Johannessimatupang’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

ANALISIS INDUSTRI KESEHATAN

Oleh: Johannes

  1. 1. Latar belakang

Pemenuhan  pelayanan jasa  kesehatan adalah masalah kompleks yang merupakan tanggungjawab strategis bangsa, masyarakat dan penyedia jasa kesehatan. Kelalaian dan ketidakmampuan memberikan pelayanan kesehatan yang optimal akan membuat negara menanggung biaya baik yang bersifat eksplisit maupun implisit. Berkaitan dengan biaya eksplist, Hadi (2005) dalam pidato pengukuhan guru Besar di Yogjakarta menunjukkan beban ganda masalah kesehatan. Biaya kesehatan yang disampaikan oleh Hadi dalam hal ini baru berkaitan dengan masalah gizi, yakni kekurangan dan kelebihan gizi. Beban yang muncul bukan hanya kepada penderita, akan tetapi juga kepada perekonomian Nasional. Tahun 2003 diduga bahwa “kebocoran” akibat masalah gizi mencapai 4,5 trilliun (1,43% dari GDP), selanjutnya bila estimasi dibuat dengan kondisi “ceterus paribus”, pada Tahun 2010 kebocoran akan menjadi 55,8 triliun. Pengeluaran ini adalah biaya pengelolaan yang harus dilakukan untuk tindakan kuratif, yang dikeluarkan oleh para penyedia jasa kesehatan (utamanya dokter).

Akan tetapi dalam presfektif ekonomi, biaya demikian juga menyangkut biaya implisit yaitu perolehan yang seharusnya diterima ketika  seorang berada dalam keadaan sakit. Bila ditelusuri lebih jauh, biaya ini termasuk juga biaya yang muncul karena keluarga harus berhenti atau menunda bekerja karena anggota keluarga sakit. Biaya demikian memang belum dihitung, akibatnya bila ini dihitung maka biaya dan dampak daripada seseorang tidak berada dalam keadaan sehat jauh lebih besar lagi dari hitungan di atas.

Biaya implisit juga bisa muncul ketika pengeluaran biaya kesehatan dilakukan di negara lain, karena mengakibatkan kebocoran (leakages). Pengeluaran ini akan mengakibatkan percepatan pembangunan melambat, karena adanya dana mengalir ke tempat lain. Dalam kasus adanya trend bahwa masyarakat di Sumatera Barat berobat ke Malaysia, dilaporkan bahwa 7 milyar setiap bulan untuk berobat ke Malaysia.  Biaya  demikian melulu tidak dianggap sebagai biaya eksplisit, akan tetapi pengeluaran ini akan memperlemah akselerasi pembangunan di Sumatera Barat. Tidak heran kalau Sumatera Barat merespon serius masalah ini, sehingga Kota Padang Panjang direncanakan mendirikan Rumah Sakit bertaraf Internasional dengan misi yang berbeda yaitu mengkombinasikan nuansa berobat dan rekreasi. Hal ini dimungkinkan karena panorama Padang Panjang mendukung.

Apa yang harus disimpulkan adalah bahwa kaitan antara kesehatan dan pembangunan adalah nyata. Pembangunan tidak akan dapat dilakukan pada kondisi masyarakat tidak berada pada kondisi sehat. Pentingnya hal ini dapat ditelusuri pada perundang-undangan. Menurut undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan dapat disimak berbagai hal penting. Berturut-turut pasal 6, 7, dan 8 adalah sebagai berikut; Pemerintah bertugas mengatur, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan; Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat; dan Pemerintah bertugas menggerakkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, dengan memperhatikan fungsi sosial sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu terjamin.

Respon terhadap hal di atas, dalam era otonomi daerah berbagai Pemerintah Daerah menyikapi dengan membangun Rumah Sakit, termasuk Kota Jambi. Dampak yang telah digambarkan di atas jelas menjadi permasalahan serius, sehingga membutuhkan telaah strategis dan dapat dirumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi industri kesehatan. Secara lebih khusus perlu disimak bagaimana kondisi pelayanan kesehatan di tingkat lokal dalam satu presfektif global. Hal ini sesuai dengan prinsip yang digariskan oleh Ohmae, “bertindak lokal berpikir global”.

  1. 2. Tujuan Penulisan

2.1.  Menggambarkan kondisi industri kesehatan (khususnya Rumah Sakit ) di tingkat lokal secara kualitatif guna  dapat mengantisipasi determinan kekuatannya di industri kesehatan.

2.2.  Merumuskan poin yang penting dipertimbangkan dalam strategi guna program jasa pelayanan kesehatan di tingkat lokal dalam presfektif global.

  1. 3. Diskusi dan Pembahasan

3.1.    Pelayanan Kesehatan

Pengalaman empiris negara maju menunjukkan bahwa bersamaan dengan peningkatan pendapatan terjadi peningkatan kontribusi sektor jasa yang semakin nyata. Perusahaan seperti IBM, menurut Zeithmal (2006) menunjukkan kontribusi pelayanan jasa yang semakin besar kepada pelanggan. Artinya, dari yang semula menyediakan komputer dan lainnya lama kelamaan menyiapkan jasa yang berkenaan dengan bisnis mereka.  Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa sampai Tahun 2003, kontribusi sektor jasa mencapai 80% dari PDB negara itu, sehingga disebutkan adanya gelombang ketiga peran jasa dalam perekonomian, yang ditunjukkan oleh semakin besarnya kontribusi sektor jada dalam pendapatan.

Bersamaan dengan itu, Singapura telah mencanangkan diri sebagai penyedia jasa di Asia Tenggara. Pada Tahun 2005, Singapura telah memberanikan diri bahwa negara itu akan menjadi pusat pelayanan jasa pendidikan dan kesehatan di Asia Tenggara. Ada satu keberanian dan fokus di tingkat makro yang menjadikan pelayanan jasa sebagai inti daripada bisnis negara (Pemerintah dan Swasta). Bersamaan dengan ini, Parkway Group Health Care (PGHC) pemasok peralatan Rumah Sakit dominan berambisi menguasai pasokan peralatan  bukan hanya di Asean akan tetapi sampai ke Asia. Untuk  itu, di Singapura PGHC memiliki tiga Rumah Sakit terkenal dan mempunyai 7 jaringan Rumah Sakit serta jaringan pelayanan termasuk di Indonesia. Pangsa pasar yang dibidik jelas adalah pasien yang berkantong tebal dan berharap pelayanan kesehatan yang baik.  Apa yang  harus dicatat dari kondisi ini bahwa keinginan negara dijawab oleh tindakan swasta.

Sampai sekarang, pelayanan kesehatan negara ini dinilai telah berdaya saing terhadap penyedia kesehatan lainnnya. Daya saing demikian bisa diperiksa dari Laporan Economic Forum yang menempatkan Singapura berada pada rentang urutan 4 -12 selama lima tahun terakhir.

Khusus untuk pelayanan kesehatan, Syharir (2002) mengungkapkan lemahnya daya saing Rumah Sakit di Indonesia dibanding dengan Rumah Sakit di negara lain dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan.  Banyak hal yang disinyalir menjadi penyebabnya; mulai dari campur tangan birokrasi, ketidakmampuan mengelola, kompentensi dan komitmen tenaga pelayan kesehatan sampai dukungan Pemerintah. Dalam kaitan, ini seorang konsultan kesehatan dr. Loh Kok Kit (2002) menjelaskan bahwa salah satu kelemahan daripada pelayanan kesehatan di Indonesia adalah pelayanan konsultasi dari dokter kepada pasien. Konsultasi ini dinilai tidak cukup oleh pasien. Menyangkut peralatan Rumah Sakit beliau menilai tidak ada peralatan yang tidak bisa disiapkan oleh Rumah Sakit, dan relatif sudah membaik. Akan tetapi dalam konteks ini waktu konsultasi menjadi “langka”.  Akibatnya, pasien potensial lari ke luar negeri dan lebih dari itu, pasien ini tahu pula jenis perawatan apa yang harus diperoleh di luar negeri.

Kotak-1.

Pendekatan daya saing adalah mutlak dibutuhkan. Bila menyimak ke belakang, apa yang dilakukan oleh Singapura relevan dengan apa yang ditemukan oleh Porter (2002), yang merekomendasikan bahwa Singapura terus fokus kepada pemberian jasa sebagai dasar daripada perekonomian  mereka. Bahkan dalam telaah perkembangan ekonomi mereka diakui peran daripada pengetahuan sebagai ciri New Economy telah teralisir. Tingkat pendapatan yang teratas dan daya saing yang tinggi menunjukkan bahwa perekonomian mereka dibentuk oleh peningkatan penggunaan pengetahuan dalam perekonomian.

Sampai saat ini, pendekatan yang dilakukan oleh Porter tentang daya saing (Competitive advantage) dinilai sangat konteksutal untuk membangun daya  saing satu  perusahaan, organisasi, lembaga sampai kepada negara.  Salah satu komponen penentu daya saing menyangkut daya tarik investasi, apakah investor tertarik berinvestasi atau tidak di satu wilayah. Semakin tinggi daya tarik investasi satu negara maka semakin tinggi pula daya saingnya. Walau daya saing melulu tidak ditentukan oleh investasi tapi juga oleh iklim danregulasi lain yang berkaitan dengan itu.  Khusus di bidang kesehatan, Tahun 2007 Porter dalam Webnya menjelaskan bahwa peran daripada  industri kesehatan harus direvitalisasi karena cenderung berkembang tidak sesuai dengan  kebutuhan pasien. Indikasi ini diperlihatkannya karena penggunaan teknologi  kesehatan yang tidak berdampak terhadap penurunan biaya dan kurang berorientasi kepada kebutuhan pelanggan.

Dalam kaitan ini pendekatan yang dapat diterapkan untuk melihat daya tarik industri adalah dengan menggunakan model “the five force” yang dikenalkan oleh Porter. Porter (2005) menunjukkan lima kekuatan yang akan menentukan apakah satu industri menarik atau tidak. Untuk ini Porter bersama lembaga independen mengeluarkan indeks daya saing negara dan industri setiap tahunnya yang disusun berdasarkan pengalaman empiris satu negara. Ada hal penting yang harus diingatkan dari indeks yang disusun yaitu ada indeks bisnis yang menunjukkan pentingnya interaksi antara negara dan bisnis dalam mengembangkan daya saing industri.

Pendekatan daya saing semakin digunakan karena prinsipnya yang berorientasi kepada penciptaan nilai bagi pelanggan, baik itu pelanggan pemerintahan maupun perusahaan. Penggunaan teknologi, sumberdaya yang berkompetensi tinggi, dan dukungan dana dari Pemerintah tidak akan banyak membantu terhadap penciptaan keunggulan manakala tidak diikuti oleh peningkatan nilai bagi pelanggan (Hitt, 2005).

Sumber.  Whelen, 2002.

Sama halnya dengan Pemerintah Daerah yang akan membangun Rumah Sakit, perangkat ini akan sangat membantu masalah yang paling strategis, apakah  Rumah Sakit  sebagai lembaga akan dapat bertahan atau memang menjadi kelas marginal di tengah-tengh  persaingan. Gambar di atas dapat dijelaskan mulai dari pendatang baru, pelanggan, substitusi, pemasok, sampai kepada stakeholder.

1) Pendatang baru

Industri Rumah Sakit bagaimanapun sudah terbuka, masyarakat ataupun investor dapat membuka Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan UU Kesehatan. Oleh karena itu, para pendatang baru muncul di satu wilayah membuka Rumah Sakit, dan sarana kesehatan lain mulai dari balai pengobatan, Pusat Kesehatan Masyarakat, Rumah Sakit umum, Rumah Sakit khusus, praktek dokter, praktek dokter gigi, praktek dokter spesialis, praktek dokter gigi spesialis, praktek bidan, toko obat, apotek, pedagang besar farmasi, pabrik obat dan bahan obat, laboratorium, Sekolah dan Akademi Kesehatan, Balai Pelatihan Kesehatan, dan sarana kesehatan lainnya. Kompleksnya masalah kesehatan, bukan hanya menyangkut jumlah pelaku yang terlibat akan tetapi juga menyangkut hubungan antar mereka dan dampak yang dimunculkannnya. Semakin banyak pendatang baru, semakin “ganas” persaingan antar penyedia saja kesehatan maka semakin tidak menarik.

Dalam konteks globalisasi, pendatang baru dalam hal ini bukan saja secara fisik, akan tetapi menyangkut Rumah Sakit yang berdomisili di  suatu negara tetapi mempunyai program pemasaran atas negara lain. Teknologi dan lancarnya transportasi telah mendukung program ini, karena jenis pelayanan, pengiriman (delivery), dan persyaratan kualitas yang diperoleh telah dapat diakses dengan  mudah.

Para pendatang baru demikian bukan saja datang dari negara lain, akan tetapi dari kota lain (di Jambi misalnya dari Jakarta). Informasi dan pelayanan yang mereka sampaikan ke pelanggan menjadi bagian strategi  memenangkan persaingan di daerah (Jambi misalnya).

Masing-masing pendatang baru datang dengan kejelasan kompetensi sendiri-sendiri dan penawaran menarik yang selama ini belum pernah dilakukan khususnya oleh Rumah Sakit Pemerintah. Hal demikian akan memposisikan Rumah Sakit Pemerintah sebagai kelompok imperior terhadap Rumah Sakit  Swasta.

2) Pelanggan

Pelanggan selain mempunyai daya beli juga mempunyai preferensi  kuat dan berbeda terhadap pelayanan kesehatan. Mereka yang mempunyai daya beli kuat akan memilih penyedia dan tempat sesuai dengan pengalaman mereka. Secara legal sampai sekarang posisi pelanggan memang kurang kuat. Walau sudah ada kecenderungan untuk melindungi pelanggan dari Malpraktek, informasi yang berkaitan dengan ini masih belum cukup untuk pelanggan. Akan tetapi satu hal yang harus dicatat dari perilaku pelanggan adalah kemampuannya  memilih. Pelanggan demikian khususnya adalah yang mempunyai daya beli dan ingin mendapat pelayanan lebih baik (niche market). Pelanggan ini semakin lama semakin banyak jumlahnya sehubungan dengan adanya peningkatan pendapatan.

Dalam konteks  Rumah Sakit  pemerintah, keberadaan pelanggan juga menjadi “buah simalakama”.  UU mengisyaratkan keluarga miskin dan para pemegang asuransi kesehatan  yang diadakan oleh pemerintah  harus mendapat pelayanan. Padahal, kelompok ini dinilai  kurang menguntungkan secara bisnis, sementara secara sosial Rumah Sakit  pemerintah diharuskan untuk memberikan perawatan.

3) Barang Substitusi

Mengamati para penyedia kesehatan seperti di atas, terhadap sumberdaya kesehatan sebagaimana dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Kesehatan; tidak tergambarkan adanya sumberdaya lain sebagai susbtitusi. Akan tetapi apa yang ditemukan di pasar sekarang, banyak cara mulai dari peralatan yang menggunakan listrik sampai yang lain dianggap dapat menggantikan pelayanan kesehatan.  Dampak ikutan daripada  keberadaan peralatan seperti ini pada akhirnya akan membuat jasa pelayanan kesehatan terdegradasi. Barang substitusi ini bagaimanapun pengaruhnya masih lemah, akan tetapi tetap menjadi antisipasi industri dimana perannya akan intensif.

4) Pemasok

Dari sumberdaya kesehatan yang digambarkan di atas dapat dicatat para pemasok dalam industri kesehatan adalah toko obat, apotek, farmasi, pabrik obat laboratorium dll. Lembaga demikian sesungguhnya mempunyai posisi terhadap pelayanan kesehatan khususnya yang diberikan oleh Rumah Sakit. Tidak jarang suatu rumah sakit harus menggunakan jasa laboratorium   rumah sakit lain karena keterbatasan peralatan. Dalam kaitannya dengan penyediaan obat pun, bahkan diduga ada kartel obat yang mengakibatkan  pelayanan kesehatan menjadi jasa mahal. Kartel obat ini berupa “sindikat” antara pabrik dengan penentu sehingga membuat harga obat menjadi lebih mahal. Selanjutnya, bersamaan dengan  masalah  obat, ada  indikasi bahwa penggunaan obat generik kurang diminati karena adanya kelemahan dalam sosialisasi dan pemberian informasi. Artinya, sebagian dari sumberdaya di atas adalah pemasok terhadap praktek pemberian pelayanan kesehatan semakin kuat posisi para pemasok, maka semakin kurang menarik investasi di berikut kesehatan.

Dalam konteks ini, adanya peraturan yang membatasi tempat praktek dokter yang diperkenankan hanya untuk tiga Rumah Sakit saja menjadi ancaman serius terhadap Rumah Sakit  yang selaman ini mengandalkan keberadaan dokter tamu. Dikhawatirkan akan muncul bentuk persaingan baru dalam pelayanan kesehatan manakala Rumah Sakit  akhirnya “mengikat” para dokternya. Bila hal ini terjadi maka akan terjadi “perang image” antar Rumah Sakit  dimana dokternya praktik.

5) Stakeholder Lain

Stakeholder adalah seluruh pihak (orang, organisasi, lembaga) yang akan turut menentukan pencapaian tujuan organisasi karena mereka akan mendapat benefit dari proses organisasi atau akan melakukan tuntutan bilamana proses mendatangkan kerugian kepada mereka. Stakeholder utama adalah YLKI, Pemerintah, dan lembaga independen lainnya termasuk wartawan. Ke dalam stakeholder primer dapat disebutkan PT. Askes dan sejenisnya yang menjamin pengeluaran pasien selama dalam perawatan. Dalam kaitan ini apa yang menjadi tuntutan publik adalah tatakelola yang baik. Di tingkat Rumah Sakit dikenal adanya tatakeloa korporasi (corporate governance), akan tetapi secara mikro dikenal Clinical Governance (CG),  yang dimulai di Inggris. Konsep clinical governance telah berkembang yang merupakan bagian dari suatu pendekatan untuk menjamin terlaksananya pelayanan kesehatan yang bermutu pada semua lapisan masyarakat, atau the best care for every patients everywhere. Sebagai instrumen CG mempunyai elemen penting:

i)           Menentukan teknik diagnosis dan terapi yang paling punya dasar ilmiah kuat serta paling cost effective.

ii)         Pengembangan berkelanjutan profesi kesehatan

iii)      Tersedianya standar diagnosis dan pengobatan

iv)       Berjalannya manajemen resiko klinik di rumah sakit

v)         Penelitian dan pengembangan

vi)       Audit klinik secara kerkesinambungan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.

Tuntutan demikian jelas bukan persoalan mudah, karena sampai sekarang bagi Rumah Sakit Pemerintah khususnya kemampuan menyiapkan dokumen pengelolaan masih  rendah.

6) Daya tarik Industri Kesehatan

Jumlah penduduk bertambah, daya beli meningkat, promosi hidup sehat meningkat, preferensi masyarakat meningkat, dan keterlibatan swasta tidak diingkari  menjadi indikator daya tarik sendiri. Dalam masa otonomi daerah pun, dinilai bahwa  daya tarik industri kesehatan tetap saja menarik karena dinilai akan memberikan tingkat pengembalian yang wajar. Akan tetapi daya tarik demikian tetap akan dikelola dengan  baik karena sesungguhnya Rumah Sakit  berada pada kondisi persaingan  ketat. Bahakan secara internal Rumah Sakit  harus menyeimbangkan tujuan mencari  laba dan tujuan sosial di satu sisi, di sisi lain  malah harus merencanakan  menurunya sumber dana yang bersumber dari pemerintah daerah.

Dari penejalasan di atas dapat disimak betapa industri kesehatan berada pada kondisi yang sanga kompleks, dari lima kekuatan yang diuraikan satu dengan  yang lain saling terkait.  Dalam kaitan  itu berbagai hal penting berkaitan dengan  industri kesehatan dapat dijelaskan sebagai berikut.

a) Tantangan Pelayanan Kesehatan dalam Presfektif Global.

Ohmae (2004) melanjutkan penjelasannya tentang Borderless World yang meyakinkan bahwa peran teknologi demikian penting dalam menyongsong proses globalisasi. Akan tetapi peran daripada teknologi lebih daripada sekedar percepatan proses globalisasi, UNDP (2004) melaporkan bahwa the technology revolution and globalization are creating a network age-and that is changing ho technology industri created diffused. Maknanya, kemajuan teknologi  bersamaan pula dengan  pentingnya pemebentukan jaringan antar negara, organisasi, dan lembaga yang membentuk kekuatkan masing-masingnya. Dalam konteks ini dapat dilihat pabrik peralatan Rumah Sakit yang  berniat menguasai pangsa pasar yang ada di Asia Tenggara, dan sekarang bermarkas di Singapura. Singapura akan menjadi basis pelayanan mereka. Hal ini bersamaan dengan cita-cita Singapura menjadikan negara itu menjadi pilihan utama Asean untuk pelayanan kesehatan. Karena jaringannya sudah ada. Apa yang ingin ditekankan adalah bahwa keberadaan teknologi telah membuat jaringan pelayanan satu penyedia kesehatan demikian kuat dan menekan kepada penyedia lain yang tidak termasuk dalam jaringan itu. Penyedia jasa kesehatan dalam perspektif ini tidak lagi berada di satu lokasi secara fisik, akan tetapi menyebar ke lokasi manapun sepanjang dinilai di sana dapat menciptakan nilai maksimal. Konsumen sudah tidak mempertimbangkan  asal muasal apapun yang berkaitan dengan penyedia, melainkan bilamana dinilai dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan.

Kotak-2

Apa yang dapat dipetik dari pengalaman demikian adalah bahwa globalisasi mengisyaratkan adanya perubahan dalam tata kelola di tingkat pelayanan. Berkaitan dengan Rumah Sakit, maka perubahan total yang diharuskan terjadi adalah pada tingkat ini, karena Rumah Sakit  merupakan bisnis unit  inti dalam  industri kesehatan.

b) Otonomi Daerah

Otonomi daerah pada dasarnya berkaitan dengan wewenang  pengelolaan sumberdaya yang lebih luas yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah, dalam hal ini tidak lagi mengokupasi penyediaan kebutuhan di daerah, akan tetapi mempercayakannya kepada daerah.  Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar yang dibutuhkan dalam rangka melaksanakan dan mempercepat akselersi pembangunan selanjutnya. Penyediaan jasa kesehatan yang dilakukan olehph daerah bagaimanapun tidak lepas dari pertimbanan  globalisasi.

Seperti apa yang telah dijelaskan oleh Ohmae pada dekade 80-an  tentang globalisasi; maka sekarang individu telah merasakannya sendiri. Batas negara sudah kabur karena faktor produksi bergerak bebas dari satu tempat ke tempat lain dimana harga dan nilai yang diterima dapat lebih tinggi. Untuk kasus pelayanan kesehatan, perjalanan ke Singapura dan Malaya sudah tidak dianggap bepergian ke luar negeri lagi. Masyarakat Jambi menggunakan kata “menyeberang” untuk mendapat pelayanan kesehatan. Konsentrasi masyarakat di Indonesia yang mendapat pelayanan demikian ternyata semakin menjadi segmen, bukan saja karena kedekatan dengan kedua negara tujan tersebut, akan tetapi mereka adalah masyarakat yang peduli terhadap jasa kesehatan, pengalaman mengkonsumsi jasa kesehatan, dan yang lebih penting mempunyai daya beli. Dampak dari praktek seperti ini secara makro adalah kebocoran pendapatan. Apa yang diakui dalam ilmu ekonomi adalah Multiplier effect.

3.3. Faktor Kuci

Rumah Sakit  bagaimanapun adalah bagian utama dalam industri kesehatan.  Sebagai satu organisasi ataupun perusahaan  maka keberhasilan  Rumah Sakit  ti tingkat lokal ditentukan hal berikut.

1)      Grand strategi. Satu lembaga Rumah Sakit tidak akan dapat berkembang tanpa strategi yang dirumuskan dengan jelas. Rumah Sakit Pemerintah bisa berdalih bahwa tujuannya adalah bukan untuk keuntungan, akan tetapi bukan alasan untuk tidak mengindahkan peran strategi pengembangannya. Perundang-undangan secara jelas mengharuskan pentingnya strategi,  tinggal bagaimana pihak manajemen dapat berperan inovatif sehingga dapat memenuhi persyaratan ini.

2)      Jaringan. Jaringan menjadi kunci daripada keberhasilan dalam persaingan. Rumah Sakit tertentu telah membuka “meja” pelayanan di tempat lain, persis sama dengan model penjualan barang luks. Sebelum membeli, pelanggan dapat menanyakan banyak hal yang akan ditemuinya sebelum perawatan dilakukan. Bahkan dalam hal pembayaran, “cabang” dapat memberikan jaminan tidak akan ada kendala sepanjang pengeluaran  berkenaan dengan biaya pengobatan.

3)       Berbasis kepada sumberdaya manusia. Dokter bagaimanapun adalah sumberdaya yang paling berharga untuk Rumah Sakit.  Rumah Sakit yang hanya mengandalkan kepada dokter tamu bagaimanapun akan tidak dapat bertahan karena komitmen pelayanan yang rendah.

4)      Pelayanan kesehatan adalah jasa. Sebagai salah satu bentuk jasa,   keberadaan jasa berbeda dengan barang dalam hal: 1) keberwujudan, 2) keandalan,  3) ketanggapan, 4) kepastian, dan  5) empati. Dalam hal ini yang harus digarisbawahi adalah bahwa dalam pengelolaan jasa sentuhan manusia (penyedia) dan konsumen paling menentukan. Prosedur yang telah dibangun, peralatan canggih, fasilitas modern, akan hambar bilamana tidak disertai oleh peran sumberdaya kesehatan. Berbagai keluhan yang sering dituliskan oleh Kompas berkaitan dengan hal ini adalah; a) penyalahgunaan teknologi dimana seseorang “dipaksakan” untuk menggunakan jasa peralatan tertentu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, b) pelakuan yang tidak ramah terhadap pengguna kartu asuransi khususnya Askes, dan 3) sukarnya berkomunikasi dalam hal penyakit yang diderita pasien.

  1. 4. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dalam presfektif global keberadaan dan  keberlangsungan Rumah Sakit  akan ditentukan hal-hal berikut.

1)          Persaingan antar pelaku dan antara Rumah Sakit akan semakin intensif menghadapi ekspansi berbagai Rumah Sakit “kuat” dengan program pengembangan yang jelas baik yang berasal dari negara yang sama maupun yang berbeda.

2)          Sebagai satu  organisasi, Rumah Sakit  pemerintah bagaimanapun harus dapat merumuskan strateginya dalam menghadapi persaingan dengan  tetap mengidentitikasi  kecenderungan dan kekuatan  khusunya lima kekautan yang diidentifikasi  yaitu: pendatang baru,  pelanggan, barang substitusi, pemasok, dan stakeholder lain di bidang kesehatan.

3)          Sumberdaya manusia (utamanya dokter) dan segala inovasinya akan menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada pelanggan. Dalam kaitan ini ,  harus diingat bahwa pelayanan kesehatan adalah jasa  yang lebih mengutamakan proses pelayanan, sentuhan antar manusia bukan dengan  peralatan.

4)          Khusus kepada  Rumah Sakit  pemerintah komitemen politik  akan sangat menentukan karena berkaitan dengan  pemenuhan dana dan masa depan organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

GTZ and Urban Clean Project, 2001. Pengkajian Kebutuhan Pengembangan  Bagi Pemerintahan Daerah, Laporan Tematik, Jakarta.

Hadi, H. M.S., ScD. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Impllikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogjakarta.

Zeithaml, V.A, Bitner, M.J, dan Gremler.D.D. 2006. Service Marketing: Integrating Customer Focus Across the Firm, 4th Edition, McGraw-Hill Internasional Edition, Boston

Hitt., 2005. Strategic Management  Competitive and Global. South Western.

UNDP 2001. Human Development Report 2001, Making New Technologies Work For Development, Oxford University Press,  New York.

Kompas, 2002. Rumah Sakit Indonesia Belum Siap Bersaing, http://www. Kompas.go.id,  31 Oktober 2002.


[1] Disampaikan pada Seminar Sehari Industri Kesehatan dalam Perspektif Global, Jambi 15 Desember 2007.

[2] Dosen Program  Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi .

Desember 17, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Uncategorized | | & Komentar

MIDSEMESTER MJP LANJUTAN PROG. MM

Pedoman  penyelesaian kasus.

1) Siapkan sebanyak mungkin literatur yg berhubungan dengan Lion Air, sehingga  anda dapat menjelaskan likteratur yang anda punya. Literatur utamakan dari sumber online. Sehubungan dengan itu, anda dapat menuliskan literatur sebagai sumber.

2) Soal dijawab di kelas, pada kertas yg disiapkan oleh Program MM. Jawaban dikumpul  langsung setelah waktu yg disediakan habis. Waktu yang disediakan 120 menit.

3) Ujian dilaksanakan pada waktu dan hari Kuliah.

Soal.

1)      Menurut anda  bagaimanakah posisi Lion Air  terhadap pesaingnya  dalam industri  penerbangan  terkini, berikan argumentasi anda. Dengan posisi yang anda  jelaskan, apakah keuntungan  Lion Air dibanding dengan perusahaan penerbangan lain.

2)      Siapakah pesaing utama Lion Air dalam industri penerbangan  di Indonesia, dan apakah yang dilakukan oleh para pesaing tersebut yang harus diwaspadai oleh Lion air.

3)      Seandainya ada  Maskapai penerbangan baru akan terlibat di dalam industri penerbangan di Indonesia,  jelaskanlah  pertimbangan yang harus dilakukannya. Untuk menjawab ini gunakan  konsep   Porter untuk menentukan apakah  keterlibatan menarik atau tidak. Jelaskan masing-masing komponen sehingga tergambarkan bahwa industri penerbangan masih menarik bagi pendatang baru.

4) Menurut anda, faktor apa yg  paling menentukan  keberhasilan satu  Maskapai penerbangan  baik di tingkat Lokal maupun Global.

5) Sebagai seorang pelanggan, anda pernah menggunakanjasa  penerbangan, berikanlah lima atribut  penerbangan yang menurut anda dipertimbangkan sebelum anda memutuskan untuk menggunakan jasa atau tidak.

SUKSES SELALU

 

November 17, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Umum, competitive advantage, kompetensi, penelitian pemasaran, strategy | | Belum Ada Tanggapan

UJIAN MIDSEMESTER STR PAGI DAN EXT.

Petunjuk.

Peserta Pagi diharuskan melakukan analisis eksternal atas satu perusahaan, analisis ini pada dasarnya fokus kepada  kerankga analisis industri yang dapat ditelaah dengan menggunakan prinsip PETS.

Cara yang dilakukan adalah memeriksa komponen PETS lebih dalam atas   perusahaan yg dijadikan kasus dan menunjukkan bagaimana masing-masing komponen  dapat mendatangkan ancaman ataupun  kesempatan kepada perusahaan. Sudah barang tentu setiap analisis disamping mendatangkan ancaman juga  bisa menciptakan  kesempatan.  Terhadap komponen yang  didapat pada setiap PETS dapat disisipkan  angka yang menunjukkan ukuran. Misalnya  tentang permintaan, anda dapat mengestimasi berapa persen permintaan  untuk satu perusahaan.

Dari hasil analisis, anda  diminta menyimpulkan apakah ancaman lebih besar dari kesempatan atau sebaliknya.

Peserta Ekstensi. Melakukan analisis  internal,   atas  perusahaan yang dijadikan kasus oleh peserta pagi. Pemilihannya  bebas,  begitu  analisis peserta pagi muncul di halaman ini, anda dapat memilihnya menjadi kasus.

Cara analisisnya adalah sebagai berikut.

1) Jelaskan analsisi VIOR untuk  perusahaan yang telah anda pilih.

2) Jelaskan kompetensi yang dibutuhkan oleh  pasar atas  produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang anda jadikan kasus.  Bila produknya beragam, pilih salah satu produk saja.

3) Menurut anda, apakah  perusahaan sudah memiliki kompetensi yang sesuai, khsusnya menapak masa depan perusahaan.

CATATAN. THE FASTER THE BETTER

November 16, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Umum, kompetensi, metode penelitian, strategy | | & Komentar

MEP (S1 pagi dan Program Ekstension)

Halaman ini dimaksudkan untuk peserta Metode Penelitian Pemasaran dengan dosen: 1) Dr. Johannes, S.E., M.Si dan 2) Dr. Ade Octavia, S.E., M.M.  Ketentuan  yang harus diketahui oleh peserta. Selain untuk kebutuhan S1 pagi, halaman ini juga diperuntukkan untuk Program Ekstension

1) Pertemuan pertama (8) kali  akan dilaksanakan oleh Ibu Ade, kemudian selesai midsemester akan di laksanakan bersama dg Pak. Jo.  Ketentuan ini berlaku  untuk  semua peserta MEP  baik pagi maupun sore (Ekstensi).

2) Peserta diwajibkan mengunduh dan mengunggah bahan kuliah dan   tugas yang sesuai dengan perkuliahan  pada halaman ini saja.

3)Pada perkuliahan dg pak Jo, peserta akan latihan bersama melakukan  riset  bersama dimana topik dan judul akan ditentukan selama kuliah.

Selanjutnya seluruh  materi kuliah dapat diunduh peserta  dari halaman ini, silahkan diunduh GBPP perkuliahan MEP Pemasran  berikut.

Penugasan  Metode Penelitian Pemasaran terdiri dari dua: 1) Menyiapkan Small Project Bersama dan 2)  Tugas individu peserta, menyusun proposal  tentatif untuk dijadikan   proposal skripsi.  Dalam kaitannya dg poin (2) bagi yang  menyiapkan proposal dan mendapat persetujuan dari dosen pengampu akan diberi nilai lebih.

Adapun Materi kulliah yang akan disampaikan dalam pertemuan-pertemuan terakhir adalah: 1)  Sampling, 2) Menyusun Kuesioner, 3)  Mengolah data, 4)  Menulis Laporan Penelitian.  Harus diketahui seluruh peserta sudah harus mengunduh materi kuliah sebelum perkuliahan dimulai. SUKSES MENYERTAI ANDA.

SAP MEP Pemasaran (September 2009)

malhotra11 (Sampling)

malhotra10 (Kuesioner)

malhotra14 (Penyiapan data)

Catatan Kemajuan Perkuliahan.

1) Untuk kepentingan penelitian dalam  Small Project, kedua kelas pagi dan ekstensi harus sudah menyiapkan list penguna IM3 dan XL.

2) Sebagai bahan pembanding  tentang kuesioner dan laporan penelitian yang masih bersifat draft, semua peserta diwajibkan membaca dan berkontribusi terhadap perbaikan  bacaan berikut. Setiap  komentar dan kontribusi postif terhadap tiga  tulisan ini akan dinilai untuk peserta MEP di pagi dan sore. SUKSES SELALU.

1) Kuesioner Contoh Kuesioner (Perilaku Konsumen Terhadap Pola Hidup Hemat Enerji) Januari 2009

2) Draft laporan dan daftar isi

Laporan (Perilaku Konsumen Rumah Tangga dalam Pola Hidup Hemat Enerji) Desember 2009

Laporan d-isi (Perilaku Konsumen Terhadap Pola Hidup Hemat Enerji) Desember 2009

3) Draft Kuesioner   akan turun ke lapangan

Kuesioner (Analisis Manfaat dan Biaya XL dan IM3) Januari 2010

4) Sampling Frame

Daftar (Sampling Frame) Risent Telefon Seluler 2010

Catatan. Dari hasil penelusuran diketahui bahwa  komposisi pengguna tidak proporsioanl antara Ekstensi dan Pagi.

5) Kuesioner Final Penelitian, silahkan diunduh untuk S1 pagi dan Sore.

Kuesioner (Analisis Manfaat Simcard XL dan IM3) Januari 2010 final

September 27, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Manajemen Pemasaran Lanjutan, metode penelitian, penelitian pemasaran | | & Komentar

MANAJEMEN STRATEJIK(S1) PAGI DAN EKST

Halaman ini dimaksudkan untuk  peserta mata kuliah STR  FE Unja,baik  S1 padi dan program ekstension. Ketentuan mengikuti perkuliahan.

1) Peserta diharuskan mengunduh seluruh bahan kuliah  yang disiapakan pada halaman ini.

2) Peserta diharuskan memiliki  intisasi  pengajaran Manajemen Stratejik

3) Setiap kuis atau penugasan  diunggah pada halaman ini saja, bukan pada halaman lain. Hal ini untuk memundahkan mengelola  setiap masukan.

GBPP  Manajemen Stratejik  dapat diunduh  pada bagian berikut.

Manajemen Stratejik (STR-134) September 2009

Blog (Pedoman Tugas STR) November 2009

Kuliah ILingkup Manajemen Stratejik (Oktober 2009) S1

Kuliah II Kuliah-2 Pengelolaan Korporasi dan TJ Sosial (Oktober 2009)

Kuis I.

Anda mengamati salah satu korporasi,  utamanya menggunakan  web. Selanjutnya, jawablah  pertanyaan berikut dengan cara mengunggahnya hanya pada halaman ini.

1) Sebutkan nama anda, perusahaan yang anda amati.

2) Jelaskan bentuk kegiatan yang tergologn kepada tanggungjawab sosial mereka.

2) Berikan penjelasaan apa manfaat  kegiatan tersebut kepada perusahaan.

3) Menurut anda adakah yang diperbaiki dalam melaksanakan  kegiatan berupa tanggungjawab sosial  tersebut.

Sukses Selalu.

Kuis II.

Dari  pembahasan kuis I,  sesuai dg tugas individu dan perusahaan anda,  anda diminta  menyelesaikan kuis II ini.

1)  Rumuskan strategi perusahaan yg sedang anda bahas,  klasifikasikan  strategi yang diterapkan  melalui argumentasi  yang memadai.

2) Jelaskan alasan pemilihan strategi yang anda pilih.

3) Uraikan, bagaimana strategi diimplementasikan, seperti apa  program dan kegiatan yang dibangun oleh perusahaan.

4) Jelaskan kebutuhan staf yg dibutuhkan guna mendukung pencapaian stragtegi tersebut.

5) Rumuskan kultur yang anda pahami dari  perusahaan yg anda jadikan kasus, kemudian simpulkan apakah kultur  demikian mendukung atau  tidak terhadap pelaksanaan strategi.

Kuis ini diperuntukkan untuk SI pagi dan Sore, paling lambat mengunggah jawaban tanggal 7 Januari 2010. SUKSES SELALU

September 24, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Tanggung jawab sosial, competitive advantage, strategy | | & Komentar

MANAJEMEN PEMASARAN (MJP 120)

Halaman ini dperuntukkan untuk peserta MJP 120, FE  Tahun 2009/2010, dosen pengampu: 1) Dr. Johannes, S.E., M.Si dan 2) Drs. Mulyadi Raf, MBA.

Ketentuan kuliah

1). Peserta diharuskan memiliki  Modul Ajar  MJP 120

2) Peserta diharuskan mengunduh semua bahan kuliah yang ada pada halaman ini.

3) Penugasan dg Pak. Jo, Kuis, diunggah hanya pada halaman ini saja.

Tugas MJP  terdiri dari dua, tugas kelompok dan  Individu. Untuk tugas kelompok  diharuskan melakukan pengamatan terhadap praktek pemasaran, khususnya gejala-gejala yang  aktual, sedang terjadi. Misalnya pemasaran Taperware yang menggunakan kelompok  ibu-ibu sebagai pemasar handal dll.  Untuk itu, peserta diharuskan buat kelompok dan memuat pengamatannya sehingga bisa diikuti dan dibimbing selama perkuliahan.

SUKSES MENYERTAI ANDA, FE LOVES YOU FULL

Anda dapat mengunduh  GBPP pada bagian berikut.

Manajemen Pemasaran (MJP 120) September 2009

Kuliah Ikuliah 1 MJP 120 Powerpoint oktober 2009

Kuliah II  Kuliah 2 MJP Powerpoint Okober 2009

tugas I. Pembagian  kelompok berdasarkan produk yang diamati: 1)  Sopihie Martin, 2)  IM3, 3) FLEXI, 4) TUPPER WARE, 5) 3 (Three), 6)  CNI, 7) Oriflame, dan 8) Tiensi

Pedoman Tugas I. Kelompok

1. Seluruh peserta dikelompokkan berdasarkan  produk di atas.

2. Setiap kelompok diharuskan memberikan laporan dg daftar isi sebagai berikut.

a) Produk  yang diamati, Kelompok , Anggota (No. Msw),

b) Praktek pemasaran  horizontal yang digiatkan oleh  pemasar (siapa kelompok  konsumen yang sedang diaktifkan), bagaimana cara kerjanya, apa insentif yang diperoleh anggota ketika masuk dan setelah menjadi  anggota.

c) Sebutkan  setidaknya lima produk saingan mereka,  danbila  dibanding dengan produk tersebut apakah  yang menjadi keunggulan produk mereka.

d) Jelaskan dengan baik tingkatan produk yang anda  amati: core product, actual and augmanted.

II. Tugas Individu.

1) Sebutkan salah satu produk  (produk konsumen) yang anda pilih, jelaskan tingkatan produk tersebut berdasarkan tingkatan produk inti,  aktual dan perluasan.

2) Jelaskan   klasifikasi produk anda berdasarkan  klasifikasi  produk konsumen, berikan argumentasi anda.

3) Jelaskan konsep merek yang dimiliki produk yang anda miliki sehingga terlihat  berbagai  perluasan merek yang terjadi pada produk anda.

SUKSES SELALU

September 23, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Manajemen Pemasaran Lanjutan, Umum, kompetensi | | & Komentar

PERILAKU KONSUMEN (MM)

Halaman ini diperuntukkan untuk peserta Mata Kuliah Perilaku Konsumen Program MM PAscasarjana Unja. Untuk keperluah kuliah, GBPP,  bahan kuliah setiap pertemuan dan penugasan  dapat diunduh  di sini. Demikian juga dengan penugasan dapat diunggah pada halaman ini. Setiap peserta diharapkan memeriksa peruntukan halaman yang sesuai.

SUKSES  UNTUK SEMUA PESERTA.

Klik di sini GBPP perilaku konsumen Agustus 2009

Kuliah I Perilaku Konsumen I Agustus 2009

Kuliah II Perilaku Konsumen Kuliah II oktober 2009

Kuliah III Perilaku Konsumen (Motivasi) Oktober 2009

Kuliah IV Kuliah-5 Kepribadian

Tugas I.

Untuk peserta Perilaku konsumen diharuskan membuat kelompok, bisa terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok diharuskan membuat laporan kualitatif atas satu bidang (kasus) dengan topik yang sesuai dengan  pembelajaran Perilaku Konsumen. Topik maupun bidang yang dijadikan  objek  diharapkan potensil menjadi bagian daripada penulisan Tesis. Selanjutnya bagi mereka yang berhasil menyusun proposal  sampai akhir kuliah akan dinilai lebih.  Untuk itu segera laporkan kelompok dan bidang  pengamatan anda agar  masing-masing kelompok dapat  mengetahuinya.  SUKSES UNTUK ANDA.

Agustus 12, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, PERILAKU ORGANISASI, Perilaku Konsumen | | & Komentar

STR SEM PENDEK AKT

Halaman ini untuk Peserta STR  Sem. Pendek AKT

1. Metode Pertemuan

a. Tatap muka 1 kali 1 minggu

b. Tugas mandiri 1 kali 1 minggu.

2. Bahan Kuliah. Menggunakan  Modul yang sudah siap , perserta diharuskan menggunakan modul yang diberikan.

3. Peserta menyelesaikan tugas sebanyak 4 kali, dapat memilih perusahaan yang  pada blog, atau mengambil  perusahaan bariu4.

4. Semua tugas dijawab di blog sesuai dengan  halaman yang diperuntukkan untuk itu.

SUKSES BESERTA ANDA

Tugas. I.

Tidak semua keputusan/ kebijakan perusahaan/organisasi termasuk kepada keputusan strategik.  Karena keputusan strategik mempunyai ciri-ciri  tertentu. Dalam kaitan ini, anda diharuskan untuk mengamati salah satu perusahaan, untuk mengamati  bagaimana hal-hal strategis dapat dilaksanakan pada satu perusahaan.  Untuk itu anda diminta menjelaskan hal-hal berikut.

1. Jelaskan ciri-ciri daripada keputusan ataupun kebijakan strategis.

2. Dari hasil pengamatan anda terhadap satu perusahaan, jelaskan keputusan ataupun kebijakan yang menurut anda strategis yang pernah dilakukan oleh perusahaan.

3. Sesuai dengan pertanyaan (2) jelaskan   kenapa keputusan ataupun kebijakan termasuk strategis, dan   jelaskan pula bagaimana dampak daripada keputusan tersebut terhadap perusahaan pada jangka panjang.

Mendalo, 13 Atustus 2009.

Tugas II

Pemantauan internal dan eksternal menjadi bagian penting dalam perumusan strategy. Masing-masingnya mempunyai substansi yang berbeda. Salah satu tugas dalam memantau kondisi internal adalah mementukan  kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam kaitan ini jelaskanlah hal berikut.

1. Apa inti daripada pemantauan internal dan eksternal.

2. Apa yang dimaksud dengan kompetensi inti satu perusahaan.

3. Sesuai dengan pertanyaan no (2),  bila dikaitkan dengan  perusahaan yang anda pantau,  jelaskan apa kompetensi ini perusahaan yang anda pantau.

4. Sesuai dengan pertanyaan (3),  menurut anda apakah kompetensi   perusahaan yang anda jelaskan dapat bertahan (sustainable) atau tidak?

Mandalo 19 September 2009.

Tugas III.

Analisis  SWOT bagaimanapun masih digunakan untuk merumuskan strategi satu perusahaan. Malah adakalanya  analisis  SWOT diputar menjadi TOWS dengan maksud agar didapat  posisi perusahaan yang lebih jelas.  Analisis demikian pada dasarnya dilaksanakan sebelum  merumuskan strategi. Dalam kaitan ini jelaskanlah hal berikut.

1. Apakah substansi  daripada adalisis SWOT dan apa bedanya bila dibuat menjadi TOWS.

2. Pada  dasarnya dikenal tiga stratregi yaitu: 1) pertumbuhan, 2) Stabilitas, dan 3) penurangan.  Jelaskan arti dan syarat daripada masing-masing strategi ini.

3. Mengacu kepada pertanyaan (2)  menurut anda  apakah strategi perusahaaan yang sedang anda amati?

4. Disampin strategi seperti  di atas, dikenal juga strategi generic. Jelaskan strategi Generic tersebut.

Mandalo, 22 Agustus 2009

Tugas IV.

Pendekatan Manajemen Strategis pada akhirnya menghasilkan  Perencanaan Strategis sebagai satu dokumen perencanaan.  Dokumen  ini  menjadi bagian daripada tatakelola  satu organisasi termasuk pemerintah daerah. Untuk kasus pemerintah daerah keberadaan  Perencanaan Strategis sering disbut sebagai Rencana Strategis (Renstra). Khusus untuk  organisasi pemerintah daerah  jelaskanlah pertanyaan berikut.

1) Apa manfaatnya  satu organisasi atau pemerintah daerah  menyususn Renstra.

2).  Apa kendalanya  satu organisasi misalnya seperti pemerintah daerah dalam menerapkan perencanaan strategis.

3) Bagi satu organisasi non profit, jelaskanlah  pengalaman yang menentukan keberhasilan penerapan satu perencanaan strategis.

Mandalo, 31 Agustus 2009

Agustus 11, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Uncategorized | | & Komentar

MJP LANJUTAN PROGRAM (MM)

Halaman ini diperuntukkan untuk  peserta Manajemen Pemasaran  Lanjutan Program Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Jambi  Angkatan XI, Kelas Reguler dan Eksekutif.

Penjelasan.

1. Peseserta dapat mengunduh (download)  setiap materi  yang dibutuhkan dalam  proses pembelajaran.  SUKSES BESERTA ANDA.

2. Peserta dapat mengunggah  kuis yang secara khusus diperuntukkan untuk  program Magister Manajemen

Isi

MM-Sap Manajemen Pemasaran Lanjutan Agust 2008

Kuliah-1 MM Agustus 2009

Kuliah-2 MM September 2009

Kuliah-3 MM Oktober 2009

Kuliah-4 MJP MM Segementasi Pasar

Kuliah-5 Mengukur Permintaan

Kasus-1Makalah (Praktek Pemasaran Sektor Publik dan Pemerintah Daerah) Oktober 2009

Agustus 3, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Mahasiswa MM, Manajemen Pemasaran Lanjutan, Pendidikan Tinggi | | & Komentar

PESERTA MATRIKULASI OB STIKOM DINAMIKA BANGSA

TUGAS INDIVIDU

1. PILIIH SALAH SATU TOPIK YANG DIMINATI SESUAI DENGAN BAHAN KULIAH

2. BUAT LAPORAN TENTANG TOPIK TERPILIH YANG ISINYA:

I. MENYANGKUT KONSEP DAN PENGERTIAN,

II. IMPLEMENTASI  PADA SATU PERUSAHAN TERTENTU,

III. MANFAAT IMPLEMENTASI  TERHADAP PERUSAHAAN SECARA TEORITIS DAN PRAKTIS DAN

IV. KENDALA DALAM IMPLEMENTASI.

V. UPAYAKAN ADA  BACAAN ONLINE SETIDAKNYA 4 SUMBER SEBAGAI REFERENSI.

Jangan lupa identitas diri saat meninggalkan Blog ini.

Agustus 1, 2009 Ditulis oleh johannessimatupang | Bahan Ajar, Diskusi Mahasiswa, PERILAKU ORGANISASI, Pendidikan Tinggi, Umum, Uncategorized | | & Komentar