ANALISIS INDUSTRI KESEHATAN
Oleh: Johannes
- 1. Latar belakang
Pemenuhan pelayanan jasa kesehatan adalah masalah kompleks yang merupakan tanggungjawab strategis bangsa, masyarakat dan penyedia jasa kesehatan. Kelalaian dan ketidakmampuan memberikan pelayanan kesehatan yang optimal akan membuat negara menanggung biaya baik yang bersifat eksplisit maupun implisit. Berkaitan dengan biaya eksplist, Hadi (2005) dalam pidato pengukuhan guru Besar di Yogjakarta menunjukkan beban ganda masalah kesehatan. Biaya kesehatan yang disampaikan oleh Hadi dalam hal ini baru berkaitan dengan masalah gizi, yakni kekurangan dan kelebihan gizi. Beban yang muncul bukan hanya kepada penderita, akan tetapi juga kepada perekonomian Nasional. Tahun 2003 diduga bahwa “kebocoran” akibat masalah gizi mencapai 4,5 trilliun (1,43% dari GDP), selanjutnya bila estimasi dibuat dengan kondisi “ceterus paribus”, pada Tahun 2010 kebocoran akan menjadi 55,8 triliun. Pengeluaran ini adalah biaya pengelolaan yang harus dilakukan untuk tindakan kuratif, yang dikeluarkan oleh para penyedia jasa kesehatan (utamanya dokter).
Akan tetapi dalam presfektif ekonomi, biaya demikian juga menyangkut biaya implisit yaitu perolehan yang seharusnya diterima ketika seorang berada dalam keadaan sakit. Bila ditelusuri lebih jauh, biaya ini termasuk juga biaya yang muncul karena keluarga harus berhenti atau menunda bekerja karena anggota keluarga sakit. Biaya demikian memang belum dihitung, akibatnya bila ini dihitung maka biaya dan dampak daripada seseorang tidak berada dalam keadaan sehat jauh lebih besar lagi dari hitungan di atas.
Biaya implisit juga bisa muncul ketika pengeluaran biaya kesehatan dilakukan di negara lain, karena mengakibatkan kebocoran (leakages). Pengeluaran ini akan mengakibatkan percepatan pembangunan melambat, karena adanya dana mengalir ke tempat lain. Dalam kasus adanya trend bahwa masyarakat di Sumatera Barat berobat ke Malaysia, dilaporkan bahwa 7 milyar setiap bulan untuk berobat ke Malaysia. Biaya demikian melulu tidak dianggap sebagai biaya eksplisit, akan tetapi pengeluaran ini akan memperlemah akselerasi pembangunan di Sumatera Barat. Tidak heran kalau Sumatera Barat merespon serius masalah ini, sehingga Kota Padang Panjang direncanakan mendirikan Rumah Sakit bertaraf Internasional dengan misi yang berbeda yaitu mengkombinasikan nuansa berobat dan rekreasi. Hal ini dimungkinkan karena panorama Padang Panjang mendukung.
Apa yang harus disimpulkan adalah bahwa kaitan antara kesehatan dan pembangunan adalah nyata. Pembangunan tidak akan dapat dilakukan pada kondisi masyarakat tidak berada pada kondisi sehat. Pentingnya hal ini dapat ditelusuri pada perundang-undangan. Menurut undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan dapat disimak berbagai hal penting. Berturut-turut pasal 6, 7, dan 8 adalah sebagai berikut; Pemerintah bertugas mengatur, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan; Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat; dan Pemerintah bertugas menggerakkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, dengan memperhatikan fungsi sosial sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu terjamin.
Respon terhadap hal di atas, dalam era otonomi daerah berbagai Pemerintah Daerah menyikapi dengan membangun Rumah Sakit, termasuk Kota Jambi. Dampak yang telah digambarkan di atas jelas menjadi permasalahan serius, sehingga membutuhkan telaah strategis dan dapat dirumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi industri kesehatan. Secara lebih khusus perlu disimak bagaimana kondisi pelayanan kesehatan di tingkat lokal dalam satu presfektif global. Hal ini sesuai dengan prinsip yang digariskan oleh Ohmae, “bertindak lokal berpikir global”.
- 2. Tujuan Penulisan
2.1. Menggambarkan kondisi industri kesehatan (khususnya Rumah Sakit ) di tingkat lokal secara kualitatif guna dapat mengantisipasi determinan kekuatannya di industri kesehatan.
2.2. Merumuskan poin yang penting dipertimbangkan dalam strategi guna program jasa pelayanan kesehatan di tingkat lokal dalam presfektif global.
- 3. Diskusi dan Pembahasan
3.1. Pelayanan Kesehatan
Pengalaman empiris negara maju menunjukkan bahwa bersamaan dengan peningkatan pendapatan terjadi peningkatan kontribusi sektor jasa yang semakin nyata. Perusahaan seperti IBM, menurut Zeithmal (2006) menunjukkan kontribusi pelayanan jasa yang semakin besar kepada pelanggan. Artinya, dari yang semula menyediakan komputer dan lainnya lama kelamaan menyiapkan jasa yang berkenaan dengan bisnis mereka. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa sampai Tahun 2003, kontribusi sektor jasa mencapai 80% dari PDB negara itu, sehingga disebutkan adanya gelombang ketiga peran jasa dalam perekonomian, yang ditunjukkan oleh semakin besarnya kontribusi sektor jada dalam pendapatan.
Bersamaan dengan itu, Singapura telah mencanangkan diri sebagai penyedia jasa di Asia Tenggara. Pada Tahun 2005, Singapura telah memberanikan diri bahwa negara itu akan menjadi pusat pelayanan jasa pendidikan dan kesehatan di Asia Tenggara. Ada satu keberanian dan fokus di tingkat makro yang menjadikan pelayanan jasa sebagai inti daripada bisnis negara (Pemerintah dan Swasta). Bersamaan dengan ini, Parkway Group Health Care (PGHC) pemasok peralatan Rumah Sakit dominan berambisi menguasai pasokan peralatan bukan hanya di Asean akan tetapi sampai ke Asia. Untuk itu, di Singapura PGHC memiliki tiga Rumah Sakit terkenal dan mempunyai 7 jaringan Rumah Sakit serta jaringan pelayanan termasuk di Indonesia. Pangsa pasar yang dibidik jelas adalah pasien yang berkantong tebal dan berharap pelayanan kesehatan yang baik. Apa yang harus dicatat dari kondisi ini bahwa keinginan negara dijawab oleh tindakan swasta.
Sampai sekarang, pelayanan kesehatan negara ini dinilai telah berdaya saing terhadap penyedia kesehatan lainnnya. Daya saing demikian bisa diperiksa dari Laporan Economic Forum yang menempatkan Singapura berada pada rentang urutan 4 -12 selama lima tahun terakhir.
Khusus untuk pelayanan kesehatan, Syharir (2002) mengungkapkan lemahnya daya saing Rumah Sakit di Indonesia dibanding dengan Rumah Sakit di negara lain dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Banyak hal yang disinyalir menjadi penyebabnya; mulai dari campur tangan birokrasi, ketidakmampuan mengelola, kompentensi dan komitmen tenaga pelayan kesehatan sampai dukungan Pemerintah. Dalam kaitan, ini seorang konsultan kesehatan dr. Loh Kok Kit (2002) menjelaskan bahwa salah satu kelemahan daripada pelayanan kesehatan di Indonesia adalah pelayanan konsultasi dari dokter kepada pasien. Konsultasi ini dinilai tidak cukup oleh pasien. Menyangkut peralatan Rumah Sakit beliau menilai tidak ada peralatan yang tidak bisa disiapkan oleh Rumah Sakit, dan relatif sudah membaik. Akan tetapi dalam konteks ini waktu konsultasi menjadi “langka”. Akibatnya, pasien potensial lari ke luar negeri dan lebih dari itu, pasien ini tahu pula jenis perawatan apa yang harus diperoleh di luar negeri.
Kotak-1.
Pendekatan daya saing adalah mutlak dibutuhkan. Bila menyimak ke belakang, apa yang dilakukan oleh Singapura relevan dengan apa yang ditemukan oleh Porter (2002), yang merekomendasikan bahwa Singapura terus fokus kepada pemberian jasa sebagai dasar daripada perekonomian mereka. Bahkan dalam telaah perkembangan ekonomi mereka diakui peran daripada pengetahuan sebagai ciri New Economy telah teralisir. Tingkat pendapatan yang teratas dan daya saing yang tinggi menunjukkan bahwa perekonomian mereka dibentuk oleh peningkatan penggunaan pengetahuan dalam perekonomian.
Sampai saat ini, pendekatan yang dilakukan oleh Porter tentang daya saing (Competitive advantage) dinilai sangat konteksutal untuk membangun daya saing satu perusahaan, organisasi, lembaga sampai kepada negara. Salah satu komponen penentu daya saing menyangkut daya tarik investasi, apakah investor tertarik berinvestasi atau tidak di satu wilayah. Semakin tinggi daya tarik investasi satu negara maka semakin tinggi pula daya saingnya. Walau daya saing melulu tidak ditentukan oleh investasi tapi juga oleh iklim danregulasi lain yang berkaitan dengan itu. Khusus di bidang kesehatan, Tahun 2007 Porter dalam Webnya menjelaskan bahwa peran daripada industri kesehatan harus direvitalisasi karena cenderung berkembang tidak sesuai dengan kebutuhan pasien. Indikasi ini diperlihatkannya karena penggunaan teknologi kesehatan yang tidak berdampak terhadap penurunan biaya dan kurang berorientasi kepada kebutuhan pelanggan.
Dalam kaitan ini pendekatan yang dapat diterapkan untuk melihat daya tarik industri adalah dengan menggunakan model “the five force” yang dikenalkan oleh Porter. Porter (2005) menunjukkan lima kekuatan yang akan menentukan apakah satu industri menarik atau tidak. Untuk ini Porter bersama lembaga independen mengeluarkan indeks daya saing negara dan industri setiap tahunnya yang disusun berdasarkan pengalaman empiris satu negara. Ada hal penting yang harus diingatkan dari indeks yang disusun yaitu ada indeks bisnis yang menunjukkan pentingnya interaksi antara negara dan bisnis dalam mengembangkan daya saing industri.
Pendekatan daya saing semakin digunakan karena prinsipnya yang berorientasi kepada penciptaan nilai bagi pelanggan, baik itu pelanggan pemerintahan maupun perusahaan. Penggunaan teknologi, sumberdaya yang berkompetensi tinggi, dan dukungan dana dari Pemerintah tidak akan banyak membantu terhadap penciptaan keunggulan manakala tidak diikuti oleh peningkatan nilai bagi pelanggan (Hitt, 2005).
Sumber. Whelen, 2002.
Sama halnya dengan Pemerintah Daerah yang akan membangun Rumah Sakit, perangkat ini akan sangat membantu masalah yang paling strategis, apakah Rumah Sakit sebagai lembaga akan dapat bertahan atau memang menjadi kelas marginal di tengah-tengh persaingan. Gambar di atas dapat dijelaskan mulai dari pendatang baru, pelanggan, substitusi, pemasok, sampai kepada stakeholder.
1) Pendatang baru
Industri Rumah Sakit bagaimanapun sudah terbuka, masyarakat ataupun investor dapat membuka Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan UU Kesehatan. Oleh karena itu, para pendatang baru muncul di satu wilayah membuka Rumah Sakit, dan sarana kesehatan lain mulai dari balai pengobatan, Pusat Kesehatan Masyarakat, Rumah Sakit umum, Rumah Sakit khusus, praktek dokter, praktek dokter gigi, praktek dokter spesialis, praktek dokter gigi spesialis, praktek bidan, toko obat, apotek, pedagang besar farmasi, pabrik obat dan bahan obat, laboratorium, Sekolah dan Akademi Kesehatan, Balai Pelatihan Kesehatan, dan sarana kesehatan lainnya. Kompleksnya masalah kesehatan, bukan hanya menyangkut jumlah pelaku yang terlibat akan tetapi juga menyangkut hubungan antar mereka dan dampak yang dimunculkannnya. Semakin banyak pendatang baru, semakin “ganas” persaingan antar penyedia saja kesehatan maka semakin tidak menarik.
Dalam konteks globalisasi, pendatang baru dalam hal ini bukan saja secara fisik, akan tetapi menyangkut Rumah Sakit yang berdomisili di suatu negara tetapi mempunyai program pemasaran atas negara lain. Teknologi dan lancarnya transportasi telah mendukung program ini, karena jenis pelayanan, pengiriman (delivery), dan persyaratan kualitas yang diperoleh telah dapat diakses dengan mudah.
Para pendatang baru demikian bukan saja datang dari negara lain, akan tetapi dari kota lain (di Jambi misalnya dari Jakarta). Informasi dan pelayanan yang mereka sampaikan ke pelanggan menjadi bagian strategi memenangkan persaingan di daerah (Jambi misalnya).
Masing-masing pendatang baru datang dengan kejelasan kompetensi sendiri-sendiri dan penawaran menarik yang selama ini belum pernah dilakukan khususnya oleh Rumah Sakit Pemerintah. Hal demikian akan memposisikan Rumah Sakit Pemerintah sebagai kelompok imperior terhadap Rumah Sakit Swasta.
2) Pelanggan
Pelanggan selain mempunyai daya beli juga mempunyai preferensi kuat dan berbeda terhadap pelayanan kesehatan. Mereka yang mempunyai daya beli kuat akan memilih penyedia dan tempat sesuai dengan pengalaman mereka. Secara legal sampai sekarang posisi pelanggan memang kurang kuat. Walau sudah ada kecenderungan untuk melindungi pelanggan dari Malpraktek, informasi yang berkaitan dengan ini masih belum cukup untuk pelanggan. Akan tetapi satu hal yang harus dicatat dari perilaku pelanggan adalah kemampuannya memilih. Pelanggan demikian khususnya adalah yang mempunyai daya beli dan ingin mendapat pelayanan lebih baik (niche market). Pelanggan ini semakin lama semakin banyak jumlahnya sehubungan dengan adanya peningkatan pendapatan.
Dalam konteks Rumah Sakit pemerintah, keberadaan pelanggan juga menjadi “buah simalakama”. UU mengisyaratkan keluarga miskin dan para pemegang asuransi kesehatan yang diadakan oleh pemerintah harus mendapat pelayanan. Padahal, kelompok ini dinilai kurang menguntungkan secara bisnis, sementara secara sosial Rumah Sakit pemerintah diharuskan untuk memberikan perawatan.
3) Barang Substitusi
Mengamati para penyedia kesehatan seperti di atas, terhadap sumberdaya kesehatan sebagaimana dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Kesehatan; tidak tergambarkan adanya sumberdaya lain sebagai susbtitusi. Akan tetapi apa yang ditemukan di pasar sekarang, banyak cara mulai dari peralatan yang menggunakan listrik sampai yang lain dianggap dapat menggantikan pelayanan kesehatan. Dampak ikutan daripada keberadaan peralatan seperti ini pada akhirnya akan membuat jasa pelayanan kesehatan terdegradasi. Barang substitusi ini bagaimanapun pengaruhnya masih lemah, akan tetapi tetap menjadi antisipasi industri dimana perannya akan intensif.
4) Pemasok
Dari sumberdaya kesehatan yang digambarkan di atas dapat dicatat para pemasok dalam industri kesehatan adalah toko obat, apotek, farmasi, pabrik obat laboratorium dll. Lembaga demikian sesungguhnya mempunyai posisi terhadap pelayanan kesehatan khususnya yang diberikan oleh Rumah Sakit. Tidak jarang suatu rumah sakit harus menggunakan jasa laboratorium rumah sakit lain karena keterbatasan peralatan. Dalam kaitannya dengan penyediaan obat pun, bahkan diduga ada kartel obat yang mengakibatkan pelayanan kesehatan menjadi jasa mahal. Kartel obat ini berupa “sindikat” antara pabrik dengan penentu sehingga membuat harga obat menjadi lebih mahal. Selanjutnya, bersamaan dengan masalah obat, ada indikasi bahwa penggunaan obat generik kurang diminati karena adanya kelemahan dalam sosialisasi dan pemberian informasi. Artinya, sebagian dari sumberdaya di atas adalah pemasok terhadap praktek pemberian pelayanan kesehatan semakin kuat posisi para pemasok, maka semakin kurang menarik investasi di berikut kesehatan.
Dalam konteks ini, adanya peraturan yang membatasi tempat praktek dokter yang diperkenankan hanya untuk tiga Rumah Sakit saja menjadi ancaman serius terhadap Rumah Sakit yang selaman ini mengandalkan keberadaan dokter tamu. Dikhawatirkan akan muncul bentuk persaingan baru dalam pelayanan kesehatan manakala Rumah Sakit akhirnya “mengikat” para dokternya. Bila hal ini terjadi maka akan terjadi “perang image” antar Rumah Sakit dimana dokternya praktik.
5) Stakeholder Lain
Stakeholder adalah seluruh pihak (orang, organisasi, lembaga) yang akan turut menentukan pencapaian tujuan organisasi karena mereka akan mendapat benefit dari proses organisasi atau akan melakukan tuntutan bilamana proses mendatangkan kerugian kepada mereka. Stakeholder utama adalah YLKI, Pemerintah, dan lembaga independen lainnya termasuk wartawan. Ke dalam stakeholder primer dapat disebutkan PT. Askes dan sejenisnya yang menjamin pengeluaran pasien selama dalam perawatan. Dalam kaitan ini apa yang menjadi tuntutan publik adalah tatakelola yang baik. Di tingkat Rumah Sakit dikenal adanya tatakeloa korporasi (corporate governance), akan tetapi secara mikro dikenal Clinical Governance (CG), yang dimulai di Inggris. Konsep clinical governance telah berkembang yang merupakan bagian dari suatu pendekatan untuk menjamin terlaksananya pelayanan kesehatan yang bermutu pada semua lapisan masyarakat, atau the best care for every patients everywhere. Sebagai instrumen CG mempunyai elemen penting:
i) Menentukan teknik diagnosis dan terapi yang paling punya dasar ilmiah kuat serta paling cost effective.
ii) Pengembangan berkelanjutan profesi kesehatan
iii) Tersedianya standar diagnosis dan pengobatan
iv) Berjalannya manajemen resiko klinik di rumah sakit
v) Penelitian dan pengembangan
vi) Audit klinik secara kerkesinambungan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.
Tuntutan demikian jelas bukan persoalan mudah, karena sampai sekarang bagi Rumah Sakit Pemerintah khususnya kemampuan menyiapkan dokumen pengelolaan masih rendah.
6) Daya tarik Industri Kesehatan
Jumlah penduduk bertambah, daya beli meningkat, promosi hidup sehat meningkat, preferensi masyarakat meningkat, dan keterlibatan swasta tidak diingkari menjadi indikator daya tarik sendiri. Dalam masa otonomi daerah pun, dinilai bahwa daya tarik industri kesehatan tetap saja menarik karena dinilai akan memberikan tingkat pengembalian yang wajar. Akan tetapi daya tarik demikian tetap akan dikelola dengan baik karena sesungguhnya Rumah Sakit berada pada kondisi persaingan ketat. Bahakan secara internal Rumah Sakit harus menyeimbangkan tujuan mencari laba dan tujuan sosial di satu sisi, di sisi lain malah harus merencanakan menurunya sumber dana yang bersumber dari pemerintah daerah.
Dari penejalasan di atas dapat disimak betapa industri kesehatan berada pada kondisi yang sanga kompleks, dari lima kekuatan yang diuraikan satu dengan yang lain saling terkait. Dalam kaitan itu berbagai hal penting berkaitan dengan industri kesehatan dapat dijelaskan sebagai berikut.
a) Tantangan Pelayanan Kesehatan dalam Presfektif Global.
Ohmae (2004) melanjutkan penjelasannya tentang Borderless World yang meyakinkan bahwa peran teknologi demikian penting dalam menyongsong proses globalisasi. Akan tetapi peran daripada teknologi lebih daripada sekedar percepatan proses globalisasi, UNDP (2004) melaporkan bahwa the technology revolution and globalization are creating a network age-and that is changing ho technology industri created diffused. Maknanya, kemajuan teknologi bersamaan pula dengan pentingnya pemebentukan jaringan antar negara, organisasi, dan lembaga yang membentuk kekuatkan masing-masingnya. Dalam konteks ini dapat dilihat pabrik peralatan Rumah Sakit yang berniat menguasai pangsa pasar yang ada di Asia Tenggara, dan sekarang bermarkas di Singapura. Singapura akan menjadi basis pelayanan mereka. Hal ini bersamaan dengan cita-cita Singapura menjadikan negara itu menjadi pilihan utama Asean untuk pelayanan kesehatan. Karena jaringannya sudah ada. Apa yang ingin ditekankan adalah bahwa keberadaan teknologi telah membuat jaringan pelayanan satu penyedia kesehatan demikian kuat dan menekan kepada penyedia lain yang tidak termasuk dalam jaringan itu. Penyedia jasa kesehatan dalam perspektif ini tidak lagi berada di satu lokasi secara fisik, akan tetapi menyebar ke lokasi manapun sepanjang dinilai di sana dapat menciptakan nilai maksimal. Konsumen sudah tidak mempertimbangkan asal muasal apapun yang berkaitan dengan penyedia, melainkan bilamana dinilai dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan.
Kotak-2
Apa yang dapat dipetik dari pengalaman demikian adalah bahwa globalisasi mengisyaratkan adanya perubahan dalam tata kelola di tingkat pelayanan. Berkaitan dengan Rumah Sakit, maka perubahan total yang diharuskan terjadi adalah pada tingkat ini, karena Rumah Sakit merupakan bisnis unit inti dalam industri kesehatan.
b) Otonomi Daerah
Otonomi daerah pada dasarnya berkaitan dengan wewenang pengelolaan sumberdaya yang lebih luas yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah, dalam hal ini tidak lagi mengokupasi penyediaan kebutuhan di daerah, akan tetapi mempercayakannya kepada daerah. Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar yang dibutuhkan dalam rangka melaksanakan dan mempercepat akselersi pembangunan selanjutnya. Penyediaan jasa kesehatan yang dilakukan olehph daerah bagaimanapun tidak lepas dari pertimbanan globalisasi.
Seperti apa yang telah dijelaskan oleh Ohmae pada dekade 80-an tentang globalisasi; maka sekarang individu telah merasakannya sendiri. Batas negara sudah kabur karena faktor produksi bergerak bebas dari satu tempat ke tempat lain dimana harga dan nilai yang diterima dapat lebih tinggi. Untuk kasus pelayanan kesehatan, perjalanan ke Singapura dan Malaya sudah tidak dianggap bepergian ke luar negeri lagi. Masyarakat Jambi menggunakan kata “menyeberang” untuk mendapat pelayanan kesehatan. Konsentrasi masyarakat di Indonesia yang mendapat pelayanan demikian ternyata semakin menjadi segmen, bukan saja karena kedekatan dengan kedua negara tujan tersebut, akan tetapi mereka adalah masyarakat yang peduli terhadap jasa kesehatan, pengalaman mengkonsumsi jasa kesehatan, dan yang lebih penting mempunyai daya beli. Dampak dari praktek seperti ini secara makro adalah kebocoran pendapatan. Apa yang diakui dalam ilmu ekonomi adalah Multiplier effect.
3.3. Faktor Kuci
Rumah Sakit bagaimanapun adalah bagian utama dalam industri kesehatan. Sebagai satu organisasi ataupun perusahaan maka keberhasilan Rumah Sakit ti tingkat lokal ditentukan hal berikut.
1) Grand strategi. Satu lembaga Rumah Sakit tidak akan dapat berkembang tanpa strategi yang dirumuskan dengan jelas. Rumah Sakit Pemerintah bisa berdalih bahwa tujuannya adalah bukan untuk keuntungan, akan tetapi bukan alasan untuk tidak mengindahkan peran strategi pengembangannya. Perundang-undangan secara jelas mengharuskan pentingnya strategi, tinggal bagaimana pihak manajemen dapat berperan inovatif sehingga dapat memenuhi persyaratan ini.
2) Jaringan. Jaringan menjadi kunci daripada keberhasilan dalam persaingan. Rumah Sakit tertentu telah membuka “meja” pelayanan di tempat lain, persis sama dengan model penjualan barang luks. Sebelum membeli, pelanggan dapat menanyakan banyak hal yang akan ditemuinya sebelum perawatan dilakukan. Bahkan dalam hal pembayaran, “cabang” dapat memberikan jaminan tidak akan ada kendala sepanjang pengeluaran berkenaan dengan biaya pengobatan.
3) Berbasis kepada sumberdaya manusia. Dokter bagaimanapun adalah sumberdaya yang paling berharga untuk Rumah Sakit. Rumah Sakit yang hanya mengandalkan kepada dokter tamu bagaimanapun akan tidak dapat bertahan karena komitmen pelayanan yang rendah.
4) Pelayanan kesehatan adalah jasa. Sebagai salah satu bentuk jasa, keberadaan jasa berbeda dengan barang dalam hal: 1) keberwujudan, 2) keandalan, 3) ketanggapan, 4) kepastian, dan 5) empati. Dalam hal ini yang harus digarisbawahi adalah bahwa dalam pengelolaan jasa sentuhan manusia (penyedia) dan konsumen paling menentukan. Prosedur yang telah dibangun, peralatan canggih, fasilitas modern, akan hambar bilamana tidak disertai oleh peran sumberdaya kesehatan. Berbagai keluhan yang sering dituliskan oleh Kompas berkaitan dengan hal ini adalah; a) penyalahgunaan teknologi dimana seseorang “dipaksakan” untuk menggunakan jasa peralatan tertentu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, b) pelakuan yang tidak ramah terhadap pengguna kartu asuransi khususnya Askes, dan 3) sukarnya berkomunikasi dalam hal penyakit yang diderita pasien.
- 4. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dalam presfektif global keberadaan dan keberlangsungan Rumah Sakit akan ditentukan hal-hal berikut.
1) Persaingan antar pelaku dan antara Rumah Sakit akan semakin intensif menghadapi ekspansi berbagai Rumah Sakit “kuat” dengan program pengembangan yang jelas baik yang berasal dari negara yang sama maupun yang berbeda.
2) Sebagai satu organisasi, Rumah Sakit pemerintah bagaimanapun harus dapat merumuskan strateginya dalam menghadapi persaingan dengan tetap mengidentitikasi kecenderungan dan kekuatan khusunya lima kekautan yang diidentifikasi yaitu: pendatang baru, pelanggan, barang substitusi, pemasok, dan stakeholder lain di bidang kesehatan.
3) Sumberdaya manusia (utamanya dokter) dan segala inovasinya akan menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada pelanggan. Dalam kaitan ini , harus diingat bahwa pelayanan kesehatan adalah jasa yang lebih mengutamakan proses pelayanan, sentuhan antar manusia bukan dengan peralatan.
4) Khusus kepada Rumah Sakit pemerintah komitemen politik akan sangat menentukan karena berkaitan dengan pemenuhan dana dan masa depan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
GTZ and Urban Clean Project, 2001. Pengkajian Kebutuhan Pengembangan Bagi Pemerintahan Daerah, Laporan Tematik, Jakarta.
Hadi, H. M.S., ScD. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Impllikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogjakarta.
Zeithaml, V.A, Bitner, M.J, dan Gremler.D.D. 2006. Service Marketing: Integrating Customer Focus Across the Firm, 4th Edition, McGraw-Hill Internasional Edition, Boston
Hitt., 2005. Strategic Management Competitive and Global. South Western.
UNDP 2001. Human Development Report 2001, Making New Technologies Work For Development, Oxford University Press, New York.
Kompas, 2002. Rumah Sakit Indonesia Belum Siap Bersaing, http://www. Kompas.go.id, 31 Oktober 2002.
[1] Disampaikan pada Seminar Sehari Industri Kesehatan dalam Perspektif Global, Jambi 15 Desember 2007.
[2] Dosen Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi .
MIDSEMESTER MJP LANJUTAN PROG. MM
Pedoman penyelesaian kasus.
1) Siapkan sebanyak mungkin literatur yg berhubungan dengan Lion Air, sehingga anda dapat menjelaskan likteratur yang anda punya. Literatur utamakan dari sumber online. Sehubungan dengan itu, anda dapat menuliskan literatur sebagai sumber.
2) Soal dijawab di kelas, pada kertas yg disiapkan oleh Program MM. Jawaban dikumpul langsung setelah waktu yg disediakan habis. Waktu yang disediakan 120 menit.
3) Ujian dilaksanakan pada waktu dan hari Kuliah.
Soal.
1) Menurut anda bagaimanakah posisi Lion Air terhadap pesaingnya dalam industri penerbangan terkini, berikan argumentasi anda. Dengan posisi yang anda jelaskan, apakah keuntungan Lion Air dibanding dengan perusahaan penerbangan lain.
2) Siapakah pesaing utama Lion Air dalam industri penerbangan di Indonesia, dan apakah yang dilakukan oleh para pesaing tersebut yang harus diwaspadai oleh Lion air.
3) Seandainya ada Maskapai penerbangan baru akan terlibat di dalam industri penerbangan di Indonesia, jelaskanlah pertimbangan yang harus dilakukannya. Untuk menjawab ini gunakan konsep Porter untuk menentukan apakah keterlibatan menarik atau tidak. Jelaskan masing-masing komponen sehingga tergambarkan bahwa industri penerbangan masih menarik bagi pendatang baru.
4) Menurut anda, faktor apa yg paling menentukan keberhasilan satu Maskapai penerbangan baik di tingkat Lokal maupun Global.
5) Sebagai seorang pelanggan, anda pernah menggunakanjasa penerbangan, berikanlah lima atribut penerbangan yang menurut anda dipertimbangkan sebelum anda memutuskan untuk menggunakan jasa atau tidak.
SUKSES SELALU
UJIAN MIDSEMESTER STR PAGI DAN EXT.
Petunjuk.
Peserta Pagi diharuskan melakukan analisis eksternal atas satu perusahaan, analisis ini pada dasarnya fokus kepada kerankga analisis industri yang dapat ditelaah dengan menggunakan prinsip PETS.
Cara yang dilakukan adalah memeriksa komponen PETS lebih dalam atas perusahaan yg dijadikan kasus dan menunjukkan bagaimana masing-masing komponen dapat mendatangkan ancaman ataupun kesempatan kepada perusahaan. Sudah barang tentu setiap analisis disamping mendatangkan ancaman juga bisa menciptakan kesempatan. Terhadap komponen yang didapat pada setiap PETS dapat disisipkan angka yang menunjukkan ukuran. Misalnya tentang permintaan, anda dapat mengestimasi berapa persen permintaan untuk satu perusahaan.
Dari hasil analisis, anda diminta menyimpulkan apakah ancaman lebih besar dari kesempatan atau sebaliknya.
Peserta Ekstensi. Melakukan analisis internal, atas perusahaan yang dijadikan kasus oleh peserta pagi. Pemilihannya bebas, begitu analisis peserta pagi muncul di halaman ini, anda dapat memilihnya menjadi kasus.
Cara analisisnya adalah sebagai berikut.
1) Jelaskan analsisi VIOR untuk perusahaan yang telah anda pilih.
2) Jelaskan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar atas produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang anda jadikan kasus. Bila produknya beragam, pilih salah satu produk saja.
3) Menurut anda, apakah perusahaan sudah memiliki kompetensi yang sesuai, khsusnya menapak masa depan perusahaan.
CATATAN. THE FASTER THE BETTER
MEP (S1 pagi dan Program Ekstension)
Halaman ini dimaksudkan untuk peserta Metode Penelitian Pemasaran dengan dosen: 1) Dr. Johannes, S.E., M.Si dan 2) Dr. Ade Octavia, S.E., M.M. Ketentuan yang harus diketahui oleh peserta. Selain untuk kebutuhan S1 pagi, halaman ini juga diperuntukkan untuk Program Ekstension
1) Pertemuan pertama (8) kali akan dilaksanakan oleh Ibu Ade, kemudian selesai midsemester akan di laksanakan bersama dg Pak. Jo. Ketentuan ini berlaku untuk semua peserta MEP baik pagi maupun sore (Ekstensi).
2) Peserta diwajibkan mengunduh dan mengunggah bahan kuliah dan tugas yang sesuai dengan perkuliahan pada halaman ini saja.
3)Pada perkuliahan dg pak Jo, peserta akan latihan bersama melakukan riset bersama dimana topik dan judul akan ditentukan selama kuliah.
Selanjutnya seluruh materi kuliah dapat diunduh peserta dari halaman ini, silahkan diunduh GBPP perkuliahan MEP Pemasran berikut.
Penugasan Metode Penelitian Pemasaran terdiri dari dua: 1) Menyiapkan Small Project Bersama dan 2) Tugas individu peserta, menyusun proposal tentatif untuk dijadikan proposal skripsi. Dalam kaitannya dg poin (2) bagi yang menyiapkan proposal dan mendapat persetujuan dari dosen pengampu akan diberi nilai lebih.
Adapun Materi kulliah yang akan disampaikan dalam pertemuan-pertemuan terakhir adalah: 1) Sampling, 2) Menyusun Kuesioner, 3) Mengolah data, 4) Menulis Laporan Penelitian. Harus diketahui seluruh peserta sudah harus mengunduh materi kuliah sebelum perkuliahan dimulai. SUKSES MENYERTAI ANDA.
SAP MEP Pemasaran (September 2009)
Catatan Kemajuan Perkuliahan.
1) Untuk kepentingan penelitian dalam Small Project, kedua kelas pagi dan ekstensi harus sudah menyiapkan list penguna IM3 dan XL.
2) Sebagai bahan pembanding tentang kuesioner dan laporan penelitian yang masih bersifat draft, semua peserta diwajibkan membaca dan berkontribusi terhadap perbaikan bacaan berikut. Setiap komentar dan kontribusi postif terhadap tiga tulisan ini akan dinilai untuk peserta MEP di pagi dan sore. SUKSES SELALU.
1) Kuesioner Contoh Kuesioner (Perilaku Konsumen Terhadap Pola Hidup Hemat Enerji) Januari 2009
2) Draft laporan dan daftar isi
Laporan (Perilaku Konsumen Rumah Tangga dalam Pola Hidup Hemat Enerji) Desember 2009
Laporan d-isi (Perilaku Konsumen Terhadap Pola Hidup Hemat Enerji) Desember 2009
3) Draft Kuesioner akan turun ke lapangan
Kuesioner (Analisis Manfaat dan Biaya XL dan IM3) Januari 2010
4) Sampling Frame
Daftar (Sampling Frame) Risent Telefon Seluler 2010
Catatan. Dari hasil penelusuran diketahui bahwa komposisi pengguna tidak proporsioanl antara Ekstensi dan Pagi.
5) Kuesioner Final Penelitian, silahkan diunduh untuk S1 pagi dan Sore.
Kuesioner (Analisis Manfaat Simcard XL dan IM3) Januari 2010 final
MANAJEMEN STRATEJIK(S1) PAGI DAN EKST
Halaman ini dimaksudkan untuk peserta mata kuliah STR FE Unja,baik S1 padi dan program ekstension. Ketentuan mengikuti perkuliahan.
1) Peserta diharuskan mengunduh seluruh bahan kuliah yang disiapakan pada halaman ini.
2) Peserta diharuskan memiliki intisasi pengajaran Manajemen Stratejik
3) Setiap kuis atau penugasan diunggah pada halaman ini saja, bukan pada halaman lain. Hal ini untuk memundahkan mengelola setiap masukan.
GBPP Manajemen Stratejik dapat diunduh pada bagian berikut.
Manajemen Stratejik (STR-134) September 2009
Blog (Pedoman Tugas STR) November 2009
Kuliah ILingkup Manajemen Stratejik (Oktober 2009) S1
Kuliah II Kuliah-2 Pengelolaan Korporasi dan TJ Sosial (Oktober 2009)
Kuis I.
Anda mengamati salah satu korporasi, utamanya menggunakan web. Selanjutnya, jawablah pertanyaan berikut dengan cara mengunggahnya hanya pada halaman ini.
1) Sebutkan nama anda, perusahaan yang anda amati.
2) Jelaskan bentuk kegiatan yang tergologn kepada tanggungjawab sosial mereka.
2) Berikan penjelasaan apa manfaat kegiatan tersebut kepada perusahaan.
3) Menurut anda adakah yang diperbaiki dalam melaksanakan kegiatan berupa tanggungjawab sosial tersebut.
Sukses Selalu.
Kuis II.
Dari pembahasan kuis I, sesuai dg tugas individu dan perusahaan anda, anda diminta menyelesaikan kuis II ini.
1) Rumuskan strategi perusahaan yg sedang anda bahas, klasifikasikan strategi yang diterapkan melalui argumentasi yang memadai.
2) Jelaskan alasan pemilihan strategi yang anda pilih.
3) Uraikan, bagaimana strategi diimplementasikan, seperti apa program dan kegiatan yang dibangun oleh perusahaan.
4) Jelaskan kebutuhan staf yg dibutuhkan guna mendukung pencapaian stragtegi tersebut.
5) Rumuskan kultur yang anda pahami dari perusahaan yg anda jadikan kasus, kemudian simpulkan apakah kultur demikian mendukung atau tidak terhadap pelaksanaan strategi.
Kuis ini diperuntukkan untuk SI pagi dan Sore, paling lambat mengunggah jawaban tanggal 7 Januari 2010. SUKSES SELALU
MANAJEMEN PEMASARAN (MJP 120)
Halaman ini dperuntukkan untuk peserta MJP 120, FE Tahun 2009/2010, dosen pengampu: 1) Dr. Johannes, S.E., M.Si dan 2) Drs. Mulyadi Raf, MBA.
Ketentuan kuliah
1). Peserta diharuskan memiliki Modul Ajar MJP 120
2) Peserta diharuskan mengunduh semua bahan kuliah yang ada pada halaman ini.
3) Penugasan dg Pak. Jo, Kuis, diunggah hanya pada halaman ini saja.
Tugas MJP terdiri dari dua, tugas kelompok dan Individu. Untuk tugas kelompok diharuskan melakukan pengamatan terhadap praktek pemasaran, khususnya gejala-gejala yang aktual, sedang terjadi. Misalnya pemasaran Taperware yang menggunakan kelompok ibu-ibu sebagai pemasar handal dll. Untuk itu, peserta diharuskan buat kelompok dan memuat pengamatannya sehingga bisa diikuti dan dibimbing selama perkuliahan.
SUKSES MENYERTAI ANDA, FE LOVES YOU FULL
Anda dapat mengunduh GBPP pada bagian berikut.
Manajemen Pemasaran (MJP 120) September 2009
Kuliah Ikuliah 1 MJP 120 Powerpoint oktober 2009
Kuliah II Kuliah 2 MJP Powerpoint Okober 2009
tugas I. Pembagian kelompok berdasarkan produk yang diamati: 1) Sopihie Martin, 2) IM3, 3) FLEXI, 4) TUPPER WARE, 5) 3 (Three), 6) CNI, 7) Oriflame, dan
Tiensi
Pedoman Tugas I. Kelompok
1. Seluruh peserta dikelompokkan berdasarkan produk di atas.
2. Setiap kelompok diharuskan memberikan laporan dg daftar isi sebagai berikut.
a) Produk yang diamati, Kelompok , Anggota (No. Msw),
b) Praktek pemasaran horizontal yang digiatkan oleh pemasar (siapa kelompok konsumen yang sedang diaktifkan), bagaimana cara kerjanya, apa insentif yang diperoleh anggota ketika masuk dan setelah menjadi anggota.
c) Sebutkan setidaknya lima produk saingan mereka, danbila dibanding dengan produk tersebut apakah yang menjadi keunggulan produk mereka.
d) Jelaskan dengan baik tingkatan produk yang anda amati: core product, actual and augmanted.
II. Tugas Individu.
1) Sebutkan salah satu produk (produk konsumen) yang anda pilih, jelaskan tingkatan produk tersebut berdasarkan tingkatan produk inti, aktual dan perluasan.
2) Jelaskan klasifikasi produk anda berdasarkan klasifikasi produk konsumen, berikan argumentasi anda.
3) Jelaskan konsep merek yang dimiliki produk yang anda miliki sehingga terlihat berbagai perluasan merek yang terjadi pada produk anda.
SUKSES SELALU
PERILAKU KONSUMEN (MM)
Halaman ini diperuntukkan untuk peserta Mata Kuliah Perilaku Konsumen Program MM PAscasarjana Unja. Untuk keperluah kuliah, GBPP, bahan kuliah setiap pertemuan dan penugasan dapat diunduh di sini. Demikian juga dengan penugasan dapat diunggah pada halaman ini. Setiap peserta diharapkan memeriksa peruntukan halaman yang sesuai.
SUKSES UNTUK SEMUA PESERTA.
Klik di sini GBPP perilaku konsumen Agustus 2009
Kuliah I Perilaku Konsumen I Agustus 2009
Kuliah II Perilaku Konsumen Kuliah II oktober 2009
Kuliah III Perilaku Konsumen (Motivasi) Oktober 2009
Kuliah IV Kuliah-5 Kepribadian
Tugas I.
Untuk peserta Perilaku konsumen diharuskan membuat kelompok, bisa terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok diharuskan membuat laporan kualitatif atas satu bidang (kasus) dengan topik yang sesuai dengan pembelajaran Perilaku Konsumen. Topik maupun bidang yang dijadikan objek diharapkan potensil menjadi bagian daripada penulisan Tesis. Selanjutnya bagi mereka yang berhasil menyusun proposal sampai akhir kuliah akan dinilai lebih. Untuk itu segera laporkan kelompok dan bidang pengamatan anda agar masing-masing kelompok dapat mengetahuinya. SUKSES UNTUK ANDA.
STR SEM PENDEK AKT
Halaman ini untuk Peserta STR Sem. Pendek AKT
1. Metode Pertemuan
a. Tatap muka 1 kali 1 minggu
b. Tugas mandiri 1 kali 1 minggu.
2. Bahan Kuliah. Menggunakan Modul yang sudah siap , perserta diharuskan menggunakan modul yang diberikan.
3. Peserta menyelesaikan tugas sebanyak 4 kali, dapat memilih perusahaan yang pada blog, atau mengambil perusahaan bariu4.
4. Semua tugas dijawab di blog sesuai dengan halaman yang diperuntukkan untuk itu.
SUKSES BESERTA ANDA
Tugas. I.
Tidak semua keputusan/ kebijakan perusahaan/organisasi termasuk kepada keputusan strategik. Karena keputusan strategik mempunyai ciri-ciri tertentu. Dalam kaitan ini, anda diharuskan untuk mengamati salah satu perusahaan, untuk mengamati bagaimana hal-hal strategis dapat dilaksanakan pada satu perusahaan. Untuk itu anda diminta menjelaskan hal-hal berikut.
1. Jelaskan ciri-ciri daripada keputusan ataupun kebijakan strategis.
2. Dari hasil pengamatan anda terhadap satu perusahaan, jelaskan keputusan ataupun kebijakan yang menurut anda strategis yang pernah dilakukan oleh perusahaan.
3. Sesuai dengan pertanyaan (2) jelaskan kenapa keputusan ataupun kebijakan termasuk strategis, dan jelaskan pula bagaimana dampak daripada keputusan tersebut terhadap perusahaan pada jangka panjang.
Mendalo, 13 Atustus 2009.
Tugas II
Pemantauan internal dan eksternal menjadi bagian penting dalam perumusan strategy. Masing-masingnya mempunyai substansi yang berbeda. Salah satu tugas dalam memantau kondisi internal adalah mementukan kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam kaitan ini jelaskanlah hal berikut.
1. Apa inti daripada pemantauan internal dan eksternal.
2. Apa yang dimaksud dengan kompetensi inti satu perusahaan.
3. Sesuai dengan pertanyaan no (2), bila dikaitkan dengan perusahaan yang anda pantau, jelaskan apa kompetensi ini perusahaan yang anda pantau.
4. Sesuai dengan pertanyaan (3), menurut anda apakah kompetensi perusahaan yang anda jelaskan dapat bertahan (sustainable) atau tidak?
Mandalo 19 September 2009.
Tugas III.
Analisis SWOT bagaimanapun masih digunakan untuk merumuskan strategi satu perusahaan. Malah adakalanya analisis SWOT diputar menjadi TOWS dengan maksud agar didapat posisi perusahaan yang lebih jelas. Analisis demikian pada dasarnya dilaksanakan sebelum merumuskan strategi. Dalam kaitan ini jelaskanlah hal berikut.
1. Apakah substansi daripada adalisis SWOT dan apa bedanya bila dibuat menjadi TOWS.
2. Pada dasarnya dikenal tiga stratregi yaitu: 1) pertumbuhan, 2) Stabilitas, dan 3) penurangan. Jelaskan arti dan syarat daripada masing-masing strategi ini.
3. Mengacu kepada pertanyaan (2) menurut anda apakah strategi perusahaaan yang sedang anda amati?
4. Disampin strategi seperti di atas, dikenal juga strategi generic. Jelaskan strategi Generic tersebut.
Mandalo, 22 Agustus 2009
Tugas IV.
Pendekatan Manajemen Strategis pada akhirnya menghasilkan Perencanaan Strategis sebagai satu dokumen perencanaan. Dokumen ini menjadi bagian daripada tatakelola satu organisasi termasuk pemerintah daerah. Untuk kasus pemerintah daerah keberadaan Perencanaan Strategis sering disbut sebagai Rencana Strategis (Renstra). Khusus untuk organisasi pemerintah daerah jelaskanlah pertanyaan berikut.
1) Apa manfaatnya satu organisasi atau pemerintah daerah menyususn Renstra.
2). Apa kendalanya satu organisasi misalnya seperti pemerintah daerah dalam menerapkan perencanaan strategis.
3) Bagi satu organisasi non profit, jelaskanlah pengalaman yang menentukan keberhasilan penerapan satu perencanaan strategis.
Mandalo, 31 Agustus 2009
MJP LANJUTAN PROGRAM (MM)
Halaman ini diperuntukkan untuk peserta Manajemen Pemasaran Lanjutan Program Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Jambi Angkatan XI, Kelas Reguler dan Eksekutif.
Penjelasan.
1. Peseserta dapat mengunduh (download) setiap materi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. SUKSES BESERTA ANDA.
2. Peserta dapat mengunggah kuis yang secara khusus diperuntukkan untuk program Magister Manajemen
Isi
MM-Sap Manajemen Pemasaran Lanjutan Agust 2008
Kuliah-4 MJP MM Segementasi Pasar
Kasus-1Makalah (Praktek Pemasaran Sektor Publik dan Pemerintah Daerah) Oktober 2009
PESERTA MATRIKULASI OB STIKOM DINAMIKA BANGSA
TUGAS INDIVIDU
1. PILIIH SALAH SATU TOPIK YANG DIMINATI SESUAI DENGAN BAHAN KULIAH
2. BUAT LAPORAN TENTANG TOPIK TERPILIH YANG ISINYA:
I. MENYANGKUT KONSEP DAN PENGERTIAN,
II. IMPLEMENTASI PADA SATU PERUSAHAN TERTENTU,
III. MANFAAT IMPLEMENTASI TERHADAP PERUSAHAAN SECARA TEORITIS DAN PRAKTIS DAN
IV. KENDALA DALAM IMPLEMENTASI.
V. UPAYAKAN ADA BACAAN ONLINE SETIDAKNYA 4 SUMBER SEBAGAI REFERENSI.
Jangan lupa identitas diri saat meninggalkan Blog ini.