderung merasa lebih aman apabila terbang dengan pesawat Garuda.

       Reputasi sebagai maskapai penerbangan kelas atas
      Selain memberi rasa aman yang lebih besar, Garuda juga terkenal sebagai maskapai penerbangan untuk kelas elit di Indonesia. Reputasi tersebut memberikan kebanggaan dan prestige tersendiri bagi penumpang Garuda, sehingga mereka rela membayar biaya ticket yang relatif lebih tinggi.
      Kedua kompetensi tersebut tentu sangat sulit ditiru oleh maskapai penerbangan lokal lain karena untuk bisa mendapatkan reputasi sekelas Garuda, bukan hanya dibutuhkan investasi dan kerja keras yang tidak sedikit, namun juga dibutuhkan waktu yang panjang.

       Ketepatan waktu dan Premium services
      Hingga saat ini, Garuda Indonesia masih berada di peringkat yang tertinggi – baik dalam segi ketepatan waktu maupun layanan premium – dibandingkan maskapai penerbangan lokal lainnya.
      Kompetensi ini tentu bisa ditiru, namun tidak gampang, karena untuk bisa mengembangkan kompetensi tersebut dibutuhkan manajemen penerbangan yang baik, dukungan teknologi informasi yang canggih, sumber daya manusia yang handal, serta investasi berbagai fasilitas layanan dan perangkat entertainment

      3. Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri Penerbangan .

      Bisnis penerbangan tentu membutuhkan banyak sumber daya untuk mendukung kompetensinya.
      Beberapa sumber daya utama yang berperan penting antara lain :

       Sumber daya keuangan
      Sumber daya keuangan adalah sumber daya terpenting yang harus dimiliki dan dikelola karena untuk membangun kompetensi apapun pasti dibutuhkan dana. Peremajaan dan penambahan armada, peningkatan kualitas pilot, pengembangan teknologi informasi serta penyediaan fasilitas untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada penumpang, semuanya membutuhkan investasi dana yang tidak sedikit. Tanpa dana yang memadai semua kompetensi tersebut tidak mungkin dibangun.
      Sebelum terjadi krisis ekonomi moneter 1998, sebagai flag carrier, Garuda Indonesia mendapat dukungan berbagai fasilitas, kemudahan dan juga dana dari pemerintah. Namun pasca krisis moneter, Garuda tidak bisa lagi mengandalkan dukungan dari pemerintah. Untuk memenuhi kebutuhan dana Garuda memilih go public dengan melakukan IPO dibursa saham pada awal 2011. Dengan penjualan saham tersebut, Garuda mendapatkan dana yang cukup untuk melanjutkan rencana strategisnya yang diberi nama Quantum Leap.

       Sumber daya manusia
      Sumber daya manusia merupakan sumber daya penting lainnya setelah sumber daya keuangan. Sebagai perusahaan jasa, kompetensi maskapai penerbangan sangat bergantung pada kecakapan sumber daya manusia. Tanpa sumber daya manusia yang handal, kompetensi tidak akan dapat dibangun walaupun tersedia perangkat teknologi informasi yang canggih maupun pesawat yang modern karena semua software maupun hardware tersebut harus di-operasikan oleh sumber daya manusia. Demikian juga halnya dengan layanan. Premium services tidak akan bisa diterapkan tanpa didukung sumber daya manusia yg terlatih.
      Garuda Indonesia membangun sumber daya manusia-nya dengan membentuk lembaga pelatihan yang disebut “Garuda Indonesia Training Centre (GITC)”. Lembaga pelatihan ini ditujukan untuk semua karyawan Garuda. Untuk meningkatkan kualitas pilot, GITC menyelenggarakan berbagai training intensif seperti pelatihan bahasa Inggris, kelayakan penerbangan, keselamatan penerbangan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk awak kabin maupun calon awak kabin, GITC memberikan pelatihan tentang bagaimana cara mengatasi penumpang di saat keadaan darurat, cara melayani penumpang dengan baik, dan juga bagaimana bekerjasama dalam satu teamwork yang baik. Selain melatih sumber daya penerbangan, GITC juga memberikan pelatihan untuk sumber daya pendukung. Untuk teknisi pesawat misalnya, GITC melatih para teknisi untuk dapat memelihara kondisi pesawat dan mempersiapkan kondisi pesawat agar layak diterbangkan. Sedangkan untuk staff administratif lainnya GITC berusaha meningkatkan kualitas dan profesionalitas karyawan dengan membangun kemampuan berpikir dan berinteraksi yang baik, meningkatkan leadership skill serta kemampuan lainnya.

       Sumber daya reputasi
      Reputasi merupakan salah satu sumber daya unggulan Garuda Indonesia. Salah satu kompetensi utama Garuda adalah mampu memberikan rasa aman dan kebanggaan (prestige) yang lebih kepada penumpang melalui reputasinya sebagai maskapai penerbangan kelas dunia.
      Sebagai market leader bisnis penerbangan nasional, Garuda sangat berkepentingan menjaga reputasi maupun kualitas untuk tetap bisa mempertahankan posisinya. Kelihatannya Garuda menyadari hal tersebut dan telah bekerja keras sehingga berhasil mempertahankan, bahkan meningkatkan reputasinya. Sejauh ini berbagai prestasi telah berhasil diraih. Selain berhasil memperoleh pengakuan dari Skytrax sebagai 4-star airline (yang membuat Garuda kini sejajar dengan 32 perusahaan penerbangan dunia, seperti Air France Perancis, JAL Jepang, Dragon air Hongkong, Qantas Australia, dan Korean Air Korea), Garuda Indonesia juga terpilih sebagai The Best BUMN Marketers 2012 dalam ajang BUMN Marketing Day 2012. BUMN tersebut adalah satu-satunya pemenang yang meraih tingkatan Gold untuk kategori Strategic (Brand, Product, dan Customer Management), lalu diikuti Silver untuk Tactical (Communication, Sales, dan Service) dan Special Award (Marketing 3.0 dan New Wave Marketing). Bahkan baru baru ini PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) berhasil menyabet penghargaan bergengsi sebagai “The World’s Best Regional Airline” serta “The Best Regional Airline in Asia.” yang diberikan oleh skytrax di Farnborough Airshow di Inggris.

       Sumber daya fisik
      Sumber daya fisik juga merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam bisnis penerbangan. Umur dan kondisi pesawat yang di-operasikan merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan penumpang karena terkait dengan rasa aman dan kenyamanan, sedangkan jumlah pesawat berpengaruh pada rute dan frekuensi penerbangan yang bisa dilayani
      Saat ini Garuda merupakan maskapai penerbangan dengan jumlah armada terbesar di Indonesia. Per April 2012 rincian armada penerbangan Garuda Indonesia adalah sbb :
       8 unit Airbus A330-200 (3 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 212 orang dan dilengkapi AVOD
       6 unit Airbus A330-300 (18 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 257 orang dan dilengkapi AVOD
       5 unit Boeing 737-300 dengan kapasitas penumpang 215 orang
       1 unit Boeing 737-400
       5 unit Boeing 737-500
       54 unit Boeing 737-800 (30 unit tambahan dlm pesanan)
       2 unit Boeing 747-400
       10 unit dalam pesanan Boeing 777-300ER
       18 unit dalam pesanan Bombardier CRJ1000
      Untuk mempertahankan keunggulan sumber daya fisik, Garuda telah membuat rencana strategis (yang disebut Quantum Leap) untuk menggandakan armadanya dari 62 menjadi 116 pesawat dalam jangka waktu 5 tahun serta menaikkan jumlah penumpang per tahun menjadi 27.6 juta dalam periode yang sama.
       Sumber daya teknologi
      Sumber daya teknologi tidak dapat diremehkan dalam bisnis penerbangan. Berbagai kemudahan yang ditawarkan kepada penumpang (dalam ticketing, check in, baggage handling dll) terkait erat dengan sistem teknologi informasi. Demikian juga halnya kemampuan menyelenggarakan penerbangan yang tepat waktu.
      Garuda telah berhasil mengembangkan sistem teknologi informasi-nya sehingga saat ini telah bisa menawarkan berbagai kemudahan seperti e-ticketing, city check-in, mobile check-in, inflight GPS display dll kepada penumpangnya. Selain itu pada akhir 2010 Garuda juga telah berhasil mengembangkan sistem kendali operasi terpadu (Integrated Operational Control System/IOCS) untuk memantau pergerakan pesawat, awak kabin dan manajemen penumpang yang sebelumnya dikelola dalam aplikasi terpisah. Dengan sistem baru tersebut, Garuda dapat menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin dan 2000 penerbangan per minggu.

      4. Indonesia pada Tahun 2015 telah menytakan kesiapannya mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud?

      ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
      Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
      Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.
      Penerapan Open Sky Policy akan menimbulkan berbagai peluang maupun ancaman serius terhadap maskapai penerbangan maupun negara-negara anggota Asean. Peluang dan ancaman timbul karena situasi dan kondisi tiap-tiap negara berbeda. Ada negara yang sudah sangat maju dan sebaliknya beberapa negara masih dalam tahap membangun bahkan ada yang belum siap sama sekali. Kerjasama bisa menjadi timpang dan akan berakibat kelak satu pihak yang kuat akan memangsa pihak yang lemah.
      Dari sisi maskapai, siapa yang tidak tahu tentang Singapore Airlines (SIA). Dengan keunggulan kualitas dan kuantitas armadanya SIA dapat mewujudkan konsep reciprocal dengan baik. Lebih dari itu SIA dan juga anak perusahaannya Silk Air merupakan flag carrier dan didukung langsung oleh pemerintah Singapura sendiri yang telah menjelma menjadi macan Asia.
      Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengan dukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak adil bagi maskapai swasta. Negara seperti Indonesia dengan Garuda Indonesia, Malaysia dengan Malaysia Airlines (MAS) atau Thailand dengan Thai Air diharapkan berlaku transparan dalam hal kebijakan subsidi kepada maskapai nasionalnya. Ini untuk menciptakan persaingan yang sempurna dan menguntungkan.
      Ditinjau dari segi Open Sky Policy, Garuda Indonesia jelas berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan Lion Air. Sebagai perusahaan penerbangan yang telah mapan dengan sejarah yang panjang serta sumber daya yang mendukung, Garuda jauh lebih siap untuk bersaing dengan maskapai penerbangan asing di banding Lion. Apalagi Garuda adalah flag carrier Indonesia yang tentunya akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah di berbagai bidang.
      Agar tidak ketinggalan dalam persaingan menghadapi Open Sky Policy 2015, mungkin Lion bisa mencoba menerapkan strategy bisnis penerbangan dari Air Asia. Maskapai swasta asal Malaysia ini yang memiliki bisnis jasa penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) telah melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga bahkan sebelum rencana tahap-tahapan ASEAN Open Sky dimulai.
      Dengan kuantitas armada yang signifikan, Air Asia melakukan ekspansi lebih jauh ke wilayah regional Asia Tenggara. Konsep penerbangan bertiket murah dengan cepat mengambil hati konsumen bahkan untuk yang terbiasa menggunakan full service flight sekalipun. Asas cabotage yang diberlakukan di negara-negara ASEAN ternyata bisa dilangkahi dengan menerapkan semacam kecabangan perusahaan di tiap-tiap negara. Ekspansi fenomenal Air Asia bahkan membuat ketar-ketir maskapai Asia Tenggara yang lebih dahulu beroperasi terutama Silk Air yang dianggap sulit dikalahkan karena didukung oleh SIA.
      Dari contoh kasus di atas dapat di simpulkan bahwa dengan membangun kompetensi yang tepat, baik maskapai penerbangan yang sudah mapan maupun maskapai penerbangan kelas menengah bawah tetap akan dapat survive dan berkembang dengan cara melakukan positioning sesuai dengan bidang keunggulannya, sehingga penerapan Open Sky Policy 2015 tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
      Sumber data :
      http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/
      http://www.tempo.co/read/kolom/2010/06/02/180/Mencermati-Kemajuan-Garuda-Indonesia
      http://dikdiksalehsadikin.wordpress.com/2009/01/28/peningkatan-produktivitas-melalui-perumusan-budaya-suatu-studi-kasus-pt-garuda-indonesia/
      http://cdn.garuda-indonesia.com/media/filemanager/2009/07/15/C/o/Corporate_governance.pdf
      http://www.garuda-indonesia.com/gi_id/Tentang+Garuda+Indonesia/GCG/Kode+Etik.page
      http://aergot.wordpress.com/2009/05/07/what-the-heck-corporate-culture/

      Komentar oleh Tan Sau Eng | Juli 20, 2012 | Balas

  5. pak jo.saya evaluator sihite MM XV,kog pengantian jawaban tidak bisa terkirim dan selalu dijawab sudah ada duplikat,tapi saya cek di blog pak Jo tidak ada,tks

    Komentar oleh evaluator sihite | Juli 7, 2012 | Balas

  6. Bagi yang punya masalah dg pwaerbaikan jawaban pada blog ini, silahkan kirim langsung ke email, kalau jawaban juga belum muncul emailkan ulang. Sukses selalu.

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 9, 2012 | Balas

  7. Ini tugas Jasman Malik
    1. Bagaimanakah masing-masing Penerbangan mambangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya Penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?
    Jawab :
    Masing-masing penerbangan baik Garuda maupun Lion Air memiliki sumber daya tersendiri dan berbeda satu dengan lain. Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan papan atas dan merupakan maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Kompetensi yang dimiliki Maskapai Garuda adalah dari sumber daya manusia yaitu pilot pesawat memiliki pengalaman menjadikan maskapai ini relatif aman dan paling sedikit mengalami kecelakaan, jenis pesawat yang lebar membuat penerbangan tidak banyak mengalami goncangan saat memasuki awan di udara sehingga penumpang merasa lebih aman dan nyaman, ruang antar tempat duduk lebih lebar, serta ketepatan waktu, banyak orang yang menggunakan garuda karena ketepatan pemberangkatan dan jarang delay. (sumber http://www.anneahira.com/garuda-air.htm)
    Lion Air sudah mampu membangun Kepercayaan positif dari Konsumennya hal initerlihat bahwa konsumen sangat kritis terhadap pelayanan yang diberikan Lion Air dari faktor ingtangible dan tangiblenya, sehingga Pelanggan merasa puas secara emosional. walaupun hal ini tidak berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan pelanggan. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas kinerja atribut utama pelayanan Lion Air sudah cukup baik, walaupun terkadang terjadi masalah keterlambatan penerbangan karena kesalahan non teknis diakibatkan cuaca yang dapat dimaklumi sehingga pihak Lion Air menunda keberangkatan yang beresiko tinggi, kemudian pelayanan item makanan yang telah ditiadakan selama penerbangan berlangsung, Lion Air belum mampu memberikan pelayanan ini untuk penumpang, karena telah dipangkas anggarannya untuk menekan harga tiket penjualan dan ini dapat menjadi masukkan kembali bagi Lion Air yang dimana Maskapai ini di tuntut mampubersaing dalam hal pelayanan terbaik bagi konsumennya. (berdasarkan penelitian dan bersumber dari http://www.scribd.com/doc/24052402/Faktor-Faktor-yang-Mempengaruhi-Kualitas-Pelayanan-pada-PT-Lion-Air-Lines-Gorontalo)
    Dalam posisi demikian, strategi maupun pembangunan kompetensi yang lebih sesuai adalah berusaha merebut pangsa pasar dengan menawarkan harga ticket yang murah. Bersaing dalam bidang reputasi dan prestige hanya dapat dilakukan pada tahap selanjutnya setelah Lion Air cukup mapan.Tentu saja kompetensi merupakan sesuatu yang potensial dan sangat penting dalam menentukan daya saing. Dengan membangun kompetensi yang tepat, baik Garuda maupun Lion Air akan dapat menonjolkan keunggulannya yang spesifik sehingga dapat melakukan positioning dengan tepat.

    2. Berkatian dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Jawab:
    Kompetensi yang sulit ditiru adalah dari sisi penglaman yang dimiliki masing –masing maskapai penerbangan baik Lion Air dan Garuda, kemudian dari sisi brand image terhadap masing-masing maskapai penerbangan. Maskapai garuda adalah perusahaan yang sudah lama sejak 1950 dan merupakan salah sati icon penerbngan kebanggan Idonesia. Sedangkan kompetensi dari Lion Air yang memiliki keunggulan dengan tiket murah dan memiliki slogan we make people fly dan strategi masing-masing yang dimilki oleh maskapai penerbangan sangat sulit untuk ditiru. Mengingat banyaknya maskapai penerbangan domestik yang ada, di samping juga adanya Open Sky Policy yang akan diberlakukan pada 2015 sehingga maskapai penerbangan asing juga dapat ikut bermain di Indonesia, boleh dikatakan saat ini hampir tidak ada satupun kompetensi yang tidak dapat ditiru. Kompetensi yang dibangun oleh maskapai papan atas yang biasanya berfokus pada reputasi, prestige, kualitas dan kenyamanan/kemewahan tentunya relatif sulit untuk di-ikuti oleh maskapai penerbangan yang belum mapan, namun tidak berarti dengan kompetensi tersebut maskapai penerbangan papan atas bisa melaju tanpa hambatan di target marketnya.

    3. Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri Penerbangan .
    Jawab :
    1. Financial
    Dalam menentukan usaha penerbangan tentunya modal yang cukup besar yang perlu dipersiapkan dan merupakan investasi yang cukup besar dalam hal pembelian pesawat serta asset lain yang mendukung dalam usaha dibidang penerbangan. Sehingga bila dikaitkan dengan manajemen keuangan berhubungan dengan aktivitas sebagai berikut:
    • Aktivitas penggunaan dana, yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva.
    • Aktivitas perolehan dana, yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana, baik dari sumber dana internal maupun sumber dana eksternal perusahaan.
    • Aktivitas pengelolaan aktiva, yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam bentuk aktiva, dana harus dikelola seefisien mungkin.
    2. Human Resources
    Sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak kalah penting dalam industri penerbangan, baik SDM yang bertugas di udara (pilot, co-pilot & pramugari) maupun yang bertugas di darat (teknisi, staff ticketing, staff bagage handling dll). Sebagai industri jasa, bisnis penerbangan tidak akan dapat ber-operasi dengan baik tanpa SDM yang handal. Sdm yang dimiliki harus memiliki kualitas yang sangat baik demi mendukung dan memajukan industry penerbangan tentunya harus sdm yang memiliki pengalaman dan bersertifikasi.
    3. Tecnology and Information
    Dalam bidang penerbangan tidak hanya dibutuhkan sdm yang berkualitas dan modal yang kuat, akan tetapi peran teknologi dan informasi yang canggih dan cepat sangat berperan penting dalam industry penerbangan. Akses yang bias memudahkan setiap orang dalam hal menegetahui dan menggunakan jasa industry penerbangan merupakan kunci pokok industry maskapai penerbangan.

    4. Indonesia pada Tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud?
    Jawab :
    ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
    Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
    Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.
    Penerapan Open Sky Policy akan menimbulkan berbagai peluang maupun ancaman serius terhadap maskapai penerbangan maupun negara-negara anggota Asean. Peluang dan ancaman timbul karena situasi dan kondisi tiap-tiap negara berbeda. Ada negara yang sudah sangat maju dan sebaliknya beberapa negara masih dalam tahap membangun bahkan ada yang belum siap sama sekali. Kerjasama bisa menjadi timpang dan akan berakibat kelak satu pihak yang kuat akan memangsa pihak yang lemah. Dari sisi maskapai, siapa yang tidak tahu tentang Singapore Airlines (SIA). Dengan keunggulan kualitas dan kuantitas armadanya SIA dapat mewujudkan konsep reciprocal dengan baik. Lebih dari itu SIA dan juga anak perusahaannya Silk Air merupakan flag carrier dan didukung langsung oleh pemerintah Singapura sendiri yang telah menjelma menjadi macan Asia.
    Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengan dukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak adil bagi maskapai swasta. Negara seperti Indonesia dengan Garuda Indonesia, Malaysia dengan Malaysia Airlines (MAS) atau Thailand dengan Thai Air diharapkan berlaku transparan dalam hal kebijakan subsidi kepada maskapai nasionalnya. Ini untuk menciptakan persaingan yang sempurna dan menguntungkan.
    Ditinjau dari segi Open Sky Policy, Garuda Indonesia jelas berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan Lion Air. Sebagai perusahaan penerbangan yang telah mapan dengan sejarah yang panjang serta sumber daya yang mendukung, Garuda jauh lebih siap untuk bersaing dengan maskapai penerbangan asing di banding Lion. Apalagi Garuda adalah flag carrier Indonesia yang tentunya akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah di berbagai bidang.
    Agar tidak ketinggalan dalam persaingan menghadapi Open Sky Policy 2015, mungkin Lion bisa mencoba menerapkan strategy bisnis penerbangan dari Air Asia. Maskapai swasta asal Malaysia ini yang memiliki bisnis jasa penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) telah melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga bahkan sebelum rencana tahap-tahapan ASEAN Open Sky dimulai.
    Dengan kuantitas armada yang signifikan, Air Asia melakukan ekspansi lebih jauh ke wilayah regional Asia Tenggara. Konsep penerbangan bertiket murah dengan cepat mengambil hati konsumen bahkan untuk yang terbiasa menggunakan full service flight sekalipun. Asas cabotage yang diberlakukan di negara-negara ASEAN ternyata bisa dilangkahi dengan menerapkan semacam kecabangan perusahaan di tiap-tiap negara. Ekspansi fenomenal Air Asia bahkan membuat ketar-ketir maskapai Asia Tenggara yang lebih dahulu beroperasi terutama Silk Air yang dianggap sulit dikalahkan karena didukung oleh SIA.
    Dari contoh kasus di atas dapat di simpulkan bahwa dengan membangun kompetensi yang tepat, baik maskapai penerbangan yang sudah mapan maupun maskapai penerbangan kelas menengah bawah tetap akan dapat survive dan berkembang dengan cara melakukan positioning sesuai dengan bidang keunggulannya, sehingga penerapan Open Sky Policy 2015 tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
    Sumber data : http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 9, 2012 | Balas

  8. NAMA : MUSTIKA

    1. Bagaimanakah masing masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing ?

    Kompetensi sangat potensial dalam menentukan daya saing, karena menjadi landasan kekuatan suatu penerbangan.

    Sampai sekarang Garuda termasuk Maskapai Penerbangan yang dominan di Indonesia, untuk penerbangan domestik. Pada dekade 80an, Garuda masih terdepan di wilayah Asia Tenggara, dibanding dengan Singapura Airlines, khususnya bila dilihat dari jumlah pesawat yang dikelola. Akan tetapi, pembenahan dan orientasi yang terlambat membuat Garuda tertinggal jauh dibanding dengan Singapore Airline sampai sekarang. Di era tahun 2000, apa yang terlihat jelas dilakukan oleh Garuda adalah pelayanan di pasar domestik. Kelihatan bahwa Garuda akan membenahi landasan di pasar domestik sambil tetap memelihara kesempatan di pasar global. Tahun 2008, Garuda memperoleh standar pelayanan terbaik di Indonesia. Artinya Garuda terdepan dalam pelayanan kepada pelanggan. Guna melanjuti perluasan bisnis, maka diterapkan strategi pertumbuhan, sehingga dicanangkanbw pada Tahun 2014 dengan mengadopsi quantum leap, diharapkan jumlah pesawat Garuda telah mencapai 120 unit
    Dari laporan Cetak Biru Transportasi Udara Direktorat Perhubungan (2005), diketahui korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan penumpang transportasi udara. Selanjutnya, diketahui kecenderungan pertumbuhan jumlah penumpang semakin menunjukkan angka yang pesat. Mengamati Tahun 1995 – 2004, setelah melewati tahun krisis diketahui bahwa pertumbuhan jjumlah penumpang berkisar 7,3 – 10 persen. Pada tahun 2004 jumlah penumpang menjcapai 11.841.373 orang. Keadaan ini terus membaik dengan meningkatnya jumlah penumpang pada Tahun 2009 mencapai 26.993.265. Ada banyak hal yang mengakibatkan peningkatan dan pertumbuhan jumlah penumpang ini yaitu: i) adanya UU yang menjamin kebebasarn membuka bisnis di bidang transportasi udara, ii) harga relatif tiket pesawat yang mengalami penurunan bilamana dibanding dengan transportasi darat, dan iii) praktitk otonomi daerah yang mendorong munculnya Maskapai Penerbangan yang dikelola oleh pemerintah daerah baik secara sendiri-sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga.
    Membenahi Kondisi Internal Tahun 2009 adalah tahun yang membangkan bagi Garuda, termasuk bagi Indonesia karena tahun itu ada pertama kali memperoleh untung dari selama ini sebagai perusahaan yang mengalami kerugian. Pada Tahun 2009 laba Garuda mencapai Rp. 1, 009 trylun, jauh meningkat bila dibanding Tahun 2008 dimana keuntungan baru pencapai Rp. 669 milyar. Keadaan ini juga ditunjukkan oleh kondisi penumpang, diman
    pada Tahun 2008 jumlah penumpang mencapai 10, 1 juta sedangakan pada Tahun 2009 10,3 juta. Kemudian dalam penjelasan korporasi diketahui bahwa Garuda mengadopsi strategi pertumbuhan, karena pasar yang terbuka luas dan dukungan sumberdaya yang besar. Kedua hal ini menjadi alasan bagi Garuda untuk memilih strategi pertumbuhan. Adapun bentuk strategi pertumbuhan yang diadopsi diartikulasikan ke dalam bentuk Quantum Leap. Slogan ini diharapklan dapat memotivasi semua sumberdaya untuk fokus kepada pertumbuhan. Sehubungan dengan itu, pada tahun 2014 jumlah diharapkan bahwa jumlah armada mencapai 2 kali lipat, dari jumlah sekarang adalah 67 unit, diharapkan pada Tahun 2014 akan menjadi 116 unit. Adapun program pembelian pesawat ini akan dimulai dari hasil penjualan saham yang direncanakan segera dilaksanakan.

    2. Berkaitan dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti startegi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?

    Pada bulan November 2010, Garuda Indonesia menerapkan sistem baru yang disebut disebut dengan sistem kendali operasi terpadu (integrated Operasional control system/IOCS). Sistem terpadu ini menggabungkan sistem untuk memantau pergerakan pesawat,awak kabin,dan manajemen penumpang yang sebelumnya merupakan aplikasi terpisah. Tentang IOCS milik Garuda Indonesia tersebut.
    • Sistem ini merupakan gabungan sistem yang memantau pergerakan pesawat, penjadwalan awak kabin dan manajemen kabin.
    • Sistem IOCS ini berharga US$ 1,5juta (update: sebelumnya US$ 15 juta)
    • Sistem IOCS ini menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin dan 2000 penerbangan perminggu
    • Pada tanggal 19 november 2010, selama 4 jam sistem tidak bisa diakses.

    3. Dari jumlah sumber daya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan, jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalan menentukan daya saing ditengah tengah persaingan industri penerbangan ?

    Masalah dan isu pelayanan jasa penerbangan menjadi sangat krusial bagi Maskapai
    Penerbangan di Indonesia sampai sekarang karena berbagai peristiwa kecelakaan
    penerbangan. Dari catatan dan pelaporan yang dilakukan oleh direktorat Perhubungan, dalam kurun waktu 2004-2007 tercatat 4 kali kecelakaan yang fatal yangmengakibatkan kematian (korban jiwa),(http://hubud.dephub.go.id/?id+statistik+
    detail+angud). Adapun kecelakaan yang dilaporkan tidak termasuk penundaan keberangkatan karena ditemukan adanya berbagai kerusakan yang berdampak terhadap penundaaan dan pembatalan penerbangan . Berkaitan dengan ini, maka “hukuman” yang diberikan oleh Masyarakat Global adalah tindakan berupa pelarangan terbang (ban) ke wilayah tujuan Eropa. Tindakan pelarangan demikian menjadi ancaman serius karena hal ini tidak saja akan mempersempit ruang bisnis penerbangan, tetapi lebih dari itu mempengaruhi citra pelayanan jasa lainnya khususnya turisme. Pada akhirnya dampak daripada keadaan ini adalah macetnya pertubuhan ekonomi Nasional.
    Maskapai Penerbangan Garuda dengan unit bisnisnya bagaimanapun termasuk terdepan akhir-akhir ini setidaknya untuk tingkat lokal (Indonesia).
    Dari hasil pemilihan kelompok independen diketahui bahwa jasa pelayanan Garuda masih tergolong terbaik dalam hal pelayanan pelanggan. Kenyataan ini menjadikan Garuda menjadi pilihan. Selanjutnya keseriusan Garuda dalam menerapkan pelayanan dapat juga dicatat. Tahun 2008, Garuda berhasil menerima ISO dua buah dari Lembaga Independen yang bertaraf Internasional yaitu untuk Unit Cargo Garuda dan Unit Garuda Sentra Medika akan mengirim produk (barang/ jasa) yang dinilai telah memenuhi persyaratan. Walau harus dicatat bahwa salah satu tuntutan daripada Penerbangan Eropa untuk memeberikan pelayanan keselamatan oleh ME dinilai belum terpenuhi, sehingga larangan (ban) terhadap penerbangan Garuda masih menjadi kendala utama Garuda dalam melebarkan sayap secara global.
    Di era pascakrisis, bukan hanya Garuda yang berbenah diri, akan tetapi seperti peristiwa blessing in disguise, berkat setelah krisis, perkembangan Maskapai
    Penerbangan menjadi pesat, bahakan muncul bentuk Maskapai Penerbangan baru.
    Adanya UU yang membuka pintu bagi pebisnis baru untuk menjadi pelaku dalam industri penerbangan membuat persaingan semakin efektif. Pada akhirnya, persaingan membuat pelaku bisnis lain yang tidak mempunyai kekuatan, tidak berdaya saing keluar dari industri, sehingga selanjutnya industri dipenuhi oleh pendatang baru dengan segala atribut pelayanan. Salah satu akibat daripada persaingan turunnya harga tiket dan variasi harga yang dapat dinikmati oleh pembeli sesuai dengan daya beli dan kebutuhannya.

    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti open sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud ?

    Open Sky merupakan konsep kebijakan internasional yang menyerukan liberalisasi aturan dan peraturan penerbangan internasional-terutama industri penerbangan komersial-dalam rangka menciptakan lingkungan pasar bebas bagi industri penerbangan. Tujuan utama adalah:
    • Kesiapan Indonesia
    Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk pemerintah Indonesia. Dalam target liberalisasi penerbangan ASEAN yang akan direalisasikan paling cepat tahun 2010 dan paling lambat 2015, disediakan fasilitas mekanisme ASEAN -X (baca : ASEAN minus X) dengan X yang berarti negara yang belum siap. Indonesia dapat masuk menjadi negara X karena ini adalah hak tiap-tiap negara anggota dan semua harus menghormati keputusan tersebut.
    Menteri Perhubungan Freddy Numberi dalam keterangan kepada pers nasional pada Desember 2009 menyatakan bahwa Indonesia adalah pihak yang dirugikan. “Singapura hanya punya 1 bandara, Malaysia punya 6 bandara, kita punya 26 bandara internasional,” tambah Menhub. Ini berarti Indonesia memiliki pintu yang banyak untuk dimasuki dengan mudah pemain-pemain asing. Jumlah bandara direncanakan akan dibatasi apalagi maskapai nasional dinilai pemerintah belum sekuat para pesaingnya.
    • Menurut Dirjen Departemen Perhubungan Udara, Herry Bakti, pemerintah segera menerbitkan keputusan menteri tentang jumlah bandara yang siap untuk open sky policy. “Mungkin 3 atau 5 bandara yang siap,” ujarnya. Yang mana bandara itu belum diketahui, tapi dua diantaranya yang pasti adalah Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Ditambahkan lagi oleh juru bicara Dephub Bambang Ervan bahwa sebelum mengikuti liberalisasi penerbangan, pemerintah akan meningkatkan daya saing perusahaan penerbangan dan kapasitas tampung bandara udara.
    Pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan Open Sky ASEAN 2015 dalam konsep Indonesia yaitu kebijakan langit terbuka yang harus dilakukan dengan memperhatikan kepentingan nasional, melakukannya secara bertahap dengan menjadi negara X untuk beberapa waktu sambil mempersiapkan diri, termasuk mempersiapkan maskapai nasional agar dapat berdaya saing tinggi.

    Komentar oleh MUSTIKA | Juli 9, 2012 | Balas

  9. ROULIHARTY DAMANIK
    LION AIR

    1. Bagaimanakah masing-masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya penerbangan yang di miliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensiil dalam menentukan daya saing? Kompetensi menjadi sesuatu yang potensiil bagi usaha penerbangan.
    Ditengah persaingan antar maskapai penerbangan yang semakin ketat, banyak upaya yang dilakukan maskapai-maskapai penerbangan tak terkecuali Lion Air. Sebagai salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia, Lion Air masih stabil dalam bersaing dengan maskapai penerbangan baru lainnya. Yaitu dalam mencari, menarik dan mempertahankan pelanggan untuk memuaskan pengguna jasanya, terutama melalui sisi peforma pelayanannya. Perusahaan harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama dimana pelaksanaan / kinerja jasa yang dilakukan haruslah sesuai dengan tingkat kepentingan / harapan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberikan nilai dan kepuasan kepada pelanggan melalui penyampaian produk dan jasa berkualitas.
    Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, Perusahaan Lion Air perlu melakukan penambahan fasilitas – fasilitas untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Hal ini dilakukan Lion Air agar tidak kalah dalam persaingan atas fasilitas dan pelayanan yang dilakukan maspakai penerbangan lainnya. Lion Air melayani pelanggan dari berbeda segmen, melakukan survei yang melibatkan pelanggan mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka. Misalnya: makanan, majalah, fasilitas lain. Dengan adanya fasilitas, Lion Air akan memberikan kemudahkan bagi konsumen. Untuk kemudahan pemesanan tiket, Lion Air menyediakan pemesanan tiket secara online lewat website dan sms booking. Bagi yang memesan tiket secara online, tersedia pula pembayaran secara online. Calon penumpang pun tidak perlu bersusah payah, cukup pesan dan bayar melalui satu portal di website Lion Air.
    Pada waktu-waktu tertentu, seperti saat liburan sekolah, Lion Air sering menawarkan travel promo dengan tiket murah ke kota-kota di Indonesia maupun luar negeri. Produk ini menawarkan cara mudah dan sederhana pemesanan kursi pesawat serta harga lebih terjangkau 30 persen lebih murah daripada tiket produk utama Lion Air yang dilayani Boeing 737-300/-400/-500. Mereka memilih kota tujuan tertentu juga dengan maksud agar calon penumpang dapat berkunjung ke tempat wisata yang ada di kota tersebut.
    Kota yang sering dipilih Lion Air untuk ditawarkan dalam travel promo antara lain Yogyakarta, Manado, Medan, Lombok, Bali, hingga Kuala Lumpur dan Singapura
    Lion Air sangat memperhatikan kenyamanan dan keselamatan konsumen. Hal ini dilakukan pesawat Lion Air yang menjalani proses perawatan sevara berkala dan intensif meliputi empat check secara periodik yaitu A – Check (setiap 125 ribu jam terbang), C – Check (setiap 375 ribu jam terbang), I/2D – Check (setiap 10 ribu jam terbang) dan D – Check atau Overhaul (setiap 20 ribu jam terbang). Lion Air mendapatkan dukungan fasilitas perawatan pesawat yang telah memenuhi standar yang sangat berpengaruh di dunia yaitu Federal Aviation Administration (Amerika Serikat) dan Joint Airworthiness Authorities (Eropa). Dengan adanya proses perawatan ini, Lion Air akan menjamin keselamatan seluruh konsumen jasanya (www.swa.co.id).
    Kepuasan pelanggan dapat dicapai melalui hasil kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan / konsumen. Pemberian pelayanan terbaik terjadi bila perusahaan mampu menjaga / meningkatkan kualitas jasa atau pelayanan yang diberikan, oleh karena itu perusahaan harus dapat terus membaca apa yang menjadi kebutuhan konsumen guna mencapai tingkat kepuasan konsumen yang tinggi.
    2. Berkaitan dengan pertanyaan (1) Kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga maskapai penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang di canangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Dalam kondisi persaingan yang cukup ketat diantara Jasa maskapai penerbangan saat ini, menuntut Perusahaan untuk menciptakan strategi baru untuk memenangkan persaingan. Aspek pelayanan merupakan key performance indicator yang penting dalam kegiatan operasional, oleh karena itu penataan seluruh mata rantai pelayanan merupakan langkah strategis dalam mempertegas komitmen Lion Air sebagai full service arline yang berorientasi terhadap kepuasan pelanggan yaitu memberikan pelayanan dari pre filght service, in flight service hingga post flight service journey. Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan meningkatkan kualitas pelayanan jasa penerbangan Lion Air akan meningkatkan penjualan, mempertahankan pelanggan dan memperluas pangsa pasar konsumen. Peningkatan kualitas pelayanan melalui bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability), ketanggapan karyawan (responsiveness), jaminan keselamatan (Assurance) dan empati (Empathy) akan meningkatkan kepercayaan konsumen Lion Air untuk tidak beralih ke maskapai penerbangan lainnya.
    Strategi yang di canangkan di atas merupakan kompetensi yang mudah untuk ditiru.
    3. Dari Jumlah sumber daya yang di miliki oleh maskapai penerbangan jelaskan sumber daya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri ?
    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti open sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula maskapai penerbangan pada saat open sky yang di maksud?
    ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
    Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
    Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.

    Rouli, bila dikatakan pelayanan seperti apa pelayanan yg disampaikan oleh Garuda kepada Penumpangnya?

    Komentar oleh Rouliharti damanik | Juli 9, 2012 | Balas

    • nama : roulyharti damanik

      Komentar oleh Rouliharti damanik | Juli 9, 2012 | Balas

  10. NAMA : MUSTIKA
    GARUDA INDONESIA

    1. Bagaimanakah masing masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing ?

    Kompetensi sangat potensial dalam menentukan daya saing, karena menjadi landasan kekuatan suatu penerbangan.

    Sampai sekarang Garuda termasuk Maskapai Penerbangan yang dominan di Indonesia, untuk penerbangan domestik. Pada dekade 80an, Garuda masih terdepan di wilayah Asia Tenggara, dibanding dengan Singapura Airlines, khususnya bila dilihat dari jumlah pesawat yang dikelola. Akan tetapi, pembenahan dan orientasi yang terlambat membuat Garuda tertinggal jauh dibanding dengan Singapore Airline sampai sekarang. Di era tahun 2000, apa yang terlihat jelas dilakukan oleh Garuda adalah pelayanan di pasar domestik. Kelihatan bahwa Garuda akan membenahi landasan di pasar domestik sambil tetap memelihara kesempatan di pasar global. Tahun 2008, Garuda memperoleh standar pelayanan terbaik di Indonesia. Artinya Garuda terdepan dalam pelayanan kepada pelanggan. Guna melanjuti perluasan bisnis, maka diterapkan strategi pertumbuhan, sehingga dicanangkanbw pada Tahun 2014 dengan mengadopsi quantum leap, diharapkan jumlah pesawat Garuda telah mencapai 120 unit
    Dari laporan Cetak Biru Transportasi Udara Direktorat Perhubungan (2005), diketahui korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan penumpang transportasi udara. Selanjutnya, diketahui kecenderungan pertumbuhan jumlah penumpang semakin menunjukkan angka yang pesat. Mengamati Tahun 1995 – 2004, setelah melewati tahun krisis diketahui bahwa pertumbuhan jjumlah penumpang berkisar 7,3 – 10 persen. Pada tahun 2004 jumlah penumpang menjcapai 11.841.373 orang. Keadaan ini terus membaik dengan meningkatnya jumlah penumpang pada Tahun 2009 mencapai 26.993.265. Ada banyak hal yang mengakibatkan peningkatan dan pertumbuhan jumlah penumpang ini yaitu: i) adanya UU yang menjamin kebebasarn membuka bisnis di bidang transportasi udara, ii) harga relatif tiket pesawat yang mengalami penurunan bilamana dibanding dengan transportasi darat, dan iii) praktitk otonomi daerah yang mendorong munculnya Maskapai Penerbangan yang dikelola oleh pemerintah daerah baik secara sendiri-sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga.
    Membenahi Kondisi Internal Tahun 2009 adalah tahun yang membangkan bagi Garuda, termasuk bagi Indonesia karena tahun itu ada pertama kali memperoleh untung dari selama ini sebagai perusahaan yang mengalami kerugian. Pada Tahun 2009 laba Garuda mencapai Rp. 1, 009 trylun, jauh meningkat bila dibanding Tahun 2008 dimana keuntungan baru pencapai Rp. 669 milyar. Keadaan ini juga ditunjukkan oleh kondisi penumpang, diman
    pada Tahun 2008 jumlah penumpang mencapai 10, 1 juta sedangakan pada Tahun 2009 10,3 juta. Kemudian dalam penjelasan korporasi diketahui bahwa Garuda mengadopsi strategi pertumbuhan, karena pasar yang terbuka luas dan dukungan sumberdaya yang besar. Kedua hal ini menjadi alasan bagi Garuda untuk memilih strategi pertumbuhan. Adapun bentuk strategi pertumbuhan yang diadopsi diartikulasikan ke dalam bentuk Quantum Leap. Slogan ini diharapklan dapat memotivasi semua sumberdaya untuk fokus kepada pertumbuhan. Sehubungan dengan itu, pada tahun 2014 jumlah diharapkan bahwa jumlah armada mencapai 2 kali lipat, dari jumlah sekarang adalah 67 unit, diharapkan pada Tahun 2014 akan menjadi 116 unit. Adapun program pembelian pesawat ini akan dimulai dari hasil penjualan saham yang direncanakan segera dilaksanakan.(http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_indonesia.

    2. Berkaitan dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti startegi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?

    Pada bulan November 2010, Garuda Indonesia menerapkan sistem baru yang disebut disebut dengan sistem kendali operasi terpadu (integrated Operasional control system/IOCS). Sistem terpadu ini menggabungkan sistem untuk memantau pergerakan pesawat,awak kabin,dan manajemen penumpang yang sebelumnya merupakan aplikasi terpisah. Tentang IOCS milik Garuda Indonesia tersebut.
    • Sistem ini merupakan gabungan sistem yang memantau pergerakan pesawat, penjadwalan awak kabin dan manajemen kabin.
    • Sistem IOCS ini berharga US$ 1,5juta (update: sebelumnya US$ 15 juta)
    • Sistem IOCS ini menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin dan 2000 penerbangan perminggu
    • Pada tanggal 19 november 2010, selama 4 jam sistem tidak bisa diakses.

    3. Dari jumlah sumber daya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan, jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalan menentukan daya saing ditengah tengah persaingan industri penerbangan ?

    Masalah dan isu pelayanan jasa penerbangan menjadi sangat krusial bagi Maskapai
    Penerbangan di Indonesia sampai sekarang karena berbagai peristiwa kecelakaan
    penerbangan. Dari catatan dan pelaporan yang dilakukan oleh direktorat Perhubungan, dalam kurun waktu 2004-2007 tercatat 4 kali kecelakaan yang fatal yangmengakibatkan kematian (korban jiwa),(http://hubud.dephub.go.id/?id+statistik+
    detail+angud). Adapun kecelakaan yang dilaporkan tidak termasuk penundaan keberangkatan karena ditemukan adanya berbagai kerusakan yang berdampak terhadap penundaaan dan pembatalan penerbangan . Berkaitan dengan ini, maka “hukuman” yang diberikan oleh Masyarakat Global adalah tindakan berupa pelarangan terbang (ban) ke wilayah tujuan Eropa. Tindakan pelarangan demikian menjadi ancaman serius karena hal ini tidak saja akan mempersempit ruang bisnis penerbangan, tetapi lebih dari itu mempengaruhi citra pelayanan jasa lainnya khususnya turisme. Pada akhirnya dampak daripada keadaan ini adalah macetnya pertubuhan ekonomi Nasional.
    Maskapai Penerbangan Garuda dengan unit bisnisnya bagaimanapun termasuk terdepan akhir-akhir ini setidaknya untuk tingkat lokal (Indonesia).
    Dari hasil pemilihan kelompok independen diketahui bahwa jasa pelayanan Garuda masih tergolong terbaik dalam hal pelayanan pelanggan. Kenyataan ini menjadikan Garuda menjadi pilihan. Selanjutnya keseriusan Garuda dalam menerapkan pelayanan dapat juga dicatat. Tahun 2008, Garuda berhasil menerima ISO dua buah dari Lembaga Independen yang bertaraf Internasional yaitu untuk Unit Cargo Garuda dan Unit Garuda Sentra Medika akan mengirim produk (barang/ jasa) yang dinilai telah memenuhi persyaratan. Walau harus dicatat bahwa salah satu tuntutan daripada Penerbangan Eropa untuk memeberikan pelayanan keselamatan oleh ME dinilai belum terpenuhi, sehingga larangan (ban) terhadap penerbangan Garuda masih menjadi kendala utama Garuda dalam melebarkan sayap secara global.
    Di era pascakrisis, bukan hanya Garuda yang berbenah diri, akan tetapi seperti peristiwa blessing in disguise, berkat setelah krisis, perkembangan Maskapai
    Penerbangan menjadi pesat, bahakan muncul bentuk Maskapai Penerbangan baru.
    Adanya UU yang membuka pintu bagi pebisnis baru untuk menjadi pelaku dalam industri penerbangan membuat persaingan semakin efektif. Pada akhirnya, persaingan membuat pelaku bisnis lain yang tidak mempunyai kekuatan, tidak berdaya saing keluar dari industri, sehingga selanjutnya industri dipenuhi oleh pendatang baru dengan segala atribut pelayanan. Salah satu akibat daripada persaingan turunnya harga tiket dan variasi harga yang dapat dinikmati oleh pembeli sesuai dengan daya beli dan kebutuhannya.

    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti open sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud ?

    Open Sky merupakan konsep kebijakan internasional yang menyerukan liberalisasi aturan dan peraturan penerbangan internasional-terutama industri penerbangan komersial-dalam rangka menciptakan lingkungan pasar bebas bagi industri penerbangan. Tujuan utama adalah:
    • Kesiapanindonesia
    Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk pemerintah Indonesia. Dalam target liberalisasi penerbangan ASEAN yang akan direalisasikan paling cepat tahun 2010 dan paling lambat 2015, disediakan fasilitas mekanisme ASEAN -X (baca : ASEAN minus X) dengan X yang berarti negara yang belum siap. Indonesia dapat masuk menjadi negara X karena ini adalah hak tiap-tiap negara anggota dan semua harus menghormati keputusan tersebut.
    Menteri Perhubungan Freddy Numberi dalam keterangan kepada pers nasional pada Desember 2009 menyatakan bahwa Indonesia adalah pihak yang dirugikan. “Singapura hanya punya 1 bandara, Malaysia punya 6 bandara, kita punya 26 bandara internasional,” tambah Menhub. Ini berarti Indonesia memiliki pintu yang banyak untuk dimasuki dengan mudah pemain-pemain asing. Jumlah bandara direncanakan akan dibatasi apalagi maskapai nasional dinilai pemerintah belum sekuat para pesaingnya.
    • Menurut Dirjen Departemen Perhubungan Udara, Herry Bakti, pemerintah segera menerbitkan keputusan menteri tentang jumlah bandara yang siap untuk open sky policy. “Mungkin 3 atau 5 bandara yang siap,” ujarnya. Yang mana bandara itu belum diketahui, tapi dua diantaranya yang pasti adalah Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Ditambahkan lagi oleh juru bicara Dephub Bambang Ervan bahwa sebelum mengikuti liberalisasi penerbangan, pemerintah akan meningkatkan daya saing perusahaan penerbangan dan kapasitas tampung bandara udara.
    Pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan Open Sky ASEAN 2015 dalam konsep Indonesia yaitu kebijakan langit terbuka yang harus dilakukan dengan memperhatikan kepentingan nasional, melakukannya secara bertahap dengan menjadi negara X untuk beberapa waktu sambil mempersiapkan diri, termasuk mempersiapkan maskapai nasional agar dapat berdaya saing tinggi.(http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/
    • Lima Bandara Ditetapkan Hadapi Asean Open Sky 2015
    Kelima bandara dipilih karena sejumlah alasan

    Pemerintah sudah menetapkan lima bandara untuk menghadapi liberalisasi penerbangan Asean 2015 (Asean Open Sky 2015), yakni Soekarno Hatta (Jakarta), Ngurah Rai (Denpasar), Juanda (Surabaya), Makassar (Hasanudin), Kualanamu (Medan). Penetapan kelima bandara tersebut sudah final.
    Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Herry Bakti Singayuda Gumay mengungkapkan, kelima bandara dipilih karena sejumlah alasan. Pertama, penerbangan internasional terakomodasi di kelima bandara, hampir semua penerbangan internasional melalui kelima bandara. Kedua, mewakili tiga wilayah Indonesia,timur,tengah,danbarat. Ketiga, kondisi infrastruktur sudah memadai. Keempat, berdekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
    “Penetapan kelima bandara sebagai bandara untuk menghadapi Asean Open Sky 2015 sudah final. Ini sudah disepakati dan menjadi komitmen Kepala Negara seluruh wilayah Asean,” ungkap dia ketika berbicara dalam Airlines Day 2012 (Indonesia Airlines Forum Series) di Balai Kartini Jakarta, hari ini.

    Herry Bakti mengungkapkan, tiap negara di Asean punya kebijakan sendiri dalam menetapkan bandara yang dibuka untuk Asean Open Sky 2015. Misalnya, Singapura hanya membuka satu bandara, Malaysia tiga bandara, dan Filipina membuka delapan bandara. Meski membuka bandaranya, masing-masing negara juga menerapkan asas cabotage untuk penerbangan domestik.
    “Begitu juga Indonesia, untuk penerbangan domestik tetap untuk maskapai domestik. Misalnya, maskapai asing terbang dari Singapura ke Surabaya, Surabaya ke Semarang harus buat maskapai domestik,” ungkap dia.
    Herry Bakti mengungkapkan, tidak ada alasan maskapai nasional tidak siap menghadapi masuknya maskapai asing ke Indonesia. Karena maskapai nasional justru bisa menjadikan Asean Open Sky 2015 sebagai peluang agar maskapai tak hanya main di domestik tapi juga di wilayah regional atau internasional.
    “Sebenarnya Asean Open Sky sudah dimulai sejak 2009, jadi sebenarnya pemerintah sudah punya road map untuk menjalankan kebijakan di wilayah Asean tersebut. Maskapai hendaknya juga punya road map yang sama. Ini adalah peluang agar maskapai bisa bermain tak hanya di domestik,” kata dia
    Sumber data (Berita satu.com)

    Komentar oleh MUSTIKA | Juli 9, 2012 | Balas

  11. 1. Bagaimanakah masing-masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya penerbangan yang di miliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensiil dalam menentukan daya saing? Kompetensi menjadi sesuatu yang potensiil bagi usaha penerbangan.
    Ditengah persaingan antar maskapai penerbangan yang semakin ketat, banyak upaya yang dilakukan maskapai-maskapai penerbangan tak terkecuali Lion Air. Sebagai salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia, Lion Air masih stabil dalam bersaing dengan maskapai penerbangan baru lainnya. Yaitu dalam mencari, menarik dan mempertahankan pelanggan untuk memuaskan pengguna jasanya, terutama melalui sisi peforma pelayanannya. Perusahaan harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama dimana pelaksanaan / kinerja jasa yang dilakukan haruslah sesuai dengan tingkat kepentingan / harapan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberikan nilai dan kepuasan kepada pelanggan melalui penyampaian produk dan jasa berkualitas.
    Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, Perusahaan Lion Air perlu melakukan penambahan fasilitas – fasilitas untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Hal ini dilakukan Lion Air agar tidak kalah dalam persaingan atas fasilitas dan pelayanan yang dilakukan maspakai penerbangan lainnya. Lion Air melayani pelanggan dari berbeda segmen, melakukan survei yang melibatkan pelanggan mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka. Misalnya: makanan, majalah, fasilitas lain. Dengan adanya fasilitas, Lion Air akan memberikan kemudahkan bagi konsumen. Untuk kemudahan pemesanan tiket, Lion Air menyediakan pemesanan tiket secara online lewat website dan sms booking. Bagi yang memesan tiket secara online, tersedia pula pembayaran secara online. Calon penumpang pun tidak perlu bersusah payah, cukup pesan dan bayar melalui satu portal di website Lion Air.
    Pada waktu-waktu tertentu, seperti saat liburan sekolah, Lion Air sering menawarkan travel promo dengan tiket murah ke kota-kota di Indonesia maupun luar negeri. Produk ini menawarkan cara mudah dan sederhana pemesanan kursi pesawat serta harga lebih terjangkau 30 persen lebih murah daripada tiket produk utama Lion Air yang dilayani Boeing 737-300/-400/-500. Mereka memilih kota tujuan tertentu juga dengan maksud agar calon penumpang dapat berkunjung ke tempat wisata yang ada di kota tersebut.
    Kota yang sering dipilih Lion Air untuk ditawarkan dalam travel promo antara lain Yogyakarta, Manado, Medan, Lombok, Bali, hingga Kuala Lumpur dan Singapura
    Lion Air sangat memperhatikan kenyamanan dan keselamatan konsumen. Hal ini dilakukan pesawat Lion Air yang menjalani proses perawatan sevara berkala dan intensif meliputi empat check secara periodik yaitu A – Check (setiap 125 ribu jam terbang), C – Check (setiap 375 ribu jam terbang), I/2D – Check (setiap 10 ribu jam terbang) dan D – Check atau Overhaul (setiap 20 ribu jam terbang). Lion Air mendapatkan dukungan fasilitas perawatan pesawat yang telah memenuhi standar yang sangat berpengaruh di dunia yaitu Federal Aviation Administration (Amerika Serikat) dan Joint Airworthiness Authorities (Eropa). Dengan adanya proses perawatan ini, Lion Air akan menjamin keselamatan seluruh konsumen jasanya (www.swa.co.id).
    Kepuasan pelanggan dapat dicapai melalui hasil kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan / konsumen. Pemberian pelayanan terbaik terjadi bila perusahaan mampu menjaga / meningkatkan kualitas jasa atau pelayanan yang diberikan, oleh karena itu perusahaan harus dapat terus membaca apa yang menjadi kebutuhan konsumen guna mencapai tingkat kepuasan konsumen yang tinggi.
    2. Berkaitan dengan pertanyaan (1) Kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga maskapai penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang di canangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Dalam kondisi persaingan yang cukup ketat diantara Jasa maskapai penerbangan saat ini, menuntut Perusahaan untuk menciptakan strategi baru untuk memenangkan persaingan. Aspek pelayanan merupakan key performance indicator yang penting dalam kegiatan operasional, oleh karena itu penataan seluruh mata rantai pelayanan merupakan langkah strategis dalam mempertegas komitmen Lion Air sebagai full service arline yang berorientasi terhadap kepuasan pelanggan yaitu memberikan pelayanan dari pre filght service, in flight service hingga post flight service journey. Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan meningkatkan kualitas pelayanan jasa penerbangan Lion Air akan meningkatkan penjualan, mempertahankan pelanggan dan memperluas pangsa pasar konsumen. Peningkatan kualitas pelayanan melalui bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability), ketanggapan karyawan (responsiveness), jaminan keselamatan (Assurance) dan empati (Empathy) akan meningkatkan kepercayaan konsumen Lion Air untuk tidak beralih ke maskapai penerbangan lainnya.
    Strategi yang di canangkan di atas merupakan kompetensi yang mudah untuk ditiru.
    3. Dari Jumlah sumber daya yang di miliki oleh maskapai penerbangan jelaskan sumber daya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri ?
    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti open sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula maskapai penerbangan pada saat open sky yang di maksud?
    ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
    Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
    Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.

    Komentar oleh Rouliharti damanik | Juli 9, 2012 | Balas

  12. KASUS MASKAPAI PENERBANGAN LION
    Nama :EDIA SATRIA, NPM :C2B0011004

    Jawaban :
    1. Bagaimana masing-masing penerbangan membangun kopentensi berkaitan dengan sumberdaya penerbangan terutama lion:
    Maskapai Lion selain mempertahankan kompetensi yang di sebutkan di dalam kasus, kopetensi yang sebaiknya di lakukan delam memembangun kopetensi yaitu dalam melakukan perbaikan di berbagai kelemahan, berinfestasi pada keunggulan dan membuat inovasi-inovasi baru yang relepan dengan kebutuhan konsumen sehingga kompetensi bisa terbangun.
    Memperbaiki kelemahan Antonim (2011) menyatakan bahwa maskapai yang tingkat ketepatan keberangkatan paling rendah dari maskapai penerbangan lainnya yaitu lion sebanyak 67% oleh sebab itu untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar dan pelangan yang royal lion harus meningkatkan ketepatan dalam penerbangan dan mencari cru yang memadai untuk melaksanakan operasionalnya secara propesional,dan meningkatkan pelayanan kepada pelangan baik itu pra ( informasi, kemudahan dalam mendapatkan tiket) penerbangan ( dalam proses penerbangan) saat penerbangan dan pasca penerbangan( memberikan petunjuk mulai dari turun sampai menuju pesawat) agar penumpang penumpang merasa nyaman walaupun penumpang membeli tiket dengan harga yang lebih murah dari maskapai penerbangan lain.
    Berinfestasi pada keunggulan, maskapai penerbangan lion di kenal dengan pencanangan armada penerbangan yang cukup memadai dengan 240 pada th 2012 ini merupakan keunggulan bagi lion dengan jumlah armada pesawat yang cukup memedai maka pesawat bisa terawat dengan baik dengan tingkat kepadatan penerbangan pesawat yang tidak terlalu tinggi sehingga pesawat dapat terawat dengan baik sehingga keamamanan dan kesalamatan penumpang bisa di tingkatkan, basamaan dengan isu kesalamatan dan kesalamatan penumpang ini merupakan peluang bagi lion untuk menarik pelanggan degan keunggulan tersebut.
    Membuat inovasi baru, maskapai penerbangan lion walaupun harga tiketnya murah tapi keamanan baik itu kondisi pisik pesawat maupun kondisi didalam pesawat dapat terkendali dengan baik selain itu maskapai penerbangan Lion harus berusaha mendapatkan pengakuan-pengakuan dari berbagai lembaga yang relevan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan terhadap keamanaan dalam proses penerbangan, minsalnya dalam bentuk sertifikat dan lain-lain.
    Kompetensi merupakan sesuatu yang potensial dalam menentukan daya saing, karena kompetensi merupakan sesutu yang di tawarkan untuk memenangkan hati pelanggan dan mendapatkan pelangan yang royal terhadap maskapai penerbangan itu sendiri, maka kompetensi sangat menentukan dalam daya saing.
    2. Kompetensi maskapai Lion yang sulit di tiru oleh penerbangan lain adalah penawaran harga tiket yang cukup murah,dengan biaya operasional yang cukup tinggi untuk operassional pesawat maskapai penerbangan lion bisa menawarkan harga tiket yang cukup murah sehingga konsumen dari kelas bawah pun bisa terjangkau dan bisa berpergian dengan pesawat, dan armada pesawat yang cukup banyak ini membutuhkan infestasi yang tidak sedikit untuk pembelian pasawat sebanyak itu.
    3. Di karenakan kondisi penduduk indonesia sebagian besar berpendapatan menengah ke bawah maka sebagian besar pula lebih mengutamakan harga tiket yang terjangkau, keselamatan penumpang dan tidak mengutamakan pelayanan sempurna maka maskapai Lion berani mengambil pasar pendududk yang menengah ke bawah meneawarkan harga tiket yang cukup murah dan terjangkau oleh masyarakat sehingga kompetensi yang paling menentukan daya saing adalah menawarkan harga tiket yang cukup murah.
    4. Open sky adalah kesepakatan dari nagara-negara anggota asean bebas malakukan rute penerbangan di wilayah asean dan maskapai penerbangan yang ikut open sky adalah semua maskapai penerbangan anggta-anggota asean.

    Komentar oleh edia satria | Juli 10, 2012 | Balas

  13. Nama : ROSMALA DEWI
    KELAS : Pagi

    GARUDA INDONESIA
    Garuda Indonesia berawal dari tahun 1940-an, di mana Indonesia masih berperang melawan Belanda. Pada saat itu, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat DC-3.
    Tanggal 26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Pada saat itu nama maskapai ini adalah Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama Seulawah atau Gunung Emas, yang diambil dari nama gunung terkenal di Aceh. Dana untuk membeli pesawat ini didapatkan dari sumbangan rakyat Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 dolar malaya yang sama dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap Belanda berakhir. Garuda Indonesia mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 dari Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), perusahaan penerbangan nasional Hindia Belanda. Garuda adalah hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dengan maskapai Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Pada awalnya, Pemerintah Indonesia memiliki 51% saham dan selama 10 tahun pertama, perusahaan ini dikelola oleh KLM. Karena paksaan nasionalis, KLM menjual sebagian dari sahamnya pada tahun 1954 ke pemerintah Indonesia.
    Pemerintah Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada 31 Maret 1950, Garuda menyumbangkan Pemerintah Burma sebuah pesawat DC-3. Pada mulanya, Garuda memiliki 27 pesawat terbang, staf terdidik, bandara dan jadwal penerbangan, sebagai kelanjutan dari KNILM. Ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan pionir lainnya di Asia.
    Pada tahun 1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat, tetapi pada tahun 1955, pesawat Catalina mereka harus pensiun. Tahun 1956 mereka membuat jalur penerbangan pertama ke Mekkah.
    Tahun 1960-an adalah saat kemajuan pesat maskapai ini. Tahun 1965 Garuda mendapat dua pesawat baru yaitu pesawat jet Convair 990 dan pesawat turboprop Lockheed L-118 Electra. Pada tahun 1961 dibuka jalur menuju Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong dan tahun 1965 tibalah era jet, dengan DC-8 mereka membuat jalur penerbangan ke Bandara Schiphol di Haarlemmermeer, Belanda, Eropa.
    Tahun 1970-an Garuda mengambil Jet kecil DC-9 dan Fokker F28 saat itu Garuda memiliki 36 pesawat F28 dan merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut. Pada saat itu, maskapai ini mulai membeli pesawat badan lebar seperti Boeing 747-200B dan McDonnell Douglas DC-10-30. Sementara pada 1980-an mengadopsi perangkat dari Airbus, seperti A300. Tahun 1990an, maskapai ini membeli Boeing 737, Boeing 747-400, Airbus A330-300, dan juga McDonnell Douglas MD-11.
    Dalam tahun 1990-an, Garuda mengalami beberapa musibah, yang terburuk adalah pada tahun 1997, dimana sebuah A300 jatuh di Sibolangit, Sumatera Utara. menewaskan seluruh penumpangnya. Maskapai ini pun mengalami periode ekonomi sulit, karena, pada tahun yang sama Indonesia terkena Krisis Finansial Asia, yang terjapada tahun 1997. Setelah itu, Garuda sama sekali tidak terbang ke Eropa maupun Amerika (meskipun beberapa rute seperti Frankfurt, London dan Amsterdam sempat dibuka kembali, namun akhirnya kembali ditutup. Rute Amsterdam ditutup tahun 2004). Tetapi, dalam tahun 2000-an ini maskapai ini telah dapat mengatasi masalah-masalah di atas dan dalam keadaan ekonomi yang bagus.

    Garuda Indonesia di bandar udara Changi, Singapura.
    Memasuki tahun 2000an, maskapai ini membentuk anak perusahaan bernama Citilink, yang menyediakan penerbangan biaya murah dari Surabaya ke kota-kota lain di Indonesia. Namun, Garuda masih saja bermasalah, selain menghadapi masalah keuangan (Pada awal hingga pertengahan 2000an, maskapai ini selalu mengalami kerugian), Beberapa peristiwa internasional (juga di Indonesia) juga memperburuk kinerja Garuda, seperti Serangan 11 September 2001, Bom Bali I dan Bom Bali II, wabah SARS, dan Bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selain itu, Garuda juga menghadapi masalah keselamatan penerbangan, terutama setelah jatuhnya sebuah Boeing 737 di Yogyakarta ketika akan mendarat. Hal ini mengakibatkan sanksi Uni Eropa yang melarang semua pesawat maskapai Indonesia menerbangi rute Eropa. Namun, setelah perbaikan besar-besaran, tahun 2010 maskapai ini diperbolehkan kembali terbang ke Eropa, setelah misi inspeksi oleh tim pimpinan Frederico Grandini[6].yaitu rute Jakarta – Amsterdam. Rute Eropa lain seperti Paris, London, dan Frankfurt juga dipertimbangkan untuk dibuka kembali, tergentung keadaan perekonomian Indonesia kelak.
    Pada 27 April 2012, CT Corp melalui PT Trans Airways membeli 10.9% saham Garuda Indonesia di harga Rp620 per lembar dengan total sebesar Rp 1,53 triliun. Harga ini lebih rendah dari harga terendah yaitu Rp395 per lembar, tapi masih dibawah harga IPO sebesar Rp750 per lembar.[7]
    Pada 2009 yang lalu[11], Garuda mulai berusaha mensejajarkan diri dengan maskapai-maskapai internasional kelas dunia seperti KLM, Air France dan Singapore Airlines, dengan memperkenalkan sistem hiburan AVOD terbaru (Audio Video on Demand) dengan televisi di setiap kursi, terutama dalam armada jarak jauh. Garuda juga memperkenalkan kursi kelas bisnis yang dapat diubah menjadi tempat tidur pada penerbangan jarak jauh.
    Kelas Eksekutif
    Pesawat A330 (seri -200 dan -300) memiliki produk kelas eksekutif baru dengan Flat-Bed seats yang memiliki ruang kaki 74″ dan dapat disandarkan hingga 180 derajat. Kursi ini memiliki sandaran tangan 11 inci,layar sentuh LCD dengan AVOD di setiap kursi, colokan laptop pribadi, dan lampu baca pribadi.
    Pesawat Boeing 747-400 dan Boeing 737 masih menggunakan kursi eksekutif lama. Boeing 747–400 memiliki ruang kaki 46″-48″ dengan panjang kursi 16″. Sementara di Boeing 737 , termasuk seri -300, -400, -500, dan seri -800 yang lebih tua memiliki ruang kaki 41″ to 44″ dengan panjang 19″. Di beberapa pesawat, tersedia TV di setiap kursi.

    Kelas Ekonomi
    Tersedia di semua pesawat. Ruang kaki terdiri dari 30″ hingga 35″ tergantung jenis pesawat, dengan panjang kursi 17″. Pesawat Airbus A330-200, Airbus A330-300 aircraft dan Boeing 737-800 yang lebih baru memiliki kursi kelas ekonomi yang lebih baru yang menawarkan layar sentuh LCD 9-inci dengan AVOD.
    Makanan dan minuman ditawarkan tergantung lamanya penerbangan. Anggur dan bir juga ditawarkan dalam penerbangan internasional.
    Pada tanggal 11 Februari 2011. Garuda memulai IPO sebagai langkah awal menuju bursa saham[12]. Pemerintah menyatakan bahwa harga saham Garuda adalah Rp.750 per saham dan mengurangi penawaran saham dari 9.362 lembar ke 6.3 lembar saham. Garuda Indonesia memutuskan mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia.
    Beberapa Insiden yang terjadi pada maskapai Garuda Indonesia antara lain adalah:
    • 6 Maret 1979 – Garuda Indonesia Penerbangan 553 menabrak lereng Gunung Bromo di ketinggian 6.200 kaki menewaskan keempat awaknya.
    • 11 Juli 1979 – Fokker F-28 Garuda Indonesia menabrak lereng Gunung Pertektekan menewaskan 57 penumpang beserta 4 orang awaknya.
    • 20 Maret 1982 – Fokker F-28 Garuda Indonesia terperosok setelah mendarat di Bandara Branti, Lampung menewaskan 23 penumpang beserta 4 orang awaknya.
    • 17 Juni 1996 -McDonnell Douglas DC-10 Garuda Indonesia Penerbangan 865, pesawat terbakar setelah overrun akibat aborting take off oleh penerbangnya di Bandar Udara Fukuoka, Jepang saat akan take off menuju Jakarta, Indonesia.Kejadian ini disebabkan kerusakan yang terjadi pada satu mesinnya sehingga pilot harus membatalkan lepas landas. 3 dari 275 penumpang tewas.
    • 26 September 1997 – Garuda Indonesia Penerbangan 152 jatuh di Desa Buah Nabar, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 222 penumpang dan 12 awak pesawat. Kecelakaan ini merupakan yang terburuk di sejarah penerbangan Indonesia.
    • 17 Januari 2002 – Garuda Indonesia Penerbangan 421 mendarat darurat di Bengawan Solo menewaskan 1 awak pesawat.
    • 22 November 2004 – Sri Hardono, kapten Garuda Indonesia Penerbangan 501, sebuah Boeing 737-500 mendadak sakit tak lama setelah lepas landas dari Bandar Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Ia lalu meminta izin kepada pengawas lalu lintas udara {ATC) untuk kembali mendarat di Supadio, Hardono meninggal tak lama setelah mendarat ketika masih di kokpit. Penyebab kematiannya adalah serangan jantung. Karena insiden ini, bandara ditutup selama 40 menit, Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini[20].
    • 7 Maret 2007 – Garuda Indonesia Penerbangan 200 meluncur keluar landasan (overrun),terbakar dan meledak sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Sedikitnya 22 orang meninggal dunia. Pesawat tersebut membawa penumpang sebanyak 133 orang dan 7 awak. Kecelakaan ini disebabkan oleh kesalahan pilot.
    Masalah Sistem IOCS Garuda Indonesia
    Pada bulan November 2010, Garuda Indonesia menerapkan sistem baru yang disebut dengan sistem kendali operasi terpadu (Integrated Operasional Control System/IOCS). Sistem terpadu ini menggabungkan sistem untuk memantau pergerakan pesawat, awak kabin, dan manajemen penumpang yang sebelumnya merupakan aplikasi terpisah. Tentang IOCS milik Garuda Indonesia tersebut:
    • Sistem ini merupakan gabungan sistem yang memantau pergerakan pesawat, penjadwalan awak kabin, dan manajemen penumpang
    • Sistem IOCS ini berharga US$ 1.5 juta (update: sebelumnya tertulis US$15 juta)
    • Sistem IOCS ini menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin and 2000 penerbangan per minggu
    • Pada tanggal 19 November 2010, selama 4 jam sistem tidak bisa diakses
    Kondisi selama sistem IOCS tersebut gagal berjalan karena:
    • Jadwal kru pesawat yang kacau, jadwal pilot yang bertabrakan, sampai-sampai ada pilot yang sedang sakit mendapat jadwal menerbangkan pesawat
    • Pada tanggal 21 November 2010, terjadi delay masal penerbangan Garuda
    • Pada tanggal 22 November 2010, penerbangan ke Medan, Batam, Pangkal Pinang and Padang dibatalkan
    • Pada tanggal 23 November 2010, sejumlah 13 jadwal penerbangan dibatalkan
    • Pemesanan tiket ditutup dari tanggal 22-24 November 2010
    • 5000 jemaah haji terlantar di Arab Saudi. Menurut Direktur Operasi Garuda, keterlambatan disebabkan terbatasnya pintu keberangkatan di bandara
    Kemudian pada tanggal 25 November 2010, penerbangan kembali normal.
    Garuda Indonesia telah melayani kepulauan Indonesia dan di luar selama 60 tahun. Untuk jaringan rute domestik dan internasional menghubungkan Indonesia ke Australia, Asia Tenggara, Cina, Korea, Jepang dan Timur Tengah. Garuda Indonesia melayani 44 tujuan dengan lebih dari 1800 penerbangan mingguan.
    Garuda In-Flight Magazine memiliki oplah 60.000 eksemplar dan didistribusikan pada seluruh penerbangan Garuda Indonesia. Hal ini diterbitkan sebagai media on-board eksklusif dengan cerita perjalanan menarik di tujuan di seluruh nusantara, fitur, wawancara dengan orang Indonesia terkenal dan artikel gaya hidup pada anggur dan fine dining, belanja, fashion dan keindahan, budaya dan seni.
    Garuda In-Flight Magazine memiliki lebih dari 900.000 pembaca per bulan, termasuk A dan A + pengusaha / wanita, profesi, pengusaha, dan wisatawan kelas atas.
    Garuda pesawat terbang Majalah ini diterbitkan di bawah lisensi untuk Garuda Indonesia oleh PT Indo Multi Media
    Sirkulasi dan Distribusi Sebanyak 60.000 eksemplar Garuda In-Flight Magazine – Inggris / Versi Indonesia dan 30.000 eksemplar Garuda In-Flight Magazine Versi Jepang dan Mawaddah (Arab) didistribusikan gratis pada setiap bulan, sebagai berikut:
    1. Semua penerbangan Garuda Indonesia ke 44 tujuan (internasional dan domestik)
    2. Garuda Indonesia Executive Lounge di Bandara seluruh Indonesia
    3. Semua pemegang Kartu Platinum Garuda Frequent Flyer Program
    Didirikan pada tahun 1992, Indo Multi Media (IMM) adalah salah satu penerbitan terkemuka bahasa Inggris di Indonesia dan grup media pemasaran dioperasikan dengan saran dari penasehat teknis asing yang berpengalaman dan konsultan.
    Tujuan IMM adalah untuk menjadi penyedia terkemuka kualitas pelayanan media komunikasi cetak & penerbitan elektronik, jasa kreatif dan branding, konsultasi dan pelaksanaan melalui acara, promosi & pameran.
    Struktur kelompok adalah sebagai berikut:
    • Indo Manca Media menerbitkan Jakarta JAVA KINI serta Jakarta Java Dining, Jakarta Expat Directory dan Seri Peta Jakarta, Banten, Bandung & Jawa Barat; Yogyakarta & Jawa Tengah; Surabaya & Jawa Timur; Peta Golf, Peta Hiburan Jakarta dan lainnya terkait majalah Jakarta & Java.
    • Media Wisata Dewata yang mempublikasikan lengan IMM di Bali dan menerbitkan Hello Bali, Bali Dining, Bali Tourism Board’s Map Series dan lainnya yang terkait Bali.
    (Sumber: http://www.wikipedia.com)

    LION AIR
    Perjalanan panjang yang telah ditempuh Lion Air berawal dari penerbangan domestik yang kecil. Setelah 13 tahun pengalaman di bisnis wisata yang ditandai dengan kesuksesan biro perjalanan Lion Tours, kakak-beradik Kusnan dan Rusdi Kirana bertekad menjadikan impian mereka untuk memiliki usaha penerbangan menjadi kenyataan. Dibekali ambisi yang tinggi dan modal awal 10 juta dolar Amerika Serikat, Lion Air secara hukum didirikan pada bulan Oktober tahun 1999. Namun pengoperasian baru berjalan di mulai pada tanggal 30 Juni tahun 2000, dengan menggunakan sebuah pesawat Boeing 737-200. Saat ini, Rusdi Kirana sebagai salah satu pemilik Lion Air memegang jabatan sebagai Presiden dan juga Direktur.
    Hingga pertengahan 2005, bersama dengan penerbangan internasional lainnya, Lion Air menempati Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta; sedangkan perusahaan penerbangan lokal atau penerbangan domestik menempati Terminal Satu. Faktor tersebut, selain mampu memberikan para penumpang kemudahan penerbangan sambungan ke Indonesia atau dari Indonesia ke tujuan internasional lainnya, juga memberikan keuntungan lebih dari segi prestise. Tetapi kemudian Lion Air dipindahkan ke Terminal 1A dan penerbangan ke Pulau Sumatera,Batam,Pangkalpinang,dan Palangkaraya dioperasikan di terminal 1B (mulai 11 Oktober 2010)hingga saat ini.Sedangkan semua penerbangan internasional Lion Air dilayani dari terminal 2E.
    Pada 2005, Lion Air memiliki 24 pesawat penerbangan yang terdiri dari 19 seri McDonnell Douglas MD-82 dan 5 pesawat DHC-8-301. Untuk memenuhi layanan yang rendah biaya, Armada Lion Air didominasi oleh MD-80 karena efisiensi dan kenyamanannya. Dalam upaya meremajakan armadanya, Lion Air telah memesan 178 Boeing 737-900ER yang akan diantar bertahap dari 2007 hingga 2014. Lion Air berencana bersaing baik dengan Garuda Indonesia maupun Saudi Arabian Airlines untuk menerbangi rute-rute umroh bahkan haji dengan pesawat Boeing 747-400. 2 (dua) Pesawat Boeing 747-400 sudah masuk dalam armadanya.
    Lion Air Kini
    Pada Tahun 2011 disela-sela ASEAN Summit di Nusa Dua,Bali tanggal 18 November 2011 Lion Air mengumumkan bahwa memesan 201 Pesawat Boeing 737 MAX dan 29 Pesawat Boeing 737-900ER. Pemesanan ini sekaligus mengalahkan rekor dalam hal jumlah pemesanan pesawat yang sebelumnya dipegang Maskapai Emirates.
    Kasus-kasus yang menimpa Lion Air
    Bulan Januari 2012, terungkap bahwa beberapa pilot dan kru Lion Air menggunakan narkoba jenis sabu-sabu. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara langsung mencabut lisensi kru-kru dan pilot yang terlibat. awal 2011 seorang kru kabin ditangkap Polda Metro Jaya karena kedapatan memiliki sabu-sabu, Kemudian pada akhir tahun 2011, Muhammad Nasri, seorang ko-pilot dan 2 ko-pilot lainnya ditangkap dalam sebuah pesta narkoba di Tangerang, dan pada awal 2012 seorang pilot lain berinisial HA ditangkap Makassar dalam kasus yang sama.[2]
    Pada 4 Februari 2012 lalu, pukul 3 dini hari WIB, seorang pilot Lion lain berinisial SS ditangkap karena kedapatan menggunakan sabu-sabu, meskipun ia harus bertugas dalam penerbangan Surabaya-Makassar-Balikpapan-Surabaya pada pukul 06:00 WIB. 3 pilot lain yang menemaninya bermain kartu tidak terbukti memakai narkoba, karena hasil tes urinnya negatif.
    Insiden yang menimpa Lion Air
    • 14 Januari 2002, Lion Air Penerbangan 386 PK-LID, Boeing 737-200 rute Jakarta-Pekanbaru-Batam gagal mengudara (take off) dan terjerembab setelah lebih dari lima meter badan pesawat meninggalkan landasan pacu di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Tujuh orang penumpangnya luka-luka dan patah tulang.
    • 31 Oktober 2003, Lion Air Penerbangan 787, MD-82 rute Ambon-Makassar-Denpasar, keluar jalur saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.
    • 3 Juli 2004, Lion Air Penerbangan 332, MD-82 rute Jakarta-Palembang mendarat tidak sempurna di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.
    • 30 November 2004, Lion Air Penerbangan 538 PK-LMN, MD-82 rute Jakarta-Solo-Surabaya tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Adisumarmo, Solo. 26 orang penumpangnya tewas.
    • 10 Januari 2005, Lion Air Penerbangan 789, MD-82 gagal take off di Bandara Wolter Monginsidi, Kendari akibat salah satu bannya kempes.
    • 3 Februari 2005, Lion Air Penerbangan 791, MD-82 rute Ambon-Makassar tergelincir saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.
    • 12 Februari 2005, Lion Air Penerbangan 1641, MD-82 rute Mataram-Surabaya ketika akan take off di Bandara Selaparang, Mataram. Roda bagian depan tergelincir keluar landasan, sekitar setengah meter di sebelah utara dari pinggir landasan pacu.
    • 6 Mei 2005, Lion Air Penerbangan 778, MD-82 rute Jakarta-Makassar pecah ban saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar. Akibatnya, pilot terpaksa menghentikan pesawat di landasan pacu sebelum mencapai lapangan parkir.
    • 24 Desember 2005, Lion Air Penerbangan 792, MD-82 rute Jakarta-Makassar-Gorontalo tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
    • 18 Januari 2006, Lion Air Penerbangan 778, MD-82 rute Ambon-Makassar-Surabaya tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
    • 4 Maret 2006, Lion Air penerbangan 8987, MD-82 rute Denpasar-Surabaya tergelincir saat mendarat di Bandara Juanda, Surabaya karena cuaca buruk.
    • 7 April 2006, Lion Air Penerbangan 391, MD-82 rute Pekanbaru-Jakarta batal lepas landas karena gangguan pada roda kiri di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Pesawat itu tak jadi lepas landas karena roda kirinya tiba-tiba tak bergerak walaupun sudah bergerak dari apron menuju ujung landasan dan siap terbang.
    • 24 Desember 2006, Lion Air Penerbangan 792,PK-LIJ Boeing 737-400 rute Jakarta-Makassar-Gorontalo tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
    • 19 Maret 2007, Lion Air Penerbangan 311, MD-82 rute Banjarmasin-Surabaya batal lepas landas walaupun sempat meluncur di landasan pacu Bandar Udara Sjamsudin Noor, Banjarmasin.
    • 23 Februari 2009, Lion Air Penerbangan 972 PK-LIO, MD-90 rute Medan-Batam-Surabaya mendarat darurat di Bandara Hang Nadim Batam akibat macetnya roda depan. Semua penumpang selamat. [1]
    • 9 Mei 2009, MD-90 Lion Air PK-LIL tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta
    • 3 November 2010, Lion Air Penerbangan 712 ,PK-LIQ Boeing 737-400 rute Jakarta-Pontianak-Jakarta tergelincir di Bandara Supadio Pontianak.
    • 14 Februari 2011, Lion Air Penerbangan 598, Boeing 737-900ER rute Jakarta-Pekanbaru tergelincir saat mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekan Baru.Semua Penumpang Selamat namun hal itu di tanggapi oleh Dirjen Perhubungan Darat dengan menyatakan bahwa semua pesawat jenis Boeing 737-900ER Dilarang Mendarat di Kota Pekanbaru apabila landasan basah. Lion Air memutuskan menggunakan pesawat Boeing 737-400 untuk melayani rute tersebut (Hal ini kemungkinan akan menunda niat Lion Air untuk memensiunkan Boeing 737-400)
    • 15 Februari 2011, Lion Air tujuan Medan-Pekanbaru-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 0295 berjenis Boeing 737-900 ER tergelincir di Pekanbaru pada pukul 17.00 WIB. Seluruh roda pesawat keluar dari lintasan bandara. . Seluruh penumpang tidak mengalami luka-luka.
    • Pada 17 February 2011 sebuah Lion Air Boeing 737-900 ER (pesawat yang sama yang tergelincir di Pekanbaru 2 hari sebelumnya) sedang didorong oleh traktor di bandara Jakarta dan tanpa sengaja mengarah ke pesawat Lion lainnya. Pesawat mengalami kerusakan pada stabilizer bagian belakang. Tidak ada laporan korban luka.
    • Pada tanggal 23 Oktober 2011, Lion Air JT 673 tergelincir di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur sekitar pukul 07.24 Wita.
    1.Bagaimanakah masing-masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumber daya penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?
    Upaya Dinas Corporate Communications PT Garuda Indonesia Dalam Menghadapi Situasi Krisis. Krisis menurut Soemirat dan Ardianto: 2005 merupakan masa gawat atau saat genting, dimana situasi tersebut merupakan titik baik atau sebaliknya. Krisis merupakan salah satu momok yang cukup menakutkan bagi sebagian besar perusahaan. Terlebih lagi apabila krisis itu menimpa sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa. Krisis memiliki korelasi positif dengan brand image suatu perusahaan. Saat krisis merupakan keadaan yang vital bagi perusahaan.Kesalahan dalam menangani krisis akan memberikan dampak negatif yang lebih jauh. Tetapi tidak selamanya suatu krisis memberikan dampak negatif. Suatu krisis apabila ditangani secara benar, baik dan penuh terencana akan memberikan sesuatu yang menguntungkan bagi perusahaan. Dalam kondisi krisis Public Relations adalah pihak yang paling berwenang untuk mengelola krisis. Hal ini karena mereka adalah sebuah unit kerja yang berhubungan langsung dengan publik perusahaan. Idialnya Public Relation Officer harus mampu mengubah sebuah situasi krisis menjadi titik balik perusahaan. Pada hakekatnya Public Relations dan pubic affairs yang dalam hal ini adalah Dinas Corporate Communications PT Garuda Indonesia adalah kegiatan mengantisipasi,berusaha melihat kejadian apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kegiatan melihat ke masa depan akan melatih para eksekutif untuk memikirkan hal-hal yang “tidak dipikirkan” dan kondisi krisis. Krisismenciptakan perusahaan dalam posisi menjadi perhatian masyarakat sehingga mempertanyakan kompetensi manajemen perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus berkomunikasi dengan cepat, akurat dan terampil dengan beberapakelompok penting seperti karyawan, media dan pemegang saham. dalam dunia usaha jasa khususnya tranportasi kepercayaan masyarakat harus dijaga sebaik mungkin. Kepercayaan masyarakat adalah nayawa mereka.Public Relations Officer harus mampu mengelola pesan yang baik untuk menciptakan citra (image) positif perusahaanya dimata masyarakat. Emergency Response Plan (EPR) Sebagai Solusi Garuda DalamMenghadapi Situasi Krisis Krisis bisa menimpa setiap perusahaan. Setiap perusahaan harus siap untuk jika menghadapi situasi krisis. Bersikap reaktif bukan merupakan solusi yang baik. Setiap perusahaan harus memiliki formulasi yang terencana dan teruji untuk menghadapi sebuah situasi krisis. Perusahaan penerbangan memiliki resiko krisis yang lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan lain. GarudaIndonesia memiliki Emergency Response Plan (EPR) sebagai langkah antisipasi jika menghadapi situasi krisis. Krisis ini bisa disebabkan oleh permasalahan internal maupun permasalahan eksternal. Permasalan internal ini bisa berupa ketidakpuasankaryawan akan kebijaksanaan manajemen ataupun karena kurang kompetenyamanajemen dalam melaksanakan tugasnya. Namun krisis yang paling berbahaya adalah jika krisis itu ditimbulkan karena dari faktor eksternal.
    Ya,Kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing. Dalam konteks menjalankan strategi, yang menjamin strategi berjalan tidak cukup dengan kumpulan orang-orang pintar (individu) akan tetapi juga harus dipandu dengan kompetensi manajemen sehingga mampu menciptakan kompetensi organisasi. Kompetensi dalam satu organisasi harus dilihat sebagai bagian daripada strategi, perusahaan yang menerapkan strategi pertumbuhan misalnya akan membutuhkan sumberdaya manusia yang proaktif dan mau bersaing. Oleh karena itu, agaimanapun strategi tetap dimaksudkan untuk mewujudkan strategi, menepatkan posisi perusahaan di pasar, merebut pelanggan sehingga mampu memberikan nilai tambah kepada perusahaan.Selanjutnya dapat disipulkan bahwa satu organisasi ataupun korporasi harus mendasarkan outputnya atau kompetensi yang bisa dilakukan. Pendekatan ini dikenal sebagai corporate output-based competencies. Dalam kaitan ini, maka kompetensi dimaksukan sebagai upaya memperoleh keunggulan di tengah-tengah persaingan yang terjadi. Sehingga pertanyaan yang harus diajukan adalah: 1) apa yang harus dilakukan untuk melaksanakan strategi, membuat strategi menjadi opersional dan 2) seberap baik kinerja yang diperoleh.
    2. Berkaitan dengan pertanyaan diatas komptensi apakah yang sulit ditiru sehingga maskapai penerbangan lain sulit mengikut strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang ana jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    kompetensi adalah kemampuan perusahaan untuk mengekploitasi sumberdaya yang berbeda, dengan menggunakan berbagai proses organisasi untuk mencapai hasil yang diinginkan (Grant, 1991; Amit and Schoemaker, 1993). Dimana Helfat and Peteraf (2002) mendefinisikan sumberdaya sebagai aset atau input untuk melakukan kegiatan produksi baik berwujud maupun tidak berwujud yang dimiliki dan dikendalikan oleh perusahaan atau memiliki akses ke barang semi-permanen lain. Sedangkan Wheelen and Hunger (2002:81) mendefinisikan sumberdaya sebagai aset, kompetensi, proses, keahlian atau pengetahuan yang dikendalikan oleh perusahaan. Capron and Hulland (1999) mendefinisikan sumberdaya sebagai sejumlah pengetahuan, aset fisik, manusia, dan faktor-faktor berwujud dan tidak berwujud lainnya yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, yang memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan secara efektif dan efisien penawaran pasar yang bernilai untuk beberapa segmen pasar. Sumberdaya, menurut Barney (1991) meliputi semua aset seperti keahlian, proses organisasi, atribut, informasi dan pengetahuan yang dikuasai oleh perusahaan dan yang menyebabkan perusahaan dapat menyusun dan mengimplementasikan strategi yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Dan Sumber daya manusia adalah komptensi asset yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun. Sumber daya ini sangat sulit untuk ditiru karna tiap-tiap inidividu mempunyai keunikan kompetensi tersendiri.
    3. Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh maskapai Penerbangan, Jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing ditengah-tengah persaingan industry penerbangan?
    Yang paling menentukan adalah Sumber Daya Manusia itu sendiri yang meliputi pelayanan kepada konsumen,kompetensi dll. Karna maskapai penerbangan bergerak dibidang Industri Perusahaan jasa. Pengetian Jasa, Jasa adalah semua tindakan atau kegiatan yang dapat tawarkan oleh satu pihak kepada pihak lainnya yang tidak berwujud dan tidak menyebabkan kepemilikan apapun. Beberapa hal berikut merupakan karakteristik dari jasa, yaitu intangible atau tidak terlihat. Tidak terpisahkan, antara jasa yang disediakan dengan penyedia jasa. Kemudian bervariasi, dalam hal ini adalah standar nilai dari suatu jasa terhadap pelanggan adalah berbeda-beda. Dan yang terakhir adalah Mudah lenyap, karena jasa hanya ada ketika proses transaksi antara penyedia jasa dan pelanggan berlangsung. Setelah itu jasa akan hilang. Berbeda halnya dengan produk yang dapat dimiliki setelah transaksi terjadi.
    Kualitas jasa atau layanan merupakan tingkat kesenjangan antara harapan atau keinginan pelanggan dengan persepsi atau performansi yang telah mereka rasakan.
    Sifat dan klasifikasi Jasa Penawaran jasa dibedakan dalam lima kategori, yaitu :
    1. Penawaran barang berwujud murni, contohnya adalah sabun, shampo.
    2. Penawaran barang berwujud disertai jasa, contohnya penjualan produk komputer dimana pelanggan membutuhkan instaasi atau servis komputer yang sudah dibelinya.
    3. Campuran, dimana porsi antara produk dan jasanya seimbang, contohnya adalah penawaran makan direstaurant dimana pelanggan memesan makan disertai dengan kebutuhan pelayanan yang memuaskan.
    4. Jasa Utama disertai barang tambahan, contohnya adalah perusahaan jasa travel yang menjual jasa transportasi disertai produk tambahan misalnya makanan yag disajikan dengan merek tertentu.
    5. Penawaran Jasa murni, contoh yang sering ditemui adalah pelayanan jasa cukur rambut ( salon kecantikan ).
    Selain itu Jasa dapat dibedakan dalam empat kategori. pertama berbasis orang/peralatan, contohnya adalah jasa pencucian mobil yang menggunakan tenaga orang juga mesin. Kedua adalah jasa yang menghadirkan klien, dalam arti bahwa penjualan jasa tidak dapat dilakukan tanpa kehadiran klien, misalnya saja jasa cukur rambut. ketiga adalah jasa yang memiliki porsi berbeda-beda dalam penjualannya sesuai dengan kebutuhan, contohnya adalah akan brbeda pelayanan antara dokter pribadi dan dokter umum ditinjau dari kekhususan pelayanannya. Dan yang terakhir adalah Jasa yang berbeda dalam tujuan dan kepemilikannya.
    Strategi Pemasaran Perusahan Jasa salah satunya dapat dilihat dari bauran pemasaran yaitu product, price, place atau distribution dan promotion sangat membantu dalam pemasaran suatu produk. Namun dalam pemasaran jasa yang sebagian besar berhubngan langsung dengan manusia sehingga membuat perbedaan atas hasil kepuasan pelanggan. Untuk itu pemasaran jasa perlu memperhatikan unsur lainnya yaitu people, physical evidence dan process.
    Pelayanan yang baik dari penyedia jasa ( people ) akan membentuk suatu physical evidence pada pelanggan akibat process pemberian jasa yang dilakukan sangat baik. Dari physical evidence yang telah terbentuk memungkinkan untuk peningkatan jumlah pelanggan yang ingin menggunakan jasa layanan yang sama. Mengelola Mutu Jasa Terdapat suatu strategi yang dapat ditempuh dalam memenangkan persaingan dengan pesaing usaha yaitu dengan cara menyampaikan layanan yang bermutu tinggi secara konsisten dibanding para pesaing dan lebih tinggi daripada harapan pelanggan. Untuk menghindari kegagalan dalam penyampaian jasa, perlu diperhatikan kesenjangan-kesenjangan yang mungkin terjadi, diantaranya sebagai berikut :
    1. Kesenjangan terjadi antara harapan konsumen dan persepsi manajemen. Contoh, manajemen rumah sakit menganggap pasien menginginkan menu makanan yang disajikan enak, padahal pasien menginginkan pelayanan perawat yang baik.
    2. Kesenjangan terjadi antara persepsi manajemen dan spesifikasi mutu jasa.
    3. Kesenjangan terjadi antara spesifikasi mutu dengan cara penyampaian jasa
    4. Kesenjangan terjadi antara penyampaian jasa dan komunikasi internal.
    5. Kesenjangan yang terjadi antara jasa yng dialami dengan jasa yang diharapkan (persepsi konsumen).
    Selain kesenjangan ternyata perubahan faktor lingkungan juga mempengaruhi perkembangan sektor jasa. antara lain adalah:konsumen, pesaing, teknologi-inovasi, globalisasi, ekonomi, pemerintah dan sosial budaya. Diantara faktor lingkungan tersebut, maka perkembangan teknologi (informasi dan komunikasi) oleh banyak kalangan dikatakan sebagai faktor lingkungan yang paling banyak mempengaruhi sektor jasa. Teknologi ini sangat membantu sektor jasa untuk mengelola bisnisnya secara efisien sesuai dengan semangat cost cutting. Selain itu meningkatnya sektor jasa juga dipicu beberapa faktor pendorong yaitu: meningkatnya tuntutan konsumen terhadap kualitas, pengurangan biaya, pelayanan jasa, konsumen internal, peningkatan produksi dan berkembangnya organisasi Nirlaba.
    Perkembangan sektor jasa kedepan akan menunjukkan pertumbuhan signifikan karena adanya perkembangan teknologi internet, digitalisasi dan komunikasi sehingga jarak bukan merupakan kendala karena komunikasi dan informasi dapat dijalin melalui click mouse.
    A. Definisi Pemasaran Jasa
    Jasa yang berbeda dengan good (produk) karena secara kasat mata tidak dapat dilihat menimbulkan berbagai permasalahan dalam mengembangkan strategi pemasaran. Seperti yang dikemukakan oleh Kotler bahwa jasa merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Ada enam karakteristik jasa yang perlu diperhatikan oleh penyedia jasa yaitu intangibility (tidak nampak), Perishability (tidak dapat disimpan), Heteroginity (bervariasi), inseparability (tidak dapat dipisahkan antara produksi dan konsumsi), people based (sangat tergantung pada kinerja karyawan) dan contact customer (hubungan dengan konsumen secara langsung).
    Karakteristik unik yang dimiliki oleh jasa memiliki esensi utama yaitu perlunya keterlibatan secara langsung karyawan dalam delivery process, sehingga karyawan menjadi ujung tombak keberhasilan jasa. Tetapi dengan perkembangan teknologi ketergantungan terhadap karyawan dapat dieliminasi dan direct customer contact yang sangat costly dapat dikurangi. Misalnya: bisnis perbankan pada saat ini menggunakan ATM (Anjungan Tunai Mandiri) untuk membantu konsumen melakukan self service berbagai keperluan yang berkaitan dengan keuangan mereka.
    Keputusan konsumen memilih atau membeli jasa sangat tergantung pada bagaimana penyedia jasa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam setiap tahapan proses keputusan konsumen. Proses keputusan konsumen tidaklah sesederhana yang dibayangkan, tetapi melalui berbagai tahapan yang dimulai dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan keputusan sesudah pembelian.
    Perilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh faktor budaya. Penyesuaian terhadap budaya ini menjadi sangat penting karena munculnya peluang pasar di era globalisasi. Untuk ini penyedia jasa harus memperhatikan dan mulai melakukan penyesuaian terhadap perbedaan budaya across border market
    Segmentasi dan Target Pasar.
    Treat as individual, not as a number, itu merupakan kata hati pelanggan dimanapun. Dengan kata lain perlakukan konsumen dengan cara baik dan benar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Jika itu dapat dilakukan penyedia jasa maka hati pelanggan akan menjadi terpikat, maka profit dan keuntungan tinggal soal waktu. vJika demikian maka penyedia jasa harus mulai memperhatikan arti penting segmentasi dalam upaya memikat hati konsumen melalui pemenuhan kebutuhan secara baik. Untuk memperkuat segmentasi pasar, perlu dilakukan targeting untuk dapat membidik kelompok konsumen yang lebih spesifik.
    Banyak perusahaan jasa mengenalkan satu atau beberapa diferensiasi namun gagal karena positioningnya kurang kuat. Oleh karena itu perusahaan jasa perlu mengembangkan satu positioning yang membedakan tawarannya (offering) kepada pasarnya.
    Memahami harapan konsumen menjadi salah satu kunci keberhasilan bagi penyedia jasa. Harapan sering dinyatakan sebagai titik acuan (point of reference) Perbandingan antara apa yang dirasakan dengan yang diharapkan. Jika harapan tidak sesuai, maka konsumen akan kecewa dan kemungkinan pindah ke produk jasa pesaing. Sampai dimana perusahaan dapat memenuhi harapan pelanggan akan berpengaruh terhadap persepsi kualitas jasa. Oleh karena sangat penting artinya bagi perusahaan untuk mengetahui harapan pelanggan dalam penyampaian pelayanan berkualitas.
    Harapan konsumen terdiri dari dua tingkatan yaitu harapan tertinggi (desired service) dan harapan minimum (adequacy service). Di antara tingkatan itu ada zona toleransi yaitu konsumen mau menerima variasi dan heteoginitas produk jasa.
    Persepsi Pelanggan Terhadap Jasa vAspek intangibility yang menyebabkan produk jasa hanya dapat dirasakan telah menyebabkan kualitas pelayanan (service quality) sangat menentukan. Keunggulan suatu produk jasa tergantung keunikan serta kualitas yang diperlihatkan oleh jasa tersebut, Jasa secara spesifikasi harus market oriented serta memperhatikan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Untuk mengukur seberapa jauh konsumen dapat merasakan kualitas jasa maka Parasuraman dan Zeithalm, mengemukakan 5 dimensi yaitu reliability, assurance, empati, tangible dan responsiveness.
    Peningkatan Kualitas Jasa Melalui Sistem Informasi Pelanggan-Riset Pemasaran
    Sistem informasi kualitas pelayanan membantu perusahaan meningkatkan penyampaian kualitas jasa yang optimal. Sistem ini membantu memperbaiki pelayanan dalam organisasi sangat komplek, melibatkan pengetahuan tentang apa yang dilakukan pada banyak bidang seperti tekhnologi, sistem pelayanan, seleksi pegawai, training dan pelatihan, dan sistem penggajian.
    Dengan mengembangkan sistem informasi kualitas pelayanan yang efektif maka perusahaan dapat memperoleh manfaat yaitu: mendorong dan memungkinkan manajemen untuk menyatukan suara-suara konsumen dalam membuat keputusan; menemukan prioritas pelayanan konsumen, mengidentifikasikan prioritas perbaikan pelayanan dan memberikan pedoman dalam mengambil keputusan alokasi sumber daya; memperhatikan pengaruh dari langkah awal kualitas pelayanan dan investas dan menawarkan pekerjaan berdasarkan data untuk pelayanan utama yang baik dan pelayanan sederhana yang benar.

    Produk Jasa
    Konsep produk jasa harus dilihat sebagai suatu bundle of activities antara produk jasa inti dan jasa-jasa pendukung, untuk dapat menghasilkan total offering secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen. Dengan mengembangkan jasa-jasa pendukung suatu produk jasa akan mempunyai keunggulan bersaing sebagai senjata untuk survive.
    Selain itu penyedia jasa dapat memilih alternatif strategi produk jasa yaitu: melakukan penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk jasa dan diverifikasi. Strategi mana yang dipilih sangat tergantung pada situasi masing-masing perusahaan. Bagi penyedia jasa yang akan melakukan diversifikasi harus memanfaatkan teknologi dan melakukan inovasi, sehingga dapat menghasilkan produk jasa yang mampu memberikan solusi bagi pelanggan.

    Strategi Harga Jasa
    Penentuan harga produk jasa harus melihat dari perspektif konsumen dan pasar, yaitu dengan melihat 3 (tiga) komponen yang dapat menjadi pertimbangan yaitu biaya, nilai dan kompetisi. Penentuan produk jasa dapat dikaitkan dengan konsep net value, semakin besar manfaat yang dirasakan dibanding biaya yang dikeluarkan akan dinilai konsumen sebagai positif value.
    Ada 3 (tiga) faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga yaitu persaingan, elastisitas dan struktur biaya. Penyedia jasa dapat memilih banyak alternatif dalam menentukan harga yang tepat sesuai dengan produk jasa yang ditawarkan.

    Promosi dan Edukasi
    Promosi pemasaran berperan bagi perusahaan jasa tidak hanya sekedar memberikan informasi penting mengenai produk jasa yang ditawarkan perusahaan, tetapi juga sangat bermanfaat untuk mempengaruhi dan membujuk konsumen untuk membeli jasa perusahaan dibanding pesaing. Untuk melakukan kegiatan promosi ini dengan optimal perusahaan jasa dapat menggunakan bauran promosi yang terdiri dari periklanan (advertising), Penjualan Langsung (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), PR (public relation), informasi dari mulut ke mulut (word of mouth), Pemasaran Langsung (direct marketing), dan publikasi.

    Perantara Pemasaran
    Salah satu faktor penentu keberhasilan perusahaan jasa adalah bagaimana delivery proses produk jasanya dapat berjalan secara efektif. Peran perantara dalam hal ini menjadi penting tidak hanya berkaitan dengan keputusan pemilihan channel (saluran) yang digunakan tetapi juga keputusan mengenai pemilihan lokasi dimana perusahaan harus beroperasi.
    Dalam penentuan lokasi ada tiga pertimbangan penting yang harus diperhatikan perusahaan jasa yaitu: konsumen mendatangi penyedia jasa, konsumen didatangi penyedia jasa atau ada mediator (kepanjangan tangan) antara penyedia jasa dan konsumen. Pemilihan saluran distribusi yang dapat digunakan perusahaan jasa adalah: agen penjualan, agen/broker, franchise dan agen pembelian.
    Perusahaan Dagang
    Untuk mempercepat pengembangan jasa baru maka proses linier dimana antar tahapan berjalan saling berurutan menjadi tidak efisien. Banyak perusahaan memutuskan untuk mempercepat pengembangan jasa baru dengan cara mengembangkan produk jasa secara fleksibel dimana tahapan dilakukan secara fleksibel. Fleksibilitas ini diperlukan untuk mempercepat proses, khususnya pada industri yang bergerak dibidang teknologi, dimana jasa berubah dengan sangat cepat.
    Tahapan pengembangan jasa baru dapat dilihat pada tahapan berikut Pada pengembangan jasa baru ada dua tahapan inti yaitu perencanaan (front end planning) dan tahap implementasi. Pada tahap front end planning ada beberapa langkah yang dapat dipergunakan yaitu strategi pengembangan bisnis, strategi pengembangan jasa baru, penerapan ide, pengembangan konsep dan evaluasi dan analisis bisnis. Sedangkan tahap implementasi terdiri dari beberapa langkah yaitu: pengembangan jasa dan pelayanan, test pasar, komersialisasi dan evaluasi.
    Penyajian Jasa
    Keberhasilan penyedia jasa dalam penyajian jasa sangat tergantung pada peran beberapa pihak seperti karyawan, konsumen dan perantara. Untuk itu perusahaan harus dapat membina hubungan (relationship) yang baik atas dasar prinsip win-win situation untuk mendorong dan mengoptimalkan kinerja mereka. Membina hubungan baik dengan karyawan dapat dilakukan dengan meningkatkan kompensasi, mengurangi konflik dan motivasi. Dengan pihak konsumen penyedia jasa harus dapat memanfaatkan mereka sebagai co-production tanpa membebani konsumen. Dengan pihak perantara hubungan baik dapat dikembangkan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab dan pembagian keuntungan yang jelas.
    Bukti Fisik Jasa (Phisical Evidence)
    Bukti jasa dapat dibagi menjadi tiga yaitu yaitu orang (people), proses (process) dan bukti fisik (physical evidence). Ketiga elemen ini berkaitan dan saling mendukung keberhasil dalam menciptakan image kualitas jasa. Selain people dan process, maka peran bukti fisik jasa menjadi penting untuk mengeliminasi aspek intangibility (ketidak nampakan) karena pelanggan seringkali melihat pada petunjuk-petunjuk yang bersifat tangibles dalam bentuk bukti fisik (phisical evidence), Tanda-tanda bukti fisik yang harus diberikan penyedia jasa juga dapat memberikan kesempatan untuk memberikan pesan-pesan yang kuat dan konsisten berkenaan dengan karatkteristik jasa dan apa ingin ditampilkan atau dicapai kepada segmen pasar sasaran.
    Bukti fisik berperan penting bagi penyedia jasa dalam membantu sosialiasi, berperan memfasilitasi unjuk kerja atau tindakan-tindakan individual maupun interdependen dari orang-orang yang berada di lingkungan servicescape, yaitu konsumen dan karyawan, sebagai paket dari jasa yang ditawarkan dalam suatu cara yang berbeda dengan cara menawarkan barang, dapat membedakan perusahaan jasa dari pesaing serta menjadi tanda dari segmen pasar mana yang dituju. Sumber : http://mariaonmarketing.blogspot.com/2012/01/low-cost-carriers-trategy-air-asia.html

    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan Open Sky dan jelaskan pula maskapai penerbangan pada saat open sky dimaksud?

    Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Dengan kata lain, ini merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala Negara dari masing-masing Negara anggota dalam Bali Concord II yang diselenggarakan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN pada tahun 2003. Sumber : monevin.ristek.go.id/…/PKPP-397-RT_ASEAN%20OPEN%20SKY.d…
    Pemerintah akan menerapkan regulasi Limited Open Sky dengan membatasi lima bandar udara guna menghadapi ASEAN Single Market pada 2015. lima bandara yang dipilih adalah Soekarno-Hatta, Cengkareng; Kuala Namu, Medan; Ngurah Rai, Denpasar, Djuanda, Surabaya; dan Hasanuddin, Makassar.
    “Di lima bandara ini, maskapai dibebaskan mengatur jumlah penebangan dan melayani penerbangan dari dan menuju lima titik ini. Keluar dari lima titik itu sudah tidak boleh,” kata Yurlis Hasibuan, Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara.
    Sebelum kebijakan Open Sky berlangsung, bandara di Indonesia menerapkan prinsip resiprokal atau hubungan timbal balik. Melalui prinsip ini, maskapai asing yang masuk Indonesia harus mempertimbangkan apakah maskapai domestik juga bisa masuk ke negara bersangkutan. Jika tidak memungkinkan, maskapai asing tidak masuk Indonesia.
    Sumber : http://pialangnews.com/read-news-4-18-25-open-sky-dimulai-2015.pialang.news

    Dewi informasimu cukup banyak, tapi bila kembali kepertanyaan apa kompetensi kedua penerbangan tersebut? Selanjutnya apakah kompetensi itu sulit atau mudah tuk ditiru?

    Komentar oleh Rosmala Dewi | Juli 11, 2012 | Balas

  14. Ini tugas Bustami yang diunggah Pak. Jo.

    MANAJEMEN STRATEGIK
    An. Bustami
    Nim. C2B001029

    1. Bagaimana masing-masing penerbangan membangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya yang dimiliki dan apakah kopetensi menjadi suatu yang potensil ?
    Masing-masing maskapai penerbangan baik Garuda maupun Lion membangun Kopetensi sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki dan disesuaikan dengan rencana strategi jangka panjang suatu maskapai penerbangan.
    GARUDA, Lebih terfokus kepada pelayanan premium, mereka berusaha memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada pelangan, namun dengan pelayanan yang diberikan tersebut tidak bisa dihindari untuk menutupi biaya-biaya yang di keluarkan terhadap pelayanan kepada pelanggan mereka harus menjual harga tiket dengan harga mahal.
    LION, Lebih mengutamakan prisip harga tiket yang terjangkau (murah) yang bisa dibeli oleh semua kalangan konsumen walaupun dengan pelayanan yang diberikan terhadap pelangan yakni pelayanan sederhana
    Apakah kopetensi menjadi suatu yang potensil dalam menentukan daya saing?
    Menurut saya merupakan suatu hal yang potensil, karna suatu maskapai penerbangan tidak akan bisa bersaing dengan maskapai penerbangan lain kalau tidak memiliki kopetensi yang potensil yang dirumuskan dalam visi, misi dan rencana srategik jangka panjang.
    Tidak bisa dipungkiri walaupun LION adalah maskapai tergolong pemain muda, namun kopetensi yang dimilikinya sangat baik, mereka tahu apa yang pelanggan butuhkan pada kondisi sekarang, memang pihak GARUDA memfokuskan pada pelayanan maksimal, namun harga tiket yang mereka jual sudah tentu akan mahal, pihak LION sudah mengkaji tentang itu, biarlah pelayanan yang diberikan standar akan tetapi harga tiket akan terjangkau dan semua orang akan bisa terbang dengan harga yang murah, namun tetap mengutamakan keselamatan pelanggan, dengan perhitungan dengan semakin banyak pelanggan dan rute penerbangan semakin besar untung yang di dapat.

    2. Kopetensi apa yang sulit ditiru?
    Menurut saya, hampir semua kopetensi suatu maskapai bisa ditiru, namun kalaulah suatu maskapai akan meniru kopetensi maskapai lain, persolannya mereka harus merombak dan merobah kopetensi yang telah dibangun, sumberdaya yang dimiliki yang disesuaikan dengan visi, misi dan rencana strategis jangka panjang mereka, tentu akan memerlukan strategi dan jangka waktu yang tidak sebentar.

    3. Sumberdaya yang dimiliki yang paling menentukan daya saing ?
    Menurut saya ialah Sumber Daya Manusia nya, sebuah maskapai penerbangan akan bisa bersaing maju kalaulah mereka memiliki SDM yang handal dan profesional yang bisa merancang dan membuat visi, misi dan rencana strategik jangka panjang yang akan dilaksanakan, dengan demikian tidak bisa dipungkiri kalaulah visi, misi dan rencana strategik dirumuskan oleh SDM yang tidak profesional maka hasilnya juga pasti tidak memuaskan, dan akan berisiko sekali terhadap sukses tidaknya suatu maskapai penerbangan untuk bersaing kedepannya.

    4, Open Skay, yakni dicanangkan tahun 2012 di indonesia seluruh maskapai penerbangan domestik suka tidak suka, senang tidak senang akan bersaing dengan maskapai penerbangan luar, yang bebas melakukan kontrak terbang siseluruh kepulauan indonesia.
    Konsekwensinya kalaulah maskapai penerbangan domestik tidak bisa bersaing dengan artian memberikan pelayanan yang maksimal dan harga tiket yang murah pasti akan di tinggalkan oleh pelangan.

    Menjadi penting untuk meneliti benar, misalnya dari kompetensi Garuda dalam hal apa kompetensi itu sulit ditiru. Terlebih pada Tahun 2012, Garuda menjadi penerbangan terbaik di tingkat Regional. Bila dikatakan SDMnya, dalam hal apakah SDM tersebut kelihatan berkompeten?

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 15, 2012 | Balas

  15. ELIZA NURIYANTI
    C2B011024
    Garuda termasuk Maskapai Penerbangan yang dominan di Indonesia, untuk penerbangan domestik. Pada dekade 80an, Garuda masih terdepan di wilayah Asia Tenggara, dibanding dengan Singapura Airlines, khususnya bila dilihat dari jumlah pesawat yang dikelola. Akan tetapi, pembenahan dan orientasi yang terlambat membuat Garuda tertinggal jauh dibanding dengan Singapore Airline sampai sekarang. Di era tahun 2000, apa yang terlihat jelas dilakukan oleh Garuda adalah pelayanan di pasar domestik. Kelihatan bahwa Garuda akan membenahi landasan di pasar domestik sambil tetap memelihara kesempatan di pasar global. Tahun 2008, Garuda memperoleh standar pelayanan terbaik di Indonesia. Artinya Garuda terdepan dalam pelayanan kepada pelanggan. Guna melanjuti perluasan bisnis, maka diterapkan strategi pertumbuhan, sehingga dicanangkanbw pada Tahun 2014 dengan mengadopsi quantum leap, diharapkan jumlah pesawat Garuda telah mencapai 120 unit
    Dari laporan Cetak Biru Transportasi Udara Direktorat Perhubungan (2005), diketahui korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan penumpang transportasi udara. Selanjutnya, diketahui kecenderungan pertumbuhan jumlah penumpang semakin menunjukkan angka yang pesat. Mengamati Tahun 1995 – 2004, setelah melewati tahun krisis diketahui bahwa pertumbuhan jjumlah penumpang berkisar 7,3 – 10 persen. Pada tahun 2004 jumlah penumpang menjcapai 11.841.373 orang. Keadaan ini terus membaik dengan meningkatnya jumlah penumpang pada Tahun 2009 mencapai 26.993.265. Ada banyak hal yang mengakibatkan peningkatan dan pertumbuhan jumlah penumpang ini yaitu: i) adanya UU yang menjamin kebebasarn membuka bisnis di bidang transportasi udara, ii) harga relatif tiket pesawat yang mengalami penurunan bilamana dibanding dengan transportasi darat, dan iii) praktitk otonomi daerah yang mendorong munculnya Maskapai Penerbangan yang dikelola oleh pemerintah daerah baik secara sendiri-sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga.
    Membenahi Kondisi Internal Tahun 2009 adalah tahun yang membangkan bagi Garuda, termasuk bagi Indonesia karena tahun itu ada pertama kali memperoleh untung dari selama ini sebagai perusahaan yang mengalami kerugian. Pada Tahun 2009 laba Garuda mencapai Rp. 1, 009 trylun, jauh meningkat bila dibanding Tahun 2008 dimana keuntungan baru pencapai Rp. 669 milyar. Keadaan ini juga ditunjukkan oleh kondisi penumpang, diman
    pada Tahun 2008 jumlah penumpang mencapai 10, 1 juta sedangakan pada Tahun 2009 10,3 juta. Kemudian dalam penjelasan korporasi diketahui bahwa Garuda mengadopsi strategi pertumbuhan, karena pasar yang terbuka luas dan dukungan sumberdaya yang besar. Kedua hal ini menjadi alasan bagi Garuda untuk memilih strategi pertumbuhan. Adapun bentuk strategi pertumbuhan yang diadopsi diartikulasikan ke dalam bentuk Quantum Leap. Slogan ini diharapklan dapat memotivasi semua sumberdaya untuk fokus kepada pertumbuhan. Sehubungan dengan itu, pada tahun 2014 jumlah diharapkan bahwa jumlah armada mencapai 2 kali lipat, dari jumlah sekarang adalah 67 unit, diharapkan pada Tahun 2014 akan menjadi 116 unit. Adapun program pembelian pesawat ini akan dimulai dari hasil penjualan saham yang direncanakan segera dilaksanakan.(http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_indonesia.
    2. Berkaitan dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti startegi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Pada bulan November 2010, Garuda Indonesia menerapkan sistem baru yang disebut disebut dengan sistem kendali operasi terpadu (integrated Operasional control system/IOCS). Sistem terpadu ini menggabungkan sistem untuk memantau pergerakan pesawat,awak kabin,dan manajemen penumpang yang sebelumnya merupakan aplikasi terpisah. Tentang IOCS milik Garuda Indonesia tersebut.
    • Sistem ini merupakan gabungan sistem yang memantau pergerakan pesawat, penjadwalan awak kabin dan manajemen kabin.
    • Sistem IOCS ini berharga US$ 1,5juta (update: sebelumnya US$ 15 juta)
    • Sistem IOCS ini menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin dan 2000 penerbangan perminggu
    • Pada tanggal 19 november 2010, selama 4 jam sistem tidak bisa diakses.
    3. Dari jumlah sumber daya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan, jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalan menentukan daya saing ditengah tengah persaingan industri penerbangan ?
    Masalah dan isu pelayanan jasa penerbangan menjadi sangat krusial bagi Maskapai
    Penerbangan di Indonesia sampai sekarang karena berbagai peristiwa kecelakaan
    penerbangan. Dari catatan dan pelaporan yang dilakukan oleh direktorat Perhubungan, dalam kurun waktu 2004-2007 tercatat 4 kali kecelakaan yang fatal yangmengakibatkan kematian (korban jiwa),(http://hubud.dephub.go.id/?id+statistik+
    detail+angud). Adapun kecelakaan yang dilaporkan tidak termasuk penundaan keberangkatan karena ditemukan adanya berbagai kerusakan yang berdampak terhadap penundaaan dan pembatalan penerbangan . Berkaitan dengan ini, maka “hukuman” yang diberikan oleh Masyarakat Global adalah tindakan berupa pelarangan terbang (ban) ke wilayah tujuan Eropa. Tindakan pelarangan demikian menjadi ancaman serius karena hal ini tidak saja akan mempersempit ruang bisnis penerbangan, tetapi lebih dari itu mempengaruhi citra pelayanan jasa lainnya khususnya turisme. Pada akhirnya dampak daripada keadaan ini adalah macetnya pertubuhan ekonomi Nasional.
    Maskapai Penerbangan Garuda dengan unit bisnisnya bagaimanapun termasuk terdepan akhir-akhir ini setidaknya untuk tingkat lokal (Indonesia).
    Dari hasil pemilihan kelompok independen diketahui bahwa jasa pelayanan Garuda masih tergolong terbaik dalam hal pelayanan pelanggan. Kenyataan ini menjadikan Garuda menjadi pilihan. Selanjutnya keseriusan Garuda dalam menerapkan pelayanan dapat juga dicatat. Tahun 2008, Garuda berhasil menerima ISO dua buah dari Lembaga Independen yang bertaraf Internasional yaitu untuk Unit Cargo Garuda dan Unit Garuda Sentra Medika akan mengirim produk (barang/ jasa) yang dinilai telah memenuhi persyaratan. Walau harus dicatat bahwa salah satu tuntutan daripada Penerbangan Eropa untuk memeberikan pelayanan keselamatan oleh ME dinilai belum terpenuhi, sehingga larangan (ban) terhadap penerbangan Garuda masih menjadi kendala utama Garuda dalam melebarkan sayap secara global.
    Di era pascakrisis, bukan hanya Garuda yang berbenah diri, akan tetapi seperti peristiwa blessing in disguise, berkat setelah krisis, perkembangan Maskapai
    Penerbangan menjadi pesat, bahakan muncul bentuk Maskapai Penerbangan baru.
    Adanya UU yang membuka pintu bagi pebisnis baru untuk menjadi pelaku dalam industri penerbangan membuat persaingan semakin efektif. Pada akhirnya, persaingan membuat pelaku bisnis lain yang tidak mempunyai kekuatan, tidak berdaya saing keluar dari industri, sehingga selanjutnya industri dipenuhi oleh pendatang baru dengan segala atribut pelayanan. Salah satu akibat daripada persaingan turunnya harga tiket dan variasi harga yang dapat dinikmati oleh pembeli sesuai dengan daya beli dan kebutuhannya.
    4. Indonesia pada tahun 2015 telah menyatakan kesiapannya mengikuti open sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud ?
    .Open Sky merupakan konsep kebijakan internasional yang menyerukan liberalisasi aturan dan peraturan penerbangan internasional-terutama industri penerbangan komersial-dalam rangka menciptakan lingkungan pasar bebas bagi industri penerbangan. Tujuan utama adalah:
    • Kesiapanindonesia
    Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk pemerintah Indonesia. Dalam target liberalisasi penerbangan ASEAN yang akan direalisasikan paling cepat tahun 2010 dan paling lambat 2015, disediakan fasilitas mekanisme ASEAN -X (baca : ASEAN minus X) dengan X yang berarti negara yang belum siap. Indonesia dapat masuk menjadi negara X karena ini adalah hak tiap-tiap negara anggota dan semua harus menghormati keputusan tersebut.
    Menteri Perhubungan Freddy Numberi dalam keterangan kepada pers nasional pada Desember 2009 menyatakan bahwa Indonesia adalah pihak yang dirugikan. “Singapura hanya punya 1 bandara, Malaysia punya 6 bandara, kita punya 26 bandara internasional,” tambah Menhub. Ini berarti Indonesia memiliki pintu yang banyak untuk dimasuki dengan mudah pemain-pemain asing. Jumlah bandara direncanakan akan dibatasi apalagi maskapai nasional dinilai pemerintah belum sekuat para pesaingnya.
    • Menurut Dirjen Departemen Perhubungan Udara, Herry Bakti, pemerintah segera menerbitkan keputusan menteri tentang jumlah bandara yang siap untuk open sky policy. “Mungkin 3 atau 5 bandara yang siap,” ujarnya. Yang mana bandara itu belum diketahui, tapi dua diantaranya yang pasti adalah Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Ditambahkan lagi oleh juru bicara Dephub Bambang Ervan bahwa sebelum mengikuti liberalisasi penerbangan, pemerintah akan meningkatkan daya saing perusahaan penerbangan dan kapasitas tampung bandara udara.
    Pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan Open Sky ASEAN 2015 dalam konsep Indonesia yaitu kebijakan langit terbuka yang harus dilakukan dengan memperhatikan kepentingan nasional, melakukannya secara bertahap dengan menjadi negara X untuk beberapa waktu sambil mempersiapkan diri, termasuk mempersiapkan maskapai nasional agar dapat berdaya saing tinggi.(http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 16, 2012 | Balas

  16. MANAJEMEN STRATEGIK
    Zamzami
    C2B011035
    Keunggulan Internal Maskapai penerbangan LION AIR
    TANGIBLE
    Pesawat baru
    Harga tiket relative murah
    Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    Kenyamanan fasilitas pendukung
    Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)

    INTANGIBLE
    Layanan mantap
    Harga sebanding dengan layanan
    sering delay
    membeikanr jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan
    2.Kompetensi yang sulit ditiru dari maskapai garuda adalah pesawat yang baru.
    Kompetensi ini sulit untuk ditiru,namun ada yang mudah ditiru misalnya dalam hal pelayanan, maskapai penerbangan lain juga bisa memberikan pelayanan yang mantap sama seperti Garuda
    3. Yang paling menentukan adalah jumlah pesawat dalam hal memperkecil kesenjangan-kesenjangan yang terjadi,mampu membangun komitmen bersama,memberi kesempatan pada pelanggan untuk menyampaikan keluhan, mengembangkan dan menerapkan accountable,proactive dan partnership marketing
    4. Open sky adalah membuka wilayah udara sesama anggota Negara.
    http://www.google.terbang bersama lion air

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 16, 2012 | Balas

  17. EVALUATOR SIHITE
    C2B01105

    Bagaimanakah masing-masing Penerbangan mambangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya Penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?
    Berkatian dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri Penerbangan .
    Indonesia pada Tahun 2015 telah menytakan kesiapannya mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud?

    JAWABAN
    Melihat bacaan tentang keunggulan Internal maskapai penerbangan GARUDA,disini Garuda membangun kompetensi dengan kelebihan secara tangible dan intangible seperti penjelasan dibawah ini.
    TANGIBLE
    Pesawat bagus
    Harga tiket mahal sesuai layanan
    Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    Maskapai internasional kelas dunia yang memperkenalkan system hiburan AVOD terbaru (Audio Video On Demand) dengan TV di setiap kursi, terutama dalam armada jarak jauh
    Kursi kelas bisnis yang dapat diubah menjadi tempat tidur pada penerbangan jarak jauh
    Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)
    Interflight connecting bagus
    Cabin attendant ramah
    Website informative
    Dapat makan setiap penerbangan
    Maintenance bagus

    INTANGIBLE
    Layanan mantap,jauh lebih baik dibanding yang lain
    Harga sebanding dengan layanan
    Tidak pernah delay
    memberikan jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan

    Ya, kompetensi yang dimiliki maskapai garuda menjadi sesuatu yang potensial dalam menentukan daya saing,karena Garuda memberikan kelebihan/keunggulan yang tidak ada pada penerbangan lain seperti penjelasan diatas tentang keunggulan internal.
    Kompetensi yang sulit ditiru dari maskapai garuda adalah premium full service,dan AVOD dimana dalam penerbangan ini setiap kursi memiliki TV,ketepatan waktu atau tidak pernah delay.
    Kompetensi ini sulit untuk ditiru,namun ada yang mudah ditiru misalnya dalam hal pelayanan, maskapai penerbangan lain juga bisa memberikan pelayanan yang mantap sama seperti Garuda
    Yang paling menetukan adalah kualitas pelayanan dalam hal memperkecil kesenjangan-kesenjangan yang terjadi,mampu membangun komitmen bersama,memberi kesempatan pada pelanggan untuk menyampaikan keluhan, mengembangkan dan menerapkan accountable,proactive dan partnership marketing
    Open sky adalah kebijakan untuk membuka wilayah udara sesama anggota Negara.
    Maskapai penerbangan pada saat open sky adalah sriwijaya .
    Sriwijaya memiliki hambatan sebagai berikut :
    Melakukan perlindungan terhadap pasar dalam negeri
    Menghindari terjadinya perang tarif antara perusahaan angkutan
    Mempertahankan salah satu sumber pendapatan negara
    Namun Sriwijaya memiliki kebijakan yaitu :
    Melakukan penambahan armada
    Mengajukan penambahan rute baru
    Melakukan peningkatan pelayanan terhadap penumpang menjadi kelas premium full service

    http://www.google.co.id/search?hl=id&output=search&sclient=psy-ab&q=PENGERTIAN+OPEN+SKY&btnG=
    http://www.search-results.com/web?qsrc=2417&o=1932&l=dis&q=keunggulan+internal+maskapai+garuda+indonesia+airways&atb=sysid%3D1%3Aappid%3D573%3Auid%3Dcf15fa7e5ec67360%3Auc%3D1339510845%3Aq%3Dmaskapai+garuda+indonesia+airways%3Asrc%3Dffb%3Ao%3D1932&locale=en_US

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 16, 2012 | Balas

  18. MANAJEMEN STRATEGIK
    ATMARDONA
    C2B011026
    Keunggulan Internal Maskapai penerbangan LION AIR
    TANGIBLE
    Pesawat baru
    Harga tiket relative murah
    Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    Kenyamanan fasilitas pendukung
    Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)

    INTANGIBLE
    Layanan mantap
    Harga sebanding dengan layanan
    sering delay
    membeikanr jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan
    2.Kompetensi yang sulit ditiru dari maskapai garuda adalah pesawat yang baru.
    Kompetensi ini sulit untuk ditiru,namun ada yang mudah ditiru misalnya dalam hal pelayanan, maskapai penerbangan lain juga bisa memberikan pelayanan yang mantap sama seperti Garuda
    3. Yang paling menentukan adalah jumlah pesawat dalam hal memperkecil kesenjangan-kesenjangan yang terjadi,mampu membangun komitmen bersama,memberi kesempatan pada pelanggan untuk menyampaikan keluhan, mengembangkan dan menerapkan accountable,proactive dan partnership marketing
    4. Open sky adalah membuka wilayah udara sesama anggota Negara.
    http://www.google.terbang bersama lion air

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 16, 2012 | Balas

  19. MANAJEMEN STRATEGIK
    Hendri Jumiral
    C2B011032
    Keunggulan Internal Maskapai penerbangan LION AIR
    TANGIBLE
    Pesawat baru
    Harga tiket relative murah
    Kenyamanan kabin (seat condition, seat pitch)
    Petugas pelayanan handal (paham tentang pesawat)
    Kenyamanan fasilitas pendukung
    Petugas memiliki perhatian terhadap pelanggan dengan melayani pelanggan
    Frekuensi banyak (relative terhadap destinasi)

    INTANGIBLE
    Layanan mantap
    Harga sebanding dengan layanan
    sering delay
    membeikanr jaminan keamanan penerbangan sampai dengan tujuan
    2.Kompetensi yang sulit ditiru dari maskapai garuda adalah pesawat yang baru.
    Kompetensi ini sulit untuk ditiru,namun ada yang mudah ditiru misalnya dalam hal pelayanan, maskapai penerbangan lain juga bisa memberikan pelayanan yang mantap sama seperti Garuda
    3. Yang paling menentukan adalah jumlah pesawat dalam hal memperkecil kesenjangan-kesenjangan yang terjadi,mampu membangun komitmen bersama,memberi kesempatan pada pelanggan untuk menyampaikan keluhan, mengembangkan dan menerapkan accountable,proactive dan partnership marketing
    4. Open sky adalah membuka wilayah udara sesama anggota Negara.
    http://www.google.terbang bersama lion air

    Hendri sepertinya jawaban yg dikirim harus sesuai dg pertanyaan.

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 16, 2012 | Balas

  20. Selamat malam, Pak Johannes,
    Sesuai dengan arahan Bapak, saya telah melakukan revisi atas jawaban yang saya kirim sebelumnya.
    Terlampir di bawah saya kirimkan kembali jawaban yang telah di-revisi

    Nama Mahasiswa : Tan Sau Eng (C2B011022)
    Mata Kuliah : Manajemen Strategic
    Kelas : MM angkatan XV (kelas pagi)
    Jawaban atas pertanyaan dalam artikel :
    “MENGUJI KOMPETENSI MASKAPAI PENERBANGAN ANTARA GARUDA DAN LION”

    1. Bagaimanakah masing-masing Penerbangan mambangun kompetensi berkaitan dengan sumberdaya Penerbangan yang dimiliki dan apakah kompetensi menjadi sesuatu yang potensil dalam menentukan daya saing?

    Kompetensi tentu saja merupakan sesuatu yang potensial dalam menentukan daya saing karena dengan membangun kompetensi yang tepat, perusahaan akan dapat menonjolkan keunggulan spesifik-nya, sehingga dapat melakukan market positioning dengan tepat

    Garuda membangun kompetensinya melalui beberapa langkah antara lain :
    ü Memberikan rasa aman yang lebih kepada penumpang melalui :
    · Mempermuda armada pesawat
    Dalam hal mempermuda armada, Garuda tercatat sebagai maskapai paling agresif. Untuk penerbangan domestik, Garuda sudah menggunakan Boeing 737-800, yang benar-benar baru didatangkan langsung dari pabriknya di Everett, Seattle, Washington, Amerika Serikat.
    · Meningkatkan kualitas pilot serta memberi perhatian pada keselamatan penerbangan
    Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, PT. Garuda Indonesia membentuk sebuah lembaga yang disebut “Garuda Indonesia Training Center”. Lembaga pelatihan ini ditujukan untuk semua karyawan PT.Garuda Indonesia. Khusus utk pilot, GITC ini melakukan serangkain pelatihan mulai dari pelatihan bahasa Inggris, kelayakan penerbangan, keselamatan penerbangan, dan lain sebagainya. Untuk pelatihan bahasa Inggris saja, para pilot harus melewati beberapa tingkatan level ujian, mulai dari level 1 hingga level 6. Hal tersebut untuk memenuhi tuntutan standar bahasa Internasional yang besertifikasi ICAO. Dan dalam hal penanganan keselamatan Garuda Indonesia Training Center mengadakan symposium “kelayakan keselamatan penerbangan (Flight Operation Safety)”. Acara tersebut diadakan bersama-sama dengan Boeing, ICAO dan Direktorat Sertifikasi & Kelayakan Udara (DSKU). Simposium yang diikuti sebanyak 43 “captain pilot” yang berasal dari 20 perusahaan penerbangan nasional tersebut, membahas materi mengenai Safety Management System(SMS), Approach and Landing Accident Reduction (ALAR) dan Threat and Error Management (TEM). Simposium ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan Nasional. Adapun dukungan PT.Garuda Indonesia pada symposium tersebut adalah dengan menyediakan fasilitas simulator pesawat B-737-300/400 yang berada di Garuda Indonesia Training Center (GiTC), untuk digunakan peserta mempraktekan materi yang dibahas dalam symposium tersebut. Inisiatif Garuda Indonesia dalam mendukung acara tersebut adalah karena alasan agar konsep SMS dapat diaplikasikan. Implementasi konsep SMS di perusahaan penerbangan antara lain mencakup bagaimana policy/kebijakan perusahaan (Chief Executive Officer/CEO) terhadap safety, struktur organisasi perusahaan, perencanaan dan target pengelolaan safety, metode dan perangkat safety, budaya keselamatan dalam korporat, emergency respon plan (perencanaan respon terhadap situasi darurat) dan lain-lain
    ü Memberikan kenyamanan dan layanan privilege melalui :
    · Kemudahan pembelian ticket
    Pelayanan prima telah diterapkan sejak tahap ticketing, di mana selain membuka outlet ticketing di lokasi strategis, Garuda Indonesia juga telah menerapkan electronic ticketing sehingga memudahkan penumpang membeli ticket via internet.
    · Check-in service,
    Sejak beberapa tahun yang lalu Garuda telah menerapkan city check-in dan belakangan ini bahkan telah dikembangkan sistem mobile check-in sehingga penumpang bisa melakukan check-in cukup dengan menggunakan handphone.
    · Layanan Priviledge di airport
    Garuda merupakan satu-satunya penerbangan domestik yang di-izinkan beroperasi di Terminal 2 Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta (penerbangan domestik lainnya beroperasi di Terminal 1 yang kondisinya tidak senyaman Terminal 2). Saat menunggu boarding di bandara, Garuda juga menyediakan eksekutif lounge untuk para penumpangnya.
    · Kabin dan tempat duduk yang nyaman
    Saat masuk ke pesawat, penumpang akan mendapatkan cabin yang nyaman serta dilayani oleh cabin attendant yang ramah dan terlatih. Tempat duduk pesawat Garuda mempunyai ruang kaki yang relatif lebih lapang dibanding pesawat domestik lainnya. Utk kelas eksekutif bahkan dilengkapi dengan Flat-Bed seats yang memiliki ruang kaki 74″ dan dapat disandarkan hingga 180 derajat. Kursi ini juga memiliki sandaran tangan 11 inci.
    · Inflight food and entertainment
    Selama penerbangan, penumpang akan disuguhi makanan dan minuman gratis. Untuk penumpang yang butuh hiburan, di setiap tempat duduk tersedia sistem hiburan AVOD (Audio Video on Demand) dengan layar sentuh LCD yang menawarkan beragam hiburan film, musik dan game.

    ü Menjaga ketepatan waktu
    Garuda dengan dukungan sistem teknologi informasi yang modern telah menerapkan prinsip zero tolerance untuk keterlambatan/penundaan (kecuali karena alasan keamanan) sehingga untuk pasar penerbangan domestik, Garuda mendapatkan peringkat tertinggi untuk tingkat ketepatan waktu penerbangan (87%). Faktor ini sangat penting bagi kalangan bisnis dan profesional yang umumnya mempunyai jadwal yang padat.

    ü Melayani berbagai rute perjalanan dengan pengaturan interconnecting flight yang baik
    Garuda Indonesia melayani baik penerangan domestik maupun international. Saat ini Garuda memiliki 31 rute penerbangan domestik dan 19 rute penerbangan internasional.
    Untuk rute dalam negeri, Garuda Indonesia melayani kota-kota seperti Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Batam, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Jambi, Jakarta, Jogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Ampenan, Makassar, Manado, Palangkaraya, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Kupang, Kendari, Biak, Jayapura, Timika, Ambon, Ternate, Palu.
    Sedangkan untuk rute international Garuda Indonesia melayani :
    Asia : Bangkok, Hongkong, Kuala Lumpur, Singapore
    Japan, Korea and China : Tokyo, Nagoya, Osaka, Seoul, Guangzhou (Canton), Beijing, Shanghai
    South West Pacific : Melbourne, Perth, Sydney
    Middle East : Jeddah, Riyadh, Dammam, Dubai
    Europe : Amsterdam

    2. Berkatian dengan pertanyaan (1) kompetensi apakah yang sulit ditiru sehingga Maskapai Penerbangan lain sulit mengikuti strategi yang dicanangkan. Apakah kompetensi yang anda jelaskan ini sulit atau mudah ditiru?
    Dalam pasar penerbangan domestik, Garuda menghadapi persaingan dengan berbagai maskapai penerbangan lokal yang lain. Masing masing maskapai berusaha mengembangkan kompetensi-nya sendiri baik melalui pengembangan inovasi, membuat terobosan baru, maupun dengan meniru kompetensi perusahaan pesaing.
    Sebagai market leader, kompetensi Garuda cenderung dijadikan benchmark oleh maskapai penerbangan lain. Banyak perusahaan pesaing yang berusaha meniru kompetensi Garuda dengan harapan bisa merebut pangsa pasar yang lebih besar. Namun untuk bisa meniru Kompetensi Garuda seperti yang telah dijabarkan di atas bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan berbagai sumber daya, investasi dana serta butuh waktu yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan kompetensi tersebut.
    Urutan kompetensi Garuda yang paling sulit ditiru adalah sebagai berikut :
    v Reputasi sebagai maskapai penerbangan lokal yang paling aman
    Reputasi tidak bisa ditiru, melainkan hanya bisa dibangun melalui kerja keras dan usaha panjang yang berkelanjutan hingga memperoleh pengakuan dari pasar.
    Dengan bermodal pengalaman yang panjang dan dukungan armada pesawat yang relatif baru, Garuda telah berhasil membangun reputasi sebagai maskapai penerbangan nasional yang paling aman. Reputasi tersebut mempunyai nilai jual yang tinggi, sehingga walaupun harga ticketnya lebih mahal, Garuda tetap menjadi pilihan utama bagi konsumen kelas atas maupun konsumen kalangan bisnis. Konsumen cenderung merasa lebih aman apabila terbang dengan pesawat Garuda.

    v Reputasi sebagai maskapai penerbangan kelas atas
    Selain memberi rasa aman yang lebih besar, Garuda juga terkenal sebagai maskapai penerbangan untuk kelas elit di Indonesia. Reputasi tersebut memberikan kebanggaan dan prestige tersendiri bagi penumpang Garuda, sehingga mereka rela membayar biaya ticket yang relatif lebih tinggi.
    Kedua kompetensi tersebut tentu sangat sulit ditiru oleh maskapai penerbangan lokal lain karena untuk bisa mendapatkan reputasi sekelas Garuda, bukan hanya dibutuhkan investasi dan kerja keras yang tidak sedikit, namun juga dibutuhkan waktu yang panjang.

    v Ketepatan waktu dan Premium services
    Hingga saat ini, Garuda Indonesia masih berada di peringkat yang tertinggi – baik dalam segi ketepatan waktu maupun layanan premium – dibandingkan maskapai penerbangan lokal lainnya.
    Kompetensi ini tentu bisa ditiru, namun tidak gampang, karena untuk bisa mengembangkan kompetensi tersebut dibutuhkan manajemen penerbangan yang baik, dukungan teknologi informasi yang canggih, sumber daya manusia yang handal, serta investasi berbagai fasilitas layanan dan perangkat entertainment

    3. Dari jumlah sumberdaya yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan jelaskan sumberdaya mana yang paling menentukan dalam menentukan daya saing di tengah-tengah persaingan industri Penerbangan .

    Bisnis penerbangan tentu membutuhkan banyak sumber daya untuk mendukung kompetensinya.
    Beberapa sumber daya utama yang berperan penting antara lain :

    Ø Sumber daya keuangan
    Sumber daya keuangan adalah sumber daya terpenting yang harus dimiliki dan dikelola karena untuk membangun kompetensi apapun pasti dibutuhkan dana. Peremajaan dan penambahan armada, peningkatan kualitas pilot, pengembangan teknologi informasi serta penyediaan fasilitas untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada penumpang, semuanya membutuhkan investasi dana yang tidak sedikit. Tanpa dana yang memadai semua kompetensi tersebut tidak mungkin dibangun.
    Sebelum terjadi krisis ekonomi moneter 1998, sebagai flag carrier, Garuda Indonesia mendapat dukungan berbagai fasilitas, kemudahan dan juga dana dari pemerintah. Namun pasca krisis moneter, Garuda tidak bisa lagi mengandalkan dukungan dari pemerintah. Untuk memenuhi kebutuhan dana Garuda memilih go public dengan melakukan IPO dibursa saham pada awal 2011. Dengan penjualan saham tersebut, Garuda mendapatkan dana yang cukup untuk melanjutkan rencana strategisnya yang diberi nama Quantum Leap.

    Ø Sumber daya manusia
    Sumber daya manusia merupakan sumber daya penting lainnya setelah sumber daya keuangan. Sebagai perusahaan jasa, kompetensi maskapai penerbangan sangat bergantung pada kecakapan sumber daya manusia. Tanpa sumber daya manusia yang handal, kompetensi tidak akan dapat dibangun walaupun tersedia perangkat teknologi informasi yang canggih maupun pesawat yang modern karena semua software maupun hardware tersebut harus di-operasikan oleh sumber daya manusia. Demikian juga halnya dengan layanan. Premium services tidak akan bisa diterapkan tanpa didukung sumber daya manusia yg terlatih.
    Garuda Indonesia membangun sumber daya manusia-nya dengan membentuk lembaga pelatihan yang disebut “Garuda Indonesia Training Centre (GITC)”. Lembaga pelatihan ini ditujukan untuk semua karyawan Garuda. Untuk meningkatkan kualitas pilot, GITC menyelenggarakan berbagai training intensif seperti pelatihan bahasa Inggris, kelayakan penerbangan, keselamatan penerbangan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk awak kabin maupun calon awak kabin, GITC memberikan pelatihan tentang bagaimana cara mengatasi penumpang di saat keadaan darurat, cara melayani penumpang dengan baik, dan juga bagaimana bekerjasama dalam satu teamwork yang baik. Selain melatih sumber daya penerbangan, GITC juga memberikan pelatihan untuk sumber daya pendukung. Untuk teknisi pesawat misalnya, GITC melatih para teknisi untuk dapat memelihara kondisi pesawat dan mempersiapkan kondisi pesawat agar layak diterbangkan. Sedangkan untuk staff administratif lainnya GITC berusaha meningkatkan kualitas dan profesionalitas karyawan dengan membangun kemampuan berpikir dan berinteraksi yang baik, meningkatkan leadership skill serta kemampuan lainnya.

    Ø Sumber daya reputasi
    Reputasi merupakan salah satu sumber daya unggulan Garuda Indonesia. Salah satu kompetensi utama Garuda adalah mampu memberikan rasa aman dan kebanggaan (prestige) yang lebih kepada penumpang melalui reputasinya sebagai maskapai penerbangan kelas dunia.
    Sebagai market leader bisnis penerbangan nasional, Garuda sangat berkepentingan menjaga reputasi maupun kualitas untuk tetap bisa mempertahankan posisinya. Kelihatannya Garuda menyadari hal tersebut dan telah bekerja keras sehingga berhasil mempertahankan, bahkan meningkatkan reputasinya. Sejauh ini berbagai prestasi telah berhasil diraih. Selain berhasil memperoleh pengakuan dari Skytrax sebagai 4-star airline (yang membuat Garuda kini sejajar dengan 32 perusahaan penerbangan dunia, seperti Air France Perancis, JAL Jepang, Dragon air Hongkong, Qantas Australia, dan Korean Air Korea), Garuda Indonesia juga terpilih sebagai The Best BUMN Marketers 2012 dalam ajang BUMN Marketing Day 2012. BUMN tersebut adalah satu-satunya pemenang yang meraih tingkatan Gold untuk kategori Strategic (Brand, Product, dan Customer Management), lalu diikuti Silver untuk Tactical (Communication, Sales, dan Service) dan Special Award (Marketing 3.0 dan New Wave Marketing). Bahkan baru baru ini PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) berhasil menyabet penghargaan bergengsi sebagai “The World’s Best Regional Airline” serta “The Best Regional Airline in Asia.” yang diberikan oleh skytrax di Farnborough Airshow di Inggris.

    Ø Sumber daya fisik
    Sumber daya fisik juga merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam bisnis penerbangan. Umur dan kondisi pesawat yang di-operasikan merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan penumpang karena terkait dengan rasa aman dan kenyamanan, sedangkan jumlah pesawat berpengaruh pada rute dan frekuensi penerbangan yang bisa dilayani
    Saat ini Garuda merupakan maskapai penerbangan dengan jumlah armada terbesar di Indonesia. Per April 2012 rincian armada penerbangan Garuda Indonesia adalah sbb :
    ü 8 unit Airbus A330-200 (3 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 212 orang dan dilengkapi AVOD
    ü 6 unit Airbus A330-300 (18 unit tambahan dlm pesanan) dengan kapasitas penumpang 257 orang dan dilengkapi AVOD
    ü 5 unit Boeing 737-300 dengan kapasitas penumpang 215 orang
    ü 1 unit Boeing 737-400
    ü 5 unit Boeing 737-500
    ü 54 unit Boeing 737-800 (30 unit tambahan dlm pesanan)
    ü 2 unit Boeing 747-400
    ü 10 unit dalam pesanan Boeing 777-300ER
    ü 18 unit dalam pesanan Bombardier CRJ1000
    Untuk mempertahankan keunggulan sumber daya fisik, Garuda telah membuat rencana strategis (yang disebut Quantum Leap) untuk menggandakan armadanya dari 62 menjadi 116 pesawat dalam jangka waktu 5 tahun serta menaikkan jumlah penumpang per tahun menjadi 27.6 juta dalam periode yang sama.
    Ø Sumber daya teknologi
    Sumber daya teknologi tidak dapat diremehkan dalam bisnis penerbangan. Berbagai kemudahan yang ditawarkan kepada penumpang (dalam ticketing, check in, baggage handling dll) terkait erat dengan sistem teknologi informasi. Demikian juga halnya kemampuan menyelenggarakan penerbangan yang tepat waktu.
    Garuda telah berhasil mengembangkan sistem teknologi informasi-nya sehingga saat ini telah bisa menawarkan berbagai kemudahan seperti e-ticketing, city check-in, mobile check-in, inflight GPS display dll kepada penumpangnya. Selain itu pada akhir 2010 Garuda juga telah berhasil mengembangkan sistem kendali operasi terpadu (Integrated Operational Control System/IOCS) untuk memantau pergerakan pesawat, awak kabin dan manajemen penumpang yang sebelumnya dikelola dalam aplikasi terpisah. Dengan sistem baru tersebut, Garuda dapat menangani 81 pesawat, 580 pilot, 2000 awak kabin dan 2000 penerbangan per minggu.

    4. Indonesia pada Tahun 2015 telah menytakan kesiapannya mengikuti Open Sky. Dalam kaitan ini jelaskan apa yang dimaksud dengan open sky dan jelaskan pula Maskapai Penerbangan pada saat open sky yang dimaksud?

    ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lain merupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmen kepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yang dideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.
    Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN Economic Comunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektor yang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negara ASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia, seperti Cina dan India.
    Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulai dilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negara ASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009 dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEAN Single Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN: Competitive Air Services Policy”.
    Penerapan Open Sky Policy akan menimbulkan berbagai peluang maupun ancaman serius terhadap maskapai penerbangan maupun negara-negara anggota Asean. Peluang dan ancaman timbul karena situasi dan kondisi tiap-tiap negara berbeda. Ada negara yang sudah sangat maju dan sebaliknya beberapa negara masih dalam tahap membangun bahkan ada yang belum siap sama sekali. Kerjasama bisa menjadi timpang dan akan berakibat kelak satu pihak yang kuat akan memangsa pihak yang lemah.
    Dari sisi maskapai, siapa yang tidak tahu tentang Singapore Airlines (SIA). Dengan keunggulan kualitas dan kuantitas armadanya SIA dapat mewujudkan konsep reciprocal dengan baik. Lebih dari itu SIA dan juga anak perusahaannya Silk Air merupakan flag carrier dan didukung langsung oleh pemerintah Singapura sendiri yang telah menjelma menjadi macan Asia.
    Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengan dukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak adil bagi maskapai swasta. Negara seperti Indonesia dengan Garuda Indonesia, Malaysia dengan Malaysia Airlines (MAS) atau Thailand dengan Thai Air diharapkan berlaku transparan dalam hal kebijakan subsidi kepada maskapai nasionalnya. Ini untuk menciptakan persaingan yang sempurna dan menguntungkan.
    Ditinjau dari segi Open Sky Policy, Garuda Indonesia jelas berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan Lion Air. Sebagai perusahaan penerbangan yang telah mapan dengan sejarah yang panjang serta sumber daya yang mendukung, Garuda jauh lebih siap untuk bersaing dengan maskapai penerbangan asing di banding Lion. Apalagi Garuda adalah flag carrier Indonesia yang tentunya akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah di berbagai bidang.
    Agar tidak ketinggalan dalam persaingan menghadapi Open Sky Policy 2015, mungkin Lion bisa mencoba menerapkan strategy bisnis penerbangan dari Air Asia. Maskapai swasta asal Malaysia ini yang memiliki bisnis jasa penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) telah melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga bahkan sebelum rencana tahap-tahapan ASEAN Open Sky dimulai.
    Dengan kuantitas armada yang signifikan, Air Asia melakukan ekspansi lebih jauh ke wilayah regional Asia Tenggara. Konsep penerbangan bertiket murah dengan cepat mengambil hati konsumen bahkan untuk yang terbiasa menggunakan full service flight sekalipun. Asas cabotage yang diberlakukan di negara-negara ASEAN ternyata bisa dilangkahi dengan menerapkan semacam kecabangan perusahaan di tiap-tiap negara. Ekspansi fenomenal Air Asia bahkan membuat ketar-ketir maskapai Asia Tenggara yang lebih dahulu beroperasi terutama Silk Air yang dianggap sulit dikalahkan karena didukung oleh SIA.
    Dari contoh kasus di atas dapat di simpulkan bahwa dengan membangun kompetensi yang tepat, baik maskapai penerbangan yang sudah mapan maupun maskapai penerbangan kelas menengah bawah tetap akan dapat survive dan berkembang dengan cara melakukan positioning sesuai dengan bidang keunggulannya, sehingga penerapan Open Sky Policy 2015 tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
    Sumber data :
    http://tabloidaviasi.com/liputan-utama/asean-open-sky-siapkah-indonesia/
    http://www.tempo.co/read/kolom/2010/06/02/180/Mencermati-Kemajuan-Garuda-Indonesia
    http://dikdiksalehsadikin.wordpress.com/2009/01/28/peningkatan-produktivitas-melalui-perumusan-budaya-suatu-studi-kasus-pt-garuda-indonesia/
    http://cdn.garuda-indonesia.com/media/filemanager/2009/07/15/C/o/Corporate_governance.pdf
    http://www.garuda-indonesia.com/gi_id/Tentang+Garuda+Indonesia/GCG/Kode+Etik.page
    http://aergot.wordpress.com/2009/05/07/what-the-heck-corporate-culture/

    Tan Saung Eng, tugas anda yang kedua jauh lebih jelas. Catatan untuk semua, naskah ujian Midsemester akan diunggah hari Sabtu 28 July 2012. Bapaak terlalu repot minggu ini. Sukses selalu.

    Komentar oleh johannessimatupang | Juli 21, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: