Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PERILAKU KONSUMEN MM ANGKATAN XVI


Halaman ini diperuntukkan untuk kelas Perilaku Konsumen Angkatan XVI. Semua bentuk penugasan kepada peserta diberikan melalui halaman ini. Untuk memulai perkuliahan silahkan pelajari pedoman perkuliahan sebagaimana dilampirkan berikut. SUSKSES UNTUK ANDA

Blog Pedoman Perkuliahan Perilaku Konsumen Angkatan XVI July 2013

Powerpoin Kuliah
Consumer Behavior chapter 1-7 Schifman
consumer behavior schiffman09 september 2013

Consumer Behavior chapter 10 September 2013

Consumer Behavior schiffman11 September 2013

Consumer Behavior schiffman12 September 2013
Blog Soal Perilaku Konsumen November 2013

Juli 7, 2013 - Posted by | Uncategorized

8 Komentar »

  1. Nama : Muhammad Yasir
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Matakuliah : Perilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johannes, SE, Msi

    Salam pak johannes,
    Sesuai dengan pedoman perkuliahan MM Angkatan XVI Juli 2013 yaitu membuat research object yang berkaitan dengan perilaku konsumen. Pada point 3 disebutkan riset topik dapat dimulai apabila sudah mendapat persetujuan dari dosen pengampu. Sehubungan dengan hal itu, saya membuat riset topik tentang marketing politik karena telah mendapat persetujuan dari bapak pada waktu perkuliahan 1, yang isinya adalah :
    1. Latar Belakang
    2. Rumusan Masalah
    3. Tujuan
    4. Hasil dan Pembahasan
    Demikian atas perhatiannya semoga bapak memberikan masukan dalam membuat riset ini.
    Terimakasih

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Marketing merupakan proses perencenaan dan pelaksanaan pemikiran, penyaluran gagasan, promosi, penetapan harga barang dan jasa untuk menciptakan petukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi. Marketing juga disebut dengan proses sosial antara individu dengan kelompok untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan yang benilai tinggi dengan tujuan dapat mempengaruhi orang lain atau masyarakat. Pengertian marketing tidak hanya digunakan untuk menjual produk atau jasa, akan tetapi marketing berpengaruh menjadi bagian yang sangat penting dalam memobilisasi pemilih dan mempromosikan suatu organisasi atau partai politik.
    Mobilisasi dalam kajian ini ditujukan pada usaha partai politik untuk menggerakkan pemilih agar melakukan tindakan politik berupa pemberian suara. Dalam menjalankan mobilisasi, sebuah partai politik mampu memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimilikinya. Pemanfaatan sumberdaya tersebut dapat dilakukan melalui political marketing. Marketing Politik merupakan ilmu baru yang mencoba menggabungkan teori-teori marketing dalam kehidupan politik. Sebagai cabang ilmu, marketing politik telah menjadi trend dalam ranah politik di negara maju yang menganut sistem demokrasi termasuk negara Indonesia. Setiap partai politik dan kandidat perseorangan berlomba memanfaatkan ilmu ini untuk strategi kampanye baik untuk memobilisasi pemilih, mendapatkan dukungan politik dalam pemilihan umum (Pemilu) maupun untuk memelihara citra partai sehingga elektabilitas sebuah partai semakin meningkat.
    Pokok kajian marketing politik secara konseptual sebagai ”Political marketing in simple terms is a marriage between two social science disciplines political science and marketing” (Firmansyah, 2007:6). Sebagai kajian keilmuan, marketing politik terus mengalami perkembangan definisi yang beragam dan berubah. Menurut Nursal marketing politik didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada pemilih, sehingga political marketing bertujuan membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, orientasi dan perilaku pemilih. Perilaku pemilih yang diharapkan adalah secara umum mendukung dengan berbagai dimenasinya, khususnya menjatuhkan pilihan pada partai atau kandidat tertentu.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa marketing politik merupakan strategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis yang terbentuk dalam pikiran para pemilih menjadi orientasi perilaku yang akan mengarahkan pemilih untuk memilih partai politik atau kandidat tertentu. Makna inilah yang menjadi output penting marketing politik yang menentukan partai atau pihak mana yang akan dipilih para pemilih.
    Kemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani dalam Pilwako Jambi 2013 yang di usung partai Golkar, PDIP, Gerindra, PPP, dan partai lain merupakan keberhasilan partai politik menggerakkan sumber daya yang dimilikinya termasuk memerankan political marketing.
    Penulis tertarik untuk membuat riset tentang Peranan Marketing Politik Terhadap Kemenangan Fasha-Abdullah Sani karena penyelenggaraan Pilwako/Pemilu atau pesta demokrasi merupakan momentum sejarah yang penting dalam perjalanan bangsa dan negara serta tahun 2013 adalah tahun politik khususnya bagi partai politik, elite politik dan Calon Legislatif menuju PEMILU 2014 mendatang.
    Alasan lain adalah : pertama, kemenangan Fasha-Abdullah Sani dalam Pilwako Jambi mendapat empati dari beberapa kalangan di provinsi Jambi. Pasangan ini mampu menyingkirkan pasangan Sum Indra-Maulana yang didukung oleh kekuatan besar yaitu keluarga mantan Gubernur Jambi ZulKifli Nurdin. Pasangan ini juga menumbangkan pasangan Efendi Hatta-Asnawi yang didukung penuh oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus. Fasha-Abdullah Sani juga menumbangkan pasangan Bambang-Yeri yang merupakan pasangan incumbent. Kedua, politikal marketing menjadi mesin pemenangan yang efektif dan digerakkan oleh hati dan pikiran bukan praktik politik transaksional. Ketiga, figur seperti Fasha-Abdullah Sani merupakan pasangan yang merakyat dan sederhana dan menjadi harapan baru bagi masyarakat Jambi untuk memperhatikan masyarakat dengan implementasi bukan sekedar janji-janji politik.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan bahwa permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana Peranan Marketing Politik Terhadap Kemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani dalam Pilwako Jambi 2013.
    Masalah penelitian ini akan didekati dengan mengembangkan model teoritikal serta model penelitian empirisnya.
    Pertanyaan Penelitian
    1. Bagaimana peran marketing politik dalam memobilisasi pemilih terhadap kemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani pada Pilwako Jambi 2013?
    2. Apakah pasangan Fasha-Abdullah Sani memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dalam marketing politik untuk pengarahan pemilih pada Pilwako Jambi 2013?
    3. Bagaimana proses pendanaan pemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani dalam melakukan marketing politik pada Pilwako Jambi 2013?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Penelitian ini dilakukan untuk mememuhi beberapa tujuan berikut ini :
    1. Membangun sebuah model teoritikal mengenai marketing politik dalam memobilisasi pemilih terhadap kemenangan kemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani pada Pilwako Jambi 2013.
    2. Menjelaskan peran marketing politik sebagai pendidikan politik kepada masyarakat dalam pengarahan pemilih pada Pilwako Jambi 2013.
    3. Menjelaskan proses pendanaan dalam melakukan marketing politik dan mengetahui berapa kost politik yang dikeluarkan pasangan Fasha-Abdullah Sani dalam Pilwako Jambi 2013.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan dalam penelitian marketing politik dan kepentingan praktis bagi para pelaku politik khususnya partai politik, calon Kepala Daerah, maupun calon Legislatif yang mencalonkan diri pada PEMILU 2014 mendatang.
    1. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya struktur bangunan teoritis yang telah dibangun dan dikembangkan oleh para ahli dan peneliti terdahulu dan diharapkan dapat menjelaskan peran marketing politik terhadap kemenangan pasangan Fasha-Abdullah Sani pada Pilwako Jambi 2013.
    2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna bagi para pelaku politik khususnya partai politik, calon Kepala Daerah, serta Calon Legislatif yang mencalonkan diri pada PEMILU Legilatif 2014 mendatang untuk lebih mengenali dan memahami marketing politik yang dilakukan kepada masyarakat untuk meraih suara yang maksimal sehingga dapat dijadikan sebagai strategi untuk memenangkan Pilkada/Pilwako maupun Pemilu Legislatif 2014 mendatang.
    3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pendidikan politik bagi pelaku politik maupun calon kepala Daerah atau Calon Anggota Dewan yang mengikuti Pemilu 2014.

    BAB II
    HASIL DAN PEMBAHASAN

    2.1. Pengertian Marketing Politik
    Para ahli mengemukakan bahwa marketing berperan dalam memebangun tatanan sosial dan berpendapat “penggunaan konsep marketing tidak hanya terbatas pada bisnis yang berorientasi kepada keuntungan ekonomi, akan tetapi marketing dapat diaplikasikan kedalam bentuk organisasi maupun partai politik” (Levi dan Kotler, 1972). Pendapat lain mengemukakan bahwa marketing adalah “pertukaran yang terjadi tidak hanya pertukaran ekonomi, pertukaran ini juga dapat terjadi dalam konteks sosial secara luas, tidak hanya terbatas pada perusahaan swasta, tetapi juga pada organisasi sosial non frofit, museum, rumah sakit pemerintah, dalam bentuk pertukaran ide, norma dan simbol” (Firmanzah, 2007:57). Dalam hal ini, konteks politik dapat mengaplikasikan konsep dan teori marketing.
    Firmanzah meyakini bahwa marketing politik merupakan metode dan konsep aplikasi marketing dalam konteks politik, marketing dilihat sebagai seperangkat metode yang dapat memfasilitasi kontestan (individu atau partai politik) dalam memasarkan insiatif politik, gagasan politik, isu politik, ideologi partai, karakteristik pemimpin partai dan program kerja partai kepada masyarakat atau kontestan. “Political marketing adalah strategi kampaye politik untuk membentuk serangkaian makna politis tertentu didalam pikiran para pemilih” (Nursal, 2004:207). Pembentukan makna-makna politis tersebut dapat dilaksanakan melalui metode 9P (Positioning, policy, person, party, presentation, push marketing, pull marketing, pass marketing dan polling).
    1. Positioning adalah strategi komunikasi untuk memasuki jendela otak pemilih agar konstestan mengandung arti tertentu yang mencerminkan keunggulannya terhadap konstestan pesaing dalam bentuk hubungan asosiatif.
    2. Policy adalah tawaran program kerja jika terpilih. Policy yang efektif harus memenuhi tiga syarat, yakni menarik perhatian, mudah terserap pemilih, attributable.
    3. Person adalah kandidat legislatif atau eksekutif yang akan dipilih melalui Pemilu. Kualitas person dapat dilihat nelalui tiga dimensi, yakni kualitas instrumental, dimensi simbolis, dan fenotipe optis.
    4. Party juga dilihat sebagai substansi produk politik. Partai politik mempunyai identitas utama, asset reputasi, dan identitas estetis. Ketiga hal tersebut akan dipertimbangkan oleh para pemilih dalam menetapkan pilihannya.
    5. Presentation adalah bagaimana ketiga substansi produk politik disajikan. Presentasi sangat penting karena dapat mempengaruhi makna pemilih. Presentasi disajikan dengan medium presentasi. Produk politik disampaikan kepada pasar politik (political market) melalui push marketing, pull marketing, pass marketing, polling.
    6. Push Marketing adalah penyampaian produk langsung kepada masyarakat.
    7. Pull marketing adalah penyampaian produk melalui pemanfaatan media Massa.
    8. Pass marketing adalah penyampaian produk kepada influencer group.
    9. Polling dilakukan agar produk politik disampaikan tepat pada sasaran dan dilakukan berbagai aktivitas riset lainnya. Riset ini merupakan kebutuhan penting untuk pemetaan isu, pemetaan segmentasi dan pemetaan program.
    Metode 9P disebut dengan Totally political marketing. Totally Political Marketing yakni partai politik memasarkan semua yang bisa dijual, baik potensi, kelebihan dan performa partai politik. Di dalam kajian ini, usaha-usaha tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu metode dalam melakukan mobilisasi. Jadi praktisi political marketing yang canggih tidak hanya memfokuskan diri pada penggarapan isu dan program kerja saja, meskipun program kerja itu penting dan harus menarik. Pengertian Totally Political Marketing juga diartikan apabila partai politik mampu melaksanakan dua model kampanye sekaligus secara konsisten dan berkesinambungan (continuity), yaitu kampanye pemilu dan kampanye politik.
    Dalam kampanye pemilu maupun kampanye politik, marketing politik adalah sebuah proses yang harus ditempuh melalui dua hal utama, yaitu marketing program dan voters segmentation. Marketing program adalah menyampaikan produk politik yang disebut dengan 4P (Product, Price, Promotion dan Place). Sedangkan Voters segmentation adalah menentukan para pemilih pada beberapa level kategori, sehingga pengemasan produk politik dapat dilakukan sesuai kategori tersebut. Bagi partai politik maupun kandidat, konsep marketing politik dapat dilakukan melalui beberapa metode, yaitu mengkomunikasikan pesan dan gagasan, mengembangkan identitas jati diri, kredibilitas dan tranparansi.
    Interaksi dan respons dengan komunitas internal dan eksternal dengan melakukan pencitraan partai politik. Misalnya, menyediakan pelatihan, mengolah dan menganalisis data untuk kepentingan kampanye yang secara terus menerus mempengaruhi dan mendorong komunitas untuk mendukung partai politik. Kampanye sebagai salah satu bentuk marketing politik yang diterapkan dalam dua model, yaitu :
    1. Kampanye pemilu yang bersifat jangka pendek dan biasanya dilakukan menjelang Pemilu.
    2. Kampanye politik yang bersifat jangka panjang dan dilakukan secara terus menerus.
    Dalam marketing juga mengandung makna product inovation, new product research, pengambilan keputusan, dan resources yang dilakukan setiap saat. Apabila hal tersebut dimaknai dengan benar maka seharusnya partai politik melakukan kampanye sepanjang masa (kampanye politik) dengan mengolah ide, gagasan dan program baru yang inovatif, riset aspirasi, kebijakan rasional yang menguntungkan masyarakat, dan melahirkan SDM dan leadership yang unggul untuk menjalankan roda pemerintahan dan kebijakan negara yang berpihak pada kemajuan dan kepentingan masyarakat. Di dalam melakukan mobilisasi, partai atau kandidat juga dapat memanfaatkan figur. Hal ini tentunya dengan melihat kualitas figur yang ditampilkan, sehingga pemilih mampu menerimanya sebagai nilai politik yang akan dipilih. Kualitas dari seorang figur dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu : kualitas instrumental, faktor simbolis, dan fenotipe optis.
    Kualitas instrumental adalah kompetensi kandidat yang meliputi kompetisi manajerial dan kompetensi fungsional. Kompetensi manajerial berkaitan dengan kemampuan dalam mengelola organisasi yaitu planning, organizing, actuating, controling. Kompetensi fungsional adalah kemampuan yang dianggap penting untuk melaksanakan tugas, misalnya : keahlian bidang ekonomi, hukum, keamanan, teknologi, dan sebagainya. Kualitas instrumental dapat dilihat dari personal kandidat yaitu kemampuan kandidat tersebut untuk melakukan tugasnya sebagai wakil rakyat. Hal ini bisa dilihat dari track record ketika orang tersebut memimpin suatu kelompok atau organisasi. Kualitas instrumental ini sangat dibutuhkan karena jabatan politik memerlukan kemampuan seorang pemimpin yang respon terhadap segala tantangan di depannya. Mengenai kualitas kandidat, Adman Nursal berpendapat bahwa terdapat 4 hal faktor yang merupakan bagian dari faktor simbolis yaitu:
    1. Prinsip-prinsip hidup yang meliputi sejumlah keyakinan atau nilai dasar yang dianut oleh seorang kandidat seperti integritas, keterbukaan, kesetiakawanan, ketulusan, kerelaan berkorban, kebersahajaan, keperdulian sesama, keimanan, ketakwaan, independen, bertanggungjawab, dsb.
    2. Aura emosional adalah perasaan emosional yang terpancar dari kandidat seperti ambisius, berani, patriotis, bersemangat, gembira, optimis, cinta kasih, tegar, keharuan, halus, dsb.
    3. Aura inspirational adalah aspek-aspek tertentu yang terpancar dari kandidat yang membuat orang terinspirasi, termotivasi, dan tergerak untuk bersikap atau melakukan hal-hal tertentu. Aura ini bisa meliputi dorongan semangat, kemampuan mempengaruhi, keteladanan, daya persuasi, sikap berbagi pengetahuan, pengalaman, dan harapan dsb. Aura inspirational akan tercermin dalam reputasi, sikap, tindakan, termasuk substansi dan cara berbicara kandidat.
    4. Aura sosial adalah representasi atau asosiasi terhadap kelompok sosial tertentu. Misalnya seorang kandidat tertentu merupakan representasi dari kaum muda, wong cilik, tokoh agama, akademisi, intelektual, seniman, teknologi, aktivis, bahkan artis.
    Mengenai kualitas kandidat dijelaskan bahwa terdapat faktor penampakan visual seorang kandidat. Dengan kata lain bisa dikatakan kualitas kandidat dipengaruhi juga oleh fenotipe optis. Fenotipe optis terdiri dari tiga faktor :
    1. Pesona Fisik adalah keindahan postur dan bentuk tubuh dan bagian-bagiannya. Tanggapan para pemilih dari fenotipe ini yaitu: ganteng, cantik, berparas menarik, muda tinggi, ramping, atletis, dsb.
    2. Faktor kesehatan dan kebugaran seorang kandidat terpancar dari kekuatan fisik, energic, aktif, sportif, riang, cerah, dsb.
    3. Gaya penampilan meliputi cara dan pilihan pakaian dan bahasa tubuh yang terlihat dari kandidat.
    Ketiga dimensi tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Kualitas instrumental yang berbicara tentang kemampuan manajeral dan kompetisi fungsional yang memadai harus juga didukung dimensi lain seperti dimensi simbolis.
    Ada empat hal utama yang melandasi pentingnya penggunaan marketing politik bagi partai-partai politik.
    1. Terjadinya pergeseran paradigma pemilih dari ideologi ke program kerja. Adanya de-idiologisasi pasca berakhirnya Perang Dingin secara global telah merubah pula cara pandang dan preferensi para pemilih partai politik. Masyarakat cenderung menggantikan ikatan-ikatan ideologis (tradisional) dengan hal-hal yang lebih pragmatis, yaitu program kerja yang ditawarkan oleh konstestan. Masyarakat cenderung melihat apa yang bisa dan apa yang ditawarkan oleh partai politik maupun kontestan dibandingkan dengan alasan-alasan ideologis yang ada dibalik satu partai politik atau kontestan. Hal ini terlihat nyata sekali dengan semakin membesarnya persentase pemilih non-partisan, yaitu para pemilih yang menunggu partai politik mana yang kiranya menawarkan solusi paling baik ketimbang yang lainnya. Partai politik macam inilah yang akan mereka pilih dalam Pemilu.
    2. Meningkatnya pemilih non-partisan. Terdapat trend yang memperlihatkan semakin meningkatnya proporsi non-partisan dalam Pemilu. Nonpartisan adalah sekelompok masyarakat yang tidak menjadi anggota atau mengikatkan diri secara ideologis dengan partai politik tertentu. Kaum non-partisan melihat pentingnya kemampuan dan kapasitas orang atau program kerja partai politik mana yang dapat memberikan solusi atas permasalahan bangsa dan negara ketika program-program itu dikomunikasikan selama periode menjelang Pemilu.
    3. Meningkatnya massa mengambang (floating mass). Dengan meningkatnya jumlah pemilih non partisan maka jumlah massa mengambang semakin besar. Massa mengambang ini seringkali sangat menentukan menang tidaknya suatu partai politik dalam Pemilu. Massa mengambang adalah kelompok masyarakat yang diperebutkan oleh partai-partai dan kandidat yang bersaing dalam Pemilu. Massa mengambang ini semakin besar seiring semakin kritisnya masyarakat.
    4. Adanya persaingan politik. Sistem multipartai yang kini banyak dianut oleh negara yang sedang meniti ke arah demokrasi ataupun baru saja melaksanakan transisi dari otoriter menuju demokrasi, ditambah dengan semakin kritisnya masyarakat dalam memilih partai politik telah menempatkan partai politik pada iklim kompetisi yang ketat untuk memperebutkan pemilih.
    Melalui pertimbangan diatas, marketing politik bertujuan untuk :
    1. Menjadikan pemilih sebagai subyek dan bukan sebagai obyek politik. Dalam hal ini pemilih tidak hanya sekedar suara yang diperebutkan partai dengan berbagai tawaran produknya, tetapi pemilih ikut menentukan program dan produk-produk politik apa yang seharus dilakukan partai politik.
    2. Menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih adalah langkah awal dalam menyusun program kerja yang ditawarkan dalam kerangka masing-masing ideologi partai politik.
    Marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan perangkat bagaimana menjaga hubungan dengan pemilih untuk membangun kepercayaan, mobilisasi, dan selanjutnya memperoleh dukungan suara.
    Mobilisasi dikategorikan dalam 2 bentuk, yakni mobilisasi langsung dan mobilisasi tidak langsung. Mobilisasi langsung merupakan kegiatan memobilisasi dalam bentuk pengerahan terhadap pemilih agar melakukan tindakan politik sebagaimana yang dikehendaki partai politik. Mobilisasi tidak langsung merupakan kegiatan mobilisasi dalam bentuk pemengaruhan cara pikir atau cara pandang pemilih, sehingga pemilih akan mengekspresikan pemahamannya dalam bentuk keputusan politik pemilih. Perbedaan kategori antara mobilisasi langsung dan tidak langsung berdasar pada mekanisme-mekanisme mobilisasi yang dilakukan oleh partai politik. Mobilisasi langsung dapat dilakukan dengan memberikan instruksi-instruksi melalui mekanisme partai politik kepada para pemilih. Sedangkan mobilisasi tidak langsung dapat dilakukan dengan kampanye-kampanye langsung maupun melalui media-media. Mobilisasi langsung adalah menggerakkan simpatisan partai untuk melakukan konvoi jalanan, untuk melakukan aksi-aksi politik, dan lain sebagainya. Sedangkan mobilisasi tidak langsung adalah iklan-iklan politik di media masa, seminar-seminar partai, kampanye dialogis, dan lain sebagainya.
    Kemenangan pasangan Fasya-Abdullah Sani pada Pilwako Jambi 2013 yang di usung partai Golkar, PDIP, Gerindra, PPP, dan partai lain merupakan keberhasilan partai politik menggerakkan sumber daya yang dimilikinya termasuk memerankan political marketing. Hal ini merupakan penerapan konsep marketing politik yang efektif dan efisien serta diaplikasikan secara terampil yang dilakukan oleh tim pemenangan Fasha-Abdullah Sani walaupun kemenangan tersebut hanya tidak lebih dari 1 persen dibandingkan pesaing kuatnya pasangan Sum indra-Maulana (simpatik), namun tentu cukup menunjukkan kekuatan bahwa pasangan tersebut unggul dibandingkan pasangan-pasangan lainnya.
    Berdasarkan data yang diperoleh dari KPUD kota Jambi bahwa pasangan Bambang Priyanto dan Yeri Muthalib (Bayer) memperoleh suara 11,46 %, Sum Indra-Maulana (Simpatik) 34,135%, Fasha-Abdullah Sani 35,36 %, Effendi Hatta dan Asnawi AB 19,046 %. Hal ini membuktikan keunggulan marketing politik yang dilakukan Fasya-Abdullah Sani dalam merebut kursi nomor 1 di Kota Jambi 2013.
    Strategi yang dilakukan Fasha –Abdullah Sani untuk menarik simpati dari masyarakat antara lain menghadirkan figur atau tokoh-tokoh nasional yang berkualitas seperti Akbar Tanjung dari partai Golkar, Edi Prabowo dari partai Gerindra, Ahmad Yani dari PPP, dan lain-lain. Figur tersebut adalah orang-orang yang memiliki popularitas dan memiliki pengaruh serta memiliki image yang positif di tengah masyarakat. Salah satu figur yang dimaksud adalah Jokowi, seorang Gubernur DKI yang menjadi tren kepeminpinan nasional masa depan.
    Pasangan FAS memanfaatkan popularitas Jokowi untuk mendongkrak popularitas karena tren kepeminpinan Jokowi sudah menjadi mimpi dalam masyarakat. Jokowi adalah simbol kepeminpinan egaliter, peka dengan masalah sosial dan berani turun ke lapangan (blusukan). Pesan inilah yang disampaikan oleh pasangan FAS selaku pemenang karena masyarakat Kota Jambi sudah cerdas dalam menilai sosok peminpin yang mengayominya. Ke depan masyarakat Sepucuk Jambi Sembilan Lurah akan dinahkodai oleh tokoh muda progresif yang diharapkan dapat memenuhi ekspektasi masyarakat akan perubahan ke arah yang lebih baik.

    Komentar oleh Muhammad Yasir | Juli 27, 2013 | Balas

  2. Nama : Harry Budi Saputra
    NIM : C2B011062
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Matakuliah : Perilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johannes, SE, Msi

    Dear Pak Johannes,

    Sesuai dengan pedoman perkuliahan MM Angkatan XVI Juli 2013 yaitu membuat research object yang berkaitan dengan perilaku konsumen & pertemuan terakhir tanggal 31 Agustus 2013. Dengan ini saya sampaikan Abstrak dari Research object mengenai Strategi pemasaran di PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) kantor cabang Jambi.

    Adapun Research object tersebut secara lengkap saya kirimkan ke alamat email simatupangsbr@yahoo.com
    Demikian atas perhatiannya semoga bapak memberikan masukan dalam membuat riset ini.
    Terimakasih

    ABSTRAK

    Asuransi atau pertanggungan adalah suaru perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri dengan seseorang tertanggung dengan menerima uang premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan didenda karena suatu peristiwa tak tentu. Terdapat 3 (tiga) unsur mutlak yang perlu diperhatikan dalam Asuransi yaitu : adanya kepentingan, peristiwa tak tentu dan kerugian
    Sebagai salah satu BUMN yang memiliki kinerja usaha gemilang di Indonesia, seluruh saham PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Dalam menyuguhkan layanan profesional dan terbaiknya, Asuransi Jasindo senantiasa memegang teguh nilai-nilai budaya perusahaan yang ditanamkan yaitu Asah, Asih dan Asuh.
    Masalah pokok dalam penelitian ini yaitu : bagaimana hubungan antara harga produk dengan peningkatan volume penjualan/penerimaan premi perusahaan, bagaimana hubungan antara promosi dengan peningkatan volume penjualan/penerimaan premi perusahaan, bagaimana hubungan antara saluran distribusi dengan peningkatan volume penjualan/penerimaan premi perusahaan, strategi pemasaran apa yang sesuai untuk meningkatkan volume penjualan/penerimaan premi di PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Kantor Cabang Jambi.
    Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis strategi pemasaran polis asuransi kerugian pada PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) cabang Jambi yaitu dengan memahami fenomena – fenomena pemasaran yang ada sehingga di dapat suatu pemahaman mengenai strategi yang harus dilakukan untuk membuat strategi yang sesuai dengan pasar sasaran. Disamping itu telah diketahui bahwa perusahaan – perusahaan untuk mengembangkan strategi pemasarannya berdasarkan konsep 4P yaitu konsep Product, Price, Promotion dan Place. Demikian juga pada PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Cabang Jambi strategi pemasaran yang digunakan adalah strategi marketing mix yang mencoba merumuskan strategi tertentu baik berdasarkan pada “Best Weapon”nya yang diturunkan dari beberapa kombinasi dari 4P tersebut. Selain itu dilakukan juga analisis SWOT untuk mengenali berbagai kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan yang berkaitan dengan peluang yang dapat dimanfaatkan dan ancaman yang dihadapi perusahaan.
    Dengan menghubungkan marketing mix dengan SWOT dapat dipilih strategi yang tepat yang dihadapi oleh PT. AsuransiJasa Indonesia (Persero) Cabang Jambi sebagai berikut: Kekuatan (Strength) yaitu : tersebarnya kartor perwakilan distribusi, karyawan/staf, image perusahaan, keuangan; Kelemahan (Weakness) yaitu : promosi kurang gencar, batas geografi pemasaran tidak jelas; Kesempatan (Opportunity) yaitu : kondisi perekonomian Indonesia yang meningkat, meningkatnya kesadaran berasuransi (perluasan pasar, pemerintah dan tehnologi); Ancaman (threat) yaitu : persaingan antar perusahaan asuransi, pembajakan agen.

    Komentar oleh Harry Budi Saputra | September 2, 2013 | Balas

  3. 2. Nama : Milde Wahyu
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Konsentrasi : Pemasaran
    Mata Kuliah : Prilaku Konsumen
    Dosen : Prof. Dr. Johanes Simatupang

    Yth. Prof Johanes
    Bersama ini kami kirimkan tugas mata kuliah prilaku konsumen tentang proposal tesis, berikut kami krimkan abstrak proposal tesis dengn judul segmentasi, targeting dan positioning Universitas Terbuka dalam peningkatan jumlah mahasiswa Non Pendas pada UPBJJ-UT Jambi. Untuk bab satu dan selanjutnya kami kirimkan ke email bapak.

    ABSTRAK

    Latar belakang penelitian ini oleh semakin menurunnya jumlah mahasiswa Pendas (Pendidikan Dasar) yang ada pada UPBJJ-UT Jambi pada khususnya dan Universitas Terbuka pada umumnya. Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah mahasiswa UT yaitu dengan meningkatkan jumlah mahasiswa Non Pendas (Non Pendidikan Dasar) pada UPBJJ-UT Jambi. Agar berjalan efektif dan efisien terlebih dahulu harus melakukan Segmentasi, Targeting, Positioning Universitas Terbuka dalam upaya peningkatan jumlah mahasiswa Non Pendas pada UPBJJ-UT Jambi adalah tujuan dari penelitian ini.
    Jenis Penelitian ini adalah deskriptif kwantitatif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan cara Observasi, wawancara, kuisioner, rekaman arsip dan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah OMS (Overal Mean Score). Statistika deskripstif yang digunakan adalah purata (mean). Hasil pengumpulan data dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 17.00, Penelitian ini dilakukan di Kota Jambi, terdiri dari mahasiswa UPBJJ-UT Jambi, pelajar, mahasiswa di luar mahasiswa UPBJJ-UT Jambi, masyarakat yang berlatar belakang pendidikan SMA.

    Kata Kunci : Segmentasi, Targeting, Positioning, Peningkatan Jumlah Mahasiswa

    Komentar oleh mildewahyu | September 6, 2013 | Balas

  4. Nama : Widdy Frima
    NIM : C2B010030
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Matakuliah : Perilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johannes, SE, Msi
    Dear Pak Johannes,
    Sesuai dengan pedoman perkuliahan MM Angkatan XVI Juli 2013 yaitu membuat research object yang berkaitan dengan perilaku konsumen. Dengan ini saya sampaikan Abstrak dari Research object mengenai ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN PADA KANTOR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI PEMERINTAH KOTA JAMBI.
    Adapun Research object tersebut secara lengkap saya kirimkan ke alamat email simatupangsbr@yahoo.com
    Demikian atas perhatiannya semoga bapak memberikan masukan dalam membuat riset ini.
    Terimakasih

    ABSTRAK

    ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN PADA KANTOR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI PEMERINTAH KOTA JAMBI

    Sebagai salah satu Lembaga yang di bentuk Pemerintah Kota Jambi yang eksistensinya bergerak dalam bidang pelayanan Perizinan Terpadu, kelangsungan Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kota Jambi akan sangat tergantung dari keberadaan dan kepuasan pelanggannya.
    Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh faktor manusia sebagai pemberi layanan yaitu pegawai Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Untuk itu, pengukuran kepuasan pelanggan yang mendukung pendapatan, pertumbuhan, dan keuntungan suatu perusahaan serta kepuasan pegawainya sangat diperlukan dalam keberlangsungan suatu organisasi.
    Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan dengan model Service Quality yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry, 1990 terdiri dari lima dimensi yaitu Tangible, Reability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy.
    Pengukuran tingkat kepuasan kerja pegawai terdiri dari enam indikator yaitu Apresiasi Perusahaan Kepada Perusahaan,Otonomi Pekerjaan, Profesionalisme, Kebijakan Organisasi, Tuntutan Tugas, dan Interaksi Sosial dengan menggunakan model Skala Likert. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel bebas tinjauan terhadap kepuasan baik konsumen maupun karyawan PDAM, dilakukan dengan mencari persamaan regresi.

    Kata kunci : kualitas layanan, kepuasan pelanggan, kepuasan kerja karyawan.

    Komentar oleh widdy frima | Oktober 1, 2013 | Balas

  5. Nama : Widdy Frima
    Nim : C2B010030
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Konsentrasi : Pemasaran
    Mata Kuliah : Prilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johanes Simatupang

    Yth. Prof Johanes
    Bersama ini kami kirimkan tugas mata kuliah prilaku konsumen tentang proposal tesis, berikut saya kirimkan abstrak proposal tesis dengn judul ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN PADA KANTOR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI PEMERINTAH KOTA JAMBI. Untuk bab satu dan selanjutnya kami kirimkan ke email bapak simatupangsbr@yahoo.com.
    Demikian atas perhatiannya semoga bapak memberikan masukan dalam membuat riset ini.
    Terimakasih.

    ABSTRAK

    ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN PADA KANTOR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI PEMERINTAH KOTA JAMBI

    Sebagai salah satu Lembaga yang di bentuk Pemerintah Kota Jambi yang eksistensinya bergerak dalam bidang pelayanan Perizinan Terpadu, kelangsungan Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kota Jambi akan sangat tergantung dari keberadaan dan kepuasan pelanggannya.
    Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh faktor manusia sebagai pemberi layanan yaitu pegawai Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Untuk itu, pengukuran kepuasan pelanggan yang mendukung pendapatan, pertumbuhan, dan keuntungan suatu perusahaan serta kepuasan pegawainya sangat diperlukan dalam keberlangsungan suatu organisasi.
    Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan dengan model Service Quality yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry, 1990 terdiri dari lima dimensi yaitu Tangible, Reability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy.
    Pengukuran tingkat kepuasan kerja pegawai terdiri dari enam indikator yaitu Apresiasi Perusahaan Kepada Perusahaan,Otonomi Pekerjaan, Profesionalisme, Kebijakan Organisasi, Tuntutan Tugas, dan Interaksi Sosial dengan menggunakan model Skala Likert. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel bebas tinjauan terhadap kepuasan baik konsumen maupun karyawan KPTSP Kota Jambi, dilakukan dengan mencari persamaan regresi.

    Kata kunci : kualitas layanan, kepuasan pelanggan, kepuasan kerja karyawan.

    Windy, topikmu ini sudah pernah diteliti oleh kaka kelasmu. Kecuali ada topik lain dari objek yang akan diteliti. Misalnya, yg diteliti adalah Kesiapan Tim Teknis dala melaksanakan pekerjaannya di PTSP. Kita bisa diskusikan lagi di kelas. Sukses selalu.

    Komentar oleh widdy frima | Oktober 4, 2013 | Balas

  6. Nama : Mukti Hadianto
    NIM : C2B011078
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Matakuliah : Perilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johannes, SE, Msi

    Yth. Pak Johannes,
    Sesuai dengan pedoman perkuliahan MM Angkatan XVI Juli 2013 yaitu membuat research object yang berkaitan dengan perilaku konsumen & pertemuan terakhir tanggal 31 Agustus 2013. Dengan ini saya sampaikan Abstrak dari Research object mengenai Pengaruh Layanan dan Produk Terhadap Loyalitas Nasabah Pada PT. Bank Mandiri,Tbk (Persero) kantor cabang Sarolangun Mandiangin.

    ABSTRAK
    Latar belakang penelitian ini dari perkembangan sektor jasa saat ini mengalami peningkatan yang pesat terlihat dari perkembangan berbagai industri jasa perbankan. Dalam situasi persaingan, salah satu cara memperoleh keunggulan yang kompetitif dan berkesinambungan di industri jasa yaitu menggunakan pemasaran jasa dalam konteks pemasaran relasional yang berorientasi kepada pelanggan yang memungkinkan perusahaan mempertahankan pelanggan melalui loyalitas dan komitmen yang diperoleh dari pelanggan.
    Penelitian ini dilakukan terhadap nasabah PT.Bank Mandiri cabang KCP MMU Sarolangun Mandiangin. Data primer diperoleh dengan menggunakan tehnik wawancaran observasi, dan penyebaran kuesioner.

    Kata kunci: Layanan, Produk, Loyalitas, PT.Bank Mandiri KCP MMU Sarolangun Mandiangin.

    Komentar oleh mukti hadianto | Oktober 9, 2013 | Balas

  7. Nama : Harry Budi Saputra
    NIM : C2B011062
    Angkatan : XVI
    Semester : III
    Matakuliah : Perilaku Konsumen
    Dosen : Dr. Johannes, SE, Msi

    Dear Pak Johannes,

    Sesuai dengan pedoman perkuliahan MM UNJA Angkatan XVI Juli 2013 yaitu membuat research output yang berkaitan dengan perilaku konsumen. Berdasarkan hasil pertemuan kuliah sebelumnya dimana Research Output pertama saya mengenai topik strategi pemasaran setelah mendapat masukan dari Bapak Dr. Johannes, SE, Msi mengalami perubahan topik menjadi motivasi konsumen dimana obyek penelitian tidak mengalami perubahan yaitu PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) kantor cabang Jambi. Adapun Research Output secara lengkap saya kirimkan melalui email simatupangsbr@yahoo.com.

    Demikian disampaikan atas perhatiannya semoga bapak memberikan masukan dalam membuat research output ini.
    Terimakasih

    Komentar oleh Harry Budi Saputra | Oktober 30, 2013 | Balas

  8. Dear Yth. Bp. Dr. Johannes, SE, M.Si

    Menindaklanjuti pertemuan kuliah bulan Desember 2013 untuk mata kuliah Perilaku Konsumen MM UNJA bersama ini saya sampaikan Tugas Perilaku konsumen mengenai Proposal Tentatif yang temanya sudah disetujui yaitu “Persepsi Pelanggan dan Brand Image Terhadap Keputusan Membeli Produk Asuransi Pada PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Kantor Cabang Jambi”.

    Bersama ini juga saya lampirkan tugas individu tentang menganalisis jurnal atau artikel yang berkaitan dengan Proposal Tentatif yaitu ada 20 Jurnal yang diambil dari beberapa jurnal online dibeberapa perguruan tinggi dan EBCO.

    Adapun identitas mahasiswa :
    Nama : Harry Budi Saputra
    NIM : C2B011062
    Konsentrasi : Marketing Pascasarjana MM UNJA Semester 3 Angkatan XVI

    Proposal Tentatif, Tugas Analisis Jurnal dan 20 Jurnal saya kirimkan melalui email simatupangsbr@yahoo.com.

    Demikian disampaikan, arahan dan bimbingan dari Bapak saya nantikan dalam kesempatan pertama guna perbaikan proposal tersebut. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

    Best Regards

    Harry Budi Saputra

    Komentar oleh Harry Budi Saputra | Desember 18, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: